"Dua hari yang sangat penting dalam hidupmu adalah saat kau dilahirkan dan saat kau paham mengapa (kau dilahirkan)."
- Mark Twain
***
Ternyata tidak mudah menjadi diri sendiri. Menjadi versi original saat jiwa kita ditiupkan ke dalam kendaraan janin, ketika ia berusia 120 hari di dalam rahim ibunda. Seiring dengan pertumbuhan kita di alam dunia, semakin banyak bentukan baru dan tarikan semesta yang mengubah diri kita.
Sadari bahwa tidak ada yang terlahir "kosong" ke muka bumi ini. Semua manusia terlahir membawa bakat jiwa masing-masing yang itu sangat cocok ditumbuhkan di takdir yang Allah sudah tetapkan dan disiapkan jauh hari bahkan sebelum semesta ini tercipta. Artinya desain kehidupan kita, orang tua, tanggal dan tempat lahir, tempat kita sekolah dan semua aliran kehidupan adalah tanah yang paling baik untuk pertumbuhan benih di dalam jiwa kita. Benih ini terkait dengan fitrah, yang Rasulullah SAW katakan bahwa "Setiap anak terlahir dengan fitrah" Dan fitrah itu seperti benih yang harus pecah kecambah (fatara) terbuka. potensinya di alam dunia ini. Sebagaimana benih harus mengalami sekian tahapan sebelum ia pecah kecambah dan bertumbuh, kita pun mengalami pergantian episode "siang dan malam"dalam kehidupan. Kadang ada masa bahagia, kadang ada masa berduka. Ada masanya berkumpul, dan ada saatnya berpisah. Ada saat sedang semangat, ada kalanya tak bisa bergerak, bagaikan perahu layar yang kehilangan angin.
Tapi coba perhatikan bahwa ujian bagi setiap orang itu spesfik dan berbeda-beda walaupun nampaknya sama. Semua itu yang membentuk kita hingga menjadi kita yang sekarang ada. Mestinya semua takdir itu mulai dibaca dan direnungkan, agar kita semakin bisa membaca diri "Aku ini siapa?". Apa yang dimudahkan? Apa yang dicegah? Apa yang disenangi? Apa yang memberi energi? Apa yang membuat hati bernyanyi? Apa yang membuat lelah? Dsb. Dalam QS Al Ahqaf [46]:15, dalam doa memasuki usia 40 tahun hidup, ia meminta amal shalih yang diridhoi. Kenapa 40 tahun? Itu adalah empat masa pembentukan bumi diri. Semua hal sudah Allah Taála hamparkan di sana. Seperti keping-keping puzzle yang berserakan dan mesti ditata untuk bisa dipahami apa pesan yang ada disana. Itulah informasi tentang jati diri kita.
Artinya memasuki usia 40 tahunan seseorang sudah harus lebih fokus ke bidang dan kegiatan yang "dia banget". Hal-hal yang mengalir dari khazanah jiwanya. Yang hanya di titik itu dia bisa menemukan hal yang terbaik yang telah Allah siapkan sejak zaman ajali. Di jalan itulah shiraathal mustaqiimnya, sebuah jalan yang kaya dengan amal shalih - yang menjadi bekal dunia akhirat. Orang yang menapaki jalan itu adalah mereka yang sudah menemukan tugas spesifik hidup yang Allah amanahkan kepadanya. Di situ dia kokoh. Tak mudah terombang-ambing dengan gejolak kehidupan atau tawaran yang tampaknya menggiurkan tetapi sesuatu yang menjauhkan dia dari jalan kesejatian diri.
Itu kenapa kita diajarkan untuk meminta "shiraathal mustaqiim", itulah jalan kita menjadi diri sendiri. Yang setiap orang adalah nomor satu dan tak terkalahkan di koordinat itu, karena setiap manusia memiliki "kursiy"dan walayahnya masing-masing yang tak akan bisa diambil orang lain, sebab desain setiap orang berbeda-beda dan khusus dicipta untuk tugas yang sangat presisi.
Sadari, kadang ketika Allah menjauhkan kita dari dunia dan teman-teman dan dibuat sendiri. Itulah saat ketika kita tengah dikembalikan kepada diri sendiri. Karena kita cenderung memikirkan apa kata orang atau tercelup dengan pengaruh orang sekitar dan dunia. Kita takut untuk sekedar menjadi diri sendiri, apa adanya. Well, now is the time to get back to our own "self". Karena hanya dengan menjadi diri sendiri kita merasa penuh (whole) dan makin berbahagia tanpa harus tergantung dengan sebab-sebab luar. []
Amsterdam, 2 Mei 2026, sore hari yang cerah dan panas di musim semi
No comments:
Post a Comment