Wednesday, November 4, 2026

 Jalani saja dulu.

Terlalu banyak perhitungan akan malah menghambat kita dari kemajuan.

Bukan berarti tanpa persiapan dan perhitungan, itu konyol namanya.

Pertimbangkan baik-baik dengan senantiasa memohon pertolongan dan bimbingan-Nya. Agar aspek langit dan bumi kita harmoni. Dan keberkahan akan diraih terlepas hasilnya apa.

Allah Ta’ala menyuruh kita untuk bekerja dan ikhtiar, adapun hasil akhir itu serahkan kepada Sang Maha Pencipta dan Sang Pemilik Kehidupan ini.

Just start walking, you do not need to have the entire journey figured out before you take the first step. Because clarity often comes from action, not from overthinking.

Amsterdam, 5 Nov 2026 jam 4.15 dini hari menunggu waktu shubuh.

 RETREAT


Kata “retreat” dalam Bahasa Inggris sering didengar dalam konteks perang ketika pasukan harus mundur (retreat) atau dalam acara “retret” yang biasanya digelar oleh kaum Nasrani, yang juga berarti mundur sejenak dari segala aktivitas keseharian.


Di literatur barat, kata “retreat” kadang digunakan ketika menerjemahkan istilah “i’tikaf” yaitu ibadah khusus, biasanya lazim di bulan Ramadhan terutama pada sepuluh malam terakhir, untuk berdiam di dalam masjid dalam rangka bertafakur dan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.


Orang barat sering menggunakan istilah “retreat” ini untuk menamai sebuah aktivitas keluar dari siklus dan kesibukan keseharian yang kadang cenderung menenggelamkan dan membuat manusia jadi kehilangan arah hidup. Dan “retreat” ini tidak selalu berkaitan dengan agama tertentu, kadang ada yoga retreat, zen retreat, sufi retreat, monestary retreat, music retreat, bahkan silence retreat - dimana para peserta tidak diperbolehkan untuk berbicara satu sama lain, kecuali sangat terpaksa, sepanjang retreat.


Terlepas dari warna retreatnya. Tampaknya kadang kita memang perlu untuk berhenti sejenak dari perputaran kehidupan yang tanpa henti. Untuk melakukan kalibrasi arah hidup dan tujuan hidup hakiki kita. Agar tidak salah menempatkan prioritas dalam hidup yang mengakibatkan penyesalan di akhir waktu.

Wallahu’alam.

‘Aisha said that the Prophet (SAW) used to go into retreat (i’tikaf) during the last ten days of every Ramadan until he died; then, his wives practiced i’tikaf after his death. (Bukhari and Muslim)

Sunday, November 1, 2026

Agar tidak "Post Power Syndrome"

 Kehilangan sesuatu yang kita sukai itu berat dalam hidup. 

Tapi, natur kehidupan itu fana. Semuanya bersifat sementara. 

Semakin kita melekat kepada sesuatu, semakin sulit kita melepaskannya. 

Menjalani masa-masa purna tugas adalah salah satu keniscayaan dalam hidup. 

Pekerjaan tertentu akan berakhir seiring dengan bertambahnya usia. 

Atau posisi tertentu bisa Allah Ta'ala ambil kembali lewat seribu satu cara dinamikan kehidupan. 

Agar jangan terlalu terpuruk menjalaninya, ingatlah firman Allah Ta'ala berikut: 

    Katakanlah (Muhammad), 'Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa        pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapapun yang Engkau kehendaki.            Engkau muliakan siapapun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapapun yang Engkau                kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan (al khayr). Sungguh Engkau Mahakuasa atas segala     sesuatu.  - QS Ali Imran [3]:26

Sadari bahwa kita terlahir ke dunia ini tanpa memiliki apa-apa. Adalah Allah Ta'ala yang mengamanahkan itu semua. Kita mesti tahu diri bahwa kita ini adalah ciptaan dan sang hamba, biarkan Sang Pencipta memberi dan mengambil sesuatu - memuliakan dan membuat kita terhina sekalipun - dengan keyakinan bahwa di balik semua tindakan-Nya itu tersimpan banyak kebajikan (al khayr) untuk kita. 

Hidup masih panjang. Jika kita terpuruk dan meratapi berpanjang-panjang di penggal kehidupan di alam dunia  yang sangat singkat ini maka kita akan kehilangan banyak kesempatan untuk bersyukur dan akhirnya menjadi hamba-Nya yang merugi.

Let it go. And just work with the flow. 

Berjalanlah dengan ringan dan tersenyum dari hati dalam menghadapi takdir dari hari ke hari. 


Musim gugur di Amsterdam, 2 November 2026 jam 8.28 pagi setelah membantu mempersiapkan Rumi berangkat sekolah.

Wednesday, October 28, 2026

To love (sometime) is to let go

 Memandang keluar jendela.

Dedaunan yang menguning pertanda musim dingin tiba.


Bahkan daun-daun tahu, cara untuk mempertahankan kelangsungan pohon di musim tertentu adalah dengan melepaskan diri darinya.


Kadang, kita pun dihadapkan dengan situasi yang menuntut kita untuk melepaskan sesuatu sebagai bentuk cinta.


Let it go.

Percayakan ia di tangan Sang Pencipta.

Karena tak ada penjagaan yang lebih baik selain dari sisi-Nya.

Monday, October 26, 2026

 FOOD IS OUR LOVE LANGUAGE


Jargon kami “Love at first bite”


Apapun permasalahan yang ada biasanya ketemu jalan keluarnya saat diplomasi di meja makan, terlepas mejanya bundar, oval atau kotak.


Sekesal apapun kita sama seseorang, selama masih bisa duduk bersama sambil menikmati hidangan yang ada, gunung es kekesalan itu pun mulai mencair.


Semarah apapun kita di masa lalu atas perbuatan atau perkataan seseorang tapi ketika lidah dimanjakan oleh kelezatan hidangan yang ada, tiba-tiba hati pun ajaib menjadi melunak dan kita jadi lebih bisa memaafkan.


So, don’t underestimate the power of dining together. Ada ikatan hati yang terjalin saat kita duduk bersama.

You don’t even have to agree with me. 

Just spend time and sit together while we enjoy our meal.

Karena selalu ada hal yang kita rayakan bersama bahkan di antara ketidaksepahaman. Lagi pula, kata-kata itu sangat terbatas untuk menjembantani jurang perbedaan yang ada. Sometimes, all you need is to enjoy a goid food together when words are inadequate.


From Jeddah with love,

❤️ 27 Oktober 2026, selepas shubuh 5.33

 MENJADI TAMU ALLAH


Menjejakkan kaki ke Baitullah itu dalam kesaksian saya itu betul-betul karena panggilan Allah. Kalau seseorang belum dipanggil hatinya, walaupun dia mampu dan punya kesempatan, tidak akan tergerak untuk datang. Dan kalaupun seseorang keinginannya membuncah ingin ke tanah suci, tapi kalau Allah belum berikan kemampuan dan tidak dibukakan kesempatan, juga tak akan terjadi.


Jadi, berbahagialah para tamu Allah, mereka yang diundang dan dimampukan oleh Allah. Jalannya bisa tak terduga. Seperti tukang sayur depan rumah tante saya yang tiba-tiba bisa pergi umrah karena menggantikan seseorang yang keburu meninggal sebelum menunaikan umrah. Padahal kalau mau memakai perhitungan akal manusia, mau nabung sampai kapan sampai beliau bisa pergi ke tanah suci? Tapi kalah Allah Ta’ala menghendaki seseorang datang ya sampai saja.


Maka setidaknya nyalakan bara keinginan di dalam hati untuk bisa menginjakkan kaki di Masjidil Haram. Kapan dan bagaimana caranya? Serahkan bagian itu kepada Allah. Tugas kita adalah memanage keseharian dengan baik. Yang bisa nabung ya menabunglah, tapi jangan mengandalkan dirinpada tabungan itu. Karena Allah suka memberi kejutan lewat cara yang tak terduga.


Labbaik Allahumma labbaik.


Jeddah,

Selasa 27 Oktober 226 pukul 3.49 dini hari.

 ONE WAY TICKET


Setiap manusia terlahir membawa one way ticket menuju alam barzakh, alam persinggahan berikutnya.


Di usia janin 120 hari dituliskan tanggal berapa dan kapan waktu keberangkatannya. Kadang ada yang di delay, tapi tak ada yang bisa menolak saat keberangkatan jika ia telah tiba.


Sang Pemberi Tiket sudah mempersiapkan segalanya, perbekalan dan semua itinerary. Lengkap sejak hari pertama landing sampai nanti berangkat kembali. Semua orang membawa misi yang berbeda-beda di negeri persinggahan sementara ini. Setiap orang memiliki itinerary yang spesifik, yang disesuaikan dengan bekalnya masing-masing. 


Kebanyakan manusia, setelah landing di negeri asing, lupa dengan tugas dinasnya itu. Ia malah menghabiskan semua perbekalan berdasarkan kemauannya alih-alih mengikuti itinerary yang telah ada. Sebuah agenda suci yang terlupakan dan terlalaikan hingga saat boarding datang. Ia baru ingat belum melakukan ini dan itu. Tapi sudah terlambat. 


Panggilan akhir sudah digaungkan. 

Saatnya untuk pergi.

Tinggal sesal yang tiada tara.

“Duh, seandainya dulu aku begini-begitu”

Sesal kemudian tiada guna.


Selagi masih ada nafas.

Temukan kembali itinerary dari-Nya.

Apa kehendak-Nya yang diamanahkan kepada kita di alam persinggahan ini.

Baca kembali dari semua bekal yang ada.

Semua ada di sana. Menunggu untuk kita baca dan ditafakuri.


Bandara Soekarno-Hatta Jakarta, menunggu boarding menuju Jeddah jam 16.53 sore