Sunday, November 1, 2026

Agar tidak "Post Power Syndrome"

 Kehilangan sesuatu yang kita sukai itu berat dalam hidup. 

Tapi, natur kehidupan itu fana. Semuanya bersifat sementara. 

Semakin kita melekat kepada sesuatu, semakin sulit kita melepaskannya. 

Menjalani masa-masa purna tugas adalah salah satu keniscayaan dalam hidup. 

Pekerjaan tertentu akan berakhir seiring dengan bertambahnya usia. 

Atau posisi tertentu bisa Allah Ta'ala ambil kembali lewat seribu satu cara dinamikan kehidupan. 

Agar jangan terlalu terpuruk menjalaninya, ingatlah firman Allah Ta'ala berikut: 

    Katakanlah (Muhammad), 'Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa        pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapapun yang Engkau kehendaki.            Engkau muliakan siapapun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapapun yang Engkau                kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan (al khayr). Sungguh Engkau Mahakuasa atas segala     sesuatu.  - QS Ali Imran [3]:26

Sadari bahwa kita terlahir ke dunia ini tanpa memiliki apa-apa. Adalah Allah Ta'ala yang mengamanahkan itu semua. Kita mesti tahu diri bahwa kita ini adalah ciptaan dan sang hamba, biarkan Sang Pencipta memberi dan mengambil sesuatu - memuliakan dan membuat kita terhina sekalipun - dengan keyakinan bahwa di balik semua tindakan-Nya itu tersimpan banyak kebajikan (al khayr) untuk kita. 

Hidup masih panjang. Jika kita terpuruk dan meratapi berpanjang-panjang di penggal kehidupan di alam dunia  yang sangat singkat ini maka kita akan kehilangan banyak kesempatan untuk bersyukur dan akhirnya menjadi hamba-Nya yang merugi.

Let it go. And just work with the flow. 

Berjalanlah dengan ringan dan tersenyum dari hati dalam menghadapi takdir dari hari ke hari. 


Musim gugur di Amsterdam, 2 November 2026 jam 8.28 pagi setelah membantu mempersiapkan Rumi berangkat sekolah.

Wednesday, October 28, 2026

To love (sometime) is to let go

 Memandang keluar jendela.

Dedaunan yang menguning pertanda musim dingin tiba.


Bahkan daun-daun tahu, cara untuk mempertahankan kelangsungan pohon di musim tertentu adalah dengan melepaskan diri darinya.


Kadang, kita pun dihadapkan dengan situasi yang menuntut kita untuk melepaskan sesuatu sebagai bentuk cinta.


Let it go.

Percayakan ia di tangan Sang Pencipta.

Karena tak ada penjagaan yang lebih baik selain dari sisi-Nya.

Monday, October 26, 2026

 FOOD IS OUR LOVE LANGUAGE


Jargon kami “Love at first bite”


Apapun permasalahan yang ada biasanya ketemu jalan keluarnya saat diplomasi di meja makan, terlepas mejanya bundar, oval atau kotak.


Sekesal apapun kita sama seseorang, selama masih bisa duduk bersama sambil menikmati hidangan yang ada, gunung es kekesalan itu pun mulai mencair.


Semarah apapun kita di masa lalu atas perbuatan atau perkataan seseorang tapi ketika lidah dimanjakan oleh kelezatan hidangan yang ada, tiba-tiba hati pun ajaib menjadi melunak dan kita jadi lebih bisa memaafkan.


So, don’t underestimate the power of dining together. Ada ikatan hati yang terjalin saat kita duduk bersama.

You don’t even have to agree with me. 

Just spend time and sit together while we enjoy our meal.

Karena selalu ada hal yang kita rayakan bersama bahkan di antara ketidaksepahaman. Lagi pula, kata-kata itu sangat terbatas untuk menjembantani jurang perbedaan yang ada. Sometimes, all you need is to enjoy a goid food together when words are inadequate.


From Jeddah with love,

❤️ 27 Oktober 2026, selepas shubuh 5.33

 MENJADI TAMU ALLAH


Menjejakkan kaki ke Baitullah itu dalam kesaksian saya itu betul-betul karena panggilan Allah. Kalau seseorang belum dipanggil hatinya, walaupun dia mampu dan punya kesempatan, tidak akan tergerak untuk datang. Dan kalaupun seseorang keinginannya membuncah ingin ke tanah suci, tapi kalau Allah belum berikan kemampuan dan tidak dibukakan kesempatan, juga tak akan terjadi.


Jadi, berbahagialah para tamu Allah, mereka yang diundang dan dimampukan oleh Allah. Jalannya bisa tak terduga. Seperti tukang sayur depan rumah tante saya yang tiba-tiba bisa pergi umrah karena menggantikan seseorang yang keburu meninggal sebelum menunaikan umrah. Padahal kalau mau memakai perhitungan akal manusia, mau nabung sampai kapan sampai beliau bisa pergi ke tanah suci? Tapi kalah Allah Ta’ala menghendaki seseorang datang ya sampai saja.


Maka setidaknya nyalakan bara keinginan di dalam hati untuk bisa menginjakkan kaki di Masjidil Haram. Kapan dan bagaimana caranya? Serahkan bagian itu kepada Allah. Tugas kita adalah memanage keseharian dengan baik. Yang bisa nabung ya menabunglah, tapi jangan mengandalkan dirinpada tabungan itu. Karena Allah suka memberi kejutan lewat cara yang tak terduga.


Labbaik Allahumma labbaik.


Jeddah,

Selasa 27 Oktober 226 pukul 3.49 dini hari.

 ONE WAY TICKET


Setiap manusia terlahir membawa one way ticket menuju alam barzakh, alam persinggahan berikutnya.


Di usia janin 120 hari dituliskan tanggal berapa dan kapan waktu keberangkatannya. Kadang ada yang di delay, tapi tak ada yang bisa menolak saat keberangkatan jika ia telah tiba.


Sang Pemberi Tiket sudah mempersiapkan segalanya, perbekalan dan semua itinerary. Lengkap sejak hari pertama landing sampai nanti berangkat kembali. Semua orang membawa misi yang berbeda-beda di negeri persinggahan sementara ini. Setiap orang memiliki itinerary yang spesifik, yang disesuaikan dengan bekalnya masing-masing. 


Kebanyakan manusia, setelah landing di negeri asing, lupa dengan tugas dinasnya itu. Ia malah menghabiskan semua perbekalan berdasarkan kemauannya alih-alih mengikuti itinerary yang telah ada. Sebuah agenda suci yang terlupakan dan terlalaikan hingga saat boarding datang. Ia baru ingat belum melakukan ini dan itu. Tapi sudah terlambat. 


Panggilan akhir sudah digaungkan. 

Saatnya untuk pergi.

Tinggal sesal yang tiada tara.

“Duh, seandainya dulu aku begini-begitu”

Sesal kemudian tiada guna.


Selagi masih ada nafas.

Temukan kembali itinerary dari-Nya.

Apa kehendak-Nya yang diamanahkan kepada kita di alam persinggahan ini.

Baca kembali dari semua bekal yang ada.

Semua ada di sana. Menunggu untuk kita baca dan ditafakuri.


Bandara Soekarno-Hatta Jakarta, menunggu boarding menuju Jeddah jam 16.53 sore

Wednesday, October 21, 2026

Gusti Allah Ora Sare

Saya melihat ibu tua berjilbab panjang berwarna hitam itu bersandar pada sebatang pohon di pinggir jalan.

Debu bercampur asap dari kendaraan bermotor di bawah terik sinar matahari yang panas seakan tak beliau gubris.

 Terkantuk-kantuk.

Menunggu datangnya rezeki.

Siapa tahu ada yang bersedia beli.

Enam biji mainan anak siap jual.

Dua puluh lima ribu rupiah satunya.

Enam kali dua puluh lima ribu.

Syukur-syukur terjual semua.

Bisa membawa pulang seratus lima puluh ribu rupiah.

Untuk membayar kontrakan kamar, membeli makan dan membiayai kebutuhan hidup sehari-hari lainnya.

Seratus lima puluh ribu.

Buat sebagian orang itu hanya seharga segelas gelas besar kopi dingin plus cake di cafe nyaman.

Tapi bagi ibu ini, beliau harus menunggu sepanjang hari di bawah terik matahari.

Beliau tidak meminta-minta.

Yakin, Gusti Allah ora sare…


Bandung, 22 Oktober 2026




Wednesday, October 14, 2026

 UMRAH, HAJI DAN PENGENALAN DIRI


Dari kelima pilar Islam yang ada, saya rasa Haji adalah  yang terberat. Karena kalau syahadat, shalat, zakat dan shaum kita bisa melakukannya di ruang masing-masing dengan interaksi yang minimal dengan orang lain tapi saat haji atau umrah (haji kecil) kita terpapar dengan ratusan ribu (bahkan jutaan) orang di satu lokasi. 


Melaksanakan haji (atau umrah) itu harus banyak sabarnya. Sabar disikut orang saat thawaf, sabar kepala diinjak orang saat sujud di tempat shalat yang berdesak-desakan. Sabar dengan bau badan orang yang berdempetan. Sabar dengan kelakuan orang yang tidak mengguyur hajat besarnya dan meninggalkan WC yang kotor. Wah pokoknya kita terpapar dengan segala tingkah laku manusia saat berhaji. 


Bagaimana agar hati tetap tenang. Agar kita tetap ikhlas. Dan agar melihat bahwa apapun yang terjadi, sekecil apapun itu bukanlah sebuah kebetulan semata tetapi cara Allah untuk menunjukkan kondisi hati kita dari saat ke saat. Karena barangsiapa mengenal dirinya akan mengenal Rabbnya.


Pantaslah kiranya jika ritual puncak haji terletak pada saat diam di padang ‘Arafah. Padang pengenalan. Saat diam kita diajak untuk merenung dan membaca ke dalam diri. Siapa aku? Mengapa Allah Ta’ala mengizinkan semua takdir ini terjadi? Apa yang harus kulakukan dengan sisa usiaku? Inilah pertanyaan paling fundamental seorang manusia yang kerap terkubur dalam kesibukan kita mencari penghidupan, membangun karir atau berkarya apapun. 


Kita lupa bahwa hidup ini Dia yang punya. 

Kita lupa bahwa semua hal yang Dia berikan ada orientasinya.

Kita lupa, bahwa kita akan pulang dan mempertanggung jawabkan semuanya.

Kita bahkan sudah lupa siapa jiwa kita yang sebenarnya. Siapa nama kita yang sejati. 


It’s time to remember who we really are.

Sebelum nafas tinggal sehela lagi di kerongkongan.


Laa hawla wa laa quwwata illa billah.


Jeddah, 14 Oktober 2026

Menunggu penerbangan ke Jakarta

Be the man

“Ar rijaalu qawwamuna ‘ala nisaa”
QS An Nisaa:34

Ayat ini sering diterjemahkan sebagai “laki-laki adalah pemimpin kaum perempuan”

Akan tetapi kalai kita lihat lebih dalam kata “qawwamuna” adalah sebuah kata bentuk intenaif dari kata “qa’im” yang secara harfiah berarti “orang yang berdiri”. Secara hukum dan dari segi linguistik Bahasa Arab, kata “qawwam” atau “qayyim” berarti seorang pelindung, pemelihara, administrator atau manager yang bertanggung jawab untuk mengawasi segala urusan demi memastikan keselamatan dan kesejahteraan ragawinya.

Artinya, seorang lelaki yang layak digelari sebagai pemimpin bagi perempuannya adalah ia yang melakukan fungsinya sebagai penjaga, pelindung dan pemelihara sang perempuan. Dalam keseharian kita bisa melihat jelas mana lelaki yang “cowok banget” dan mana yang “banci”. Laki-laki sejati itu mengambil inisiatif untuk membantu. Itu adalah ekspresi penghormatan dan memuliakan kaum perempuan. Jangan biarkan si perempuan menenteng sendiri belanjaan beratnya. Kalau bisa bukakan pintu untuknya. Sepulang kerja, walaupunlelah upayakan ikut membantu sang istri mengurus anak dan rumah tangga. Karena rumah itu rumah bersama-sama. Dan merawat anak-anak adalah tanggung jawab baik ibu dan ayah.

Seorang “qayyim” juga berarti sebagai pelindung. Bukan sekadar berang kalau melihat ada laki-laki lain mendekati pasangannya. Tapi juga lindungi perasaan sang perempuan dengan menjadi safe space buatnya. Inilah makna menjadi seorang laki-laki sejati.

Dan perempuan itu kalau sudah terpenuhi kebutuhannya untuk merasa aman, dihargai kehadiran dan upayanya (feeling to be seen) dan dimengerti, maka si perempuan itu akan berkembang seperti bunga yang merekah dan mengeluarkan wanginya. Ini rahasia untuk meraih intimasi dengan perempuan. Be the man.

Jeddah, 14 Oktober 2026 jam 15.26 menunggu adzan Ashar


Monday, October 12, 2026

Just keep walking

 Just keep walking

Even when you are not sure of where you are headed.

Trust that Inner Guidance.

For you knowif you stop walking your soul will wither and die...

***

Hidup akan terus berjalan terlepas apakah kita akan berpartisipasi aktif di dalamnya atau tidak. 

Waktu akan terus melangkah, tak peduli apakah kita siap atau tidak. 

Bulir-bulir pasir dalam jam pasir jatah kehidupan akan terus berjatuhan, setiap nafas membawa kita mendekat kepada kematian. Hal yang paling ditakuti bahkan dibenci oleh sebagian orang karena belum paham apa hakikat kematian. 

Lihatlah di sekeliling kita. Semuanya berubah. Matahari terbit dan terbenam. Rembulan berubah bentuk setiap hari mengikuti siklus yang ada. Anak-anak bertambah dewasa. Dan lihatlah tubuh kita sudah tidak seperti dulu lagi. Rambut-rambut putih yang tumbuh satu persatu. Keriput kulit yang semakin menyata. Sendi-sendi yang mulai berulah. Setiap ciptaan tahu bahwa hidup adalah sebuah perjalanan. Kita, manusia, sering lupa, karena terkungkung oleh sebuah ruang kebiasaan dan seolah nampak statis. Kita terlalaikan oleh sekian banyak kesibukan dunia dan terhempas berkali-kali di dalamnya. Sampai kepada sebuah titik dimana kita tidak yakin lagi kemana harus melangkah. 

Namun sadarilah wahai sahabat, di titik dimana kita difakirkan, justru disitu saat Sang Pencipta berkehendak memberikan anugerah langsung dari-Nya. Karenanya jangan pernah dibuat putus asa oleh hempasan takdir. Semua dalam kendali Yang Maha Kuasa. Berjalanlah terus merespon kehidupan dengan sebaik-baik penyikapan yang bisa kita berikan. Panggil Dia di setiap langkah. Bahkan dalam kegelapan sekalipun melangkahlah dengan berhati-hati. Yakin di satu titik cahaya terang itu akan terlihat. Karena Dia tidak pernah pergi. Dia selalu dekat. Lebih dekat dari urat nadi kita...

Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya...

QS Qaaf : 16


Amsterdam, Senin, 12 Oktober 2026 saat musim gugur yang mulai dingin. Waktu liburan sekolah anak dan di tengah persiapan packing melaksanakan umrah dan perjalanan mudik ke tanah air. Jam 12.40 siang.

Friday, October 9, 2026

Tentang 'Patah Hati'

 "Daripada sakit hati, lebih baik sakit gigi ini. Biar tak mengapa..." - Meggy Z

Siapa yang mau patah hatinya? 

Sakitnya itu susah cari obatnya. Tidak semudah mengobati patah tulang. 

Pantas saja ada yang bilang, 

"I'd rather have a broken arm than a broken heart" 

Kalau tulang patah, jelas pengobatannya dan durasi sembuhnya bisa diperkirakan. Lha kalau sakit hati? Orang ada yang depresi bahkan rela mengakhiri hidupnya saking tak tertahankan sakitnya.

Tapi begini. Hati itu sebenarnya sebuah entitas dari manusia yang tidak bisa patah. Justru daya kapasitasnya demikian besar sehingga Allah Ta'ala menyatakan dalam hadits qudsiy, 

"Tidak memuat-Ku langit-Ku dan bumi-Ku kecuali hati (qalb) hamba-Ku yang mukmin."

Hati adalah Baitullah. Tempat Allah bertajalli. Bukan Dzat-Nya, tidak mungkin. Tapi kuasa-Nya.

Jadi bayangkan potensi kekuatan hati itu sedemikian dahsyat. Dia sebenarnya tidak akan patah oleh hal-hal kecil dalam kehidupan. Lalu apa yang terjadi dengan fenomena "broken heart" atau patah hati? 

Jalaluddin Rumi mengatakan, 

"Luka itu adalah lokasi dimana cahaya masuk." 

"Kau harus terus menghancurkan hatimu hingga ia terbuka." 

Perhatikan bahwa yang dihancurkan dan dipatahkan disini adalah sesuatu yang menyelubungi hati, bukan hati itu sendiri. 

Oleh karena itu, bagi kaum sufi, pengalaman 'patah hati' bukanlah sebuah tragedi dalam kehidupan, walaupun rasanya dunia kiamat. Tapi kalau mau sabar menjalaninya, kita akan melihat bahwa yang dihancurkan bukan hati kita, tapi hijab hati yang menyelubunginya dan biasanya itu berkelindan dengan ego manusia. Dengan kata lain yang patah itu egonya. Yang terluka itu harapan (ekspektasi) seseorang. Yang hancur itu mimpi dan angan-angannya, bukan hati itu sendiri. Dia tetap intact. 

Sadari bahwa mendera sakit hati adalah salah satu konsekuensi hidup. Agar jiwa kita bertumbuh. Kunci menjalaninya adalah sabar dan ingat bahwa semua adalah milik Allah sebagaimana firman Allah Ta'ala,

Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang sabar. 

Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan "innalillahi wa inna ilaihi raaji'uun" (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali)

Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.

(QS Al Baqarah [2]:155-157)

Jadi tatkala takdir kehidupan menyampaikan kita pada sebuah episode yang menyakitkan, dzikirkan "innalillahi wa inna ilaihi raaji'uun" berkali-kali untuk mengingatkan bahwa tidak ada satupun yang sebenarnya milik kita. Harta kita bukan milik kita. Anak-anak kita hanya titipan. Semua yang ada adalah amanah. Bahkan diri dan kehidupan adalah pinjaman yang harus disyukuri. Jangan klaim semua itu menjadi milik kita. Karena semakin kita melekat kepada semua itu semakin sakit hati kita dan menderita kita dibuatnya. So, let it go...remember that it was never our to begin with. 

Amsterdam, Sabtu 10 Oktober 2026 pukul 00.23 malam - di antara shalat sunnah di malam hari

Tuesday, September 29, 2026

 WE ARE (NOT) ROBOT


Menarik untuk menelisik bahwa kata “intellectual” di dalam tradisi Barat zaman dulu artinya kemampuan berpikir baik dengan logika dan hati. Dalam perkembangannya, terutama ketika dunia memasuki masa Revolusi Industri, pola berpikir dengan hati perlahan-lahan mulai ditinggalkan, sedemikian rupa hingga manusia merasa asing dengan istilah “akal hati”. 


Akhirnya manusia hanya mengandalkan logikanya dalam menghadapi urusan keseharian. Sesuatu yang sangat rentan dan lemah karena jangkauan logika dunia sangat terbatas. Seperti terbatasnya daya tembus penglihatan lahir yang tak mampu melihat di balik dinding yang terbentang di depannya. Karena terlampau mengandalkan separuh daya inteleknya, manusia menjadi budak dari perhitungan sebab akibat. Mirip seperti robot yang terbatas pergerakannya oleh sebuah algoritma tertentu. Begitu manusia berhadapan dengan sesuatu yang tak masuk akal seperti berbagai urusan takdir yang perlu dia cerna, maka dirinya akan senantiasa resah karena tak ada satu pun formulasi di akal pikirannya yang bisa memahami ihwal apa yang tengah terjadi. Akibatnya manusia menderita berbagai kasus simtomatik yang berakar dari stress kronis. Penyakit yang berasal dari bayang-bayang yang dibentuk oleh pikirannya sendiri. 


Jalaluddin Rumi berkata, “You have wings to fly, why prefer to crawl?”


Kita lupa menjadi manusia. Makhluk yang dikaruniai entitas jiwa. 

Kita lupa bahwa kita bukan sekadar raga yang akan berakhir masa pakainya lewat sebuah kematian.

Kita lupa bahwa daya intelektualitas kita bisa menyentuh Yang tak terbatas.

Kita punya akal hati yang dengannya kita bisa membuat lompatan-lompatan kuantum yang melampaui semua keterbatasan dunia sebab-akibat.


Most of all, kita lupa bahwa kita adalah ciptaan Yang Maha Kuasa. Bahwa Sang Pencipta merancang dengan detail setiap gerak kehidupan kita. 

Di setiap langkahnya.

Di setiap nafasnya.

Di setiap detak jantungnya.

Karena itu segala hal mengandung makna.

Kita bukan sekadar human doing. Seperti banyak kegiatan tapi tak ada orientasinya.

Kita adalah human being, diciptakan untuk menjadi sesuatu. Menjadi bayangan Ar Rahman di bumi ini.

Agar tidak hidup seperti robot.

Berkarya banyak tapi tak menjadi amal shalih.

Na’udzubillahimindzaalik.


On my flight from Amsterdam to Berlin, 29 Sept 2026, 13.36 

Monday, September 28, 2026

When things feel unstable

 Just keep working. Keep washing the dishes. Keep your daily activity. Keep building your life.

Because routine is what makes your stability when everything else feels unstable.

***

Pasang surut itu bagian dari kehidupan.

Perubahan adalah hal yang tak terpisahkan dari takdir manusia.

Kadang, kita merasa demikian terguncang menghadapi aliran arus ketetapan Ilahiyah, sedemikian rupa hingga dibuat kita limbung karenanya.

Di saat seperti inilah menjalani rutinitas sebenarnya membantu. Shalat lima waktu menjadi pilarnya. Lalu jalani saja apa-apa amanah yang Allah sampaikan ke tangan kita dari antara waktu shalat ke waktu shalat lainnya. Pekerjaan yang itu, proyek yang itu, urusan anak dan sekolah, bisnis yang itu, meeting yang itu, serta segala urusan keseharian yang selalu akan mengemuka. Jalani dengan hati banyak bermunajat kepada-Nya, memohon agar Allah menuntun kita keluar dari kemelut kehidupan yang demikian menggerinda emosi dan perasaan kita. Karena hanya Dia yang kuasa mengubah semuanya. Dan di masa penantian itu mintalah agar kita diberi kesabaran yang baik dan dikaruniakan ilmu dan pemahaman agar kita lebih ringan menjalaninya dan bahkan bisa tersenyum menghadapinya.

Jadi jangan sepelekan hal-hal rutin yang memang bisa menyita waktu itu. Kalau itu dikerjakan dengan penghadapan hati yanh benar kepada Allah Ta’ala maka ia akan jadi amal shalih. Itulah yang akan menjamin hayatan thayyibah, kehidupan yang terbaik bagi kita masing-masing. Tetap semangat!


Leiden, 28 September 2026

Selepas riset di perpustakaan dan jelang waktu dinas, jam 15.33 sore.

Saturday, September 19, 2026

Saying goodbye is painful

 Saying goodbye is painful.

But pain is inevitable in life. How you interpreted it and what kind of story that you build around it will make a whole different thing, whether you are liberated from it or trapped by it.

***

Perpisahan adalah hal yang tak terelakkan dalam hidup. 

Jika bukan karena keadaan maka maut-lah menjadi pemisah antara seseorang dengan apa-apa yang dikasihinya.

Menjalani perpisahan itu menyakitkan, jika kita mencintai sesuatu atau seseorang itu. Tapi, mendera rasa sakit adalah bagian dari kehidupan. Kita tidak bisa menghindar darinya. Ada hikmah yang besar kenapa Allah Ta’ala mengizinkan sebuah fenomena yang menyakitkan terjadi. Ada sesuatu yang sedang Dia tumbuhkan, walaupun itu tak nampak. Pengetahuan tentang hal ini akan membuat seseorang lebih berdamai saat menjalani episode perpisahan atau kehilangan,

“Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun”

Mengimani bahwa segala sesuatu berasal dari Allah, Sang Pemilik semuanya dan akan kembali kepada-Nya. Ingat bahw akita adalah ciptaan. Kapanpun Sang Pencipta berkehendak untuk mengambil atau memindahkan ataupun mengubah ciptaan-Nya itu hak Allah Ta’ala. Kita tak punya hak untuk protes atau bahkan mengklaim itu jadi milik kita. 

Let it go. Bertasbihlah dengan aliran takdir kehidupan.  Agar kita menjadi orang yang merdeka. Terbebas dari pengaruh pasang surut dunia.

Amsterdam, Foodstrips, 19 September 2026 / 8 Rabiul Akhir 1448 jam 21.54


Tuesday, September 15, 2026

Unselfish Love

 Choosing to love someone can be really hard work. It requires constant self-reflection, dissolving our ego, and breaking free of deep-rooted patterns. It’s a daily choice, and sometimes even a fight with our old selves. But oh, it’s so worth it. Even the journey tends to break us, because the greater love cause the greater pain. And yet, it’s so much better than never knowing love at all.

***

Di awal waktu, mencinta seseorang rasanya mudah. Itu periode infatuation, dimana kita terbuai dengan kecocokan dan mengagumi kelebihan yang kita lihat padanya. That’s why they called it “fall in love”, karena “fall” itu almost “effortless. Kita seperti disedot dalam pusaran gravitasi cinta yang menggelora. Ini baru fase awal. 

And then when the ‘honeymoon’ is over. Ketika waktu menguak sisi-sisi lain dan yang asli dari pasangan kita. Belum tentu rasa cinta itu masih membara. Adapun cinta sejati tidak akan luntur oleh sekian fenomena yang kita labeli sebagai “kekurangan” dari pasangan kita. Karena cinta itu setia.

Demikianlah, kita belajar makna cinta sejati dari mencintai ciptaan-Nya, tapi jangan berhenti di situ, karena hati hanya layak ditempati oleh kuasa-Nya. Cinta kita harus bertumbuh. Hingga menumbuhkan cinta sejati. Unconditioned love. Unselfish love.  Insya Allah.


Amsterdam, Foostrip, 21.30 malam, Selasa, 15 September 2026

Friday, September 11, 2026

Stop fighting the reality

 Stop resisting reality.

Acceptance is not the same is giving up. 

You don’t have to pretend to like what happened or want things to stay bad.


But you can end your internal exhaustion and channel your energy for healing and actions by stop arguing with life as it is. By stop fighting for the facts that you cannot change.


And then we can feel our soul grows quietly and our body more relaxed. To be finally get the realization that we are where we’re supposed to be.


***


Hidup itu mengalir saja dengan apa yang ada.

Seperti aliran sungai yang tak memaksakan dirinya menembus bebatuan di sepanjang sungai, ia dengan ringan berbelok mencari jalan yang dimudahkan.

Seperti ikan yang tak memaksakan diri memakan buah masak syang ranum yang nampak bergelantungan di pohon di atas air. Sang ikan tak memaksakan diri untuk keluar dari habitatnya untuk sekadar mencari penghidupan. Dia bisa mati kalau memaksakan diri.

Seperti burung yang pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang, hanya dengan mengandalkan kemampuan sepasang sayapnya untuk terbang mencari makanan. Ia tidak sepandai kera yang bisa bergelayutam dari satu pohon ke pohon lain dan cekatanengambil buah-buahan. Ia tak sejago ikan yang bisa berenang menangkap mangsanya di dalam air. Ia pun tak secekatan singa yang bisa berlari cepat menangkap binatang lain. Burung memang ‘cuma’ punya sepasang sayap, tapi itu cukup untuk hidupnya. 

Apapun yang Allah berikan kepada kita, pekerjaan yang itu, kondisi yang itu, semuanya mestinya cukup untuk memenuhi hajat hidup, dan seringnya mestinya berlebih. Tapi kita mesti hidup sesuai dengan realitas yang ada. Jangan seperti punik merindukan rembulan. Sengsara hidup seperti itu. Hidup apa adamya saja. Adanya rumah yang itu syukuri, walaupun ngontrak. Who cares? Yang penting kita ngga nyolong dan ngga korupsi. Hidup lurus-lurus saja sambil menikmati dan mensyukuri keadaan dari saat ke saat. Go with the flow. Jangan melawan arus takdir yang mengalir dari saat ke saat agar bisa belajar berselancar dalam aliran-Nya. Bertasbih. Tersenyum menjalaninya. Insya Allah.


Amsterdam, Wibautsraat, menunggu anak-anak pulang sekolah. Jum’at, 11 September 2026

Thursday, September 10, 2026

Pandanglah langit agar dada kita tidak sempit

 Lihatlah ke langit malam

Saat bintang-bintang nampak bertaburan

Kerlap-kerlipnya adalah sebuah tasbih

Mengingatkan kita untuk senantiasa melihat ke Atas

Agar jangan tenggelam dalam kehidupan bumi

Lihatlah ke atas, menembus cakrawala

Rasakan kemegahan ciptaan yang tengah digelar di depan kita

Trilyunan galaksi membentang

Akan tetapi insan mulia Rasulullah Muhammad SAW diturunkan di bumi kita yang kecil ini

Untuk sebuah alasan yang agung

Sebuah pagelaran dahsyat dari Dia Yang Cinta untuk dikenal*

Pandanglah baik-baik konstelasi bintang yang ada

Bagaimana semua patuh dalam posisinya masing-masing

Hingga berfungsi menjadi petunjuk bagi manusia

Kita pun begitu, kalau berserah pada karsa-Nya

Hidup kita akan bagaikan bintang-bintang di malam hari

Bersinar terang di tengah kelamnya dunia

Menjadi pembawa kabar gembira bagi semestanya masing-masing

Maka tatkala dada merasa sempit oleh sekian tekanan kehidupan

Pandanglah langit, ingatlah bahwa alam raya yang ada demikian luas

Tak sesempit sekadar masalah yang mengungkung kita semata

See beyond all worldly manifestations

Jangkaulah alam-alam lain yang tengah juga digelar

Agar pemahaman kita lebih lengkap dengan kehidupan

Agar lebih lapang dada kita karenanya

Dan agar cahaya-Nya semakin bertambah menerpa qalb hingga sampai di intinya. 

Insya Allah. 


* "Aku adalah khanzn mahfiy (khazanah yang tersembunyi), Aku cinta untuk dikenal, maka Aku menciptakan makhluk agar Aku dikenal."- Hadits Qudsiy

Amsterdam, Kamis 10 September 2026 - renungan dari melihat langit semalam.

Saturday, September 5, 2026

Sabar atas hal yang tidak kita senangi

"...Akan tetapi, Allah menjadikan dari hal yang tidak kita senangi itu kebaikan yang banyak..."

- Rasulullah SAW

***

Kalau kita melabuhkan kebahagiaan berdasarkan situasi dan kondisi yang kita senangi saja, itu sangat riskan dan berpotensi sengsara berkepanjangan, karena natur kehidupan dunia itu akan banyak hal yang bertentangan dengan keinginan dan cita-cita kita. 

Artinya, kalau kita merasa tenang hanya pada saat uang cukup, lantas ketika Allah menempatkan kita dalam posisi serba pas-pasan bahkan kekurangan apa kita lantas menjadi menderita karenanya? 

Kalau kita melabel hidup bahagia berdasarkan sekian banyak pencapaian duniawi, "Oh kalau bisa masuk perguruan tinggi itu, oh kalau keterima kerja di tempat keren itu, oh kalau gajiku mencapai X rupiah, oh kalau aku bisa menempati posisi tinggi itu, oh kalau aku bisa menikahi dia, oh kalau bisa punya sekian anak...dan terus menerus persyaratan yang kita sematkan di dalam benak kita sendiri atas makna kebahagiaan maka kita hanya akan hidup seperti mengejar bayang-bayang. Karena keinginan manusia itu tidak akan ada habisnya. Setelah dapat ini, pengen yang itu. Setelah dapat yang itu pengen yang di sana. Terus begitu. Sampai Rasulullah SAW mengatakan satu-satunya yang bisa mengenyangkan anak Adam adalah ketika mulutnya penuh dengan tanah. Baru dia diam, tidak ingin ini dan itu. Tapi artinya kalau sudah mulut dengan tanah berarti sudah mati jasadnya, dikubur di kegelapan bumi. 

Lantas, apakah kita mau menggadaikan kesempatan hidup di dunia yang hanya sekali ini kepada sekian fatamorgana yang kita anggap sebagai kebahagiaan? It's very risky things to do. 

Maka agama memberi panduan, agar tidak salah kita dalam menetapkan arah dan prioritas hidup. Kuncinya berserah diri (aslamna) pada qadha dan qadar-Nya. Artinya bahagia itu bukan hal yang harus dikejar melainkan sesuatu yang harus disingkap, karena sumber-sumber kebahagiaan selalu ada dari saat ke saat. Tapi ketika kita melabel sebuah kondisi kurang dengan sebutan "merana", sebuah kondisi "sakit" dengan label "menderita", maka kita menjadi tidak tersenyum di hati saat menjalaninya. 

Berserah diri (islam) itu kunci agar dibukakan karunia cahaya Allah berikutnya yaitu nur iman. Syaratnya taubat, hati ingin kembali mencari-Nya, ingin mengenal kehendak-Nya, ingin dituntun setiap saat oleh-Nya, ingin hanya mengerjakan apa yang Dia ingin kita kerjakan. Itu yang kemudian akan membentuk hati yang taqwa. Dan Allah berjanji, kalau seseorang bertaqwa, dia akan diajari langsung oleh Allah. Dia akan dibuat paham akan sebuah fenomena yang dulu memusingkannya. Dia akan dibuat mengangguk tersenyum atas sebuah situasi yang dulu membuat pusing kepalanya. Dia akan dibuat bersabar menjalani keadaan yang dulu sangat berat dijalaninya bahkan hingga menolak takdirnya. Sebab pintu sabar akan otomatis terbuka seiring dengan dibuat pahamnya kita akan sesuatu dikarenakan pengetahuan yang Allah ajarkan ke dalam qalb seseorang. 

Secara praktisnya, sabar saja dulu menjalani apa yang ada. Jangan keluhkan apalagi mengutuk takdir yang ada dan melabelnya dengan ungkapan-ungkapan yang buruk. Yakini bahwa di segala hal yang Dia izinkan hadir dan mewujud tersimpan banyak hikmah yang kebaikan yang banyak. Just surrender to His will...


Amsterdam, Sabtu sore menanti tiga anak yang sedang jalan-jalan ke kota.

5 Agustus 2026 / 23 Rabiul Awwal 1448 H


Friday, September 4, 2026

 “Ini foto ruang tempat aku berdoa, Tessa.

Terima kasih sudah memberiku saran agar aku lebih sering berdoa. 


Dan kamu benar, Tessa, setelah aku sering berbicara kembali kepada Tuhan, sesuatu yang lama aku tinggalkan karena kesibukan kehidupanku, aku makin mulai merasa tenang menghadapi kehidupan, seganas apapun badai yang menerpa. Sekarang aku ngga mudah stress seperti dulu. Lebih santai.


Sekali lagi aku mau berterima kasih kepadamu atas saranmu itu. Dan tahukah kamu bahwa yang menyarankan agar aku kembali kepada Tuhan dan berdoa itu banyak, termasuk suamiku. Tapi entah hatiku merasa tergerak justru setelah kamu yang mengatakannya. Aneh, tapi nyata. Tapi doa memang perisai dan senjata dalam menghadapi kehidupan.


Maka, aku hendak berterima kasih kepadamu dengan mentraktir kamu makan siang. Boleh ya?”


“Sure, why not”🤩


Alhamdulillah, rezeki siang ini. 

Dan yang bikin saya senyum haru adalah bagaimana Allah merespon segenap ciptaan-Nya, walaupun Dia dipanggil dengan nama lain. Allah sungguh Maha Pengasih dan Maha Penyayang. 🥰


NB: rekan saya yang curhat ini beragama Hindu🙏🏻

A lot has happened in seven years

 Seven years ago,

The calendar turned, the seasons flew,

Seven years have come and gone.


So much has happened in this space,

It’s when time unraveled many things,

And we watched unexpected grows.


The house changed, the city shifted,

The toddler takes a giant stride,

The heavy fog has slowly lifted.


Seven years of breath and change,

Yet through the loss and all we gained,

The longing and strength to carry on remained.


Alhamdulillah ya Rabb❤️ Thank you.


Amsterdam 4 Sept 2026, the holy day of Jum’ah

Still in the month of the birth of the holy Prophet salallahu ‘alaihi wassalam, 22 Rabi’ul Awal 1448 H



Wednesday, September 2, 2026

Semakin pasrah hidup itu semakin Allah aturkan

 Dari 'Umar bin al-Khattab ra, Nabi Muhammad SAW bersabda, 

"Seandainya kalian benar-benar bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sebenar-benarnya, niscaya kalian diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki. Ia pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali di sore hari dalam keadaan kenyang."  (HR Tirmidzi No. 2344)

***

Kita, manusia suka lupa kalau hidup itu ada Allah Yang Maha Mengatur. 

Karena lupa, kita suka panik-panik sendiri ngga jelas. 

Menghadapi kekurangan dan kebutuhan hidup lantas heboh cari solusi sana-sini sambil lupa berdoa dulu kepada Allah Yang menempatkan kita pada semua keadaan itu. 

Logikanya begini, Dia Yang Membuat semua fenomena ini, mestilah Yang Maha Tahu apa jalan keluar dan solusi dari semua permasalahan. Ngerti sih konsep ini, tapi yakin? Wah itu masalah lain ternyata. Karena pada kenyataannya dalam hidup kita sering melewati Allah. Dia seperti dicuekin gitu. Allah seolah hanya sesosok yang hadir di sepetak sajadah saat kita melakukan shalat yang express dan tidak khusyu itu. 

Mari jadi saksi kebenaran hadits ini. Pegang saja satu hadits ini dulu untuk menghadapi segenap permasalahan kita. Kita berjuang tawakal dengan tawakal yang benar kepada Allah. Tawakal yang ngga setengah-setengah. Bukan berarti pasrah ngga ngapa-ngapain. Karena di hadits itu burung pun harus menjemput rezekinya dengan terbang, pergi dari sarangnya. Ngga asal mangap dan menanti makanan jatuh dari langit!

Ikhtiar itu perlu, tapi landasi semua ikhtiar kita dengan hati yang bertawakal kepada Allah. Rasakan deh jadi indah semua yang dialami, walaupun itu harus hujan-hujanan naik motor di jalanan. Walaupun harus menyisir jalanan dalam panas dan debu. Walaupun harus kurang tidur karena mengerjakan orderan. Walaupun bersabar menanti datangnya pelanggan seharian. Semuanya jadi indah karena kita melewatinya dengan hati yang bersender kepada Allah, mengandalkan Dia, berdzikir kepada-Nya. Dan saksikan bahwa kita akan tidur  dari hari ke hari dengan perut kenyang. Begitu pun rezeki anak-anak kita. Dijamin. 

Lha untuk besok gimana? Minggu depan gimana? Bayaran bulan depan piye?

Nah, hidup itu hari ke hari saja. Jangan terlalu didramatisir, pusing sendiri kita. 

Kuncinya berserah diri. Karena semakiin kita berserah diri kepada Allah, maka Allah akan semakin mengaturkan segenap kehidupan kita. Dan siapa pengatur kehidupan yang lebih baik dibanding Dia?

Belajarlah dari Nabi Isa Almasih as yang berdoanya minta "daily bread", makanan untuk hari ini. 

Besok? Ya minta lagi. As simple as that. Hidup memang sesimpel itu kok.

Karena kita tengah belajar menjadi anak Sang Waktu. 

"Be the children of the time, to say tomorrow is not our way"


Amsterdam, 2 Agustus 2026 jelang musim gugur yang anginnya kencang dan merontokkan dedaunan

Jam 11.41 pagi

Monday, August 31, 2026

Jangan tanya hingga Allah sendiri yang menjelaskannya

 Dia (Khidir as) berkata, "Jika engkau mengikutiku, janganlah engkau menanyakan kepadaku tetang apapun sampai aku menerangkannya kepadamu." 

Dialog antara Khidir as dan Musa as yang direkam dalam QS Al Kahfi:70

***

Dalam tahapan bersuluk ada masa ketika kita dituntut percaya penuh kepada Allah Ta'ala dan tak bahkan mempertanyakan kenapa? 

Kenapa ini terjadi kepadaku?

Kenapa dia bisa berbuat hal itu ?

Kenapa bisa gagal ?

Karena dengan bertanya sudah menunjukkan ada sebuah aspek keraguan dalam diri kita terhadap kebijakan Allah tersebut. 

Disini mengapa kita harus berserah diri (aslamna) kepada seluruh pengaturan kehidupan dari-Nya. Dengan sebuah keyakinan yang dalam bahwa apapun yang Dia berikan pasti yang terbaik. Perkara kita belum paham dan belum bisa mempersepsi apa kebaikannya, sabar saja dulu. Kadang ada hal-hal yang baru terkuak seiring dengan berjalannya waktu. Tapi dalam menunggu datangnya penjelasan Allah itu pun sudah terhitung sebagai ibadah tertentu. 

Kuncinya taqwa. Karena dengan bertaqwa, Allah akan mengajari kita tentang hal-hal yang kita pertanyakan itu. 

"Bertaqwalah, niscaya Allah akan mengajarimu."QS Al Baqarah 282. 

Dan kalau kita sudah memiliki hati yang bertaqwa, salah satu tandanya adalah bisa berdamai dengan hal yang "ghaib", the unknown, hal yang belum kebayang dalam hidup, tak terpikirkan dari mana jalan keluarnya, tak terbayangkan jalan penyelesaiannya, tak terduga solusinya. Tapi Allah Maha Tahu. 

Alif laam miim

Itulah Kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya, (ia merupakan) petunjuk bagi orang yang bertaqwa.  (yaitu) orang-orang yang beriman pada yang ghaib..." QS Al Baqarah 1-3

Jadi belajarlah berdamai dengan ketidaktahuan, kebingungan dan kegelapan dalam hidup. It's okay. You're gonna be okay. Anak-anak akan baik-baik saja. Semua yang kita khawatiri itu bukan realitas saat ini. Tawakal kepada Allah sepenuhnya. Karena semua sungguh dalam kendali-Nya Yang Maha Adil. 


Amsterdam, Senin, 31 Agustus 2026 di siang hari peralihan musim panas ke musim gugur yang mulai berangin kencang. Jam 2.52. Menunggu anak-anak pulang sekolah. 

Wednesday, August 26, 2026

Menyikapi alam fana

 "Jangan engkau sembah Tuhan yang lain (selain Allah). Tidak ada tuhan selain Dia. Segala sesuatu pasti binasa kecuali Wajah-Nya..."  QS Al Qashash [28]:88

Di dunia ini semua bersifat sementara. 

Orang datang dan pergi. 

Kehidupan silih berganti. 

Maka, jika kita terikat terlalu kuat kepada seseorang atau keadaan, pasti akan membuat kita sengsara dan kesulitan untuk bertasbih mengalir bersama takdir-Nya. 

Tauhid adalah kunci untuk menyikapi alam fana ini. 

Agar jangan ada Ilah selain Dia. Tidak ada yang demikian mendominasi hidup dan segenap perasaan kita kecuali Dia. Tidak ada yang patut kita harapkan dengan total kecuali kepada-Nya. Tak ada yang layak kita takuti kecuali sebuah ketakutan yang agung kepada Sang Maha Pencipta. 

Jadi, manakalah kita merasa terseret dan pontang-panting menghadapi hantaman gelombang perubahan dalam kehidupan, coba telisik hati kita, mesti sedang goyah tauhidnya. Dia tengah bertawakal kepada sesuatu selain Allah.


Amsterdam, Rabu pagi yang cerah, 26 Agustus 2026 jam 9.39 pagi

Saturday, August 22, 2026

Memaknai kehadiran sang uban

 Diriwayatkan bahwa ketika Nabi Ibrahim as melihat uban, beliau berkata, “Wahai Rabbku, apakah ini?” Allah SWT menjawab, “Ini adalah ketenangan dan kewibawaan (waqar)”. Lalu Ibrahim as berkata, “Ya Allah! Tambahkanlah bagiku ketenangan dan kewibawaan.”


Jadi orang itu bertambah usia mestinya makin tenang dan berwibawa menjalani hidup.

Ngga grasa-grusu dan pecicilan seperti dulu.

Tenang itu tanda ilmunya ada. Bukan jenis ilmu yang hanya berupa gelar yang berendeng. Tapi ilmu yang berupa cahaya di hatinya, yang dengannya dia menjadi makin bijak dan rendah hati.


Oleh karena itu orang-orang tua sering diminta saran dan petuahnya, mereka sudah kenyang mencicipi asam-garam kehidupan. Mereka tahu dan mengalami sendiri bahwa roda dunia selalu berputar, tak selalu ada di atas dan tak berhenti di titik bawah. Pengalaman hidup membuat mereka paham bahwa setelah kesulitan selalu ada kemudahan. Dua hal yang berdampingan, seperti detak jantung : kontraksi dan relaksasi. Itu yang membuat kita hidup. Tinggal sabar dan bersyukur menjalaninya, insya Allah.


Dalam perjalanan ke Leiden di siang hari yang mendung, perpindahan musim panas ke musim gugur.


22 Agustus 2026, 10.56 pagi

Wednesday, August 19, 2026

Saat hati semakin bersinar

 “Allah cahaya petala lelangit dan bumi…”

QS An Nuur [24]:35


Nur iman adalah cahaya Allah yang menerangi hati (qalb) dan membuatnya hidup. Hati yang tanpa cahaya adalah bagaikan kuburan; gelap, mati, tak bisa melihat dan tak bisa mempersepsi kebenaran (al haq) yang tengah Allah gelar dalam panggung dunia kehidupan.

Semakin seseorang kembali (taubat) mendekat kepada Allah, semakin teranglah hatinya. Cahaya yang ada menyibak semua tirai kegelapan. Pada saat yang sama debu-debu dunia yang tadinya tak kelihatan mulai tertampakkan satu demi satu.

Semakin terang intensitas cahaya seseorang (maqam) semua hal yang halus semakin tertampakkan. Pikiran sekilas atau niatan halus yang hanya orang itu dan Allah yang tahu pun akan terhukumi dalam kehidupan. Jika ada pikiran atau niat yang tak benar, Allah akan tampakkan kebathilannya dalam takdir yang dihadapi. Agar sang hamba menyadari kesalahannya dalam berpikir dan merasa.

Maka cermati terus semua gerak kehidupan yang ada dengan penuh tafakur dan berserah diri. Be humble. Apapun yang Allah Ta’ala datangkan ke ruang hidup kita dari saat ke saat adalah pesan Ilahiyah yang akan menguak kondisi hati kita. Agar kita bisa kembali dengan hati yang bersih. Pulang dengan jiwa yang tenang.

Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Rabb-mu dengan hati yang puas lagi di-ridhai-Nya! Kemudian masuklah ke dalam (jamaah) hamba-hamba-Ku, Dan masuklah ke dalam surga-Ku! 

QS Al Fajr:27-30


Selepas fajr di Amsterdam, sambil menunggu anak-anak bersiap sekolah, 20 Agustus 2026


Saat hidup rasanya "gitu-gitu aja"

 "Setiap waktu Dia dalam kesibukan" 

- QS Ar Rahman:29


Allah Sang Maha Pencipta itu selalu menciptakan dari saat ke saat. Bayangkan, jadi kita sebenarnya berjalan dalam aliran ciptaan yang baru dari nafas ke nafas. Tapi kok kayanya gitu-gitu aja hidup? Ngga banyak yang berubah? Masalah yang melingkupi yang itu-itu lagi. Perasaan yang berkecamuk dari minggu lalu sampai sekarang masih betah nongkrong di dalam dada. Kok rasanya ngga terasa pernyataan kitab suci Al Quran bahwa Dia setiap saat dalam kesibukan. 

Untuk menambah khazanah ihwal bagaimana kita setiap saat dalam ciptaan baru, Ibnu Arabi mengatakan bahwa Dia selalu mencipta dengan sempurna. Tidak mungkin Allah Yang Maha Sempurna itu menciptakan sesuatu dengan KW 2 alias kualitas abal-abal. Ngga mungkin banget! Dia sangat jauh dari sifat seperti itu. Dia Dzat yang tidak iseng dalam mencipta sesuatu. Tidak coba-coba. Dan kalau Dia menghendaki sesuatu terjadi PASTI banyak hikmah di balik semua perkara yang tercipta. 

Jadi kalau merasa hidup serasa jalan di tempat, bosan, jenuh dan tak bersemangat. Pasti sedang ada yang tidak mengalir di sana. Ibarat kapal layar yang tak melaju karena tidak ada angin. Angin itu dari ruh. Bersama dengan kehadiran kuasa-Nya. Dan Allah itu Dzat Yang Maha merespon hamba-Nya. 

"Aku menjadi kawan duduk mereka yang mengingat-Ku" - firman-Nya. 

Kalau hati kita betul-betul menyeru Dia, maka Dia hadir dan kehadiran-Nya bagaikan matahari yang menyinari dan memberi kehidupan. You will feel the joy and feeling alive!

Dengan kata lain, kalau kita merasa "stuck" dalam kehidupan dan tidak bisa "move on", mungkin kita kurang menghadapkan wajah hati kita kepada-Nya. Mungkin kita belum menyeru Dia dengan sungguh-sungguh dari lubuk hati yang terdalam. 

Wallahu'alam


Amsterdam, 19 Agustus 2026, musim panas yang mulai berangin dan mendung. Menunggu Rumi, si bungsu di hari pertamanya di middelbareschool (kelas 1 SMP) di Cygnus Gymnasium Amsterdam 

1.38 pm.

Sunday, August 16, 2026

Ketika Allah balas kontan

 Kereta yang membawa saya dan anak-anak dari Den Haag ke kembali ke Amsterdam ternyata harus berhenti di Leiden karena masalah teknis. Maka kami pun menunggu sekitar 20 menit untuk naik kereta berikut yang menuju Amsterdam Central.


Waktu sudah bergerak lebih dari jam 10 malam, kebanyakan toko di stasiun tutup. Tiba-tiba saya melihat sepasang laki-laki dan perempuan terlihat kebingungan di depan pintu wc umum. Mereka tampaknya tidak bisa masuk ke dalamnya yang hanya bisa dilakukan dengan memasukkan koin satu euro dan tak punya fungsi pembayaran dengan kartu. Saya mendekati mereka sambil merogoh sekeping uang satu euro dari dalam kantung lalu membukakan pintunya. Si perempuan terkejut sambil tersenyum lega saat saya mempersilahkan dia untuk masuk. Kelihatannya dia sudah kebelet dan senang sekali mendapatkan kesempatan itu dengan tak terduga, barangkali dia pikir saya membuka pintu wc umum itu untuk saya pribadi. 


Perempuan itu masuk wc dan saya berjalan bersama anak-anak ke arah kedai kebab Doner yang masih buka sambil menunggu kereta berikutnya.


Tiba-tiba, perempuan itu menghampiri kami yang sedang duduk di dalam kedai kebab. Rupanya dia dan  suaminya mencari-cari saya setelah keluar dari wc umum itu. “Please allow me to pay” kata suaminya menawarkan mentransfer uang. 


“Oh, it’s okay. It’s on me” saya jawab sambil tersenyum.


“I thought you insert the coin and open the door for you, i never thought anybody would do that for me” kata si perempuan.


“Oh well, you need it. And i happened to have the coin”


“Can i give you a hug” kata si perempuan sambil menangis sambil sungkem cium tangan saya segala.


Saya agak kikuk dibuatnya, sambil menarik tangan dan ngga nyangka dia bisa tersentuh emosinya sedemikian rupa.


Tak sampai lima menit si perempuan itu datang lagi, kali ini sambil membawa sekantung belanjaan dari supermarket sebelah yang memang masih buka. 


“This is for you and your kids. Thank you so much. I was losing my faith to humanity and you bring it back to me.” Katanya sambil menangis lagi dan minta dipeluk sampai tiga kali.


Anak-anak bengong dong lihat fenomena ini. We keep talked about it afterwards. Lalu Elia, si sulung ngintip isi kantung belanjaan yang kira-kira isinya bernilai lebih dari 10 euro. 


“Whoa, Mama give 1 euro and got return more than 10 euro.


I also got one euro here, anybody want to go to the toilet?” Haha dasar otak dagang! 🥰


What a wonderful and touching closure for the day, Alhamdulillah.

Saturday, August 15, 2026

Hidup itu jalani saja

 You can’t change how people think or feel about you.

Just live your life and be happy, be grateful, be content.


Hidup itu jalani saja. 

Dari hari ke hari.

Dari waktu shalat ke waktu shalat. 

Break down into pieces, agar tak perlu mengkhawatirkan masa yang belum datang, walaupun itu satu jam ke depan. So we travel light, tak membebani diri dengan ketakutan akan masa depan yang belum datang atau ditarik oleh masa lalu yang sudah lewat. Fokus dengan amal shalih, merespon kehidupan sesuai dengan tuntunan-Nya dari nafas ke nafas. Sebab kita mesti belajar menjadi putra sang waktu, yang bertasbih menuruti aliran qadha dan qadar-Nya. Dengan sebuah keyakinan kuat bahwa apa-apa yang telah Dia tetapkan untuk kita, pastilah yang terbaik. 

Just believe.

Karena hidup adalah membangun keyakinan.

“Hingga datang kepadamu al yaqin” - Al Quran.


Friday, August 7, 2026

Mahadaya Cinta

 Don’t underestimate the power of love.


Orang yang sedekah sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang diperbuat oleh tangan kanannya adalah orang yang berbuat sesuatu dengan ikhlas lillahi ta’ala. 


Orang semacam ini, dia memberi tak berharap dibalas.


Orang seperti ini, dia baik kepada seseorang todak bermotifkan supaya yang bersangkutan jadi baik dan dekat dengannya.


Orang seperti ini akan bersinar kasih sayangnya seperti matahari walaupun tidak dibalas dengan “i love you too” atau bahkan air susu dibalas dengan air tuba.


Orang seperi ini bebas. Hidupnya untuk Tuhan. Bahkan bukan untuk dirinya sendiri. Dialah salah satu pilar semesta. Keneradaannya bisa jadi tak dikenal orang. Kepergiannya pun bisa jadi tenggelam dalam sepi. Tapi namanya mahsyur di langit.


Jangan tertipu dengan fenomena dunia. Ilusinya banyak yang menenggelamkan orang dari. Aman ke zaman. Sedemikian rupa hingga manusia lupa bahwa dia mengemban amanah tertentu di dunia ini. 


Semua amalan tergantung niat seseorang. Dan juat itu datang dari qalb. Pastikan qalb kita hidup kembali dengan cahaya-Nya.


Dalam perjalanan dari Weesperplein ke Gein di Amsterdam, Jum’at 7 Agustus 2026

17.33 sore


***


Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tatkala Allah menciptakan bumi, maka bumi bergoncang-goncang, kemudian Allah menciptakan gunung-gunung lalu meletakkannya di atas bumi tersebut sehingga bumi menjadi tenang. Dan para malaikat merasa kagum terhadap kerasnya gunung-gunung tersebut. 


Mereka berkata; wahai Tuhanku, apakah diantara makhlukmu terdapat sesuatu yang lebih keras daripada gunung? Allah berfirman: "Ya, api." 


Kemudian mereka berkata; wahai Tuhanku, apakah diantara makhlukMu terdapat sesuatu yang lebih keras daripada api? Allah berfirman: Ya, air. 


Mereka berkata; wahai Tuhanku, apakah diantara makhlukMu terdapat sesuatu yang lebih keras daripada air? Allah berfirman: ya, angin. 


Mereka berkata; wahai Tuhanku, apakah diantara makhlukMu terdapat sesuatu yang lebih keras daripada angin? Allah berfirman: Ya, anak Adam. Ia bersedekah dengan sebuah sedekah dengan tangan kanannya dan menyembunyikannya dari tangan kirinya."

Tuesday, August 4, 2026

Agar bisa memaknai setiap penggal kehidupan

 Perjalanan Musa as di paruh akhir hidupnya untuk mencari Khidir as sebagaimana tertuang kisahnya dalam surat Al Kahfi adalah perjalanan manusia untuk memahami dirinya sendiri. 

Khidir as dikatakan adalah orang yang berilmu yang bisa mengungkapkan hikmah dan kebenaran di balik penggal-penggal hidup Musa yang diperagakan dalam tindakan-tindakannya yang sempat membuat seorang Musa bingung karena dipandangnya merusak dan melanggar syariat. Tapi Al Quran pun mencatat jawaban Khidir as terhadap berbagai keberatan Musa itu, 

“Aku tidak melakukannya berdasarkan kemauanku sendiri…” - QS Al Kahfi:82

Kita semua sebenarnya sedang mencari ‘Khidir’ dalam diri masing-masing. Utusan-Nya yang bisa membantu kita membaca (iqra) seluruh kitab kehidupan kita hingga kita meneguk maknanya dan bersaksi “Rabbana maa khalaqta haadza baathila” bahwa tidak ada yang bathil, tak ada yang salah dan tak ada penggal hidup kita yang sia-sia. Walaupun di mata orang banyak itu seperti sebuah kegagalan, keterlambatan atau bahkan tragedi sekalipun. Karena bukankah kita ingin berdamai dengan takdir yang telah Allah tuliskan kepada diri masing-masing? Baru kemudian kita bisa menjadi hamba-Nya yang bersyukur. Dan makna dari setiap langkah kehidupan akan mulai kita cicipi rasa manisnya. Insya Allah. Kuncinya dimulai dari menerima dan berjuang untuk membaca dengan baik apapun yang Dia hadirkan ke dalam ruang takdir kehidupan kita dari saat ke saat. Iqra, bismirabbikalladzi khalaq. Membacanya dengan menyertakan Dia. Karena hanya Dia yang tahu dan bisa mengajari kita. Pada kenyataannya, apapun bisa menjadi media dan perantara proses pengajaran itu. Memang mesti sabar dan telaten menjalaninya. And sometimes we can get tired or depair but this is the way…


Stasiun Groningen di musim panas yang menyengat, 4 Agustus 2026 jam 10.53 pagi



Sunday, July 26, 2026

Agar Allah membersamai kita

 Pastikan setiap langkah dibersamai Allah.

Setiap pilihan, dipilihkan Allah.

Melakukan sesuatu karena Allah.

Mengerjakan sesuatu sebab mengharap ridho-Nya.

Pokoknya setiap nafas usahakan betul merasakan kehadiran-Nya. Masalahnya Dia memang selalu hadir. Satu Yang Paling setia.

Kitanya saja yang teralihkan perhatiannya kesana kemari sehingga Dia seolah tak ada.


Segala sesuatu yang dikerjakan lillahi ta’ala tak akan rugi. Kalaupun seakan ngga ada uangnya, tapi ganjaran yang kita garapkan adalah lebih berharga dari sekadar imbalan yang bersifat materi.


Walaupun tampaknya ‘gagal’ atau ‘kurang keren’ sekalipun di mata orang banyak, tapi kalau sesuatu itu dari Allah dan itu adalah yang Dia kehendaki maka itulah rezeki terbesar kita. Para pemuda dalam kisah Ashabul Kahfi paham betul tentang prinsip ini. Dalam usianya yang masih belia, kalau dalam bahasa kita sekarang, karir lagi menanjak dan dan dunia serasa ditundukkan, mereka malah menyepi untuk mencari amr Allah. Urusan spesifik yang Allah kehendaki untuk diri masing-masing. Karena apa gunanya diit banyak tapi Allah tidak senyum sama kita? Apa bahagia seakan memiliki segala tapi hati jauh dari Allah?


“Masa bermain sudah usai” sindir Jalaluddin Rumi. Ayo dong mikirnya jauh, ke akhirat. Jangan tenggelam dalam permainan dunia material yang melalaikan. Bukan berarti kita meninggalkan dunia. Justru seorang mukmin adalah yang piawai dalam memanage dunianya tapi kekuatan dunia itu tak dia biarkan mencengkeram hatinya. Karena qalb itu hanya untuk Allah.


Renungan saat sarapan pagi di bandara jelang keberangkatan ke London, Senin 27 Juli 2026 jam 8.38 pagi

Friday, July 24, 2026

Menyikapi dunia bayang-bayang

 Row-row your boat gently down the stream

Merrily, merrily , merrily, merrily,

Life is but a dream...


Hidup itu seperti kita bermimpi. Rasulullah SAW bersabda, "Manusia itu tertidur, ketika dia mati, dia terbangun." 

Lho kok tidur? Lha wong kita banyak bangunnya; bekerja, beraktivitas dsb. Jadi bahkan semua kegiatan kita di dunia yang kita dibuat sibuk karenanya itu masih dalam kategori bermimpi. 

Mari kita endapkan sejenak. Renungkan. Ini memang perenungan tingkat tinggi. Tapi memahami hal ini adalah kunci untuk bisa hidup bahagia. Dengan sebuah kebahagiaan yang bersumber dari kebenaran, bukan kesenangan sesaat yang kita persepsi sebagai sebuah kebahagiaan. 

Jadi, kematian adalah syarat agar seseorang terbangun dari mimpinya. Dan sebagaimana halnya mimpi, senyata-nyatanya orang mengalami sesuatu di alam mimpi, dia bukan sebuah realita yang sesungguhnya. Bukankah demikian? 

Maka belajar mati sebelum mati adalah hal yang esensial dalam bersuluk. Melepaskan jiwa dari semua pengaruh dan kekuatan selain Allah. Itulah makna menjadi muslim, orang yang berserah diri. Artinya menyerahkan semuanya kepada Allah seperti ikrar yang kita bacakan dalam doa Iftitah di awal waktu shalat,

Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku semata hanya untuk Allah Tuhan semua Alam, tiada sekutu bagi-Nya.

Kita lebur dalam karsa-Nya. Menyatu dalam kehendak-Nya. Mengalir dengan aliran takdir-Nya. Dari waktu ke waktu. Di setiap tarikan nafas dan di setiap detak jantung. Dengannya, semua fenomena lahiriyah di dunia bayang-bayang menjadi bermakna. Dia menjadi kekal.

Amsterdam, Jum'at selepas Kajian Suluk Online, 24 Juli 2026


Thursday, July 23, 2026

Agar jangan sampai tergilas oleh takdir hidup

 "Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga dia beriman kepada qadar baik dan buruknya dari Allah..."  hadits Rasulullah SAW dari Jabir bin 'Abdillah r.a.

Kalau kita yakin semua hal yang terjadi baik-buruk kehidupan, pahit-manisnya, senang-sedih semua dari Allah, mestinya kita tidak tenggelam dalam kesedihan yang serasa tak berkesudahan menghadapi ujian kehidupan. 

Karena bukankah Allah itu Maha Kasih dan Penyayang, yang tidak mungkin menzalimi hamba-Nya bahkan sebiji atom sekalipun? Tapi ketika fenomenanya dirasa menyakitkan, memang mudah kita terjebak untuk mencari kambing hitam. Salah dia, salah anu, bahkan salah Tuhan, apapun ditunjuk kecuali hidungnya sendiri. Kita jarang dengan ksatria melihat ke dalam diri bahwa di balik apapun yang mewujud di dalam takdir kita di situ ada andil kita di situ, baik besar maupun kecil. Karena takdir itu bagaikan bayang-bayang yang tertangkap oleh layar di pertunjukan wayang kulit. Bentuk bayangan tidak akan jauh dari bentuk obyek yang diterpa oleh sumber cahaya yang kemudian jatuh menjadi bayangan di layar putih pertunjukan wayang kulit. Bedanya, layar dunia ini bentuknya bukan dua dimensi seperti di pertunjukan wayang kulit, melainkan jauh lebih canggih, sedemikian rupa sampai bayangan tak sadarkan diri bahwa ia hanya bayang-bayang dan bukan merupakan entitas asli. Itulah raga yang lupa pada keberadaan jiwanya. 

Perjalanan kehidupan dunia adalah serangkaian proses mengenal kembali si jiwa (recollection), agar kita mengenal Sang Rabb, Pencipta kita semua. Mengingat kembali bahwa hidup itu ada orientasinya. Tidak sekedar mampir, menumpu kekayaan, mengejar karir lalu semuanya ditinggal di depan gerbang kematian. Ada hal esensi yang harus kita dapatkan dalam hidup. Sesuatu yang menghidupkan jiwa. Hal yang sudah diendus sejak lama sejak zaman Yunani yang tersimpan dalam kisah Coming Home-nya Oddyseus. Hal yang sama yang dicari oleh Alexander the Great dalam upayanya mencari "the water of life"  air kehidupan. Air yang sama yang dicari oleh Bima dalam legenda Dewa Ruci, yaitu tirta pawitra yang terletak di kedalaman samudera. 

Kita semua sedang mencari sesuatu yang hakiki. Jangan sampai terlena dan berhenti pada obyek-obyek dunia yang bersifat fana. Keep searching. Dengarkan desahan hati nurani yang selalu menyeru itu. Agar jangan sampai kita tergilas oleh takdir hidup. Merasa sudah mengerjakan banyak hal tapi sebenarnya tidak kemana-mana, karena hilang orientasi. Kenapa kehilangan arah? Karena kurang meminta kepada Allah. Mintalah, Dia pasti akan merespon.

Amsterdam, 23 Juli 2026 / 9 Safar 1448 jam 5.10 sore di saat liburan musim panas anak-anak


Sunday, July 19, 2026

Semua akan hancur kecuali Dia

 “So what’s your take today Rumi?”


Saya secara berkala selalu bertanya apa yang anak ini pelajari dalam kehidupan. Kadang jawabannya ala kadarnya, kadang bercanda, kadang dijawab dengan “nothing”. Tapi hari ini dia memberikan jawaban yang menohok.


“If you know that things will end why bother?”


Kalau kita tahu kalau segala sesuatunya akan berakhir, kenapa harus dibuat susah karenanya? Bener juga nih anak.


Sedih itu bagian dari kehidupan. Itu biasa. Tapi jangan sampai kita dicengkeram oleh kesedihan dan bersusah hati karenanya. 


Nikmati dan syukuri hidup, tapi jangan dibuat hati terbelenggu dan terikat olehnya, sebab hati kita hanya bisa dipenuhi oleh Allah. 


“Segala sesuatu yang ada di atasnya (bumi) akan binasa” QS Ar Rahman:26

Amsterdam, 19 Juli 2026, saat liburan musim panas yang cerah

Minggu santai setelah begadang semalam sama Rumi menunggu shalat isya jam 12 dan shalat shubuh jam 3 pagi


Rumi 12 tahun

Saturday, July 18, 2026

Tinggalkan apa yang meragukanmu

 TINGGALKAN APA YANG MERAGUKANMU


Ada kisah seorang perempuan yang kewara’annya dituliskan oleh Syaikh Ibnu Arabi dalam Kitab Futuhat al Makkiyah.Dialah saudara perempuan Bisyr Al Hafi ra yang pada suatu hari bertanya kepada Imam Ahmad bin Hambal tentang suatu perkara yang meresahkan hatinya. Yaitu pada malam hari dia pernah menenun kain dengan menggunakan cahaya dari lampu obor milik orang lain yang lewat di depan rumahnya.


Bayangkan, cahaya terang dari obor orang yang lewat yang dia manfaatkan, mungkin tanpa izin, hingga membuat hatinya ragu, apakah hal ini boleh atau tidak. Disebutkan bahwa ia tidak mungkin menanyakan hal itu kecuali ada keraguan dalam dirinya dan Nabi SAW bersabda,

“Tinggalkanlah apa yang meragukanmu dan lakukan apa yang tidak membuatmu ragu.”


Tak heran jika Imam Hambal yang ditanya pun memberi fatwa agar perempuan itu tidak lagi menenun dengan cara seperti itu sambil memuji kewara’annya hingga kisah tersebut sampai kepada kita dan ditulis dalam kitab-kitab.


Kemurnian hati sang perempuan itu menjadikannya merasakan hal-hal yang halus dalam kehidupan. Mungkin orang lain ada yang memakai obor tetangganya tanpa izinpun tak bergeming hatinya saking gelap dan kerasnya dia, na’udzubillahimindzaalik.


Inilah indahnya ajaran agama. Bagaimana ia menghormati hak-hak orang lain, hingga yang paling halus sekalipun. Agar manusia hidup dalam harmoni.


Dalam kereta menuju farewell party Mas Nur Ahmad di Leiden

18 Juli 2026

17.11 sore

Wednesday, July 8, 2026

Perjuangan menerima takdir-Nya

 Rasulullah SAW bersabda, 

"Aku takjub pada seorang mukmin. Sesungguhnya Allah tidaklah menakdirkan sesuatu untuk seorang mukmin melainkan pasti itulah yang terbaik untuknya."  - HR Ahmad

Secara ilmu kita tahu bahwa tidaklah Allah menetapkan sesuatu kecuali ada kebaikan yang banyak di dalamnya. Bahkan dalam takdir yang bagi sebagian besar manusia dipandang buruk sekalipun. Karena pengetahuan manusia sungguh sangat terbatas. Hal ini sudah dinyatakan dalam QS Al Baqarah:216

Diwajibkan (kutiba) atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui. 

Allah Ta'ala menggunakan kata "kutiba" yang secara harfiah sudah dituliskan. Sebagaimana takdir hidup kita semua kemungkinan yang akan terjadi sudah dituliskan. Manusia hanya bergerak dari kemungkinan takdir yang satu ke kemungkinan takdir yang lain yang sudah ditetapkan. 

Iman kita mestinya membuat kita tenang mengetahui bahwa segala sesuatu sudah dituliskan. Kan yang menulisnya Yang Maha Pengasih dan Penyayang, Dzat yang tak mungkin menzalimi hamba-Nya bahkan sebiji dzarrah sekalipun. Tinggal percaya saja pada aliran takdir yang ada. Allah is in control. Tenang saja. Nasib, kita, keluarga dan hal-hal yang kita sayangi ada di tangan-Nya. Kalaupun tampaknya seperti terlunta-lunta atau dikeringkan kehidupan dunianya, bisa jadi itu sebuah obat dari penyakit hati yang ada, yang dengan jalan difakirkan kita menjadi selamat di alam berikutnya. Oleh karena itu iman kepada qadha dan qadar ada dalam posisi terakhir dalam konstelasi rukum iman. Saking tidak mudahnya mengimani takdir keseharian, kita harus melampaui iman kepada Allah, Malaikat, Kitab-Kitab, Rasul-Rasul, dan Hari Akhir. Artinya untuk bisa berdamai dengan takdir Allah mau tidak mau harus memandang sesuatu dengan sudut pandang lain. Fokusnya di Hari Akhir, dimana alam barzakh adalah bagian yang tak terpisahkan darinya. Dengan kata lain, kematian mestinya menjadi sebuah dzikir yang menyadarkan kita bahwa hidup itu singkat, demikian pun segala penderitaan dan kesulitan yang ada berjangka waktu sebentar saja dibandingkan kehidupan di alam barzakh hingga menunggu kiamat qubra dan kehidupan di padang mahsyar dan akhirat. 

Maka, yang membuat kita sulit menerima kenyataan hidup dan pontang-panting menjalani ketetapan-Nya mesti karena iman kita yang luntur kepada-Nya. Sebagaimana yang diisyaratkan oleh Rasulullah SAW dalam hadits di atas, Sesungguhnya Allah tidaklah menakdirkan sesuatu untuk seorang mukmin melainkan pasti itulah yang terbaik untuknya."  - HR Ahmad. Inilah kualitas seorang mukmin, keteguhan imannya menjadikannya selalu melihat kebaikan di dalam bentuk takdir apapun.[]

Amsterdam, 8 Juli 2026

Rabu jam 11.11 pagi

Friday, July 3, 2026

Ikhtiar 'menyentuh' wajah-Nya

 "Aku menciptakan Muhammad pertama kali dari Cahaya Wajah-Ku"

- Hadits Qudsiy dalam Mukadimah kitab Sirrur al Asrar, Syaikh Abdul Qadir Jailani. 

Menurut Syaikh Abdul Qadir, makhluk pertama yang diciptakan Allah adalah ruh Muhammad SAW. Ia diciptakan dari pancaran keindahan Ilahi. 

Hadits lain riwayat Abu Daud mengatakan, 

"Yang pertama Allah ciptakan adalah ruhku (ruh Muhammad SAW). Dan yang pertama Allah ciptakan adalah cahayaku (Nur Muhammad SAW). Dan yang pertama Allah ciptakan adalah pena. Dan yang pertama Allah ciptakan adalah akal." 

Artinya ruh Muhammad, nur Muhammad, pena dan akal (aql) adalah satu entitas tunggal. Inilah yang disebut dengan Hakikat Muhammad. 

Bayangkan semesta ciptaan, termasuk milyaran (mungkin trilyunan) galaksi di luar sana yang megah ini dicipta dari satu bagian dari Cahaya Wajah-Nya! It's mind blowing even just to imagine. 

Kesadaran akan hal seperti ini membuat kita tidak terlalu tenggelam dalam hiruk pikuk kehidupan dunia. So we don't miss the big picture. Supaya kita tidak terseret-seret arus kehidupan yang akan berubah dari waktu ke waktu. 

Artinya takdir kehidupan kita itu amazing banget! Hanya kita saja yang sering tidak menyadari kemegahan karya agung Ilahiyah ini dan menjadi tidak bersyukur kepada-Nya. Manusia yang sebenarnya terlahir dengan fitrah untuk menghamba kepada-Nya menjadi kehilangan nilai kemanusiaannya ketika menjelma menjadi budak-budak hawa nafsu dan syahwatnya. Ia menjadi melupakan Allah. Padahal Dia sudah demikian rindu untuk dikenal kembali. 

Sadarilah bahwa di dalam setiap aliran takdir dari hari ke hari itu tersimpan surat cinta dari-Nya. Yang harus kita baca. Iqra bismirabbika ladzi khalaq. Membacanya dengan menyertakan Dia sang Rabb Yang Menciptakan kita. Yang paling tahu apa yang terbaik bagi dunia dan akhirat kita. Yang paling paham siapa diri kita. Yang paling mengerti apa ketakutan kita dan apa yang membuat kita sembuh. 

Kembalilah kepada-Nya...karena Dia selalu menanti.


Amsterdam, 3 Juli 2026 / 18 Muharram 1448 H jam 13.00 siang

Facing our reality, one day at a time

 The only reality is what is in front of you, at this moment. All else is an illusion.

Hidup itu sederhana sebenarnya, jalani apa yang ada di hadapan dari saat ke saat, apa adanya. Tanpa embel-embel label "kurang", "lebih", "telat", "terlalu dini atau prematur" dll. Karena yang sering membuat emosi muncul dan menggurita adalah ketika kita melabeli fenomena-fenomena tertentu apalagi kalau ditambah dengan dibubuhi kisah drama yang akhirnya menjadikan kita seorang "Drama Queen" ketika menjalani takdir kehidupan. 

Ketika seseorang - yang terutama kita kasihi - terlambat membalas pesan kita. Kemudian kita melabeli fenomena ini dengan "dia tidak peduli padaku" lalu ditambah bumbu cerita "jangan-jangan dia sedang sama yang lain" plus background soundtrack horror di belakangnya. Komplit sudah film drama yang membuat kita menderita. Padahal kenyataannya bisa jadi sama sekali tidak seperti yang kita bayangkan. Dan, kalaupun memang terjadi apa yang kita takutkan itu, sadarilah dengan membayang-bayangkan film drama tadi saja itu berarti kita sudah membiarkan urusan orang lain merampok waktu, tenaga dan perhatian kita yang mestinya difokuskan untuk ibadah dan beramal shalih. Rugi!

Memang tidak mudah mempersepsi kehidupan apa adanya. Otak kita sudah cenderung terbiasa melabel segala sesuatu dan kreatif mengolah kisah yang bukan realitas yang sebenarnya. Tapi kebiasaan tidak produktif ini bisa dilatih dengan pertolongan Allah. Kuncinya adalah banyak dzikir dan stay at your present moment. Lihat dunia dan kehidupan apa adanya, tanpa harus mengimbuhkan label. Kalau kita cek saldo di rekening ada uang dua ratus ribu, ya bilang sama diri sendiri, saya punya dua ratus ribu. Lalu katakan alhamdulillah sebagai bentuk syukur. Jangan lihat rekening dan jumlah uang dua ratu ribu lantas ketar-ketir lantas melabel situasi itu dengan "duh, gue miskin ya. " atau otak dramatisnya jalan dengan membayangkan "wah, bisa makan ngga ya sampai akhir bulan?" Padahal lho masih cukup ada makanan untuk hari ini. Ya hari ini. Karena kita kan melangkah hari demi hari. Masalah besok? Akan ada rezekinya tersendiri, lihat saja. Yang penting tawakal penuh sama Allah, rezeki mah dijamin! Sok lihat. Jangan kalah sama burung yang mengais rezekinya dari hari ke hari

"Jika kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya Dia akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Dia telah memberikan rezeki kepada burung yang berangkat di pagi hari dalam keadaan perut kosong dan kembali dalam keadaan perut kenyang."  Hadits dari Umar ra dalam HR Tirmidzi no. 2344

Amsterdam, memasuki musim panas, 3 Juli 2026 jam 10.35 pagi

Tuesday, June 30, 2026

Hidup yang Thayyib, bukan sekadar Hidup Baik

 "Barangsiapa beramal shalih, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia seorang mukmin, sungguh, Kami pasti akan berikan kepadanya kehidupan yang thayyibah..."  - QS An Nahl [16]:97

Yang kita cari itu sebenarnya hidup yang thayyib, sering diterjemahkan dengan "hidup yang baik". Tapi terjemahan "baik" kadang menciutkan makna apa adanya. Karena "thayyib" itu terkait dengan  "syajarah thayyibah"  yang Allah sebutkan dalam QS Ibrahim. Bahwa setiap kita harus tumbuh menjadi pohon yang berbuah baik di muka bumi ini. Jadi kebaikan sebuah kehidupan dan urusan itu terkait dengan apakah sesuatu itu bisa menunjang pertumbuhan pohon diri kita masing-masing? 

Oleh karena itu tidak semua hal yang baik di mata orang adalah baik juga buat kita. Tapi sesuatu yang thayyib buat diri pasti akan membawa kebaikan. Jadi carilah "hidup yang thayyib" yaitu kehidupan yang sesuai dengan tuntunan Allah Sang Pencipta kita. Bukan kebaikan kehidupan yang hawa nafsu dan waham kita inginkan dengan berpikir, oh hidupku akan baik kalau aku menikah dengan dia, bekerja di tempat itu, punya ini dan itu dan segala kondisi kehidupan yang kita anggap desain yang terbaik, tanpa pernah bertanya atau berkonsultasi bahkan mencari tahu apa desain yang terbaik bagi diri sendiri yang pengetahuan tentang itu hanya Allah yang tahu dan informasi awal dari pengetahuan itu sudah dikabarkan kepada sang jiwa kita jiwa kita semua berkumpul di Alam Alastu (Alam Persaksian) , seperti yang tertuang dalam QS Al A'raaf [7]: 172,

(Ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari tulang punggung anak cucu Adam, keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksiannya terhadap jiwa mereka sendiri (seraya berfirman), "Bukankah Aku ini Rabbmu?" Mereka menjawab, "Betul, Engkau (Rabb kami), kami bersaksi" (Kami melakukannya)  agar pada hari Kiamat kamu tidak mengatakan, "Sesungguhnya kami lengah terhadap hal ini."

Dengan kata lain, kehidupan yang thayyib adalah kehidupan yang cocok dengan natur jiwa masing-masing. Tak berlebih dan tak kurang. Semuanya dikadar sudah pas oleh Allah sebenarnya, kalau saja kita mau bersyukur dan merasa qanaah dengan apa yang ada. Kuncinya, sebagaimana di QS An Nahl di atas adalah iman dan amal shalih. Jihad kita adalah menjaga agar hati terus bersinar dengan cahaya imannya dengan tidak mensekutukan Allah dalam segala aspek kehidupan. Dengan nur iman itu, maka amal shalih akan mudah terbaca. Sesuatu yang Allah ingin kita lakukan atau respon dari saat ke saat. Apakah harus menerima tawaran yang ada atau menolaknya? Harus pergi sekarang atau 10 menit lagi? Harus pindah atau tetap tinggal di sana? Hingga ke hal keseharian, baju apa yang dipakai, menu apa yang dimasak, apakah harus membubuhkan garam lagi atau tidak? Hingga tak ada setiap aspek dan nafas dalam kehidupan kita yang tidak disertai oleh dzikir kepada Allah. Itulah cara mempertahankan cahaya dalam qalb, agar dia tidak pudar apalagi padam, na'uzdubillahimindzaalik.

Amsterdam, Selasa 30 Juni 2026 jam 15.14 Di perpustakaan Reigersbos, lepas management meeting KFC dan jelang menjemput Rumi untuk les biola. 

Wednesday, June 10, 2026

Indahnya hidup pas-pasan

 Ini renungan jujur memasuki usia 48 tahun.


Saya merasa lebih resah saat punya yang berlebih dibanding saat uang pas-pasan.


Karena saat berlebih hawa nafsu rasanya lebih bergelora dan seolah-olah kita bisa melakukan banyak hal atau membeli sesuatu yang membuat kita senang tapi apakah semua itu Allah ridhoi atau kita tergelincir menyenangkan syahwat dunia saja?


Sementara kalau uang pas-pasan jelas hawa nafsu tak berkutik, wong ngga ada pilihan. Ya makan yang itu saja dan ngga usah macam-macam ingin ini atau itu. Dan berdasarkan pengalaman, Allah sang Rabb selalu mengaturkan dengan sangat menakjubkan.


Jadi, bahagialah orang yang hidupnya pas-pasan. Pas butuh pas ada. Life is so simple. Semua sudah Allah aturkan☺️.


- Renungan di tengah simposium di Universitas Leiden, Rabu 10 Juni 2026

Tuesday, June 9, 2026

Ketika kita kehilangan sesuatu yang kita cintai

 The risk of love is loss, and the price of loss is grief—but the pain of grief is only a shadow when compared with the pain of never risking love." — Hilary Stanton Zunin

Bagian dari hidup adalah merasa segala sesuatunya. Bahagia-duka, tangis-tawa, kecewa-berpengharapan, loyo-semangat semua perasaan akan dipergantikan seiring dengan aliran takdir kehidupan kita masing-masing yang sudah didesain dengan sangat presisi oleh Sang Maha Pencipta. 

Dan kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahuinya selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya, tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam kitab yang nyata (Lauḥ Maḥfūẓ). QS 6:59

Jika sehelai daun atau sebutir biji saja Dia tahu ihwalmya, apalagi manusia dan segala warna kehidupan yang berkelindan di dalamnya. Artinya, seseorang datang dan pergi dengan izin-Nya. Seseorang melontarkan kata-kata pedas atau bersikap yang membuat kita tidak berkenan pun dengan izin-Nya. Tak ada satu pun sesuatu yang terjadi dan mewujud di alam ini yang tanpa ilmu dan kuasa-Nya. Artinya Dia senantiasa hadir. Hanya hijab hati kita yang menyelubungi dari dari meeadakan kehadiran-Nya hingga akhirnya kita hanya tertawan dengan fenomenanya saja sambil alih-alih sibuk memanggil-Nya, kita malah menghabiskan terlalu banyak waktu untuk mencoba melogikakan semua kejadian yang ada sambil menjustifikasi luapan emosi sesaat diri sendiri.

Kita lupa bahwa kita Bani Adam. Nama “Adam” berarti “tidak afa”. Awalnya kita tidak ada, saking tidak adanya sampai disebut sebagai “entitas yang tak bernama”, saking ngga adanya sampai tak bisa dinamai. Kemudian Allah Ta’ala meminjamkan kita bentuk-bentuk wujud secara bertingkat dari Alam Jabarut, Alam Malalut dan Alam Mulk, hingga kita mewujud menjadi manusia yanh memiliki ruh, jiwa dan raga. 

Kita luoa bahwa kita lahir telanjang ke bumi ini dan tidak membawa apa-apa. Modal cahaya fitrah yang ada sejak lahir pun memudar bahkan sebagian besar manusia hatinya gelap gulita, tanpa cahaya, na’udzibillahimindzallik. Konsekuensi dari gelapnya hati adalah dia menjadi diperbudak oleh hawa nafsunya. Karakternya berubah dan orientasi hidupnya hanya untuk memuaskan sang tuan dalam dirinya, yaitu egonya sendiri. Ini adalah penyebab penderitaan hidup, karena karakter hawa nafsu adalah tinggi “aku”-nya. Seperti gurita berlengan ratusan ia akan meraih apa-apa yang dirinya sukai dan mengklaimnya dengan mengatakan “pekerjaanku, milikku, hidupku, kekasihku, anakku, mimpiku…aku..aku..gue…” 

Mencintai sesuatu adalah bagian dari kehidupan. So, its okay. Allah pun mafhum. Hanya kuncinya jangan terlalu berlebihan mencintainya. Karena semua selain wajah-Nya akan hilang, pergi, mati, binasa, berubah dll. Dan kalau kita clingy, terlalu menggenggam erat-erat apa-apa yang dipinjamkan sesaat lepada kita itu, maka itulah sumber penderitaan kita. 

Jadi sebenarnya secara esensial, bukan takdir kehidupan yang jahat dan kejam lalu menyakiti kita, takdir itu nettal, dia berjalan apa adanya sesuai dengan tulisan skenario Sang Pencipta, tapi ketika respon diri terhadap takdir tertentu dirasa berat, mesti ada sebuah kemelekatan tertentu di dalam hatu yang membuat kita merasa tergerinda ketika menjalaninya.

So what should i do?

Surrender. Berserah diri pada ketetapan-Nya. Hidup dan semuanya adalah milikNya.

“Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun”

Kita milik Allah dan akan kembali kepada-Nya.

Let life be. And work with God’s flow. 

Dan saksikan bagaimana sang waktu wfektif membasuh kemelekatan itu hari demi hari. Just take it one step at a time. One day at a time.

At some point you will feel such relief. That you are being freed from the slavery of creation to return (tauba) to Allah.

Laa ilaha ilallah…


On a train ride to Leiden, menghadiri sidang defense Mas Nur Ahmad, 9 Juni 2026 jam 10.27 pagi di musim semi yang cerah

Friday, June 5, 2026

Choose to be happy, no matter what!

 Choosing joy ia a daily, resilient practice. It means choosing to find contentment and gratitude, even when your circumstances aren’t perfect.

But remember that joy does not require a perfect life. It simply asks us to notice the small blessings woven into each day.

***

Kita harus melatih diri untuk mensyukuri setiap aspek kehidupan untuk pada akhirnya diberi hati yang bersyukur. Terutama berjuang menerima saja dulu hal-hal yang kita masih berat bahkan sakit untuk menjalaninya. Penerimaan dan tidak meronta-ronta itu sendiri sudah sebuah langkah besar untuk bisa bersyukur. Karena kalaupun ngga nrimo, masalahnya takdir yang itu juga yang tetap harus kita jalani. Lebih baik cari cara bagaimana agar menjalaninya dengan less painful. Caranya dengan banyak-banyak dzikir. Karena sudah dijamin Allah,

Hanya dengan mengingat Allah (dzikrullah) hati menjadi tenteram

QS Ar Ra'd:28

Hati kita itu sepatutnya menjadi tempat tajali Allah. Tidak ada yang bisa memenuhi hati kita kecuali Dia Taála. Apapun obyek-obyek ciptaan yang coba kita jejalkan di dalamnya tidak akan pernah bisa memenuhi hati seorang manusia. Hanya Allah yang bisa.

Tidak memuat-Ku lelangit-Ku dan bumi-Ku, kecuali qalb hamba-Ku yang mukmin.

- Hadits Qudsiy

Dengan dzikir, seseorang berupaya menyambungkan dirinya dengan Allah. Agar koneksi itu terjalin. Dan Dia senantiasa hadir setiap kita mengingat-Nya dalam sepi maupun ramai, dalam kesenangan maupun kesedihan. Kehadirannya itu yang membuat hati lapang, damai, , tenteram, happy. Joy is another inevitable consequence of the Divine presence. Itulah yang dimaksud dengan hati yang bersyukur. Walaupun badai kehidupan masih menggila dan mengelilingi kita, tapi hati dibuat tenang menghadapinya, karena Allah menyertai kita. []

Amsterdam, Jumát 5 Juni 2026, jelang BHV training, 10.14 pagi


Tuesday, June 2, 2026

Takdir hidup itu menyembuhkan

 "Pena telah diangkat dan lembaran telah kering"

- Rasulullah SAW

Kemunginan-kemungkinan takdir hidup kita telah tertuliskan. Adapun kita mengalir ke arah takdir yang mana itu tergantung kondisi hati kita. Maka sebuah penyakit hati bisa mengakibatkan kita mengalir ke sebuah takdir tertentu yang bisa jadi menyakitkan ketika melampauinya, tapi bagaimanapun itu takdir itu bersifat mensucikan. Ada obat di semua penggal takdir yang kita jalani. Setiap penggalnya, karena Allah tidak menciptakan sesuatu sia-sia. Tidak pernah!

Maka, wajar kalau Ali r.a. pernah berkata bahwa jika kita melihat ada keburukan di orang lain, cabutlah dari hati kita. Sekilas pernyataan itu membuat kita bingung. Lha wong yang melakukan keburukan orang lain, kok mencabutnya dari dalam hati kita sendiri? Itulah rahasia besar kehidupan. Kesadaran bahwa semesta sekeliling kita adalah sebuah cermin canggih ini merupakan salah satu ilmu tertinggi dalam hidup. Beruntunglah orang-orang yang Allah beri kesadaran tentang itu. Dengannya, ia melihat sekitarnya dengan sebuah ketundukan dan ketakziman, sadar bahwa apapun yang mewujud tak lain adalah pancaran dari kondisi hati kita dari saat ke saat.

Inilah jalan pertaubatan, kembali kepada Allah. Kembali mengingat bahwa segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Jika kita paham ini, akan lebih ringan dalam menjalani hidup. Ringan itu adanya di hati, sebuah ketenangan walaupun di tengah badai kehidupan sekalipun. Dengan keyakinan bahwa Allah tidak akan menzalimi hamba-Nya bahkan sebesar dzarrah sekalipun. Tidak mungkin. Jadi jalani kehidupan dengan tersenyum, syukuri apa yang ada dan terus berpengharapan kepada-Nya serta sabar dalam menanti ketetapan-Nya. This to shall pass...

Amsterdam, 2 Juni 2027

Musim semi yang mendung dan hujan, jam 11.09

Yang sedang-sedang saja


Selama 11 tahun saya diperjalankan oleh Allah untuk bekerja di Multinational companies. Perusahaan-perusahaan dengan cabang di berbagai negara. Posisi di level managerial memberi saya akses untuk menghadiri pertemuan regional atau sekadar hadir di quarterly meeting dengan boss dari head office. Pernah suatu kali ada boss yang terkenal galak datang ke Indonesia, saya ditugaskan untuk menjemput beliau dari hotel untuk pergi bersama ke tempat meeting dengan menempuh perjalanan sekitar satu jam. BIasanya saya ajak dia ngobrol hal-hal yang ringan dan melempar beberapa candaan sepanjang perjalanan. Kabarnya mood si boss itu baik setelah itu. Maka di kunjungan berikutnya saya ditugaskan lagi untuk menjemput dia dan menemani dia lagi di jalan, and yes saya sudah siapkan kisah-kisah lucu yang bisa dibincangkan selama mengisi waktu di perjalanan. Kali ini saya diundang ikut ke dalam rapat para senior managers dan directors. I wasn't supposed to be there. But there i was.

Saya perhatikan dengan seksama bagaimana meeting itu berjalan, setiap diskusi dan dinamika. Kemudian, ada hal yang menggelitik saya ketika si boss besar menekankan pada "two digit growth"sambil memperlihatkan pie chart. Dia bicara dengan berapi-api bernada "yes we can!". Semua diam, ada yang mengangguk-angguk. Lalu entah angin apa, tiba-tiba saya mengangkat tangan di tengah presentasi dia. Biasanya tidak ada yang berani menginterupsi dia. Si boss besar yang galak ini. Tapi kali itu dia memberikan saya kesempatan untuk berbicara. Rupanya itu kesempatan bicara saya yang pertama dan terakhir. Haha...mungkin pertanyaan saya dianggap aneh dan nyeleneh.

Saya mempertanyakan fokus perusahaan pada "double digit growth", memangnya sampai kapan? Kan 'kue-nya'segitu-gitu aja, market growth tidak sampai double digit. Kan tidak masuk akal untuk terus mempertahankan double digit growth setiap tahun, kecuali dengan mengakuisisi perusahaan lain.

Corporate world, sebatas yang saya perhatikan, terlalu menekankan pada profit, bottom line, EBITDA. Kalaupun sesekali bicara tentang Employee Well Being, itu dikaitkan dengan skema bonus atau family gathering tahunan untuk menghibur. Jarang didiskusikan tentang apakah seseorang pas di posisinya, apakah dia happy, apa yang bisa perusahaan lakukan untuk mencuatkan talenta seseorang. Kalaupun ada serangkaian training yang diberikan fokusnya lagi-lagi untuk mendongkrak sales. And yes, i get it. Perusahaan tanpa profit akan gulung tikar. The music will stop. Tapi fokus yang terlalu banyak pada duit akan membuat kultur penjajahan terselubung. It's a modern verse of human slavery. Bedanya perbudakan zaman sekarang tidak pakai rantai besi dan cambuk. Tapi orang dibuat takut kehilangan pekerjaan mereka dan diikat dengan "kontrak kerja"dan sekian banyak tuntutan kerja yang kadang tidak manusiawi.

Sad but true. I have been witnessing this for long time. Ketika kita diperbudak oleh pekerjaan kita sendiri. Bayangkan, seorang pekerja menghabiskan waktu hampir 10 jam sehari untuk bekerja, kalau ditambah waktu commuting rumah-kantor. Dikurangi waktu tidur dll untuk pribadi yang sekitar 8 jam, dia masih punya waktu sekitar 6 jam untuk keluarganya. Itulah waktu yang tersisa untuk berinteraksi dengan keluarga, dengan catatan dia tidak membawa pekerjaan ke rumah. The point is, waktu yang seseorang habiskan di pekerjaan itu benar-benar menyita nafas-nafas hidupnya. Sayang kalau orientasinya hanya sekadar untuk duit atau pangkat dan berbagai fasilitas duniawi lainnya. Sementara kesempatan hidup di dunia singkat. And yes, we are all replaceable in the corporate world. Perusahaan akan terus berjalan tanpa kita. So make sure we set our priority right.

Jadi gimana, apakah kemudian mesti berhenti kerja? Oh bukan ke sana maksudnya. Justru bekerjalah dengan produktif dan berprestasi. Tapi jadikan pekerjaan kita jadi ladang amal shalih agar waktu-waktu yang kita habiskan itu menjadi bekal akhirat kita. gaar sesuatu itu jadi amal shalih, kita harus sering-sering melibatkan Allah dalam apapun yang kita lakukan dan tegakkan shalat sebagai pilar. Jadikan shalat sebagai kesempatan untuk meraup cahaya dan kekuatan jiwa yang dibutuhkan untuk menjalani kehidupan di antara waktu shalat. Karena itu adalah saat kita beraudiensi dengan Allah Taála, Tuhan Semesta Alam. Semakin khusyu kita shalat, semakin kuat pancaran cahaya dan berkat yang akan diturunkan melalui kehadiran kita di alam mulkiyah ini. Maka jangan jadikan shalat sebagai "interupsi"semata. Malah indah kalau pekerjaan kantor dihentikan sesaat untuk shalat berjamaah - jika memungkinkan. Dan alangkah eloknya jika perusahaan menyediakan ruang shalat yang nyaman. Pasti Allah akan berkati perusahaan itu.

Allah mengutus kita ke dunia ini untuk memakmurkannya. So yes, give your best ar work, tapi fokusnya bukan dunia, tapi akhirat. Karena kalau fokus kita akhirat, dunia otomatis terlampaui. Sebaliknya kalau fokus kita hanya dunia, akhirat kita lepas. Nanti kita akan kerepotan menghadapi alam barzakh setelah jasad ini purna tugas.

Islam adalah agama pertengahan. Kita diajarkan untuk tidak mencampakkan dunia tapi pun agar tidak tenggelam di dalamnya. Kita boleh mencintai apapun di sini tapi ingat, ini negeri sementara. Jangan terlalu berlebihan mencintainya. Mengutip lagu dangdut dari Vetty Fera, "Hidup ini jangan serba ter~la~lu. yang sedang-sedang saja. Karena semua yang serba terlalu. bikin sakit kepala"

Amsterdam, 2 Juni 2026 / 16 Dzulhijjah 1447
jam 9.05 pagi, saat Rumi ogah sekolah :)

Monday, June 1, 2026

Ketika Dia mengizinkan nama-Nya disebut

 Saya yakin tidaklah seseorang diberi izin mengucapkan "Allah", "Bismillah", "Astaghfirullah", "Alhamdulillah" dengan sebuah ketakziman tertentu melainkan ada sebuah kebaikan tertentu di dalam diri orang itu yang Allah Maha Mengetahui. Terlepas apa agama orang itu. Tak memandang apakah dia shalat atau tidak. Tapi dalam kehidupan sehari-hari saya suka memperhatikan ada saat-saat dimana orang-orang yang tampaknya "tidak religius" toh diizinkan oleh Allah untuk sekadar mengucapkan nama-Nya yang sakral itu.

Terkait hal itu, ada kejadian yang menarik di tempat kerja saya. Suatu hari seorang inspektur restoran independen datang dan melakukan inspeksi mendadak yang biasanya dilakukan setiap tiga bulan. Di Belanda masalah food safety dan kebersihan makanan sangat diperhatikan serius. Restoran yang tidak lulus inspeksi pertama kali harus dilakukan inspeksi kedua. Kalau tidak lulus juga, dia harus menutup restorannya setengah hari untuk memperbaiki kekurangannya. Lalu kalau tidak lulus ujiannya berikutnya dia harus tutup restoran selama beberapa hari hingga konsekuensi kehilangan izin usaha. Jadi kalau inspektur datang kita semua - bagian manajemen pasti tegang. Seperti yang terjadi beberapa hari yang lalu.
Ceritanya saat sang inspektur datang, semua hal seperti biasa sudah dicek. Tapi toh ada yang kebobolan juga dan satu poin itu sialnya termasuk critical point. Pucatlah wajah manajer restoran yang sedang on duty saat itu, dia adalah senior saya. Seorang ibu paruh baya dari Sri Lanka. Dengan mata berkaca-kaca dia menghampiri saya dan berkata, "Tessa, i missed that one thing, i thought i have checked..." katanya pilu. Karena sudah pasrah kalau memang hasilnya tidak lulus maka dia harus tanggung jawab sebagai manager senior. Saya mencoba menenangkan dia, "Jangan khawatir, kita sudah berusaha yang terbaik. Sekarang tinggal berdoa kepada Tuhan" Saya tahu dia orang yang suka pergi ke temple untuk melakukan persembahan kepada tuhannya.
Sambil menunggu hasil evaluasi keluar dalam beberapa menit ke depan, dia tampak kalut dan gelisah. Lalu ia mendatangi saya lagi dan berkata, "Tessa doa ya. Dan kalau kita lulus mari kita berdoa dengan menyebut Allah, Tuhanmu" Saya mengangguk dan tersenyum sambil terus berusaha menenangkan dia.
Akhirnya, keputusan evaluasi keluar. Kami berdua, sebagai manager on duty dipanggil oleh evaluator ke dalam kantor. Dan alhamdulillah hasilnya lulus! Ternyata 'kesalahan'itu masih bisa ditolerir dengan argumen yang tepat. Kolega saya langsung pecah tangisannya sambil memeluk saya. We're happy. And yes we did our powwow dance. Setelah sang inspektur pamitan. Kolega saya lalu mengajak saya ke atas, ke ruangan yang biasa digunakan untuk shalat, untuk menunaikan janjinya - berdoa dengan menyebut nama Allah - Saya pun gelar sejadah, bersimpuh ke arah kiblat sambil menengadahkan kedua tangan ke langit dan memimpin doa dengan disertai dzikir menyebut nama-Nya. Kolega saya mengikuti, sampai ikut sujud syukur pula. Sesuatu hal yang menakjubkan. Membimbing dia melakukan sujud syukur dan menyebut nama-Nya. Dan itu atas keinginan dia sendiri.
Kadang memang Allah membuat sebuah turbulens tertentu dalam hidup yang membuat orang membuat lonjakan spiritual yang tak terbayangkan sebelumnya. Masya Allah.