Hari raya Idul Adha baru berlalu. Sebuah hari raya yang ditandai dengan pengorbanan (Adha).
Kalau saya pikir-pikir, ini menarik, kata pengorbanan itu terkait dengan memberikan sesuatu yang kita cintai, yang biasanya diklaim menjadi milik kita. Dalam kasus Ibrahim as, beliau diminta Allah untuk mengorbankan putra kesayangannya, Ismail as.
Mari kita merenung sejenak. Di titik itu, kalau kita ada dalam posisi Ibrahim as, orang tua yang harus mengorbankan anaknya sendiri, wah ngga kebayang sebenarnya. Tapi pastinya berat sekali. Karena tidak hanya kita harus melepas anak itu, tapi kita sendiri yang harus mengeksekusinya. Itu kan ujian yang berlapis. Masya Allah.
Kembali ke kata "pengorbanan" yang sampai dijadikan Hari Raya Qurban. Menarik untuk menelisik bahwa sebenarnya kita, manusia yang tidak punya apa-apa dan pada awalnya bahkan sebuah entitas tak bernama - karena kita adalah Bani Adam - secara harfiah arti kata "Adam" adalah tidak ada. Jadi begini, kalau kita tidak ada dan tidak punya apa-apa maka sebenarnya ngga kaci ada istilah "pengorbanan "itu, karena bagaimana bisa yang tidak ada dan tak punya apa-apa bisa mengorbankan sesuatu lha wong dia ngga punya apa-apa? Tapi Allah itu memang luar biasa baik dan sangat memahami perasaan hamba-Nya, maka dia sematkan kata "pengorbanan"itu dan dijadikan salah satu hari raya besar. Saking mengapresiasi perjuangan Ibrahim as dan semua yang mengikuti milah Ibrahim as.
Kalaupun kita bisa kurban kambing atau sapi tahun ini dan merasa berjuang untuk menabung untuk itu, ketahuilah 'pengorbanan' itu sebenarnya sesuatu yang Allah fasilitasi semua. Karena semua rezeki dan kemampuan pun dari Allah. Oleh karena itu Allah Taála berfirman dalam QS Al Hajj [22]:37
Dan (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang akan sampai kepada-Nya adlaah ketaqwaanmu...
Dan taqwa itu letaknya di qalb. Qalb adanya di dalam jiwa (nafs). Hanya jiwa yang telah hidup kembali dengan nur iman yang mulai menyala ketaqwaan dalam hatinya. Dan ini yang menjadi sasaran pandang Allah. Sebagaimana yang Rasulullah SAW sabdakan,
"Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian." (HR Muslim)
Amal yang datang dari qalb yang hidup dengan nur iman adalah amal shalih. Amal yang tertuntun, karena qalb sang mukmin sudah mampu mendapatkan petunjuk kembali dari Allah.
Jadi, apapun bentuk 'pengorbanan' dan kegiatan kita di bumi, mau berumah tangga, bekerja, mengurus anak, wakaf masjid dan sekian banyak persembahan untuk Allah, sungguh Dia tidak melihat kuantitas dan nominal yang kita persembahkan. Dia hanya melihat hati kita. Maka sedekah sepuluh ribu rupiah tapi dengan hati yang ikhlas lillahi taála bisa melontarkan seseorang ke ketinggian ridho-Nya dibanding sedekah milyaran tapi sambil riya. Karena mau sepuluh ribu atau semilyar adalah uang Allah. Dia Sang Pemilik semuanya. Kita hanya dipinjami dan diuji dengan itu, apakah amanah atau tidak.
Maka apapun yang kita persembahkan untuk Allah, pastikan itu datang dari lubuk hati yang terdalam. Ikhlas hanya untuk Dia. Sebuah ekspresi pemujaan dan kebersyukuran untuk Tuhan Yang Maha Baik. Bukan karena kita mampu, bukan karena kita merasa shalih, bukan karena kita merasa tinggi. Justru sebaliknya, kita persembahkan hidup dan mati kita untuk-Nya, Yang Memberi kehidupan yang indah ini. Sebagai sebuah upaya kebersyukuran kepada-Nya. Yang kita tidak akan pernah bisa mampu membayar semua anugerah-Nya, bahkan tak mampu untuk menghitung nikmat-Nya.
"Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya..."(QS AN Nahl:18)
Amsterdam, 29 Mei 2026, sore hari jam 16.15 yang mendung dan berangin kencang di restaurant Ikea, menunggu Rumi les biola
