“Kadang ada hal-hal dalam kehidupan yang baru kita pahami bertahun-tahun kemudian”
***
Hidup itu penuh misteri. Setiap detilnya mencengangkan sebenarnya karena semuanya adalah manifestasi dari garisan takdir kehidupan yang telah Allah tuliskan jauh sebelum alam raya tercipta.
Karena Yang Menciptakan adalah Dzat Yang Maha Ilmu maka tak ada takdir yang sia-sia. Tak ada gerak kehidupan yang tak bermakna. Bahkan dalam tragedi sekalipun tersimpan sebuah hikmah yang dalam. Hanya saja seringkali perlu perlu waktu bagi manusia untuk memahaminya.
Bayangkan proses pembuatan rel kereta. Sang desainer tentu tidak sekadar sibuk pada satu titik saja, melainkan keseluruhan rute dan lajur kereta yang ada, semua dibuat dengan perhitungan yang dalam dan melibatkan banyak pertimbangan. Secara fisik pengerjaannya pun butuh waktu yang tidak sebentar. Pertama membebaskan lahan yang ada, lalu membuat rata lajurnya, ditebarkan batu-batu yang kokoh sebagai bantalan rel besi yang dirangkai dengan sangat cermat agar tidak membuat gerbong keluar lakur atau oleng dan terguling. Demikian juga, rel-rel takdir kehidupan kita sudah ada. Tinggal kita memilih jalur yang mana. Diantara sekian pilihan itu ada lajur yang terbaik, yang rezeki lahir batinnya melimpah, itulah shiraathal mustaqiim yang kita minta setiap shalat.
Tapi, bayangkan saat laju-lajur itu masih dalam tahap pembuatan. Tentu sebidang tanah banyak protes saat dikeruk, diratakan lalu ditimpa dengan bebatuan keras di atasnya. Semuanya terasa sebuah penderitaan. Yang tidak dia pahami adalah dia disiapkan menjadi bagian dari sebuah trayek penting yang memindahkan manusia dari satu tempat ke tempat lain. Yang dengannya keberadaannya menjadi bermakna dan mengkontribusikan sesuatu.
Setiap kita pun demikian. Kita tidak terlahir kosong dari misi hidup. Setiap orang memiliki amal shalih utamanya masing-masing, yang itu hanya bisa ditemukan dan dijalani di shiraathal mustaqiim. Itu mengapa shalat adalah tiang diin, bukanagama dalam arti ritual saja, tapi keseluruhan kehidupan dan nafas kita. Tanpa shalat, kita hanya terlunta-lunta dan dibuat bingung dengan fenomena perubahan dan gejolak yang selalu ada hingga kiamat nanti. Kita perlu memaknai kehidupan kita. Bahkan kalaupun pemahaman itu nanti datangnya, tapi dengan shalat, nur islam yang Allah sematkan di shadr itu akan juga membuat yang bersangkutan menjadi berserah diri (aslama). Tak meronta-ronta menjalani takdir-Nya bahkan mensyukuri apapun fenomenanya.
Ya, memang banyak hal yang belum kita pahami saat ini. Terutama yang terkait dengan kehidupan kita sendiri. Kenapa saya dilahirkan di keluarga itu? Kenapa memiliki fisik seperti ini? Kenapa saya dibuat jago di bidang tertentu dan keok di bidang lain? Semuanya mesti dibaca, iqra, agar kita makin berilmu. Dan kalaupun pemahaman itu belum juga datang, sabar saja dijalani. Hidup adalah sesimpel itu.
Amsterdam , 3 Januari 2026
Selasa malam selepas jemput Rumi badminton dan ke Jumbo. Jam 20.50
Pemandangan di Gein dari Metro 54


