"Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga dia beriman kepada qadar baik dan buruknya dari Allah..." hadits Rasulullah SAW dari Jabir bin 'Abdillah r.a.
Kalau kita yakin semua hal yang terjadi baik-buruk kehidupan, pahit-manisnya, senang-sedih semua dari Allah, mestinya kita tidak tenggelam dalam kesedihan yang serasa tak berkesudahan menghadapi ujian kehidupan.
Karena bukankah Allah itu Maha Kasih dan Penyayang, yang tidak mungkin menzalimi hamba-Nya bahkan sebiji atom sekalipun? Tapi ketika fenomenanya dirasa menyakitkan, memang mudah kita terjebak untuk mencari kambing hitam. Salah dia, salah anu, bahkan salah Tuhan, apapun ditunjuk kecuali hidungnya sendiri. Kita jarang dengan ksatria melihat ke dalam diri bahwa di balik apapun yang mewujud di dalam takdir kita di situ ada andil kita di situ, baik besar maupun kecil. Karena takdir itu bagaikan bayang-bayang yang tertangkap oleh layar di pertunjukan wayang kulit. Bentuk bayangan tidak akan jauh dari bentuk obyek yang diterpa oleh sumber cahaya yang kemudian jatuh menjadi bayangan di layar putih pertunjukan wayang kulit. Bedanya, layar dunia ini bentuknya bukan dua dimensi seperti di pertunjukan wayang kulit, melainkan jauh lebih canggih, sedemikian rupa sampai bayangan tak sadarkan diri bahwa ia hanya bayang-bayang dan bukan merupakan entitas asli. Itulah raga yang lupa pada keberadaan jiwanya.
Perjalanan kehidupan dunia adalah serangkaian proses mengenal kembali si jiwa (recollection), agar kita mengenal Sang Rabb, Pencipta kita semua. Mengingat kembali bahwa hidup itu ada orientasinya. Tidak sekedar mampir, menumpu kekayaan, mengejar karir lalu semuanya ditinggal di depan gerbang kematian. Ada hal esensi yang harus kita dapatkan dalam hidup. Sesuatu yang menghidupkan jiwa. Hal yang sudah diendus sejak lama sejak zaman Yunani yang tersimpan dalam kisah Coming Home-nya Oddyseus. Hal yang sama yang dicari oleh Alexander the Great dalam upayanya mencari "the water of life" air kehidupan. Air yang sama yang dicari oleh Bima dalam legenda Dewa Ruci, yaitu tirta pawitra yang terletak di kedalaman samudera.
Kita semua sedang mencari sesuatu yang hakiki. Jangan sampai terlena dan berhenti pada obyek-obyek dunia yang bersifat fana. Keep searching. Dengarkan desahan hati nurani yang selalu menyeru itu. Agar jangan sampai kita tergilas oleh takdir hidup. Merasa sudah mengerjakan banyak hal tapi sebenarnya tidak kemana-mana, karena hilang orientasi. Kenapa kehilangan arah? Karena kurang meminta kepada Allah. Mintalah, Dia pasti akan merespon.
Amsterdam, 23 Juli 2026 / 9 Safar 1448 jam 5.10 sore di saat liburan musim panas anak-anak
