"Barangsiapa beramal shalih, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia seorang mukmin, sungguh, Kami pasti akan berikan kepadanya kehidupan yang thayyibah..." - QS An Nahl [16]:97
Yang kita cari itu sebenarnya hidup yang thayyib, sering diterjemahkan dengan "hidup yang baik". Tapi terjemahan "baik" kadang menciutkan makna apa adanya. Karena "thayyib" itu terkait dengan "syajarah thayyibah" yang Allah sebutkan dalam QS Ibrahim. Bahwa setiap kita harus tumbuh menjadi pohon yang berbuah baik di muka bumi ini. Jadi kebaikan sebuah kehidupan dan urusan itu terkait dengan apakah sesuatu itu bisa menunjang pertumbuhan pohon diri kita masing-masing?
Oleh karena itu tidak semua hal yang baik di mata orang adalah baik juga buat kita. Tapi sesuatu yang thayyib buat diri pasti akan membawa kebaikan. Jadi carilah "hidup yang thayyib" yaitu kehidupan yang sesuai dengan tuntunan Allah Sang Pencipta kita. Bukan kebaikan kehidupan yang hawa nafsu dan waham kita inginkan dengan berpikir, oh hidupku akan baik kalau aku menikah dengan dia, bekerja di tempat itu, punya ini dan itu dan segala kondisi kehidupan yang kita anggap desain yang terbaik, tanpa pernah bertanya atau berkonsultasi bahkan mencari tahu apa desain yang terbaik bagi diri sendiri yang pengetahuan tentang itu hanya Allah yang tahu dan informasi awal dari pengetahuan itu sudah dikabarkan kepada sang jiwa kita jiwa kita semua berkumpul di Alam Alastu (Alam Persaksian) , seperti yang tertuang dalam QS Al A'raaf [7]: 172,
(Ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari tulang punggung anak cucu Adam, keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksiannya terhadap jiwa mereka sendiri (seraya berfirman), "Bukankah Aku ini Rabbmu?" Mereka menjawab, "Betul, Engkau (Rabb kami), kami bersaksi" (Kami melakukannya) agar pada hari Kiamat kamu tidak mengatakan, "Sesungguhnya kami lengah terhadap hal ini."
Dengan kata lain, kehidupan yang thayyib adalah kehidupan yang cocok dengan natur jiwa masing-masing. Tak berlebih dan tak kurang. Semuanya dikadar sudah pas oleh Allah sebenarnya, kalau saja kita mau bersyukur dan merasa qanaah dengan apa yang ada. Kuncinya, sebagaimana di QS An Nahl di atas adalah iman dan amal shalih. Jihad kita adalah menjaga agar hati terus bersinar dengan cahaya imannya dengan tidak mensekutukan Allah dalam segala aspek kehidupan. Dengan nur iman itu, maka amal shalih akan mudah terbaca. Sesuatu yang Allah ingin kita lakukan atau respon dari saat ke saat. Apakah harus menerima tawaran yang ada atau menolaknya? Harus pergi sekarang atau 10 menit lagi? Harus pindah atau tetap tinggal di sana? Hingga ke hal keseharian, baju apa yang dipakai, menu apa yang dimasak, apakah harus membubuhkan garam lagi atau tidak? Hingga tak ada setiap aspek dan nafas dalam kehidupan kita yang tidak disertai oleh dzikir kepada Allah. Itulah cara mempertahankan cahaya dalam qalb, agar dia tidak pudar apalagi padam, na'uzdubillahimindzaalik.
Amsterdam, Selasa 30 Juni 2026 jam 15.14 Di perpustakaan Reigersbos, lepas management meeting KFC dan jelang menjemput Rumi untuk les biola.