Saturday, September 19, 2026

Saying goodbye is painful

 Saying goodbye is painful.

But pain is inevitable in life. How you interpreted it and what kind of story that you build around it will make a whole different thing, whether you are liberated from it or trapped by it.

***

Perpisahan adalah hal yang tak terelakkan dalam hidup. 

Jika bukan karena keadaan maka maut-lah menjadi pemisah antara seseorang dengan apa-apa yang dikasihinya.

Menjalani perpisahan itu menyakitkan, jika kita mencintai sesuatu atau seseorang itu. Tapi, mendera rasa sakit adalah bagian dari kehidupan. Kita tidak bisa menghindar darinya. Ada hikmah yang besar kenapa Allah Ta’ala mengizinkan sebuah fenomena yang menyakitkan terjadi. Ada sesuatu yang sedang Dia tumbuhkan, walaupun itu tak nampak. Pengetahuan tentang hal ini akan membuat seseorang lebih berdamai saat menjalani episode perpisahan atau kehilangan,

“Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun”

Mengimani bahwa segala sesuatu berasal dari Allah, Sang Pemilik semuanya dan akan kembali kepada-Nya. Ingat bahw akita adalah ciptaan. Kapanpun Sang Pencipta berkehendak untuk mengambil atau memindahkan ataupun mengubah ciptaan-Nya itu hak Allah Ta’ala. Kita tak punya hak untuk protes atau bahkan mengklaim itu jadi milik kita. 

Let it go. Bertasbihlah dengan aliran takdir kehidupan.  Agar kita menjadi orang yang merdeka. Terbebas dari pengaruh pasang surut dunia.

Amsterdam, Foodstrips, 19 September 2026 / 8 Rabiul Akhir 1448 jam 21.54


Tuesday, September 15, 2026

Unselfish Love

 Choosing to love someone can be really hard work. It requires constant self-reflection, dissolving our ego, and breaking free of deep-rooted patterns. It’s a daily choice, and sometimes even a fight with our old selves. But oh, it’s so worth it. Even the journey tends to break us, because the greater love cause the greater pain. And yet, it’s so much better than never knowing love at all.

***

Di awal waktu, mencinta seseorang rasanya mudah. Itu periode infatuation, dimana kita terbuai dengan kecocokan dan mengagumi kelebihan yang kita lihat padanya. That’s why they called it “fall in love”, karena “fall” itu almost “effortless. Kita seperti disedot dalam pusaran gravitasi cinta yang menggelora. Ini baru fase awal. 

And then when the ‘honeymoon’ is over. Ketika waktu menguak sisi-sisi lain dan yang asli dari pasangan kita. Belum tentu rasa cinta itu masih membara. Adapun cinta sejati tidak akan luntur oleh sekian fenomena yang kita labeli sebagai “kekurangan” dari pasangan kita. Karena cinta itu setia.

Demikianlah, kita belajar makna cinta sejati dari mencintai ciptaan-Nya, tapi jangan berhenti di situ, karena hati hanya layak ditempati oleh kuasa-Nya. Cinta kita harus bertumbuh. Hingga menumbuhkan cinta sejati. Unconditioned love. Unselfish love.  Insya Allah.


Amsterdam, Foostrip, 21.30 malam, Selasa, 15 September 2026

Friday, September 11, 2026

Stop fighting the reality

 Stop resisting reality.

Acceptance is not the same is giving up. 

You don’t have to pretend to like what happened or want things to stay bad.


But you can end your internal exhaustion and channel your energy for healing and actions by stop arguing with life as it is. By stop fighting for the facts that you cannot change.


And then we can feel our soul grows quietly and our body more relaxed. To be finally get the realization that we are where we’re supposed to be.


***


Hidup itu mengalir saja dengan apa yang ada.

Seperti aliran sungai yang tak memaksakan dirinya menembus bebatuan di sepanjang sungai, ia dengan ringan berbelok mencari jalan yang dimudahkan.

Seperti ikan yang tak memaksakan diri memakan buah masak syang ranum yang nampak bergelantungan di pohon di atas air. Sang ikan tak memaksakan diri untuk keluar dari habitatnya untuk sekadar mencari penghidupan. Dia bisa mati kalau memaksakan diri.

Seperti burung yang pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang, hanya dengan mengandalkan kemampuan sepasang sayapnya untuk terbang mencari makanan. Ia tidak sepandai kera yang bisa bergelayutam dari satu pohon ke pohon lain dan cekatanengambil buah-buahan. Ia tak sejago ikan yang bisa berenang menangkap mangsanya di dalam air. Ia pun tak secekatan singa yang bisa berlari cepat menangkap binatang lain. Burung memang ‘cuma’ punya sepasang sayap, tapi itu cukup untuk hidupnya. 

Apapun yang Allah berikan kepada kita, pekerjaan yang itu, kondisi yang itu, semuanya mestinya cukup untuk memenuhi hajat hidup, dan seringnya mestinya berlebih. Tapi kita mesti hidup sesuai dengan realitas yang ada. Jangan seperti punik merindukan rembulan. Sengsara hidup seperti itu. Hidup apa adamya saja. Adanya rumah yang itu syukuri, walaupun ngontrak. Who cares? Yang penting kita ngga nyolong dan ngga korupsi. Hidup lurus-lurus saja sambil menikmati dan mensyukuri keadaan dari saat ke saat. Go with the flow. Jangan melawan arus takdir yang mengalir dari saat ke saat agar bisa belajar berselancar dalam aliran-Nya. Bertasbih. Tersenyum menjalaninya. Insya Allah.


Amsterdam, Wibautsraat, menunggu anak-anak pulang sekolah. Jum’at, 11 September 2026

Thursday, September 10, 2026

Pandanglah langit agar dada kita tidak sempit

 Lihatlah ke langit malam

Saat bintang-bintang nampak bertaburan

Kerlap-kerlipnya adalah sebuah tasbih

Mengingatkan kita untuk senantiasa melihat ke Atas

Agar jangan tenggelam dalam kehidupan bumi

Lihatlah ke atas, menembus cakrawala

Rasakan kemegahan ciptaan yang tengah digelar di depan kita

Trilyunan galaksi membentang

Akan tetapi insan mulia Rasulullah Muhammad SAW diturunkan di bumi kita yang kecil ini

Untuk sebuah alasan yang agung

Sebuah pagelaran dahsyat dari Dia Yang Cinta untuk dikenal*

Pandanglah baik-baik konstelasi bintang yang ada

Bagaimana semua patuh dalam posisinya masing-masing

Hingga berfungsi menjadi petunjuk bagi manusia

Kita pun begitu, kalau berserah pada karsa-Nya

Hidup kita akan bagaikan bintang-bintang di malam hari

Bersinar terang di tengah kelamnya dunia

Menjadi pembawa kabar gembira bagi semestanya masing-masing

Maka tatkala dada merasa sempit oleh sekian tekanan kehidupan

Pandanglah langit, ingatlah bahwa alam raya yang ada demikian luas

Tak sesempit sekadar masalah yang mengungkung kita semata

See beyond all worldly manifestations

Jangkaulah alam-alam lain yang tengah juga digelar

Agar pemahaman kita lebih lengkap dengan kehidupan

Agar lebih lapang dada kita karenanya

Dan agar cahaya-Nya semakin bertambah menerpa qalb hingga sampai di intinya. 

Insya Allah. 


* "Aku adalah khanzn mahfiy (khazanah yang tersembunyi), Aku cinta untuk dikenal, maka Aku menciptakan makhluk agar Aku dikenal."- Hadits Qudsiy

Amsterdam, Kamis 10 September 2026 - renungan dari melihat langit semalam.

Saturday, September 5, 2026

Sabar atas hal yang tidak kita senangi

"...Akan tetapi, Allah menjadikan dari hal yang tidak kita senangi itu kebaikan yang banyak..."

- Rasulullah SAW

***

Kalau kita melabuhkan kebahagiaan berdasarkan situasi dan kondisi yang kita senangi saja, itu sangat riskan dan berpotensi sengsara berkepanjangan, karena natur kehidupan dunia itu akan banyak hal yang bertentangan dengan keinginan dan cita-cita kita. 

Artinya, kalau kita merasa tenang hanya pada saat uang cukup, lantas ketika Allah menempatkan kita dalam posisi serba pas-pasan bahkan kekurangan apa kita lantas menjadi menderita karenanya? 

Kalau kita melabel hidup bahagia berdasarkan sekian banyak pencapaian duniawi, "Oh kalau bisa masuk perguruan tinggi itu, oh kalau keterima kerja di tempat keren itu, oh kalau gajiku mencapai X rupiah, oh kalau aku bisa menempati posisi tinggi itu, oh kalau aku bisa menikahi dia, oh kalau bisa punya sekian anak...dan terus menerus persyaratan yang kita sematkan di dalam benak kita sendiri atas makna kebahagiaan maka kita hanya akan hidup seperti mengejar bayang-bayang. Karena keinginan manusia itu tidak akan ada habisnya. Setelah dapat ini, pengen yang itu. Setelah dapat yang itu pengen yang di sana. Terus begitu. Sampai Rasulullah SAW mengatakan satu-satunya yang bisa mengenyangkan anak Adam adalah ketika mulutnya penuh dengan tanah. Baru dia diam, tidak ingin ini dan itu. Tapi artinya kalau sudah mulut dengan tanah berarti sudah mati jasadnya, dikubur di kegelapan bumi. 

Lantas, apakah kita mau menggadaikan kesempatan hidup di dunia yang hanya sekali ini kepada sekian fatamorgana yang kita anggap sebagai kebahagiaan? It's very risky things to do. 

Maka agama memberi panduan, agar tidak salah kita dalam menetapkan arah dan prioritas hidup. Kuncinya berserah diri (aslamna) pada qadha dan qadar-Nya. Artinya bahagia itu bukan hal yang harus dikejar melainkan sesuatu yang harus disingkap, karena sumber-sumber kebahagiaan selalu ada dari saat ke saat. Tapi ketika kita melabel sebuah kondisi kurang dengan sebutan "merana", sebuah kondisi "sakit" dengan label "menderita", maka kita menjadi tidak tersenyum di hati saat menjalaninya. 

Berserah diri (islam) itu kunci agar dibukakan karunia cahaya Allah berikutnya yaitu nur iman. Syaratnya taubat, hati ingin kembali mencari-Nya, ingin mengenal kehendak-Nya, ingin dituntun setiap saat oleh-Nya, ingin hanya mengerjakan apa yang Dia ingin kita kerjakan. Itu yang kemudian akan membentuk hati yang taqwa. Dan Allah berjanji, kalau seseorang bertaqwa, dia akan diajari langsung oleh Allah. Dia akan dibuat paham akan sebuah fenomena yang dulu memusingkannya. Dia akan dibuat mengangguk tersenyum atas sebuah situasi yang dulu membuat pusing kepalanya. Dia akan dibuat bersabar menjalani keadaan yang dulu sangat berat dijalaninya bahkan hingga menolak takdirnya. Sebab pintu sabar akan otomatis terbuka seiring dengan dibuat pahamnya kita akan sesuatu dikarenakan pengetahuan yang Allah ajarkan ke dalam qalb seseorang. 

Secara praktisnya, sabar saja dulu menjalani apa yang ada. Jangan keluhkan apalagi mengutuk takdir yang ada dan melabelnya dengan ungkapan-ungkapan yang buruk. Yakini bahwa di segala hal yang Dia izinkan hadir dan mewujud tersimpan banyak hikmah yang kebaikan yang banyak. Just surrender to His will...


Amsterdam, Sabtu sore menanti tiga anak yang sedang jalan-jalan ke kota.

5 Agustus 2026 / 23 Rabiul Awwal 1448 H


Friday, September 4, 2026

 “Ini foto ruang tempat aku berdoa, Tessa.

Terima kasih sudah memberiku saran agar aku lebih sering berdoa. 


Dan kamu benar, Tessa, setelah aku sering berbicara kembali kepada Tuhan, sesuatu yang lama aku tinggalkan karena kesibukan kehidupanku, aku makin mulai merasa tenang menghadapi kehidupan, seganas apapun badai yang menerpa. Sekarang aku ngga mudah stress seperti dulu. Lebih santai.


Sekali lagi aku mau berterima kasih kepadamu atas saranmu itu. Dan tahukah kamu bahwa yang menyarankan agar aku kembali kepada Tuhan dan berdoa itu banyak, termasuk suamiku. Tapi entah hatiku merasa tergerak justru setelah kamu yang mengatakannya. Aneh, tapi nyata. Tapi doa memang perisai dan senjata dalam menghadapi kehidupan.


Maka, aku hendak berterima kasih kepadamu dengan mentraktir kamu makan siang. Boleh ya?”


“Sure, why not”🤩


Alhamdulillah, rezeki siang ini. 

Dan yang bikin saya senyum haru adalah bagaimana Allah merespon segenap ciptaan-Nya, walaupun Dia dipanggil dengan nama lain. Allah sungguh Maha Pengasih dan Maha Penyayang. 🥰


NB: rekan saya yang curhat ini beragama Hindu🙏🏻

A lot has happened in seven years

 Seven years ago,

The calendar turned, the seasons flew,

Seven years have come and gone.


So much has happened in this space,

It’s when time unraveled many things,

And we watched unexpected grows.


The house changed, the city shifted,

The toddler takes a giant stride,

The heavy fog has slowly lifted.


Seven years of breath and change,

Yet through the loss and all we gained,

The longing and strength to carry on remained.


Alhamdulillah ya Rabb❤️ Thank you.


Amsterdam 4 Sept 2026, the holy day of Jum’ah

Still in the month of the birth of the holy Prophet salallahu ‘alaihi wassalam, 22 Rabi’ul Awal 1448 H