WE ARE (NOT) ROBOT
Menarik untuk menelisik bahwa kata “intellectual” di dalam tradisi Barat zaman dulu artinya kemampuan berpikir baik dengan logika dan hati. Dalam perkembangannya, terutama ketika dunia memasuki masa Revolusi Industri, pola berpikir dengan hati perlahan-lahan mulai ditinggalkan, sedemikian rupa hingga manusia merasa asing dengan istilah “akal hati”.
Akhirnya manusia hanya mengandalkan logikanya dalam menghadapi urusan keseharian. Sesuatu yang sangat rentan dan lemah karena jangkauan logika dunia sangat terbatas. Seperti terbatasnya daya tembus penglihatan lahir yang tak mampu melihat di balik dinding yang terbentang di depannya. Karena terlampau mengandalkan separuh daya inteleknya, manusia menjadi budak dari perhitungan sebab akibat. Mirip seperti robot yang terbatas pergerakannya oleh sebuah algoritma tertentu. Begitu manusia berhadapan dengan sesuatu yang tak masuk akal seperti berbagai urusan takdir yang perlu dia cerna, maka dirinya akan senantiasa resah karena tak ada satu pun formulasi di akal pikirannya yang bisa memahami ihwal apa yang tengah terjadi. Akibatnya manusia menderita berbagai kasus simtomatik yang berakar dari stress kronis. Penyakit yang berasal dari bayang-bayang yang dibentuk oleh pikirannya sendiri.
Jalaluddin Rumi berkata, “You have wings to fly, why prefer to crawl?”
Kita lupa menjadi manusia. Makhluk yang dikaruniai entitas jiwa.
Kita lupa bahwa kita bukan sekadar raga yang akan berakhir masa pakainya lewat sebuah kematian.
Kita lupa bahwa daya intelektualitas kita bisa menyentuh Yang tak terbatas.
Kita punya akal hati yang dengannya kita bisa membuat lompatan-lompatan kuantum yang melampaui semua keterbatasan dunia sebab-akibat.
Most of all, kita lupa bahwa kita adalah ciptaan Yang Maha Kuasa. Bahwa Sang Pencipta merancang dengan detail setiap gerak kehidupan kita.
Di setiap langkahnya.
Di setiap nafasnya.
Di setiap detak jantungnya.
Karena itu segala hal mengandung makna.
Kita bukan sekadar human doing. Seperti banyak kegiatan tapi tak ada orientasinya.
Kita adalah human being, diciptakan untuk menjadi sesuatu. Menjadi bayangan Ar Rahman di bumi ini.
Agar tidak hidup seperti robot.
Berkarya banyak tapi tak menjadi amal shalih.
Na’udzubillahimindzaalik.
On my flight from Amsterdam to Berlin, 29 Sept 2026, 13.36