Saya datang ke Belanda sepuluh tahun yang lalu dengan berbekal baju seadanya di dalam back pack dan uang 150 euro. Di awal-awal bulan saya lakukan apapun yang bisa saya kerjakan, sebagai buruh kasar, berkelana dari satu tempat sewaan ke tempat sewaan lain.
Hidup tidak mudah. Saya sudah terbiasa ditempa dalam keadaan yang orang kebanyakan pandang mungkin sebagai sesuatu yang '" "tidak ideal" atau bahkan tragis. Kedua orang tua saya tenggelam dalam kecanduan alkohol hingga pemerintah harus mengambil saya yang masih bayi untuk dibesarkan di panti asuhan.
Kehidupan di panti asuhan itu keras. Kami dididik untuk disiplin dan tidak cengeng. Makan apapun yang disuguhkan, kalau tidak mau dihukum. Harus mematuhi peraturan panti, tidur di jam yang ditentukan dan setiap anak akan bergantian melakukan piket, menyikat wc, tempat tidur, membersihkan kaca jendela dll. Tidak ada kesempatan untuk berdukaTidak ada ruang untuk curhat. Tidak ada kehangatan pelukan terutama di saat kita membutuhkannya.
Kami, "anak-anak panti" begitu julukan orang-orang di luar sana. Sudah terbiasa dengan kehidupan yang keras. Kadang itu pun membuat kami menjadi berwatak keras. Semata-mata karena survival mechanism yang terbentuk secara otomatis. Tapi saya mensyukuri kehidupan, walaupun praktis tidak pernah mengenal kedua orang tua saya. Mereka tidak pernah mencoba mengunjungi saya di panti asuhan. Sakit hati ini rasanya. Melebihi rasa sakit hati saya berpisah dari mereka sejak kecil dengan paksa. Karena ketika mereka kemudian memutuskan untuk tidak menjadi bagian dari hidup saya. But life goes on.
Saya mulai merasa kehangatan cinta ketika saya bertemu dengan lelaki yang saya cintai yang kemudian menjadi ayah dari kedua anak kami. Membina rumah tangga tidak mudah, apalagi kami datang dari dua belahan dunia dengan budaya yang jauh berbeda. But love conquers all. Saya percaya itu. Dan kami mulai membangun bahtera rumah tangga bersama. Bekerja keras siang dan malam untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Hingga akhirnya dua minggu yang lalu kami menandatangani akta jual beli rumah dan menempati tempat tinggal baru dengan modal pinjaman dari bank dan dicicil selama 30 tahun. Akhirnya anak-anak akan punya sendiri. And for the first time ever, i can call myself being "at home".
(Terinspirasi dari curhat seorang kolega di tempat kerja.)
Amsterdam, 17 Mei 2026
For AC, my dear matje who's the inspiration of this piece.
No comments:
Post a Comment