Monday, June 1, 2026

Ketika Dia mengizinkan nama-Nya disebut

 Saya yakin tidaklah seseorang diberi izin mengucapkan "Allah", "Bismillah", "Astaghfirullah", "Alhamdulillah" dengan sebuah ketakziman tertentu melainkan ada sebuah kebaikan tertentu di dalam diri orang itu yang Allah Maha Mengetahui. Terlepas apa agama orang itu. Tak memandang apakah dia shalat atau tidak. Tapi dalam kehidupan sehari-hari saya suka memperhatikan ada saat-saat dimana orang-orang yang tampaknya "tidak religius" toh diizinkan oleh Allah untuk sekadar mengucapkan nama-Nya yang sakral itu.

Terkait hal itu, ada kejadian yang menarik di tempat kerja saya. Suatu hari seorang inspektur restoran independen datang dan melakukan inspeksi mendadak yang biasanya dilakukan setiap tiga bulan. Di Belanda masalah food safety dan kebersihan makanan sangat diperhatikan serius. Restoran yang tidak lulus inspeksi pertama kali harus dilakukan inspeksi kedua. Kalau tidak lulus juga, dia harus menutup restorannya setengah hari untuk memperbaiki kekurangannya. Lalu kalau tidak lulus ujiannya berikutnya dia harus tutup restoran selama beberapa hari hingga konsekuensi kehilangan izin usaha. Jadi kalau inspektur datang kita semua - bagian manajemen pasti tegang. Seperti yang terjadi beberapa hari yang lalu.
Ceritanya saat sang inspektur datang, semua hal seperti biasa sudah dicek. Tapi toh ada yang kebobolan juga dan satu poin itu sialnya termasuk critical point. Pucatlah wajah manajer restoran yang sedang on duty saat itu, dia adalah senior saya. Seorang ibu paruh baya dari Sri Lanka. Dengan mata berkaca-kaca dia menghampiri saya dan berkata, "Tessa, i missed that one thing, i thought i have checked..." katanya pilu. Karena sudah pasrah kalau memang hasilnya tidak lulus maka dia harus tanggung jawab sebagai manager senior. Saya mencoba menenangkan dia, "Jangan khawatir, kita sudah berusaha yang terbaik. Sekarang tinggal berdoa kepada Tuhan" Saya tahu dia orang yang suka pergi ke temple untuk melakukan persembahan kepada tuhannya.
Sambil menunggu hasil evaluasi keluar dalam beberapa menit ke depan, dia tampak kalut dan gelisah. Lalu ia mendatangi saya lagi dan berkata, "Tessa doa ya. Dan kalau kita lulus mari kita berdoa dengan menyebut Allah, Tuhanmu" Saya mengangguk dan tersenyum sambil terus berusaha menenangkan dia.
Akhirnya, keputusan evaluasi keluar. Kami berdua, sebagai manager on duty dipanggil oleh evaluator ke dalam kantor. Dan alhamdulillah hasilnya lulus! Ternyata 'kesalahan'itu masih bisa ditolerir dengan argumen yang tepat. Kolega saya langsung pecah tangisannya sambil memeluk saya. We're happy. And yes we did our powwow dance. Setelah sang inspektur pamitan. Kolega saya lalu mengajak saya ke atas, ke ruangan yang biasa digunakan untuk shalat, untuk menunaikan janjinya - berdoa dengan menyebut nama Allah - Saya pun gelar sejadah, bersimpuh ke arah kiblat sambil menengadahkan kedua tangan ke langit dan memimpin doa dengan disertai dzikir menyebut nama-Nya. Kolega saya mengikuti, sampai ikut sujud syukur pula. Sesuatu hal yang menakjubkan. Membimbing dia melakukan sujud syukur dan menyebut nama-Nya. Dan itu atas keinginan dia sendiri.
Kadang memang Allah membuat sebuah turbulens tertentu dalam hidup yang membuat orang membuat lonjakan spiritual yang tak terbayangkan sebelumnya. Masya Allah.

No comments:

Post a Comment