Ada fenomena menarik yang saya amati dari percakapan dengan salah seorang sahabat saya yang baru saja memasuki usia 55 tahun. Dia bilang beberapa rekannya di Indonesia, sudah mulai memasuki masa pensiun di usia yang sebenarnya tergolong masih produktif (bandingkan dengan usia pensiun di Belanda yaitu 67 tahun), bedanya 12 tahun bo! Lumayan kan?
Apa yang terjadi kemudian? Beberapa dari rekannya itu sedang ngebut-ngebutnya berkarir, ide masih melimpah, inspirasi menggunung dan semangat masih kencang, tapi eh tiba-tiba disuruh lengser keprabon karena sistemnya memaksa demikian. Beberapa masih diberi kesempatan untuk memperpanjang masa kerjanya. Beberapa menjadi konsultan. Ada yang mulai menjalankan bisnis. Bahkan ada salah seorang eksekutif perusahaan besar yang biasa disupiri kemana-mana, rela menjadi pelayan. Kebayang kan? Biasa dilayani kemudian jadi pelayan. Tapi orang ternyata butuh beraktivitas dan mengkontribusikan sesuatu. Kebanyakan dari mereka yang pensiun kemudian 'bekerja' bukan butuh uang motif utamanya, karena biasanya tabungan sudah cukup dan dana pensiun memadai. Artinya, mau ongkang-ongkang kaki setiap hari juga bisa sebenarnya. Iya sepertinya asyik sebulan dua bulan bebas tak mesti kerja. Hingga kemudian mereka diterpa rasa bosan. "Ngapain lagi ya?"
Karena sebagaimana burung dicipta untuk terbang, ikan untuk berenang, maka manusia dicipta untuk bekerja. Begitu kata Nabi Yaqub as. Sepertinya sebuah pernyataan yang simpel, tapi dalem banget kalau mau direnungkan. I mean, ya iyalah burung kan jago terbang karena diberi sepasang sayap dan tubuh yang tidak besar seperti gajah. Hanya dumbo - gajah dalam dunia Disney yang bisa terbang dengan mengepakkan kedua telinganya. Dan ikan, jago banget berenang, bahkan bisa bernafas di dalam air, jadi ngga megap-megap atau panik macam kita yang baru belajar berenang. Artinya terbangnya seekor burung dan berenangnya seekor ikan terkait dengan desain tubuhnya masing-masing. Sesuatu yang Sang Pencipta sudah tetapkan.
Kita? Apa desain diri kita? Punya sayap ngga. Insang apa lagi. Bisanya apa dong?
Manusia, itu mulia karena akalnya. Itu yang mestinya diasah terus. Dan bukan hanya akal rasional. Tapi mestinya sampai menyala akal jiwanya yang menuntun dia menuju ketaatan dan bukan malah angkuh. Karena orang kalau hanya pinter tapi tak tertuntun dan diberkati malah pinter keblinger dan mendatangkan kerusakan di muka bumi.
Kembali tentang pensiun. Sebenarnya setiap manusia dicipta dengan sebuah pekerjaan spesifik yang "gue banget". Yang di titik itu tidak ada orang lain yang bisa mengerjakan hal itu sebaik dirinya. "Kau tak akan terganti" mengutip lagunya Marcell Siahaan. Dan ketika orang sudah menemukan pekerjaan itu, sebenarnya tidak ada kata pensiun. Dibayar - ngga dibayar, dia akan terus mengerjakannya. Karena ganjarannya langsung dari Yang Mahakuasa. Tanda lain adalah dia akan sangat produktif di titik spesifik itu, karena inspirasi dan semangat juga kemudahan akan mengalir. Rezeki manna dan salwanya akan keluar. Dia akan terus produktif hingga nafas terakhir keluar dari raga sebagai kendaraan jiwanya di bumi tempat kita mesti berbekal banyak-banyak amal shalih ini.
So, who are you?
Apa bakat langitmu?
Apa yang Allah mudahkan buat dirimu?
Do something about it, biar ngga nyesel nanti. []