Wednesday, October 14, 2026

 UMRAH, HAJI DAN PENGENALAN DIRI


Dari kelima pilar Islam yang ada, saya rasa Haji adalah  yang terberat. Karena kalau syahadat, shalat, zakat dan shaum kita bisa melakukannya di ruang masing-masing dengan interaksi yang minimal dengan orang lain tapi saat haji atau umrah (haji kecil) kita terpapar dengan ratusan ribu (bahkan jutaan) orang di satu lokasi. 


Melaksanakan haji (atau umrah) itu harus banyak sabarnya. Sabar disikut orang saat thawaf, sabar kepala diinjak orang saat sujud di tempat shalat yang berdesak-desakan. Sabar dengan bau badan orang yang berdempetan. Sabar dengan kelakuan orang yang tidak mengguyur hajat besarnya dan meninggalkan WC yang kotor. Wah pokoknya kita terpapar dengan segala tingkah laku manusia saat berhaji. 


Bagaimana agar hati tetap tenang. Agar kita tetap ikhlas. Dan agar melihat bahwa apapun yang terjadi, sekecil apapun itu bukanlah sebuah kebetulan semata tetapi cara Allah untuk menunjukkan kondisi hati kita dari saat ke saat. Karena barangsiapa mengenal dirinya akan mengenal Rabbnya.


Pantaslah kiranya jika ritual puncak haji terletak pada saat diam di padang ‘Arafah. Padang pengenalan. Saat diam kita diajak untuk merenung dan membaca ke dalam diri. Siapa aku? Mengapa Allah Ta’ala mengizinkan semua takdir ini terjadi? Apa yang harus kulakukan dengan sisa usiaku? Inilah pertanyaan paling fundamental seorang manusia yang kerap terkubur dalam kesibukan kita mencari penghidupan, membangun karir atau berkarya apapun. 


Kita lupa bahwa hidup ini Dia yang punya. 

Kita lupa bahwa semua hal yang Dia berikan ada orientasinya.

Kita lupa, bahwa kita akan pulang dan mempertanggung jawabkan semuanya.

Kita bahkan sudah lupa siapa jiwa kita yang sebenarnya. Siapa nama kita yang sejati. 


It’s time to remember who we really are.

Sebelum nafas tinggal sehela lagi di kerongkongan.


Laa hawla wa laa quwwata illa billah.


Jeddah, 14 Oktober 2026

Menunggu penerbangan ke Jakarta

Be the man

“Ar rijaalu qawwamuna ‘ala nisaa”
QS An Nisaa:34

Ayat ini sering diterjemahkan sebagai “laki-laki adalah pemimpin kaum perempuan”

Akan tetapi kalai kita lihat lebih dalam kata “qawwamuna” adalah sebuah kata bentuk intenaif dari kata “qa’im” yang secara harfiah berarti “orang yang berdiri”. Secara hukum dan dari segi linguistik Bahasa Arab, kata “qawwam” atau “qayyim” berarti seorang pelindung, pemelihara, administrator atau manager yang bertanggung jawab untuk mengawasi segala urusan demi memastikan keselamatan dan kesejahteraan ragawinya.

Artinya, seorang lelaki yang layak digelari sebagai pemimpin bagi perempuannya adalah ia yang melakukan fungsinya sebagai penjaga, pelindung dan pemelihara sang perempuan. Dalam keseharian kita bisa melihat jelas mana lelaki yang “cowok banget” dan mana yang “banci”. Laki-laki sejati itu mengambil inisiatif untuk membantu. Itu adalah ekspresi penghormatan dan memuliakan kaum perempuan. Jangan biarkan si perempuan menenteng sendiri belanjaan beratnya. Kalau bisa bukakan pintu untuknya. Sepulang kerja, walaupunlelah upayakan ikut membantu sang istri mengurus anak dan rumah tangga. Karena rumah itu rumah bersama-sama. Dan merawat anak-anak adalah tanggung jawab baik ibu dan ayah.

Seorang “qayyim” juga berarti sebagai pelindung. Bukan sekadar berang kalau melihat ada laki-laki lain mendekati pasangannya. Tapi juga lindungi perasaan sang perempuan dengan menjadi safe space buatnya. Inilah makna menjadi seorang laki-laki sejati.

Dan perempuan itu kalau sudah terpenuhi kebutuhannya untuk merasa aman, dihargai kehadiran dan upayanya (feeling to be seen) dan dimengerti, maka si perempuan itu akan berkembang seperti bunga yang merekah dan mengeluarkan wanginya. Ini rahasia untuk meraih intimasi dengan perempuan. Be the man.

Jeddah, 14 Oktober 2026 jam 15.26 menunggu adzan Ashar


Monday, October 12, 2026

Just keep walking

 Just keep walking

Even when you are not sure of where you are headed.

Trust that Inner Guidance.

For you knowif you stop walking your soul will wither and die...

***

Hidup akan terus berjalan terlepas apakah kita akan berpartisipasi aktif di dalamnya atau tidak. 

Waktu akan terus melangkah, tak peduli apakah kita siap atau tidak. 

Bulir-bulir pasir dalam jam pasir jatah kehidupan akan terus berjatuhan, setiap nafas membawa kita mendekat kepada kematian. Hal yang paling ditakuti bahkan dibenci oleh sebagian orang karena belum paham apa hakikat kematian. 

Lihatlah di sekeliling kita. Semuanya berubah. Matahari terbit dan terbenam. Rembulan berubah bentuk setiap hari mengikuti siklus yang ada. Anak-anak bertambah dewasa. Dan lihatlah tubuh kita sudah tidak seperti dulu lagi. Rambut-rambut putih yang tumbuh satu persatu. Keriput kulit yang semakin menyata. Sendi-sendi yang mulai berulah. Setiap ciptaan tahu bahwa hidup adalah sebuah perjalanan. Kita, manusia, sering lupa, karena terkungkung oleh sebuah ruang kebiasaan dan seolah nampak statis. Kita terlalaikan oleh sekian banyak kesibukan dunia dan terhempas berkali-kali di dalamnya. Sampai kepada sebuah titik dimana kita tidak yakin lagi kemana harus melangkah. 

Namun sadarilah wahai sahabat, di titik dimana kita difakirkan, justru disitu saat Sang Pencipta berkehendak memberikan anugerah langsung dari-Nya. Karenanya jangan pernah dibuat putus asa oleh hempasan takdir. Semua dalam kendali Yang Maha Kuasa. Berjalanlah terus merespon kehidupan dengan sebaik-baik penyikapan yang bisa kita berikan. Panggil Dia di setiap langkah. Bahkan dalam kegelapan sekalipun melangkahlah dengan berhati-hati. Yakin di satu titik cahaya terang itu akan terlihat. Karena Dia tidak pernah pergi. Dia selalu dekat. Lebih dekat dari urat nadi kita...

Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya...

QS Qaaf : 16


Amsterdam, Senin, 12 Oktober 2026 saat musim gugur yang mulai dingin. Waktu liburan sekolah anak dan di tengah persiapan packing melaksanakan umrah dan perjalanan mudik ke tanah air. Jam 12.40 siang.

Friday, October 9, 2026

Tentang 'Patah Hati'

 "Daripada sakit hati, lebih baik sakit gigi ini. Biar tak mengapa..." - Meggy Z

Siapa yang mau patah hatinya? 

Sakitnya itu susah cari obatnya. Tidak semudah mengobati patah tulang. 

Pantas saja ada yang bilang, 

"I'd rather have a broken arm than a broken heart" 

Kalau tulang patah, jelas pengobatannya dan durasi sembuhnya bisa diperkirakan. Lha kalau sakit hati? Orang ada yang depresi bahkan rela mengakhiri hidupnya saking tak tertahankan sakitnya.

Tapi begini. Hati itu sebenarnya sebuah entitas dari manusia yang tidak bisa patah. Justru daya kapasitasnya demikian besar sehingga Allah Ta'ala menyatakan dalam hadits qudsiy, 

"Tidak memuat-Ku langit-Ku dan bumi-Ku kecuali hati (qalb) hamba-Ku yang mukmin."

Hati adalah Baitullah. Tempat Allah bertajalli. Bukan Dzat-Nya, tidak mungkin. Tapi kuasa-Nya.

Jadi bayangkan potensi kekuatan hati itu sedemikian dahsyat. Dia sebenarnya tidak akan patah oleh hal-hal kecil dalam kehidupan. Lalu apa yang terjadi dengan fenomena "broken heart" atau patah hati? 

Jalaluddin Rumi mengatakan, 

"Luka itu adalah lokasi dimana cahaya masuk." 

"Kau harus terus menghancurkan hatimu hingga ia terbuka." 

Perhatikan bahwa yang dihancurkan dan dipatahkan disini adalah sesuatu yang menyelubungi hati, bukan hati itu sendiri. 

Oleh karena itu, bagi kaum sufi, pengalaman 'patah hati' bukanlah sebuah tragedi dalam kehidupan, walaupun rasanya dunia kiamat. Tapi kalau mau sabar menjalaninya, kita akan melihat bahwa yang dihancurkan bukan hati kita, tapi hijab hati yang menyelubunginya dan biasanya itu berkelindan dengan ego manusia. Dengan kata lain yang patah itu egonya. Yang terluka itu harapan (ekspektasi) seseorang. Yang hancur itu mimpi dan angan-angannya, bukan hati itu sendiri. Dia tetap intact. 

Sadari bahwa mendera sakit hati adalah salah satu konsekuensi hidup. Agar jiwa kita bertumbuh. Kunci menjalaninya adalah sabar dan ingat bahwa semua adalah milik Allah sebagaimana firman Allah Ta'ala,

Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang sabar. 

Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan "innalillahi wa inna ilaihi raaji'uun" (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali)

Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.

(QS Al Baqarah [2]:155-157)

Jadi tatkala takdir kehidupan menyampaikan kita pada sebuah episode yang menyakitkan, dzikirkan "innalillahi wa inna ilaihi raaji'uun" berkali-kali untuk mengingatkan bahwa tidak ada satupun yang sebenarnya milik kita. Harta kita bukan milik kita. Anak-anak kita hanya titipan. Semua yang ada adalah amanah. Bahkan diri dan kehidupan adalah pinjaman yang harus disyukuri. Jangan klaim semua itu menjadi milik kita. Karena semakin kita melekat kepada semua itu semakin sakit hati kita dan menderita kita dibuatnya. So, let it go...remember that it was never our to begin with. 

Amsterdam, Sabtu 10 Oktober 2026 pukul 00.23 malam - di antara shalat sunnah di malam hari

Tuesday, September 29, 2026

 WE ARE (NOT) ROBOT


Menarik untuk menelisik bahwa kata “intellectual” di dalam tradisi Barat zaman dulu artinya kemampuan berpikir baik dengan logika dan hati. Dalam perkembangannya, terutama ketika dunia memasuki masa Revolusi Industri, pola berpikir dengan hati perlahan-lahan mulai ditinggalkan, sedemikian rupa hingga manusia merasa asing dengan istilah “akal hati”. 


Akhirnya manusia hanya mengandalkan logikanya dalam menghadapi urusan keseharian. Sesuatu yang sangat rentan dan lemah karena jangkauan logika dunia sangat terbatas. Seperti terbatasnya daya tembus penglihatan lahir yang tak mampu melihat di balik dinding yang terbentang di depannya. Karena terlampau mengandalkan separuh daya inteleknya, manusia menjadi budak dari perhitungan sebab akibat. Mirip seperti robot yang terbatas pergerakannya oleh sebuah algoritma tertentu. Begitu manusia berhadapan dengan sesuatu yang tak masuk akal seperti berbagai urusan takdir yang perlu dia cerna, maka dirinya akan senantiasa resah karena tak ada satu pun formulasi di akal pikirannya yang bisa memahami ihwal apa yang tengah terjadi. Akibatnya manusia menderita berbagai kasus simtomatik yang berakar dari stress kronis. Penyakit yang berasal dari bayang-bayang yang dibentuk oleh pikirannya sendiri. 


Jalaluddin Rumi berkata, “You have wings to fly, why prefer to crawl?”


Kita lupa menjadi manusia. Makhluk yang dikaruniai entitas jiwa. 

Kita lupa bahwa kita bukan sekadar raga yang akan berakhir masa pakainya lewat sebuah kematian.

Kita lupa bahwa daya intelektualitas kita bisa menyentuh Yang tak terbatas.

Kita punya akal hati yang dengannya kita bisa membuat lompatan-lompatan kuantum yang melampaui semua keterbatasan dunia sebab-akibat.


Most of all, kita lupa bahwa kita adalah ciptaan Yang Maha Kuasa. Bahwa Sang Pencipta merancang dengan detail setiap gerak kehidupan kita. 

Di setiap langkahnya.

Di setiap nafasnya.

Di setiap detak jantungnya.

Karena itu segala hal mengandung makna.

Kita bukan sekadar human doing. Seperti banyak kegiatan tapi tak ada orientasinya.

Kita adalah human being, diciptakan untuk menjadi sesuatu. Menjadi bayangan Ar Rahman di bumi ini.

Agar tidak hidup seperti robot.

Berkarya banyak tapi tak menjadi amal shalih.

Na’udzubillahimindzaalik.


On my flight from Amsterdam to Berlin, 29 Sept 2026, 13.36 

Monday, September 28, 2026

When things feel unstable

 Just keep working. Keep washing the dishes. Keep your daily activity. Keep building your life.

Because routine is what makes your stability when everything else feels unstable.

***

Pasang surut itu bagian dari kehidupan.

Perubahan adalah hal yang tak terpisahkan dari takdir manusia.

Kadang, kita merasa demikian terguncang menghadapi aliran arus ketetapan Ilahiyah, sedemikian rupa hingga dibuat kita limbung karenanya.

Di saat seperti inilah menjalani rutinitas sebenarnya membantu. Shalat lima waktu menjadi pilarnya. Lalu jalani saja apa-apa amanah yang Allah sampaikan ke tangan kita dari antara waktu shalat ke waktu shalat lainnya. Pekerjaan yang itu, proyek yang itu, urusan anak dan sekolah, bisnis yang itu, meeting yang itu, serta segala urusan keseharian yang selalu akan mengemuka. Jalani dengan hati banyak bermunajat kepada-Nya, memohon agar Allah menuntun kita keluar dari kemelut kehidupan yang demikian menggerinda emosi dan perasaan kita. Karena hanya Dia yang kuasa mengubah semuanya. Dan di masa penantian itu mintalah agar kita diberi kesabaran yang baik dan dikaruniakan ilmu dan pemahaman agar kita lebih ringan menjalaninya dan bahkan bisa tersenyum menghadapinya.

Jadi jangan sepelekan hal-hal rutin yang memang bisa menyita waktu itu. Kalau itu dikerjakan dengan penghadapan hati yanh benar kepada Allah Ta’ala maka ia akan jadi amal shalih. Itulah yang akan menjamin hayatan thayyibah, kehidupan yang terbaik bagi kita masing-masing. Tetap semangat!


Leiden, 28 September 2026

Selepas riset di perpustakaan dan jelang waktu dinas, jam 15.33 sore.

Saturday, September 19, 2026

Saying goodbye is painful

 Saying goodbye is painful.

But pain is inevitable in life. How you interpreted it and what kind of story that you build around it will make a whole different thing, whether you are liberated from it or trapped by it.

***

Perpisahan adalah hal yang tak terelakkan dalam hidup. 

Jika bukan karena keadaan maka maut-lah menjadi pemisah antara seseorang dengan apa-apa yang dikasihinya.

Menjalani perpisahan itu menyakitkan, jika kita mencintai sesuatu atau seseorang itu. Tapi, mendera rasa sakit adalah bagian dari kehidupan. Kita tidak bisa menghindar darinya. Ada hikmah yang besar kenapa Allah Ta’ala mengizinkan sebuah fenomena yang menyakitkan terjadi. Ada sesuatu yang sedang Dia tumbuhkan, walaupun itu tak nampak. Pengetahuan tentang hal ini akan membuat seseorang lebih berdamai saat menjalani episode perpisahan atau kehilangan,

“Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun”

Mengimani bahwa segala sesuatu berasal dari Allah, Sang Pemilik semuanya dan akan kembali kepada-Nya. Ingat bahw akita adalah ciptaan. Kapanpun Sang Pencipta berkehendak untuk mengambil atau memindahkan ataupun mengubah ciptaan-Nya itu hak Allah Ta’ala. Kita tak punya hak untuk protes atau bahkan mengklaim itu jadi milik kita. 

Let it go. Bertasbihlah dengan aliran takdir kehidupan.  Agar kita menjadi orang yang merdeka. Terbebas dari pengaruh pasang surut dunia.

Amsterdam, Foodstrips, 19 September 2026 / 8 Rabiul Akhir 1448 jam 21.54