Tuesday, March 10, 2026

Jangan panik, Allah menjamin rezeki kita

 Tidak ada satu pun hewan yang bergerak di atas bumi melainkan dijamin rezekinya oleh Allah. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)

QS Huud [11]:6

***

Ada sebuah kisah yang disampaikan oleh Syaikhul Akbar Ibnu Arabi tentang seekor cacing yang tinggal di  bagian yang sangat dalam di bumi dimana hampir tidak ada makhluk lain yang hidup di sana apalag tumbuh-tumbuhan. Akan tetapi cacing ini bisa hidup lama dengan ketersediaan makanan yang ada di sekitarnya sehingga ia bertasbih dan memuji Allah yang tidak melupakannya. 

Ingat bahwa semua makhluk itu sudah Allah jamin rezekinya. Bayangkan kalau cacing yang ada di kedalaman bumi saja sudah terjamin rezekinya apalagi manusia, bahkan anak cucu kita. Semua sudah Allah aturkan. Maka tidak pada tempatnya mengkhawatirkan sesuatu yang sang Rabb - Sang Pemelihara semesta sudah aturkan. Khawatir masa depan atau takut kurang itu menunjukkan bahwa kita kurang percaya dan tipis keyakinannya kepada kemampuan pengaturan Sang Rabbul 'alamiin. Dia yang sudah mengatur alam semesta dan segenap kehidupan yang ada di dalamnya bahkan jauh sebelum umat manusia hadir di muka bumi ini. 

Jadi, jika suatu saat datang kekhawatiran dan keraguan, suara-suara dalam diri yang berkata "Apa bisa aku menyekolahkan anak-anak?" "Apa bisa aku membayar ini?" "Apa bisa aku mandiri dalam usia pensiun ? ". Hentikan suara-suara itu seketika itu juga, karena tidak produktif menyetel lagu-lau cengeng seperti itu dalam pikiran kita, bahkan membuat keruh cermin hati. Lebih baik dzikir dan banyak-banyak istighfar agar keyakinan kita semakin kuat adan rezeki akan mengalir dengan sendirinya, karena sungguh yang menghalangi hadirnya rezeki kita justru karena dosa-dosa dalam diri itu. Astaghfirullahládziim

Amsterdam,  Selasa 10 Maret 2026 - jelang malam ke-21 Ramadhan di musim semi yang mendung dan dingin, pukul 14.29 bersiap mengantar Rumi les biola tambahan dengan Meester Bart




Saturday, March 7, 2026

Belajar terang dalam hidup

 "You were born with wings, why prefer to crawl through life?"

- Jalaluddin Rumi

***

Manusia lupa bahwa ia lebih dari sekadar aspek jasadiyah yang dirawat dan diandalkan sehari-hari. 

Manusia lupa bahwa hakikat dia yang sejati adalah jiwanya (nafs). 

Manusia lupa bahwa sebelum dia terlahir di dunia, jiwanya sudah hidup lebih dulu dan bersaksi di Alam Alastu, 

(Ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari tulang punggung anak cucu Adam, keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksiannya terhadap jiwa-jiwa mereka sendiri (anfusakum), "Bukankah Aku ini Rabbmu?" (Alastu birabbikum)? Mereka menjawab, "Betul, kami bersaksi" (balaa syahidna). Agar pada hari kiamat kamu (tidak) mengatakan "Sesungguhnya kami lengah terhadap hal ini."

QS Al A'raaf [7]:172

Kita lupa bahwa jiwa kita mempunyai akal yang bisa menangkap dan memahami hal-hal yang lebih dalam serta hikmah di balik aliran takdir kehidupannya. Itulah yang digambarkan memiliki sayap. Fungsi sayap adalah untuk terbang, agar tidak hanya bergeser dari satu permukaan bumi ke permukaan bumi lainnya dan kehilangan orientasi kehidupan. Manusia pasti akan merasa kelelahan jika merespon segala dinamika kehidupan dengan segenap solusi horizontal, karena itu area bermainnya Iblis, dia hanya diberi kuasa oleh Allah untuk memainkan empat penjuru horizontal manusia. 

"Kemudian pasti aku (iblis) akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan dari mereka bersyukur"

QS Al A'raaf:17

Manusia lupa bahwa hidup di dunia itu lebih dari sekadar mampir sejenak dan membangun mimpi indah untuk kemudian berpisah dengan semua yang dicintai dan dikumpulkan seumur hidup itu. 

Manusia lupa bahwa kehidupan di dunia hanya jembatan dari satu alam ke alam lain. Dan seperti Nabi Isa Almasih katakan bahwa dunia bagaikan jembatan, tidak ada yang membangun rumah di atas jembatan. Kita semua hanya berada sementara disini untuk belajar, mengumpulkan bekal dan membangun keyakinan. 

Manusia lupa kalau dirinya punya sayap yang bisa mengakses aspek langit dari segala sesuatunya. Agar komponen langitnya tegak di atas tanah yang tengah dia pijak. Sebagaimana burung yang belajar untuk terbang, hal yang pertama dia harus tempuh adalah kesadaran bahwa dirinya punya sayap yang otomatis akan dikembangkan saat dia terjatuh dari ketinggian. Itu kenapa bayi-bayi belajar terbang dengan didorong atau difasilitasi oleh orang tuanya melakukan free fall, terjun dari ketinggian. 

Kadang dalam hidup, kita pun "dijatuhkan" sedemikian rupa. Entah bisnis bangkrut, rumah tangga hancur, rencana berantakan, harapan yang musnah dsb. Allah punya seribu satu cara untuk mentransformasi hamba-Nya. Jika kita sedang "terjatuh", sadarilah bahwa itu justru sebuah rahmat agar potensi Ilahiyah kita menjadi teraktivasi. Agar jiwa kita menjadi bangun dan mulai belajar membaca kehidupan (iqra). Supaya mengenal siapa dia, sang Rabb. Dan sungguh tidak ada hal yang lebih jiwa kita cintai kecuali bertambahnya ma'rifat kepada Sang Pencipta.

Amsterdam, Sabtu 7 Maret 2026 / 18 Ramadhan 1447 H

Jam 22.07 , saat off kerja di musim semi yang kembali dingin di tengah proses finalisasi 




Wednesday, March 4, 2026

Pengaturan-Nya dalam setiap detil kehidupan

 Setiap tetes air hujan dibawa turun dari langit oleh satu malaikat hingga ia mendarat di sebuah tempat tertentu. 

Bayangkan, setiap tetesnya!

Sebagai gambaran, jika turun hujan deras, misal 5 mm/ menit mengguyur area seluas 2,6 km persegi selama lima menit penuh, itu berarti menurunkan sekitar 1,5 trilyun tetes air dari langit ke bumi. Satu koma lima trilyun malaikat turun dari alam malakut mendatangi alam mulkiyah.

Tidak heran kalau Rasulullah SAW diriwayatkan sampai berdansa bahkan hingga melepas bagian atas pakaiannya ketika hujan turun. Rasanya bukan sekadar fakta bahwa hujan jarang turun di daerah gurun, tapi juga dengan kesadaran ada sesuatu yang segar yang turun dari langit.

Maka dalam Al Quran, ketika Allah Ta’ala berfirman tentang orang yang beristighfar dan bertaubat, itu diikuti dengan “midraran” hujan deras. Sebuah simbol sebuah penerimaan dan keterhubungan dengan alam atas.

Nah sekarang, kalau tiap tetes hujan saja diatur dengan detil jatuh di detik ke berapa dan di koordinat mana di muka bumi, maka pahami bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita bukan kebetulan tapi sudah dalam perhitungan dan ilmu-Nya. Hal-hal yang berupa kesempatan yang datang, tawaran pekerjaan, lamaran menikah, atau sesuatu yang berupa penolakan, kebangkrutan, perpisahan, janji yang tak terlaksana dan semuanya itu bukan sekadar karena ini dan itu atau karena si A dan si B. Mereka semua sekadar pion-pion yang digerakkan oleh Yang Maha Kuasa.

Oleh karenanya jangan terlalu berduka atau kesal dengan apa yang luput dari kita, juga jangan lupa diri dan lupa Allah atas segala kemudahan dan kelapangan yang ada. Semua sama, berasal dari satu sumber, Allah sang Rabbul ‘alamiin.

Agar hati kita tenang dengan apapu dinamika yang terjadi dalam kehidupan. Bahagia. Syukuri. Dan kembali mendekat kepada-Nya dengan bersuka cita. Aamiin.


Amsterdam, 4 Maret 2026 jam 16.33 bada ashar jelang masak di tengah hari cerah mulai hangat memasuki musim semi

Thursday, February 26, 2026

Agar semakin yakin kepada Allah

 "Mengabdilah kepada Allah hingga hadirnya al yaqin"

 QS Al Hijr: 99


***


Hidup itu adalah untuk membangun keyakinan kepada Allah. Setiap pasang surutnya adalah sebuah gerbang pengenalan (ma'rifat) tentang siapa Dia. 

Maka jangan panik dengan sebuah kebuntuan solusi. Itu justru saat dimana pintu-pintu dunia dan pertolongan dari selain-Nya ditutup agar Dia hadir langsung membukakan jalan keluar dan memberi solusi lewat jalan yang tak terduga. Lewat pengalaman itu kita makin merasakan kehadiran-Nya.

Jangan putus asa oleh sebuah keadaan yang tampaknya sulit diubah atau sebuah penantian panjang yang rasanya sudah habis nafas kita karenanya. Karena di saat-saat terakhir biasanya Dia menampakkan keajaiban lewat cara-cara yang luar biasa. Yang melalui pengalaman itu kita makin bisa merasakan bahwa betul ya Allah itu Maha Kuasa. 

Jangan berkecil hati kalau apapun yang kita lakukan kok sepertinya gagal atau "nggak kemana-mana". Manakala orang banyak mencibir kita dan menganggap kehidupan kita gagal. Ingat bahwa semua ada hikmahnya dan bahkan kerap kali di balik reruntuhan kegagalan kehidupan akan terkuak harta karun terpendam yang tak akan pernah ditemukan jika tanpa dibayar dengan sebuah kehancuran tertentu dalam hidup kita. Melalui pengalaman ini kita menjadi dibuat lebih takjub dengan pengaturan Dia Yang Maha Ilmu dan semakin mengagungkan-Nya. 

Hidup itu lakoni saja dengan penuh kebersyukuran. Menyadari bahwa segala sesuatu sudah Allah kadar berdasarkan ilmu dan keadilannya. Just sit back and enjoy the ride :)


Amsterdam, 26 Februari 2026 / 8 Ramadhan 1447 H di musim perpindahan musim dingin ke musim semi yang cerah.

Saturday, February 14, 2026

Dont underestimate your small act of kindness

 Semalam suhu dingin sekali. Pokoknya males deh keluar. Stay inside, keep yourself warm. Tapi perempuan perkasa ini sudah tiga kali bulak-balik menjemput orderan. Dia bekerja mengantarkan makanan. Sekali ambil dua atau tiga order lalu meluncur naik sepeda menembus dingin lengkap dengan jaket tebal, sarung tangan anti air dan syal lembut yang menutupi sebagian wajahnya.


Pas datang ketiga kalinya, tampak pipinya kemerahan, nafasnya tersengal-sengal. Sambil sesekali menggosok-gosokkan kedua tangannya karena dingin dengan rambut berwarna coklatnya yang menyembul dari sela-sela topi musim dingin. Dia menunjukkan nomor order dari telepon genggamnya yang dibalut oleh plastik biasa untuk melindungi dari air. Saat saya pegang teleponnya dingiiin sekali. Seperti memegang es. Saya lihat bibirnya juga gemetaran dan pucat. Dia pasti kedinginan.


“Do you want something to drink or something to eat to warm you up while we are preparing your order?”


Dia tampak tertegun beberapa detik. Tapi kemudian mengangguk dan berkata,


“Just give me drink without sugar please”

Dengan aksen Eropa Timur yang kental.


“How about food?” Tanya saya lagi.


Dia menggeleng sambil tersenyum dan berkata sopan, “No, thank you.”


Lalu saya siapkan pesanannya sesegera mungkin. Dan saat memberikan kepada perempuan itu, dia menyerahkan sendok kayu baru yang dibalut plastik sambil berkata,


“This is for you. You are so kind, nobody ever offered me drink like you do”


Sendok kayu itu ternyata adalah salah satu barang dagangannya yang selalu dia bawa kemana-mana. 


Malam itu masih dingin. Tapi sebuah percakapan dari hati ke hati somehow membuatnya jadi hangat…❤️



Monday, February 9, 2026

Saat merasa gagal dalam hidup

 

                                                                     (Paris, January 2026)

What if, what it seems as a confusion is actually a clarity. A wake up call from the dream that you thought was real.

***

Kadang, ada saat dalam kehidupan dimana rencana kita dibuat gagal, hal-hal yang kita anggap sumber kesuksesan kita malah berbalik menjadi sumber masalah, sesuatu yang biasanya kita andalkan berbalik menjadi mengancam kita. Apapun itu, seperti dunia dijungkirbalikkan seratus delapan puluh derajat. Sedemikian rupa membuat kita merasa kehilangan arah dan tujuan hidup. Bahkan bisa sampai pada suatu titik merasa diri tak berharga lagi saking digempur oleh banyak ujian, kegagalan dan kesulitan yang demikian mencengkeram. Kita dibuat bingung dan tak berdaya...

Itulah fase kehidupan. Selalu dipergantikan siang dan malam. Roda terus berputar, tak selamanya kita di atas dan tak selamanya kita di bawah. Secara alami, tubuh kita senantiasa berganti. Sel-sel tubuh mati dan diganti rata-rata setiap hitungan empat puluh hari. Itu sehat. Itu yang alami. Maka ketika sesuatu hal "dimatikan", dihentikan, ditarik dan diambil kembali oleh Yang Maha Kuasa, sebenarnya tak perlu meronta-ronta, yakini bahwa Dia akan memberi sesuatu dengan yang lebih pas, yang lebih baik. Karena natur akal jiwa kita akan terus bertumbuh mestinya dalam hidup. Dan sebagaimana tanaman yang tumbuh, dia akan terus membutuhkan ruang yang lebih besar dan lebih besar lagi untuk mendukung pertumbuhannya. Maka apapun yang ditakdirkan berakhir di saat ini, bisa jadi sebuah arahan dari-Nya untuk memandu kita ke warna kehidupan yang lebih baik. Sesuatu yang lebih pas buat identitas jiwa kita. Sebuah hidup yang sejati yang kita banget. Bukan sekadar menjalani hidup atau menghabiskan waktu dan usia dengan hal-hal yang memang rasanya "comfortable", tapi sebenarnya tidak begitu mengisi jiwa kita. Karena manusia cenderung merasa nyaman menjalani rutinitas yang dia rasa aman. Padahal potensinya tidak berkembang optimal di sana. Allah Maha Tahu itu, kita yang kerap terbuai oleh waham hidup nyaman. Yang sebenarnya nyaman untuk hawa nafsu dan sangat menggelisahkan buat jiwa karena sejak awal sang jiwa hanya berhasrat mengenal Allah. 

You just need to take the leap of faith.

Butuh keberanian untuk keluar dari comfort zone dan menapaki jalan yang baru. Tapi kalau Allah yang memerintahkan dan memberi petunjuk serta membukakan jalannya, bismillah saja, serahkan semua pengaturan kepada Allah dan jelang keajaiban demi keajaiban di sepanjang jalan. 

Jadi, jangan berkecil hati saat hidup rasanya stuck dan gagal. Coba lihat dari sudut pandang lain. Bahwa ini cara Allah menunjukkan kepada kita bahwa ada jalan lain yang lebih pas (thayyib) bagi diri kita dimana di jalan itu rezeki langit dan bumi (anna dan salwa)nya melimpah. Bismillah, jalani saja dan senantiasa meminta pertolongan Allah dengan sabar dan shalat. []

Amsterdam, Monday, 9 Februari 2026 / 21 Sya'ban 1447 H

Cloudy day in cold early spring. 13.53

Saturday, February 7, 2026

Saat segala sesuatunya seperti tak beres

 Apapun yang kau pikir sebagai sebuah kekacauan hari ini sebenarnya adalah sebuah pengaturan Ilahiyah yang kau belum  sadari.

- Jalaluddin Rumi

Kadang kita berada dalam sebuah episode kehidupan dimana semua serba salah, segalanya kacau, rencana kita buyar semua dan apapun yang kita lakukan seakan tak karuan. Kita tengah dibuat tak berdaya menghadapi kehidupan. 

Mungkin kita lupa bahwa manusia pada dasarnya memang tak berdaya tanpa kekuatan dari-Nya.

Mungkin kita merasa serba bisa dan jagoan banget sampai kemudian Allah mengingatkan kita dengan serentetan kegagalan dan kemalangan hidup yang tak terelakkan. Sebagai pengingat bahwa “you are not in control of your life”. 

Kita lupa bahwa segala sesuatu hanya terjadi dengan izin-Nya semata. Bahkan sehelai daun yang jatuh di kedalaman hutan belantara yang rindang adalah dalam cakupan pengetahuan dan kuasa-Nya.

So it’s okay. Apa-apa yang kita pandang sebagai sebuah kegagalan, kehancuran, kekacauan, perceraian, kebangkrutan dan hal-hal lain yang bernuansa kematian atau akhir dari sebuah episode tak lain adalah pengaturan-Nya agar kita mengalir di dalam sebuah sungai takdir yang baru. Sesuatu yang menghidupkan jiwa kita agar lebih mengenal-Nya. Dan itulah inti dari kebahagiaan hidup yang sebenarnya.[]

Amsterdam, 8 Februari 2026 pukul 8.56 pagi jelang musim semi