Friday, October 9, 2026

Tentang 'Patah Hati'

 "Daripada sakit hati, lebih baik sakit gigi ini. Biar tak mengapa..." - Meggy Z

Siapa yang mau patah hatinya? 

Sakitnya itu susah cari obatnya. Tidak semudah mengobati patah tulang. 

Pantas saja ada yang bilang, 

"I'd rather have a broken arm than a broken heart" 

Kalau tulang patah, jelas pengobatannya dan durasi sembuhnya bisa diperkirakan. Lha kalau sakit hati? Orang ada yang depresi bahkan rela mengakhiri hidupnya saking tak tertahankan sakitnya.

Tapi begini. Hati itu sebenarnya sebuah entitas dari manusia yang tidak bisa patah. Justru daya kapasitasnya demikian besar sehingga Allah Ta'ala menyatakan dalam hadits qudsiy, 

"Tidak memuat-Ku langit-Ku dan bumi-Ku kecuali hati (qalb) hamba-Ku yang mukmin."

Hati adalah Baitullah. Tempat Allah bertajalli. Bukan Dzat-Nya, tidak mungkin. Tapi kuasa-Nya.

Jadi bayangkan potensi kekuatan hati itu sedemikian dahsyat. Dia sebenarnya tidak akan patah oleh hal-hal kecil dalam kehidupan. Lalu apa yang terjadi dengan fenomena "broken heart" atau patah hati? 

Jalaluddin Rumi mengatakan, 

"Luka itu adalah lokasi dimana cahaya masuk." 

"Kau harus terus menghancurkan hatimu hingga ia terbuka." 

Perhatikan bahwa yang dihancurkan dan dipatahkan disini adalah sesuatu yang menyelubungi hati, bukan hati itu sendiri. 

Oleh karena itu, bagi kaum sufi, pengalaman 'patah hati' bukanlah sebuah tragedi dalam kehidupan, walaupun rasanya dunia kiamat. Tapi kalau mau sabar menjalaninya, kita akan melihat bahwa yang dihancurkan bukan hati kita, tapi hijab hati yang menyelubunginya dan biasanya itu berkelindan dengan ego manusia. Dengan kata lain yang patah itu egonya. Yang terluka itu harapan (ekspektasi) seseorang. Yang hancur itu mimpi dan angan-angannya, bukan hati itu sendiri. Dia tetap intact. 

Sadari bahwa mendera sakit hati adalah salah satu konsekuensi hidup. Agar jiwa kita bertumbuh. Kunci menjalaninya adalah sabar dan ingat bahwa semua adalah milik Allah sebagaimana firman Allah Ta'ala,

Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang sabar. 

Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan "innalillahi wa inna ilaihi raaji'uun" (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali)

Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.

(QS Al Baqarah [2]:155-157)

Jadi tatkala takdir kehidupan menyampaikan kita pada sebuah episode yang menyakitkan, dzikirkan "innalillahi wa inna ilaihi raaji'uun" berkali-kali untuk mengingatkan bahwa tidak ada satupun yang sebenarnya milik kita. Harta kita bukan milik kita. Anak-anak kita hanya titipan. Semua yang ada adalah amanah. Bahkan diri dan kehidupan adalah pinjaman yang harus disyukuri. Jangan klaim semua itu menjadi milik kita. Karena semakin kita melekat kepada semua itu semakin sakit hati kita dan menderita kita dibuatnya. So, let it go...remember that it was never our to begin with. 

Amsterdam, Sabtu 10 Oktober 2026 pukul 00.23 malam - di antara shalat sunnah di malam hari

Tuesday, September 29, 2026

 WE ARE (NOT) ROBOT


Menarik untuk menelisik bahwa kata “intellectual” di dalam tradisi Barat zaman dulu artinya kemampuan berpikir baik dengan logika dan hati. Dalam perkembangannya, terutama ketika dunia memasuki masa Revolusi Industri, pola berpikir dengan hati perlahan-lahan mulai ditinggalkan, sedemikian rupa hingga manusia merasa asing dengan istilah “akal hati”. 


Akhirnya manusia hanya mengandalkan logikanya dalam menghadapi urusan keseharian. Sesuatu yang sangat rentan dan lemah karena jangkauan logika dunia sangat terbatas. Seperti terbatasnya daya tembus penglihatan lahir yang tak mampu melihat di balik dinding yang terbentang di depannya. Karena terlampau mengandalkan separuh daya inteleknya, manusia menjadi budak dari perhitungan sebab akibat. Mirip seperti robot yang terbatas pergerakannya oleh sebuah algoritma tertentu. Begitu manusia berhadapan dengan sesuatu yang tak masuk akal seperti berbagai urusan takdir yang perlu dia cerna, maka dirinya akan senantiasa resah karena tak ada satu pun formulasi di akal pikirannya yang bisa memahami ihwal apa yang tengah terjadi. Akibatnya manusia menderita berbagai kasus simtomatik yang berakar dari stress kronis. Penyakit yang berasal dari bayang-bayang yang dibentuk oleh pikirannya sendiri. 


Jalaluddin Rumi berkata, “You have wings to fly, why prefer to crawl?”


Kita lupa menjadi manusia. Makhluk yang dikaruniai entitas jiwa. 

Kita lupa bahwa kita bukan sekadar raga yang akan berakhir masa pakainya lewat sebuah kematian.

Kita lupa bahwa daya intelektualitas kita bisa menyentuh Yang tak terbatas.

Kita punya akal hati yang dengannya kita bisa membuat lompatan-lompatan kuantum yang melampaui semua keterbatasan dunia sebab-akibat.


Most of all, kita lupa bahwa kita adalah ciptaan Yang Maha Kuasa. Bahwa Sang Pencipta merancang dengan detail setiap gerak kehidupan kita. 

Di setiap langkahnya.

Di setiap nafasnya.

Di setiap detak jantungnya.

Karena itu segala hal mengandung makna.

Kita bukan sekadar human doing. Seperti banyak kegiatan tapi tak ada orientasinya.

Kita adalah human being, diciptakan untuk menjadi sesuatu. Menjadi bayangan Ar Rahman di bumi ini.

Agar tidak hidup seperti robot.

Berkarya banyak tapi tak menjadi amal shalih.

Na’udzubillahimindzaalik.


On my flight from Amsterdam to Berlin, 29 Sept 2026, 13.36 

Monday, September 28, 2026

When things feel unstable

 Just keep working. Keep washing the dishes. Keep your daily activity. Keep building your life.

Because routine is what makes your stability when everything else feels unstable.

***

Pasang surut itu bagian dari kehidupan.

Perubahan adalah hal yang tak terpisahkan dari takdir manusia.

Kadang, kita merasa demikian terguncang menghadapi aliran arus ketetapan Ilahiyah, sedemikian rupa hingga dibuat kita limbung karenanya.

Di saat seperti inilah menjalani rutinitas sebenarnya membantu. Shalat lima waktu menjadi pilarnya. Lalu jalani saja apa-apa amanah yang Allah sampaikan ke tangan kita dari antara waktu shalat ke waktu shalat lainnya. Pekerjaan yang itu, proyek yang itu, urusan anak dan sekolah, bisnis yang itu, meeting yang itu, serta segala urusan keseharian yang selalu akan mengemuka. Jalani dengan hati banyak bermunajat kepada-Nya, memohon agar Allah menuntun kita keluar dari kemelut kehidupan yang demikian menggerinda emosi dan perasaan kita. Karena hanya Dia yang kuasa mengubah semuanya. Dan di masa penantian itu mintalah agar kita diberi kesabaran yang baik dan dikaruniakan ilmu dan pemahaman agar kita lebih ringan menjalaninya dan bahkan bisa tersenyum menghadapinya.

Jadi jangan sepelekan hal-hal rutin yang memang bisa menyita waktu itu. Kalau itu dikerjakan dengan penghadapan hati yanh benar kepada Allah Ta’ala maka ia akan jadi amal shalih. Itulah yang akan menjamin hayatan thayyibah, kehidupan yang terbaik bagi kita masing-masing. Tetap semangat!


Leiden, 28 September 2026

Selepas riset di perpustakaan dan jelang waktu dinas, jam 15.33 sore.

Saturday, September 19, 2026

Saying goodbye is painful

 Saying goodbye is painful.

But pain is inevitable in life. How you interpreted it and what kind of story that you build around it will make a whole different thing, whether you are liberated from it or trapped by it.

***

Perpisahan adalah hal yang tak terelakkan dalam hidup. 

Jika bukan karena keadaan maka maut-lah menjadi pemisah antara seseorang dengan apa-apa yang dikasihinya.

Menjalani perpisahan itu menyakitkan, jika kita mencintai sesuatu atau seseorang itu. Tapi, mendera rasa sakit adalah bagian dari kehidupan. Kita tidak bisa menghindar darinya. Ada hikmah yang besar kenapa Allah Ta’ala mengizinkan sebuah fenomena yang menyakitkan terjadi. Ada sesuatu yang sedang Dia tumbuhkan, walaupun itu tak nampak. Pengetahuan tentang hal ini akan membuat seseorang lebih berdamai saat menjalani episode perpisahan atau kehilangan,

“Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun”

Mengimani bahwa segala sesuatu berasal dari Allah, Sang Pemilik semuanya dan akan kembali kepada-Nya. Ingat bahw akita adalah ciptaan. Kapanpun Sang Pencipta berkehendak untuk mengambil atau memindahkan ataupun mengubah ciptaan-Nya itu hak Allah Ta’ala. Kita tak punya hak untuk protes atau bahkan mengklaim itu jadi milik kita. 

Let it go. Bertasbihlah dengan aliran takdir kehidupan.  Agar kita menjadi orang yang merdeka. Terbebas dari pengaruh pasang surut dunia.

Amsterdam, Foodstrips, 19 September 2026 / 8 Rabiul Akhir 1448 jam 21.54


Tuesday, September 15, 2026

Unselfish Love

 Choosing to love someone can be really hard work. It requires constant self-reflection, dissolving our ego, and breaking free of deep-rooted patterns. It’s a daily choice, and sometimes even a fight with our old selves. But oh, it’s so worth it. Even the journey tends to break us, because the greater love cause the greater pain. And yet, it’s so much better than never knowing love at all.

***

Di awal waktu, mencinta seseorang rasanya mudah. Itu periode infatuation, dimana kita terbuai dengan kecocokan dan mengagumi kelebihan yang kita lihat padanya. That’s why they called it “fall in love”, karena “fall” itu almost “effortless. Kita seperti disedot dalam pusaran gravitasi cinta yang menggelora. Ini baru fase awal. 

And then when the ‘honeymoon’ is over. Ketika waktu menguak sisi-sisi lain dan yang asli dari pasangan kita. Belum tentu rasa cinta itu masih membara. Adapun cinta sejati tidak akan luntur oleh sekian fenomena yang kita labeli sebagai “kekurangan” dari pasangan kita. Karena cinta itu setia.

Demikianlah, kita belajar makna cinta sejati dari mencintai ciptaan-Nya, tapi jangan berhenti di situ, karena hati hanya layak ditempati oleh kuasa-Nya. Cinta kita harus bertumbuh. Hingga menumbuhkan cinta sejati. Unconditioned love. Unselfish love.  Insya Allah.


Amsterdam, Foostrip, 21.30 malam, Selasa, 15 September 2026

Friday, September 11, 2026

Stop fighting the reality

 Stop resisting reality.

Acceptance is not the same is giving up. 

You don’t have to pretend to like what happened or want things to stay bad.


But you can end your internal exhaustion and channel your energy for healing and actions by stop arguing with life as it is. By stop fighting for the facts that you cannot change.


And then we can feel our soul grows quietly and our body more relaxed. To be finally get the realization that we are where we’re supposed to be.


***


Hidup itu mengalir saja dengan apa yang ada.

Seperti aliran sungai yang tak memaksakan dirinya menembus bebatuan di sepanjang sungai, ia dengan ringan berbelok mencari jalan yang dimudahkan.

Seperti ikan yang tak memaksakan diri memakan buah masak syang ranum yang nampak bergelantungan di pohon di atas air. Sang ikan tak memaksakan diri untuk keluar dari habitatnya untuk sekadar mencari penghidupan. Dia bisa mati kalau memaksakan diri.

Seperti burung yang pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang, hanya dengan mengandalkan kemampuan sepasang sayapnya untuk terbang mencari makanan. Ia tidak sepandai kera yang bisa bergelayutam dari satu pohon ke pohon lain dan cekatanengambil buah-buahan. Ia tak sejago ikan yang bisa berenang menangkap mangsanya di dalam air. Ia pun tak secekatan singa yang bisa berlari cepat menangkap binatang lain. Burung memang ‘cuma’ punya sepasang sayap, tapi itu cukup untuk hidupnya. 

Apapun yang Allah berikan kepada kita, pekerjaan yang itu, kondisi yang itu, semuanya mestinya cukup untuk memenuhi hajat hidup, dan seringnya mestinya berlebih. Tapi kita mesti hidup sesuai dengan realitas yang ada. Jangan seperti punik merindukan rembulan. Sengsara hidup seperti itu. Hidup apa adamya saja. Adanya rumah yang itu syukuri, walaupun ngontrak. Who cares? Yang penting kita ngga nyolong dan ngga korupsi. Hidup lurus-lurus saja sambil menikmati dan mensyukuri keadaan dari saat ke saat. Go with the flow. Jangan melawan arus takdir yang mengalir dari saat ke saat agar bisa belajar berselancar dalam aliran-Nya. Bertasbih. Tersenyum menjalaninya. Insya Allah.


Amsterdam, Wibautsraat, menunggu anak-anak pulang sekolah. Jum’at, 11 September 2026

Thursday, September 10, 2026

Pandanglah langit agar dada kita tidak sempit

 Lihatlah ke langit malam

Saat bintang-bintang nampak bertaburan

Kerlap-kerlipnya adalah sebuah tasbih

Mengingatkan kita untuk senantiasa melihat ke Atas

Agar jangan tenggelam dalam kehidupan bumi

Lihatlah ke atas, menembus cakrawala

Rasakan kemegahan ciptaan yang tengah digelar di depan kita

Trilyunan galaksi membentang

Akan tetapi insan mulia Rasulullah Muhammad SAW diturunkan di bumi kita yang kecil ini

Untuk sebuah alasan yang agung

Sebuah pagelaran dahsyat dari Dia Yang Cinta untuk dikenal*

Pandanglah baik-baik konstelasi bintang yang ada

Bagaimana semua patuh dalam posisinya masing-masing

Hingga berfungsi menjadi petunjuk bagi manusia

Kita pun begitu, kalau berserah pada karsa-Nya

Hidup kita akan bagaikan bintang-bintang di malam hari

Bersinar terang di tengah kelamnya dunia

Menjadi pembawa kabar gembira bagi semestanya masing-masing

Maka tatkala dada merasa sempit oleh sekian tekanan kehidupan

Pandanglah langit, ingatlah bahwa alam raya yang ada demikian luas

Tak sesempit sekadar masalah yang mengungkung kita semata

See beyond all worldly manifestations

Jangkaulah alam-alam lain yang tengah juga digelar

Agar pemahaman kita lebih lengkap dengan kehidupan

Agar lebih lapang dada kita karenanya

Dan agar cahaya-Nya semakin bertambah menerpa qalb hingga sampai di intinya. 

Insya Allah. 


* "Aku adalah khanzn mahfiy (khazanah yang tersembunyi), Aku cinta untuk dikenal, maka Aku menciptakan makhluk agar Aku dikenal."- Hadits Qudsiy

Amsterdam, Kamis 10 September 2026 - renungan dari melihat langit semalam.