Monday, August 15, 2016

Sujud Hiburan Terbaik Bagi Hamba

"Tidaklah menghiburku sesuatu pun dari dunia melainkan oleh sujud."
(Sa'id bin Jubair dikutip dalam Ihya 'Ulumuddin karya Imam Al Ghazali)

"Dan sujudlah dan dekatkanlah dirimu kepada Tuhan"(QS Al A'laq:19)

Abu Hurairah ra berkata, "Sedekat-dekat sang hamba kepada Allah 'Azza wa Jalla adalah apabila ia sujud, maka perbanyaklah doa ketika itu."

Rasulullah saw bersabda, "Tolonglah saya dengan banyak sujud!"(HR Muslim)

Pemberian Tuhan Terbesar Kepada Manusia

"Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus".
-QS Huud [11]:56
Apakah ada pemberian (dari Sang Pencipta) kepada ciptaan-Nya yang lebih besar daripada ini?
- Ibnu 'Arabi dalam Fusus al Hikam bagian Hikmah Nabi Huud as

Batas Kebebasan Manusia

"Allah gave us freedom of action fifteen years ago, and we abandoned it through politeness."
- Abu's-Su'ud ash-Shibli
Kebebasan yang digadang-gadang oleh sebagian orang sebagai justifikasi untuk bisa meraup apapun yang waham mereka inginkan sebenarnya sesuatu yang absurd. Kenyataannya kita semua terlahir di dunia ini dalam sekat-sekat yang tidak kita tentukan. Kita tidak memilih lewat orang tua dan baguan bumi mana dilahirkan, kita tidak mendesain bakat tertentu yang ada dalam diri, lalu jika kita sudah cukup lama merasakan asam garam kehidupan banyak saat dimana kita terantuk oleh dinding takdir yang tak dapat dibengkokkan dan memaksa kita untuk "work with the flow". Kematian dan penyakit misalnya adalah dua komponen takdir yang sangat kuat yang dapat sedemikian rupa mengoyak-ngoyak impian para pembangun mimpi. Dan tidak ada satu makhluk pun yang terbebas dari kematian atau penyakit.
Namun di sisi lain pada kenyataannya juga kita diberi kebebasan untuk melakukan manuver apapun yang kita inginkan. Cara orang menggunakan kebebasan yang ada tergantung dari kondisi jiwa masing-masing. Gambarannya adalah seperti ini:
Sebuah rumah lengkap dengan kebun dan segala isinya dipinjamkan kepada tiga jenis manusia dengan usia yang berbeda; anak balita, remaja dan dewasa. Anda tidak akan kaget jika seorang balita akan menumpahkan berbagai macam cairan dan mencorat-coret dinding rumah, singkatnya keinginannya untuk bereksplorasi akan sukses membuat rumah bagaikan kapal pecah.
Sedangkan bagi si remaja, mungkin daya rusaknya tidak sebesar anak balita, tapi ia belum tergugah untuk membersihkan sisa makanannya yang berserakan , merapihkan tempat tidurnya atau mengurus kebun yang ada di belakang rumah. Sang remaja hanya fokus dengan dunianya sendiri yaitu bermain dan bermain.
Adapun orang dewasa mengerti bahwa rumah harus dibersihkan dan diurus sedemikian rupa, apalagi rumah itu pinjaman, ia akan mempunyai rasa sungkan kepada sang pemilik rumah yang sudah berbaik hati meminjamkan tempat berteduh.
Rumah itu adalah raga kita dan penghuninya adalah sang jiwa manusia. Kebebasan bagi jiwa yang masih anak-anak akan diartikan dengan bisa berbuat seenaknya tanpa mempertimbangkan perasaan samg pemilik raga. Sedangkan bagi yang tingkat kedewasaan jiwanya sudah tinggi seperti yang dikatakan ash-Shibli " kebebasan pun aku tinggalkan " karena ia memiliki adab yang tinggi terhadap Sang Pemberi kehidupan. Baginya sebaik-baik pilihan adalah meninggalkan kebebasan berbuat demi menyenangkan Sang Pemberi kebebasan. Suatu pilihan yang tidak masuk akal bagi sebagian besar orang dan tidak akan pernah masuk akal karena hal itu hanya bisa dipahami oleh komponen hati yang merindu.

Upaya Memahami Skema Takdir

Ketika muridnya bertanya masalah takdir, sang guru hanya tersenyum lalu berucap dengan kelembutan "perbanyaklah istighfar, nanti pada saatnya pengetahuan tentang itu akan dibukakan kepadamu".
Dalam konstelasi rukun iman, iman kepada qadha (ketetapan) dan qadar (takdir) Allah menempati urutan keenam, urutan terakhir setelah iman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab Allah, para rasul dan hari kiamat. Suatu sinyal bahwa untuk bisa memahami dengan utuh skema takdir tidak lepas dari pengimanan kepada rukun iman yang sebelumnya.
Seperti halnya sebuah sinar putih yang terurai menjadi warna-warni (merah-jingga-kuning-hijau-biru-nila-ungu) manakala ia melewati sebuah prisma, maka penjelasan mengenai sebuah warna terkait dengan penjelasan warna lain dan terlebih tentang sumbernya, sang warna putih.
Maka pengetahuan tentang takdir akan diperoleh oleh seorang hamba sejauh mana penyingkapan yang Allah telah lakukan kepada hamba tersebut dan hal itu dipengaruhi oleh kesiapan hatinya dalam menerima ilmu Allah. Semakin ia menata hatinya semakin lapang dadanya untuk menerima cahaya iman yang telah Allah siapkan untuk masing-masing hamba. Yang dengan cahaya iman itu manusia bisa menjadi lebih kokoh dan bijaksana menghadapi suka-duka kehidupan. Serta hatinya menjadi tidak dikendalikan oleh ketakutan serta kekhawatiran dalam melakoni kehidupan karena ia telah menyandarkan jiwanya sepenuhnya dalam genggaman-Nya.
Apabila seseorang tidak pernah berkesempatan mencecap cahaya pengetahuan tentang takdir maka pengetahuan tentang hal itu akan disingkapkan kepadanya di yawmil akhir, sebuah saat dimana semua selubung akan diungkap. Akan tetapi pengetahuan yang didapatkan di hari itu sudah tidak lagi mendatangkan kebaikan baginya karena ia telah kehilangan saat untuk beramal sholeh, maka sebagian besar akan memohon kepada Allah untuk dihidupkan kembali ke dunia.
"Wahai Rabb kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami ke dunia. Kami akan mengerjakan amal shaleh. Sesungguhnya kami adalah orang-orang yakin"
(QS As Sajdah [32]:12)

Makna Menjamu Tamu

Di suatu siang yang indah di kota kembang saya pernah berkesempatan menyupiri kakanda mursyid saya dari kediamannya ke kampus tempat beliau mengajar. Ketika mobil terhenti di lampu merah persimpangan Dago para pengemis mulai beraksi menghampiri kaca jendela mobil kami. Kakanda mursyid dengan sigap merogoh saku celananya untuk meraih rupiah bagi sang pengemis dan hal itu tidak dilakukannya sekali dua kali. Saya memerhatikan dengan perasaan bercampur, satu sisi terharu dengan kedermawanan yang dipancarkan oleh beliau namun di sisi lain saya tidak jarang dibuat ragu apakah baik dan mendidik memberi sesuatu kepada peminta-minta di jalanan ini?
Kakanda mursyid yang nampaknya bisa meraba pergulatan pikiran saya tersenyum kemudian mengucapkan dua kata yang selalu saya ingat hingga detik ini, beliau berkata "tamu Tuhan".
Inilah kiranya salah satu resep sukses beliau menapaki jalan mendaki pencarian Tuhan, karena memiliki mentalitas positif selalu menyikapi apapun yang dihadirkan ke hadapannya sebagai tamu yang Tuhan kirimkan yang pastinya layak untuk dijamu dengan baik dan datang dari hati yang menginginkanNya semata.
Setiap hari kita dihadirkan beragam tamu Tuhan mulai dari yang berbentuk fisik ataupun berupa lintasan-lintasan pikiran dan pasang surut perasaan yang mengalir di dalam hati yang tak ada seorang pun bisa membacanya kecuali kita sendiri dan Dia yang mengalirkan. Mudah memang untuk menjamu tamu yang menyenangkan hati, kita pun bahkan bisa dibuat tahan berlama-lama bercengkrama dengannya, namun tantangan sebenarnya bagi tuan rumah untuk bisa menunjukkan kemahirannya menjamu tamu justru saat menghadapi tamu yang menyebalkan, membuat sedih atau marah. Apakah kita sang tuan rumah masih bisa tersenyum dan melayaninya dengan baik atau menyerah pada perasaan hati yang tak enak dan membiarkan diri dikuasai oleh emosi negatif yang membuat kita tidak bisa menampilkan sisi diri kita yang terbaik?
Ihwal menjamu tamu ternyata suatu santapan harian yang konsekuensinya terentang dari dunia ini ke kehidupan di akhirat nanti. Tidak mengherankan baginda Rasulullah saw berwasiat mengenai hal ini :
“Barang siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari)
Kiranya beliau tidak hanya membicarakan perihal tamu berwujud nyata yang datang ke rumah kita saja.

Tuesday, August 2, 2016

Hidup Dituntun Waham

"Tidak ada yang paling kuat mendorong manusia selain dari waham."
- Al Hikam No.71, Syaikh Ibnu Atha

Sebagian besar manusia menjalani kehidupannya dalam kendali waham semata. Cirinya jelas, sasaran pandangnya adalah selain Allah, dengan kata lain sesuatu yang terjangkau di dunia. Bisa jadi wahamnya memimpin niat dan cita-citanya dalam mengejar sesuatu yang nyata seperti jabatan, pangkat, dan kekayaan lain. Ataupun waham yang bersifat lebih halus seperti pujian, ingin dipandang sholeh atau terhormat di mata manusia dan hal-hal lain yang merayap sangat halus di dalam hati yang bahkantidak disadari oleh orang yang bersangkutan.

Adapun ketaqwaan adalah kedudukan yang tidak banyak manusia bisa mencapainya, karena sulitnya mencapai derajat taqwa. Perilaku orang yang taqwa senantiasa menyasar alam yang berikutnya yang bagi sebagian besar manusia dirasa jauh, padahal tidak ada sesuatu yang paling cepat mengejar manusia melainkan kematian. Akan tetapi sebagian besar manusia lalai dari mempersiapkan diri menghadapi sang malaikat maut yang pasti datang menjemput dan lebih sibuk mematut diri agar nampak cemerlang di hadapan manusia dibandingkan mementingkan penilaian Allah Ta'ala.

(Adaptasi dari Kajian Al Hikam yang dipandu oleh Zamzam AJT, mursyid penerus Thariqah Kadisiyah, 19 Juni 2016)

950 Tahun Dakwah Nuh as

Nabi Nuh as menjalankan misi hidupnya untuk menyampaikan kebenaran selama 950 tahun lamanya dan dalam rentang waktu yang panjang itu hanya 80 orang yang terpanggil mengikuti seruannya bahkan di sebuah riwayat lain dikatakan hanya 10 orang yang bertaubat.
Dalam Kitab Fusus Al Hikam, Ibnu 'Arabi mengatakan bahwa Nuh as sebenarnya diberi pengetahuan bahwa sebagian besar manusia tidak akan mengikuti seruannya. Akan tetapi seorang Nuh as tetap menjalankan amanah yang telah dikalungkan oleh Sang Maha Pencipta ke lehernya*, karena ia tidak tertawan oleh hasil perbuatan akan tetapi lebih memandang kepada Dia yang memberikan mandat tersebut.
* "Dan setiap manusia telah Kami kalungkan (catatan) amal perbuatannya di lehernya. Dan pada hari kiamat Kami keluarkan baginya sebuah kitab dalam keadaan terbuka." (QS Al Isra' : 13)