Rasulullah SAW bersabda,
"Aku takjub pada seorang mukmin. Sesungguhnya Allah tidaklah menakdirkan sesuatu untuk seorang mukmin melainkan pasti itulah yang terbaik untuknya." - HR Ahmad
Secara ilmu kita tahu bahwa tidaklah Allah menetapkan sesuatu kecuali ada kebaikan yang banyak di dalamnya. Bahkan dalam takdir yang bagi sebagian besar manusia dipandang buruk sekalipun. Karena pengetahuan manusia sungguh sangat terbatas. Hal ini sudah dinyatakan dalam QS Al Baqarah:216
Diwajibkan (kutiba) atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.
Allah Ta'ala menggunakan kata "kutiba" yang secara harfiah sudah dituliskan. Sebagaimana takdir hidup kita semua kemungkinan yang akan terjadi sudah dituliskan. Manusia hanya bergerak dari kemungkinan takdir yang satu ke kemungkinan takdir yang lain yang sudah ditetapkan.
Iman kita mestinya membuat kita tenang mengetahui bahwa segala sesuatu sudah dituliskan. Kan yang menulisnya Yang Maha Pengasih dan Penyayang, Dzat yang tak mungkin menzalimi hamba-Nya bahkan sebiji dzarrah sekalipun. Tinggal percaya saja pada aliran takdir yang ada. Allah is in control. Tenang saja. Nasib, kita, keluarga dan hal-hal yang kita sayangi ada di tangan-Nya. Kalaupun tampaknya seperti terlunta-lunta atau dikeringkan kehidupan dunianya, bisa jadi itu sebuah obat dari penyakit hati yang ada, yang dengan jalan difakirkan kita menjadi selamat di alam berikutnya. Oleh karena itu iman kepada qadha dan qadar ada dalam posisi terakhir dalam konstelasi rukum iman. Saking tidak mudahnya mengimani takdir keseharian, kita harus melampaui iman kepada Allah, Malaikat, Kitab-Kitab, Rasul-Rasul, dan Hari Akhir. Artinya untuk bisa berdamai dengan takdir Allah mau tidak mau harus memandang sesuatu dengan sudut pandang lain. Fokusnya di Hari Akhir, dimana alam barzakh adalah bagian yang tak terpisahkan darinya. Dengan kata lain, kematian mestinya menjadi sebuah dzikir yang menyadarkan kita bahwa hidup itu singkat, demikian pun segala penderitaan dan kesulitan yang ada berjangka waktu sebentar saja dibandingkan kehidupan di alam barzakh hingga menunggu kiamat qubra dan kehidupan di padang mahsyar dan akhirat.
Maka, yang membuat kita sulit menerima kenyataan hidup dan pontang-panting menjalani ketetapan-Nya mesti karena iman kita yang luntur kepada-Nya. Sebagaimana yang diisyaratkan oleh Rasulullah SAW dalam hadits di atas, Sesungguhnya Allah tidaklah menakdirkan sesuatu untuk seorang mukmin melainkan pasti itulah yang terbaik untuknya." - HR Ahmad. Inilah kualitas seorang mukmin, keteguhan imannya menjadikannya selalu melihat kebaikan di dalam bentuk takdir apapun.[]
Amsterdam, 8 Juli 2026
Rabu jam 11.11 pagi
No comments:
Post a Comment