Friday, May 29, 2026

Merenungkan sebuah 'pengorbanan'

 Hari raya Idul Adha baru berlalu. Sebuah hari raya yang ditandai dengan pengorbanan (Adha).

Kalau saya pikir-pikir, ini menarik, kata pengorbanan itu terkait dengan memberikan sesuatu yang kita cintai, yang biasanya diklaim menjadi milik kita. Dalam kasus Ibrahim as, beliau diminta Allah untuk mengorbankan putra kesayangannya, Ismail as. 

Mari kita merenung sejenak. Di titik itu, kalau kita ada dalam posisi Ibrahim as, orang tua yang harus mengorbankan anaknya sendiri, wah ngga kebayang sebenarnya. Tapi pastinya berat sekali. Karena tidak hanya kita harus melepas anak itu, tapi kita sendiri yang harus mengeksekusinya. Itu kan ujian yang berlapis. Masya Allah. 

Kembali ke kata "pengorbanan" yang sampai dijadikan Hari Raya Qurban. Menarik untuk menelisik bahwa sebenarnya kita, manusia yang tidak punya apa-apa dan pada awalnya bahkan sebuah entitas tak bernama - karena kita adalah Bani Adam - secara harfiah arti kata "Adam" adalah tidak ada. Jadi begini, kalau kita tidak ada dan tidak punya apa-apa maka sebenarnya ngga kaci ada istilah "pengorbanan "itu, karena bagaimana bisa yang tidak ada dan tak punya apa-apa bisa mengorbankan sesuatu lha wong dia ngga punya apa-apa? Tapi Allah itu memang luar biasa baik dan sangat memahami perasaan hamba-Nya, maka dia sematkan kata "pengorbanan"itu dan dijadikan salah satu hari raya besar. Saking mengapresiasi perjuangan Ibrahim as dan semua yang mengikuti milah Ibrahim as. 

Kalaupun kita bisa kurban kambing atau sapi tahun ini dan merasa berjuang untuk menabung untuk itu, ketahuilah 'pengorbanan' itu sebenarnya sesuatu yang Allah fasilitasi semua. Karena semua rezeki dan kemampuan pun dari Allah. Oleh karena itu Allah Taála berfirman dalam QS Al Hajj [22]:37

Dan (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang akan sampai kepada-Nya adlaah ketaqwaanmu...

Dan taqwa itu letaknya di qalb. Qalb adanya di dalam jiwa (nafs). Hanya jiwa yang telah hidup kembali dengan nur iman yang mulai menyala ketaqwaan dalam hatinya. Dan ini yang menjadi sasaran pandang Allah. Sebagaimana yang Rasulullah SAW sabdakan, 

"Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian." (HR Muslim) 

Amal yang datang dari qalb yang hidup dengan nur iman adalah amal shalih. Amal yang tertuntun, karena qalb sang mukmin sudah mampu mendapatkan petunjuk kembali dari Allah. 

Jadi, apapun bentuk 'pengorbanan' dan kegiatan kita di bumi, mau berumah tangga, bekerja, mengurus anak, wakaf masjid dan sekian banyak persembahan untuk Allah, sungguh Dia tidak melihat kuantitas dan nominal yang kita persembahkan. Dia hanya melihat hati kita. Maka sedekah sepuluh ribu rupiah tapi dengan hati yang ikhlas lillahi taála bisa melontarkan seseorang ke ketinggian ridho-Nya dibanding sedekah milyaran tapi sambil riya. Karena mau sepuluh ribu atau semilyar adalah uang Allah. Dia Sang Pemilik semuanya. Kita hanya dipinjami dan diuji dengan itu, apakah amanah atau tidak. 

Maka apapun yang kita persembahkan untuk Allah, pastikan itu datang dari lubuk hati yang terdalam. Ikhlas hanya untuk Dia. Sebuah ekspresi pemujaan dan kebersyukuran untuk Tuhan Yang Maha Baik. Bukan karena kita mampu, bukan karena kita merasa shalih, bukan karena kita merasa tinggi. Justru sebaliknya, kita persembahkan hidup dan mati kita untuk-Nya, Yang Memberi kehidupan yang indah ini. Sebagai sebuah upaya kebersyukuran kepada-Nya. Yang kita tidak akan pernah bisa mampu membayar semua anugerah-Nya, bahkan tak mampu untuk menghitung nikmat-Nya. 

"Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya..."(QS AN Nahl:18)


Amsterdam, 29 Mei 2026, sore hari jam 16.15 yang mendung dan berangin kencang di restaurant Ikea, menunggu Rumi les biola


Sunday, May 24, 2026

 RUMI & PUASA 18 JAM


“It’s sunnah Mama”

Ketika saya tanya mengapa mau puasa hari itu. Anak itu menjawab dengan tegas dan meyakinkan. Dengan keyakinan bahwa sunnah itu sesuatu keutamaan yang harus dikejar.


Padahal tantangannya tidak ringan untuk puasa di musim panas karena panjangnya waktu puasa dan panas yang bisa membuat badan sangat kepayahan. Tapi masya Allah, anak itu bangun untuk makan sahur, tahajjud dan diakhiri dengan shalat shubuh sebelum menyempatkan diri tidur singkat sebelum pergi ke sekolah.


Siang hari, Rumi datang dengan sempoyongan. “Panas mama” katanya tercekat, kehausan. Biasanya dia langsung lari membuka kulkas dan menjilat es buah kesukaannya. Tapi kali ini ia bergegas mengambil wudhu untuk shalat dhuhur lalu ngadem di kamarnya menikmati hembusan angin dari kipas angin yang dinyalakannya.


Memasuki waktu ashar yang jatuh pada hampir jam 6 sore, Rumi mulai berpikir apakah buka puasa di awal waktu saja dan mengambil keringanan? Apalagi Mama sudah menyiapkan Turkey Sandwich kesukaannya. Tapi dia mengambil langkah tak terduga, dengan memanggil kakaknya dan memberikan sandwich itu, yang kemudian disambut gembira oleh sang kakak. Rumi kembali ke kamar dengan lega dan berkata “Now i don’t have temptation to break my fast anymore” dan menguatkan dirinya untuk tetap melanjutkan puasa sampai maghrib.


And he did it…masya Allah. Ini adalah puasa terlama yang pernah dia lakukan. Dia berbuka dengan sebutir kurma dengan ekspresi kegembiraan yang tak bisa digambarkan dengan kata-kata. Semoga Allah mengganjar kegembiraan di hari akhir saat kau bertemu-Nya nak. 

Very proud of you❤️



Wednesday, May 20, 2026

People come and go

People come and go. We know this. Others visit just for a moment, and then they leave you with memories and lessons. Some are only meant to walk with you for a season, while others will stay for the long journey. All of them are valuable. No matter what happens, appreciate every soul you meet and every moment you have.

***

Orang-orang yang ada di sekitar kita datang dan pergi. 

Ada sahabat yang berjangka waktu tertentu, begitu pisah sekolah lantas menghilang.

Ada teman curhat yang asyik banget, begitu pindah kerja juga jarang nelepon.

Ada juga bahkan pasangan yang di awal waktu sangat hangat dan membuat dunia kita berbunga-bunga, kemudian di tahapan lain dalam hidup berubah dan kita bisa jadi orang asing satu sama lain. 

Yang namanya keluarga pun - walaupun kita diikat oleh hubungan darah - tetap saja ada batasnya. Masing-masing punya kesibukan sendiri. 

And it's okay. Itulah kehidupan. Semuanya berubah. Begitulah natur dunia ini. Semuanya fana. Semua akan berakhir. So, just go with the flow. Supaya kita tidak sakit berkepanjangan. 

Lantas, apa gunanya dong kalau pada akhirnya semua ini akan berakhir juga? Disinilah pentingnya belajar agama yang memberi panduan supaya kita tidak salah dalam menyikapi kehidupan dan bisa mulai memaknai setiap episode kehidupan yang Dia takdirkan. 

"....agar kamu tidak bersedih terhadap apa yang luput dari kamu dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu..."QS Al Hadiid: 23.


Amsterdam, 20 Mei 2026

Enduring the silent period...


Sunday, May 17, 2026

 Saya datang ke Belanda sepuluh tahun yang lalu dengan berbekal baju seadanya di dalam back pack dan uang 150 euro. Di awal-awal bulan saya lakukan apapun yang bisa saya kerjakan, sebagai buruh kasar, berkelana dari satu tempat sewaan ke tempat sewaan lain.

Hidup tidak mudah. Saya sudah terbiasa ditempa dalam keadaan yang orang kebanyakan pandang mungkin sebagai sesuatu yang '" "tidak ideal" atau bahkan tragis. Kedua orang tua saya tenggelam dalam kecanduan alkohol hingga pemerintah harus mengambil saya yang masih bayi untuk dibesarkan di panti asuhan.
Kehidupan di panti asuhan itu keras. Kami dididik untuk disiplin dan tidak cengeng. Makan apapun yang disuguhkan, kalau tidak mau dihukum. Harus mematuhi peraturan panti, tidur di jam yang ditentukan dan setiap anak akan bergantian melakukan piket, menyikat wc, tempat tidur, membersihkan kaca jendela dll. Tidak ada kesempatan untuk berdukaTidak ada ruang untuk curhat. Tidak ada kehangatan pelukan terutama di saat kita membutuhkannya.
Kami, "anak-anak panti" begitu julukan orang-orang di luar sana. Sudah terbiasa dengan kehidupan yang keras. Kadang itu pun membuat kami menjadi berwatak keras. Semata-mata karena survival mechanism yang terbentuk secara otomatis. Tapi saya mensyukuri kehidupan, walaupun praktis tidak pernah mengenal kedua orang tua saya. Mereka tidak pernah mencoba mengunjungi saya di panti asuhan. Sakit hati ini rasanya. Melebihi rasa sakit hati saya berpisah dari mereka sejak kecil dengan paksa. Karena ketika mereka kemudian memutuskan untuk tidak menjadi bagian dari hidup saya. But life goes on.
Saya mulai merasa kehangatan cinta ketika saya bertemu dengan lelaki yang saya cintai yang kemudian menjadi ayah dari kedua anak kami. Membina rumah tangga tidak mudah, apalagi kami datang dari dua belahan dunia dengan budaya yang jauh berbeda. But love conquers all. Saya percaya itu. Dan kami mulai membangun bahtera rumah tangga bersama. Bekerja keras siang dan malam untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Hingga akhirnya dua minggu yang lalu kami menandatangani akta jual beli rumah dan menempati tempat tinggal baru dengan modal pinjaman dari bank dan dicicil selama 30 tahun. Akhirnya anak-anak akan punya sendiri. And for the first time ever, i can call myself being "at home".
(Terinspirasi dari curhat seorang kolega di tempat kerja.)

Amsterdam, 17 Mei 2026
For AC, my dear matje who's the inspiration of this piece.

Friday, May 15, 2026

Agar hidup makin fokus

 Not every situation deserve your reaction.

Not every person deserve access to your energy.

The stronger your mind become, the more selective of what you allow into your life.

***

Makin bertambah usia kita, semakin fokus mestinya hidup kita untuk mengumpulkan bekal akhirat.
Kuncinya mensyukuri apa yang ada. Makanya mata pun dibuat rabun dekat, agar visi akhirat kita dibangun, jangan hanya sibuk dengan hal-hal yang bersifat duniawi saja sambil lalai mempersiapkan kehidupan di negeri akhirat yang pasti akan kita jelang.

Makanya semakin berusia, mestinya semakin kalem. Ngga grasa-grusu atau emosian serta reaktif seperti dulu. Semua kata-kata ditimbang batul-betul sebelum diluncurkan dari lisan. Setiap pilihan dimohonkan baik-baik kepada Allah Taála Yang Maha Tahu mana yang terbaik.

Tidak semua situasi dan berita dunia mesti direspon. Tidak semua ucapan dan sikap orang harus dikomentari apalagi hingga menguras banyak energi dan emosi kita. Semakin kuat akal seseorang, dia akan semakin selektif menggunakan waktu dan menyalurkan energinya.

So, be selective and keep calm.

Amsterdam, 15 Mei 2026 di musim semi yang hujan, berangin dan dingin
18.11 sore

Monday, May 11, 2026

Siapkan mental setiap pagi

 Otak manusia didesain menyenangi pola. Itulah pentingnya kita memiliki ritual setiap hari. Dan syariat agama melalui waktu-waktu shalat membuat kita keeps grounded. Jadi lebih membumi. Mengokohkan akar pohon diri kita. 

Di antara hal yang kita siapkan di pagi hari adalah sebuah kesadaran bahwa hari ini kita mungkin akan menghadapi masalah atau orang yang menyebalkan. Dan itu adalah bagian dari hidup. Maka Rasulullah SAW mengajarkan agar kita berlindung dari kesedihan, "Allahumma inni aúdzubika minal hammi wal hazan" tapi sadari bahwa ketika kita berlindung dari kesedihan bukan berarti hari itu kita tidak berhadapan dengan masalah atau perilaku yang membuat kita mengusap dada. Karena ujian adalah sesuatu yang melekat bagi orag-orang beriman. Maka bedakan, bahwa kita bisa berada di tengah badai kehidupan atau diperlakukan dengan tidak baik tapi hati bisa merasa tenang dan tidak dibuat sedih karenanya. Kok bisa? Ya bisalah, karena Allah yang menjaga hati kita. Apapun bisa ditundukkan bagi seorang hamba-Nya yang beriman. Seperti halnya Allah Taála berfirman kepada api agar ia menjadi dingin dan tidak mendatangkan kesakitan untuk hamba-Nya Ibrahim as. Jadi walaupun tubuhnya berada di tengah kobaran api yang membumbung tinggi yang membuat ngeri semua orang yang menyaksikannya, dia keluar dengan selamat tanpa luka sedikit pun.

Itulah kekuatan doa di pagi hari. Untuk mempersiapkan kita mengadapi api ujian kehidupan harian. Agar ia tidak membakar diri walaupun ganas kelihatannya. Agar kita tidak tertelan oleh ilusi dunia dan supaya tauhid kita makin kuat kepada Allah Taála. 


Amsterdam, Senin tenang, 11 Mei 2026 jam 10.06 pagi

Saturday, May 9, 2026

Ketika sesuatu menjadi ilah kita

 Suluk adalah sebuah perjalanan panjang untuk memurnikan tauhid kita. 

Laa ilaa ha ilallah

Agar tidak ada tuhan-tuhan (ilah-ilah) lain yang bercokol di dalam hati kita, selain Allah. 

Kapan sesuatu telah menjadi ilah kita?

Ketika sesuatu itu telah menguasai dan mencengkeram diri. Sedemikian rupa sehingga terbentuk kemelekatan kita terhadapnya. 

Mungkin kita tidak menyembah ilah yang berbentuk patung seperti Latta atau Uzza seperti zaman dulu. Mungkin kita juga merasa tidak musyrik dengan tidak memiliki jimat-jimat yang kita anggap mendatangkan kekuatan tertentu. 

Tapi ilah yang nongkrong di dalam hati kita berupa pekerjaan yang kita takut kalau sampai kehilangan. Merasa kalau tanpa pekerjaan itu bagaimana bisa menghidupi diri dan keluarga. 

Ilah lain bisa berwujud sebagai pasangan yang dicintai berlebihan. Sampai "i can't live without you". Dan manakala dia tidak membalas pesan, tidak ngirim kabar, berpaling ke lain hati atau meninggal dunia, rasanya dunia kiamat. It's another form of attachment. 

Ilah yang berwujud non fisik banyak, diantaranya ilah bernama "reputasi", "popularitas"dll, yang demikian disanjung-sanjung. Saking ingin terkenal dan banyak follower sampai rela melakukan apapun. Tapi dia lupa bahwa semua hal di dunia itu sementara. Ketenaran pun akan pudar pada saatnya. Dan saat itu dia mulai sesak nafas, sempit dadanya karena hal yang da rasa memberikan kehidupan baginya perlahan-lahan hilang ditelan zaman. 

Dengan demikian, seruan para nabi untuk membangun dan memperkuat tauhid itu sebenarnya seruan kepada jalan kebebasan dari belenggu dunia yang akan menarik kita ke lumpur kesengsaraan. Karena kebanyakan manusia terbelenggu oleh ilah-ilah lain yang bersifat sementara yang hanya masalah waktu mendatangkan penderitaan dan kesengsaraan. 

Tauhid therefore is the path to freedom. Bebas dari perbudakan selain Allah. Kita menjadi hamba-Nya, dan itu adalah hal terbaik dalam kehidupan, karena Allah Taála adalah Tuan yang sangat baik dan sangat memperhatikan hamba-Nya. Kalau kita mengimaninya...

Amsterdam, Sabtu 9 Mei 2026 jam 12.50 siang

Menanti waktu shalat dhuhur sambil menerjemahkan Complete Works of Josephus Flavius (1148 halaman)

Tak ada takdir buruk

 Syukuri kehidupan nak,

Tak ada yang namanya takdir buruk karena semua sudah diperhitungkan dengan matang dan dalam ilmu Allah Ta’ala.

Just believe…

(Dalam perjalanan ke mesjid Fatih, bersama Rumi)




Tuesday, May 5, 2026

Kenapa merasa kesepian?

 Being alone is not the same as being lonely.

***

Seorang kolega suatu hari tiba-tiba curhat, out of the blue. Saya sedang duduk di ruang crew untuk rehat sejenak ketika ibu satu anak ini datang berganti pakaian dan bersiap pulang. Entah kenapa sapaan saya yang bertanya "how's life?"dijawab dengan cerita yang panjang. Tentang perjuangannya datang ke Belanda dan harus menghabiskan sampai puluhan ribu euro (alias ratusan juta rupiah) untuk membayar jasa pihak ketiga yang membantu perizinannya namun ternyata orangnya menipu. Untung dia dibantu oleh sebuah lembaga dan pengacara pro bono, alisa dia tak harus keluar uang untuk menyelesaikan kasusnya. 

"Life is hard, Tessa. Sometimes at the end of the day, all i want is to talk to someone and share everything i feel or what i've experienced."

Dia tinggal di sebuah kamar sewa dengan anak gadisnya yang baru menginjak usia 18 tahun. Jadi dia tidak tinggal sendiri, tapi saya paham, tidak semua orang bisa diajak menjadi teman bicara. Bahkan pasangan kita sekalipun. 

Tidak sedikit orang yang mengalami hal yang mirip dengan kolega saya ini. Disergap oleh rasa sepi. Tapi saya ingin berbagi sesuatu yang merupakan sebuah pelajaran hidup dari pengalaman dan pengamatan kehidupan, bahwa kesepian adalah dikarenakan kita sebagai persona masih terpisah dengan jiwa. Akhirnya kita menjadi tidak menjiwai kehidupan. Bahwa memiliki seribu teman atau pasangan  tidak menjamin kita tidak merasa kesepian. Tidak sedikit kenyataannya orang merasa sepi di tengah orang banyak. Tidak jarang orang bahkan merasa kesepian di dalam rumah tangganya sendiri. 

Rasa sepi akan selalu muncul manakala kita selalu mengandalkan orang sekitar atau bahkan keadaan memuaskan diri kita alih-alih merasa cukup (qona'ah) dengan apa yang ada. Kuncinya adalah dengan mengenal jiwa. Dan itu tidak mungkin tanpa melalui syariat agama dan proses tazkiyatun nafs. Karena jiwa adalah entitas sakral di dalam diri. Selama kita belum mengenal jiwa, kita tidak akan mengenal apa aktivitas dan pekerjaan yang disukai oleh jiwa dan membuat kita merasa terpuaskan lahir batin. Akibatnya kita hanya akan terlunta-lunta dari satu fatamorgana ke fatamorgana lain yang kita kira sebagai oase kebahagiaan. Sebelum kehidupan kita menjejak ke mengenali tugas sakral (sacred duty) kita masing-masing, kita bagaikan masih terombang-ambing di samudera dunia dan membuat kita mabuk laut. Kaki kita belum berpijak di bumi diri yang sejati. Dan selama itu pula kita akan terserang oleh satu episode kesepian ke episode kesepian lainnya. 

Jadi, jangan cari solusi mengatasi kesepian dengan ngoyo ingin mendapatkan seseorang. That's not a guarantee. Malah bisa bikin makin runyam. Find yourself first. Kenali sumber kebahagiaan jiwamu. Baru kau akan merasakan air kehidupan yang menyegarkan yang menghilangkan sebuah dahaga kehidupan yang bernama kesepian. Insya Allah.

Amsterdam, 5 Mei 2026 

Tak Pernah Ada Kata Pensiun

 Ada fenomena menarik yang saya amati dari percakapan dengan salah seorang sahabat saya yang baru saja memasuki usia 55 tahun. Dia bilang beberapa rekannya di Indonesia, sudah mulai memasuki masa pensiun di usia yang sebenarnya tergolong masih produktif (bandingkan dengan usia pensiun di Belanda yaitu 67 tahun), bedanya 12 tahun bo! Lumayan kan? 

Apa yang terjadi kemudian? Beberapa dari rekannya itu sedang ngebut-ngebutnya berkarir, ide masih melimpah, inspirasi menggunung dan semangat masih kencang, tapi eh tiba-tiba disuruh lengser keprabon karena sistemnya memaksa demikian. Beberapa masih diberi kesempatan untuk memperpanjang masa kerjanya. Beberapa menjadi konsultan. Ada yang mulai menjalankan bisnis. Bahkan ada salah seorang eksekutif perusahaan besar yang biasa disupiri kemana-mana, rela menjadi pelayan. Kebayang kan? Biasa dilayani kemudian jadi pelayan. Tapi orang ternyata butuh beraktivitas dan mengkontribusikan sesuatu. Kebanyakan dari mereka yang pensiun kemudian 'bekerja' bukan butuh uang motif utamanya, karena biasanya tabungan sudah cukup dan dana pensiun memadai. Artinya, mau ongkang-ongkang kaki setiap hari juga bisa sebenarnya. Iya sepertinya asyik sebulan dua bulan bebas tak mesti kerja. Hingga kemudian mereka diterpa rasa bosan. "Ngapain lagi ya?" 

Karena sebagaimana burung dicipta untuk terbang, ikan untuk berenang, maka manusia dicipta untuk bekerja. Begitu kata Nabi Yaqub as. Sepertinya sebuah pernyataan yang simpel, tapi dalem banget kalau mau direnungkan. I mean, ya iyalah burung kan jago terbang karena diberi sepasang sayap dan tubuh yang tidak besar seperti gajah. Hanya dumbo - gajah dalam dunia Disney yang bisa terbang dengan mengepakkan kedua telinganya.  Dan ikan, jago banget berenang, bahkan bisa bernafas di dalam air, jadi ngga megap-megap atau panik macam kita yang baru belajar berenang. Artinya terbangnya seekor burung dan berenangnya seekor ikan terkait dengan desain tubuhnya masing-masing. Sesuatu yang Sang Pencipta sudah tetapkan. 

Kita? Apa desain diri kita? Punya sayap ngga. Insang apa lagi. Bisanya apa dong? 

Manusia, itu mulia karena akalnya. Itu yang mestinya diasah terus. Dan bukan hanya akal rasional. Tapi mestinya sampai menyala akal jiwanya yang menuntun dia menuju ketaatan dan bukan malah angkuh. Karena orang kalau hanya pinter tapi tak tertuntun dan diberkati malah pinter keblinger dan mendatangkan kerusakan di muka bumi. 

Kembali tentang pensiun. Sebenarnya setiap manusia dicipta dengan sebuah pekerjaan spesifik yang "gue banget". Yang di titik itu tidak ada orang lain yang bisa mengerjakan hal itu sebaik dirinya. "Kau tak akan terganti" mengutip lagunya Marcell Siahaan. Dan ketika orang sudah menemukan pekerjaan itu, sebenarnya tidak ada kata pensiun. Dibayar - ngga dibayar, dia akan terus mengerjakannya. Karena ganjarannya langsung dari Yang Mahakuasa. Tanda lain adalah dia akan sangat produktif di titik spesifik itu, karena inspirasi dan semangat juga kemudahan akan mengalir. Rezeki manna dan salwanya akan keluar. Dia akan terus produktif hingga nafas terakhir keluar dari raga sebagai kendaraan jiwanya di bumi tempat kita mesti berbekal banyak-banyak amal shalih ini. 

So, who are you? 

Apa bakat langitmu?

Apa yang Allah mudahkan buat dirimu? 

Do something about it, biar ngga nyesel nanti. []

Saturday, May 2, 2026

Saat kehilangan identitas diri

 "Dua hari yang sangat penting dalam hidupmu adalah saat kau dilahirkan dan saat kau paham mengapa (kau dilahirkan)."

 - Mark Twain

***

Ternyata tidak mudah menjadi diri sendiri. Menjadi versi original saat jiwa kita ditiupkan ke dalam kendaraan janin, ketika ia berusia 120 hari di dalam rahim ibunda. Seiring dengan pertumbuhan kita di alam dunia, semakin banyak bentukan baru dan tarikan semesta yang mengubah diri kita. 

Sadari bahwa tidak ada yang terlahir "kosong" ke muka bumi ini. Semua manusia terlahir membawa bakat jiwa masing-masing yang itu sangat cocok ditumbuhkan di takdir yang Allah sudah tetapkan dan disiapkan jauh hari bahkan sebelum semesta ini tercipta. Artinya desain kehidupan kita, orang tua, tanggal dan tempat lahir, tempat kita sekolah dan semua aliran kehidupan adalah tanah yang paling baik untuk pertumbuhan benih di dalam jiwa kita. Benih ini terkait dengan fitrah, yang Rasulullah SAW katakan bahwa "Setiap anak terlahir dengan fitrah" Dan fitrah itu seperti benih yang harus pecah kecambah (fatara) terbuka. potensinya di alam dunia ini.  Sebagaimana benih harus mengalami sekian tahapan sebelum ia pecah kecambah dan bertumbuh, kita pun mengalami pergantian episode "siang dan malam"dalam kehidupan. Kadang ada masa bahagia, kadang ada masa berduka. Ada masanya berkumpul, dan ada saatnya berpisah. Ada saat sedang semangat, ada kalanya tak bisa bergerak, bagaikan perahu layar yang kehilangan angin. 

Tapi coba perhatikan bahwa ujian bagi setiap orang itu spesfik dan berbeda-beda walaupun nampaknya sama. Semua itu yang membentuk kita hingga menjadi kita yang sekarang ada. Mestinya semua takdir itu mulai dibaca dan direnungkan, agar kita semakin bisa membaca diri "Aku ini siapa?". Apa yang dimudahkan? Apa yang dicegah? Apa yang disenangi? Apa yang memberi energi? Apa yang membuat hati bernyanyi? Apa yang membuat lelah? Dsb. Dalam QS Al Ahqaf [46]:15, dalam doa memasuki usia 40 tahun hidup, ia meminta amal shalih yang diridhoi. Kenapa 40 tahun? Itu adalah empat masa pembentukan bumi diri. Semua hal sudah Allah Taála hamparkan di sana. Seperti keping-keping puzzle yang berserakan dan mesti ditata untuk bisa dipahami apa pesan yang ada disana. Itulah informasi tentang jati diri kita. 

Artinya memasuki usia 40 tahunan seseorang sudah harus lebih fokus ke bidang dan kegiatan yang "dia banget". Hal-hal yang mengalir dari khazanah jiwanya. Yang hanya di titik itu dia bisa menemukan hal yang terbaik yang telah Allah siapkan sejak zaman ajali. Di jalan itulah shiraathal mustaqiimnya, sebuah jalan yang kaya dengan amal shalih - yang menjadi bekal dunia akhirat. Orang yang menapaki jalan itu adalah mereka yang sudah menemukan tugas spesifik hidup yang Allah amanahkan kepadanya. Di situ dia kokoh. Tak mudah terombang-ambing dengan gejolak kehidupan atau tawaran yang tampaknya menggiurkan tetapi sesuatu yang menjauhkan dia dari jalan kesejatian diri. 

Itu kenapa kita diajarkan untuk meminta "shiraathal mustaqiim", itulah jalan kita menjadi diri sendiri. Yang setiap orang adalah nomor satu dan tak terkalahkan di koordinat itu, karena setiap manusia memiliki "kursiy"dan walayahnya masing-masing yang tak akan bisa diambil orang lain, sebab desain setiap orang berbeda-beda dan khusus dicipta untuk tugas yang sangat presisi. 

Sadari, kadang ketika Allah menjauhkan kita dari dunia dan teman-teman dan dibuat sendiri. Itulah saat ketika kita tengah dikembalikan kepada diri sendiri. Karena kita cenderung memikirkan apa kata orang atau tercelup dengan pengaruh orang sekitar dan dunia. Kita takut untuk sekedar menjadi diri sendiri, apa adanya. Well, now is the time to get back to our own "self". Karena hanya dengan menjadi diri sendiri kita merasa penuh (whole) dan makin berbahagia tanpa harus tergantung dengan sebab-sebab luar. []


Amsterdam, 2 Mei 2026, sore hari yang cerah dan panas di musim semi