Di padang pasir ada binatang semacam burung yang bisa berlari dengan sangat kencang. Ukurannya besar dan ia sangat kuat, satu-satunya cara untuk menangkap hewan ini adalah menunggu ia lelah berlari dan ia akan menenggelamkan kepalanya ke dalam pasir. Ia barangkali berpikir dengan demikian sang pemburu tidak akan melihatnya karena ia merasa tersembunyi, akan tetapi tentu saja ini upaya yang sia-sia karena kaki dan badannya yang cukup besar masih jelas terlihat. Itulah kelakuan sang burung unta.
Manusia juga ada yang berperilaku seperti burung unta, ia menenggelamkan dirinya dalam dunia ilusi dan kelalaian. Apa yang ia lihat dan menariknya akan ia kejar mati-matian. Apa yang menjadi fantasi, mimpi, idaman dan cita-citanya sedemikian rupa menenggelamkan kepalanya. Siang dan malam ia curahkan semua jiwa dan raganya untuk meraih ambisi dunianya. Orang semacam ini adalah orang yang tidak menyadari waktu dan keterbatasan dirinya, bahwa raganya hanya bisa digunakan dalam jangka waktu yang sangat terbatas. Ia lupa bahwa pertemuannya dengan Izrail, sang malaikat pencabut nyawa hanya dalam hitungan waktu yang tak lama.
Namun bagaikan sang burung unta, ia malah makin berlari kencang dan akhirnya menenggelamkan kepalanya dalam pasir, setiap orang punya pasir ilusi dan kesenangannya masing-masing, sesuatu yang ia anggap penghiburan dari suatu hal yang menakutkan bernama kematian. Ia mengais-ais setitik yang ia kira kebahagiaan dalam jutaan sensasi ragawi : kenikmatan seksual, syahwat makanan, kesukaan pada pakaian indah, bepergian ke tempat-tempat yang menakjubkan di dunia dan sekian banyak manipulasi dunia yang membuat ia lupa sesaat akan satu hal yang pasti datang dan akan mencerabut ia dari semua itu. Sampai maut datang melalui suatu kecelakaan atau sakit yang datang tiba-tiba dan menghancurkan raganya seiring dengan sekian banyak keinginan dan mimpi yang masih tertambat di dalamnya.
Demikianlah akhir kehidupan seseorang yang berperilaku seperti burung unta, lalai terhadap apa yang pasti datang. Jalan untuk menyelamatkan diri adalah dengan meraih pengetahuan, sekeping informasi tentang masa lalu kita, dari mana kita berasal, menyadari dan menerima kekinian dan kemudian berpikir tentang masa depan kita masing-masing. Adapun kematian dan segala komponen yang menakutkan dalam kehidupan seperti kekurangan harta, kesepian, kengerian, kekhawatiran dan lain-lain akan senantiasa ada di sekitar namun carilah tempat berlindung yang lebih kuat dari semua itu, perlindungan kepada Dia Yang Maha Kuasa. Apabila seseorang mulai tersadarkan dan membangun hubungannya dengan baik dan benar dengan Sang Pencipta, maka ia akan mulai merasakan kebahagiaan sejati yang tidak tergantung pada pernak-pernik dunia.
(Adaptasi dan terjemahan dari "The Ostrich Hides His Head: Come to The Secret Garden. Yang disampaikan oleh Muhammad Raheem Bawa Muhaiyyaddeen, seorang guru sufi di Amerika, dan ditulis dan diolah oleh murid-muridnya dalam buku yang diterbitkan oleh The Fellowship Press, Philadelphia, 1981)
Tuesday, March 8, 2016
Monday, March 7, 2016
Logika Semata Tak Dapat Membangun Keimanan
Siapapun yang membangun keimanannya semata-mata oleh fenomena lahiriyah dan sekumpulan argumen saja maka ia sedang membangun keimanan pada landasan yang tidak dapat diandalkan. Karena ia akan tertawan oleh berbagai pengaruh negatif dari sekian banyak ketidaksesuaian ataupun penolakan (atas logikanya sendiri).
Adapun yang dikatakan keyakinan (al yaqin) bukanlah datang dari sekian banyak pembenaran yang dibangun di dalam akal pikiran ragawi akan tetapi sesuatu yang dituangkan ke lubuk hati yang terdalam.
- Syaikh Ibnu 'Arabi
===
Adalah penting bagi seseorang untuk menempuh perjalanan suluknya masing-masing dalam medan yang telah Allah Ta'ala desain dalam kehidupannya masing-masing.
Yakini bahwa semua telah diatur dengan sempurna dan sangat rinci, tergantung si hamba akan menempuhnya dengan suka cita sehingga menemukan sekian banyak khazanah di sepanjang jalan yang akan mentransformasi hatinya atau terpasung dalam kendali hawa nafsu dan syahwat yang membuatnya terpaksa menjalani takdir dirinya sendiri.
Tuesday, March 1, 2016
Hadapi Tantangan Hidup Segila Apapun Itu!
Apapun keadaan hidup yang kita merasa 'terjebak' berada di dalamnya sekarang sesungguhnya tidak lain adalah jalan pensucian diri yang telah Allah buat. Hadapi setiap tantangan keseharian segila apapun kelihatannya itu, jadilah manusia yang pemberani dan tidak cengeng atau lemah.
Selagi kita masih diberi nafas, berikan upaya yang terbaik untuk menggali dan menemukan khazanah yang Allah Ta'ala simpan ke dalam diri masing-masing. Jangan kita menjadi golongan orang-orang yang merugi di alam nanti yang memohon dikembalikan ke dunia karena kurang berjuang dan kehilangan banyak hal.
- Adaptasi dari wejangan Guru Zamzam AJT, Mursyid Penerus Thariqah Kadisiyah yang disampaikan di forum diskusi suluk 13 Februari 2016
Sunday, February 21, 2016
Mendidik Anak Supaya Tangguh Menghadapi Kehidupan
Hidup adalah medan perjuangan, tidak ada yang steril dari ujian dan tantangan dalam kehidupan. Oleh karenanya kita sebagai orang tua sebaiknya jangan membentuk anak kita agar nyaman terus hidupnya, karena natur dan kenyataan dunia akan menghancurkan si anak yang tidak disiapkan mentalnya sejak kecil.
Rasulullah SAW mengatakan, "Ajarilah anakmu menunggang kuda."Apakah artinya?
Setiap jasad kita adalah kuda atau kendaraan bagi jiwa, artinya yang menunggangi atau mengendalikan jasad mestinya jasad kita, bukan keinginan syahwat dan hawa nafsu. Sang buah hati bisa mulai ditanamkan sifat-sifat sabar, tidak selalu dipenuhi segala keinginannya, tidak dibiasakan dengan kemewahan dan mulai belajar bekerja keras dan berproses, itulah sebagian kecil di antara latihan mengendalikan keinginan ragawi
Setiap jasad kita adalah kuda atau kendaraan bagi jiwa, artinya yang menunggangi atau mengendalikan jasad mestinya jasad kita, bukan keinginan syahwat dan hawa nafsu. Sang buah hati bisa mulai ditanamkan sifat-sifat sabar, tidak selalu dipenuhi segala keinginannya, tidak dibiasakan dengan kemewahan dan mulai belajar bekerja keras dan berproses, itulah sebagian kecil di antara latihan mengendalikan keinginan ragawi
(Adaptasi dari pengajian Al Qur'an, 6 Februari 2016 yang disampaikan oleh Zamzam AJ Tanuwijaya , Mursyid Thariqah Kadisiyyah)
Thursday, February 18, 2016
Kenapa Tidak Baik Mencela Zaman?
Waktu merupakan bentangan ketetapan dan takdirnya yang dirangkai demikian cermat dan rapi oleh Sang Maha Pencipta. Ketetapan dan takdir-Nya itu berpasangan bagaikan siang dan malam, ada saat senang ada saat susah, ada saat lapang juga ada saat sempit. Bagaikan anggur dalam perasan tangan Sang Pemeras, maka sang waktu dinamai "Al Ashr" dalam Bahasa Arab, dari kata "ashara ya'shiru" yang berarti mengeluarkan sesuatu dengan tekanan.
Dinamika hidup berfungsi memeras manusia agar didapat kualitas insan pilihan. Oleh karenanya jangan sampai kita mengutuk waktu dengan sekadar mengatakan : zaman edan! hari yang sial! tahun terkutuk! zaman bejat! atau label-label lain yang disandingkan dengan bentangan Allah Ta'ala yang suci ini.
"Allah 'Azza wa Jalla berfirman, 'Aku disakiti oleh anak Adam.
Dia mencela waktu, padahal Aku adalah (pengatur) waktu, Akulah yang membolak-balikkan malam dan siang.'" (HR Muslim No. 6000)
Mengenai waktu ini paman Nabi SAW, Abu Thalib pernah bersyair:
Kita menyalahkan zaman, padahal aib itu ada pada kita.
Zaman ini tak memiliki celah kecuali kita sendiri.
Seekor serigala pun enggan untuk memakan saudaranya.
Tapi manusia dengan mudah memakan satu sama lainnya. []
Dinamika hidup berfungsi memeras manusia agar didapat kualitas insan pilihan. Oleh karenanya jangan sampai kita mengutuk waktu dengan sekadar mengatakan : zaman edan! hari yang sial! tahun terkutuk! zaman bejat! atau label-label lain yang disandingkan dengan bentangan Allah Ta'ala yang suci ini.
"Allah 'Azza wa Jalla berfirman, 'Aku disakiti oleh anak Adam.
Dia mencela waktu, padahal Aku adalah (pengatur) waktu, Akulah yang membolak-balikkan malam dan siang.'" (HR Muslim No. 6000)
Mengenai waktu ini paman Nabi SAW, Abu Thalib pernah bersyair:
Kita menyalahkan zaman, padahal aib itu ada pada kita.
Zaman ini tak memiliki celah kecuali kita sendiri.
Seekor serigala pun enggan untuk memakan saudaranya.
Tapi manusia dengan mudah memakan satu sama lainnya. []
Thursday, February 4, 2016
Sang Segel Alam Semesta
Ada beberapa hamba-Nya di muka bumi ini yang berbuat baik jauh dari hiruk pikuk manusia.
Namanya tidak dikenal orang banyak.
Pekerjaannya tidak tampak keren di mata kebanyakan manusia.
Tempat tinggalnya pun kadang terselip dalam gang sempit di rimba kota.
Namun amal-amalnya berat timbangannya di hadapan Allah Ta'ala.
Keikhlasannya sangat menakjubkan hingga tidak ada yang mengetahui betapa spesialnya sang hamba di mata-Nya, bahkan para malaikat luput mengidentifikasinya.
Sang hamba kekasih-Nya ini yang kalau ia berdoa seluruh alam akan berguncang dalam khusyu.
Sang hamba sasaran pandang-Nya ini yang sanggup menahan murka sang alam terhadap kelakuan para penghuninya yang merusak.
Sang hamba terang-Nya ini yang jika wafat seluruh burung dan ikan di laut akan menangisi kepergiannya.
(Adaptasi dari Pengajian Hikmah Al Qur´an, 31 Januari 2016 yang disampaikan oleh Zamzam A.J. Tanuwijaya, Mursyid Penerus Thariqah Kadisiyyah)
Namanya tidak dikenal orang banyak.
Pekerjaannya tidak tampak keren di mata kebanyakan manusia.
Tempat tinggalnya pun kadang terselip dalam gang sempit di rimba kota.
Namun amal-amalnya berat timbangannya di hadapan Allah Ta'ala.
Keikhlasannya sangat menakjubkan hingga tidak ada yang mengetahui betapa spesialnya sang hamba di mata-Nya, bahkan para malaikat luput mengidentifikasinya.
Sang hamba kekasih-Nya ini yang kalau ia berdoa seluruh alam akan berguncang dalam khusyu.
Sang hamba sasaran pandang-Nya ini yang sanggup menahan murka sang alam terhadap kelakuan para penghuninya yang merusak.
Sang hamba terang-Nya ini yang jika wafat seluruh burung dan ikan di laut akan menangisi kepergiannya.
(Adaptasi dari Pengajian Hikmah Al Qur´an, 31 Januari 2016 yang disampaikan oleh Zamzam A.J. Tanuwijaya, Mursyid Penerus Thariqah Kadisiyyah)
Saturday, January 16, 2016
Agar Senantiasa Terhubung Dengan-Nya
Seorang Muslim diajarkan dan dilatih untuk setiap saat terhubung dengan Sang Pencipta. Selain ritual sholat lima waktu ada sholat sunnah beserta tambahan dzikir yang bisa dilakukan setiap waktu.
Dzikir adalah momen sang hamba terhubung dengan Allah Ta'ala. Demikian pentingnya keterhubungan ini sehingga Baginda Rasulullah SAW mengajarkan berbagai doa sebagai bentuk dzikir di semua keadaan.
Saat bangun tidur ada doanya
Saat makan ada doanya
Saat berpakaian ada doanya
Saat bercermin ada doanya
Saat buang air ada doanya
Saat berhubungan suami istri ada doanya.
Saat memulai pekerjaan ada doanya.
Saat makan ada doanya
Saat berpakaian ada doanya
Saat bercermin ada doanya
Saat buang air ada doanya
Saat berhubungan suami istri ada doanya.
Saat memulai pekerjaan ada doanya.
Semua latihan menghubungkan kegiatan fisik kepada Dia diharapkan merembet kepada semua gerakan di hati.
Saat khawatir kepada anak, ingat Allah.
Saat gundah gulana ditinggal yang terkasih, ingat Allah.
Saat kesal menempuh kemacetan, ingat Allah.
Saat merasa frustasi oleh keadaan, ingat Allah.
Saat khawatir kepada anak, ingat Allah.
Saat gundah gulana ditinggal yang terkasih, ingat Allah.
Saat kesal menempuh kemacetan, ingat Allah.
Saat merasa frustasi oleh keadaan, ingat Allah.
Demikian seterusnya, sehingga mentalitas dzikir seperti ini membuat kesadaran akan adanya Gusti Allah Pengurus alam semesta memberi dia harapan saat merasa tak berdaya, memberi kekuatan saat lemah, memberi peringatan saat dimabuk kesenangan dan memberi rasa kasih bahkan di saat kita tersakiti.
Seseorang yang tertempa dzikir sehingga tak akan bisa menodai orang lain dengan lisannya, mengutuk orang lain lewat amarahnya, mencuri atau menipu sesama karena kerakusannya, apalagi meledakkan diri hingga mencederai jiwa mulia sesama manusia...
Subscribe to:
Posts (Atom)