Sunday, July 19, 2026

Semua akan hancur kecuali Dia

 “So what’s your take today Rumi?”


Saya secara berkala selalu bertanya apa yang anak ini pelajari dalam kehidupan. Kadang jawabannya ala kadarnya, kadang bercanda, kadang dijawab dengan “nothing”. Tapi hari ini dia memberikan jawaban yang menohok.


“If you know that things will end why bother?”


Kalau kita tahu kalau segala sesuatunya akan berakhir, kenapa harus dibuat susah karenanya? Bener juga nih anak.


Sedih itu bagian dari kehidupan. Itu biasa. Tapi jangan sampai kita dicengkeram oleh kesedihan dan bersusah hati karenanya. 


Nikmati dan syukuri hidup, tapi jangan dibuat hati terbelenggu dan terikat olehnya, sebab hati kita hanya bisa dipenuhi oleh Allah. 


“Segala sesuatu yang ada di atasnya (bumi) akan binasa” QS Ar Rahman:26

Amsterdam, 19 Juli 2026, saat liburan musim panas yang cerah

Minggu santai setelah begadang semalam sama Rumi menunggu shalat isya jam 12 dan shalat shubuh jam 3 pagi


Rumi 12 tahun

Saturday, July 18, 2026

Tinggalkan apa yang meragukanmu

 TINGGALKAN APA YANG MERAGUKANMU


Ada kisah seorang perempuan yang kewara’annya dituliskan oleh Syaikh Ibnu Arabi dalam Kitab Futuhat al Makkiyah.Dialah saudara perempuan Bisyr Al Hafi ra yang pada suatu hari bertanya kepada Imam Ahmad bin Hambal tentang suatu perkara yang meresahkan hatinya. Yaitu pada malam hari dia pernah menenun kain dengan menggunakan cahaya dari lampu obor milik orang lain yang lewat di depan rumahnya.


Bayangkan, cahaya terang dari obor orang yang lewat yang dia manfaatkan, mungkin tanpa izin, hingga membuat hatinya ragu, apakah hal ini boleh atau tidak. Disebutkan bahwa ia tidak mungkin menanyakan hal itu kecuali ada keraguan dalam dirinya dan Nabi SAW bersabda,

“Tinggalkanlah apa yang meragukanmu dan lakukan apa yang tidak membuatmu ragu.”


Tak heran jika Imam Hambal yang ditanya pun memberi fatwa agar perempuan itu tidak lagi menenun dengan cara seperti itu sambil memuji kewara’annya hingga kisah tersebut sampai kepada kita dan ditulis dalam kitab-kitab.


Kemurnian hati sang perempuan itu menjadikannya merasakan hal-hal yang halus dalam kehidupan. Mungkin orang lain ada yang memakai obor tetangganya tanpa izinpun tak bergeming hatinya saking gelap dan kerasnya dia, na’udzubillahimindzaalik.


Inilah indahnya ajaran agama. Bagaimana ia menghormati hak-hak orang lain, hingga yang paling halus sekalipun. Agar manusia hidup dalam harmoni.


Dalam kereta menuju farewell party Mas Nur Ahmad di Leiden

18 Juli 2026

17.11 sore

Wednesday, July 8, 2026

Perjuangan menerima takdir-Nya

 Rasulullah SAW bersabda, 

"Aku takjub pada seorang mukmin. Sesungguhnya Allah tidaklah menakdirkan sesuatu untuk seorang mukmin melainkan pasti itulah yang terbaik untuknya."  - HR Ahmad

Secara ilmu kita tahu bahwa tidaklah Allah menetapkan sesuatu kecuali ada kebaikan yang banyak di dalamnya. Bahkan dalam takdir yang bagi sebagian besar manusia dipandang buruk sekalipun. Karena pengetahuan manusia sungguh sangat terbatas. Hal ini sudah dinyatakan dalam QS Al Baqarah:216

Diwajibkan (kutiba) atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui. 

Allah Ta'ala menggunakan kata "kutiba" yang secara harfiah sudah dituliskan. Sebagaimana takdir hidup kita semua kemungkinan yang akan terjadi sudah dituliskan. Manusia hanya bergerak dari kemungkinan takdir yang satu ke kemungkinan takdir yang lain yang sudah ditetapkan. 

Iman kita mestinya membuat kita tenang mengetahui bahwa segala sesuatu sudah dituliskan. Kan yang menulisnya Yang Maha Pengasih dan Penyayang, Dzat yang tak mungkin menzalimi hamba-Nya bahkan sebiji dzarrah sekalipun. Tinggal percaya saja pada aliran takdir yang ada. Allah is in control. Tenang saja. Nasib, kita, keluarga dan hal-hal yang kita sayangi ada di tangan-Nya. Kalaupun tampaknya seperti terlunta-lunta atau dikeringkan kehidupan dunianya, bisa jadi itu sebuah obat dari penyakit hati yang ada, yang dengan jalan difakirkan kita menjadi selamat di alam berikutnya. Oleh karena itu iman kepada qadha dan qadar ada dalam posisi terakhir dalam konstelasi rukum iman. Saking tidak mudahnya mengimani takdir keseharian, kita harus melampaui iman kepada Allah, Malaikat, Kitab-Kitab, Rasul-Rasul, dan Hari Akhir. Artinya untuk bisa berdamai dengan takdir Allah mau tidak mau harus memandang sesuatu dengan sudut pandang lain. Fokusnya di Hari Akhir, dimana alam barzakh adalah bagian yang tak terpisahkan darinya. Dengan kata lain, kematian mestinya menjadi sebuah dzikir yang menyadarkan kita bahwa hidup itu singkat, demikian pun segala penderitaan dan kesulitan yang ada berjangka waktu sebentar saja dibandingkan kehidupan di alam barzakh hingga menunggu kiamat qubra dan kehidupan di padang mahsyar dan akhirat. 

Maka, yang membuat kita sulit menerima kenyataan hidup dan pontang-panting menjalani ketetapan-Nya mesti karena iman kita yang luntur kepada-Nya. Sebagaimana yang diisyaratkan oleh Rasulullah SAW dalam hadits di atas, Sesungguhnya Allah tidaklah menakdirkan sesuatu untuk seorang mukmin melainkan pasti itulah yang terbaik untuknya."  - HR Ahmad. Inilah kualitas seorang mukmin, keteguhan imannya menjadikannya selalu melihat kebaikan di dalam bentuk takdir apapun.[]

Amsterdam, 8 Juli 2026

Rabu jam 11.11 pagi

Friday, July 3, 2026

Ikhtiar 'menyentuh' wajah-Nya

 "Aku menciptakan Muhammad pertama kali dari Cahaya Wajah-Ku"

- Hadits Qudsiy dalam Mukadimah kitab Sirrur al Asrar, Syaikh Abdul Qadir Jailani. 

Menurut Syaikh Abdul Qadir, makhluk pertama yang diciptakan Allah adalah ruh Muhammad SAW. Ia diciptakan dari pancaran keindahan Ilahi. 

Hadits lain riwayat Abu Daud mengatakan, 

"Yang pertama Allah ciptakan adalah ruhku (ruh Muhammad SAW). Dan yang pertama Allah ciptakan adalah cahayaku (Nur Muhammad SAW). Dan yang pertama Allah ciptakan adalah pena. Dan yang pertama Allah ciptakan adalah akal." 

Artinya ruh Muhammad, nur Muhammad, pena dan akal (aql) adalah satu entitas tunggal. Inilah yang disebut dengan Hakikat Muhammad. 

Bayangkan semesta ciptaan, termasuk milyaran (mungkin trilyunan) galaksi di luar sana yang megah ini dicipta dari satu bagian dari Cahaya Wajah-Nya! It's mind blowing even just to imagine. 

Kesadaran akan hal seperti ini membuat kita tidak terlalu tenggelam dalam hiruk pikuk kehidupan dunia. So we don't miss the big picture. Supaya kita tidak terseret-seret arus kehidupan yang akan berubah dari waktu ke waktu. 

Artinya takdir kehidupan kita itu amazing banget! Hanya kita saja yang sering tidak menyadari kemegahan karya agung Ilahiyah ini dan menjadi tidak bersyukur kepada-Nya. Manusia yang sebenarnya terlahir dengan fitrah untuk menghamba kepada-Nya menjadi kehilangan nilai kemanusiaannya ketika menjelma menjadi budak-budak hawa nafsu dan syahwatnya. Ia menjadi melupakan Allah. Padahal Dia sudah demikian rindu untuk dikenal kembali. 

Sadarilah bahwa di dalam setiap aliran takdir dari hari ke hari itu tersimpan surat cinta dari-Nya. Yang harus kita baca. Iqra bismirabbika ladzi khalaq. Membacanya dengan menyertakan Dia sang Rabb Yang Menciptakan kita. Yang paling tahu apa yang terbaik bagi dunia dan akhirat kita. Yang paling paham siapa diri kita. Yang paling mengerti apa ketakutan kita dan apa yang membuat kita sembuh. 

Kembalilah kepada-Nya...karena Dia selalu menanti.


Amsterdam, 3 Juli 2026 / 18 Muharram 1448 H jam 13.00 siang

Facing our reality, one day at a time

 The only reality is what is in front of you, at this moment. All else is an illusion.

Hidup itu sederhana sebenarnya, jalani apa yang ada di hadapan dari saat ke saat, apa adanya. Tanpa embel-embel label "kurang", "lebih", "telat", "terlalu dini atau prematur" dll. Karena yang sering membuat emosi muncul dan menggurita adalah ketika kita melabeli fenomena-fenomena tertentu apalagi kalau ditambah dengan dibubuhi kisah drama yang akhirnya menjadikan kita seorang "Drama Queen" ketika menjalani takdir kehidupan. 

Ketika seseorang - yang terutama kita kasihi - terlambat membalas pesan kita. Kemudian kita melabeli fenomena ini dengan "dia tidak peduli padaku" lalu ditambah bumbu cerita "jangan-jangan dia sedang sama yang lain" plus background soundtrack horror di belakangnya. Komplit sudah film drama yang membuat kita menderita. Padahal kenyataannya bisa jadi sama sekali tidak seperti yang kita bayangkan. Dan, kalaupun memang terjadi apa yang kita takutkan itu, sadarilah dengan membayang-bayangkan film drama tadi saja itu berarti kita sudah membiarkan urusan orang lain merampok waktu, tenaga dan perhatian kita yang mestinya difokuskan untuk ibadah dan beramal shalih. Rugi!

Memang tidak mudah mempersepsi kehidupan apa adanya. Otak kita sudah cenderung terbiasa melabel segala sesuatu dan kreatif mengolah kisah yang bukan realitas yang sebenarnya. Tapi kebiasaan tidak produktif ini bisa dilatih dengan pertolongan Allah. Kuncinya adalah banyak dzikir dan stay at your present moment. Lihat dunia dan kehidupan apa adanya, tanpa harus mengimbuhkan label. Kalau kita cek saldo di rekening ada uang dua ratus ribu, ya bilang sama diri sendiri, saya punya dua ratus ribu. Lalu katakan alhamdulillah sebagai bentuk syukur. Jangan lihat rekening dan jumlah uang dua ratu ribu lantas ketar-ketir lantas melabel situasi itu dengan "duh, gue miskin ya. " atau otak dramatisnya jalan dengan membayangkan "wah, bisa makan ngga ya sampai akhir bulan?" Padahal lho masih cukup ada makanan untuk hari ini. Ya hari ini. Karena kita kan melangkah hari demi hari. Masalah besok? Akan ada rezekinya tersendiri, lihat saja. Yang penting tawakal penuh sama Allah, rezeki mah dijamin! Sok lihat. Jangan kalah sama burung yang mengais rezekinya dari hari ke hari

"Jika kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya Dia akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Dia telah memberikan rezeki kepada burung yang berangkat di pagi hari dalam keadaan perut kosong dan kembali dalam keadaan perut kenyang."  Hadits dari Umar ra dalam HR Tirmidzi no. 2344

Amsterdam, memasuki musim panas, 3 Juli 2026 jam 10.35 pagi

Tuesday, June 30, 2026

Hidup yang Thayyib, bukan sekadar Hidup Baik

 "Barangsiapa beramal shalih, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia seorang mukmin, sungguh, Kami pasti akan berikan kepadanya kehidupan yang thayyibah..."  - QS An Nahl [16]:97

Yang kita cari itu sebenarnya hidup yang thayyib, sering diterjemahkan dengan "hidup yang baik". Tapi terjemahan "baik" kadang menciutkan makna apa adanya. Karena "thayyib" itu terkait dengan  "syajarah thayyibah"  yang Allah sebutkan dalam QS Ibrahim. Bahwa setiap kita harus tumbuh menjadi pohon yang berbuah baik di muka bumi ini. Jadi kebaikan sebuah kehidupan dan urusan itu terkait dengan apakah sesuatu itu bisa menunjang pertumbuhan pohon diri kita masing-masing? 

Oleh karena itu tidak semua hal yang baik di mata orang adalah baik juga buat kita. Tapi sesuatu yang thayyib buat diri pasti akan membawa kebaikan. Jadi carilah "hidup yang thayyib" yaitu kehidupan yang sesuai dengan tuntunan Allah Sang Pencipta kita. Bukan kebaikan kehidupan yang hawa nafsu dan waham kita inginkan dengan berpikir, oh hidupku akan baik kalau aku menikah dengan dia, bekerja di tempat itu, punya ini dan itu dan segala kondisi kehidupan yang kita anggap desain yang terbaik, tanpa pernah bertanya atau berkonsultasi bahkan mencari tahu apa desain yang terbaik bagi diri sendiri yang pengetahuan tentang itu hanya Allah yang tahu dan informasi awal dari pengetahuan itu sudah dikabarkan kepada sang jiwa kita jiwa kita semua berkumpul di Alam Alastu (Alam Persaksian) , seperti yang tertuang dalam QS Al A'raaf [7]: 172,

(Ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari tulang punggung anak cucu Adam, keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksiannya terhadap jiwa mereka sendiri (seraya berfirman), "Bukankah Aku ini Rabbmu?" Mereka menjawab, "Betul, Engkau (Rabb kami), kami bersaksi" (Kami melakukannya)  agar pada hari Kiamat kamu tidak mengatakan, "Sesungguhnya kami lengah terhadap hal ini."

Dengan kata lain, kehidupan yang thayyib adalah kehidupan yang cocok dengan natur jiwa masing-masing. Tak berlebih dan tak kurang. Semuanya dikadar sudah pas oleh Allah sebenarnya, kalau saja kita mau bersyukur dan merasa qanaah dengan apa yang ada. Kuncinya, sebagaimana di QS An Nahl di atas adalah iman dan amal shalih. Jihad kita adalah menjaga agar hati terus bersinar dengan cahaya imannya dengan tidak mensekutukan Allah dalam segala aspek kehidupan. Dengan nur iman itu, maka amal shalih akan mudah terbaca. Sesuatu yang Allah ingin kita lakukan atau respon dari saat ke saat. Apakah harus menerima tawaran yang ada atau menolaknya? Harus pergi sekarang atau 10 menit lagi? Harus pindah atau tetap tinggal di sana? Hingga ke hal keseharian, baju apa yang dipakai, menu apa yang dimasak, apakah harus membubuhkan garam lagi atau tidak? Hingga tak ada setiap aspek dan nafas dalam kehidupan kita yang tidak disertai oleh dzikir kepada Allah. Itulah cara mempertahankan cahaya dalam qalb, agar dia tidak pudar apalagi padam, na'uzdubillahimindzaalik.

Amsterdam, Selasa 30 Juni 2026 jam 15.14 Di perpustakaan Reigersbos, lepas management meeting KFC dan jelang menjemput Rumi untuk les biola. 

Wednesday, June 10, 2026

Indahnya hidup pas-pasan

 Ini renungan jujur memasuki usia 48 tahun.


Saya merasa lebih resah saat punya yang berlebih dibanding saat uang pas-pasan.


Karena saat berlebih hawa nafsu rasanya lebih bergelora dan seolah-olah kita bisa melakukan banyak hal atau membeli sesuatu yang membuat kita senang tapi apakah semua itu Allah ridhoi atau kita tergelincir menyenangkan syahwat dunia saja?


Sementara kalau uang pas-pasan jelas hawa nafsu tak berkutik, wong ngga ada pilihan. Ya makan yang itu saja dan ngga usah macam-macam ingin ini atau itu. Dan berdasarkan pengalaman, Allah sang Rabb selalu mengaturkan dengan sangat menakjubkan.


Jadi, bahagialah orang yang hidupnya pas-pasan. Pas butuh pas ada. Life is so simple. Semua sudah Allah aturkan☺️.


- Renungan di tengah simposium di Universitas Leiden, Rabu 10 Juni 2026