Choosing joy ia a daily, resilient practice. It means choosing to find contentment and gratitude, even when your circumstances aren’t perfect.
But remember that joy does not require a perfect life. It simply asks us to notice the small blessings woven into each day.
***
Kita harus melatih diri untuk mensyukuri setiap aspek kehidupan untuk pada akhirnya diberi hati yang bersyukur. Terutama berjuang menerima saja dulu hal-hal yang kita masih berat bahkan sakit untuk menjalaninya. Penerimaan dan tidak meronta-ronta itu sendiri sudah sebuah langkah besar untuk bisa bersyukur. Karena kalaupun ngga nrimo, masalahnya takdir yang itu juga yang tetap harus kita jalani. Lebih baik cari cara bagaimana agar menjalaninya dengan less painful. Caranya dengan banyak-banyak dzikir. Karena sudah dijamin Allah,
Hanya dengan mengingat Allah (dzikrullah) hati menjadi tenteram
QS Ar Ra'd:28
Hati kita itu sepatutnya menjadi tempat tajali Allah. Tidak ada yang bisa memenuhi hati kita kecuali Dia Taála. Apapun obyek-obyek ciptaan yang coba kita jejalkan di dalamnya tidak akan pernah bisa memenuhi hati seorang manusia. Hanya Allah yang bisa.
Tidak memuat-Ku lelangit-Ku dan bumi-Ku, kecuali qalb hamba-Ku yang mukmin.
- Hadits Qudsiy
Dengan dzikir, seseorang berupaya menyambungkan dirinya dengan Allah. Agar koneksi itu terjalin. Dan Dia senantiasa hadir setiap kita mengingat-Nya dalam sepi maupun ramai, dalam kesenangan maupun kesedihan. Kehadirannya itu yang membuat hati lapang, damai, , tenteram, happy. Joy is another inevitable consequence of the Divine presence. Itulah yang dimaksud dengan hati yang bersyukur. Walaupun badai kehidupan masih menggila dan mengelilingi kita, tapi hati dibuat tenang menghadapinya, karena Allah menyertai kita. []
Amsterdam, Jumát 5 Juni 2026, jelang BHV training, 10.14 pagi
No comments:
Post a Comment