Saturday, September 5, 2026

Sabar atas hal yang tidak kita senangi

"...Akan tetapi, Allah menjadikan dari hal yang tidak kita senangi itu kebaikan yang banyak..."

- Rasulullah SAW

***

Kalau kita melabuhkan kebahagiaan berdasarkan situasi dan kondisi yang kita senangi saja, itu sangat riskan dan berpotensi sengsara berkepanjangan, karena natur kehidupan dunia itu akan banyak hal yang bertentangan dengan keinginan dan cita-cita kita. 

Artinya, kalau kita merasa tenang hanya pada saat uang cukup, lantas ketika Allah menempatkan kita dalam posisi serba pas-pasan bahkan kekurangan apa kita lantas menjadi menderita karenanya? 

Kalau kita melabel hidup bahagia berdasarkan sekian banyak pencapaian duniawi, "Oh kalau bisa masuk perguruan tinggi itu, oh kalau keterima kerja di tempat keren itu, oh kalau gajiku mencapai X rupiah, oh kalau aku bisa menempati posisi tinggi itu, oh kalau aku bisa menikahi dia, oh kalau bisa punya sekian anak...dan terus menerus persyaratan yang kita sematkan di dalam benak kita sendiri atas makna kebahagiaan maka kita hanya akan hidup seperti mengejar bayang-bayang. Karena keinginan manusia itu tidak akan ada habisnya. Setelah dapat ini, pengen yang itu. Setelah dapat yang itu pengen yang di sana. Terus begitu. Sampai Rasulullah SAW mengatakan satu-satunya yang bisa mengenyangkan anak Adam adalah ketika mulutnya penuh dengan tanah. Baru dia diam, tidak ingin ini dan itu. Tapi artinya kalau sudah mulut dengan tanah berarti sudah mati jasadnya, dikubur di kegelapan bumi. 

Lantas, apakah kita mau menggadaikan kesempatan hidup di dunia yang hanya sekali ini kepada sekian fatamorgana yang kita anggap sebagai kebahagiaan? It's very risky things to do. 

Maka agama memberi panduan, agar tidak salah kita dalam menetapkan arah dan prioritas hidup. Kuncinya berserah diri (aslamna) pada qadha dan qadar-Nya. Artinya bahagia itu bukan hal yang harus dikejar melainkan sesuatu yang harus disingkap, karena sumber-sumber kebahagiaan selalu ada dari saat ke saat. Tapi ketika kita melabel sebuah kondisi kurang dengan sebutan "merana", sebuah kondisi "sakit" dengan label "menderita", maka kita menjadi tidak tersenyum di hati saat menjalaninya. 

Berserah diri (islam) itu kunci agar dibukakan karunia cahaya Allah berikutnya yaitu nur iman. Syaratnya taubat, hati ingin kembali mencari-Nya, ingin mengenal kehendak-Nya, ingin dituntun setiap saat oleh-Nya, ingin hanya mengerjakan apa yang Dia ingin kita kerjakan. Itu yang kemudian akan membentuk hati yang taqwa. Dan Allah berjanji, kalau seseorang bertaqwa, dia akan diajari langsung oleh Allah. Dia akan dibuat paham akan sebuah fenomena yang dulu memusingkannya. Dia akan dibuat mengangguk tersenyum atas sebuah situasi yang dulu membuat pusing kepalanya. Dia akan dibuat bersabar menjalani keadaan yang dulu sangat berat dijalaninya bahkan hingga menolak takdirnya. Sebab pintu sabar akan otomatis terbuka seiring dengan dibuat pahamnya kita akan sesuatu dikarenakan pengetahuan yang Allah ajarkan ke dalam qalb seseorang. 

Secara praktisnya, sabar saja dulu menjalani apa yang ada. Jangan keluhkan apalagi mengutuk takdir yang ada dan melabelnya dengan ungkapan-ungkapan yang buruk. Yakini bahwa di segala hal yang Dia izinkan hadir dan mewujud tersimpan banyak hikmah yang kebaikan yang banyak. Just surrender to His will...


Amsterdam, Sabtu sore menanti tiga anak yang sedang jalan-jalan ke kota.

5 Agustus 2026 / 23 Rabiul Awwal 1448 H


No comments:

Post a Comment