Saya perhatikan dengan seksama bagaimana meeting itu berjalan, setiap diskusi dan dinamika. Kemudian, ada hal yang menggelitik saya ketika si boss besar menekankan pada "two digit growth"sambil memperlihatkan pie chart. Dia bicara dengan berapi-api bernada "yes we can!". Semua diam, ada yang mengangguk-angguk. Lalu entah angin apa, tiba-tiba saya mengangkat tangan di tengah presentasi dia. Biasanya tidak ada yang berani menginterupsi dia. Si boss besar yang galak ini. Tapi kali itu dia memberikan saya kesempatan untuk berbicara. Rupanya itu kesempatan bicara saya yang pertama dan terakhir. Haha...mungkin pertanyaan saya dianggap aneh dan nyeleneh.
Saya mempertanyakan fokus perusahaan pada "double digit growth", memangnya sampai kapan? Kan 'kue-nya'segitu-gitu aja, market growth tidak sampai double digit. Kan tidak masuk akal untuk terus mempertahankan double digit growth setiap tahun, kecuali dengan mengakuisisi perusahaan lain.
Corporate world, sebatas yang saya perhatikan, terlalu menekankan pada profit, bottom line, EBITDA. Kalaupun sesekali bicara tentang Employee Well Being, itu dikaitkan dengan skema bonus atau family gathering tahunan untuk menghibur. Jarang didiskusikan tentang apakah seseorang pas di posisinya, apakah dia happy, apa yang bisa perusahaan lakukan untuk mencuatkan talenta seseorang. Kalaupun ada serangkaian training yang diberikan fokusnya lagi-lagi untuk mendongkrak sales. And yes, i get it. Perusahaan tanpa profit akan gulung tikar. The music will stop. Tapi fokus yang terlalu banyak pada duit akan membuat kultur penjajahan terselubung. It's a modern verse of human slavery. Bedanya perbudakan zaman sekarang tidak pakai rantai besi dan cambuk. Tapi orang dibuat takut kehilangan pekerjaan mereka dan diikat dengan "kontrak kerja"dan sekian banyak tuntutan kerja yang kadang tidak manusiawi.
Sad but true. I have been witnessing this for long time. Ketika kita diperbudak oleh pekerjaan kita sendiri. Bayangkan, seorang pekerja menghabiskan waktu hampir 10 jam sehari untuk bekerja, kalau ditambah waktu commuting rumah-kantor. Dikurangi waktu tidur dll untuk pribadi yang sekitar 8 jam, dia masih punya waktu sekitar 6 jam untuk keluarganya. Itulah waktu yang tersisa untuk berinteraksi dengan keluarga, dengan catatan dia tidak membawa pekerjaan ke rumah. The point is, waktu yang seseorang habiskan di pekerjaan itu benar-benar menyita nafas-nafas hidupnya. Sayang kalau orientasinya hanya sekadar untuk duit atau pangkat dan berbagai fasilitas duniawi lainnya. Sementara kesempatan hidup di dunia singkat. And yes, we are all replaceable in the corporate world. Perusahaan akan terus berjalan tanpa kita. So make sure we set our priority right.
Jadi gimana, apakah kemudian mesti berhenti kerja? Oh bukan ke sana maksudnya. Justru bekerjalah dengan produktif dan berprestasi. Tapi jadikan pekerjaan kita jadi ladang amal shalih agar waktu-waktu yang kita habiskan itu menjadi bekal akhirat kita. gaar sesuatu itu jadi amal shalih, kita harus sering-sering melibatkan Allah dalam apapun yang kita lakukan dan tegakkan shalat sebagai pilar. Jadikan shalat sebagai kesempatan untuk meraup cahaya dan kekuatan jiwa yang dibutuhkan untuk menjalani kehidupan di antara waktu shalat. Karena itu adalah saat kita beraudiensi dengan Allah Taála, Tuhan Semesta Alam. Semakin khusyu kita shalat, semakin kuat pancaran cahaya dan berkat yang akan diturunkan melalui kehadiran kita di alam mulkiyah ini. Maka jangan jadikan shalat sebagai "interupsi"semata. Malah indah kalau pekerjaan kantor dihentikan sesaat untuk shalat berjamaah - jika memungkinkan. Dan alangkah eloknya jika perusahaan menyediakan ruang shalat yang nyaman. Pasti Allah akan berkati perusahaan itu.
Allah mengutus kita ke dunia ini untuk memakmurkannya. So yes, give your best ar work, tapi fokusnya bukan dunia, tapi akhirat. Karena kalau fokus kita akhirat, dunia otomatis terlampaui. Sebaliknya kalau fokus kita hanya dunia, akhirat kita lepas. Nanti kita akan kerepotan menghadapi alam barzakh setelah jasad ini purna tugas.
Islam adalah agama pertengahan. Kita diajarkan untuk tidak mencampakkan dunia tapi pun agar tidak tenggelam di dalamnya. Kita boleh mencintai apapun di sini tapi ingat, ini negeri sementara. Jangan terlalu berlebihan mencintainya. Mengutip lagu dangdut dari Vetty Fera, "Hidup ini jangan serba ter~la~lu. yang sedang-sedang saja. Karena semua yang serba terlalu. bikin sakit kepala"
Amsterdam, 2 Juni 2026 / 16 Dzulhijjah 1447
jam 9.05 pagi, saat Rumi ogah sekolah :)
No comments:
Post a Comment