Friday, September 11, 2026

Stop fighting the reality

 Stop resisting reality.

Acceptance is not the same is giving up. 

You don’t have to pretend to like what happened or want things to stay bad.


But you can end your internal exhaustion and channel your energy for healing and actions by stop arguing with life as it is. By stop fighting for the facts that you cannot change.


And then we can feel our soul grows quietly and our body more relaxed. To be finally get the realization that we are where we’re supposed to be.


***


Hidup itu mengalir saja dengan apa yang ada.

Seperti aliran sungai yang tak memaksakan dirinya menembus bebatuan di sepanjang sungai, ia dengan ringan berbelok mencari jalan yang dimudahkan.

Seperti ikan yang tak memaksakan diri memakan buah masak syang ranum yang nampak bergelantungan di pohon di atas air. Sang ikan tak memaksakan diri untuk keluar dari habitatnya untuk sekadar mencari penghidupan. Dia bisa mati kalau memaksakan diri.

Seperti burung yang pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang, hanya dengan mengandalkan kemampuan sepasang sayapnya untuk terbang mencari makanan. Ia tidak sepandai kera yang bisa bergelayutam dari satu pohon ke pohon lain dan cekatanengambil buah-buahan. Ia tak sejago ikan yang bisa berenang menangkap mangsanya di dalam air. Ia pun tak secekatan singa yang bisa berlari cepat menangkap binatang lain. Burung memang ‘cuma’ punya sepasang sayap, tapi itu cukup untuk hidupnya. 

Apapun yang Allah berikan kepada kita, pekerjaan yang itu, kondisi yang itu, semuanya mestinya cukup untuk memenuhi hajat hidup, dan seringnya mestinya berlebih. Tapi kita mesti hidup sesuai dengan realitas yang ada. Jangan seperti punik merindukan rembulan. Sengsara hidup seperti itu. Hidup apa adamya saja. Adanya rumah yang itu syukuri, walaupun ngontrak. Who cares? Yang penting kita ngga nyolong dan ngga korupsi. Hidup lurus-lurus saja sambil menikmati dan mensyukuri keadaan dari saat ke saat. Go with the flow. Jangan melawan arus takdir yang mengalir dari saat ke saat agar bisa belajar berselancar dalam aliran-Nya. Bertasbih. Tersenyum menjalaninya. Insya Allah.


Amsterdam, Wibautsraat, menunggu anak-anak pulang sekolah. Jum’at, 11 September 2026

No comments:

Post a Comment