Saya datang ke Belanda sepuluh tahun yang lalu dengan berbekal baju seadanya di dalam back pack dan uang 150 euro. Di awal-awal bulan saya lakukan apapun yang bisa saya kerjakan, sebagai buruh kasar, berkelana dari satu tempat sewaan ke tempat sewaan lain.
Kajian Suluk
Sunday, May 17, 2026
Friday, May 15, 2026
Agar hidup makin fokus
Not every situation deserve your reaction.
Not every person deserve access to your energy.
Monday, May 11, 2026
Siapkan mental setiap pagi
Otak manusia didesain menyenangi pola. Itulah pentingnya kita memiliki ritual setiap hari. Dan syariat agama melalui waktu-waktu shalat membuat kita keeps grounded. Jadi lebih membumi. Mengokohkan akar pohon diri kita.
Di antara hal yang kita siapkan di pagi hari adalah sebuah kesadaran bahwa hari ini kita mungkin akan menghadapi masalah atau orang yang menyebalkan. Dan itu adalah bagian dari hidup. Maka Rasulullah SAW mengajarkan agar kita berlindung dari kesedihan, "Allahumma inni aúdzubika minal hammi wal hazan" tapi sadari bahwa ketika kita berlindung dari kesedihan bukan berarti hari itu kita tidak berhadapan dengan masalah atau perilaku yang membuat kita mengusap dada. Karena ujian adalah sesuatu yang melekat bagi orag-orang beriman. Maka bedakan, bahwa kita bisa berada di tengah badai kehidupan atau diperlakukan dengan tidak baik tapi hati bisa merasa tenang dan tidak dibuat sedih karenanya. Kok bisa? Ya bisalah, karena Allah yang menjaga hati kita. Apapun bisa ditundukkan bagi seorang hamba-Nya yang beriman. Seperti halnya Allah Taála berfirman kepada api agar ia menjadi dingin dan tidak mendatangkan kesakitan untuk hamba-Nya Ibrahim as. Jadi walaupun tubuhnya berada di tengah kobaran api yang membumbung tinggi yang membuat ngeri semua orang yang menyaksikannya, dia keluar dengan selamat tanpa luka sedikit pun.
Itulah kekuatan doa di pagi hari. Untuk mempersiapkan kita mengadapi api ujian kehidupan harian. Agar ia tidak membakar diri walaupun ganas kelihatannya. Agar kita tidak tertelan oleh ilusi dunia dan supaya tauhid kita makin kuat kepada Allah Taála.
Amsterdam, Senin tenang, 11 Mei 2026 jam 10.06 pagi
Saturday, May 9, 2026
Ketika sesuatu menjadi ilah kita
Suluk adalah sebuah perjalanan panjang untuk memurnikan tauhid kita.
Laa ilaa ha ilallah
Agar tidak ada tuhan-tuhan (ilah-ilah) lain yang bercokol di dalam hati kita, selain Allah.
Kapan sesuatu telah menjadi ilah kita?
Ketika sesuatu itu telah menguasai dan mencengkeram diri. Sedemikian rupa sehingga terbentuk kemelekatan kita terhadapnya.
Mungkin kita tidak menyembah ilah yang berbentuk patung seperti Latta atau Uzza seperti zaman dulu. Mungkin kita juga merasa tidak musyrik dengan tidak memiliki jimat-jimat yang kita anggap mendatangkan kekuatan tertentu.
Tapi ilah yang nongkrong di dalam hati kita berupa pekerjaan yang kita takut kalau sampai kehilangan. Merasa kalau tanpa pekerjaan itu bagaimana bisa menghidupi diri dan keluarga.
Ilah lain bisa berwujud sebagai pasangan yang dicintai berlebihan. Sampai "i can't live without you". Dan manakala dia tidak membalas pesan, tidak ngirim kabar, berpaling ke lain hati atau meninggal dunia, rasanya dunia kiamat. It's another form of attachment.
Ilah yang berwujud non fisik banyak, diantaranya ilah bernama "reputasi", "popularitas"dll, yang demikian disanjung-sanjung. Saking ingin terkenal dan banyak follower sampai rela melakukan apapun. Tapi dia lupa bahwa semua hal di dunia itu sementara. Ketenaran pun akan pudar pada saatnya. Dan saat itu dia mulai sesak nafas, sempit dadanya karena hal yang da rasa memberikan kehidupan baginya perlahan-lahan hilang ditelan zaman.
Dengan demikian, seruan para nabi untuk membangun dan memperkuat tauhid itu sebenarnya seruan kepada jalan kebebasan dari belenggu dunia yang akan menarik kita ke lumpur kesengsaraan. Karena kebanyakan manusia terbelenggu oleh ilah-ilah lain yang bersifat sementara yang hanya masalah waktu mendatangkan penderitaan dan kesengsaraan.
Tauhid therefore is the path to freedom. Bebas dari perbudakan selain Allah. Kita menjadi hamba-Nya, dan itu adalah hal terbaik dalam kehidupan, karena Allah Taála adalah Tuan yang sangat baik dan sangat memperhatikan hamba-Nya. Kalau kita mengimaninya...
Amsterdam, Sabtu 9 Mei 2026 jam 12.50 siang
Menanti waktu shalat dhuhur sambil menerjemahkan Complete Works of Josephus Flavius (1148 halaman)
Tak ada takdir buruk
Syukuri kehidupan nak,
Tak ada yang namanya takdir buruk karena semua sudah diperhitungkan dengan matang dan dalam ilmu Allah Ta’ala.
Just believe…
(Dalam perjalanan ke mesjid Fatih, bersama Rumi)
Tuesday, May 5, 2026
Kenapa merasa kesepian?
Being alone is not the same as being lonely.
***
Seorang kolega suatu hari tiba-tiba curhat, out of the blue. Saya sedang duduk di ruang crew untuk rehat sejenak ketika ibu satu anak ini datang berganti pakaian dan bersiap pulang. Entah kenapa sapaan saya yang bertanya "how's life?"dijawab dengan cerita yang panjang. Tentang perjuangannya datang ke Belanda dan harus menghabiskan sampai puluhan ribu euro (alias ratusan juta rupiah) untuk membayar jasa pihak ketiga yang membantu perizinannya namun ternyata orangnya menipu. Untung dia dibantu oleh sebuah lembaga dan pengacara pro bono, alisa dia tak harus keluar uang untuk menyelesaikan kasusnya.
"Life is hard, Tessa. Sometimes at the end of the day, all i want is to talk to someone and share everything i feel or what i've experienced."
Dia tinggal di sebuah kamar sewa dengan anak gadisnya yang baru menginjak usia 18 tahun. Jadi dia tidak tinggal sendiri, tapi saya paham, tidak semua orang bisa diajak menjadi teman bicara. Bahkan pasangan kita sekalipun.
Tidak sedikit orang yang mengalami hal yang mirip dengan kolega saya ini. Disergap oleh rasa sepi. Tapi saya ingin berbagi sesuatu yang merupakan sebuah pelajaran hidup dari pengalaman dan pengamatan kehidupan, bahwa kesepian adalah dikarenakan kita sebagai persona masih terpisah dengan jiwa. Akhirnya kita menjadi tidak menjiwai kehidupan. Bahwa memiliki seribu teman atau pasangan tidak menjamin kita tidak merasa kesepian. Tidak sedikit kenyataannya orang merasa sepi di tengah orang banyak. Tidak jarang orang bahkan merasa kesepian di dalam rumah tangganya sendiri.
Rasa sepi akan selalu muncul manakala kita selalu mengandalkan orang sekitar atau bahkan keadaan memuaskan diri kita alih-alih merasa cukup (qona'ah) dengan apa yang ada. Kuncinya adalah dengan mengenal jiwa. Dan itu tidak mungkin tanpa melalui syariat agama dan proses tazkiyatun nafs. Karena jiwa adalah entitas sakral di dalam diri. Selama kita belum mengenal jiwa, kita tidak akan mengenal apa aktivitas dan pekerjaan yang disukai oleh jiwa dan membuat kita merasa terpuaskan lahir batin. Akibatnya kita hanya akan terlunta-lunta dari satu fatamorgana ke fatamorgana lain yang kita kira sebagai oase kebahagiaan. Sebelum kehidupan kita menjejak ke mengenali tugas sakral (sacred duty) kita masing-masing, kita bagaikan masih terombang-ambing di samudera dunia dan membuat kita mabuk laut. Kaki kita belum berpijak di bumi diri yang sejati. Dan selama itu pula kita akan terserang oleh satu episode kesepian ke episode kesepian lainnya.
Jadi, jangan cari solusi mengatasi kesepian dengan ngoyo ingin mendapatkan seseorang. That's not a guarantee. Malah bisa bikin makin runyam. Find yourself first. Kenali sumber kebahagiaan jiwamu. Baru kau akan merasakan air kehidupan yang menyegarkan yang menghilangkan sebuah dahaga kehidupan yang bernama kesepian. Insya Allah.
Amsterdam, 5 Mei 2026
Tak Pernah Ada Kata Pensiun
Ada fenomena menarik yang saya amati dari percakapan dengan salah seorang sahabat saya yang baru saja memasuki usia 55 tahun. Dia bilang beberapa rekannya di Indonesia, sudah mulai memasuki masa pensiun di usia yang sebenarnya tergolong masih produktif (bandingkan dengan usia pensiun di Belanda yaitu 67 tahun), bedanya 12 tahun bo! Lumayan kan?
Apa yang terjadi kemudian? Beberapa dari rekannya itu sedang ngebut-ngebutnya berkarir, ide masih melimpah, inspirasi menggunung dan semangat masih kencang, tapi eh tiba-tiba disuruh lengser keprabon karena sistemnya memaksa demikian. Beberapa masih diberi kesempatan untuk memperpanjang masa kerjanya. Beberapa menjadi konsultan. Ada yang mulai menjalankan bisnis. Bahkan ada salah seorang eksekutif perusahaan besar yang biasa disupiri kemana-mana, rela menjadi pelayan. Kebayang kan? Biasa dilayani kemudian jadi pelayan. Tapi orang ternyata butuh beraktivitas dan mengkontribusikan sesuatu. Kebanyakan dari mereka yang pensiun kemudian 'bekerja' bukan butuh uang motif utamanya, karena biasanya tabungan sudah cukup dan dana pensiun memadai. Artinya, mau ongkang-ongkang kaki setiap hari juga bisa sebenarnya. Iya sepertinya asyik sebulan dua bulan bebas tak mesti kerja. Hingga kemudian mereka diterpa rasa bosan. "Ngapain lagi ya?"
Karena sebagaimana burung dicipta untuk terbang, ikan untuk berenang, maka manusia dicipta untuk bekerja. Begitu kata Nabi Yaqub as. Sepertinya sebuah pernyataan yang simpel, tapi dalem banget kalau mau direnungkan. I mean, ya iyalah burung kan jago terbang karena diberi sepasang sayap dan tubuh yang tidak besar seperti gajah. Hanya dumbo - gajah dalam dunia Disney yang bisa terbang dengan mengepakkan kedua telinganya. Dan ikan, jago banget berenang, bahkan bisa bernafas di dalam air, jadi ngga megap-megap atau panik macam kita yang baru belajar berenang. Artinya terbangnya seekor burung dan berenangnya seekor ikan terkait dengan desain tubuhnya masing-masing. Sesuatu yang Sang Pencipta sudah tetapkan.
Kita? Apa desain diri kita? Punya sayap ngga. Insang apa lagi. Bisanya apa dong?
Manusia, itu mulia karena akalnya. Itu yang mestinya diasah terus. Dan bukan hanya akal rasional. Tapi mestinya sampai menyala akal jiwanya yang menuntun dia menuju ketaatan dan bukan malah angkuh. Karena orang kalau hanya pinter tapi tak tertuntun dan diberkati malah pinter keblinger dan mendatangkan kerusakan di muka bumi.
Kembali tentang pensiun. Sebenarnya setiap manusia dicipta dengan sebuah pekerjaan spesifik yang "gue banget". Yang di titik itu tidak ada orang lain yang bisa mengerjakan hal itu sebaik dirinya. "Kau tak akan terganti" mengutip lagunya Marcell Siahaan. Dan ketika orang sudah menemukan pekerjaan itu, sebenarnya tidak ada kata pensiun. Dibayar - ngga dibayar, dia akan terus mengerjakannya. Karena ganjarannya langsung dari Yang Mahakuasa. Tanda lain adalah dia akan sangat produktif di titik spesifik itu, karena inspirasi dan semangat juga kemudahan akan mengalir. Rezeki manna dan salwanya akan keluar. Dia akan terus produktif hingga nafas terakhir keluar dari raga sebagai kendaraan jiwanya di bumi tempat kita mesti berbekal banyak-banyak amal shalih ini.
So, who are you?
Apa bakat langitmu?
Apa yang Allah mudahkan buat dirimu?
Do something about it, biar ngga nyesel nanti. []
