Wednesday, March 4, 2026

Pengaturan-Nya dalam setiap detil kehidupan

 Setiap tetes air hujan dibawa turun dari langit oleh satu malaikat hingga ia mendarat di sebuah tempat tertentu. 

Bayangkan, setiap tetesnya!

Sebagai gambaran, jika turun hujan deras, misal 5 mm/ menit mengguyur area seluas 2,6 km persegi selama lima menit penuh, itu berarti menurunkan sekitar 1,5 trilyun tetes air dari langit ke bumi. Satu koma lima trilyun malaikat turun dari alam malakut mendatangi alam mulkiyah.

Tidak heran kalau Rasulullah SAW diriwayatkan sampai berdansa bahkan hingga melepas bagian atas pakaiannya ketika hujan turun. Rasanya bukan sekadar fakta bahwa hujan jarang turun di daerah gurun, tapi juga dengan kesadaran ada sesuatu yang segar yang turun dari langit.

Maka dalam Al Quran, ketika Allah Ta’ala berfirman tentang orang yang beristighfar dan bertaubat, itu diikuti dengan “midraran” hujan deras. Sebuah simbol sebuah penerimaan dan keterhubungan dengan alam atas.

Nah sekarang, kalau tiap tetes hujan saja diatur dengan detil jatuh di detik ke berapa dan di koordinat mana di muka bumi, maka pahami bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita bukan kebetulan tapi sudah dalam perhitungan dan ilmu-Nya. Hal-hal yang berupa kesempatan yang datang, tawaran pekerjaan, lamaran menikah, atau sesuatu yang berupa penolakan, kebangkrutan, perpisahan, janji yang tak terlaksana dan semuanya itu bukan sekadar karena ini dan itu atau karena si A dan si B. Mereka semua sekadar pion-pion yang digerakkan oleh Yang Maha Kuasa.

Oleh karenanya jangan terlalu berduka atau kesal dengan apa yang luput dari kita, juga jangan lupa diri dan lupa Allah atas segala kemudahan dan kelapangan yang ada. Semua sama, berasal dari satu sumber, Allah sang Rabbul ‘alamiin.

Agar hati kita tenang dengan apapu dinamika yang terjadi dalam kehidupan. Bahagia. Syukuri. Dan kembali mendekat kepada-Nya dengan bersuka cita. Aamiin.


Amsterdam, 4 Maret 2026 jam 16.33 bada ashar jelang masak di tengah hari cerah mulai hangat memasuki musim semi

Thursday, February 26, 2026

Agar semakin yakin kepada Allah

 "Mengabdilah kepada Allah hingga hadirnya al yaqin"

 QS Al Hijr: 99


***


Hidup itu adalah untuk membangun keyakinan kepada Allah. Setiap pasang surutnya adalah sebuah gerbang pengenalan (ma'rifat) tentang siapa Dia. 

Maka jangan panik dengan sebuah kebuntuan solusi. Itu justru saat dimana pintu-pintu dunia dan pertolongan dari selain-Nya ditutup agar Dia hadir langsung membukakan jalan keluar dan memberi solusi lewat jalan yang tak terduga. Lewat pengalaman itu kita makin merasakan kehadiran-Nya.

Jangan putus asa oleh sebuah keadaan yang tampaknya sulit diubah atau sebuah penantian panjang yang rasanya sudah habis nafas kita karenanya. Karena di saat-saat terakhir biasanya Dia menampakkan keajaiban lewat cara-cara yang luar biasa. Yang melalui pengalaman itu kita makin bisa merasakan bahwa betul ya Allah itu Maha Kuasa. 

Jangan berkecil hati kalau apapun yang kita lakukan kok sepertinya gagal atau "nggak kemana-mana". Manakala orang banyak mencibir kita dan menganggap kehidupan kita gagal. Ingat bahwa semua ada hikmahnya dan bahkan kerap kali di balik reruntuhan kegagalan kehidupan akan terkuak harta karun terpendam yang tak akan pernah ditemukan jika tanpa dibayar dengan sebuah kehancuran tertentu dalam hidup kita. Melalui pengalaman ini kita menjadi dibuat lebih takjub dengan pengaturan Dia Yang Maha Ilmu dan semakin mengagungkan-Nya. 

Hidup itu lakoni saja dengan penuh kebersyukuran. Menyadari bahwa segala sesuatu sudah Allah kadar berdasarkan ilmu dan keadilannya. Just sit back and enjoy the ride :)


Amsterdam, 26 Februari 2026 / 8 Ramadhan 1447 H di musim perpindahan musim dingin ke musim semi yang cerah.

Saturday, February 14, 2026

Dont underestimate your small act of kindness

 Semalam suhu dingin sekali. Pokoknya males deh keluar. Stay inside, keep yourself warm. Tapi perempuan perkasa ini sudah tiga kali bulak-balik menjemput orderan. Dia bekerja mengantarkan makanan. Sekali ambil dua atau tiga order lalu meluncur naik sepeda menembus dingin lengkap dengan jaket tebal, sarung tangan anti air dan syal lembut yang menutupi sebagian wajahnya.


Pas datang ketiga kalinya, tampak pipinya kemerahan, nafasnya tersengal-sengal. Sambil sesekali menggosok-gosokkan kedua tangannya karena dingin dengan rambut berwarna coklatnya yang menyembul dari sela-sela topi musim dingin. Dia menunjukkan nomor order dari telepon genggamnya yang dibalut oleh plastik biasa untuk melindungi dari air. Saat saya pegang teleponnya dingiiin sekali. Seperti memegang es. Saya lihat bibirnya juga gemetaran dan pucat. Dia pasti kedinginan.


“Do you want something to drink or something to eat to warm you up while we are preparing your order?”


Dia tampak tertegun beberapa detik. Tapi kemudian mengangguk dan berkata,


“Just give me drink without sugar please”

Dengan aksen Eropa Timur yang kental.


“How about food?” Tanya saya lagi.


Dia menggeleng sambil tersenyum dan berkata sopan, “No, thank you.”


Lalu saya siapkan pesanannya sesegera mungkin. Dan saat memberikan kepada perempuan itu, dia menyerahkan sendok kayu baru yang dibalut plastik sambil berkata,


“This is for you. You are so kind, nobody ever offered me drink like you do”


Sendok kayu itu ternyata adalah salah satu barang dagangannya yang selalu dia bawa kemana-mana. 


Malam itu masih dingin. Tapi sebuah percakapan dari hati ke hati somehow membuatnya jadi hangat…❤️



Monday, February 9, 2026

Saat merasa gagal dalam hidup

 

                                                                     (Paris, January 2026)

What if, what it seems as a confusion is actually a clarity. A wake up call from the dream that you thought was real.

***

Kadang, ada saat dalam kehidupan dimana rencana kita dibuat gagal, hal-hal yang kita anggap sumber kesuksesan kita malah berbalik menjadi sumber masalah, sesuatu yang biasanya kita andalkan berbalik menjadi mengancam kita. Apapun itu, seperti dunia dijungkirbalikkan seratus delapan puluh derajat. Sedemikian rupa membuat kita merasa kehilangan arah dan tujuan hidup. Bahkan bisa sampai pada suatu titik merasa diri tak berharga lagi saking digempur oleh banyak ujian, kegagalan dan kesulitan yang demikian mencengkeram. Kita dibuat bingung dan tak berdaya...

Itulah fase kehidupan. Selalu dipergantikan siang dan malam. Roda terus berputar, tak selamanya kita di atas dan tak selamanya kita di bawah. Secara alami, tubuh kita senantiasa berganti. Sel-sel tubuh mati dan diganti rata-rata setiap hitungan empat puluh hari. Itu sehat. Itu yang alami. Maka ketika sesuatu hal "dimatikan", dihentikan, ditarik dan diambil kembali oleh Yang Maha Kuasa, sebenarnya tak perlu meronta-ronta, yakini bahwa Dia akan memberi sesuatu dengan yang lebih pas, yang lebih baik. Karena natur akal jiwa kita akan terus bertumbuh mestinya dalam hidup. Dan sebagaimana tanaman yang tumbuh, dia akan terus membutuhkan ruang yang lebih besar dan lebih besar lagi untuk mendukung pertumbuhannya. Maka apapun yang ditakdirkan berakhir di saat ini, bisa jadi sebuah arahan dari-Nya untuk memandu kita ke warna kehidupan yang lebih baik. Sesuatu yang lebih pas buat identitas jiwa kita. Sebuah hidup yang sejati yang kita banget. Bukan sekadar menjalani hidup atau menghabiskan waktu dan usia dengan hal-hal yang memang rasanya "comfortable", tapi sebenarnya tidak begitu mengisi jiwa kita. Karena manusia cenderung merasa nyaman menjalani rutinitas yang dia rasa aman. Padahal potensinya tidak berkembang optimal di sana. Allah Maha Tahu itu, kita yang kerap terbuai oleh waham hidup nyaman. Yang sebenarnya nyaman untuk hawa nafsu dan sangat menggelisahkan buat jiwa karena sejak awal sang jiwa hanya berhasrat mengenal Allah. 

You just need to take the leap of faith.

Butuh keberanian untuk keluar dari comfort zone dan menapaki jalan yang baru. Tapi kalau Allah yang memerintahkan dan memberi petunjuk serta membukakan jalannya, bismillah saja, serahkan semua pengaturan kepada Allah dan jelang keajaiban demi keajaiban di sepanjang jalan. 

Jadi, jangan berkecil hati saat hidup rasanya stuck dan gagal. Coba lihat dari sudut pandang lain. Bahwa ini cara Allah menunjukkan kepada kita bahwa ada jalan lain yang lebih pas (thayyib) bagi diri kita dimana di jalan itu rezeki langit dan bumi (anna dan salwa)nya melimpah. Bismillah, jalani saja dan senantiasa meminta pertolongan Allah dengan sabar dan shalat. []

Amsterdam, Monday, 9 Februari 2026 / 21 Sya'ban 1447 H

Cloudy day in cold early spring. 13.53

Saturday, February 7, 2026

Saat segala sesuatunya seperti tak beres

 Apapun yang kau pikir sebagai sebuah kekacauan hari ini sebenarnya adalah sebuah pengaturan Ilahiyah yang kau belum  sadari.

- Jalaluddin Rumi

Kadang kita berada dalam sebuah episode kehidupan dimana semua serba salah, segalanya kacau, rencana kita buyar semua dan apapun yang kita lakukan seakan tak karuan. Kita tengah dibuat tak berdaya menghadapi kehidupan. 

Mungkin kita lupa bahwa manusia pada dasarnya memang tak berdaya tanpa kekuatan dari-Nya.

Mungkin kita merasa serba bisa dan jagoan banget sampai kemudian Allah mengingatkan kita dengan serentetan kegagalan dan kemalangan hidup yang tak terelakkan. Sebagai pengingat bahwa “you are not in control of your life”. 

Kita lupa bahwa segala sesuatu hanya terjadi dengan izin-Nya semata. Bahkan sehelai daun yang jatuh di kedalaman hutan belantara yang rindang adalah dalam cakupan pengetahuan dan kuasa-Nya.

So it’s okay. Apa-apa yang kita pandang sebagai sebuah kegagalan, kehancuran, kekacauan, perceraian, kebangkrutan dan hal-hal lain yang bernuansa kematian atau akhir dari sebuah episode tak lain adalah pengaturan-Nya agar kita mengalir di dalam sebuah sungai takdir yang baru. Sesuatu yang menghidupkan jiwa kita agar lebih mengenal-Nya. Dan itulah inti dari kebahagiaan hidup yang sebenarnya.[]

Amsterdam, 8 Februari 2026 pukul 8.56 pagi jelang musim semi 


Thursday, February 5, 2026

When the relationship is broken...

Dalam perjalanan mencari Cinta Sejati, kita akan mengalami berbagai cinta-cinta palsu.

Cinta yang hanya sesaat dan menghilang.

Sakit memang. Tapi pengalaman itu penting agar kita mengenal yang sejati itu seperti apa. Dimulai dari mengenal sesuatu yang bersifat fana.

Ada pasangan yang sudah puluhan tahun menikah, bahagia membangun rumah tangga bersama anak-anak yang dikaruniakan kepada mereka, lalu kandas dalam semalam. Alasannya macam-macam; sudah tak cocok lagi, ada pihak ketiga, keyakinan dan arah hidup yang tidak sama dll. 

Ada yang tetap bertahan bersama walaupun masing-masing sudah merasa tidak bahagia dan berjarak. And it's okay. Semua pilihan ada konsekuensinya masing-masing. Yang penting kita selalu memohon kepada Allah agar dibimbing karena apa yang baik menurut kita belum tentu baik di mata Allah. Artinya kebaikan dari sesuatu itu bisa jadi butuh waktu untuk melihatnya. Memang butuh kesabaran tingkat tinggi dalam menjalaninya. Tapi selama Allah menolong dan turun tangan, tidak ada yang sulit sebenarnya. 

Ingat, bahwa segala sesuatu hanya terjadi dengan kehendakNya. Jika Allah memberi izin sesuatu itu terjadi pasti banyak hikmah dan kebaikan di dalamnya. Hanya kita harus bersabar menghadapinya. Pokoknya percaya deh sama Gusti Allah. Jangan biarkan sebutir keraguan pun menyelinap di benak dan hati kita. Itu kenapa kita harus banyak-banyak istighfar. Karena kita cenderung berburuk sangka dengan ketetapan-Nya dan meragukan kebijakan-Nya. 

Percayalah bahwa jika Allah mengambil sesuatu dari kita pasti Dia hendak mengganti dengan sesuatu yang lebih baik. Tapi ingat, lebih baik dalam pertimbangan-Nya.. Baik untuk dunia dan akhirat kita. Bukan dipandang baik dari kacamata syahwat, hawa nafsu dan waham manusia yang terbatas. 

Ketika sesuatu yang indah itu berakhir. Just move on. Bertasbihlah dengan aliran takdir kehidupan. Percayakan semua kepada Allah. Karena semakin kita meronta-ronta dan melawannya akan semakin sakit dan takdir pun tak akan berubah. Rugi sendiri. Sementara waktu kita hidup di dunia tidak lama. Setiap nafas adalah karunia. Di dalam setiap detak jantung kehidupan ada anugerah-Nya yang tak terkira. Pandang itu. Syukuri apa yang ada. Akhir yang indah menanti bagi mereka yang sabar.

Badai pun akan berlalu. And this too shall pass...

Hug from Amsterdam.

Jumat, 6 Februari 2026 / 12 Sya'ban 1447 H

Accept that it's over. Let it go. Move on. Change is painful sometimes, but nothing is more painful then to be in a relationship that is not nurturing your soul. Don't depend on someone else as the source of happiness. God is the Only source of happiness and you can access it anytime, anywhere...

Tuesday, February 3, 2026

Ketika Allah tengah menguatkan pondasi kita

 “Kadang ada hal-hal dalam kehidupan yang baru kita pahami bertahun-tahun kemudian”

***

Hidup itu penuh misteri. Setiap detilnya mencengangkan sebenarnya karena semuanya adalah manifestasi dari garisan takdir kehidupan yang telah Allah tuliskan jauh sebelum alam raya tercipta.

Karena Yang Menciptakan adalah Dzat Yang Maha Ilmu maka tak ada takdir yang sia-sia. Tak ada gerak kehidupan yang tak bermakna. Bahkan dalam tragedi sekalipun tersimpan sebuah hikmah yang dalam. Hanya saja seringkali perlu perlu waktu bagi manusia untuk memahaminya.

Bayangkan proses pembuatan rel kereta. Sang desainer tentu tidak sekadar sibuk pada satu titik saja, melainkan keseluruhan rute dan lajur kereta yang ada, semua dibuat dengan perhitungan yang dalam dan melibatkan banyak pertimbangan. Secara fisik pengerjaannya pun butuh waktu yang tidak sebentar. Pertama membebaskan lahan yang ada, lalu membuat rata lajurnya, ditebarkan batu-batu yang kokoh sebagai bantalan rel besi yang dirangkai dengan sangat cermat agar tidak membuat gerbong keluar lakur atau oleng dan terguling. Demikian juga, rel-rel takdir kehidupan kita sudah ada. Tinggal kita memilih jalur yang mana. Diantara sekian pilihan itu ada lajur yang terbaik, yang rezeki lahir batinnya melimpah, itulah shiraathal mustaqiim yang kita minta setiap shalat.

Tapi, bayangkan saat laju-lajur itu masih dalam tahap pembuatan. Tentu sebidang tanah banyak protes saat dikeruk, diratakan lalu ditimpa dengan bebatuan keras di atasnya. Semuanya terasa sebuah penderitaan. Yang tidak dia pahami adalah dia disiapkan menjadi bagian dari sebuah trayek penting yang memindahkan manusia dari satu tempat ke tempat lain. Yang dengannya keberadaannya menjadi bermakna dan mengkontribusikan sesuatu. 

Setiap kita pun demikian. Kita tidak terlahir kosong dari misi hidup. Setiap orang memiliki amal shalih utamanya masing-masing, yang itu hanya bisa ditemukan dan dijalani di shiraathal mustaqiim. Itu mengapa shalat adalah tiang diin, bukanagama dalam arti ritual saja, tapi keseluruhan kehidupan dan nafas kita.  Tanpa shalat, kita hanya terlunta-lunta dan dibuat bingung dengan fenomena perubahan dan gejolak yang selalu ada hingga kiamat nanti. Kita perlu memaknai kehidupan kita. Bahkan kalaupun pemahaman itu nanti datangnya, tapi dengan shalat, nur islam yang Allah sematkan di shadr itu akan juga membuat yang bersangkutan menjadi berserah diri (aslama). Tak meronta-ronta menjalani takdir-Nya bahkan mensyukuri apapun fenomenanya.

Ya, memang banyak hal yang belum kita pahami saat ini. Terutama yang terkait dengan kehidupan kita sendiri. Kenapa saya dilahirkan di keluarga itu? Kenapa memiliki fisik seperti ini? Kenapa saya dibuat jago di bidang tertentu dan keok di bidang lain? Semuanya mesti dibaca, iqra, agar kita makin berilmu. Dan kalaupun pemahaman itu belum juga datang, sabar saja dijalani. Hidup adalah sesimpel itu.


Amsterdam , 3 Januari 2026

Selasa malam selepas jemput Rumi badminton dan ke Jumbo. Jam 20.50

Pemandangan di Gein dari Metro 54