Monday, June 29, 2020


Sebelum Dia memberikan pemahaman akan sesuatu, yang harus kita lakukan adalah mengalirkan diri saja dalam ketetapan-Nya. Apa yang Dia hadirkan di dalam jangkauan tangan kita disikapi dengan sebaik-baiknya.

Tentang pekerjaan kita, tentang rumah tangga kita, tentang usaha kita, tentang nasib anak-anak kita, tentang orang tua kita, tentang sanak saudara kita, tentang negeri ini, tentang masa depan dunia di tengah wabah ini.

Mengalir, hari demi hari dalam karsa-Nya. Hingga suatu saat Dia sendiri yang menyingkap satu persatu makna di balik semua fenomena yang ada. Pengetahuan itu yang membuat hati tersenyum lebar dan terang seterang-terangnya. Menyadari bahwa tak ada satu pun penggal kehidupan kita yang tidak datang dari goresan tinta Dia – Sang Khanzun Mahfiy – Yang Rindu untuk dikenal…

Amsterdam, 29 Juni 2020
17.31

Semua orang tua tentu menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Tapi kerap kali bayangan "yang terbaik" itu adalah versinya sendiri. Bahwa harus sekolah di sekolah bergengsi itu, pekerjaan yang itu, les yang itu, pasangan yang itu, rumah yang itu, pakaian yang itu dsb.

Padahal yang paling tahu yang terbaik untuk setiap ciptaan ya tentulah Sang Maha Pencipta. Jadi seharusnya sebelum memutuskan ini dan itu untuk sang anak, adab sebagai seorang hamba yang baik tentu dengan memohon terlebih dahulu kepada Yang Punya anak-anak kita. Khawatir kita salah asuhan dan keliru dalam membentuk mereka. Na'udzubillahimindzaalik...

Friday, June 26, 2020

"Wahai orang-orang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan syaithan. Maka jauhilah itu agar kamu beruntung.

Dengan minuman keras dan judi itu, syaithan hanyalah bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu, dan menghalang-halangi kamu dari dzikrullah dan melaksanakan shalat. Maka tidakkah kamu mau berhenti?

QS Al Maa'idah : 90-91

Sekilas kalau membaca ayat itu seolah-olah kita aman darinya. Toh tidak minum minuman keras dan tidak pula berjudi pikirnya. Hati-hati, Al Quran itu punya berlapis makna. Setiap ayat selalu aktual untuk kita.

Coba perhatikan baik-baik. Yang diseru disini adalah orang beriman. Dalam definisi Al Quran, orang beriman adalah orang yang sudah diberikan cahaya iman. Kecil kemungkinan orang beriman berkubang dari minuman keras dan perjudian. Kemudian lihat kembali akibat yang ditimbulkan adalah terhalang dari dzikrullah dan shalat. Nah, barangkali mabuk kita bukan jenis mabuk oleh minuman keras, tapi mabuk dunia, mabuk oleh pekerjaan, mabuk oleh sosial media, mabuk oleh tontonan, mabuk oleh berbagai aktivitas online, mabuk oleh kegiatan sosialita dan apapun itu yanh melalaikan kita dari dzikrullah dan shalat. Maka boleh dibilang kita hakikatnya masih berkutat dengan "minuman keras dan berjudi". Na'udzubillahimindzaliik.

"...Barangsiapa beriman kepada Allah (iman billah), kepada hari akhir dan beramal shalih, maka tidak ada rasa khawatir padanya dan mereka tidak bersedih hati." QS Al Maa'idah:69

Jadi saat kita terjangkit kekhawatiran dan kesedihan, coba cek tiga hal kunci di atas.

Apakah imannya betul kepada Allah atau malah mengimani pekerjaan, mengimani pasangan, mengimani gaii tetap, mengimani tabungan, mengimani angan-angan?

Apakah kita beriman kepada hari akhir? Bahwa apa-apa yang luput di dunia akan diganti di alam nanti? Atau kita melulu dipusingkan oleh pasang surut kehidupan di dunia ini?

Apakah amal shalihnya cukup? Atau banyak potensi diri yang Allah berikan yang belum dialirkan?

Kaidahnya sesimpel itu untuk menghilangkan kekhawatiran dan kesedihan. Jadi seolah sulit karena biasanya hati kita masih cinta dunia...Na'udzubillahimindzaalik.

Thursday, June 25, 2020


Catatan Kajian Suluk Online, 25 Juni 2020

TASBIH MERETAS JALAN MENUJU SHIRAATHAL MUSTAQIIM

Bertahun-tahun kita melakukan shalat dan melayangkan sebaris doa “Ihdina shiraathal mustaqiim” (tunjukkanlah aku kepada jalan yang lurus). Akan tetapi apakah kita sudah merasa ditunjuki dan makin mendekat kepada shiraathal mustaqiim?

Tulisan ini tidak akan mengupas lebih jauh tentang apa itu shiraathal mustaqiim. Akan tetapi kita akan menyoroti sebuah tahapan yang ada di dalam Al Quran agar kita ditunjuki shiraathal mustaqiim. Tahapan itu adalah “bunuhlah dirimu atau keluar dari kampungmu” (QS An Nisaa [4]: 66) sebagai rangkaian awal dari ayat 69 yang kemudian menyatakan “dan pasti Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan yang lurus.”

Secara sekilas yang dinamakan “shiraathal mustaqiim” adalah jalan kebahagiaan yang hakiki dari setiap manusia. Ia adalah urat jalan yang sangat halus yang sangat sulit ditemukan tanpa pertolongan Allah. Dengan kata lain, selama seseorang masih belum kokoh berpijak dalam shiraathal mustaqiim-nya masing-masing maka selama itu juga hidupnya masih belum mencapai kedamaian yang hakiki, jika saja ia mau jujur mendengarkan kata hatinya yang cenderung mencari Allah melalui jalan tersebut. Hanya saja manusia biasanya menutupi kegalauan hatinya ini dengan berbagai upaya kesenangan dunia dan pencapaian-pencapaian duniawi yang berfungsi tak lain bagaikan obat yang bersifat simptomatik semata. Menghilangkan gejala sesaat tapi tak pernah menyembuhkan akar penyakitnya.

Setelah bertahun-tahun merasa doa “ihdina shiraathalm mustaqiim” tidak dijawab. Jangan keburu menyalahkan Allah, karena bisa jadi kita tidak paham persyaratan turunnya sebuah petunjuk menuju shiraathal mustaqiim adalah dengan “membunuh diri atau keluar dari kampung halaman”. Keduanya mensyaratkan sebuah keberserahan diri yang absolut. Sebelum seseorang bersedia menyerahkan diri, kehidupan, masa depan, cita-cita, dan segala kemanusiaan kepada Rabbul ‘alamiin maka praktis tidak ada gunanya ia diberikan hujan petunjuk sekalipun. Karena tanpa keberserahdirian, kesediaan untuk diatur dalam pengaturan Ilahiyah, maka semua petunjuk yang hadir akan sia-sia.

Disini kita betul-betul belajar membumikan tasbih yang sering kita ucapkan di tataran lisan agar ia diserap dalam karakter, perilaku, cara pandang dan keseharian kita. Tasbih (subhanallah) adalah dzikir yang bermakna mensucikan-Nya dari segala hal yang tidak layak bagi-Nya. Secara bahasa “as-sabh” bermakna “kosong”, sedangkan “sabaha” artinya mengalir. Dalam sebuah hadits Rasulullah pernah berjalan menuruni sebuah bukit dan beliau SAW mengucapkan tasbih dalam sebuah medan yang menurun, mengalirkan diri dalam tarikan gravitasi.

Istilah “work with flow” pada prinsipnya adalah sebuah tasbih, karena kita mencoba mengalir sesuai dengan aliran takdir kehidupan, tidak berontak atau mencoba berenang di arah yang berlawanan dengan aliran sungai. Sesuatu bisa mengalir mengikuti arus seperti daun yang jatuh terbawa arus sungai, karena ia tidak mengeluarkan daya untuk berenang sendiri. Ada sebuah nuansa “kematian” dan kekosongan dalam sebuah keberaliran, karena selama seseorang sulit untuk mati dari ego dan agenda pribadi akan sulit untuk bisa mengalir dalam desain kehidupan terbaik yang Allah persiapkan untuknya.

Maka perintah “membunuh diri” erat kaitannya dengan tegaknya kualitas tasbih dalam diri kita. Yang dibunuh tentu bukan jasad secara fisik, karena itu malah menyalahi kaidah agama. Tetapi yang dibunuh adalah kekuatan dan dominansi hawa nafsu dalam diri kita. Agar dengannya sang jiwa bisa kembali bertahta di dalam diri dan mengendalikan jasad beserta seluruh komponen diri dalam tuntunan-Nya.

Mensucikan-Nya dalam ribuan tasbih yang diucapkan tentu tidak akan menambah seatom pun kesucian Allah Sang Quddus, Dzat Yang Maha Suci. Jika demikian apa maksud dipanjatkannya dzikir-dzikir termasuk tasbih yang Rasulullah ajarkan kita untuk melakukannya setidaknya setiap habis shalat? Siapa yang sedang disucikan disini, jika ternyata trilyunan tasbih pun tak memiliki efek menambah derajat kesucian-Nya? Maka pada hakikatnya manusia lah yang sedang disucikan melalui dzikir kepada-Nya dan segenap takdir yang berfungsi mensucikan, karena seiring dengan makin dekat seseorang kepada-Nya, semakin ingin mengenal-Nya, semakin timbul rasa rindu kepada-Nya, semakin ingin mengenal-Nya maka tingkat kesucian hatinya pun akan otomatis meningkat.
Kemudian, jika aspek “rasa” ubudiyah ini mulai timbul dan makin menguat maka itu bagaikan wadah yang semakin siap untuk menerima limpahan air dari langit. Air itu adalah petunjuk Ilahiyah. Dan petunjuk yang kita cari itu adalah agar kita menemukan shiraathal mustaqiim itu. Wallahu’alam[]

Tuesday, June 23, 2020

"Sesungguhnya orang-orang yang kafir, seandainya mereka memiliki segala apa yang ada di bumi dan ditambah dengan sebanyak itu lagi untuk menebus mereka dari azab pada hari Kiamat, niscaya semua itu tidak akan diterima dari mereka. Mereka (tetap) mendapat azab yang pedih."QS al-Maaidah :36

Sepanjang sejarah bisa jadi belum pernah ada yang memiliki kekayaan semua yang ada di bumi dua kali lipat. Harta sebanyak itu pun tak mampu membebaskan mereka dari azab yang pedih pada hari Kiamat.

 Sementara banyak diantara manusia sekadar mengejar nilai segenggam kekayaan dunia atau beberapa takaran saja dibanding seluruh kekayaan bumi - mereka mengorbankan akhirat karenanya.

Sungguh, sebuah perniagaan yang merugi. Menukar kehidupan akhirat dengan dunia. Padahal Allah telah menyiapkan rezeki yg terbaik jika seseorang bertaqwa. Pertanyaan penting berikutnya tentu bagaimana kita mengetahui bahwa diri ini sudah menegakkan ketaqwaan kepada-Nya? Apa ciri-ciri orang yang bertaqwa dalam Al Quran? Apa yang Allah janjikan kepada orang yang bertaqwa dalam Al Quran?
Semua kunci-kunci kehidupan ada di dalam kitab suci warisan Rasulullah Muhammad SAW, tinggal terserah kepada kita apakah mau serius mengkaji dan menerapkannya?
"Pernah merasa down ngga mbak?"

"Oh iya lah, sering. Namanya juga hidup. Life somehow always find a way to knock us down. Not the real us, but our ego."

"Terus, gimana caranya bangkit lagi?"

"Simple. Yaitu dengan ambil air wudhu dan shalat. Kalau sedang bingung, galau, kecewa, sakit hati, deg-degan hendak presentasi penting, jelang job interview, ide mandeg dsb sudah tinggalkan simpan saja dulu semua itu. Kemudian wudhu dan bersimpuh kepada Allah Ta'ala di atas sajadah. Nikmat sekali. Not trying to play God. Sekadar menyerahkan kembali semua apa yang Dia berikan agar Allah sendiri yang menyelesaikan, menuntun, melapangkan jalan, memberi inspirasi dsb. Dan saksikan bagaimana Dia merespon kebutuhan kita kerap kali melalui cara yang sangat tak terduga."🥰

-With God all things are possible-