Friday, August 7, 2026

Mahadaya Cinta

 Don’t underestimate the power of love.


Orang yang sedekah sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang diperbuat oleh tangan kanannya adalah orang yang berbuat sesuatu dengan ikhlas lillahi ta’ala. 


Orang semacam ini, dia memberi tak berharap dibalas.


Orang seperti ini, dia baik kepada seseorang todak bermotifkan supaya yang bersangkutan jadi baik dan dekat dengannya.


Orang seperti ini akan bersinar kasih sayangnya seperti matahari walaupun tidak dibalas dengan “i love you too” atau bahkan air susu dibalas dengan air tuba.


Orang seperi ini bebas. Hidupnya untuk Tuhan. Bahkan bukan untuk dirinya sendiri. Dialah salah satu pilar semesta. Keneradaannya bisa jadi tak dikenal orang. Kepergiannya pun bisa jadi tenggelam dalam sepi. Tapi namanya mahsyur di langit.


Jangan tertipu dengan fenomena dunia. Ilusinya banyak yang menenggelamkan orang dari. Aman ke zaman. Sedemikian rupa hingga manusia lupa bahwa dia mengemban amanah tertentu di dunia ini. 


Semua amalan tergantung niat seseorang. Dan juat itu datang dari qalb. Pastikan qalb kita hidup kembali dengan cahaya-Nya.


Dalam perjalanan dari Weesperplein ke Gein di Amsterdam, Jum’at 7 Agustus 2026

17.33 sore


***


Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tatkala Allah menciptakan bumi, maka bumi bergoncang-goncang, kemudian Allah menciptakan gunung-gunung lalu meletakkannya di atas bumi tersebut sehingga bumi menjadi tenang. Dan para malaikat merasa kagum terhadap kerasnya gunung-gunung tersebut. 


Mereka berkata; wahai Tuhanku, apakah diantara makhlukmu terdapat sesuatu yang lebih keras daripada gunung? Allah berfirman: "Ya, api." 


Kemudian mereka berkata; wahai Tuhanku, apakah diantara makhlukMu terdapat sesuatu yang lebih keras daripada api? Allah berfirman: Ya, air. 


Mereka berkata; wahai Tuhanku, apakah diantara makhlukMu terdapat sesuatu yang lebih keras daripada air? Allah berfirman: ya, angin. 


Mereka berkata; wahai Tuhanku, apakah diantara makhlukMu terdapat sesuatu yang lebih keras daripada angin? Allah berfirman: Ya, anak Adam. Ia bersedekah dengan sebuah sedekah dengan tangan kanannya dan menyembunyikannya dari tangan kirinya."

Tuesday, August 4, 2026

Agar bisa memaknai setiap penggal kehidupan

 Perjalanan Musa as di paruh akhir hidupnya untuk mencari Khidir as sebagaimana tertuang kisahnya dalam surat Al Kahfi adalah perjalanan manusia untuk memahami dirinya sendiri. 

Khidir as dikatakan adalah orang yang berilmu yang bisa mengungkapkan hikmah dan kebenaran di balik penggal-penggal hidup Musa yang diperagakan dalam tindakan-tindakannya yang sempat membuat seorang Musa bingung karena dipandangnya merusak dan melanggar syariat. Tapi Al Quran pun mencatat jawaban Khidir as terhadap berbagai keberatan Musa itu, 

“Aku tidak melakukannya berdasarkan kemauanku sendiri…” - QS Al Kahfi:82

Kita semua sebenarnya sedang mencari ‘Khidir’ dalam diri masing-masing. Utusan-Nya yang bisa membantu kita membaca (iqra) seluruh kitab kehidupan kita hingga kita meneguk maknanya dan bersaksi “Rabbana maa khalaqta haadza baathila” bahwa tidak ada yang bathil, tak ada yang salah dan tak ada penggal hidup kita yang sia-sia. Walaupun di mata orang banyak itu seperti sebuah kegagalan, keterlambatan atau bahkan tragedi sekalipun. Karena bukankah kita ingin berdamai dengan takdir yang telah Allah tuliskan kepada diri masing-masing? Baru kemudian kita bisa menjadi hamba-Nya yang bersyukur. Dan makna dari setiap langkah kehidupan akan mulai kita cicipi rasa manisnya. Insya Allah. Kuncinya dimulai dari menerima dan berjuang untuk membaca dengan baik apapun yang Dia hadirkan ke dalam ruang takdir kehidupan kita dari saat ke saat. Iqra, bismirabbikalladzi khalaq. Membacanya dengan menyertakan Dia. Karena hanya Dia yang tahu dan bisa mengajari kita. Pada kenyataannya, apapun bisa menjadi media dan perantara proses pengajaran itu. Memang mesti sabar dan telaten menjalaninya. And sometimes we can get tired or depair but this is the way…


Stasiun Groningen di musim panas yang menyengat, 4 Agustus 2026 jam 10.53 pagi



Sunday, July 26, 2026

Agar Allah membersamai kita

 Pastikan setiap langkah dibersamai Allah.

Setiap pilihan, dipilihkan Allah.

Melakukan sesuatu karena Allah.

Mengerjakan sesuatu sebab mengharap ridho-Nya.

Pokoknya setiap nafas usahakan betul merasakan kehadiran-Nya. Masalahnya Dia memang selalu hadir. Satu Yang Paling setia.

Kitanya saja yang teralihkan perhatiannya kesana kemari sehingga Dia seolah tak ada.


Segala sesuatu yang dikerjakan lillahi ta’ala tak akan rugi. Kalaupun seakan ngga ada uangnya, tapi ganjaran yang kita garapkan adalah lebih berharga dari sekadar imbalan yang bersifat materi.


Walaupun tampaknya ‘gagal’ atau ‘kurang keren’ sekalipun di mata orang banyak, tapi kalau sesuatu itu dari Allah dan itu adalah yang Dia kehendaki maka itulah rezeki terbesar kita. Para pemuda dalam kisah Ashabul Kahfi paham betul tentang prinsip ini. Dalam usianya yang masih belia, kalau dalam bahasa kita sekarang, karir lagi menanjak dan dan dunia serasa ditundukkan, mereka malah menyepi untuk mencari amr Allah. Urusan spesifik yang Allah kehendaki untuk diri masing-masing. Karena apa gunanya diit banyak tapi Allah tidak senyum sama kita? Apa bahagia seakan memiliki segala tapi hati jauh dari Allah?


“Masa bermain sudah usai” sindir Jalaluddin Rumi. Ayo dong mikirnya jauh, ke akhirat. Jangan tenggelam dalam permainan dunia material yang melalaikan. Bukan berarti kita meninggalkan dunia. Justru seorang mukmin adalah yang piawai dalam memanage dunianya tapi kekuatan dunia itu tak dia biarkan mencengkeram hatinya. Karena qalb itu hanya untuk Allah.


Renungan saat sarapan pagi di bandara jelang keberangkatan ke London, Senin 27 Juli 2026 jam 8.38 pagi

Friday, July 24, 2026

Menyikapi dunia bayang-bayang

 Row-row your boat gently down the stream

Merrily, merrily , merrily, merrily,

Life is but a dream...


Hidup itu seperti kita bermimpi. Rasulullah SAW bersabda, "Manusia itu tertidur, ketika dia mati, dia terbangun." 

Lho kok tidur? Lha wong kita banyak bangunnya; bekerja, beraktivitas dsb. Jadi bahkan semua kegiatan kita di dunia yang kita dibuat sibuk karenanya itu masih dalam kategori bermimpi. 

Mari kita endapkan sejenak. Renungkan. Ini memang perenungan tingkat tinggi. Tapi memahami hal ini adalah kunci untuk bisa hidup bahagia. Dengan sebuah kebahagiaan yang bersumber dari kebenaran, bukan kesenangan sesaat yang kita persepsi sebagai sebuah kebahagiaan. 

Jadi, kematian adalah syarat agar seseorang terbangun dari mimpinya. Dan sebagaimana halnya mimpi, senyata-nyatanya orang mengalami sesuatu di alam mimpi, dia bukan sebuah realita yang sesungguhnya. Bukankah demikian? 

Maka belajar mati sebelum mati adalah hal yang esensial dalam bersuluk. Melepaskan jiwa dari semua pengaruh dan kekuatan selain Allah. Itulah makna menjadi muslim, orang yang berserah diri. Artinya menyerahkan semuanya kepada Allah seperti ikrar yang kita bacakan dalam doa Iftitah di awal waktu shalat,

Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku semata hanya untuk Allah Tuhan semua Alam, tiada sekutu bagi-Nya.

Kita lebur dalam karsa-Nya. Menyatu dalam kehendak-Nya. Mengalir dengan aliran takdir-Nya. Dari waktu ke waktu. Di setiap tarikan nafas dan di setiap detak jantung. Dengannya, semua fenomena lahiriyah di dunia bayang-bayang menjadi bermakna. Dia menjadi kekal.

Amsterdam, Jum'at selepas Kajian Suluk Online, 24 Juli 2026


Thursday, July 23, 2026

Agar jangan sampai tergilas oleh takdir hidup

 "Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga dia beriman kepada qadar baik dan buruknya dari Allah..."  hadits Rasulullah SAW dari Jabir bin 'Abdillah r.a.

Kalau kita yakin semua hal yang terjadi baik-buruk kehidupan, pahit-manisnya, senang-sedih semua dari Allah, mestinya kita tidak tenggelam dalam kesedihan yang serasa tak berkesudahan menghadapi ujian kehidupan. 

Karena bukankah Allah itu Maha Kasih dan Penyayang, yang tidak mungkin menzalimi hamba-Nya bahkan sebiji atom sekalipun? Tapi ketika fenomenanya dirasa menyakitkan, memang mudah kita terjebak untuk mencari kambing hitam. Salah dia, salah anu, bahkan salah Tuhan, apapun ditunjuk kecuali hidungnya sendiri. Kita jarang dengan ksatria melihat ke dalam diri bahwa di balik apapun yang mewujud di dalam takdir kita di situ ada andil kita di situ, baik besar maupun kecil. Karena takdir itu bagaikan bayang-bayang yang tertangkap oleh layar di pertunjukan wayang kulit. Bentuk bayangan tidak akan jauh dari bentuk obyek yang diterpa oleh sumber cahaya yang kemudian jatuh menjadi bayangan di layar putih pertunjukan wayang kulit. Bedanya, layar dunia ini bentuknya bukan dua dimensi seperti di pertunjukan wayang kulit, melainkan jauh lebih canggih, sedemikian rupa sampai bayangan tak sadarkan diri bahwa ia hanya bayang-bayang dan bukan merupakan entitas asli. Itulah raga yang lupa pada keberadaan jiwanya. 

Perjalanan kehidupan dunia adalah serangkaian proses mengenal kembali si jiwa (recollection), agar kita mengenal Sang Rabb, Pencipta kita semua. Mengingat kembali bahwa hidup itu ada orientasinya. Tidak sekedar mampir, menumpu kekayaan, mengejar karir lalu semuanya ditinggal di depan gerbang kematian. Ada hal esensi yang harus kita dapatkan dalam hidup. Sesuatu yang menghidupkan jiwa. Hal yang sudah diendus sejak lama sejak zaman Yunani yang tersimpan dalam kisah Coming Home-nya Oddyseus. Hal yang sama yang dicari oleh Alexander the Great dalam upayanya mencari "the water of life"  air kehidupan. Air yang sama yang dicari oleh Bima dalam legenda Dewa Ruci, yaitu tirta pawitra yang terletak di kedalaman samudera. 

Kita semua sedang mencari sesuatu yang hakiki. Jangan sampai terlena dan berhenti pada obyek-obyek dunia yang bersifat fana. Keep searching. Dengarkan desahan hati nurani yang selalu menyeru itu. Agar jangan sampai kita tergilas oleh takdir hidup. Merasa sudah mengerjakan banyak hal tapi sebenarnya tidak kemana-mana, karena hilang orientasi. Kenapa kehilangan arah? Karena kurang meminta kepada Allah. Mintalah, Dia pasti akan merespon.

Amsterdam, 23 Juli 2026 / 9 Safar 1448 jam 5.10 sore di saat liburan musim panas anak-anak


Sunday, July 19, 2026

Semua akan hancur kecuali Dia

 “So what’s your take today Rumi?”


Saya secara berkala selalu bertanya apa yang anak ini pelajari dalam kehidupan. Kadang jawabannya ala kadarnya, kadang bercanda, kadang dijawab dengan “nothing”. Tapi hari ini dia memberikan jawaban yang menohok.


“If you know that things will end why bother?”


Kalau kita tahu kalau segala sesuatunya akan berakhir, kenapa harus dibuat susah karenanya? Bener juga nih anak.


Sedih itu bagian dari kehidupan. Itu biasa. Tapi jangan sampai kita dicengkeram oleh kesedihan dan bersusah hati karenanya. 


Nikmati dan syukuri hidup, tapi jangan dibuat hati terbelenggu dan terikat olehnya, sebab hati kita hanya bisa dipenuhi oleh Allah. 


“Segala sesuatu yang ada di atasnya (bumi) akan binasa” QS Ar Rahman:26

Amsterdam, 19 Juli 2026, saat liburan musim panas yang cerah

Minggu santai setelah begadang semalam sama Rumi menunggu shalat isya jam 12 dan shalat shubuh jam 3 pagi


Rumi 12 tahun

Saturday, July 18, 2026

Tinggalkan apa yang meragukanmu

 TINGGALKAN APA YANG MERAGUKANMU


Ada kisah seorang perempuan yang kewara’annya dituliskan oleh Syaikh Ibnu Arabi dalam Kitab Futuhat al Makkiyah.Dialah saudara perempuan Bisyr Al Hafi ra yang pada suatu hari bertanya kepada Imam Ahmad bin Hambal tentang suatu perkara yang meresahkan hatinya. Yaitu pada malam hari dia pernah menenun kain dengan menggunakan cahaya dari lampu obor milik orang lain yang lewat di depan rumahnya.


Bayangkan, cahaya terang dari obor orang yang lewat yang dia manfaatkan, mungkin tanpa izin, hingga membuat hatinya ragu, apakah hal ini boleh atau tidak. Disebutkan bahwa ia tidak mungkin menanyakan hal itu kecuali ada keraguan dalam dirinya dan Nabi SAW bersabda,

“Tinggalkanlah apa yang meragukanmu dan lakukan apa yang tidak membuatmu ragu.”


Tak heran jika Imam Hambal yang ditanya pun memberi fatwa agar perempuan itu tidak lagi menenun dengan cara seperti itu sambil memuji kewara’annya hingga kisah tersebut sampai kepada kita dan ditulis dalam kitab-kitab.


Kemurnian hati sang perempuan itu menjadikannya merasakan hal-hal yang halus dalam kehidupan. Mungkin orang lain ada yang memakai obor tetangganya tanpa izinpun tak bergeming hatinya saking gelap dan kerasnya dia, na’udzubillahimindzaalik.


Inilah indahnya ajaran agama. Bagaimana ia menghormati hak-hak orang lain, hingga yang paling halus sekalipun. Agar manusia hidup dalam harmoni.


Dalam kereta menuju farewell party Mas Nur Ahmad di Leiden

18 Juli 2026

17.11 sore