Monday, October 26, 2026

 FOOD IS OUR LOVE LANGUAGE


Jargon kami “Love at first bite”


Apapun permasalahan yang ada biasanya ketemu jalan keluarnya saat diplomasi di meja makan, terlepas mejanya bundar, oval atau kotak.


Sekesal apapun kita sama seseorang, selama masih bisa duduk bersama sambil menikmati hidangan yang ada, gunung es kekesalan itu pun mulai mencair.


Semarah apapun kita di masa lalu atas perbuatan atau perkataan seseorang tapi ketika lidah dimanjakan oleh kelezatan hidangan yang ada, tiba-tiba hati pun ajaib menjadi melunak dan kita jadi lebih bisa memaafkan.


So, don’t underestimate the power of dining together. Ada ikatan hati yang terjalin saat kita duduk bersama.

You don’t even have to agree with me. 

Just spend time and sit together while we enjoy our meal.

Karena selalu ada hal yang kita rayakan bersama bahkan di antara ketidaksepahaman. Lagi pula, kata-kata itu sangat terbatas untuk menjembantani jurang perbedaan yang ada. Sometimes, all you need is to enjoy a goid food together when words are inadequate.


From Jeddah with love,

❤️ 27 Oktober 2026, selepas shubuh 5.33

 MENJADI TAMU ALLAH


Menjejakkan kaki ke Baitullah itu dalam kesaksian saya itu betul-betul karena panggilan Allah. Kalau seseorang belum dipanggil hatinya, walaupun dia mampu dan punya kesempatan, tidak akan tergerak untuk datang. Dan kalaupun seseorang keinginannya membuncah ingin ke tanah suci, tapi kalau Allah belum berikan kemampuan dan tidak dibukakan kesempatan, juga tak akan terjadi.


Jadi, berbahagialah para tamu Allah, mereka yang diundang dan dimampukan oleh Allah. Jalannya bisa tak terduga. Seperti tukang sayur depan rumah tante saya yang tiba-tiba bisa pergi umrah karena menggantikan seseorang yang keburu meninggal sebelum menunaikan umrah. Padahal kalau mau memakai perhitungan akal manusia, mau nabung sampai kapan sampai beliau bisa pergi ke tanah suci? Tapi kalah Allah Ta’ala menghendaki seseorang datang ya sampai saja.


Maka setidaknya nyalakan bara keinginan di dalam hati untuk bisa menginjakkan kaki di Masjidil Haram. Kapan dan bagaimana caranya? Serahkan bagian itu kepada Allah. Tugas kita adalah memanage keseharian dengan baik. Yang bisa nabung ya menabunglah, tapi jangan mengandalkan dirinpada tabungan itu. Karena Allah suka memberi kejutan lewat cara yang tak terduga.


Labbaik Allahumma labbaik.


Jeddah,

Selasa 27 Oktober 226 pukul 3.49 dini hari.

 ONE WAY TICKET


Setiap manusia terlahir membawa one way ticket menuju alam barzakh, alam persinggahan berikutnya.


Di usia janin 120 hari dituliskan tanggal berapa dan kapan waktu keberangkatannya. Kadang ada yang di delay, tapi tak ada yang bisa menolak saat keberangkatan jika ia telah tiba.


Sang Pemberi Tiket sudah mempersiapkan segalanya, perbekalan dan semua itinerary. Lengkap sejak hari pertama landing sampai nanti berangkat kembali. Semua orang membawa misi yang berbeda-beda di negeri persinggahan sementara ini. Setiap orang memiliki itinerary yang spesifik, yang disesuaikan dengan bekalnya masing-masing. 


Kebanyakan manusia, setelah landing di negeri asing, lupa dengan tugas dinasnya itu. Ia malah menghabiskan semua perbekalan berdasarkan kemauannya alih-alih mengikuti itinerary yang telah ada. Sebuah agenda suci yang terlupakan dan terlalaikan hingga saat boarding datang. Ia baru ingat belum melakukan ini dan itu. Tapi sudah terlambat. 


Panggilan akhir sudah digaungkan. 

Saatnya untuk pergi.

Tinggal sesal yang tiada tara.

“Duh, seandainya dulu aku begini-begitu”

Sesal kemudian tiada guna.


Selagi masih ada nafas.

Temukan kembali itinerary dari-Nya.

Apa kehendak-Nya yang diamanahkan kepada kita di alam persinggahan ini.

Baca kembali dari semua bekal yang ada.

Semua ada di sana. Menunggu untuk kita baca dan ditafakuri.


Bandara Soekarno-Hatta Jakarta, menunggu boarding menuju Jeddah jam 16.53 sore

Wednesday, October 21, 2026

Gusti Allah Ora Sare

Saya melihat ibu tua berjilbab panjang berwarna hitam itu bersandar pada sebatang pohon di pinggir jalan.

Debu bercampur asap dari kendaraan bermotor di bawah terik sinar matahari yang panas seakan tak beliau gubris.

 Terkantuk-kantuk.

Menunggu datangnya rezeki.

Siapa tahu ada yang bersedia beli.

Enam biji mainan anak siap jual.

Dua puluh lima ribu rupiah satunya.

Enam kali dua puluh lima ribu.

Syukur-syukur terjual semua.

Bisa membawa pulang seratus lima puluh ribu rupiah.

Untuk membayar kontrakan kamar, membeli makan dan membiayai kebutuhan hidup sehari-hari lainnya.

Seratus lima puluh ribu.

Buat sebagian orang itu hanya seharga segelas gelas besar kopi dingin plus cake di cafe nyaman.

Tapi bagi ibu ini, beliau harus menunggu sepanjang hari di bawah terik matahari.

Beliau tidak meminta-minta.

Yakin, Gusti Allah ora sare…


Bandung, 22 Oktober 2026




Wednesday, October 14, 2026

 UMRAH, HAJI DAN PENGENALAN DIRI


Dari kelima pilar Islam yang ada, saya rasa Haji adalah  yang terberat. Karena kalau syahadat, shalat, zakat dan shaum kita bisa melakukannya di ruang masing-masing dengan interaksi yang minimal dengan orang lain tapi saat haji atau umrah (haji kecil) kita terpapar dengan ratusan ribu (bahkan jutaan) orang di satu lokasi. 


Melaksanakan haji (atau umrah) itu harus banyak sabarnya. Sabar disikut orang saat thawaf, sabar kepala diinjak orang saat sujud di tempat shalat yang berdesak-desakan. Sabar dengan bau badan orang yang berdempetan. Sabar dengan kelakuan orang yang tidak mengguyur hajat besarnya dan meninggalkan WC yang kotor. Wah pokoknya kita terpapar dengan segala tingkah laku manusia saat berhaji. 


Bagaimana agar hati tetap tenang. Agar kita tetap ikhlas. Dan agar melihat bahwa apapun yang terjadi, sekecil apapun itu bukanlah sebuah kebetulan semata tetapi cara Allah untuk menunjukkan kondisi hati kita dari saat ke saat. Karena barangsiapa mengenal dirinya akan mengenal Rabbnya.


Pantaslah kiranya jika ritual puncak haji terletak pada saat diam di padang ‘Arafah. Padang pengenalan. Saat diam kita diajak untuk merenung dan membaca ke dalam diri. Siapa aku? Mengapa Allah Ta’ala mengizinkan semua takdir ini terjadi? Apa yang harus kulakukan dengan sisa usiaku? Inilah pertanyaan paling fundamental seorang manusia yang kerap terkubur dalam kesibukan kita mencari penghidupan, membangun karir atau berkarya apapun. 


Kita lupa bahwa hidup ini Dia yang punya. 

Kita lupa bahwa semua hal yang Dia berikan ada orientasinya.

Kita lupa, bahwa kita akan pulang dan mempertanggung jawabkan semuanya.

Kita bahkan sudah lupa siapa jiwa kita yang sebenarnya. Siapa nama kita yang sejati. 


It’s time to remember who we really are.

Sebelum nafas tinggal sehela lagi di kerongkongan.


Laa hawla wa laa quwwata illa billah.


Jeddah, 14 Oktober 2026

Menunggu penerbangan ke Jakarta

Be the man

“Ar rijaalu qawwamuna ‘ala nisaa”
QS An Nisaa:34

Ayat ini sering diterjemahkan sebagai “laki-laki adalah pemimpin kaum perempuan”

Akan tetapi kalai kita lihat lebih dalam kata “qawwamuna” adalah sebuah kata bentuk intenaif dari kata “qa’im” yang secara harfiah berarti “orang yang berdiri”. Secara hukum dan dari segi linguistik Bahasa Arab, kata “qawwam” atau “qayyim” berarti seorang pelindung, pemelihara, administrator atau manager yang bertanggung jawab untuk mengawasi segala urusan demi memastikan keselamatan dan kesejahteraan ragawinya.

Artinya, seorang lelaki yang layak digelari sebagai pemimpin bagi perempuannya adalah ia yang melakukan fungsinya sebagai penjaga, pelindung dan pemelihara sang perempuan. Dalam keseharian kita bisa melihat jelas mana lelaki yang “cowok banget” dan mana yang “banci”. Laki-laki sejati itu mengambil inisiatif untuk membantu. Itu adalah ekspresi penghormatan dan memuliakan kaum perempuan. Jangan biarkan si perempuan menenteng sendiri belanjaan beratnya. Kalau bisa bukakan pintu untuknya. Sepulang kerja, walaupunlelah upayakan ikut membantu sang istri mengurus anak dan rumah tangga. Karena rumah itu rumah bersama-sama. Dan merawat anak-anak adalah tanggung jawab baik ibu dan ayah.

Seorang “qayyim” juga berarti sebagai pelindung. Bukan sekadar berang kalau melihat ada laki-laki lain mendekati pasangannya. Tapi juga lindungi perasaan sang perempuan dengan menjadi safe space buatnya. Inilah makna menjadi seorang laki-laki sejati.

Dan perempuan itu kalau sudah terpenuhi kebutuhannya untuk merasa aman, dihargai kehadiran dan upayanya (feeling to be seen) dan dimengerti, maka si perempuan itu akan berkembang seperti bunga yang merekah dan mengeluarkan wanginya. Ini rahasia untuk meraih intimasi dengan perempuan. Be the man.

Jeddah, 14 Oktober 2026 jam 15.26 menunggu adzan Ashar


Monday, October 12, 2026

Just keep walking

 Just keep walking

Even when you are not sure of where you are headed.

Trust that Inner Guidance.

For you knowif you stop walking your soul will wither and die...

***

Hidup akan terus berjalan terlepas apakah kita akan berpartisipasi aktif di dalamnya atau tidak. 

Waktu akan terus melangkah, tak peduli apakah kita siap atau tidak. 

Bulir-bulir pasir dalam jam pasir jatah kehidupan akan terus berjatuhan, setiap nafas membawa kita mendekat kepada kematian. Hal yang paling ditakuti bahkan dibenci oleh sebagian orang karena belum paham apa hakikat kematian. 

Lihatlah di sekeliling kita. Semuanya berubah. Matahari terbit dan terbenam. Rembulan berubah bentuk setiap hari mengikuti siklus yang ada. Anak-anak bertambah dewasa. Dan lihatlah tubuh kita sudah tidak seperti dulu lagi. Rambut-rambut putih yang tumbuh satu persatu. Keriput kulit yang semakin menyata. Sendi-sendi yang mulai berulah. Setiap ciptaan tahu bahwa hidup adalah sebuah perjalanan. Kita, manusia, sering lupa, karena terkungkung oleh sebuah ruang kebiasaan dan seolah nampak statis. Kita terlalaikan oleh sekian banyak kesibukan dunia dan terhempas berkali-kali di dalamnya. Sampai kepada sebuah titik dimana kita tidak yakin lagi kemana harus melangkah. 

Namun sadarilah wahai sahabat, di titik dimana kita difakirkan, justru disitu saat Sang Pencipta berkehendak memberikan anugerah langsung dari-Nya. Karenanya jangan pernah dibuat putus asa oleh hempasan takdir. Semua dalam kendali Yang Maha Kuasa. Berjalanlah terus merespon kehidupan dengan sebaik-baik penyikapan yang bisa kita berikan. Panggil Dia di setiap langkah. Bahkan dalam kegelapan sekalipun melangkahlah dengan berhati-hati. Yakin di satu titik cahaya terang itu akan terlihat. Karena Dia tidak pernah pergi. Dia selalu dekat. Lebih dekat dari urat nadi kita...

Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya...

QS Qaaf : 16


Amsterdam, Senin, 12 Oktober 2026 saat musim gugur yang mulai dingin. Waktu liburan sekolah anak dan di tengah persiapan packing melaksanakan umrah dan perjalanan mudik ke tanah air. Jam 12.40 siang.