Row-row your boat gently down the stream
Merrily, merrily , merrily, merrily,
Life is but a dream...
Hidup itu seperti kita bermimpi. Rasulullah SAW bersabda, "Manusia itu tertidur, ketika dia mati, dia terbangun."
Lho kok tidur? Lha wong kita banyak bangunnya; bekerja, beraktivitas dsb. Jadi bahkan semua kegiatan kita di dunia yang kita dibuat sibuk karenanya itu masih dalam kategori bermimpi.
Mari kita endapkan sejenak. Renungkan. Ini memang perenungan tingkat tinggi. Tapi memahami hal ini adalah kunci untuk bisa hidup bahagia. Dengan sebuah kebahagiaan yang bersumber dari kebenaran, bukan kesenangan sesaat yang kita persepsi sebagai sebuah kebahagiaan.
Jadi, kematian adalah syarat agar seseorang terbangun dari mimpinya. Dan sebagaimana halnya mimpi, senyata-nyatanya orang mengalami sesuatu di alam mimpi, dia bukan sebuah realita yang sesungguhnya. Bukankah demikian?
Maka belajar mati sebelum mati adalah hal yang esensial dalam bersuluk. Melepaskan jiwa dari semua pengaruh dan kekuatan selain Allah. Itulah makna menjadi muslim, orang yang berserah diri. Artinya menyerahkan semuanya kepada Allah seperti ikrar yang kita bacakan dalam doa Iftitah di awal waktu shalat,
Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku semata hanya untuk Allah Tuhan semua Alam, tiada sekutu bagi-Nya.
Kita lebur dalam karsa-Nya. Menyatu dalam kehendak-Nya. Mengalir dengan aliran takdir-Nya. Dari waktu ke waktu. Di setiap tarikan nafas dan di setiap detak jantung. Dengannya, semua fenomena lahiriyah di dunia bayang-bayang menjadi bermakna. Dia menjadi kekal.
Amsterdam, Jum'at selepas Kajian Suluk Online, 24 Juli 2026
