Thursday, March 19, 2026

Anakku Cahaya Mataku

 You’re amazing Rumi.

I’m so grateful for you.

šŸ˜

Mama tahu Rumi masih ngantuk dan lelah setelah beraktivitas seharian, tapi Rumi tetap bersikukuh makan sahur. “Sunnah Rasul” katamu dengan yakin.

Walaupun mata masih merem-melek karena masih mengantuk. Perlahan tapi pasti Rumi mengunyah protein bar dan kurma, makanan favoritmu.


Ketika adzan shubuh tiba. Tubuh mungilmu dengan cekatan mengambil air wudhu dan melakukan shalat bersama mama. Namun setelah dzikir, di saat Mama pikir Rumi akan tidur lagi, kau memilih langkah mengambil Al Quran yang kau simpan rapi di bagian atas rak buku, sebagai bentuk penghormatan tertinggi. Setelah sebelumnya memeluk dan mencium Al Quran, Rumi duduk membacanya dengan syahdu.


Sungguh sebuah pemandangan yang menyejukkan hati. Cahaya mata Mama.


Alhamdulillah. Semoga Allah menjaga fitrahmu dan menjadikanmu anak shalih.


Love,

Mama


Jelang akhir Ramadhan 1447 H




Monday, March 16, 2026

Kita tak sadar telah membunuh anak kita

 Ada penggal sesjarah memilukan di zaman Nabi Elisha a.s. - yang menerima mandat kenabian setelah Nabi llyas (Elijah/Elia) a.s. Kisah ini terjadi di masa pemerintahan Raja Yoram, raja Bani Israil yang tidak patuh sehingga rakyatnya diuji dengan kekeringan dan tidak tersedia bahan makanan dalam kurun waktu yang lama. Sebuah kondisi kelaparan yang luar biasa mematikan sehingga orang bisa terpaksa memakan daging manusia untuk sekadar bertahan hidup. 

Dikisahkan ada dua orang ibu yang masing-masing memiliki satu anak yang dalam kondisi menderita kelaparan yang sangat sedemikian rupa sehingga dua ibu itu mengambil keputusan yang musykil yaitu dengan mengorbankan kedua anaknya agar bisa bertahan hidup. Sebuah kisah yang membuat kita menggelengkan kepala tak pecaya, kok bisa seorang ibu tega berbuat itu kepada anaknya? Tapi kalau kita berada dalam kondisi mereka, belum tentu juga kita tidak melakukan hal yang sama. So better no judging, lebih baik kita berlindung kepada Allah dari hal seperti itu. 

Kita bisa merasa kaget dan bahkan jijik membaca kisah di atas. Tapi kita mungkin tidak sadar bahwa kita pun punya potensi untuk membunuh anak-anak kita sendiri? Mungkin tidak membunuh secara fisik, tapi jiwanya dilumpuhkan sedemikian rupa hingga tak berdaya dan dia hidup tidak menjadi dirinya sendiri. 

Kita bisa jadi membunuh jiwa anak kita ketika memaksakan dia mengambil jurusan kuliah yang tidak pas dengan potensi jiwanya, hanya karena jurusan itu tampak keren dan sepertinya lebih menjanjikan masa depan yang cerah. 

Kita bisa jadi memberangus jiwa anak kita ketika memaksanya menikahi seseorang yang bukan jodoh pilihan Allah, semata-mata karena untuk mendapatkan kemuliaan di depan masyarakat. 

Kita bisa jadi melumpuhkan potensi jiwa anak kita ketika tidak menyiraminya dengan cinta kasih tapi penuh dengan kekerasan bahkan kebencian. 

Kita memang tertatih-tatih dan tak berdaya untuk memegang amanah besar untuk menumbuhkan seorang jiwa manusia. Hanya Allah yang Maha Tahu dan Maha Kuasa, karenanya tak ada jalan lain kecuali banyak-banyak berdoa dan memohon pertolongan, kekuatan dan bimbingan kepada Allah Sang Maha Pencipta agar kita benar dalam menjalankan fungsi hidup sebagai orang tua.[]

Amsterdam, 16 Maret 2026 waktu ashar di musim semi yang cerah.

 

Saat kita dibuat tak berdaya

 Yahya a.s. lahir melalui ketekunan, kegigihan dan kesabaran ayahnya, sang Nabi Zakariya a.s. yang dengan rela menanti puluhan tahun sejak janji Allah diberitakan bahwa ia akan diberi keturunan yang banyak hingga pada hari ketika ketetapan itu turun di saat ia dan istrinya sudah berusia senja. Di masa yang musykil untuk mendapatkan keturunan. Karenanya ketika berita itu akhirnya turun, bahwa anak yang dinantikan akan segera didapat, Zakariya sempat meragukannya. Sesuatu yang oleh Allah kemudian dihukumi dengan menjadi bisu selama penantian kelahiran anaknya. 

Masa penantian dan kebisuan adalah periode ketika hidup dibuat sunyi. Seolah tak ada gerakan. Padahal justru banyak hal yang tumbuh dalam kesunyian. Dan Allah justru seringkali mengilhamkan sesuatu ke dalam hati hamba-hamba-Nya tidak melalui kata-kata verbal. Ia seperti embun pagi yang menetes dan membasahi permukaan hati hingga menyerap dan membawa kesegaran tertentu, sebuah pemahaman, cara pandang yang baru tentang takdir kehidupan kita masing-masing.

Tak ada yang perlu disesali dalam hidup. Semua ketidakberdayaan, masa penantian, dan ketika semua pintu kesempatan seolah tertutup rapat, sadarilah kita sedang dalam kondisi didiamkan. Saat semua pintu dunia ditutup itulah saat pintu langit akan terbuka dan kita akan mengenal Dia dengan pengenalan yang jauh lebih indah. Sebuah makrifat yang tak diajarkan oleh satu buku atau satu guru manapun, karena Dia yang langsung mengajarkan dengan memperkenalkan Diri-Nya kepada kita. 

So, be happy for the silence period, for silence is the language of God and all else is poor translation.

Amsterdam, 16 Maret 2027 / jelang malam 27 Ramadhan 1447 H



Belajar menelan rasa sakit

 I know it’s painful. But it is exactly what your soul needed to grow. So endure it. Finds hope in the promise of future glory rather than current circumstances.

***

Ingat, hidup kita masih panjang. 

Kematian dari alam dunia ini adalah gerbang perpindahan ke alam lain yang lebih abadi. Oleh karenanya Allah mengutus rasul-rasul ke muka bumi ini untuk mengingatkan akan hal itu. Bahwa hidup kita ada orientasinya. Bahwa takdir yang sudah Allah tetapkan itu ada tujuannya. Agar kita tidak kehilangan arah dalam hidup. Agar kita tidak salah dalam menyusun prioritas. 

Mendera rasa sakit adalah bagian dari pertumbuhan jiwa. It’s a growing pain. Sesuatu yang raga kita juga rasakan ketika ia harus bertumbuh. Dan rasa sakit bukanlah hal yang buruk, ia salah satu dari hal-hal yang Allah pergantikan. Ia menjadi buruk ketika pikiran kita melabelinya sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan. Padahal kebahagiaan bagi orang beriman hanyalah bersama dengan Tuhannya. Lantas, apakah ada satu noktah takdir kehidupan yang sama sekali bukan berasal dari-Nya dan Dia tidak terlibat di dalamnya?

Sama sekali tidak ada. Karena Dia meliputi segala sesuatu.

Tentang menyikapi dunia ini Syaikh Abdul Qadir Jailani berpesan,

“Dunia ini ada gantinya, yaitu akhirat.

Dan makhluk itu ada gantinya, yaitu Al Khaliq SWT.

Setiap kali kamu meninggalkan sesuatu dari dunia ini, maka akan diciptakan ganti yang lebih baik.”


Amsterdam, 16 Maret 2026 / 27 Ramadhan 1447 H

Sunny day at spring time, 10.34 am

Saturday, March 14, 2026

Hidup itu jalani saja dengan bersyukur

 Wahai manusia, ingatlah nikmat Allah kepadamu!

Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi?

Tidak ada Tuhan selain Dia.

Lalu bagaimana kamu dapat dipalingkan (dari ketauhidan)?

Quran Fathiir [35]:3


Kita lahir ke dunia ini kan tidak bisa pilih lahir kapan, lewat orang tua yang mana, dalam kendaraan raga yang seperti apa. Artinya semua sudah diaturkan oleh Sang Maha Pencipta. Dan yang diaturkan secra presisi itu tidak hanya tentang kelahiran kita tapi semua takdir yang akan dijalani hingga akhir masa. Mestinya kesadaran ini membuat kita tenang menjalani hidup, karena meyakini bahwa pengaturan-Nya adalah yang terbaik. Allah tidak mungkin menciptakan sesuatu asal-asalan. Dia itu Dzat Yang selalu all-out  memberikan yang terbaik. Selalu! Jangan ragukan itu. Masalahnya pemahaman kita yang dangkal yang membuat kita masih tertatih-tatih untuk melihat dimana kebaikan dari ketetapan-Nya itu. 

Karenanya sejak awal kita diajak untuk "Iqra". Baca Al Quran, Baca Kitab kehidupan. Baca kitab diri kita. Dan yang namanya membaca itu proses yang aktif, bukan sekadar mengeja huruf tanpa makna. Sejauh mana kita meraih makna akan seiring dengan pertumbuhan akal di dalam diri kita, baik itu akal jasadiyah apalagi akal jiwa yang rentangnya sejauh tujuh lapis langit mulai dari fuĆ”d hingga lubb. 

Mulai dari menerima dan mensyukuri takdir yang ada dari saat ke saat. Itu pun sudah banyak yang gagal dalam melakukannya karena tertarik oleh godaan syaithan dari depan, belakang, kiri dan kanan, sedemikian rupa sehingga kita tidak bersyukur di titik itu. 

Hidup itu mengalir saja dari titik ke titik. Dari satu waktu shalat ke waktu shalat lain. Terima sambil asyik menjalaninya, karena sungguh kita tengah berselancar di aliran takdir kehidupan yang merupakan kekaryaan luar biasa dari Sang Maha Pencipta, Allah abbul 'alamiin. []

Amsterdam, Sabtu 14 Maret 2026 / 25 Ramadhan 1447 H pukul 16.41 sore di musim semi yang masih dingin dan mendung

Menanti berbuka bersama my shaum and sahoor buddy, Rumi :)



Thursday, March 12, 2026

Live your life, dear son!

 Dear my son,


Live your life wholeheartedly for Allah. 

Don’t hold back. For even failures and feeling of being inadequate is essential part to live a wholehearted life. Because wholeheartedness is not just about perfection, but also to embrace your own flaws and vulnerabilities. That it is okay to be not okay. Just keep going. But be present and engaged.

Don’t just go through life but grow through it.

You’re gonna make it bud, insya Allah.


Love,

Mama


21 Ramadhan 1447 H

Watching you practice the šŸŽ» violin




Tuesday, March 10, 2026

Jangan panik, Allah menjamin rezeki kita

 Tidak ada satu pun hewan yang bergerak di atas bumi melainkan dijamin rezekinya oleh Allah. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)

QS Huud [11]:6

***

Ada sebuah kisah yang disampaikan oleh Syaikhul Akbar Ibnu Arabi tentang seekor cacing yang tinggal di  bagian yang sangat dalam di bumi dimana hampir tidak ada makhluk lain yang hidup di sana apalag tumbuh-tumbuhan. Akan tetapi cacing ini bisa hidup lama dengan ketersediaan makanan yang ada di sekitarnya sehingga ia bertasbih dan memuji Allah yang tidak melupakannya. 

Ingat bahwa semua makhluk itu sudah Allah jamin rezekinya. Bayangkan kalau cacing yang ada di kedalaman bumi saja sudah terjamin rezekinya apalagi manusia, bahkan anak cucu kita. Semua sudah Allah aturkan. Maka tidak pada tempatnya mengkhawatirkan sesuatu yang sang Rabb - Sang Pemelihara semesta sudah aturkan. Khawatir masa depan atau takut kurang itu menunjukkan bahwa kita kurang percaya dan tipis keyakinannya kepada kemampuan pengaturan Sang Rabbul 'alamiin. Dia yang sudah mengatur alam semesta dan segenap kehidupan yang ada di dalamnya bahkan jauh sebelum umat manusia hadir di muka bumi ini. 

Jadi, jika suatu saat datang kekhawatiran dan keraguan, suara-suara dalam diri yang berkata "Apa bisa aku menyekolahkan anak-anak?" "Apa bisa aku membayar ini?" "Apa bisa aku mandiri dalam usia pensiun ? ". Hentikan suara-suara itu seketika itu juga, karena tidak produktif menyetel lagu-lau cengeng seperti itu dalam pikiran kita, bahkan membuat keruh cermin hati. Lebih baik dzikir dan banyak-banyak istighfar agar keyakinan kita semakin kuat adan rezeki akan mengalir dengan sendirinya, karena sungguh yang menghalangi hadirnya rezeki kita justru karena dosa-dosa dalam diri itu. AstaghfirullahlƔdziim

Amsterdam,  Selasa 10 Maret 2026 - jelang malam ke-21 Ramadhan di musim semi yang mendung dan dingin, pukul 14.29 bersiap mengantar Rumi les biola tambahan dengan Meester Bart