Saturday, April 25, 2026

Memaknai 'kegagalan' hidup

"Gagal itu bukan sebuah kejatuhan.

Gagal adalah sebuah pembacaan"

- Mursyid Zamzam AJ Tanuwijaya


Kebanyakan orang emoh dibilang 'gagal'. Seolah-olah sebuah episode kegagalan adalah bagaikan aib besar yang diutup rapat-rapat atau dijauhi dan dicegah sebisa mungkin. 

Tapi kehidupan mengalir menurut dengan kehendak Sang Pencipta. Dan mengalami 'kegagalan' adalah hal yang niscaya. 

Gagal dalam pernikahan. Gagal dalam bisnis. Gagal dalam presentasi. Gagal dalam berkomunikasi. Gagal dalam mendidik anak. Gagal dalam memahami pasangan. Gagal membaca kehidupan. Dan lain sebagainya.   

Kalau memang gagal adalah bagian dari kehidupan, kenapa harus merasa seolah divonis hukuman mati saat kita mengalami kegagalan? Mengalami kegagalan bukan kiamat atau akhir dari segalanya. Ini masalah cara membaca persoalan. Bagaimana kalau kita membaca sebuah kegagalan adalah sebuah bantuan dari Allah Taála untuk mencegah kita memasuki atau melangkah lebih jauh ke sebuah keadaan, bidang, situasi yang tidak baik untuk kita. Sesuatu yang tidak membawa manfaat ke akhirat kita. Hal yang cenderung melumpuhkan dan melemahkan jiwa kita. Keadaan yang membuat kita malah menjadi semakin jauh dari Allah.  Dengan kata lain bahkan sebuah kegagalan sekalipun adalah salah satu dari bentuk rahmat-Nya. Pertolongan Allah Ta'ala agar kita mengalir di sebuah warna kehidupan yang lebih pas untuk diri sendiri. Kita belajar untuk "iqra" membaca aliran takdir kehidupan apa adanya. 

Jadi ketika kita mesti menempuh sebuah episode kegagalan, jangan berkecil hati. Itu bagian dari pertolongan Allah. Tugas kita untuk menemukan kebaikan yang tersimpan di dalamnya. Karena kalau Allah membuat takdir itu tidak asal, selalu ada kebaikan yang melimpah, itu sifat-Nya. Tidak mungkin tidak. Jangan terlalu termakan oleh apa kata orang. Kita harus mensyukuri kehidupan diri sendiri, apa adanya. Kalau bukan kita siapa lagi yang bisa mengagungkan takdir diri sendiri? So, stay calm. Merasa sedih dan kecewa itu wajar, namanya juga manusia. Tapi jangan terlampau larut berlama-lama sehingga dikuasai oleh kesedihan itu. Take a break and then move on. 

Amsterdam, 25 April 2026

Setelah Wawancara Suluk ke-69. Pukul 17.02, setelah melepas anak-anak pergi berlibur ke Skotlandia

Tuesday, April 14, 2026

Jadilah pengembara di dunia

 “Be in this world as if you were a stranger or a traveller along a path.” 

- Rasulullah SAW


Ibn Umar would say, “If you make it to the evening, do not wait for the morning. If you make it to the morning, do not wait for the evening. Take from your health for your sickness, and from your life for your death.”


Traveller itu ga bawa bawaan setruk penuh lengkap dengan sofa, rice cooker, baju selemari dll, itu mah pulang kampung namanya.


Travelling yang nyaman itu ya travel light. Tidak bawa banyak gembolan. Agar bisa berjalan dengan bebas tanpa menyeret-nyeret beban berat.


Para traveller tahu dimanapun mereka singgah akan ada rezekinya di tempat itu, maka mereka bekal seadanya saja.


Dunia ini tempat singgah jiwa-jiwa yang sedang diperjalankan oleh Allah. Tak perlu risau tentang akomodasi dan konsumsi sebenarnya, lha wong Event Organizernya sang Rabbul ‘alamiin sendiri. Kalau taqwa pasti dijamin hayatan thayyiba. Tinggal nikmati segala agenda yang sudah ditetapkan dari hari ke harinya. Setiap hari berbeda-beda walaupun tempatnya tampaknya itu-itu saja, tapi perhatikan tamu-tamu Allah yang Dia hadirkan selalu baru dengan segenap dinamikanya. Karena sungguh setiap saat kita dalam ciptaan yang baru.


Di perjalanan ini kita akan mengingat kembali siapa Rabb, yang jiwa kita sudah kenal saat di Alam Alastu (Alam Kesaksian) dulu (QS 7:172). Setiap etapenya penuh pelajaran di perjalanan dunia ini. Maka perhatikan baik-baik. Baca (iqra) dengan benar. Karena Dia sedang memperkenalkan Dirinya lebih jauh. Lewat kehidupan kita masing-masing yang luar biasa ini. So, enjoy the ride and be a grateful traveller🐫☺️


- Dalam perjalanan ke Rotterdam, 15 April 2026 jam 7.42 pagi

Wednesday, April 8, 2026

Jadilah yang terakhir tertawa

 You’ll Laugh Later


There are moments

that feel serious right now.


Important.

Heavy.

Worth stressing over.


But if you think about it—


A lot of those moments

don’t stay that way.


They pass.


And later,

you look back at them differently.


Lighter.

Less intense.

Sometimes even… funny.


Because perspective changes things.


And what feels big now

won’t always feel that way.


***

Jadilah orang yang tertawa terakhir.

Nanti di alam sana.


Ketika kebenaran terbuka seluruhnya.


Ketika semua pengorbanan dan penderitaan menjadi tak ada apa-apanya dibanding karunia yang didapatkan.


Ketika kesabaran kita menuai buah-buah kesabaran kita.


Biarkan mereka yang tak mengerti itu memandang kita kecil bahkan mengejek habis kita.


Biarkan mereka yang berbeda tujuan hidup itu mencap kita kurang sukses atau terbelakang. 


Jangan pedulikan pandangan manusia, karena hajat jiwa kita lebih kepada ridho-Nya, lebih peduli untuk membuat Allah senang.


Biarkan mereka tertawa sekarang dan kita yang tertawa terakhir nanti. Hanya seorang ulama berpesan, nanti kalau tertawa jangan terlalu keras, kasihan yang lain…

Tuesday, April 7, 2026

Ketika merasa kesepian

 Loneliness is an internal emotional state of disconnection, 

Not a measure of physical solitude.

***

Merasa kesepian itu tidak otomatis berkaitan dengan berada dalam situasi seorang diri. Karena banyak kasus, orang merasa kesepian padahal justru sedang berada dalam kerumunan orang. Di tengah arisan yang pembicaraannya tidak pas, atau berada di tengah kumpul-kumpul atau pesta kantor yang garing rasanya.

Merasa kesepian juga tidak selalu terkait dengan menjomblo alias belum punya pasangan. Karena tidak sedikit orang yang merasa kesepian dalam kehidupan pernikahannya. Pasangan ada di sekitarnya secara fisik tapi terasa jauh sekali hatinya, bahkan di beberapa kasus keberadaannya mengakibatkan munculnya ketidaknyamanan dan rasa tidak aman. 

Here's what i've learned about loneliness. 

It all begins with ourselves. 

Kesepian yang kita rasakan adalah sebuah konsekuensi ketika kita sedang disconnect dengan diri kita sendiri. Jelas sedang disconnect dengan Sang Pencipta. Karenanya tidak ada flow yang mengalir. Mirip seperti handphone yang kehilangan koneksi internet, tidak ada yang bisa didownload pun tidak ada yang bisa di-upload. Kita kehilangan kontak dengan aliran semesta pada saat kita merasa kesepian. Merasa sesak dan sedih padahal kita tengah dikelilingi oleh sekian banyak nikmat dan keajaiban dari-Nya. Tapi ya itu, karena ngga connect jadinya semua itu tidak dipersepsi dan tidak dirasakan. 

Dzikir itu upaya untuk connect lagi dengan Sang Maha Pencipta. Dengannya otomatis Dia akan membuat kita connect dengan diri dan sekitar kita. Itu urutannya. Jangan dibalik. Jadi ihwal wabah loneliness ini tak lain dari penyakit spiritual ketika kita berjarak dengan-Nya. Karena kalau kita sering kontak hati dengan-Nya sudah dijamin oleh Allah dalam QS Ar Ra'd:28

"...hanya dengan dzikr (mengingat/ connect) dengan Allah hati menjadi tenteram" 

Jadi, manakala kesepian menyergap, jangan panik. Ambil wudhu, gelar sajadah, lantunkan munajat kepada-Nya dan rasakan aliran ketersambungan itu kembali. Insya Allah 


Amsterdam, musim semi yang cerah, 7 April 2026 jam 11.29






Sunday, April 5, 2026

Take the risks son

 Take risks son, if you made it, you will be satisfied ; if you lose, you will be wise. 


And here’s what i’ve learned form life; that we are more likely to regret risks not taken, rather than mistakes made from taking action. 


So yes, take the step, even when you have to rise up againts the odds. As long as you have a nod from Allah, just go. Even if it seemingly doesn't work out, but trust me, it is still considered a better experience than the lingering doubt caused by never trying.


Amsterdam, 5 April 2026 on easter day in a windy and cold spring day




Saturday, April 4, 2026

Bertumbuh dalam ketidaknyamanan hidup

 Comfort is the enemy of achievement. So, instead of viewing discomfort as a sign to stop, see it as a signal that you are learning and developing. View challenges as necessary steps toward mastery, allowing you to build resilience and self-soothe when things get tough.

***

Kadang, bayangan kita akan hidup bahagia adalah kehidupan yang semuanya lancar dan nyaris tanpa masalah. Masalahnya, kalau itu yang dijadikan sebagai patokan, kelihatannya para nabi itu orang-orang yang hidupnya “ngga happy” gitu? Padahal mereka adalah golongan tertinggi dalam kategori ahlul nikmah (QS An Nisaa:69), orang-orang yang diliputi nikmat Allah, yang berada di shiraathal mustaqiim. Jalan keselamatan dan kebahagiaan yang kita minta setiap shalat. Di saat yang sama, coba perhatikan kisah hidup para nabi itu tidak mudah sama sekali. Medan konflik yang mereka hadapi besar, ngga sebanding banget sama kita pokoknya. Bagaimana Musa as harus menghadapi umatnya yang ngeyel, bagaimana Nuh as harus menyaksikan anaknya ditelan ombak dan tak diselamatkan, bagaimana Ayub as bersabar mendera sakit dan kehilangan banyak hal, bagaimana Rasulullah SAW lahir tanpa merasakan sentuhan tangan ayahanda dan sudah berpisah dengan ibunya sejak usia persusuan hingga tak lama kemufian ibunya tiada dan beliau harus hidup prihatin.

Lantas, kalau kita menilai kebahagiaan dari fenomena hidup yang nyaman tidak akan masuk hitungan bahagia tuh semua kehidupan paea nabi itu, padahal yakin mereka adalah orang-orang yang paling bersyukur dan berserah diri di antara para umatnya, yang demikian pasti orang yang paling bahagia. Karena mereka kebahagiaannya bertumpu pada Allah, bersandar pada mengerjakan karsa Yang Maha Kuasa, sang Arbbul ‘alamiin yang sudah membeli jiwa dan semua hartanya dengan surga.

Maka jangan berkecil hati ketika takdir kehidupan menyuguhkan sekian menu masalah dan ujian. Bahkan yang tampaknya mewujud sebagai sebuah tragedi di mata kebanyakan manusia, itu bisa jadi adalah rahmat Allah. Agar kita dit uhkan di dunia ini. Agar dibersihkan dari segala hal yang tidak haq. Agar dipersiapkan untuk menjelang kehidupan akhirat yang lebih panjang. Lebih baik mendera kepayahan sebentar di dunia ini dibanding harus membayar semuanya nanti, di alam yang jauh lebih panjang perjalanannya dan lebih berat konsekuensinya.

Belajarlah merasa nyaman untuk keluar dari comfort zone. Memang menakutkan di awal waktu, tapi kalau kita tawakalnya kuat pada Allah, sunggug Dia tak pernah mengecewakan hamba yang bersandar betul kepada-Nya.


Amsterdam, Sabtu pagi di musim semi yang cerah, 4 April 2026 10.43 am


Monday, March 30, 2026

Conflict avoidant in relationship

 Any relationship is not easy. Membangun hubungan dengan siapapun adalah hal yang banyak tantangannya. Karena dua dunia berinterkasi, dua alam pikiran yang berbeda, dua keinginan yang tidak selalu sinkron, dua sifat yang beragam, sementara komunikasi seringkali sangat terbatas dan terbata-bata untuk menyampaikan apa yang sebenarnya dimaksudkan. Kalaupun sudah benar disampaikan, belum tentu pihak laiin bisa menerima dengan benar. Very, very complex alias ribet. 

Makanya dalam berinteraksi dengan orang lain, konflik adalah hal yang tak terelakkan, entah itu dengan pasangan, orang tua, mertua, anak, adik, kakak, tetangga, rekan kerja bahkan kadang interaksi yang sulit dengan abang bakso yang gagal memahami orderan kita apa. 

Sejak kecil, modus saya kalau menghadapi konflik ya dengan melarikan diri, baik secara fisik keluar saja dari ruangan bahkan keluar dari rumah, atau diam, stonewalling, menembok diri dari segala  hal yang masuk, demi melindungi diri sendiri. I became a conflict avoidant. Belum pernah belajar bagaimana caranya mengatasi konflik. Dan tidak belajar baik bahwa konflik itu wajar dan bukan akhir dari sebuah hubungan. 

Setelah saya bekerja atau berumah tangga, khususnya, respon saya yang selalu melarikan diri dari konflik dan tidak merasa nyaman dengannya itu menjadi tidak handy. Akhirnya kalau ada perseteruan dengan boss, saya cenderung mundur atau resign. Kalau ada konflik atau perseteruan dengan pasangan, dikit-dikit berpikir untuk berpisah. It's not sustainable. Lelah juga punya respon hidup seperti ini. 

Now i learn to sit with the pain.

Sekarang saya belajar bahwa ketidaknyamanan, kekecewaan dan konflik adalah bagian dari sebuah interaksi dengan manusia. Artinya kalau itu terjadi, let's work it through and stay with it. Bukan langsung jump into concusion, oh it doen't work and bye bye. Kita tidak akan belajar apa-apa kalau setiap kali ada kesulitan menjelang lalu kita melarikan diri. 

Ada doa yang indah terkait hal ini dalam Al Quran surat Al Isra: 80

rabbi adkhilnī mudkhala ṣidqiw wa akhrijnī mukhraja ṣidqiw waj'al lī mil ladungka sulṭānan naṣīrā

 "Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar (shidiq) dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong."

Jadi yang mestinya kita ambil dari semua pengalaman dalam berinteraksi dengan manusia adalah aspek haq, kebenaran disana yang harus kita raih. Sebab semuanya adalah ayat-ayat yang Allah tuliskan di semesta, agar kita makin mengenal kehidupan, makin paham siapa diri ini dan makin ma'rifat kepada Allah. []


Amsterdam, Senin, 30 Maret 2026 / 11 Syawal 1447