RUMI & PUASA 18 JAM
“It’s sunnah Mama”
Ketika saya tanya mengapa mau puasa hari itu. Anak itu menjawab dengan tegas dan meyakinkan. Dengan keyakinan bahwa sunnah itu sesuatu keutamaan yang harus dikejar.
Padahal tantangannya tidak ringan untuk puasa di musim panas karena panjangnya waktu puasa dan panas yang bisa membuat badan sangat kepayahan. Tapi masya Allah, anak itu bangun untuk makan sahur, tahajjud dan diakhiri dengan shalat shubuh sebelum menyempatkan diri tidur singkat sebelum pergi ke sekolah.
Siang hari, Rumi datang dengan sempoyongan. “Panas mama” katanya tercekat, kehausan. Biasanya dia langsung lari membuka kulkas dan menjilat es buah kesukaannya. Tapi kali ini ia bergegas mengambil wudhu untuk shalat dhuhur lalu ngadem di kamarnya menikmati hembusan angin dari kipas angin yang dinyalakannya.
Memasuki waktu ashar yang jatuh pada hampir jam 6 sore, Rumi mulai berpikir apakah buka puasa di awal waktu saja dan mengambil keringanan? Apalagi Mama sudah menyiapkan Turkey Sandwich kesukaannya. Tapi dia mengambil langkah tak terduga, dengan memanggil kakaknya dan memberikan sandwich itu, yang kemudian disambut gembira oleh sang kakak. Rumi kembali ke kamar dengan lega dan berkata “Now i don’t have temptation to break my fast anymore” dan menguatkan dirinya untuk tetap melanjutkan puasa sampai maghrib.
And he did it…masya Allah. Ini adalah puasa terlama yang pernah dia lakukan. Dia berbuka dengan sebutir kurma dengan ekspresi kegembiraan yang tak bisa digambarkan dengan kata-kata. Semoga Allah mengganjar kegembiraan di hari akhir saat kau bertemu-Nya nak.
Very proud of you❤️

No comments:
Post a Comment