"You were born with wings, why prefer to crawl through life?"
- Jalaluddin Rumi
***
Manusia lupa bahwa ia lebih dari sekadar aspek jasadiyah yang dirawat dan diandalkan sehari-hari.
Manusia lupa bahwa hakikat dia yang sejati adalah jiwanya (nafs).
Manusia lupa bahwa sebelum dia terlahir di dunia, jiwanya sudah hidup lebih dulu dan bersaksi di Alam Alastu,
(Ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari tulang punggung anak cucu Adam, keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksiannya terhadap jiwa-jiwa mereka sendiri (anfusakum), "Bukankah Aku ini Rabbmu?" (Alastu birabbikum)? Mereka menjawab, "Betul, kami bersaksi" (balaa syahidna). Agar pada hari kiamat kamu (tidak) mengatakan "Sesungguhnya kami lengah terhadap hal ini."
QS Al A'raaf [7]:172
Kita lupa bahwa jiwa kita mempunyai akal yang bisa menangkap dan memahami hal-hal yang lebih dalam serta hikmah di balik aliran takdir kehidupannya. Itulah yang digambarkan memiliki sayap. Fungsi sayap adalah untuk terbang, agar tidak hanya bergeser dari satu permukaan bumi ke permukaan bumi lainnya dan kehilangan orientasi kehidupan. Manusia pasti akan merasa kelelahan jika merespon segala dinamika kehidupan dengan segenap solusi horizontal, karena itu area bermainnya Iblis, dia hanya diberi kuasa oleh Allah untuk memainkan empat penjuru horizontal manusia.
"Kemudian pasti aku (iblis) akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan dari mereka bersyukur"
QS Al A'raaf:17
Manusia lupa bahwa hidup di dunia itu lebih dari sekadar mampir sejenak dan membangun mimpi indah untuk kemudian berpisah dengan semua yang dicintai dan dikumpulkan seumur hidup itu.
Manusia lupa bahwa kehidupan di dunia hanya jembatan dari satu alam ke alam lain. Dan seperti Nabi Isa Almasih katakan bahwa dunia bagaikan jembatan, tidak ada yang membangun rumah di atas jembatan. Kita semua hanya berada sementara disini untuk belajar, mengumpulkan bekal dan membangun keyakinan.
Manusia lupa kalau dirinya punya sayap yang bisa mengakses aspek langit dari segala sesuatunya. Agar komponen langitnya tegak di atas tanah yang tengah dia pijak. Sebagaimana burung yang belajar untuk terbang, hal yang pertama dia harus tempuh adalah kesadaran bahwa dirinya punya sayap yang otomatis akan dikembangkan saat dia terjatuh dari ketinggian. Itu kenapa bayi-bayi belajar terbang dengan didorong atau difasilitasi oleh orang tuanya melakukan free fall, terjun dari ketinggian.
Kadang dalam hidup, kita pun "dijatuhkan" sedemikian rupa. Entah bisnis bangkrut, rumah tangga hancur, rencana berantakan, harapan yang musnah dsb. Allah punya seribu satu cara untuk mentransformasi hamba-Nya. Jika kita sedang "terjatuh", sadarilah bahwa itu justru sebuah rahmat agar potensi Ilahiyah kita menjadi teraktivasi. Agar jiwa kita menjadi bangun dan mulai belajar membaca kehidupan (iqra). Supaya mengenal siapa dia, sang Rabb. Dan sungguh tidak ada hal yang lebih jiwa kita cintai kecuali bertambahnya ma'rifat kepada Sang Pencipta.
Amsterdam, Sabtu 7 Maret 2026 / 18 Ramadhan 1447 H
Jam 22.07 , saat off kerja di musim semi yang kembali dingin di tengah proses finalisasi

