Pastikan setiap langkah dibersamai Allah.
Setiap pilihan, dipilihkan Allah.
Melakukan sesuatu karena Allah.
Mengerjakan sesuatu sebab mengharap ridho-Nya.
Pokoknya setiap nafas usahakan betul merasakan kehadiran-Nya. Masalahnya Dia memang selalu hadir. Satu Yang Paling setia.
Kitanya saja yang teralihkan perhatiannya kesana kemari sehingga Dia seolah tak ada.
Segala sesuatu yang dikerjakan lillahi ta’ala tak akan rugi. Kalaupun seakan ngga ada uangnya, tapi ganjaran yang kita garapkan adalah lebih berharga dari sekadar imbalan yang bersifat materi.
Walaupun tampaknya ‘gagal’ atau ‘kurang keren’ sekalipun di mata orang banyak, tapi kalau sesuatu itu dari Allah dan itu adalah yang Dia kehendaki maka itulah rezeki terbesar kita. Para pemuda dalam kisah Ashabul Kahfi paham betul tentang prinsip ini. Dalam usianya yang masih belia, kalau dalam bahasa kita sekarang, karir lagi menanjak dan dan dunia serasa ditundukkan, mereka malah menyepi untuk mencari amr Allah. Urusan spesifik yang Allah kehendaki untuk diri masing-masing. Karena apa gunanya diit banyak tapi Allah tidak senyum sama kita? Apa bahagia seakan memiliki segala tapi hati jauh dari Allah?
“Masa bermain sudah usai” sindir Jalaluddin Rumi. Ayo dong mikirnya jauh, ke akhirat. Jangan tenggelam dalam permainan dunia material yang melalaikan. Bukan berarti kita meninggalkan dunia. Justru seorang mukmin adalah yang piawai dalam memanage dunianya tapi kekuatan dunia itu tak dia biarkan mencengkeram hatinya. Karena qalb itu hanya untuk Allah.
Renungan saat sarapan pagi di bandara jelang keberangkatan ke London, Senin 27 Juli 2026 jam 8.38 pagi
No comments:
Post a Comment