Tuesday, February 3, 2026

Ketika Allah tengah menguatkan pondasi kita

 “Kadang ada hal-hal dalam kehidupan yang baru kita pahami bertahun-tahun kemudian”

***

Hidup itu penuh misteri. Setiap detilnya mencengangkan sebenarnya karena semuanya adalah manifestasi dari garisan takdir kehidupan yang telah Allah tuliskan jauh sebelum alam raya tercipta.

Karena Yang Menciptakan adalah Dzat Yang Maha Ilmu maka tak ada takdir yang sia-sia. Tak ada gerak kehidupan yang tak bermakna. Bahkan dalam tragedi sekalipun tersimpan sebuah hikmah yang dalam. Hanya saja seringkali perlu perlu waktu bagi manusia untuk memahaminya.

Bayangkan proses pembuatan rel kereta. Sang desainer tentu tidak sekadar sibuk pada satu titik saja, melainkan keseluruhan rute dan lajur kereta yang ada, semua dibuat dengan perhitungan yang dalam dan melibatkan banyak pertimbangan. Secara fisik pengerjaannya pun butuh waktu yang tidak sebentar. Pertama membebaskan lahan yang ada, lalu membuat rata lajurnya, ditebarkan batu-batu yang kokoh sebagai bantalan rel besi yang dirangkai dengan sangat cermat agar tidak membuat gerbong keluar lakur atau oleng dan terguling. Demikian juga, rel-rel takdir kehidupan kita sudah ada. Tinggal kita memilih jalur yang mana. Diantara sekian pilihan itu ada lajur yang terbaik, yang rezeki lahir batinnya melimpah, itulah shiraathal mustaqiim yang kita minta setiap shalat.

Tapi, bayangkan saat laju-lajur itu masih dalam tahap pembuatan. Tentu sebidang tanah banyak protes saat dikeruk, diratakan lalu ditimpa dengan bebatuan keras di atasnya. Semuanya terasa sebuah penderitaan. Yang tidak dia pahami adalah dia disiapkan menjadi bagian dari sebuah trayek penting yang memindahkan manusia dari satu tempat ke tempat lain. Yang dengannya keberadaannya menjadi bermakna dan mengkontribusikan sesuatu. 

Setiap kita pun demikian. Kita tidak terlahir kosong dari misi hidup. Setiap orang memiliki amal shalih utamanya masing-masing, yang itu hanya bisa ditemukan dan dijalani di shiraathal mustaqiim. Itu mengapa shalat adalah tiang diin, bukanagama dalam arti ritual saja, tapi keseluruhan kehidupan dan nafas kita.  Tanpa shalat, kita hanya terlunta-lunta dan dibuat bingung dengan fenomena perubahan dan gejolak yang selalu ada hingga kiamat nanti. Kita perlu memaknai kehidupan kita. Bahkan kalaupun pemahaman itu nanti datangnya, tapi dengan shalat, nur islam yang Allah sematkan di shadr itu akan juga membuat yang bersangkutan menjadi berserah diri (aslama). Tak meronta-ronta menjalani takdir-Nya bahkan mensyukuri apapun fenomenanya.

Ya, memang banyak hal yang belum kita pahami saat ini. Terutama yang terkait dengan kehidupan kita sendiri. Kenapa saya dilahirkan di keluarga itu? Kenapa memiliki fisik seperti ini? Kenapa saya dibuat jago di bidang tertentu dan keok di bidang lain? Semuanya mesti dibaca, iqra, agar kita makin berilmu. Dan kalaupun pemahaman itu belum juga datang, sabar saja dijalani. Hidup adalah sesimpel itu.


Amsterdam , 3 Januari 2026

Selasa malam selepas jemput Rumi badminton dan ke Jumbo. Jam 20.50

Pemandangan di Gein dari Metro 54




Sunday, February 1, 2026

Don’t give up. This too shall pass…

 Some days are tough, but believe me that you are much tougher than that. It’s okay. Just keep walking…

***

Kadang ada saat kita begitu lelah dan ingin lari rasanya dari semua kenyataan yang ada.

Kadang sekadar untuk bangkit dari tempat tidur betul-betul memerlukan sebuah upaya berat dan ingin rasanya tenggelam kembali dalam buaian mimpi agar tak perlu merasakan semua rasa sakit ini.

Kadang, hidup terasa begitu hampa sehingga kita ingin menyudahi saja semuanya.

Sahabatku sayang,

Hidup itu memang demikian adanya. Setiap kita akan dihadapkan pada situasi yang demikian mencekam dan menghimpit. Sampai-sampai kita hampir berputus asa dibuatnya.

Tapi, kita sering lupa, bahwa sebagian besar kehidupan kita masih dilimpahi oleh demikian banyak nikmat yang kerap kita abaikan kehadirannya. Mulai dari puluhan trilyun sel tubuh yang kita gunakan sehari-hari, mata yang bisa melihat, nafas yang tak tersengal-sengal, jantung yang berdetak dalam irama yang pas sehingga tak membuat dada kita berdebar-debar dan banyak lagi pemberian Allah yang baru sekadar dalam tataran ragawi, yang tak terhitung banyaknya. Belum pemberian dalam tataran jiwa, kebahagiaan, kedamaian, ilham, inspirasi, kebajikan, kebijaksanaan dll. Sesuatu yang menjadikan kita manusia, bukan sekadar makhluk seperti binatang yang memamahbiak dan berkembang biak mengikuti instingnya. Karena manusia hadir untuk menjadi kalimah-Nya. Sebuah pohon yang ditumbuhkan oleh Allah melalui serangkaian takdir yang telah Dia desain lebih dari milyaran tahun yang lalu, yang dikatakan dalam hadits bahwa sesungguhnya pena telah diangkat dan tinta ciptaan telah kering. 

It’s written…Semua yang terjadi dalam hidup kita itu bukan sekadar kebetulan atau fenomena sebab-akibat semata. Ada sebuah grand design dari semesta kehidupan ini. Termasuk episode ujian dan duka cita yang tengah kita alami ini. Memang berat, iya. Tapi kan ada Allah yang selalu bisa membantu mengangkat semuanya. Jangan dijalani sendiri. Tak akan bisa. Kita akan kelelahan menjalaninya. 

Surrender. Berserah diri kepada Allah. Biarkan Dia yang ambil alih. Fokuskan pada upaya memperbaiki hubungan dengan Allah dengan memperbaiki shalat. Upayakan shalat tepat waktu karena itu adalah amal yang paling Allah cintai. Lalu tambah dengan shalat-shalat sunnah untuk menambal shalat-shalat kita yang dikerjakan dengan hati yang lalai dan kurang khusyu. Lalu rasakan lama kelamaan kehadiran cahaya Allah itu di dalam hati kita. Cahaya itu yang melegakan dan membuat ringan langkah kita dalam menjalani segila apapun badai kehidupan yang ada. Hadapi, dan saksikan kuasa-Nya yang menemani di setiap langkah. []


Amsterdam, 1 Februari 2026 / 13 Sya’ban 1447 H

Siang hari yang dingin dan mendung, jam 14.09 

Foto dari kamar hotel Generator Paris (Place du Colonel Fabien) , dalam kunjungan berkala ke pengajian Ar Raudhah 



Sunday, January 25, 2026

Agar kuat menghadapi badai kehidupan

 You must build your own ground and strengthening it, so that when you life collapse you down go down with it. And that starts with acceptance and gratitude.

***

Ujian dalam kehidupan itu suatu keniscayaan. Tidak ada orang yang steril dari ujian, walaupun dari luar tampaknya damai-damai saja atau baik-baik saja tapi tak ada yang bisa meneropong kondisi hati orang.

Karena datangnya ujian itu suatu hal yang pasti, maka patutlah kiranya kita bersiap agar tak tumbang ketika hantaman badai kehidupan datang menerpa. Dan persiapan itu harus dilakukan setiap hari karena kita tidak tahu kapan datangnya musibah, sakit, kehilangan atau apapun yang terasa sebagai sebuah ujian hidup. Bahkan jika dia datang berupa kelimpahan pun sebenarnya adalah sebuah ujian yang menuntut kebersyukuran dan mawas diri.

Agar kuat menghadapi hantaman badai kehidupan, kita mesti belajar dari kekokohan sebatang pohon yang ditentukan dari kekuatan akarnya dalam menghadapi terpaan angin kencang. Akar yang semakin menghunjam ke bumi akan semakin mengokohkan si pohon. Kita pun begitu, akar adalah keimanan, dia harus dikokohkan dengan terpaan angin. Fungsi akar selain itu adalah untuk menyerap air dan unsur hara dari tanah. Air adalah lambang pengetahuan dan unsur hara adalah hal-hal kebaikan terkandung di bumi takdir kita. Kalau akar diri kita baik maka kita akan selalu bisa belajar hikmah dan pengetahuan di balik semua takdir yang Allah tetapkan dari waktu ke waktu. Tapi syarat agar pengetahuan itu didapat, hati harus bersih agar cahaya Allah bersinar disana. Cahaya itu yang menjadi medium komunikasi dengan Allah Ta’ala sehingga kita senantiasa tertuntun dalam menyikapi setiap aliran takdir yang ada. Tapi semua itu tidak akan terjadi kecuali kita menerima dan mensyukuri skenario hidup kita masing-masing. Baik- buruknya diterima apa adanya dengan sebuah keyakinan kalau Allah Yang Maha Ilmu yang merancang itu semua. 

Nanti, pada saat badai ujian itu datang. Akar yang selalu kuat membumi akan bisa menahan terpaannya. Hingga pohon pun tetap tegak dan dahan-dahannya merentang di langit hingga berbuah dan memberikan manfaatnya. Itulah cara menyebar rahmat Allah, menjadi rahmatan lil ‘alamiin. Insya Allah.

Amsterdam, 26 Januari 2026 pukul 00.18



Friday, January 16, 2026

Tak ada yang bisa memahami kita selain Allah

 Kesal karena disalahpahami oleh orang lain?

Ya jelas saja, wong pasangan bahkan diri sendiri bisa kesulitan memahami keseluruhan kompleksitas manusia yang ada.

Manusia itu kompleks dia punya berbagai alam di dalam dirinya, ada alam pikiran, alam keinginan, alam hawa nafsu, alam kenangan masa lalu, alam ambisi dll. Trilyunan lintasan pikiran, keinginan dan perasaan yang mengitari manusia. Gimana ngga pusing coba jadi manusia? Kalau Allah tidak bantu mudahkan dan stabilkan sepertinya sudah "korslet"(dari Bahasa Belanda kortsluiting) - alias jadi gila manusia. Dalam spektrum kegilaan yang luas, mulai dari gila psikotik, halusinasi, sampai pada masih dalam tataran waras tapi gila jabatan, gila pujian, gila kenyamanan hidup dsb. Demikian sulitnya bahkan mengatur sebuah alam pikiran agar dia damai. Makanya dalam shalat kepala disujudkan dalam-dalam. Simbol bahwa alam pikiran harus disujudkan di hadapan-Nya. Itu yang akan membuat diri kita lebih stabil dan tidak senantiasa terombang-ambing oleh gelombang alam pikiran yang senantisa menggelora. 

Jadi, memang kita itu makhluk yang kompleks. Jika ada sebuah luapan perasaan tertentu, sungguh tidak mudah untuk menggambarkan perasaan itu kepada seseorang. Kemungkinan tidak begitu dipahami atau bahkan disalahpahami demikian besar, karena kemampuan bahasa verbal untuk menggambarkan kompleksitas pikiran dan perasaan manusia sangat terbatas.

Pernah ada sebuah kejadian tertentu yang demikian membuat saya terpukul. Saya curhat dengan sahabat baik saya, lalu ditanggapi dengan dingin dan biasa menurut saya. Tidak memuaskan. Mau telp siapa lagi? Si A, ah ga bakalan paham. Si B, wah paling diceramahi. Si C? Wah apalagi, menjelaskannya saja sudah kepayahan. Di titik itu saya paham bahwa kiat betul-betul butuh membangun sebuah hubungan yang baik dengan Allah, karena hanya Dia yang bisa menerangkan semua perkara dalam hidup. Hanya Dia yang bisa memahami kompleksitas permasalahan yang ada. Hanya Dia yang bisa melihat berbagai lapisan dan dimensi dari sebuah perasaan yang saya coba untuk komunikasikan. 

Alih-aliih telp ini-itu. Saya angsung berwudhu dan shalat sunnah. Saya keluarkan semua uneg-uneg hati saya disana. Alhamdulillah plong rasanya. Solusi memang kadang tidak langsung terbaca saat itu juga. Tapi ada sebuah perasaan bahwa kita dipeluk Allah saja sudah terasa sangat menenangkan hati. Allah betul-betul satu-satunya  sumber kekuatan kita. Laa hawla wa laa quwwata illa billah.


Amsterdam, Jumat 16 Januari 2026 / 27 Rajab 1447 H pukul 13.05 siang yang cerah

Wednesday, January 14, 2026

Agar tidak diombang-ambing oleh ilusi kehidupan

 Dunia ini adalah medan ilusi, tak ada keberadaan yang sejati di dalamnya. 

Tasawuf adalah sebuah perjalanan jiwa. 

Perjalanan dari ego ke hati (qalb). Dari ilusi kepada kebenaran.

 - Muhyiddin Ibnu Arabi.


Kehidupan dunia adalah ilusi. Saking kuatnya ilusi yang ada sebagian besar manusia tidak sadar bahwa dirinya tenggelam di dalam ilusi. 

Ilusi adalah sesuatu yang tidak nyata. Seperti mimpi, apapun yang terjadi di alam mimpi bukanlah realita yang sesungguhnya. Oleh karenanya Rasulullah SAW bersabda, "Kebanyakan manusia tertidur, baru ketika mereka mati maka mereka terbangun". Bayangkan, hebatnya ilusi ini. Tidurnya saja bagaikan sebuah mimpi panjang yang demikian nyata. Kenapa ketika mati dia baru terbangun? Karena saat kematian jasad itulah manusia baru menyadari bahwa hakikat dia yang sebenarnya adalah jiwanya. Sang jiwa yang mestinya tumbuh akalnya dan banyak meminum hikmah dalam kehidupan. Akan tetapi sebagian besar manusia ketika meninggal tidak sempat meraup rezeki batin untuk jiwa sehingga saat terbangun di alam barzakh dan menjalani kehidupan berikutnya, jiwanya dalam keadaan merana. 

Orang-orang yang Allah kehendaki untuk taubat, akan dibangunkan dari tidur panjangnya di dunia ini melalui sebuah pengalaman "kematian"dalam kehidupan yang berupa kegagalan berumah tangga, sakit berat, kandas dalam berbisnis, dirundung perseteruan dengan keluarga atau pihak lain. Apapun itu yang bernuansa 'kiamat' dan seolah membumihanguskan semua kehidupan kita sebetulnya adalah sebuah rahmat agar kita terbangun dan hidup dalam jalan kehidupan yang baru. Di jalan yang lebih mengenal Allah. Di kehidupan yang lebih dalam dan sarat dengan hikmah alih-alih hanya mengejar hal-hal yang bersifat duniawi semata. 

Jadi, bermurah hatilah pada orang yang sedang didera ujian atau musibah dalam hidup. Siapa tahu mereka sedang Allah angkat derajatnya dan dibangunkan dari ilusi kehidupan nyaman yang pernah dijalaninya. Allah Maha Tahu apa yang terbaik untuk setiap kita. Atas apapun yang Allah ambil pasti dia beri ganti yang lebih baik. Pasti. Itu adalah sifat-Nya.

Maka tetaplah berjalan. Dan bersabarlah dalam menempuh pelepasan satu per satu tirai ilusi itu. Yakin bahwa di titik akhir, bahagia yang sejati akan kita jelang. Insya Allah. 

Amsterdam 14 Januari 2026 / 25 Rajab 1447 H

Pukul 14.07 siang di hari yang cerah untuk pertama kalinya setelah musim dingin yang beku.

Sunday, January 11, 2026

Say "alhamdulillah", even when life gets hard

 Hear me out my son.

The most powerful dhikr is "alhamdulillah"

When you say that it will change your world. Sometimes not because the circumstances or the condition change. But the acceptance of what is, is such a powerful thing. It opens up the door to any possibilities. Just because you are open up your heart for it. 

Most people usually say "alhamdulillah"when they experience good and happy things in life. But it takes a courage, honesty and wisdom to still say "alhamdulillah" even when the world seems tumbling down. Especially when you feel shattered inside. Because when you say "alhamdulillah" with all your heart, you accept the fact that this happened to you. The acceptance keep you rooted. And just like the tree that takes up all its nutrients and water from the ground. With that acceptance and gratitude, you will be able to drink in the knowledge and the hidden message that Allah put in every single inch of your life's destiny. Just trust the process...You will be fine. Insya Allah

Amsterdam, 11 January 2026

After praying together with Elia. 

Friday, January 9, 2026

Berjalan dalam ketidaktahuan

 It’s okay to keep move on even when we don’t know the answer yet. One day we will understand why by the time when we are ready to see the reality.

***

Merasa tidak tahu itu bukan kelemahan. Manusia memang makhluk yang bodoh kalau tidak Allah beri pengetahuan.

Justru salah satu ciri orang bertaqwa dalam Al Quran adalah

“Mereka yang beriman dengan yang gaib” - QS Al Baqarah:3

Yang gain itu artinya tak terbayangkan dari mana jalan keluarnya, tak terduga cara penyelesaiannya, tak dikira datangnya pertolongan itu. Maka yang mesti dibangun adalah keimanan. Sebuah cahaya yang menyala di hati bagi mereka yang membutuhkan panduan Allah. Cahaya yang menuntun mereka yang mencari-Nya. 

Dan kadang pemahaman itu datangnya nanti, lima atau sepuluh tahun lagi, bahkan lebih. Tapi bukan berarti kita dalam sebuah penantian yang sia-sia atau membuang waktu, karena setiap hari yang kita lalui dalam kebersyukuran itu membangun kesiapan kita untuk memahami lebih dalam kehidupan. Agar mulai terjawab satu-persatu semua pertanyaan dasar tentang siapa aku dan apa tujuan aku dilahirkan? Dengannya satu demi satu penggal kehidupan yang terjadi makin dipahami kenapa itu memang harus terjadi. Sampai kita bersaksi dengan sebuah kesadaran dalam dan berkata “Rabbana maa khalaqta haadza baathila”. Benarlah kiranya bahwa Allah menciptakan semua ini tidak dengan sia-sia…


Amsterdam, 9 Januari 2026

Jam 12.46, masih di ruang tunggu salon rambut, mengantar Rumi merapikan rambutnya yang mulai panjang.