Friday, July 3, 2026

Ikhtiar 'menyentuh' wajah-Nya

 "Aku menciptakan Muhammad pertama kali dari Cahaya Wajah-Ku"

- Hadits Qudsiy dalam Mukadimah kitab Sirrur al Asrar, Syaikh Abdul Qadir Jailani. 

Menurut Syaikh Abdul Qadir, makhluk pertama yang diciptakan Allah adalah ruh Muhammad SAW. Ia diciptakan dari pancaran keindahan Ilahi. 

Hadits lain riwayat Abu Daud mengatakan, 

"Yang pertama Allah ciptakan adalah ruhku (ruh Muhammad SAW). Dan yang pertama Allah ciptakan adalah cahayaku (Nur Muhammad SAW). Dan yang pertama Allah ciptakan adalah pena. Dan yang pertama Allah ciptakan adalah akal." 

Artinya ruh Muhammad, nur Muhammad, pena dan akal (aql) adalah satu entitas tunggal. Inilah yang disebut dengan Hakikat Muhammad. 

Bayangkan semesta ciptaan, termasuk milyaran (mungkin trilyunan) galaksi di luar sana yang megah ini dicipta dari satu bagian dari Cahaya Wajah-Nya! It's mind blowing even just to imagine. 

Kesadaran akan hal seperti ini membuat kita tidak terlalu tenggelam dalam hiruk pikuk kehidupan dunia. So we don't miss the big picture. Supaya kita tidak terseret-seret arus kehidupan yang akan berubah dari waktu ke waktu. 

Artinya takdir kehidupan kita itu amazing banget! Hanya kita saja yang sering tidak menyadari kemegahan karya agung Ilahiyah ini dan menjadi tidak bersyukur kepada-Nya. Manusia yang sebenarnya terlahir dengan fitrah untuk menghamba kepada-Nya menjadi kehilangan nilai kemanusiaannya ketika menjelma menjadi budak-budak hawa nafsu dan syahwatnya. Ia menjadi melupakan Allah. Padahal Dia sudah demikian rindu untuk dikenal kembali. 

Sadarilah bahwa di dalam setiap aliran takdir dari hari ke hari itu tersimpan surat cinta dari-Nya. Yang harus kita baca. Iqra bismirabbika ladzi khalaq. Membacanya dengan menyertakan Dia sang Rabb Yang Menciptakan kita. Yang paling tahu apa yang terbaik bagi dunia dan akhirat kita. Yang paling paham siapa diri kita. Yang paling mengerti apa ketakutan kita dan apa yang membuat kita sembuh. 

Kembalilah kepada-Nya...karena Dia selalu menanti.


Amsterdam, 3 Juli 2026 / 18 Muharram 1448 H jam 13.00 siang

Facing our reality, one day at a time

 The only reality is what is in front of you, at this moment. All else is an illusion.

Hidup itu sederhana sebenarnya, jalani apa yang ada di hadapan dari saat ke saat, apa adanya. Tanpa embel-embel label "kurang", "lebih", "telat", "terlalu dini atau prematur" dll. Karena yang sering membuat emosi muncul dan menggurita adalah ketika kita melabeli fenomena-fenomena tertentu apalagi kalau ditambah dengan dibubuhi kisah drama yang akhirnya menjadikan kita seorang "Drama Queen" ketika menjalani takdir kehidupan. 

Ketika seseorang - yang terutama kita kasihi - terlambat membalas pesan kita. Kemudian kita melabeli fenomena ini dengan "dia tidak peduli padaku" lalu ditambah bumbu cerita "jangan-jangan dia sedang sama yang lain" plus background soundtrack horror di belakangnya. Komplit sudah film drama yang membuat kita menderita. Padahal kenyataannya bisa jadi sama sekali tidak seperti yang kita bayangkan. Dan, kalaupun memang terjadi apa yang kita takutkan itu, sadarilah dengan membayang-bayangkan film drama tadi saja itu berarti kita sudah membiarkan urusan orang lain merampok waktu, tenaga dan perhatian kita yang mestinya difokuskan untuk ibadah dan beramal shalih. Rugi!

Memang tidak mudah mempersepsi kehidupan apa adanya. Otak kita sudah cenderung terbiasa melabel segala sesuatu dan kreatif mengolah kisah yang bukan realitas yang sebenarnya. Tapi kebiasaan tidak produktif ini bisa dilatih dengan pertolongan Allah. Kuncinya adalah banyak dzikir dan stay at your present moment. Lihat dunia dan kehidupan apa adanya, tanpa harus mengimbuhkan label. Kalau kita cek saldo di rekening ada uang dua ratus ribu, ya bilang sama diri sendiri, saya punya dua ratus ribu. Lalu katakan alhamdulillah sebagai bentuk syukur. Jangan lihat rekening dan jumlah uang dua ratu ribu lantas ketar-ketir lantas melabel situasi itu dengan "duh, gue miskin ya. " atau otak dramatisnya jalan dengan membayangkan "wah, bisa makan ngga ya sampai akhir bulan?" Padahal lho masih cukup ada makanan untuk hari ini. Ya hari ini. Karena kita kan melangkah hari demi hari. Masalah besok? Akan ada rezekinya tersendiri, lihat saja. Yang penting tawakal penuh sama Allah, rezeki mah dijamin! Sok lihat. Jangan kalah sama burung yang mengais rezekinya dari hari ke hari

"Jika kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya Dia akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Dia telah memberikan rezeki kepada burung yang berangkat di pagi hari dalam keadaan perut kosong dan kembali dalam keadaan perut kenyang."  Hadits dari Umar ra dalam HR Tirmidzi no. 2344

Amsterdam, memasuki musim panas, 3 Juli 2026 jam 10.35 pagi

Tuesday, June 30, 2026

Hidup yang Thayyib, bukan sekadar Hidup Baik

 "Barangsiapa beramal shalih, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia seorang mukmin, sungguh, Kami pasti akan berikan kepadanya kehidupan yang thayyibah..."  - QS An Nahl [16]:97

Yang kita cari itu sebenarnya hidup yang thayyib, sering diterjemahkan dengan "hidup yang baik". Tapi terjemahan "baik" kadang menciutkan makna apa adanya. Karena "thayyib" itu terkait dengan  "syajarah thayyibah"  yang Allah sebutkan dalam QS Ibrahim. Bahwa setiap kita harus tumbuh menjadi pohon yang berbuah baik di muka bumi ini. Jadi kebaikan sebuah kehidupan dan urusan itu terkait dengan apakah sesuatu itu bisa menunjang pertumbuhan pohon diri kita masing-masing? 

Oleh karena itu tidak semua hal yang baik di mata orang adalah baik juga buat kita. Tapi sesuatu yang thayyib buat diri pasti akan membawa kebaikan. Jadi carilah "hidup yang thayyib" yaitu kehidupan yang sesuai dengan tuntunan Allah Sang Pencipta kita. Bukan kebaikan kehidupan yang hawa nafsu dan waham kita inginkan dengan berpikir, oh hidupku akan baik kalau aku menikah dengan dia, bekerja di tempat itu, punya ini dan itu dan segala kondisi kehidupan yang kita anggap desain yang terbaik, tanpa pernah bertanya atau berkonsultasi bahkan mencari tahu apa desain yang terbaik bagi diri sendiri yang pengetahuan tentang itu hanya Allah yang tahu dan informasi awal dari pengetahuan itu sudah dikabarkan kepada sang jiwa kita jiwa kita semua berkumpul di Alam Alastu (Alam Persaksian) , seperti yang tertuang dalam QS Al A'raaf [7]: 172,

(Ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari tulang punggung anak cucu Adam, keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksiannya terhadap jiwa mereka sendiri (seraya berfirman), "Bukankah Aku ini Rabbmu?" Mereka menjawab, "Betul, Engkau (Rabb kami), kami bersaksi" (Kami melakukannya)  agar pada hari Kiamat kamu tidak mengatakan, "Sesungguhnya kami lengah terhadap hal ini."

Dengan kata lain, kehidupan yang thayyib adalah kehidupan yang cocok dengan natur jiwa masing-masing. Tak berlebih dan tak kurang. Semuanya dikadar sudah pas oleh Allah sebenarnya, kalau saja kita mau bersyukur dan merasa qanaah dengan apa yang ada. Kuncinya, sebagaimana di QS An Nahl di atas adalah iman dan amal shalih. Jihad kita adalah menjaga agar hati terus bersinar dengan cahaya imannya dengan tidak mensekutukan Allah dalam segala aspek kehidupan. Dengan nur iman itu, maka amal shalih akan mudah terbaca. Sesuatu yang Allah ingin kita lakukan atau respon dari saat ke saat. Apakah harus menerima tawaran yang ada atau menolaknya? Harus pergi sekarang atau 10 menit lagi? Harus pindah atau tetap tinggal di sana? Hingga ke hal keseharian, baju apa yang dipakai, menu apa yang dimasak, apakah harus membubuhkan garam lagi atau tidak? Hingga tak ada setiap aspek dan nafas dalam kehidupan kita yang tidak disertai oleh dzikir kepada Allah. Itulah cara mempertahankan cahaya dalam qalb, agar dia tidak pudar apalagi padam, na'uzdubillahimindzaalik.

Amsterdam, Selasa 30 Juni 2026 jam 15.14 Di perpustakaan Reigersbos, lepas management meeting KFC dan jelang menjemput Rumi untuk les biola. 

Wednesday, June 10, 2026

Indahnya hidup pas-pasan

 Ini renungan jujur memasuki usia 48 tahun.


Saya merasa lebih resah saat punya yang berlebih dibanding saat uang pas-pasan.


Karena saat berlebih hawa nafsu rasanya lebih bergelora dan seolah-olah kita bisa melakukan banyak hal atau membeli sesuatu yang membuat kita senang tapi apakah semua itu Allah ridhoi atau kita tergelincir menyenangkan syahwat dunia saja?


Sementara kalau uang pas-pasan jelas hawa nafsu tak berkutik, wong ngga ada pilihan. Ya makan yang itu saja dan ngga usah macam-macam ingin ini atau itu. Dan berdasarkan pengalaman, Allah sang Rabb selalu mengaturkan dengan sangat menakjubkan.


Jadi, bahagialah orang yang hidupnya pas-pasan. Pas butuh pas ada. Life is so simple. Semua sudah Allah aturkan☺️.


- Renungan di tengah simposium di Universitas Leiden, Rabu 10 Juni 2026

Tuesday, June 9, 2026

Ketika kita kehilangan sesuatu yang kita cintai

 The risk of love is loss, and the price of loss is grief—but the pain of grief is only a shadow when compared with the pain of never risking love." — Hilary Stanton Zunin

Bagian dari hidup adalah merasa segala sesuatunya. Bahagia-duka, tangis-tawa, kecewa-berpengharapan, loyo-semangat semua perasaan akan dipergantikan seiring dengan aliran takdir kehidupan kita masing-masing yang sudah didesain dengan sangat presisi oleh Sang Maha Pencipta. 

Dan kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahuinya selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya, tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam kitab yang nyata (Lauḥ Maḥfūẓ). QS 6:59

Jika sehelai daun atau sebutir biji saja Dia tahu ihwalmya, apalagi manusia dan segala warna kehidupan yang berkelindan di dalamnya. Artinya, seseorang datang dan pergi dengan izin-Nya. Seseorang melontarkan kata-kata pedas atau bersikap yang membuat kita tidak berkenan pun dengan izin-Nya. Tak ada satu pun sesuatu yang terjadi dan mewujud di alam ini yang tanpa ilmu dan kuasa-Nya. Artinya Dia senantiasa hadir. Hanya hijab hati kita yang menyelubungi dari dari meeadakan kehadiran-Nya hingga akhirnya kita hanya tertawan dengan fenomenanya saja sambil alih-alih sibuk memanggil-Nya, kita malah menghabiskan terlalu banyak waktu untuk mencoba melogikakan semua kejadian yang ada sambil menjustifikasi luapan emosi sesaat diri sendiri.

Kita lupa bahwa kita Bani Adam. Nama “Adam” berarti “tidak afa”. Awalnya kita tidak ada, saking tidak adanya sampai disebut sebagai “entitas yang tak bernama”, saking ngga adanya sampai tak bisa dinamai. Kemudian Allah Ta’ala meminjamkan kita bentuk-bentuk wujud secara bertingkat dari Alam Jabarut, Alam Malalut dan Alam Mulk, hingga kita mewujud menjadi manusia yanh memiliki ruh, jiwa dan raga. 

Kita luoa bahwa kita lahir telanjang ke bumi ini dan tidak membawa apa-apa. Modal cahaya fitrah yang ada sejak lahir pun memudar bahkan sebagian besar manusia hatinya gelap gulita, tanpa cahaya, na’udzibillahimindzallik. Konsekuensi dari gelapnya hati adalah dia menjadi diperbudak oleh hawa nafsunya. Karakternya berubah dan orientasi hidupnya hanya untuk memuaskan sang tuan dalam dirinya, yaitu egonya sendiri. Ini adalah penyebab penderitaan hidup, karena karakter hawa nafsu adalah tinggi “aku”-nya. Seperti gurita berlengan ratusan ia akan meraih apa-apa yang dirinya sukai dan mengklaimnya dengan mengatakan “pekerjaanku, milikku, hidupku, kekasihku, anakku, mimpiku…aku..aku..gue…” 

Mencintai sesuatu adalah bagian dari kehidupan. So, its okay. Allah pun mafhum. Hanya kuncinya jangan terlalu berlebihan mencintainya. Karena semua selain wajah-Nya akan hilang, pergi, mati, binasa, berubah dll. Dan kalau kita clingy, terlalu menggenggam erat-erat apa-apa yang dipinjamkan sesaat lepada kita itu, maka itulah sumber penderitaan kita. 

Jadi sebenarnya secara esensial, bukan takdir kehidupan yang jahat dan kejam lalu menyakiti kita, takdir itu nettal, dia berjalan apa adanya sesuai dengan tulisan skenario Sang Pencipta, tapi ketika respon diri terhadap takdir tertentu dirasa berat, mesti ada sebuah kemelekatan tertentu di dalam hatu yang membuat kita merasa tergerinda ketika menjalaninya.

So what should i do?

Surrender. Berserah diri pada ketetapan-Nya. Hidup dan semuanya adalah milikNya.

“Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun”

Kita milik Allah dan akan kembali kepada-Nya.

Let life be. And work with God’s flow. 

Dan saksikan bagaimana sang waktu wfektif membasuh kemelekatan itu hari demi hari. Just take it one step at a time. One day at a time.

At some point you will feel such relief. That you are being freed from the slavery of creation to return (tauba) to Allah.

Laa ilaha ilallah…


On a train ride to Leiden, menghadiri sidang defense Mas Nur Ahmad, 9 Juni 2026 jam 10.27 pagi di musim semi yang cerah

Friday, June 5, 2026

Choose to be happy, no matter what!

 Choosing joy ia a daily, resilient practice. It means choosing to find contentment and gratitude, even when your circumstances aren’t perfect.

But remember that joy does not require a perfect life. It simply asks us to notice the small blessings woven into each day.

***

Kita harus melatih diri untuk mensyukuri setiap aspek kehidupan untuk pada akhirnya diberi hati yang bersyukur. Terutama berjuang menerima saja dulu hal-hal yang kita masih berat bahkan sakit untuk menjalaninya. Penerimaan dan tidak meronta-ronta itu sendiri sudah sebuah langkah besar untuk bisa bersyukur. Karena kalaupun ngga nrimo, masalahnya takdir yang itu juga yang tetap harus kita jalani. Lebih baik cari cara bagaimana agar menjalaninya dengan less painful. Caranya dengan banyak-banyak dzikir. Karena sudah dijamin Allah,

Hanya dengan mengingat Allah (dzikrullah) hati menjadi tenteram

QS Ar Ra'd:28

Hati kita itu sepatutnya menjadi tempat tajali Allah. Tidak ada yang bisa memenuhi hati kita kecuali Dia Taála. Apapun obyek-obyek ciptaan yang coba kita jejalkan di dalamnya tidak akan pernah bisa memenuhi hati seorang manusia. Hanya Allah yang bisa.

Tidak memuat-Ku lelangit-Ku dan bumi-Ku, kecuali qalb hamba-Ku yang mukmin.

- Hadits Qudsiy

Dengan dzikir, seseorang berupaya menyambungkan dirinya dengan Allah. Agar koneksi itu terjalin. Dan Dia senantiasa hadir setiap kita mengingat-Nya dalam sepi maupun ramai, dalam kesenangan maupun kesedihan. Kehadirannya itu yang membuat hati lapang, damai, , tenteram, happy. Joy is another inevitable consequence of the Divine presence. Itulah yang dimaksud dengan hati yang bersyukur. Walaupun badai kehidupan masih menggila dan mengelilingi kita, tapi hati dibuat tenang menghadapinya, karena Allah menyertai kita. []

Amsterdam, Jumát 5 Juni 2026, jelang BHV training, 10.14 pagi


Tuesday, June 2, 2026

Takdir hidup itu menyembuhkan

 "Pena telah diangkat dan lembaran telah kering"

- Rasulullah SAW

Kemunginan-kemungkinan takdir hidup kita telah tertuliskan. Adapun kita mengalir ke arah takdir yang mana itu tergantung kondisi hati kita. Maka sebuah penyakit hati bisa mengakibatkan kita mengalir ke sebuah takdir tertentu yang bisa jadi menyakitkan ketika melampauinya, tapi bagaimanapun itu takdir itu bersifat mensucikan. Ada obat di semua penggal takdir yang kita jalani. Setiap penggalnya, karena Allah tidak menciptakan sesuatu sia-sia. Tidak pernah!

Maka, wajar kalau Ali r.a. pernah berkata bahwa jika kita melihat ada keburukan di orang lain, cabutlah dari hati kita. Sekilas pernyataan itu membuat kita bingung. Lha wong yang melakukan keburukan orang lain, kok mencabutnya dari dalam hati kita sendiri? Itulah rahasia besar kehidupan. Kesadaran bahwa semesta sekeliling kita adalah sebuah cermin canggih ini merupakan salah satu ilmu tertinggi dalam hidup. Beruntunglah orang-orang yang Allah beri kesadaran tentang itu. Dengannya, ia melihat sekitarnya dengan sebuah ketundukan dan ketakziman, sadar bahwa apapun yang mewujud tak lain adalah pancaran dari kondisi hati kita dari saat ke saat.

Inilah jalan pertaubatan, kembali kepada Allah. Kembali mengingat bahwa segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Jika kita paham ini, akan lebih ringan dalam menjalani hidup. Ringan itu adanya di hati, sebuah ketenangan walaupun di tengah badai kehidupan sekalipun. Dengan keyakinan bahwa Allah tidak akan menzalimi hamba-Nya bahkan sebesar dzarrah sekalipun. Tidak mungkin. Jadi jalani kehidupan dengan tersenyum, syukuri apa yang ada dan terus berpengharapan kepada-Nya serta sabar dalam menanti ketetapan-Nya. This to shall pass...

Amsterdam, 2 Juni 2027

Musim semi yang mendung dan hujan, jam 11.09