Saturday, May 2, 2026

Saat kehilangan identitas diri

 "Dua hari yang sangat penting dalam hidupmu adalah saat kau dilahirkan dan saat kau paham mengapa (kau dilahirkan)."

 - Mark Twain

***

Ternyata tidak mudah menjadi diri sendiri. Menjadi versi original saat jiwa kita ditiupkan ke dalam kendaraan janin, ketika ia berusia 120 hari di dalam rahim ibunda. Seiring dengan pertumbuhan kita di alam dunia, semakin banyak bentukan baru dan tarikan semesta yang mengubah diri kita. 

Sadari bahwa tidak ada yang terlahir "kosong" ke muka bumi ini. Semua manusia terlahir membawa bakat jiwa masing-masing yang itu sangat cocok ditumbuhkan di takdir yang Allah sudah tetapkan dan disiapkan jauh hari bahkan sebelum semesta ini tercipta. Artinya desain kehidupan kita, orang tua, tanggal dan tempat lahir, tempat kita sekolah dan semua aliran kehidupan adalah tanah yang paling baik untuk pertumbuhan benih di dalam jiwa kita. Benih ini terkait dengan fitrah, yang Rasulullah SAW katakan bahwa "Setiap anak terlahir dengan fitrah" Dan fitrah itu seperti benih yang harus pecah kecambah (fatara) terbuka. potensinya di alam dunia ini.  Sebagaimana benih harus mengalami sekian tahapan sebelum ia pecah kecambah dan bertumbuh, kita pun mengalami pergantian episode "siang dan malam"dalam kehidupan. Kadang ada masa bahagia, kadang ada masa berduka. Ada masanya berkumpul, dan ada saatnya berpisah. Ada saat sedang semangat, ada kalanya tak bisa bergerak, bagaikan perahu layar yang kehilangan angin. 

Tapi coba perhatikan bahwa ujian bagi setiap orang itu spesfik dan berbeda-beda walaupun nampaknya sama. Semua itu yang membentuk kita hingga menjadi kita yang sekarang ada. Mestinya semua takdir itu mulai dibaca dan direnungkan, agar kita semakin bisa membaca diri "Aku ini siapa?". Apa yang dimudahkan? Apa yang dicegah? Apa yang disenangi? Apa yang memberi energi? Apa yang membuat hati bernyanyi? Apa yang membuat lelah? Dsb. Dalam QS Al Ahqaf [46]:15, dalam doa memasuki usia 40 tahun hidup, ia meminta amal shalih yang diridhoi. Kenapa 40 tahun? Itu adalah empat masa pembentukan bumi diri. Semua hal sudah Allah Taála hamparkan di sana. Seperti keping-keping puzzle yang berserakan dan mesti ditata untuk bisa dipahami apa pesan yang ada disana. Itulah informasi tentang jati diri kita. 

Artinya memasuki usia 40 tahunan seseorang sudah harus lebih fokus ke bidang dan kegiatan yang "dia banget". Hal-hal yang mengalir dari khazanah jiwanya. Yang hanya di titik itu dia bisa menemukan hal yang terbaik yang telah Allah siapkan sejak zaman ajali. Di jalan itulah shiraathal mustaqiimnya, sebuah jalan yang kaya dengan amal shalih - yang menjadi bekal dunia akhirat. Orang yang menapaki jalan itu adalah mereka yang sudah menemukan tugas spesifik hidup yang Allah amanahkan kepadanya. Di situ dia kokoh. Tak mudah terombang-ambing dengan gejolak kehidupan atau tawaran yang tampaknya menggiurkan tetapi sesuatu yang menjauhkan dia dari jalan kesejatian diri. 

Itu kenapa kita diajarkan untuk meminta "shiraathal mustaqiim", itulah jalan kita menjadi diri sendiri. Yang setiap orang adalah nomor satu dan tak terkalahkan di koordinat itu, karena setiap manusia memiliki "kursiy"dan walayahnya masing-masing yang tak akan bisa diambil orang lain, sebab desain setiap orang berbeda-beda dan khusus dicipta untuk tugas yang sangat presisi. 

Sadari, kadang ketika Allah menjauhkan kita dari dunia dan teman-teman dan dibuat sendiri. Itulah saat ketika kita tengah dikembalikan kepada diri sendiri. Karena kita cenderung memikirkan apa kata orang atau tercelup dengan pengaruh orang sekitar dan dunia. Kita takut untuk sekedar menjadi diri sendiri, apa adanya. Well, now is the time to get back to our own "self". Karena hanya dengan menjadi diri sendiri kita merasa penuh (whole) dan makin berbahagia tanpa harus tergantung dengan sebab-sebab luar. []


Amsterdam, 2 Mei 2026, sore hari yang cerah dan panas di musim semi

Wednesday, April 29, 2026

Agar terlepas dari belenggu masa lalu

 If you still question you past, "Why did it happened to me?"

Know that you are still living it.

***

Dalam hidup, mendera luka-luka masa lalu adalah keniscayaan. Karena tak selamanya hidup itu bahagia dan senang terus. Sebagian besar luka masa kecil itu ditorehkan biasanya justru oleh orang-orang dekat sekitar kita. Orang tua kita sendiri, adik atau kakak atau anggota keluarga lainnya. Kadang luka itu didapat dari pergaulan di sekolah. Oleh orang yang membully kita hingga traumanya masih menjejak hingga sekarang. 

Seorang pakar trauma, Gabor Mate berpendapat bahwa yang namanya trauma itu bukan kejadian yang menimpa seseorang, tapi respon seseorang atas kejadian itu. Artinya, kejadian buruk yang sama yang menimpa dua orang yang berbeda bisa menghasilkan dua respon yang berbeda. Yang satu bisa move on dan yang lain masih hidup dalam tempurung masa lalunya bahkan berdekade tahun lamanya. 

"Kenapa itu terjadi pada saya?" Biasanya itu pertanyaan yang sering timbul. Dan itu adalah pertanyaan yang sangat valid dan mesti dikejar. Karena sebelum kita paham kenapa sesuatu itu menimpa kita, kita belum bisa bersabar atas sesuatu itu. Seperti halnya kaidah yang disampaikan oleh Nabi Khidir as kepada Musa as yang saat itu bersemangat sekali ingin berguru kepadanya, Nabi Khidir berkata, 

"...bagaimana engkau akan dapat bersabar atas sesuatu, sedang engkau belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?"QS Al Kahfi:68

Jadi pemahaman dan ilmu pengetahuan yang benar itu bisa mengubah cara pandang kita terhadap takdir hidup yang menimpa sehingga kita semakin sabar dan bahkan mensyukurinya. Memang butuh waktu hingga akhirnya pemahaman itu datang, dan kadang ia datang secara bertahap. Tidak apa-apa dijalani saja. Karena itu adalah jalan kesembuhan kita lahir batin. Insya Allah. 


Amsterdam, 29 April 2026, di musim semi yang  terik tapi angin masih dingin dan kencang. 13.27 siang

Monday, April 27, 2026

Kenapa sulit untuk move on?

 Holding on happens when you are clinging to the past.

Moving on is the movement to flow with the present, to accept what is instaed of what if.

***

Kita sering lupa bahwa dunia ini fana. Artinya semua akan berakhir. Pertemuan akan berakhir dengan perpisahan. Kesehatan kadang berakhir dalam periode tertentu dengan episode sakit. Masa gembira di satu masa akan berubah menjadi sebuah kesedihan. Merayakan keramaian dan kebersamaan pun hanya sementara sebelum kita mencecap kembali kesunyian dan kesendirian. Pernikahan bisa berakhir dengan perceraian atau dipisahkan dengan kematian. Pekerjaan tidak selamanya mulus. Bisnis tidak selamanya lancar. Itulah pergantian siang dan malam dalam kehidupan.

Iya sih, sadar (kalau lagi sadar). Tapi kenapa ada beberapa hal yang kita susah banget untuk melepasnya dan susah untuk move on? 

Pertama, it's okay merasa sedih dengan sebuah episode kehilangan. Itu wajar banget. Artinya perasaan suka, bahagia dan cinta kita itu real, sesuatu yang pernah kita cicipi, tapi kemudian apapun itu keadaan atau situasinya menjadi berubah. Khususnya jika kita pernah dekat sekali dengan seseorang atau bahkan jatuh cinta padanya. Hati merasa berbunga-bunga, banyak kenangan indah dirajut bersama, sampai ketika suatu saat itu semua hilang, bisa jadi bertahap atau mendadak, lalu kita gelagapan, in a panic mode, seperti hancur dunia kita rasanya. When this happens, please realize that physically our body is experiencing withdrawal effect. Karena semua perasaan indah yang kita alami terkait dengan hormon-hormon tertentu seperti dopamin dan oksitosin yang membuat kita relaks. Dan untuk sekian lama tubuh kita terbiasa dibanjiri oleh hormon-hormon cinta dan kebahagiaan ini, hingga pada satu titik si dia atau sesuatu yang biasa mencetuskan hormon-hormon itu untuk mengalir tidak lagi ada. Respon pertama sistem saraf kita adalah untuk kembali mengaktivasi itu kembali, tapi pada kenyataannya si dia telah pergi atau tiada. Kebanyakan orang kemudian mencoba mendapatkan sensasi itu kembali dengan memutar lagu-lagu nostalgia bersamanya, mengingat kembali masa-masa indah, membaca semua surat atau chat yang pernah membuat kita berbunga-bunga, bahkan diam-diam menguntit social medianya atau sekadar kepo dia lagi ngapain sekarang? Kangen ngga sama aku sebagaimana halnya aku kangen sama dia. And so on and so forth. Tapi semua upaya itu berujung pada kesedihan karena dia yang pernah singgah di hati kita itu sudah move on, sudah check out, dan move on sementara kita masih memutar film-film lama dalam benak kita. Di situ saat kita makin merasa sengsara. 

Jadi move on itu pilihan. Kita memilih untuk mengalir dengan saat ini apa adanya, tanpa yang bersangkutan atau berupaya meraih-raih kenangan lama yang tidak sesuai dengan kenyataan. Memang tidak mudah. Tapi bisa dilatih. We just need to shift our focus. Daripada ngelamun ngga jelas, mendingan waktunya dihabiskan untuk berdzikir atau mempelajari Al Quran. Dan manakala kesedihan itu menerpa, coba banyak-banyak "subhanallah wabihamdih"bertasbih dan memujinya. Itu adalah kunci menghadapi kesempitan dada yang Allah firmankan dalam QS Al Hijr [15]:97-98

Sungguh, Kami benar-benar mengetahui bahwa dadamu menjadi sempit (gundah dan sedih) disebabkan apa yang mereka ucapkan. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah engkau termasuk orang-orang yang sujud.

Amsterdam, 28 April 2026

In my solitude. Jam 6.43 pagi


Saturday, April 25, 2026

Memaknai 'kegagalan' hidup

"Gagal itu bukan sebuah kejatuhan.

Gagal adalah sebuah pembacaan"

- Mursyid Zamzam AJ Tanuwijaya


Kebanyakan orang emoh dibilang 'gagal'. Seolah-olah sebuah episode kegagalan adalah bagaikan aib besar yang diutup rapat-rapat atau dijauhi dan dicegah sebisa mungkin. 

Tapi kehidupan mengalir menurut dengan kehendak Sang Pencipta. Dan mengalami 'kegagalan' adalah hal yang niscaya. 

Gagal dalam pernikahan. Gagal dalam bisnis. Gagal dalam presentasi. Gagal dalam berkomunikasi. Gagal dalam mendidik anak. Gagal dalam memahami pasangan. Gagal membaca kehidupan. Dan lain sebagainya.   

Kalau memang gagal adalah bagian dari kehidupan, kenapa harus merasa seolah divonis hukuman mati saat kita mengalami kegagalan? Mengalami kegagalan bukan kiamat atau akhir dari segalanya. Ini masalah cara membaca persoalan. Bagaimana kalau kita membaca sebuah kegagalan adalah sebuah bantuan dari Allah Taála untuk mencegah kita memasuki atau melangkah lebih jauh ke sebuah keadaan, bidang, situasi yang tidak baik untuk kita. Sesuatu yang tidak membawa manfaat ke akhirat kita. Hal yang cenderung melumpuhkan dan melemahkan jiwa kita. Keadaan yang membuat kita malah menjadi semakin jauh dari Allah.  Dengan kata lain bahkan sebuah kegagalan sekalipun adalah salah satu dari bentuk rahmat-Nya. Pertolongan Allah Ta'ala agar kita mengalir di sebuah warna kehidupan yang lebih pas untuk diri sendiri. Kita belajar untuk "iqra" membaca aliran takdir kehidupan apa adanya. 

Jadi ketika kita mesti menempuh sebuah episode kegagalan, jangan berkecil hati. Itu bagian dari pertolongan Allah. Tugas kita untuk menemukan kebaikan yang tersimpan di dalamnya. Karena kalau Allah membuat takdir itu tidak asal, selalu ada kebaikan yang melimpah, itu sifat-Nya. Tidak mungkin tidak. Jangan terlalu termakan oleh apa kata orang. Kita harus mensyukuri kehidupan diri sendiri, apa adanya. Kalau bukan kita siapa lagi yang bisa mengagungkan takdir diri sendiri? So, stay calm. Merasa sedih dan kecewa itu wajar, namanya juga manusia. Tapi jangan terlampau larut berlama-lama sehingga dikuasai oleh kesedihan itu. Take a break and then move on. 

Amsterdam, 25 April 2026

Setelah Wawancara Suluk ke-69. Pukul 17.02, setelah melepas anak-anak pergi berlibur ke Skotlandia

Tuesday, April 14, 2026

Jadilah pengembara di dunia

 “Be in this world as if you were a stranger or a traveller along a path.” 

- Rasulullah SAW


Ibn Umar would say, “If you make it to the evening, do not wait for the morning. If you make it to the morning, do not wait for the evening. Take from your health for your sickness, and from your life for your death.”


Traveller itu ga bawa bawaan setruk penuh lengkap dengan sofa, rice cooker, baju selemari dll, itu mah pulang kampung namanya.


Travelling yang nyaman itu ya travel light. Tidak bawa banyak gembolan. Agar bisa berjalan dengan bebas tanpa menyeret-nyeret beban berat.


Para traveller tahu dimanapun mereka singgah akan ada rezekinya di tempat itu, maka mereka bekal seadanya saja.


Dunia ini tempat singgah jiwa-jiwa yang sedang diperjalankan oleh Allah. Tak perlu risau tentang akomodasi dan konsumsi sebenarnya, lha wong Event Organizernya sang Rabbul ‘alamiin sendiri. Kalau taqwa pasti dijamin hayatan thayyiba. Tinggal nikmati segala agenda yang sudah ditetapkan dari hari ke harinya. Setiap hari berbeda-beda walaupun tempatnya tampaknya itu-itu saja, tapi perhatikan tamu-tamu Allah yang Dia hadirkan selalu baru dengan segenap dinamikanya. Karena sungguh setiap saat kita dalam ciptaan yang baru.


Di perjalanan ini kita akan mengingat kembali siapa Rabb, yang jiwa kita sudah kenal saat di Alam Alastu (Alam Kesaksian) dulu (QS 7:172). Setiap etapenya penuh pelajaran di perjalanan dunia ini. Maka perhatikan baik-baik. Baca (iqra) dengan benar. Karena Dia sedang memperkenalkan Dirinya lebih jauh. Lewat kehidupan kita masing-masing yang luar biasa ini. So, enjoy the ride and be a grateful traveller🐫☺️


- Dalam perjalanan ke Rotterdam, 15 April 2026 jam 7.42 pagi

Wednesday, April 8, 2026

Jadilah yang terakhir tertawa

 You’ll Laugh Later


There are moments

that feel serious right now.


Important.

Heavy.

Worth stressing over.


But if you think about it—


A lot of those moments

don’t stay that way.


They pass.


And later,

you look back at them differently.


Lighter.

Less intense.

Sometimes even… funny.


Because perspective changes things.


And what feels big now

won’t always feel that way.


***

Jadilah orang yang tertawa terakhir.

Nanti di alam sana.


Ketika kebenaran terbuka seluruhnya.


Ketika semua pengorbanan dan penderitaan menjadi tak ada apa-apanya dibanding karunia yang didapatkan.


Ketika kesabaran kita menuai buah-buah kesabaran kita.


Biarkan mereka yang tak mengerti itu memandang kita kecil bahkan mengejek habis kita.


Biarkan mereka yang berbeda tujuan hidup itu mencap kita kurang sukses atau terbelakang. 


Jangan pedulikan pandangan manusia, karena hajat jiwa kita lebih kepada ridho-Nya, lebih peduli untuk membuat Allah senang.


Biarkan mereka tertawa sekarang dan kita yang tertawa terakhir nanti. Hanya seorang ulama berpesan, nanti kalau tertawa jangan terlalu keras, kasihan yang lain…

Tuesday, April 7, 2026

Ketika merasa kesepian

 Loneliness is an internal emotional state of disconnection, 

Not a measure of physical solitude.

***

Merasa kesepian itu tidak otomatis berkaitan dengan berada dalam situasi seorang diri. Karena banyak kasus, orang merasa kesepian padahal justru sedang berada dalam kerumunan orang. Di tengah arisan yang pembicaraannya tidak pas, atau berada di tengah kumpul-kumpul atau pesta kantor yang garing rasanya.

Merasa kesepian juga tidak selalu terkait dengan menjomblo alias belum punya pasangan. Karena tidak sedikit orang yang merasa kesepian dalam kehidupan pernikahannya. Pasangan ada di sekitarnya secara fisik tapi terasa jauh sekali hatinya, bahkan di beberapa kasus keberadaannya mengakibatkan munculnya ketidaknyamanan dan rasa tidak aman. 

Here's what i've learned about loneliness. 

It all begins with ourselves. 

Kesepian yang kita rasakan adalah sebuah konsekuensi ketika kita sedang disconnect dengan diri kita sendiri. Jelas sedang disconnect dengan Sang Pencipta. Karenanya tidak ada flow yang mengalir. Mirip seperti handphone yang kehilangan koneksi internet, tidak ada yang bisa didownload pun tidak ada yang bisa di-upload. Kita kehilangan kontak dengan aliran semesta pada saat kita merasa kesepian. Merasa sesak dan sedih padahal kita tengah dikelilingi oleh sekian banyak nikmat dan keajaiban dari-Nya. Tapi ya itu, karena ngga connect jadinya semua itu tidak dipersepsi dan tidak dirasakan. 

Dzikir itu upaya untuk connect lagi dengan Sang Maha Pencipta. Dengannya otomatis Dia akan membuat kita connect dengan diri dan sekitar kita. Itu urutannya. Jangan dibalik. Jadi ihwal wabah loneliness ini tak lain dari penyakit spiritual ketika kita berjarak dengan-Nya. Karena kalau kita sering kontak hati dengan-Nya sudah dijamin oleh Allah dalam QS Ar Ra'd:28

"...hanya dengan dzikr (mengingat/ connect) dengan Allah hati menjadi tenteram" 

Jadi, manakala kesepian menyergap, jangan panik. Ambil wudhu, gelar sajadah, lantunkan munajat kepada-Nya dan rasakan aliran ketersambungan itu kembali. Insya Allah 


Amsterdam, musim semi yang cerah, 7 April 2026 jam 11.29