The risk of love is loss, and the price of loss is grief—but the pain of grief is only a shadow when compared with the pain of never risking love." — Hilary Stanton Zunin
Bagian dari hidup adalah merasa segala sesuatunya. Bahagia-duka, tangis-tawa, kecewa-berpengharapan, loyo-semangat semua perasaan akan dipergantikan seiring dengan aliran takdir kehidupan kita masing-masing yang sudah didesain dengan sangat presisi oleh Sang Maha Pencipta.
Dan kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahuinya selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya, tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam kitab yang nyata (Lauḥ Maḥfūẓ). QS 6:59
Jika sehelai daun atau sebutir biji saja Dia tahu ihwalmya, apalagi manusia dan segala warna kehidupan yang berkelindan di dalamnya. Artinya, seseorang datang dan pergi dengan izin-Nya. Seseorang melontarkan kata-kata pedas atau bersikap yang membuat kita tidak berkenan pun dengan izin-Nya. Tak ada satu pun sesuatu yang terjadi dan mewujud di alam ini yang tanpa ilmu dan kuasa-Nya. Artinya Dia senantiasa hadir. Hanya hijab hati kita yang menyelubungi dari dari meeadakan kehadiran-Nya hingga akhirnya kita hanya tertawan dengan fenomenanya saja sambil alih-alih sibuk memanggil-Nya, kita malah menghabiskan terlalu banyak waktu untuk mencoba melogikakan semua kejadian yang ada sambil menjustifikasi luapan emosi sesaat diri sendiri.
Kita lupa bahwa kita Bani Adam. Nama “Adam” berarti “tidak afa”. Awalnya kita tidak ada, saking tidak adanya sampai disebut sebagai “entitas yang tak bernama”, saking ngga adanya sampai tak bisa dinamai. Kemudian Allah Ta’ala meminjamkan kita bentuk-bentuk wujud secara bertingkat dari Alam Jabarut, Alam Malalut dan Alam Mulk, hingga kita mewujud menjadi manusia yanh memiliki ruh, jiwa dan raga.
Kita luoa bahwa kita lahir telanjang ke bumi ini dan tidak membawa apa-apa. Modal cahaya fitrah yang ada sejak lahir pun memudar bahkan sebagian besar manusia hatinya gelap gulita, tanpa cahaya, na’udzibillahimindzallik. Konsekuensi dari gelapnya hati adalah dia menjadi diperbudak oleh hawa nafsunya. Karakternya berubah dan orientasi hidupnya hanya untuk memuaskan sang tuan dalam dirinya, yaitu egonya sendiri. Ini adalah penyebab penderitaan hidup, karena karakter hawa nafsu adalah tinggi “aku”-nya. Seperti gurita berlengan ratusan ia akan meraih apa-apa yang dirinya sukai dan mengklaimnya dengan mengatakan “pekerjaanku, milikku, hidupku, kekasihku, anakku, mimpiku…aku..aku..gue…”
Mencintai sesuatu adalah bagian dari kehidupan. So, its okay. Allah pun mafhum. Hanya kuncinya jangan terlalu berlebihan mencintainya. Karena semua selain wajah-Nya akan hilang, pergi, mati, binasa, berubah dll. Dan kalau kita clingy, terlalu menggenggam erat-erat apa-apa yang dipinjamkan sesaat lepada kita itu, maka itulah sumber penderitaan kita.
Jadi sebenarnya secara esensial, bukan takdir kehidupan yang jahat dan kejam lalu menyakiti kita, takdir itu nettal, dia berjalan apa adanya sesuai dengan tulisan skenario Sang Pencipta, tapi ketika respon diri terhadap takdir tertentu dirasa berat, mesti ada sebuah kemelekatan tertentu di dalam hatu yang membuat kita merasa tergerinda ketika menjalaninya.
So what should i do?
Surrender. Berserah diri pada ketetapan-Nya. Hidup dan semuanya adalah milikNya.
“Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun”
Kita milik Allah dan akan kembali kepada-Nya.
Let life be. And work with God’s flow.
Dan saksikan bagaimana sang waktu wfektif membasuh kemelekatan itu hari demi hari. Just take it one step at a time. One day at a time.
At some point you will feel such relief. That you are being freed from the slavery of creation to return (tauba) to Allah.
Laa ilaha ilallah…
On a train ride to Leiden, menghadiri sidang defense Mas Nur Ahmad, 9 Juni 2026 jam 10.27 pagi di musim semi yang cerah