"Gagal itu bukan sebuah kejatuhan.
Gagal adalah sebuah pembacaan"
- Mursyid Zamzam AJ Tanuwijaya
Kebanyakan orang emoh dibilang 'gagal'. Seolah-olah sebuah episode kegagalan adalah bagaikan aib besar yang diutup rapat-rapat atau dijauhi dan dicegah sebisa mungkin.
Tapi kehidupan mengalir menurut dengan kehendak Sang Pencipta. Dan mengalami 'kegagalan' adalah hal yang niscaya.
Gagal dalam pernikahan. Gagal dalam bisnis. Gagal dalam presentasi. Gagal dalam berkomunikasi. Gagal dalam mendidik anak. Gagal dalam memahami pasangan. Gagal membaca kehidupan. Dan lain sebagainya.
Kalau memang gagal adalah bagian dari kehidupan, kenapa harus merasa seolah divonis hukuman mati saat kita mengalami kegagalan? Mengalami kegagalan bukan kiamat atau akhir dari segalanya. Ini masalah cara membaca persoalan. Bagaimana kalau kita membaca sebuah kegagalan adalah sebuah bantuan dari Allah Taála untuk mencegah kita memasuki atau melangkah lebih jauh ke sebuah keadaan, bidang, situasi yang tidak baik untuk kita. Sesuatu yang tidak membawa manfaat ke akhirat kita. Hal yang cenderung melumpuhkan dan melemahkan jiwa kita. Keadaan yang membuat kita malah menjadi semakin jauh dari Allah. Dengan kata lain bahkan sebuah kegagalan sekalipun adalah salah satu dari bentuk rahmat-Nya. Pertolongan Allah Ta'ala agar kita mengalir di sebuah warna kehidupan yang lebih pas untuk diri sendiri. Kita belajar untuk "iqra" membaca aliran takdir kehidupan apa adanya.
Jadi ketika kita mesti menempuh sebuah episode kegagalan, jangan berkecil hati. Itu bagian dari pertolongan Allah. Tugas kita untuk menemukan kebaikan yang tersimpan di dalamnya. Karena kalau Allah membuat takdir itu tidak asal, selalu ada kebaikan yang melimpah, itu sifat-Nya. Tidak mungkin tidak. Jangan terlalu termakan oleh apa kata orang. Kita harus mensyukuri kehidupan diri sendiri, apa adanya. Kalau bukan kita siapa lagi yang bisa mengagungkan takdir diri sendiri? So, stay calm. Merasa sedih dan kecewa itu wajar, namanya juga manusia. Tapi jangan terlampau larut berlama-lama sehingga dikuasai oleh kesedihan itu. Take a break and then move on.
Amsterdam, 25 April 2026
Setelah Wawancara Suluk ke-69. Pukul 17.02, setelah melepas anak-anak pergi berlibur ke Skotlandia

