Being alone is not the same as being lonely.
***
Seorang kolega suatu hari tiba-tiba curhat, out of the blue. Saya sedang duduk di ruang crew untuk rehat sejenak ketika ibu satu anak ini datang berganti pakaian dan bersiap pulang. Entah kenapa sapaan saya yang bertanya "how's life?"dijawab dengan cerita yang panjang. Tentang perjuangannya datang ke Belanda dan harus menghabiskan sampai puluhan ribu euro (alias ratusan juta rupiah) untuk membayar jasa pihak ketiga yang membantu perizinannya namun ternyata orangnya menipu. Untung dia dibantu oleh sebuah lembaga dan pengacara pro bono, alisa dia tak harus keluar uang untuk menyelesaikan kasusnya.
"Life is hard, Tessa. Sometimes at the end of the day, all i want is to talk to someone and share everything i feel or what i've experienced."
Dia tinggal di sebuah kamar sewa dengan anak gadisnya yang baru menginjak usia 18 tahun. Jadi dia tidak tinggal sendiri, tapi saya paham, tidak semua orang bisa diajak menjadi teman bicara. Bahkan pasangan kita sekalipun.
Tidak sedikit orang yang mengalami hal yang mirip dengan kolega saya ini. Disergap oleh rasa sepi. Tapi saya ingin berbagi sesuatu yang merupakan sebuah pelajaran hidup dari pengalaman dan pengamatan kehidupan, bahwa kesepian adalah dikarenakan kita sebagai persona masih terpisah dengan jiwa. Akhirnya kita menjadi tidak menjiwai kehidupan. Bahwa memiliki seribu teman atau pasangan tidak menjamin kita tidak merasa kesepian. Tidak sedikit kenyataannya orang merasa sepi di tengah orang banyak. Tidak jarang orang bahkan merasa kesepian di dalam rumah tangganya sendiri.
Rasa sepi akan selalu muncul manakala kita selalu mengandalkan orang sekitar atau bahkan keadaan memuaskan diri kita alih-alih merasa cukup (qona'ah) dengan apa yang ada. Kuncinya adalah dengan mengenal jiwa. Dan itu tidak mungkin tanpa melalui syariat agama dan proses tazkiyatun nafs. Karena jiwa adalah entitas sakral di dalam diri. Selama kita belum mengenal jiwa, kita tidak akan mengenal apa aktivitas dan pekerjaan yang disukai oleh jiwa dan membuat kita merasa terpuaskan lahir batin. Akibatnya kita hanya akan terlunta-lunta dari satu fatamorgana ke fatamorgana lain yang kita kira sebagai oase kebahagiaan. Sebelum kehidupan kita menjejak ke mengenali tugas sakral (sacred duty) kita masing-masing, kita bagaikan masih terombang-ambing di samudera dunia dan membuat kita mabuk laut. Kaki kita belum berpijak di bumi diri yang sejati. Dan selama itu pula kita akan terserang oleh satu episode kesepian ke episode kesepian lainnya.
Jadi, jangan cari solusi mengatasi kesepian dengan ngoyo ingin mendapatkan seseorang. That's not a guarantee. Malah bisa bikin makin runyam. Find yourself first. Kenali sumber kebahagiaan jiwamu. Baru kau akan merasakan air kehidupan yang menyegarkan yang menghilangkan sebuah dahaga kehidupan yang bernama kesepian. Insya Allah.
Amsterdam, 5 Mei 2026
No comments:
Post a Comment