“Live today because tomorrow is not promised…”
Saya memutuskan memiliki tato ini sehari setelah ibu saya bunuh diri. We didn’t saw it coming. Kejadiannya cepat dan tiba-tiba. Ibu adalah orang yang sangat aktif dan tidak bisa diam, selalu saja ada hal yang beliau kerjakan. Maka ketika ibu terserang stroke yang membuat separuh badannya lumpuh dan sulit untuk berkata-kata, beliau menjadi sangat terpukul karenanya. Dua bulan setelah menjalani terapi, suatu hari tetangga menemukannya gantung diri dengan menggunakan kain-kain yang dibelitkan di lehernya. Kain-kain yang biasanya dia pakai untuk membuat berbagai pakaian untuk menyalurkan bakat kreativitasnya. Kain itu dililitkan sembilan putaran di lehernya, sebanyak jumlah anak-anaknya yang sembilan orang itu.
Saya masih berusia remaja saat itu terjadi. Setiap anak-anaknya berusaha menjalani hidup dengan terhuyung-huyung setelah itu. Banyak yang mencari pertolongan ke terapis. Adapun aku, aku menjadi berkelana dari satu agama ke agama yang lain. Aku ke gereja, ke mesjid, ke kuil, untuk mencari jawaban atas pertanyaan, “Mengapa ibuku ya Tuhan?”
Sejak saat itu saya sadar bahwa hidup demikian rapuh. One day we have everything and the next day it’s gone. Apapun yang kita miliki dan nikmati bisa hilang dalam waktu sekejap. Maka saya cenderung hidup di saat ini. Di hari ini. Karena besok belum tentu datang.
- Dari bincang malam di restaurant, Amsterdam, Senin 23 Maret 2026 dini hari


