Tuesday, June 9, 2026

Ketika kita kehilangan sesuatu yang kita cintai

 The risk of love is loss, and the price of loss is grief—but the pain of grief is only a shadow when compared with the pain of never risking love." — Hilary Stanton Zunin

Bagian dari hidup adalah merasa segala sesuatunya. Bahagia-duka, tangis-tawa, kecewa-berpengharapan, loyo-semangat semua perasaan akan dipergantikan seiring dengan aliran takdir kehidupan kita masing-masing yang sudah didesain dengan sangat presisi oleh Sang Maha Pencipta. 

Dan kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahuinya selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya, tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam kitab yang nyata (Lauḥ Maḥfūẓ). QS 6:59

Jika sehelai daun atau sebutir biji saja Dia tahu ihwalmya, apalagi manusia dan segala warna kehidupan yang berkelindan di dalamnya. Artinya, seseorang datang dan pergi dengan izin-Nya. Seseorang melontarkan kata-kata pedas atau bersikap yang membuat kita tidak berkenan pun dengan izin-Nya. Tak ada satu pun sesuatu yang terjadi dan mewujud di alam ini yang tanpa ilmu dan kuasa-Nya. Artinya Dia senantiasa hadir. Hanya hijab hati kita yang menyelubungi dari dari meeadakan kehadiran-Nya hingga akhirnya kita hanya tertawan dengan fenomenanya saja sambil alih-alih sibuk memanggil-Nya, kita malah menghabiskan terlalu banyak waktu untuk mencoba melogikakan semua kejadian yang ada sambil menjustifikasi luapan emosi sesaat diri sendiri.

Kita lupa bahwa kita Bani Adam. Nama “Adam” berarti “tidak afa”. Awalnya kita tidak ada, saking tidak adanya sampai disebut sebagai “entitas yang tak bernama”, saking ngga adanya sampai tak bisa dinamai. Kemudian Allah Ta’ala meminjamkan kita bentuk-bentuk wujud secara bertingkat dari Alam Jabarut, Alam Malalut dan Alam Mulk, hingga kita mewujud menjadi manusia yanh memiliki ruh, jiwa dan raga. 

Kita luoa bahwa kita lahir telanjang ke bumi ini dan tidak membawa apa-apa. Modal cahaya fitrah yang ada sejak lahir pun memudar bahkan sebagian besar manusia hatinya gelap gulita, tanpa cahaya, na’udzibillahimindzallik. Konsekuensi dari gelapnya hati adalah dia menjadi diperbudak oleh hawa nafsunya. Karakternya berubah dan orientasi hidupnya hanya untuk memuaskan sang tuan dalam dirinya, yaitu egonya sendiri. Ini adalah penyebab penderitaan hidup, karena karakter hawa nafsu adalah tinggi “aku”-nya. Seperti gurita berlengan ratusan ia akan meraih apa-apa yang dirinya sukai dan mengklaimnya dengan mengatakan “pekerjaanku, milikku, hidupku, kekasihku, anakku, mimpiku…aku..aku..gue…” 

Mencintai sesuatu adalah bagian dari kehidupan. So, its okay. Allah pun mafhum. Hanya kuncinya jangan terlalu berlebihan mencintainya. Karena semua selain wajah-Nya akan hilang, pergi, mati, binasa, berubah dll. Dan kalau kita clingy, terlalu menggenggam erat-erat apa-apa yang dipinjamkan sesaat lepada kita itu, maka itulah sumber penderitaan kita. 

Jadi sebenarnya secara esensial, bukan takdir kehidupan yang jahat dan kejam lalu menyakiti kita, takdir itu nettal, dia berjalan apa adanya sesuai dengan tulisan skenario Sang Pencipta, tapi ketika respon diri terhadap takdir tertentu dirasa berat, mesti ada sebuah kemelekatan tertentu di dalam hatu yang membuat kita merasa tergerinda ketika menjalaninya.

So what should i do?

Surrender. Berserah diri pada ketetapan-Nya. Hidup dan semuanya adalah milikNya.

“Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun”

Kita milik Allah dan akan kembali kepada-Nya.

Let life be. And work with God’s flow. 

Dan saksikan bagaimana sang waktu wfektif membasuh kemelekatan itu hari demi hari. Just take it one step at a time. One day at a time.

At some point you will feel such relief. That you are being freed from the slavery of creation to return (tauba) to Allah.

Laa ilaha ilallah…


On a train ride to Leiden, menghadiri sidang defense Mas Nur Ahmad, 9 Juni 2026 jam 10.27 pagi di musim semi yang cerah

Friday, June 5, 2026

Choose to be happy, no matter what!

 Choosing joy ia a daily, resilient practice. It means choosing to find contentment and gratitude, even when your circumstances aren’t perfect.

But remember that joy does not require a perfect life. It simply asks us to notice the small blessings woven into each day.

***

Kita harus melatih diri untuk mensyukuri setiap aspek kehidupan untuk pada akhirnya diberi hati yang bersyukur. Terutama berjuang menerima saja dulu hal-hal yang kita masih berat bahkan sakit untuk menjalaninya. Penerimaan dan tidak meronta-ronta itu sendiri sudah sebuah langkah besar untuk bisa bersyukur. Karena kalaupun ngga nrimo, masalahnya takdir yang itu juga yang tetap harus kita jalani. Lebih baik cari cara bagaimana agar menjalaninya dengan less painful. Caranya dengan banyak-banyak dzikir. Karena sudah dijamin Allah,

Hanya dengan mengingat Allah (dzikrullah) hati menjadi tenteram

QS Ar Ra'd:28

Hati kita itu sepatutnya menjadi tempat tajali Allah. Tidak ada yang bisa memenuhi hati kita kecuali Dia Taála. Apapun obyek-obyek ciptaan yang coba kita jejalkan di dalamnya tidak akan pernah bisa memenuhi hati seorang manusia. Hanya Allah yang bisa.

Tidak memuat-Ku lelangit-Ku dan bumi-Ku, kecuali qalb hamba-Ku yang mukmin.

- Hadits Qudsiy

Dengan dzikir, seseorang berupaya menyambungkan dirinya dengan Allah. Agar koneksi itu terjalin. Dan Dia senantiasa hadir setiap kita mengingat-Nya dalam sepi maupun ramai, dalam kesenangan maupun kesedihan. Kehadirannya itu yang membuat hati lapang, damai, , tenteram, happy. Joy is another inevitable consequence of the Divine presence. Itulah yang dimaksud dengan hati yang bersyukur. Walaupun badai kehidupan masih menggila dan mengelilingi kita, tapi hati dibuat tenang menghadapinya, karena Allah menyertai kita. []

Amsterdam, Jumát 5 Juni 2026, jelang BHV training, 10.14 pagi


Tuesday, June 2, 2026

Takdir hidup itu menyembuhkan

 "Pena telah diangkat dan lembaran telah kering"

- Rasulullah SAW

Kemunginan-kemungkinan takdir hidup kita telah tertuliskan. Adapun kita mengalir ke arah takdir yang mana itu tergantung kondisi hati kita. Maka sebuah penyakit hati bisa mengakibatkan kita mengalir ke sebuah takdir tertentu yang bisa jadi menyakitkan ketika melampauinya, tapi bagaimanapun itu takdir itu bersifat mensucikan. Ada obat di semua penggal takdir yang kita jalani. Setiap penggalnya, karena Allah tidak menciptakan sesuatu sia-sia. Tidak pernah!

Maka, wajar kalau Ali r.a. pernah berkata bahwa jika kita melihat ada keburukan di orang lain, cabutlah dari hati kita. Sekilas pernyataan itu membuat kita bingung. Lha wong yang melakukan keburukan orang lain, kok mencabutnya dari dalam hati kita sendiri? Itulah rahasia besar kehidupan. Kesadaran bahwa semesta sekeliling kita adalah sebuah cermin canggih ini merupakan salah satu ilmu tertinggi dalam hidup. Beruntunglah orang-orang yang Allah beri kesadaran tentang itu. Dengannya, ia melihat sekitarnya dengan sebuah ketundukan dan ketakziman, sadar bahwa apapun yang mewujud tak lain adalah pancaran dari kondisi hati kita dari saat ke saat.

Inilah jalan pertaubatan, kembali kepada Allah. Kembali mengingat bahwa segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Jika kita paham ini, akan lebih ringan dalam menjalani hidup. Ringan itu adanya di hati, sebuah ketenangan walaupun di tengah badai kehidupan sekalipun. Dengan keyakinan bahwa Allah tidak akan menzalimi hamba-Nya bahkan sebesar dzarrah sekalipun. Tidak mungkin. Jadi jalani kehidupan dengan tersenyum, syukuri apa yang ada dan terus berpengharapan kepada-Nya serta sabar dalam menanti ketetapan-Nya. This to shall pass...

Amsterdam, 2 Juni 2027

Musim semi yang mendung dan hujan, jam 11.09

Yang sedang-sedang saja


Selama 11 tahun saya diperjalankan oleh Allah untuk bekerja di Multinational companies. Perusahaan-perusahaan dengan cabang di berbagai negara. Posisi di level managerial memberi saya akses untuk menghadiri pertemuan regional atau sekadar hadir di quarterly meeting dengan boss dari head office. Pernah suatu kali ada boss yang terkenal galak datang ke Indonesia, saya ditugaskan untuk menjemput beliau dari hotel untuk pergi bersama ke tempat meeting dengan menempuh perjalanan sekitar satu jam. BIasanya saya ajak dia ngobrol hal-hal yang ringan dan melempar beberapa candaan sepanjang perjalanan. Kabarnya mood si boss itu baik setelah itu. Maka di kunjungan berikutnya saya ditugaskan lagi untuk menjemput dia dan menemani dia lagi di jalan, and yes saya sudah siapkan kisah-kisah lucu yang bisa dibincangkan selama mengisi waktu di perjalanan. Kali ini saya diundang ikut ke dalam rapat para senior managers dan directors. I wasn't supposed to be there. But there i was.

Saya perhatikan dengan seksama bagaimana meeting itu berjalan, setiap diskusi dan dinamika. Kemudian, ada hal yang menggelitik saya ketika si boss besar menekankan pada "two digit growth"sambil memperlihatkan pie chart. Dia bicara dengan berapi-api bernada "yes we can!". Semua diam, ada yang mengangguk-angguk. Lalu entah angin apa, tiba-tiba saya mengangkat tangan di tengah presentasi dia. Biasanya tidak ada yang berani menginterupsi dia. Si boss besar yang galak ini. Tapi kali itu dia memberikan saya kesempatan untuk berbicara. Rupanya itu kesempatan bicara saya yang pertama dan terakhir. Haha...mungkin pertanyaan saya dianggap aneh dan nyeleneh.

Saya mempertanyakan fokus perusahaan pada "double digit growth", memangnya sampai kapan? Kan 'kue-nya'segitu-gitu aja, market growth tidak sampai double digit. Kan tidak masuk akal untuk terus mempertahankan double digit growth setiap tahun, kecuali dengan mengakuisisi perusahaan lain.

Corporate world, sebatas yang saya perhatikan, terlalu menekankan pada profit, bottom line, EBITDA. Kalaupun sesekali bicara tentang Employee Well Being, itu dikaitkan dengan skema bonus atau family gathering tahunan untuk menghibur. Jarang didiskusikan tentang apakah seseorang pas di posisinya, apakah dia happy, apa yang bisa perusahaan lakukan untuk mencuatkan talenta seseorang. Kalaupun ada serangkaian training yang diberikan fokusnya lagi-lagi untuk mendongkrak sales. And yes, i get it. Perusahaan tanpa profit akan gulung tikar. The music will stop. Tapi fokus yang terlalu banyak pada duit akan membuat kultur penjajahan terselubung. It's a modern verse of human slavery. Bedanya perbudakan zaman sekarang tidak pakai rantai besi dan cambuk. Tapi orang dibuat takut kehilangan pekerjaan mereka dan diikat dengan "kontrak kerja"dan sekian banyak tuntutan kerja yang kadang tidak manusiawi.

Sad but true. I have been witnessing this for long time. Ketika kita diperbudak oleh pekerjaan kita sendiri. Bayangkan, seorang pekerja menghabiskan waktu hampir 10 jam sehari untuk bekerja, kalau ditambah waktu commuting rumah-kantor. Dikurangi waktu tidur dll untuk pribadi yang sekitar 8 jam, dia masih punya waktu sekitar 6 jam untuk keluarganya. Itulah waktu yang tersisa untuk berinteraksi dengan keluarga, dengan catatan dia tidak membawa pekerjaan ke rumah. The point is, waktu yang seseorang habiskan di pekerjaan itu benar-benar menyita nafas-nafas hidupnya. Sayang kalau orientasinya hanya sekadar untuk duit atau pangkat dan berbagai fasilitas duniawi lainnya. Sementara kesempatan hidup di dunia singkat. And yes, we are all replaceable in the corporate world. Perusahaan akan terus berjalan tanpa kita. So make sure we set our priority right.

Jadi gimana, apakah kemudian mesti berhenti kerja? Oh bukan ke sana maksudnya. Justru bekerjalah dengan produktif dan berprestasi. Tapi jadikan pekerjaan kita jadi ladang amal shalih agar waktu-waktu yang kita habiskan itu menjadi bekal akhirat kita. gaar sesuatu itu jadi amal shalih, kita harus sering-sering melibatkan Allah dalam apapun yang kita lakukan dan tegakkan shalat sebagai pilar. Jadikan shalat sebagai kesempatan untuk meraup cahaya dan kekuatan jiwa yang dibutuhkan untuk menjalani kehidupan di antara waktu shalat. Karena itu adalah saat kita beraudiensi dengan Allah Taála, Tuhan Semesta Alam. Semakin khusyu kita shalat, semakin kuat pancaran cahaya dan berkat yang akan diturunkan melalui kehadiran kita di alam mulkiyah ini. Maka jangan jadikan shalat sebagai "interupsi"semata. Malah indah kalau pekerjaan kantor dihentikan sesaat untuk shalat berjamaah - jika memungkinkan. Dan alangkah eloknya jika perusahaan menyediakan ruang shalat yang nyaman. Pasti Allah akan berkati perusahaan itu.

Allah mengutus kita ke dunia ini untuk memakmurkannya. So yes, give your best ar work, tapi fokusnya bukan dunia, tapi akhirat. Karena kalau fokus kita akhirat, dunia otomatis terlampaui. Sebaliknya kalau fokus kita hanya dunia, akhirat kita lepas. Nanti kita akan kerepotan menghadapi alam barzakh setelah jasad ini purna tugas.

Islam adalah agama pertengahan. Kita diajarkan untuk tidak mencampakkan dunia tapi pun agar tidak tenggelam di dalamnya. Kita boleh mencintai apapun di sini tapi ingat, ini negeri sementara. Jangan terlalu berlebihan mencintainya. Mengutip lagu dangdut dari Vetty Fera, "Hidup ini jangan serba ter~la~lu. yang sedang-sedang saja. Karena semua yang serba terlalu. bikin sakit kepala"

Amsterdam, 2 Juni 2026 / 16 Dzulhijjah 1447
jam 9.05 pagi, saat Rumi ogah sekolah :)

Monday, June 1, 2026

Ketika Dia mengizinkan nama-Nya disebut

 Saya yakin tidaklah seseorang diberi izin mengucapkan "Allah", "Bismillah", "Astaghfirullah", "Alhamdulillah" dengan sebuah ketakziman tertentu melainkan ada sebuah kebaikan tertentu di dalam diri orang itu yang Allah Maha Mengetahui. Terlepas apa agama orang itu. Tak memandang apakah dia shalat atau tidak. Tapi dalam kehidupan sehari-hari saya suka memperhatikan ada saat-saat dimana orang-orang yang tampaknya "tidak religius" toh diizinkan oleh Allah untuk sekadar mengucapkan nama-Nya yang sakral itu.

Terkait hal itu, ada kejadian yang menarik di tempat kerja saya. Suatu hari seorang inspektur restoran independen datang dan melakukan inspeksi mendadak yang biasanya dilakukan setiap tiga bulan. Di Belanda masalah food safety dan kebersihan makanan sangat diperhatikan serius. Restoran yang tidak lulus inspeksi pertama kali harus dilakukan inspeksi kedua. Kalau tidak lulus juga, dia harus menutup restorannya setengah hari untuk memperbaiki kekurangannya. Lalu kalau tidak lulus ujiannya berikutnya dia harus tutup restoran selama beberapa hari hingga konsekuensi kehilangan izin usaha. Jadi kalau inspektur datang kita semua - bagian manajemen pasti tegang. Seperti yang terjadi beberapa hari yang lalu.
Ceritanya saat sang inspektur datang, semua hal seperti biasa sudah dicek. Tapi toh ada yang kebobolan juga dan satu poin itu sialnya termasuk critical point. Pucatlah wajah manajer restoran yang sedang on duty saat itu, dia adalah senior saya. Seorang ibu paruh baya dari Sri Lanka. Dengan mata berkaca-kaca dia menghampiri saya dan berkata, "Tessa, i missed that one thing, i thought i have checked..." katanya pilu. Karena sudah pasrah kalau memang hasilnya tidak lulus maka dia harus tanggung jawab sebagai manager senior. Saya mencoba menenangkan dia, "Jangan khawatir, kita sudah berusaha yang terbaik. Sekarang tinggal berdoa kepada Tuhan" Saya tahu dia orang yang suka pergi ke temple untuk melakukan persembahan kepada tuhannya.
Sambil menunggu hasil evaluasi keluar dalam beberapa menit ke depan, dia tampak kalut dan gelisah. Lalu ia mendatangi saya lagi dan berkata, "Tessa doa ya. Dan kalau kita lulus mari kita berdoa dengan menyebut Allah, Tuhanmu" Saya mengangguk dan tersenyum sambil terus berusaha menenangkan dia.
Akhirnya, keputusan evaluasi keluar. Kami berdua, sebagai manager on duty dipanggil oleh evaluator ke dalam kantor. Dan alhamdulillah hasilnya lulus! Ternyata 'kesalahan'itu masih bisa ditolerir dengan argumen yang tepat. Kolega saya langsung pecah tangisannya sambil memeluk saya. We're happy. And yes we did our powwow dance. Setelah sang inspektur pamitan. Kolega saya lalu mengajak saya ke atas, ke ruangan yang biasa digunakan untuk shalat, untuk menunaikan janjinya - berdoa dengan menyebut nama Allah - Saya pun gelar sejadah, bersimpuh ke arah kiblat sambil menengadahkan kedua tangan ke langit dan memimpin doa dengan disertai dzikir menyebut nama-Nya. Kolega saya mengikuti, sampai ikut sujud syukur pula. Sesuatu hal yang menakjubkan. Membimbing dia melakukan sujud syukur dan menyebut nama-Nya. Dan itu atas keinginan dia sendiri.
Kadang memang Allah membuat sebuah turbulens tertentu dalam hidup yang membuat orang membuat lonjakan spiritual yang tak terbayangkan sebelumnya. Masya Allah.

Because love never asks anything for return

 Belajarlah mencintai seperti matahari. Dia menebarkan sinarnya pada semesta dan kepada siapapun, tanpa berharap dia disinari kembali. Seperti cinta, sinar matahari bersifat menghidupkan dan menghangatkan. 

Cinta sejati itu bersinar tanpa pamrih. 

Ia tak akan meredup karena tak dibalas. Karena ia hanya ingin mencintai. 

Love no matter what.

Tebarkan cinta walaupun yang bersangkutan tak membalas pesan kita atau tak berterima kasih.

Love anyway.

Karena kita tengah belajar untuk menjadi saluran-saluran cinta Ilahiyah. Sebab Tuhan pun begitu. Dia tetap mencinta sekalipun manusia mencela-Nya.

Jangan biarkan ego kita menghalangi pancaran keindahan cinta. 

Jika yang lain meresponnya dengan dingin. Jangan ikut-ikutan menjadi dingin. Tetap sebarkan kehangatan cinta. Karena itulah yang menjaga fitrah kita juga sesama manusia lainnya. And love makes the world go round.

Amsterdam, Senin tenang di musim semi yang panas, 1 Juni 2026 jam 9.28 pagi

 

Friday, May 29, 2026

Merenungkan sebuah 'pengorbanan'

 Hari raya Idul Adha baru berlalu. Sebuah hari raya yang ditandai dengan pengorbanan (Adha).

Kalau saya pikir-pikir, ini menarik, kata pengorbanan itu terkait dengan memberikan sesuatu yang kita cintai, yang biasanya diklaim menjadi milik kita. Dalam kasus Ibrahim as, beliau diminta Allah untuk mengorbankan putra kesayangannya, Ismail as. 

Mari kita merenung sejenak. Di titik itu, kalau kita ada dalam posisi Ibrahim as, orang tua yang harus mengorbankan anaknya sendiri, wah ngga kebayang sebenarnya. Tapi pastinya berat sekali. Karena tidak hanya kita harus melepas anak itu, tapi kita sendiri yang harus mengeksekusinya. Itu kan ujian yang berlapis. Masya Allah. 

Kembali ke kata "pengorbanan" yang sampai dijadikan Hari Raya Qurban. Menarik untuk menelisik bahwa sebenarnya kita, manusia yang tidak punya apa-apa dan pada awalnya bahkan sebuah entitas tak bernama - karena kita adalah Bani Adam - secara harfiah arti kata "Adam" adalah tidak ada. Jadi begini, kalau kita tidak ada dan tidak punya apa-apa maka sebenarnya ngga kaci ada istilah "pengorbanan "itu, karena bagaimana bisa yang tidak ada dan tak punya apa-apa bisa mengorbankan sesuatu lha wong dia ngga punya apa-apa? Tapi Allah itu memang luar biasa baik dan sangat memahami perasaan hamba-Nya, maka dia sematkan kata "pengorbanan"itu dan dijadikan salah satu hari raya besar. Saking mengapresiasi perjuangan Ibrahim as dan semua yang mengikuti milah Ibrahim as. 

Kalaupun kita bisa kurban kambing atau sapi tahun ini dan merasa berjuang untuk menabung untuk itu, ketahuilah 'pengorbanan' itu sebenarnya sesuatu yang Allah fasilitasi semua. Karena semua rezeki dan kemampuan pun dari Allah. Oleh karena itu Allah Taála berfirman dalam QS Al Hajj [22]:37

Dan (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang akan sampai kepada-Nya adlaah ketaqwaanmu...

Dan taqwa itu letaknya di qalb. Qalb adanya di dalam jiwa (nafs). Hanya jiwa yang telah hidup kembali dengan nur iman yang mulai menyala ketaqwaan dalam hatinya. Dan ini yang menjadi sasaran pandang Allah. Sebagaimana yang Rasulullah SAW sabdakan, 

"Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian." (HR Muslim) 

Amal yang datang dari qalb yang hidup dengan nur iman adalah amal shalih. Amal yang tertuntun, karena qalb sang mukmin sudah mampu mendapatkan petunjuk kembali dari Allah. 

Jadi, apapun bentuk 'pengorbanan' dan kegiatan kita di bumi, mau berumah tangga, bekerja, mengurus anak, wakaf masjid dan sekian banyak persembahan untuk Allah, sungguh Dia tidak melihat kuantitas dan nominal yang kita persembahkan. Dia hanya melihat hati kita. Maka sedekah sepuluh ribu rupiah tapi dengan hati yang ikhlas lillahi taála bisa melontarkan seseorang ke ketinggian ridho-Nya dibanding sedekah milyaran tapi sambil riya. Karena mau sepuluh ribu atau semilyar adalah uang Allah. Dia Sang Pemilik semuanya. Kita hanya dipinjami dan diuji dengan itu, apakah amanah atau tidak. 

Maka apapun yang kita persembahkan untuk Allah, pastikan itu datang dari lubuk hati yang terdalam. Ikhlas hanya untuk Dia. Sebuah ekspresi pemujaan dan kebersyukuran untuk Tuhan Yang Maha Baik. Bukan karena kita mampu, bukan karena kita merasa shalih, bukan karena kita merasa tinggi. Justru sebaliknya, kita persembahkan hidup dan mati kita untuk-Nya, Yang Memberi kehidupan yang indah ini. Sebagai sebuah upaya kebersyukuran kepada-Nya. Yang kita tidak akan pernah bisa mampu membayar semua anugerah-Nya, bahkan tak mampu untuk menghitung nikmat-Nya. 

"Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya..."(QS AN Nahl:18)


Amsterdam, 29 Mei 2026, sore hari jam 16.15 yang mendung dan berangin kencang di restaurant Ikea, menunggu Rumi les biola