Perjalanan Musa as di paruh akhir hidupnya untuk mencari Khidir as sebagaimana tertuang kisahnya dalam surat Al Kahfi adalah perjalanan manusia untuk memahami dirinya sendiri.
Khidir as dikatakan adalah orang yang berilmu yang bisa mengungkapkan hikmah dan kebenaran di balik penggal-penggal hidup Musa yang diperagakan dalam tindakan-tindakannya yang sempat membuat seorang Musa bingung karena dipandangnya merusak dan melanggar syariat. Tapi Al Quran pun mencatat jawaban Khidir as terhadap berbagai keberatan Musa itu,
“Aku tidak melakukannya berdasarkan kemauanku sendiri…” - QS Al Kahfi:82
Kita semua sebenarnya sedang mencari ‘Khidir’ dalam diri masing-masing. Utusan-Nya yang bisa membantu kita membaca (iqra) seluruh kitab kehidupan kita hingga kita meneguk maknanya dan bersaksi “Rabbana maa khalaqta haadza baathila” bahwa tidak ada yang bathil, tak ada yang salah dan tak ada penggal hidup kita yang sia-sia. Walaupun di mata orang banyak itu seperti sebuah kegagalan, keterlambatan atau bahkan tragedi sekalipun. Karena bukankah kita ingin berdamai dengan takdir yang telah Allah tuliskan kepada diri masing-masing? Baru kemudian kita bisa menjadi hamba-Nya yang bersyukur. Dan makna dari setiap langkah kehidupan akan mulai kita cicipi rasa manisnya. Insya Allah. Kuncinya dimulai dari menerima dan berjuang untuk membaca dengan baik apapun yang Dia hadirkan ke dalam ruang takdir kehidupan kita dari saat ke saat. Iqra, bismirabbikalladzi khalaq. Membacanya dengan menyertakan Dia. Karena hanya Dia yang tahu dan bisa mengajari kita. Pada kenyataannya, apapun bisa menjadi media dan perantara proses pengajaran itu. Memang mesti sabar dan telaten menjalaninya. And sometimes we can get tired or depair but this is the way…
Stasiun Groningen di musim panas yang menyengat, 4 Agustus 2026 jam 10.53 pagi
