Monday, April 16, 2018

Tiga hari itu waktu berkunjung tamu
Tamu yang berupa kebahagiaan juga kesedihan
Kadang tamu yang berwujud rasa kesal
Di hari lain tamu berupa sakit hati oleh perilaku atau perkataan seseorang datang tanpa perjanjian

Hak tamu untuk dijamu itu hanya tiga hari
Selebihnya adalah sedekah dan bisa menyusahkan tuan rumah
Maka jangan simpan lama-lama kekesalan dan sakit hati
Mereka hanya tamu yang datang dan pergi
Amarah dan dendam yang terlalu lama disimpan
Akan berdampak menyusahkan diri dan membawa penyakit
Tiga hari saja, masa berkunjung tamu berupa derita
Setelah itu lepaskan
Let it go...

***

Rasulullah SAW bersabda, ‘Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka muliakanlah tamu dengan menjamunya sehari semalam. Jamuan hak tamu hanya berjangka tiga hari. Lebih dari itu, jamuan bersifat sedekah. Tidak boleh bagi tamu untuk menginap di tempat tuan rumah sehingga menyusahkannya."

***

Menjadi manusia adalah menjadi rumah tamu.
Setiap pagi datang dengan tamu yang baru.

Kegembiraan, kesedihan, atau sifat buruk
sedikit pengetahuan diri hadir sebentar
sebagai tamu yang singgah tanpa perjanjian.

Sambut, dan jamulah mereka semuanya!
Biarpun tamumu hanya sekerumunan nestapa
yang melanda rumahmu dengan kasar
dan mengangkut segala isinya,
tetaplah temui setiap tamu dengan mulia.
Bisa jadi ia sedang mengosongkanmu
demi akan datangnya banyak kebahagiaan baru.

Niat buruk, rendah diri, dengki,
sambutlah mereka di pintu dengan tertawa,
dan ajak mereka masuk.

Bersyukurlah
atas apa pun yang diturunkan untukmu,
karena setiap tamu adalah utusan
dari sisi-Nya, sebagai penunjuk jalanmu.

(Diterjemahkan oleh Herry Mardian, dari Rumi, Jalaluddin; The Guest House dalam The Essential Rumi, Coleman Barks (trans.). 1997 : Castle Books.)

Friday, April 13, 2018

Setelah mendengar kabar tentang perjalanan Isra' Mi'raj Rasulullah saw, Abu Jahal -sang penentang ulung bergegas menemuinya.
"Hai Muhammad, angkatlah sebelah kakimu!"
Rasulullah saw dengan kebesaran hatinya lalu mengangkat sebelah kakinya.
"Sekarang, angkat juga sebelah kakimu yang lain."
"Aku tidak bisa," jawab Rasulullah.
"Nah, bagaimana bisa engkau yang bahkan tidak bisa mengangkat kedua kakimu di atas tanah mengaku pergi ke langit ketujuh semalam?"
"Oh, akan tetapi aku tidak berkata bahwa aku pergi," jawab Rasulullah, "aku telah diperjalankan."
#Renungan malam isra' mi'raj
With God, anything is possible
Jika kita menerima surat tugas yang mengatakan besok harus ke luar negeri, maka waktu 24 jam terasa singkat. Sibuk dengan mempersiapkan paspor, booking tiket, mencari hotel, menghitung bekal yang cukup selama perjalanan, setiap kebutuhan kita di tempat tujuan akan ditinjau secara seksama agar tidak terlunta-lunta nanti. Di saat malam hari tidur pun tidak nyenyak karena takut tertinggal pesawat yang berangkat di dini hari.
Jika semua upaya serius dikerahkan untuk sekadar bepergian antar negara di muka bumi, maka seserius apa seharusnya ikhtiar seseorang untuk menjelang kehidupan akhirat yang terbentang di hadapannya?
“Kamu tidak berdiam (di dunia), melainkan hanyalah sehari saja”. (Q.S Thaahaa: 104)

Monday, April 2, 2018

Mengalami keletihan itu perlu,
agar tahu rasanya manakala badan kembali disegarkan.

Mendera kesusahan itu perlu,
agar tahu rasanya nilai sebuah pertolongan.

Merasakan kesedihan itu perlu,
agar hati tidak beku oleh terlampau banyak kesenangan yang melalaikan.

Inilah harmoni dalam kehidupan.
Sehat-sakit, lapang-sempit,
kesulitan dan kemudahan,
semua akan dipergilirkan
bagaikan siang dan malam.
Semua ada dalam perhitungan-Nya yang presisi dan menyehatkan jiwa.
Agar ia tidak terlalaikan dalam dunia ilusi.

Maka jelanglah dengan gembira semua takdir kehidupan kita.
Jangan terpaku dengan bentuk dan fenomena lahiriyah,
tapi lihatlah siapa yang mengirimkan itu semua.

Sang Nabi bersabda, “Tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit, dan juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengan dosa-dosanya”. (HR. Muslim no. 2573).
Manusia hanya dapat mengenal nilai anugerah Yang Maha Kuasa jika ia telah mengalami rasa sakit dan deritanya sendiri, lahir maupun batin.

Inilah salah satu kunci kehidupan.
Agar manusia bersuka cita menjelang kondisi apapun yang ada.
Sehingga hatinya semakin mendekat kepada-Nya.

***
Allah berfirman dalam Al Qur’an, Ada hal yang ditetapkan bagimu yang tidak kamu sukai padahal baik bagimu, dan ada hal yang kamu sukai padahal tidak baik bagimu. Sufi besar Imam Ghazali ra, menjelaskan gagasan ini sebagai berikut, “Sakit adalah salah satu bentuk pengalaman yang membawa manusia sampai kepada pengetahuan tentang Tuhan; seperti dikatakan-Nya, Sakit adalah pelayan-Ku yang Aku berikan kepada sahabat pilihan-Ku.”