Choosing to love someone can be really hard work. It requires constant self-reflection, dissolving our ego, and breaking free of deep-rooted patterns. It’s a daily choice, and sometimes even a fight with our old selves. But oh, it’s so worth it. Even the journey tends to break us, because the greater love cause the greater pain. And yet, it’s so much better than never knowing love at all.
***
Di awal waktu, mencinta seseorang rasanya mudah. Itu periode infatuation, dimana kita terbuai dengan kecocokan dan mengagumi kelebihan yang kita lihat padanya. That’s why they called it “fall in love”, karena “fall” itu almost “effortless. Kita seperti disedot dalam pusaran gravitasi cinta yang menggelora. Ini baru fase awal.
And then when the ‘honeymoon’ is over. Ketika waktu menguak sisi-sisi lain dan yang asli dari pasangan kita. Belum tentu rasa cinta itu masih membara. Adapun cinta sejati tidak akan luntur oleh sekian fenomena yang kita labeli sebagai “kekurangan” dari pasangan kita. Karena cinta itu setia.
Demikianlah, kita belajar makna cinta sejati dari mencintai ciptaan-Nya, tapi jangan berhenti di situ, karena hati hanya layak ditempati oleh kuasa-Nya. Cinta kita harus bertumbuh. Hingga menumbuhkan cinta sejati. Unconditioned love. Unselfish love. Insya Allah.
Amsterdam, Foostrip, 21.30 malam, Selasa, 15 September 2026