Sunday, July 26, 2026

Agar Allah membersamai kita

 Pastikan setiap langkah dibersamai Allah.

Setiap pilihan, dipilihkan Allah.

Melakukan sesuatu karena Allah.

Mengerjakan sesuatu sebab mengharap ridho-Nya.

Pokoknya setiap nafas usahakan betul merasakan kehadiran-Nya. Masalahnya Dia memang selalu hadir. Satu Yang Paling setia.

Kitanya saja yang teralihkan perhatiannya kesana kemari sehingga Dia seolah tak ada.


Segala sesuatu yang dikerjakan lillahi ta’ala tak akan rugi. Kalaupun seakan ngga ada uangnya, tapi ganjaran yang kita garapkan adalah lebih berharga dari sekadar imbalan yang bersifat materi.


Walaupun tampaknya ‘gagal’ atau ‘kurang keren’ sekalipun di mata orang banyak, tapi kalau sesuatu itu dari Allah dan itu adalah yang Dia kehendaki maka itulah rezeki terbesar kita. Para pemuda dalam kisah Ashabul Kahfi paham betul tentang prinsip ini. Dalam usianya yang masih belia, kalau dalam bahasa kita sekarang, karir lagi menanjak dan dan dunia serasa ditundukkan, mereka malah menyepi untuk mencari amr Allah. Urusan spesifik yang Allah kehendaki untuk diri masing-masing. Karena apa gunanya diit banyak tapi Allah tidak senyum sama kita? Apa bahagia seakan memiliki segala tapi hati jauh dari Allah?


“Masa bermain sudah usai” sindir Jalaluddin Rumi. Ayo dong mikirnya jauh, ke akhirat. Jangan tenggelam dalam permainan dunia material yang melalaikan. Bukan berarti kita meninggalkan dunia. Justru seorang mukmin adalah yang piawai dalam memanage dunianya tapi kekuatan dunia itu tak dia biarkan mencengkeram hatinya. Karena qalb itu hanya untuk Allah.


Renungan saat sarapan pagi di bandara jelang keberangkatan ke London, Senin 27 Juli 2026 jam 8.38 pagi

Friday, July 24, 2026

Menyikapi dunia bayang-bayang

 Row-row your boat gently down the stream

Merrily, merrily , merrily, merrily,

Life is but a dream...


Hidup itu seperti kita bermimpi. Rasulullah SAW bersabda, "Manusia itu tertidur, ketika dia mati, dia terbangun." 

Lho kok tidur? Lha wong kita banyak bangunnya; bekerja, beraktivitas dsb. Jadi bahkan semua kegiatan kita di dunia yang kita dibuat sibuk karenanya itu masih dalam kategori bermimpi. 

Mari kita endapkan sejenak. Renungkan. Ini memang perenungan tingkat tinggi. Tapi memahami hal ini adalah kunci untuk bisa hidup bahagia. Dengan sebuah kebahagiaan yang bersumber dari kebenaran, bukan kesenangan sesaat yang kita persepsi sebagai sebuah kebahagiaan. 

Jadi, kematian adalah syarat agar seseorang terbangun dari mimpinya. Dan sebagaimana halnya mimpi, senyata-nyatanya orang mengalami sesuatu di alam mimpi, dia bukan sebuah realita yang sesungguhnya. Bukankah demikian? 

Maka belajar mati sebelum mati adalah hal yang esensial dalam bersuluk. Melepaskan jiwa dari semua pengaruh dan kekuatan selain Allah. Itulah makna menjadi muslim, orang yang berserah diri. Artinya menyerahkan semuanya kepada Allah seperti ikrar yang kita bacakan dalam doa Iftitah di awal waktu shalat,

Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku semata hanya untuk Allah Tuhan semua Alam, tiada sekutu bagi-Nya.

Kita lebur dalam karsa-Nya. Menyatu dalam kehendak-Nya. Mengalir dengan aliran takdir-Nya. Dari waktu ke waktu. Di setiap tarikan nafas dan di setiap detak jantung. Dengannya, semua fenomena lahiriyah di dunia bayang-bayang menjadi bermakna. Dia menjadi kekal.

Amsterdam, Jum'at selepas Kajian Suluk Online, 24 Juli 2026


Thursday, July 23, 2026

Agar jangan sampai tergilas oleh takdir hidup

 "Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga dia beriman kepada qadar baik dan buruknya dari Allah..."  hadits Rasulullah SAW dari Jabir bin 'Abdillah r.a.

Kalau kita yakin semua hal yang terjadi baik-buruk kehidupan, pahit-manisnya, senang-sedih semua dari Allah, mestinya kita tidak tenggelam dalam kesedihan yang serasa tak berkesudahan menghadapi ujian kehidupan. 

Karena bukankah Allah itu Maha Kasih dan Penyayang, yang tidak mungkin menzalimi hamba-Nya bahkan sebiji atom sekalipun? Tapi ketika fenomenanya dirasa menyakitkan, memang mudah kita terjebak untuk mencari kambing hitam. Salah dia, salah anu, bahkan salah Tuhan, apapun ditunjuk kecuali hidungnya sendiri. Kita jarang dengan ksatria melihat ke dalam diri bahwa di balik apapun yang mewujud di dalam takdir kita di situ ada andil kita di situ, baik besar maupun kecil. Karena takdir itu bagaikan bayang-bayang yang tertangkap oleh layar di pertunjukan wayang kulit. Bentuk bayangan tidak akan jauh dari bentuk obyek yang diterpa oleh sumber cahaya yang kemudian jatuh menjadi bayangan di layar putih pertunjukan wayang kulit. Bedanya, layar dunia ini bentuknya bukan dua dimensi seperti di pertunjukan wayang kulit, melainkan jauh lebih canggih, sedemikian rupa sampai bayangan tak sadarkan diri bahwa ia hanya bayang-bayang dan bukan merupakan entitas asli. Itulah raga yang lupa pada keberadaan jiwanya. 

Perjalanan kehidupan dunia adalah serangkaian proses mengenal kembali si jiwa (recollection), agar kita mengenal Sang Rabb, Pencipta kita semua. Mengingat kembali bahwa hidup itu ada orientasinya. Tidak sekedar mampir, menumpu kekayaan, mengejar karir lalu semuanya ditinggal di depan gerbang kematian. Ada hal esensi yang harus kita dapatkan dalam hidup. Sesuatu yang menghidupkan jiwa. Hal yang sudah diendus sejak lama sejak zaman Yunani yang tersimpan dalam kisah Coming Home-nya Oddyseus. Hal yang sama yang dicari oleh Alexander the Great dalam upayanya mencari "the water of life"  air kehidupan. Air yang sama yang dicari oleh Bima dalam legenda Dewa Ruci, yaitu tirta pawitra yang terletak di kedalaman samudera. 

Kita semua sedang mencari sesuatu yang hakiki. Jangan sampai terlena dan berhenti pada obyek-obyek dunia yang bersifat fana. Keep searching. Dengarkan desahan hati nurani yang selalu menyeru itu. Agar jangan sampai kita tergilas oleh takdir hidup. Merasa sudah mengerjakan banyak hal tapi sebenarnya tidak kemana-mana, karena hilang orientasi. Kenapa kehilangan arah? Karena kurang meminta kepada Allah. Mintalah, Dia pasti akan merespon.

Amsterdam, 23 Juli 2026 / 9 Safar 1448 jam 5.10 sore di saat liburan musim panas anak-anak


Sunday, July 19, 2026

Semua akan hancur kecuali Dia

 “So what’s your take today Rumi?”


Saya secara berkala selalu bertanya apa yang anak ini pelajari dalam kehidupan. Kadang jawabannya ala kadarnya, kadang bercanda, kadang dijawab dengan “nothing”. Tapi hari ini dia memberikan jawaban yang menohok.


“If you know that things will end why bother?”


Kalau kita tahu kalau segala sesuatunya akan berakhir, kenapa harus dibuat susah karenanya? Bener juga nih anak.


Sedih itu bagian dari kehidupan. Itu biasa. Tapi jangan sampai kita dicengkeram oleh kesedihan dan bersusah hati karenanya. 


Nikmati dan syukuri hidup, tapi jangan dibuat hati terbelenggu dan terikat olehnya, sebab hati kita hanya bisa dipenuhi oleh Allah. 


“Segala sesuatu yang ada di atasnya (bumi) akan binasa” QS Ar Rahman:26

Amsterdam, 19 Juli 2026, saat liburan musim panas yang cerah

Minggu santai setelah begadang semalam sama Rumi menunggu shalat isya jam 12 dan shalat shubuh jam 3 pagi


Rumi 12 tahun

Saturday, July 18, 2026

Tinggalkan apa yang meragukanmu

 TINGGALKAN APA YANG MERAGUKANMU


Ada kisah seorang perempuan yang kewara’annya dituliskan oleh Syaikh Ibnu Arabi dalam Kitab Futuhat al Makkiyah.Dialah saudara perempuan Bisyr Al Hafi ra yang pada suatu hari bertanya kepada Imam Ahmad bin Hambal tentang suatu perkara yang meresahkan hatinya. Yaitu pada malam hari dia pernah menenun kain dengan menggunakan cahaya dari lampu obor milik orang lain yang lewat di depan rumahnya.


Bayangkan, cahaya terang dari obor orang yang lewat yang dia manfaatkan, mungkin tanpa izin, hingga membuat hatinya ragu, apakah hal ini boleh atau tidak. Disebutkan bahwa ia tidak mungkin menanyakan hal itu kecuali ada keraguan dalam dirinya dan Nabi SAW bersabda,

“Tinggalkanlah apa yang meragukanmu dan lakukan apa yang tidak membuatmu ragu.”


Tak heran jika Imam Hambal yang ditanya pun memberi fatwa agar perempuan itu tidak lagi menenun dengan cara seperti itu sambil memuji kewara’annya hingga kisah tersebut sampai kepada kita dan ditulis dalam kitab-kitab.


Kemurnian hati sang perempuan itu menjadikannya merasakan hal-hal yang halus dalam kehidupan. Mungkin orang lain ada yang memakai obor tetangganya tanpa izinpun tak bergeming hatinya saking gelap dan kerasnya dia, na’udzubillahimindzaalik.


Inilah indahnya ajaran agama. Bagaimana ia menghormati hak-hak orang lain, hingga yang paling halus sekalipun. Agar manusia hidup dalam harmoni.


Dalam kereta menuju farewell party Mas Nur Ahmad di Leiden

18 Juli 2026

17.11 sore

Wednesday, July 8, 2026

Perjuangan menerima takdir-Nya

 Rasulullah SAW bersabda, 

"Aku takjub pada seorang mukmin. Sesungguhnya Allah tidaklah menakdirkan sesuatu untuk seorang mukmin melainkan pasti itulah yang terbaik untuknya."  - HR Ahmad

Secara ilmu kita tahu bahwa tidaklah Allah menetapkan sesuatu kecuali ada kebaikan yang banyak di dalamnya. Bahkan dalam takdir yang bagi sebagian besar manusia dipandang buruk sekalipun. Karena pengetahuan manusia sungguh sangat terbatas. Hal ini sudah dinyatakan dalam QS Al Baqarah:216

Diwajibkan (kutiba) atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui. 

Allah Ta'ala menggunakan kata "kutiba" yang secara harfiah sudah dituliskan. Sebagaimana takdir hidup kita semua kemungkinan yang akan terjadi sudah dituliskan. Manusia hanya bergerak dari kemungkinan takdir yang satu ke kemungkinan takdir yang lain yang sudah ditetapkan. 

Iman kita mestinya membuat kita tenang mengetahui bahwa segala sesuatu sudah dituliskan. Kan yang menulisnya Yang Maha Pengasih dan Penyayang, Dzat yang tak mungkin menzalimi hamba-Nya bahkan sebiji dzarrah sekalipun. Tinggal percaya saja pada aliran takdir yang ada. Allah is in control. Tenang saja. Nasib, kita, keluarga dan hal-hal yang kita sayangi ada di tangan-Nya. Kalaupun tampaknya seperti terlunta-lunta atau dikeringkan kehidupan dunianya, bisa jadi itu sebuah obat dari penyakit hati yang ada, yang dengan jalan difakirkan kita menjadi selamat di alam berikutnya. Oleh karena itu iman kepada qadha dan qadar ada dalam posisi terakhir dalam konstelasi rukum iman. Saking tidak mudahnya mengimani takdir keseharian, kita harus melampaui iman kepada Allah, Malaikat, Kitab-Kitab, Rasul-Rasul, dan Hari Akhir. Artinya untuk bisa berdamai dengan takdir Allah mau tidak mau harus memandang sesuatu dengan sudut pandang lain. Fokusnya di Hari Akhir, dimana alam barzakh adalah bagian yang tak terpisahkan darinya. Dengan kata lain, kematian mestinya menjadi sebuah dzikir yang menyadarkan kita bahwa hidup itu singkat, demikian pun segala penderitaan dan kesulitan yang ada berjangka waktu sebentar saja dibandingkan kehidupan di alam barzakh hingga menunggu kiamat qubra dan kehidupan di padang mahsyar dan akhirat. 

Maka, yang membuat kita sulit menerima kenyataan hidup dan pontang-panting menjalani ketetapan-Nya mesti karena iman kita yang luntur kepada-Nya. Sebagaimana yang diisyaratkan oleh Rasulullah SAW dalam hadits di atas, Sesungguhnya Allah tidaklah menakdirkan sesuatu untuk seorang mukmin melainkan pasti itulah yang terbaik untuknya."  - HR Ahmad. Inilah kualitas seorang mukmin, keteguhan imannya menjadikannya selalu melihat kebaikan di dalam bentuk takdir apapun.[]

Amsterdam, 8 Juli 2026

Rabu jam 11.11 pagi

Friday, July 3, 2026

Ikhtiar 'menyentuh' wajah-Nya

 "Aku menciptakan Muhammad pertama kali dari Cahaya Wajah-Ku"

- Hadits Qudsiy dalam Mukadimah kitab Sirrur al Asrar, Syaikh Abdul Qadir Jailani. 

Menurut Syaikh Abdul Qadir, makhluk pertama yang diciptakan Allah adalah ruh Muhammad SAW. Ia diciptakan dari pancaran keindahan Ilahi. 

Hadits lain riwayat Abu Daud mengatakan, 

"Yang pertama Allah ciptakan adalah ruhku (ruh Muhammad SAW). Dan yang pertama Allah ciptakan adalah cahayaku (Nur Muhammad SAW). Dan yang pertama Allah ciptakan adalah pena. Dan yang pertama Allah ciptakan adalah akal." 

Artinya ruh Muhammad, nur Muhammad, pena dan akal (aql) adalah satu entitas tunggal. Inilah yang disebut dengan Hakikat Muhammad. 

Bayangkan semesta ciptaan, termasuk milyaran (mungkin trilyunan) galaksi di luar sana yang megah ini dicipta dari satu bagian dari Cahaya Wajah-Nya! It's mind blowing even just to imagine. 

Kesadaran akan hal seperti ini membuat kita tidak terlalu tenggelam dalam hiruk pikuk kehidupan dunia. So we don't miss the big picture. Supaya kita tidak terseret-seret arus kehidupan yang akan berubah dari waktu ke waktu. 

Artinya takdir kehidupan kita itu amazing banget! Hanya kita saja yang sering tidak menyadari kemegahan karya agung Ilahiyah ini dan menjadi tidak bersyukur kepada-Nya. Manusia yang sebenarnya terlahir dengan fitrah untuk menghamba kepada-Nya menjadi kehilangan nilai kemanusiaannya ketika menjelma menjadi budak-budak hawa nafsu dan syahwatnya. Ia menjadi melupakan Allah. Padahal Dia sudah demikian rindu untuk dikenal kembali. 

Sadarilah bahwa di dalam setiap aliran takdir dari hari ke hari itu tersimpan surat cinta dari-Nya. Yang harus kita baca. Iqra bismirabbika ladzi khalaq. Membacanya dengan menyertakan Dia sang Rabb Yang Menciptakan kita. Yang paling tahu apa yang terbaik bagi dunia dan akhirat kita. Yang paling paham siapa diri kita. Yang paling mengerti apa ketakutan kita dan apa yang membuat kita sembuh. 

Kembalilah kepada-Nya...karena Dia selalu menanti.


Amsterdam, 3 Juli 2026 / 18 Muharram 1448 H jam 13.00 siang