Wednesday, May 20, 2026

People come and go

People come and go. We know this. Others visit just for a moment, and then they leave you with memories and lessons. Some are only meant to walk with you for a season, while others will stay for the long journey. All of them are valuable. No matter what happens, appreciate every soul you meet and every moment you have.

***

Orang-orang yang ada di sekitar kita datang dan pergi. 

Ada sahabat yang berjangka waktu tertentu, begitu pisah sekolah lantas menghilang.

Ada teman curhat yang asyik banget, begitu pindah kerja juga jarang nelepon.

Ada juga bahkan pasangan yang di awal waktu sangat hangat dan membuat dunia kita berbunga-bunga, kemudian di tahapan lain dalam hidup berubah dan kita bisa jadi orang asing satu sama lain. 

Yang namanya keluarga pun - walaupun kita diikat oleh hubungan darah - tetap saja ada batasnya. Masing-masing punya kesibukan sendiri. 

And it's okay. Itulah kehidupan. Semuanya berubah. Begitulah natur dunia ini. Semuanya fana. Semua akan berakhir. So, just go with the flow. Supaya kita tidak sakit berkepanjangan. 

Lantas, apa gunanya dong kalau pada akhirnya semua ini akan berakhir juga? Disinilah pentingnya belajar agama yang memberi panduan supaya kita tidak salah dalam menyikapi kehidupan dan bisa mulai memaknai setiap episode kehidupan yang Dia takdirkan. 

"....agar kamu tidak bersedih terhadap apa yang luput dari kamu dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu..."QS Al Hadiid: 23.


Amsterdam, 20 Mei 2026

Enduring the silent period...


Sunday, May 17, 2026

 Saya datang ke Belanda sepuluh tahun yang lalu dengan berbekal baju seadanya di dalam back pack dan uang 150 euro. Di awal-awal bulan saya lakukan apapun yang bisa saya kerjakan, sebagai buruh kasar, berkelana dari satu tempat sewaan ke tempat sewaan lain.

Hidup tidak mudah. Saya sudah terbiasa ditempa dalam keadaan yang orang kebanyakan pandang mungkin sebagai sesuatu yang '" "tidak ideal" atau bahkan tragis. Kedua orang tua saya tenggelam dalam kecanduan alkohol hingga pemerintah harus mengambil saya yang masih bayi untuk dibesarkan di panti asuhan.
Kehidupan di panti asuhan itu keras. Kami dididik untuk disiplin dan tidak cengeng. Makan apapun yang disuguhkan, kalau tidak mau dihukum. Harus mematuhi peraturan panti, tidur di jam yang ditentukan dan setiap anak akan bergantian melakukan piket, menyikat wc, tempat tidur, membersihkan kaca jendela dll. Tidak ada kesempatan untuk berdukaTidak ada ruang untuk curhat. Tidak ada kehangatan pelukan terutama di saat kita membutuhkannya.
Kami, "anak-anak panti" begitu julukan orang-orang di luar sana. Sudah terbiasa dengan kehidupan yang keras. Kadang itu pun membuat kami menjadi berwatak keras. Semata-mata karena survival mechanism yang terbentuk secara otomatis. Tapi saya mensyukuri kehidupan, walaupun praktis tidak pernah mengenal kedua orang tua saya. Mereka tidak pernah mencoba mengunjungi saya di panti asuhan. Sakit hati ini rasanya. Melebihi rasa sakit hati saya berpisah dari mereka sejak kecil dengan paksa. Karena ketika mereka kemudian memutuskan untuk tidak menjadi bagian dari hidup saya. But life goes on.
Saya mulai merasa kehangatan cinta ketika saya bertemu dengan lelaki yang saya cintai yang kemudian menjadi ayah dari kedua anak kami. Membina rumah tangga tidak mudah, apalagi kami datang dari dua belahan dunia dengan budaya yang jauh berbeda. But love conquers all. Saya percaya itu. Dan kami mulai membangun bahtera rumah tangga bersama. Bekerja keras siang dan malam untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Hingga akhirnya dua minggu yang lalu kami menandatangani akta jual beli rumah dan menempati tempat tinggal baru dengan modal pinjaman dari bank dan dicicil selama 30 tahun. Akhirnya anak-anak akan punya sendiri. And for the first time ever, i can call myself being "at home".
(Terinspirasi dari curhat seorang kolega di tempat kerja.)

Amsterdam, 17 Mei 2026
For AC, my dear matje who's the inspiration of this piece.

Friday, May 15, 2026

Agar hidup makin fokus

 Not every situation deserve your reaction.

Not every person deserve access to your energy.

The stronger your mind become, the more selective of what you allow into your life.

***

Makin bertambah usia kita, semakin fokus mestinya hidup kita untuk mengumpulkan bekal akhirat.
Kuncinya mensyukuri apa yang ada. Makanya mata pun dibuat rabun dekat, agar visi akhirat kita dibangun, jangan hanya sibuk dengan hal-hal yang bersifat duniawi saja sambil lalai mempersiapkan kehidupan di negeri akhirat yang pasti akan kita jelang.

Makanya semakin berusia, mestinya semakin kalem. Ngga grasa-grusu atau emosian serta reaktif seperti dulu. Semua kata-kata ditimbang batul-betul sebelum diluncurkan dari lisan. Setiap pilihan dimohonkan baik-baik kepada Allah Taála Yang Maha Tahu mana yang terbaik.

Tidak semua situasi dan berita dunia mesti direspon. Tidak semua ucapan dan sikap orang harus dikomentari apalagi hingga menguras banyak energi dan emosi kita. Semakin kuat akal seseorang, dia akan semakin selektif menggunakan waktu dan menyalurkan energinya.

So, be selective and keep calm.

Amsterdam, 15 Mei 2026 di musim semi yang hujan, berangin dan dingin
18.11 sore

Monday, May 11, 2026

Siapkan mental setiap pagi

 Otak manusia didesain menyenangi pola. Itulah pentingnya kita memiliki ritual setiap hari. Dan syariat agama melalui waktu-waktu shalat membuat kita keeps grounded. Jadi lebih membumi. Mengokohkan akar pohon diri kita. 

Di antara hal yang kita siapkan di pagi hari adalah sebuah kesadaran bahwa hari ini kita mungkin akan menghadapi masalah atau orang yang menyebalkan. Dan itu adalah bagian dari hidup. Maka Rasulullah SAW mengajarkan agar kita berlindung dari kesedihan, "Allahumma inni aúdzubika minal hammi wal hazan" tapi sadari bahwa ketika kita berlindung dari kesedihan bukan berarti hari itu kita tidak berhadapan dengan masalah atau perilaku yang membuat kita mengusap dada. Karena ujian adalah sesuatu yang melekat bagi orag-orang beriman. Maka bedakan, bahwa kita bisa berada di tengah badai kehidupan atau diperlakukan dengan tidak baik tapi hati bisa merasa tenang dan tidak dibuat sedih karenanya. Kok bisa? Ya bisalah, karena Allah yang menjaga hati kita. Apapun bisa ditundukkan bagi seorang hamba-Nya yang beriman. Seperti halnya Allah Taála berfirman kepada api agar ia menjadi dingin dan tidak mendatangkan kesakitan untuk hamba-Nya Ibrahim as. Jadi walaupun tubuhnya berada di tengah kobaran api yang membumbung tinggi yang membuat ngeri semua orang yang menyaksikannya, dia keluar dengan selamat tanpa luka sedikit pun.

Itulah kekuatan doa di pagi hari. Untuk mempersiapkan kita mengadapi api ujian kehidupan harian. Agar ia tidak membakar diri walaupun ganas kelihatannya. Agar kita tidak tertelan oleh ilusi dunia dan supaya tauhid kita makin kuat kepada Allah Taála. 


Amsterdam, Senin tenang, 11 Mei 2026 jam 10.06 pagi

Saturday, May 9, 2026

Ketika sesuatu menjadi ilah kita

 Suluk adalah sebuah perjalanan panjang untuk memurnikan tauhid kita. 

Laa ilaa ha ilallah

Agar tidak ada tuhan-tuhan (ilah-ilah) lain yang bercokol di dalam hati kita, selain Allah. 

Kapan sesuatu telah menjadi ilah kita?

Ketika sesuatu itu telah menguasai dan mencengkeram diri. Sedemikian rupa sehingga terbentuk kemelekatan kita terhadapnya. 

Mungkin kita tidak menyembah ilah yang berbentuk patung seperti Latta atau Uzza seperti zaman dulu. Mungkin kita juga merasa tidak musyrik dengan tidak memiliki jimat-jimat yang kita anggap mendatangkan kekuatan tertentu. 

Tapi ilah yang nongkrong di dalam hati kita berupa pekerjaan yang kita takut kalau sampai kehilangan. Merasa kalau tanpa pekerjaan itu bagaimana bisa menghidupi diri dan keluarga. 

Ilah lain bisa berwujud sebagai pasangan yang dicintai berlebihan. Sampai "i can't live without you". Dan manakala dia tidak membalas pesan, tidak ngirim kabar, berpaling ke lain hati atau meninggal dunia, rasanya dunia kiamat. It's another form of attachment. 

Ilah yang berwujud non fisik banyak, diantaranya ilah bernama "reputasi", "popularitas"dll, yang demikian disanjung-sanjung. Saking ingin terkenal dan banyak follower sampai rela melakukan apapun. Tapi dia lupa bahwa semua hal di dunia itu sementara. Ketenaran pun akan pudar pada saatnya. Dan saat itu dia mulai sesak nafas, sempit dadanya karena hal yang da rasa memberikan kehidupan baginya perlahan-lahan hilang ditelan zaman. 

Dengan demikian, seruan para nabi untuk membangun dan memperkuat tauhid itu sebenarnya seruan kepada jalan kebebasan dari belenggu dunia yang akan menarik kita ke lumpur kesengsaraan. Karena kebanyakan manusia terbelenggu oleh ilah-ilah lain yang bersifat sementara yang hanya masalah waktu mendatangkan penderitaan dan kesengsaraan. 

Tauhid therefore is the path to freedom. Bebas dari perbudakan selain Allah. Kita menjadi hamba-Nya, dan itu adalah hal terbaik dalam kehidupan, karena Allah Taála adalah Tuan yang sangat baik dan sangat memperhatikan hamba-Nya. Kalau kita mengimaninya...

Amsterdam, Sabtu 9 Mei 2026 jam 12.50 siang

Menanti waktu shalat dhuhur sambil menerjemahkan Complete Works of Josephus Flavius (1148 halaman)

Tak ada takdir buruk

 Syukuri kehidupan nak,

Tak ada yang namanya takdir buruk karena semua sudah diperhitungkan dengan matang dan dalam ilmu Allah Ta’ala.

Just believe…

(Dalam perjalanan ke mesjid Fatih, bersama Rumi)




Tuesday, May 5, 2026

Kenapa merasa kesepian?

 Being alone is not the same as being lonely.

***

Seorang kolega suatu hari tiba-tiba curhat, out of the blue. Saya sedang duduk di ruang crew untuk rehat sejenak ketika ibu satu anak ini datang berganti pakaian dan bersiap pulang. Entah kenapa sapaan saya yang bertanya "how's life?"dijawab dengan cerita yang panjang. Tentang perjuangannya datang ke Belanda dan harus menghabiskan sampai puluhan ribu euro (alias ratusan juta rupiah) untuk membayar jasa pihak ketiga yang membantu perizinannya namun ternyata orangnya menipu. Untung dia dibantu oleh sebuah lembaga dan pengacara pro bono, alisa dia tak harus keluar uang untuk menyelesaikan kasusnya. 

"Life is hard, Tessa. Sometimes at the end of the day, all i want is to talk to someone and share everything i feel or what i've experienced."

Dia tinggal di sebuah kamar sewa dengan anak gadisnya yang baru menginjak usia 18 tahun. Jadi dia tidak tinggal sendiri, tapi saya paham, tidak semua orang bisa diajak menjadi teman bicara. Bahkan pasangan kita sekalipun. 

Tidak sedikit orang yang mengalami hal yang mirip dengan kolega saya ini. Disergap oleh rasa sepi. Tapi saya ingin berbagi sesuatu yang merupakan sebuah pelajaran hidup dari pengalaman dan pengamatan kehidupan, bahwa kesepian adalah dikarenakan kita sebagai persona masih terpisah dengan jiwa. Akhirnya kita menjadi tidak menjiwai kehidupan. Bahwa memiliki seribu teman atau pasangan  tidak menjamin kita tidak merasa kesepian. Tidak sedikit kenyataannya orang merasa sepi di tengah orang banyak. Tidak jarang orang bahkan merasa kesepian di dalam rumah tangganya sendiri. 

Rasa sepi akan selalu muncul manakala kita selalu mengandalkan orang sekitar atau bahkan keadaan memuaskan diri kita alih-alih merasa cukup (qona'ah) dengan apa yang ada. Kuncinya adalah dengan mengenal jiwa. Dan itu tidak mungkin tanpa melalui syariat agama dan proses tazkiyatun nafs. Karena jiwa adalah entitas sakral di dalam diri. Selama kita belum mengenal jiwa, kita tidak akan mengenal apa aktivitas dan pekerjaan yang disukai oleh jiwa dan membuat kita merasa terpuaskan lahir batin. Akibatnya kita hanya akan terlunta-lunta dari satu fatamorgana ke fatamorgana lain yang kita kira sebagai oase kebahagiaan. Sebelum kehidupan kita menjejak ke mengenali tugas sakral (sacred duty) kita masing-masing, kita bagaikan masih terombang-ambing di samudera dunia dan membuat kita mabuk laut. Kaki kita belum berpijak di bumi diri yang sejati. Dan selama itu pula kita akan terserang oleh satu episode kesepian ke episode kesepian lainnya. 

Jadi, jangan cari solusi mengatasi kesepian dengan ngoyo ingin mendapatkan seseorang. That's not a guarantee. Malah bisa bikin makin runyam. Find yourself first. Kenali sumber kebahagiaan jiwamu. Baru kau akan merasakan air kehidupan yang menyegarkan yang menghilangkan sebuah dahaga kehidupan yang bernama kesepian. Insya Allah.

Amsterdam, 5 Mei 2026