Tuesday, March 24, 2026

Agar seimbang dunia dan akhirat

 Do your duty. 

Handle your responsibility.

Just don’t let them hold your soul.

***

Hidup itu harus seimbang. Karena beragama bukan berarti mengabaikan aspek dunia kita. Justru sebaliknya, setiap takdir dunia yang ada itu adalah anak-anak tangga agar jiwa kita bisa (mi’raj) naik ke langit. 

Karenanya orang yang benar mendalami agamanya justru akan semakin mahir dalam mengatur urusan dunianya. Akan makin produktif, makin berprestasi dan makin menebarkan rahmat bagi sekitarnya.

Itulah fungsi kita di bumi ini. Agar menjadi khalifah-Nya, wakil Allah di bumi, yang menebarkan rahmat bagi alam semesta. Dan seorang abdi-Nya tidak akan pilih-pilih pekerjaan. Ia akan bersuka cita dengan semua bentuk takdir yang ada. Menyadari bahwa semua yang ada adalah dari-Nya yang dia sambut dengan adab yang baik dan sepenuh penghadapan wajah. 

Amsterdam, 24 Maret 2026 

Sore hari jelang antar Rumi extra les biola, 15.22 

Live another day. Live it fully!

 Memasuki konflik perang Iran vs Israel-Amerika di minggu kedua. Di era internet ini kita bisa menyaksikan berbagai video yang diunggah ke sosial media tentang situasi harian di daerah konflik. Satu video yang membuat saya menuliskan ini adalah rekaman yang menggambarkan bagaimana seorang perempuan terus berdzikir menyebut Allah di tengah gempuran rudal yang salah satunya mengenai dirinya dan menjadikan itu akhir dari video yang sempat terekam, masih terdengar suara nafas jelang sakaratul mautnya. Sangat mengerikan.

Perang zaman sekarang berbeda, semua senjata penghancur dikendalikan dari jarak jauh dengan saya hancur yang besar yang membuat kita nyaris tak punya tempat berlindung. Artinya bagi mereka yang tinggal di daerah konflik setiap saat waspada apakah kali ini rudal dan drone-drone penghancur itu menimpa mereka. Bayangkan jika kita hidup seperti itu, setiap saat bersiap mati. Dimana kematian menjadi pemandangan keseharian di sekitar kita. Tentu tak akan berangan-angan panjang. Boro-boro memikirkan pendidikan, ambisi, angan-angan, membangun bisnis dll. Uang, emas dan semua harta bahkan kalau bisa ditukar dengan lima menit saja jaminan keselamatan terhindar dari ledakan bom. 

Hidup kita berubah saat berhadapan dengan kematian. Prioritas hidup kita bergeser. Apa-apa yang sebelumnya dianggap penting menjadi relatif tak berguna. Di saat itu kita sebenarnya menjadi menyadari hal yang paling penting yang sering kita lupakan di masa damai dan tenang. Sesuatu yang akan menjamin kehidupan kita bahkan setelah nyawa meninggalkan raga ini. Bahwa ternyata hidup tidak berakhir dengan kematian jasad. Bahwa kehidupan akhirat mestinya menjadi orientasi kehidupan kita saat di dunia. Kita jadi lebih menghargai nilai satu tarikan nafas kita. Jadi lebih mengagungkan Dia yang memberikan semua nikmat ini kepada ciptaan-Nya. Selagi kita dibuat damai situasinya, mari berbekal yang banyak. Live our life fully, day by day. Agar tidak menyesal nanti…


Amsterdam, Selasa 10.27 pagi

24 Maret 2026 / 5 Syawwal 1447 H

Monday, March 23, 2026

Ketika ibu memutuskan membunuh diri

“Live today because tomorrow is not promised…”


 Saya memutuskan memiliki tato ini sehari setelah ibu saya bunuh diri. We didn’t saw it coming. Kejadiannya cepat dan tiba-tiba. Ibu adalah orang yang sangat aktif dan tidak bisa diam, selalu saja ada hal yang beliau kerjakan. Maka ketika ibu terserang stroke yang membuat separuh badannya lumpuh dan sulit untuk berkata-kata, beliau menjadi sangat terpukul karenanya. Dua bulan setelah menjalani terapi, suatu hari tetangga menemukannya gantung diri dengan menggunakan kain-kain yang dibelitkan di lehernya. Kain-kain yang biasanya dia pakai untuk membuat berbagai pakaian untuk menyalurkan bakat kreativitasnya. Kain itu dililitkan sembilan putaran di lehernya, sebanyak jumlah anak-anaknya yang sembilan orang itu.


Saya masih berusia remaja saat itu terjadi. Setiap anak-anaknya berusaha menjalani hidup dengan terhuyung-huyung setelah itu. Banyak yang mencari pertolongan ke terapis. Adapun aku, aku menjadi berkelana dari satu agama ke agama yang lain. Aku ke gereja, ke mesjid, ke kuil, untuk mencari jawaban atas pertanyaan, “Mengapa ibuku ya Tuhan?”


Sejak saat itu saya sadar bahwa hidup demikian rapuh. One day we have everything and the next day it’s gone. Apapun yang kita miliki dan nikmati bisa hilang dalam waktu sekejap. Maka saya cenderung hidup di saat ini. Di hari ini. Karena besok belum tentu datang.

- Dari bincang malam di restaurant, Amsterdam, Senin 23 Maret 2026 dini hari 




Thursday, March 19, 2026

Anakku Cahaya Mataku

 You’re amazing Rumi.

I’m so grateful for you.

😍

Mama tahu Rumi masih ngantuk dan lelah setelah beraktivitas seharian, tapi Rumi tetap bersikukuh makan sahur. “Sunnah Rasul” katamu dengan yakin.

Walaupun mata masih merem-melek karena masih mengantuk. Perlahan tapi pasti Rumi mengunyah protein bar dan kurma, makanan favoritmu.


Ketika adzan shubuh tiba. Tubuh mungilmu dengan cekatan mengambil air wudhu dan melakukan shalat bersama mama. Namun setelah dzikir, di saat Mama pikir Rumi akan tidur lagi, kau memilih langkah mengambil Al Quran yang kau simpan rapi di bagian atas rak buku, sebagai bentuk penghormatan tertinggi. Setelah sebelumnya memeluk dan mencium Al Quran, Rumi duduk membacanya dengan syahdu.


Sungguh sebuah pemandangan yang menyejukkan hati. Cahaya mata Mama.


Alhamdulillah. Semoga Allah menjaga fitrahmu dan menjadikanmu anak shalih.


Love,

Mama


Jelang akhir Ramadhan 1447 H




Monday, March 16, 2026

Kita tak sadar telah membunuh anak kita

 Ada penggal sesjarah memilukan di zaman Nabi Elisha a.s. - yang menerima mandat kenabian setelah Nabi llyas (Elijah/Elia) a.s. Kisah ini terjadi di masa pemerintahan Raja Yoram, raja Bani Israil yang tidak patuh sehingga rakyatnya diuji dengan kekeringan dan tidak tersedia bahan makanan dalam kurun waktu yang lama. Sebuah kondisi kelaparan yang luar biasa mematikan sehingga orang bisa terpaksa memakan daging manusia untuk sekadar bertahan hidup. 

Dikisahkan ada dua orang ibu yang masing-masing memiliki satu anak yang dalam kondisi menderita kelaparan yang sangat sedemikian rupa sehingga dua ibu itu mengambil keputusan yang musykil yaitu dengan mengorbankan kedua anaknya agar bisa bertahan hidup. Sebuah kisah yang membuat kita menggelengkan kepala tak pecaya, kok bisa seorang ibu tega berbuat itu kepada anaknya? Tapi kalau kita berada dalam kondisi mereka, belum tentu juga kita tidak melakukan hal yang sama. So better no judging, lebih baik kita berlindung kepada Allah dari hal seperti itu. 

Kita bisa merasa kaget dan bahkan jijik membaca kisah di atas. Tapi kita mungkin tidak sadar bahwa kita pun punya potensi untuk membunuh anak-anak kita sendiri? Mungkin tidak membunuh secara fisik, tapi jiwanya dilumpuhkan sedemikian rupa hingga tak berdaya dan dia hidup tidak menjadi dirinya sendiri. 

Kita bisa jadi membunuh jiwa anak kita ketika memaksakan dia mengambil jurusan kuliah yang tidak pas dengan potensi jiwanya, hanya karena jurusan itu tampak keren dan sepertinya lebih menjanjikan masa depan yang cerah. 

Kita bisa jadi memberangus jiwa anak kita ketika memaksanya menikahi seseorang yang bukan jodoh pilihan Allah, semata-mata karena untuk mendapatkan kemuliaan di depan masyarakat. 

Kita bisa jadi melumpuhkan potensi jiwa anak kita ketika tidak menyiraminya dengan cinta kasih tapi penuh dengan kekerasan bahkan kebencian. 

Kita memang tertatih-tatih dan tak berdaya untuk memegang amanah besar untuk menumbuhkan seorang jiwa manusia. Hanya Allah yang Maha Tahu dan Maha Kuasa, karenanya tak ada jalan lain kecuali banyak-banyak berdoa dan memohon pertolongan, kekuatan dan bimbingan kepada Allah Sang Maha Pencipta agar kita benar dalam menjalankan fungsi hidup sebagai orang tua.[]

Amsterdam, 16 Maret 2026 waktu ashar di musim semi yang cerah.

 

Saat kita dibuat tak berdaya

 Yahya a.s. lahir melalui ketekunan, kegigihan dan kesabaran ayahnya, sang Nabi Zakariya a.s. yang dengan rela menanti puluhan tahun sejak janji Allah diberitakan bahwa ia akan diberi keturunan yang banyak hingga pada hari ketika ketetapan itu turun di saat ia dan istrinya sudah berusia senja. Di masa yang musykil untuk mendapatkan keturunan. Karenanya ketika berita itu akhirnya turun, bahwa anak yang dinantikan akan segera didapat, Zakariya sempat meragukannya. Sesuatu yang oleh Allah kemudian dihukumi dengan menjadi bisu selama penantian kelahiran anaknya. 

Masa penantian dan kebisuan adalah periode ketika hidup dibuat sunyi. Seolah tak ada gerakan. Padahal justru banyak hal yang tumbuh dalam kesunyian. Dan Allah justru seringkali mengilhamkan sesuatu ke dalam hati hamba-hamba-Nya tidak melalui kata-kata verbal. Ia seperti embun pagi yang menetes dan membasahi permukaan hati hingga menyerap dan membawa kesegaran tertentu, sebuah pemahaman, cara pandang yang baru tentang takdir kehidupan kita masing-masing.

Tak ada yang perlu disesali dalam hidup. Semua ketidakberdayaan, masa penantian, dan ketika semua pintu kesempatan seolah tertutup rapat, sadarilah kita sedang dalam kondisi didiamkan. Saat semua pintu dunia ditutup itulah saat pintu langit akan terbuka dan kita akan mengenal Dia dengan pengenalan yang jauh lebih indah. Sebuah makrifat yang tak diajarkan oleh satu buku atau satu guru manapun, karena Dia yang langsung mengajarkan dengan memperkenalkan Diri-Nya kepada kita. 

So, be happy for the silence period, for silence is the language of God and all else is poor translation.

Amsterdam, 16 Maret 2027 / jelang malam 27 Ramadhan 1447 H



Belajar menelan rasa sakit

 I know it’s painful. But it is exactly what your soul needed to grow. So endure it. Finds hope in the promise of future glory rather than current circumstances.

***

Ingat, hidup kita masih panjang. 

Kematian dari alam dunia ini adalah gerbang perpindahan ke alam lain yang lebih abadi. Oleh karenanya Allah mengutus rasul-rasul ke muka bumi ini untuk mengingatkan akan hal itu. Bahwa hidup kita ada orientasinya. Bahwa takdir yang sudah Allah tetapkan itu ada tujuannya. Agar kita tidak kehilangan arah dalam hidup. Agar kita tidak salah dalam menyusun prioritas. 

Mendera rasa sakit adalah bagian dari pertumbuhan jiwa. It’s a growing pain. Sesuatu yang raga kita juga rasakan ketika ia harus bertumbuh. Dan rasa sakit bukanlah hal yang buruk, ia salah satu dari hal-hal yang Allah pergantikan. Ia menjadi buruk ketika pikiran kita melabelinya sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan. Padahal kebahagiaan bagi orang beriman hanyalah bersama dengan Tuhannya. Lantas, apakah ada satu noktah takdir kehidupan yang sama sekali bukan berasal dari-Nya dan Dia tidak terlibat di dalamnya?

Sama sekali tidak ada. Karena Dia meliputi segala sesuatu.

Tentang menyikapi dunia ini Syaikh Abdul Qadir Jailani berpesan,

“Dunia ini ada gantinya, yaitu akhirat.

Dan makhluk itu ada gantinya, yaitu Al Khaliq SWT.

Setiap kali kamu meninggalkan sesuatu dari dunia ini, maka akan diciptakan ganti yang lebih baik.”


Amsterdam, 16 Maret 2026 / 27 Ramadhan 1447 H

Sunny day at spring time, 10.34 am