UMRAH, HAJI DAN PENGENALAN DIRI
Dari kelima pilar Islam yang ada, saya rasa Haji adalah yang terberat. Karena kalau syahadat, shalat, zakat dan shaum kita bisa melakukannya di ruang masing-masing dengan interaksi yang minimal dengan orang lain tapi saat haji atau umrah (haji kecil) kita terpapar dengan ratusan ribu (bahkan jutaan) orang di satu lokasi.
Melaksanakan haji (atau umrah) itu harus banyak sabarnya. Sabar disikut orang saat thawaf, sabar kepala diinjak orang saat sujud di tempat shalat yang berdesak-desakan. Sabar dengan bau badan orang yang berdempetan. Sabar dengan kelakuan orang yang tidak mengguyur hajat besarnya dan meninggalkan WC yang kotor. Wah pokoknya kita terpapar dengan segala tingkah laku manusia saat berhaji.
Bagaimana agar hati tetap tenang. Agar kita tetap ikhlas. Dan agar melihat bahwa apapun yang terjadi, sekecil apapun itu bukanlah sebuah kebetulan semata tetapi cara Allah untuk menunjukkan kondisi hati kita dari saat ke saat. Karena barangsiapa mengenal dirinya akan mengenal Rabbnya.
Pantaslah kiranya jika ritual puncak haji terletak pada saat diam di padang ‘Arafah. Padang pengenalan. Saat diam kita diajak untuk merenung dan membaca ke dalam diri. Siapa aku? Mengapa Allah Ta’ala mengizinkan semua takdir ini terjadi? Apa yang harus kulakukan dengan sisa usiaku? Inilah pertanyaan paling fundamental seorang manusia yang kerap terkubur dalam kesibukan kita mencari penghidupan, membangun karir atau berkarya apapun.
Kita lupa bahwa hidup ini Dia yang punya.
Kita lupa bahwa semua hal yang Dia berikan ada orientasinya.
Kita lupa, bahwa kita akan pulang dan mempertanggung jawabkan semuanya.
Kita bahkan sudah lupa siapa jiwa kita yang sebenarnya. Siapa nama kita yang sejati.
It’s time to remember who we really are.
Sebelum nafas tinggal sehela lagi di kerongkongan.
Laa hawla wa laa quwwata illa billah.
Jeddah, 14 Oktober 2026
Menunggu penerbangan ke Jakarta