Thursday, December 10, 2015

Pengalaman Bawa Muhaiyyaddeen Berjumpa Tuhan

Dalam salah satu pengalaman spiritualnya (fana'), Muhammad Raheem Bawa Muhaiyyaddeen ditunjukkan berbagai macam penglihatan tentang ciptaan beserta para Nabi-Nya. Kemudian Bawa berkata, "Ini semua adalah ciptaan-Mu, akan tetapi aku ingin melihat Engkau. Aku ingin melihat Sang Pencipta." Ia kemudian melihat di sekelilingnya dan mulai terbutakan oleh cahaya yang memancar di sekelilingnya. Kemudian terdengar suara berbunyi dari seluruh penjuru.
"Ini Aku, wahai anak-Ku. Kemana pun engkau menghadap akan kau dengar suara-Ku. Inilah wujud-Ku, tidak ada lagi wujud yang lain (yang dapat memfasilitasi). Aku demikian luas, semua hal yang tercipta dapat tertampung dalam sebuah partikel, namun tak ada satu pun yang dapat menampung-Ku. Adapun alam semesta hanya sebuah partikel di dalam partikel, maka bagaimana mungkin ia dapat mewadahi-Ku (di alam wujud)?
Inilah mengapa Aku dinamai "Allahu", karena "Hu" adalah suara resonansi, ia adalah bunyi yang datang dari Diri-Ku.
(Referensi : "The Tree That Fell To The West", Muhammad Raheem Bawa Muhaiyyaddeen. Bawa Muhaiyyaddeen Fellowship, 2003)

Perihal Kantung Rezeki

Manusia itu bermacam-macam jatah rezekinya. Ada yang sebesar gayung, ada yang sebesar ember, bahkan ada yang seluas danau. Kalaupun ada yang rezekinya sebesar gelas, pastinya kewajiban menafkahkan dalam kapasitas takaran gelas, adapun kekurangannya sebenarnya tugas mereka-mereka yang berkantung rezeki lebih besar yang berkewajiban memenuhinya, karena harta yang diinfakkan adalah harta lebih yang masih dimiliki ketika kebutuhan diri dan keluarga sudah terpenuhi.
Di yawmil akhir nanti sebenarnya mereka yang kebagian jatah rezeki makin banyak akan mengalami kepayahan karena beratnya hisab. Dari Usamah (bin Zaid) ra, dari Nabi saw,bersabda, “Aku berdiri di pintu surga. Maka kebanyakan orang yang memasukinya adalah orang-orang miskin, sedangkan orang-orang kaya tertahan...(HR Bukhari). Oleh karena itu cukupkan keperluan hidup kita seadanya, hidup bersahaja agar kelebihan harta yang ada dapat ringan diinfakkan sehingga makin ringan hisab kita di akhirat nanti.
(Inspirasi dari penggalan percakapan dengan Mursyid Zamzam AJT)

Monday, November 30, 2015

Manusia Bersyukur

Esensi kemanusiaan kita terletak pada kebersyukuran diri kepada Allah Taála. Hal inti inilah yang sang iblis ketahui sejak awal dan karenanya berikrar menjauhkan anak manusia dari kebersyukuran (QS 7:17).
Al Qushayri ketika mengutip as-Shibli berkata mengenai kebersyukuran, yaitu "melihat Sang Pemberi, bukan pada pemberian". Kiranya dapat dimengerti mengapa saat manusia mengeluhkan takdirnya maka langsung habis esensi kemanusiaannya karena saat itu juga ia gagal melihat Dia Sang Pencipta dan terantuk pada fenomena ciptaan lahiriah semata.
Sebagaimana pesan mursyid Zamzam AJT, "Jadi bagaimana pun kita harus mensyukuri setiap nikmat yang Allah berikan, apapun terima itu. Dengan taqwa (insya Allah) akan selamat. Jangan khawatir akan kekurangan."
Referensi :
- Pengajian Hikmah Al Qurán yang disampaikan Kang Zamzam AJT, November 2015
- Denis Gril,"Mi'raj al Kalima" . Journal of the Muhyiddin Ibn 'Arabi Society, Volume 45, 2009.

Sang Abdi Sejati

Sebagai hamba seharusnya kita selalu dalam keadaan mengabdi kepada Allah Taála. Seperti halnya ikrar yang kita sampaikan ketika shalat "Iyyakana'budu wa iyya kanastaíin" - hanya kepada-Mu kami mengabdi dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.
Yang sering terjadi adalah kita kadang-kadang mengabdi Allah dan kadang-kadang mengabdi hawa nafsu atau bisikan setan. Hawa nafsu yang membuat kita marah, tidak sabaran, dengki, merasa diri lebih baik dan terburu-buru mengambil keputusan. Adapun setan, ia memang sejak awal bersumpah, "saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta’at)." (QS. 7:17). Setan membisiki dari depan untuk menakut-nakuti manusia dengan hari esok, dibisikkan kisah masa lalunya agar ia merasa putus asa dari rahmat dan ampunan-Nya, dibisiki manusia dari kanan untuk mengerjakan sesuatu yang tampaknya baik namun mengandung kerusakan dan dibisikkan dari kiri untuk melegitimasi ia mengerjakan suatu keburukan.
Semoga Allah Taála melindungi kita dari keburukan bisikan hawa nafsu dan setan.
(Adaptasi dari catatan pengajian Hikmah Al Qu'ran yang disampaikan oleh Kang Zamzam AJT, November 2015)

Monday, November 23, 2015

Fase Dibenamkan Ke Dalam Tanah Dunia

Sebelum pohon bisa dinikmati buahnya ia harus melalui sekian banyak proses. Tahap awal yang krusial adalah tahapan membenamkan benih ke dalam tanah, diairi, diberi pupuk, mendapat sinar matahari dan dijaga dari hama tanaman.

Begitu pun insan, adalah sebuah keniscayaan ia akan menjalani masa pembenaman dalam kegelapan tanah dunia, 
dilingkupi kebingungan dan diselubungi bermacam ketakutan dan kekhawatiran hidup. Tugas terpenting benih insan pada fase ini adalah menyerap sebanyak mungkin air pengetahuan sehingga mulai muncul kecambah diri yang meretas jalan ke permukaan tanah.

Pada saat sinar matahari iman mulai menyentuh qalbu manusia maka percepatan pertumbuhan benih akan semakin kencang dan pada saatnya batang pun memarang dan melahirkan buahnya berupa amal sholeh yang  bersifat pribadi.

- Inspirasi dari Ibnu 'Atha'illah dalam Kitab Al Hikam : 
Bury your existence in the earth of obscurity,
for whatever sprouts forth,
without having first been buried,
flowers imperfectly.

Sunday, November 1, 2015

Ketika Adam Berbuat Dosa

Ketika Adam berbuat dosa, Allah Ta'ala mengeluarkannya dari surga dan berkata, "Wahai Adam, saat aku menghukummu karena kesalahan yang engkau perbuat, mengapa tidak engkau mempertanyakannya? Bukankah engkau mempunyai pembelaan yang ampuh. Engkau bisa saja mengatakan, 'Wahai Tuhanku, bukankah segala sesuatu berasal dari-Mu. Engkau adalah Sang Pencipta segalanya. Apapun yang Engkau kehendaki pasti akan terjadi, sedangkan apapun yang tidak Engkau kehendaki tidak akan mewujud.'
Mengapa engkau tidak mengungkapkan pembelaan itu?"
Adam menjawab, "Oh Tuhanku, tentu hamba mengetahuinya, tetapi bagaimana mungkin hamba berlaku tidak sopan di hadapan-Mu (dengan mempertanyakan kebijakan Tuhan). Sungguh cintaku pada-Mu melingkupi diriku sehingga aku tidak mampu berdalih dengan-Mu."
-----
Banyak kebijakan-Nya yang belum kita mengerti dalam penggal kehidupan ini. Sesungguhnya kehidupan dunia niscaya menyeret jiwa ke dalam alam kebingungan dan kesulitan dan satu-satunya cara untuk bisa menempuh semua itu dengan tanpa merasa tersiksa adalah dengan mencinta. Mari kita belajar mencintai-Nya...
(Terjemahan dan adaptasi dari Fihi ma Fihi: Discourse 23. Jalaluddin Rumi)

Friday, October 30, 2015

Saat Doa 'Tak Dikabulkan'

Iblis mendatangi seorang abid yang telah bertahun-tahun memohonkan satu hal kepada Tuhannya, dengan kelihaiannya dalam bertipu muslihat iblis berkata kepadanya, "Duhai kawanku, sungguh kasihan engkau bertahun-tahun berdoa namun tak ada tanda bahwa Tuhanmu yang kau sembah mengabulkan permohonanmu, barangkali Dia bahkan tidak mendengarmu. Sungguh aku adalah pengabul doa yang lebih baik, mintalah kepadaku!"
Dalam kesempitan yang demikian menghimpit sang abid tawaran iblis nyaris terdengar seperti solusi yang masuk akal, namun keyakinannya yang dalam kepada Tuhannya membuat ia tidak bergeming mengetuk pintunya. Malam itu -setelah menampik permintaan si iblis - sang abid pun tertidur dalam keadaan wajahnya masih dibasahi air mata yang tidak berhenti mengalir dari pipinya. Saat tertidur itulah ia bermimpi berjumpa dengan orang tua bijak yang datang menyapanya dan membawa berita, "Wahai abid yang sholih, aku membawa pesan dari Tuhanmu yang mengatakan bahwa setiap kali lisanmu berkata 'wahai Tuhan' itulah ketika doamu ia kabulkan. Sebetulnya mudah saja bagi Tuhanmu untuk memenuhi permintaan apapun yang kau inginkan, akan tetapi Dia senang mendengar doamu yang datang dari lubuk hati yang terdalam dan apalah artinya pemberian dibandingkan kedekatan dengan Sang Pencinta. Bergembiralah karena sesungguhnya engkau selalu dalam tatapan cinta-Nya."
(Inspirasi dari Matsnawi III: 189-197. Jalaluddin Rumi)