Thursday, July 13, 2017

Akibat Menuruti Saran Guru Palsu

Tersebutlah di sebuah desa terdapat seorang yang dianggap guru dan panutan masyarakat, setiap kata yang meluncur dari lisannya bagaikan firman tuhan yang akan dilaksanakan oleh seluruh penghuni desa. Suatu hari datang kepada sang guru itu orang dengan seekor kambing yang kepalanya tersangkut di dalam periuk tembaga. Tanpa basa-basi sang guru mengambil pisau dan menyembelih si kambing hingga kepala terpisah dari badannya. Namun ternyata tanduknya masih tersangkut di dalam periuk sehingga kepalanya masih belum bisa ditarik keluar. Kemudian sang guru menyuruh orang desa mengambil palu gada berukuran besar yang dengannya ia pecahkan periuk itu hingga terbelah menjadi beberapa bagian. Namun akhirnya orang tersebut pulang dengan kambing yang mati dan periuk yang tak bisa dipakai lagi.

*****

Demikianlah, mencari guru sejati itu tidak mudah. Bagaikan mencari jarum dalam tumpukan jerami. Hanya rahmat Allah yang bisa menyampaikan seseorang untuk dipertemukan dengan seorang insan yang tugas hidupnya untuk membimbing hamba-Nya dalam jalan pertaubatan. Alih-alih mendapatkan saran dan bimbingan yang tepat untuk perkembangan jiwanya, saran dari guru palsu hanya akan merusak jiwa dan bisa jadi menghabiskan harta benda orang tersebut dengan sia-sia.

(Adaptasi dari kisah yang disampaikan oleh Bawa Muhaiyyaddeen, tertuang dalam buku "the Golden Words of a Sufi Sheikh". The Fellowship Press, Philadelphia, 2006)

Kehormatan Seseorang & Memenuhi Janji

Tiga berita sampai kepada saya tentang betapa mengesalkan berinteraksi dengan orang yang tidak menepati janjinya.

Dua kisah pertama adalah perilaku beberapa oknum pejabat yang (katanya) terhormat yang terlambat menghadiri pertemuan penting di institusi besar di Belanda, tidak tanggung-tanggung terlambatnya lebih dari dua jam dan penyebabnya adalah belanja dulu sodara-sodarah! Apa akibatnya? Yang satu berdampak batalnya kerjasama antara dua negara dan yang satu berakibat ditundanya proyek kerjasama bilateral. Lebih parah lagi tidak ada komunikasi dari mereka selama panitia menunggu dengan cemas, mbok ya kabari kalau mau terlambat, ini dihubungi malah menghindar - dan telepon tidak diangkat, informasi tentang ihwal keterlambatan ini pun baru didapat dari sang supir :(

Kisah yang ketiga adalah seseorang dititipi uang ratusan juta rupiah untuk membeli tanah dan berjanji memberikan laporan perkembangan dalam waktu beberapa minggu kemudian setelah berbulan-bulan ditunggu tak ada kabarnya bahkan terkesan menghindar jika dihubungi.

Betul memang kata pak ustadz, kunci kehormatan seseorang bukan terletak pada tingginya pangkat, jabatan, kepopuleran atau banyaknya harta yang dimiliki, karena itu semua bisa relatif tak bernilai jika yang bersangkutan tidak amanah dan tidak mematuhi janji. Mulai dari hal yang kecil, kalau janji bertemu jam tertentu usahakan penuhi janjinya dan kalau sudah ada gelagat terlambat bersifat ksatrialah dengan memberi informasi perihal keterlambatannya, itu adalah etika dasar kita berinteraksi dengan sesama manusia (habluminannas).

Ihwal memenuhi janji ini sesuatu yang serius yang merupakan sifat kental dalam diri seorang Muhammad saw, beliau sudah dikenal sebagai "orang yang terpercaya " (al amin) bahkan sebelum beliau diangkat sebagai nabi. Hal tersebut dikisahkan oleh Abdullah bin Abdul Hamzah, ia berkata: "Aku telah membeli sesuatu dari Nabi sebelum beliau menerima tugas kenabian, dan karena masih ada suatu urusan dengannya maka menjanjikan untuk mengantarkan padanya, tetapi aku lupa. Ketika teringat tiga hari kemudian, aku pun pergi ke tempat tersebut dan menemukan Nabi masih berada di sana. Nabi berkata, 'Engkau telah membuatku resah, aku berada di sini selama tiga hari menunggumu.'' (HR Abu Dawud)

Monday, July 10, 2017

Kita Dicipta Bukan Untuk Mencari Rezeki

Setiap makhluk rezekinya sudah dijamin oleh Sang Pemberi Rejeki. Karena tugas utama insan dikirim ke dunia bukan untuk mencari rezeki melainkan demi menempuh jalan peribadatan yang pribadi, mencari shiraathal mustaqiimnya masing-masing. Untuk itu semua perbekalan sudah Allah Ta´ala siapkan, tinggal menjalankan ikhtiar untuk membukanya.
"Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya..."(QS Huud [11]:6)
Kalau seseorang merasa kekurangan rezeki bisa jadi kemampuan mengelola diri dan rezeki yang dititipkan harus ditingkatkan. Kerap kali orang termakan oleh godaan kilau materialisme sehingga membeli atau menginginkan sesuatu yang tidak pas dengan gaya hidupnya: ingin rumah yang itu, ingin sekolah disana, ingin kendaraan yang itu, ingin tas yang itu, ingin sepatu yang itu, ingin gadget yang itu sampai dibela-belain gali lubang tutup lubang demi memuaskan hawa nafsu dan syahwat pribadinya. Akhirnya ia menenggelamkan diri sendiri dalam kepayahan yang sebetulnya sangat bisa dihindarkan jika mau hidup bersahaja dan tidak diperbudak oleh gengsi dan ego diri sendiri. []

Saturday, July 8, 2017

Menderita Karena Tidak Mengerti Peta Besar Kehidupan

Kalimat kedua syahadat adalah persaksian bahwa Muhammad adalah sang rasul, utusan Allah. Ada rahasia semesta yang luar biasa bernilai yang diresume dalam 63 tahun usia kehidupan beliau di muka bumi. Ada alasannya mengapa nama Allah digandengkan dengan nama Muhammad Rasulullah dalam kalimat syahadat. 

Sesungguhnya ada panduan hidup yang lengkap dari seorang insan mulia yang Aisyah sang istri menyebut beliau sebagai "Al Quran yang berjalan". Ada panduan penyikapan hati dan pancaran akhlak yang mulia dalam menghadapi sekeras apapun hantaman badai kehidupan. Jika hari ini kita masih pontang-panting dan didera kebingungan serta kekhawatiran dalam menghadapi takdir hidupnya masing-masing maka berhenti sejenak dan lihat asal-usul darimana semua permasalahan itu berasal, kembalikan semua ke sumbernya, agar kita tidak kehilangan arah dan terjebak oleh hiruk pikuk masalah yang sebenarnya tidak sebesar yang kita kira.


Mengapa Harus Berdoa Dengan Suara Lembut

"Semakin lantang dan semakin keras Anda bicara kepada seseorang, semakin orang itu menjauh dan tidak mendengar - it's merely a psychological and physiological reflex" kata seorang pakar pendidikan dalam artikelnya yang menyeru untuk tidak teriak apalagi memaki seseorang dengan kata-kata yang menyakiti hatinya sekadar untuk menyampaikan suatu pesan. Sistem saraf manusia saat menangkap getaran suara keras akan merespon sebagai suatu ancaman yang harus dihindari, bahkan refleks tubuh pun akan membuat otot tangan berkoordinasi untuk menutup telinga. Secara psikologis kata-kata yang tajam menghunjam hati -walau disampaikan dengan berbisik sekalipun efektif membuat seseorang mengaktifkan mekanisme pertahanan diri dan berjarak secara emosional darinya alih-alih mendengar apa yang hendak disampaikan ia hanya akan sibuk membangun benteng pertahanan diri.
Teknik komunikasi yang terbukti lebih efektif dan bermanfaat baik bagi orang tua -anak, pasangan suami istri, atau di pekerjaan adalah justru dengan berkata halus, bahkan dalam simulasi ekstrem semakin seseorang menyampaikan pesan dengan suara pelan bahkan berbisik justru sang pendengar akan refleks merespon dengan memberi perhatian yang lebih.
Menyampaikan sesuatu dengan santun diseru dalam Al Quran,
"Berdo’alah kepada Rabbmu dengan berendah diri (tadharu) dan suara yang lembut (khufyah). Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. [QS Al-A’raf[7]: 55]
Permohonan yang terdengar nyaring di langit adalah yang disampaikan dari kerendahhatian, bukan dari hati yang masih jumawa, petantang-petenteng dan ingin selalu merasa 'lebih'. Maka doa yang berasal dari nyaringnya hawa nafsu dan syahwat walau disampaikan dengan desahan sambil berurai air mata bisa jadi hanya samar-samar terdengar di langitNya. Demikian juga kalau ingin menyentuh langit jiwa seseorang sampaikanlah sesuatu dengan rendah hati dan santun, karena apa yang disampaikan dari hati terdalam akan beresonansi di hati yang lain.
Karena manusia ditakdirkan dibekali hawa nafsu dan syahwat yang harus digembalakan, maka dalam menyampaikan doa setelah 'tadharu' - merendahkan ego diri, mengendalikan syahwat dan menekan hawa nafsu- diikuti dengan 'khufyah' , Ibnu Katsir menafsirkannya dengan 'menutupi kesombongan'. Ingat kesombongan ini merupakan dosa primordial yang efektif menjatuhkan iblis dari makhluk yang paling taat yang diriwayatkan tak ada satu titik pun di alam semesta yang kecuali ia pernah bersujud diatasnya, namun dengan sombong ia menolak perintah Allah untuk sujud kepada Adam as, seorang insan yang diciptakan dengan 'kedua tanganNya'.
Khufyah konon juga asal kata dari kopiah atau peci yang saat ini sudah menjadi bagian dari budaya berpakaian muslim di Indonesia. Kiranya dengan memakai kopiah segala kesombongan diri yang berputar di kepala pikiran seseorang mohon ditutupi, malulah kepada Yang Memberi itu semua. Karena sesuatu yang disampaikan dari hati yang sombong dan masih meninggi hanya akan lewat di telinga namun tidak tertanam di jiwa.Wallahua'lam...

Monday, July 3, 2017

Menyatukan Umat Di Dalam Diri

TENTANG UMMATAN WAHIDAH

"Manusia itu adalah umat yang satu (ummatan wahidah). (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus."(QS Al Baqarah [2]:213)

Konsep ummatan wahidah dalam QS Al Baqarah tersebut sebetulnya berkaitan dengan nafs wahidah yang diungkapkan oleh Allah Ta'ala dalam QS Fushshilat:53,

"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?"

Semua kekuatan yang Allah berikan kepada diri kita mulai dari pikiran di kepala, penglihatan, pendengaran, pengecap, pencium, tangan, kaki dan semuanya adalah umat-umat yang berbeda. Hanya kondisi umat yang ada dalam diri manusia itu biasanya berpecah belah; hati tidak sepakat dengan perasaan, perasaan tidak sepakat dengan pikiran, ucapan tidak seirama dengan perbuatan, mata tidak kompak dengan pikiran, lidah khianat dengan perasaannya. Kondisi diri yang seperti ini bagaikan umat yang berpecah belah, tidak menyatu.

Manusia tidak akan bisa menyatu dengan Allah Yang Ahad apabila statusnya belum menjadi nafsul wahidah. Maka tugas manusia adalah untuk menyatukan umat dalam dirinya yang beragam itu. Dimulai dengan membaca diri melalui tafakur yang baik dan memohon pertolongan-Nya semata. Laa hawla wa laa quwwata illa billah.

(Adaptasi dari Kajian Hikmah Al Quran yang disampaikan Kang Zamzam AJT, Mursyid Penerus Thariqah Kadisiyah, 13 Desember 2005)

Sunday, July 2, 2017

Bahkan Nabi Pun Tetap Harus Sholat

Kebenaran yang kita pahami itu bertingkat-tingkat sesuai dengan perkembangan akal dalam jiwa. Seperti halnya ilmu matematika yang dipelajari oleh anak SD akan berbeda dengan anak SMA apalagi mahasiswa S3. Maka bersuluk itu artinya berjalan, jangan berpuas diri di satu titik, jangan terlalu memegang erat satu pemahaman yang kita yakini per saat ini.

Seperti halnya Nabi Ibrahim as. dalam pencarian akan kebenaran melihat bintang, rembulan dan matahari. Itu sesungguhnya bukan proses semalam, ada sebuah representasi kebenaran yang diungkapkan dalam wujud bintang-bintang, jadi bukan kejadian semalam, bisa jadi tahapan bintang-bintang membutuhkan beberapa tahun, sebuah tahapan yang melihat kebenaran bagaikan bintang berkelap-kelip. Seperti halnya seseorang yang menemukan hikmah dimana-mana, dari ceramah ustadz ini dan itu, dari buku, koran dimana-mana berkilau bagai bintang. Adapun pada fase rembulan, bagaikan muncul cahaya rembulan yang menyatukan semua cahaya itu, mulai melihat keterhubungan antara yang satu dengan yang lain. Apalagi ketika muncul matahari, fase orang yang sudah memiliki ruhul qudus, maka semua tersapu, bahkan cahaya dari bintang-bintang dan rembulan tenggelam disapu cahaya matahari. Tapi sekali lagi itu semua hanya tahapan pengetahuan, adapun kebenaran sejati ada di balik semua yang mampu terbahasakan.

Oleh karena itu syariat itu penting, di level kanjeng nabi yang tertinggi pun masih harus sholat, tanda bahwa semua adalah hamba Allah yang membutuhkan-Nya, butuh dibimbing karena perjalanan tidak berakhir, bahkan di level nabi sekalipun.

(Adaptasi dari diskusi suluk yang dibimbing oleh Kang Zamzam AJT, Mursyid Penerus Thariqah Kadisiyah, 13 Februari 2016)