"Pena telah diangkat dan lembaran telah kering"
- Rasulullah SAW
Kemunginan-kemungkinan takdir hidup kita telah tertuliskan. Adapun kita mengalir ke arah takdir yang mana itu tergantung kondisi hati kita. Maka sebuah penyakit hati bisa mengakibatkan kita mengalir ke sebuah takdir tertentu yang bisa jadi menyakitkan ketika melampauinya, tapi bagaimanapun itu takdir itu bersifat mensucikan. Ada obat di semua penggal takdir yang kita jalani. Setiap penggalnya, karena Allah tidak menciptakan sesuatu sia-sia. Tidak pernah!
Maka, wajar kalau Ali r.a. pernah berkata bahwa jika kita melihat ada keburukan di orang lain, cabutlah dari hati kita. Sekilas pernyataan itu membuat kita bingung. Lha wong yang melakukan keburukan orang lain, kok mencabutnya dari dalam hati kita sendiri? Itulah rahasia besar kehidupan. Kesadaran bahwa semesta sekeliling kita adalah sebuah cermin canggih ini merupakan salah satu ilmu tertinggi dalam hidup. Beruntunglah orang-orang yang Allah beri kesadaran tentang itu. Dengannya, ia melihat sekitarnya dengan sebuah ketundukan dan ketakziman, sadar bahwa apapun yang mewujud tak lain adalah pancaran dari kondisi hati kita dari saat ke saat.
Inilah jalan pertaubatan, kembali kepada Allah. Kembali mengingat bahwa segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Jika kita paham ini, akan lebih ringan dalam menjalani hidup. Ringan itu adanya di hati, sebuah ketenangan walaupun di tengah badai kehidupan sekalipun. Dengan keyakinan bahwa Allah tidak akan menzalimi hamba-Nya bahkan sebesar dzarrah sekalipun. Tidak mungkin. Jadi jalani kehidupan dengan tersenyum, syukuri apa yang ada dan terus berpengharapan kepada-Nya serta sabar dalam menanti ketetapan-Nya. This to shall pass...
Amsterdam, 2 Juni 2027
Musim semi yang mendung dan hujan, jam 11.09
No comments:
Post a Comment