Sunday, July 5, 2020

Kurban yang kita coba sisihkan harta untuknya secara berkala itu baru latihan saja untuk kurban yang sesungguhnya. Adalah lebih mudah menyerahkan harta yang sebetulnya pada hakikatnya sesuatu yang Allah titipkan. Ada kurban lain yang lebih Allah sasar, sesuatu yang sangat melekat dengan hakikat kita yang kita sudah terbiasa menggunakannya sejak hari pertama berada di alam ini, yaitu diri kita sendiri.

Beranikah kita mengorbankan perasaan diri? Keinginan diri? Ambisi diri? Cita-cita pribadi? Ego diri dll demi Allah. Untuk melebur dalam karsa-Nya. Ridho mengalir dalam ketentuan-Nya? Menerima apa yang Dia tetapkan untuk diri ini sepahit dan sesulit apapun itu kelihatannya di awal waktu. Sebagaimana tidak mudahnya manusia menerima sebuah perubahan. Tapi, perubahan itu perlu dilakukan agar kita melangkah menuju orbit diri yang sebenarnya yang disitu terletak surga dunia akhirat kita. Allahu Akbar. Allahu Akbar wa lillahil hamd.

Saturday, July 4, 2020

"Dan kehidupan dunia ini, hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Tidakkah kamu mengerti?" QS Al-An'aam: 32

Orang yang bertaqwa akan tenang dengan apapun ketetapan pembagian Allah di dunia ini, tentang rezeki, tentang jodoh, tentang usia, tentang nasib dll. Karena ia yakin apa-apa yang dia luput dapatkan di dunia akan diberikan di akhirat nanti.

Orang yang tidak bertaqwa akan kelimpungan dan panik memaksakan ingin bahagia - versi dirinya- dengan jalan mendapatkan apa-apa yang dia inginkan. Padahal keinginan sekuat apapun tak akan mampu mengoyak tirai takdir-Nya.
Allah itu selalu memberi yang terbaik untuk semua ciptaan-Nya. Tidak pernah memberi yang kw 2 apalagi kw 3.
Hanya saja yang diberi sering belum paham mana hal-hal yang benar-benar berkualitas.

Thursday, July 2, 2020

Jelang penyelenggaraan qurban. Agar tidak sebatas ritual semata. Coba renungi kualitas hewaniyah apa yang masih bercokol dalam diri dan sangat menghambat pertaubatan kita.

Barangkali malesnya ga ketulungan, mungkin emosi dan amarahnya masih meletus-letus seperti gunung berapi, bisa jadi sombong dan bangga dirinya ampun-ampunan. Apapun itu saya yakin setiap kita kalau jujur punya jawabannya masing-masing. Persembahkan itu untuk disembelih lewat hewan qurban atas nama kita yang membutuhkan pensucian diri.

Lebih afdhal kabarnya kalau bisa menyembelih sendiri, biar sampai terbawa ke aspek jasad prosesnya. Tapi kalaupun tidak, setidaknya ijab qabul dengan panitia penyembelihan harus khidmat dan serius, dengan akad yang jelas. Persembahkan itu dari hati yang tulus. Karena yang sampai kepada Allah adalah penghadapan hatinya, bukan daging dan darahnya.

Bismillah...
Seorang dokter memberi terapi berdasarkan sebuah diagnosa yang ditegakkan. Sebuah penyakit harus dikenali dulu sebelum mengambil langkah berikutnya.

Dalam hidup pun demikian. Selama kita belum mengenali apa penyakit-penyakit hati masing-masing, maka semua kedukaan, kesempitan, dan penyakit yang Allah hadirkan hanya akan dikeluhkan saja tanpa paham bahwa itu semua adalah obat mujarab yang Allah turunkan untuk mengobati penyakit-penyakit hati tertentu.

Yang kita alami sebagai sebuah kehilangan, difitnah, dizalimi, disakiti, ditipu, dirugikan dll adalah sebuah fenomena lahiriyah saja dari keadaan di dalam hati yang sedang disucikan. Barangkali hati kurang taubat, kurang mencari Allah dan terlampau sibuk dunia, kurang khusyu shalat, kurang jihad, kurang sabar dan banyak sifat-sifat Allah Yang Mulia yang kurang bertumbuh karena tertutup oleh sekian hama penyakit dalam hati.

Allah Ta'ala bukan sama sekali Dzat yang menzalimi hamba-Nya. Tapi kadang orang harus dipaksa untuk menelan pil pahit bahkan dilakukan padanya operasi yang menyakitkan untuk bisa mencegah dia dari sebuah musibah yang lebih besar...
Sudahlah berhenti membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Cape lahir batin....
Setiap orang kan punya kadar rezeki dan amanahnya masing-masing. Seperti rembulan dan matahari jadi indah karena masing-masing tak bersaing dan adu unggul. Yang satu menerangi malam hari dan yang lain di siang hari. Rembulan tak perlu minder punya cahaya tak seterang matahari, karena kalau cahayanya sama terang kita sulit tidur di malam hari.

Semua sudah Allah kadar dengan sangat sempurna. Yang membuat itu jadi tak sempurna ya pikiran kita yang cenderung membanding-bandingkan itu...


Monday, June 29, 2020


“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” Demikian janji Allah Ta’ala dalam Surat Al Baqarah ayat 286. Dan siapa yang lebih bisa memenuhi janji dibanding Allah Ta’ala?

Semestinya satu ayat ini saja sudah sanggup mengubah penyikapan kita terhadap berbagai ujian yang menimpa kita, seberat apapun itu terasanya. Keyakinan bahwa Allah tidak akan menimpakan sesuatu di luar kapasitas seseorang akan membawa sebuah kekuatan tersendiri dalam mental pikiran kita. Keyakinan itu akan memperkuat kesabaran dalam memikul cobaan itu dari hari ke hari. Dan bahkan keyakinan itu yang bisa membuka selubung hijab yang membuat kita tidak paham akan adanya kebaikan dan hikmah di balik sebuah kepahitan kehidupan sekalipun.

Barangkali kita harus menelan pil pahit dalam kehidupan berupa perceraian orang tua atau rumah tangga kita sendiri, tak tega melihat anak-anak yang menangis meraung-raung karenanya.
Barangkali kita harus menelan pil pahit yang berkaitan dengan mencari nafkah atau jatuh bangun membangun usaha.

Barangkali kita diuji sedemikian rupa dengan kelakuan keluarga: orang tua atau mertua kita sendiri dan tak jarang dibuat susah adengan perilaku anak-anak kita.

Apapun kesulitan yang tengah dihadapi sekarang. Berbesar hatilah. Jangan meragukan pertolongan-Nya yang akan datang di saat yang tak terduga dan sering dalam bentuk yang di luar apa yang kita bayangkan. Semua dinamika dalam hati kita yang halus itu yang justru akan mengubah dunia kita dengan ajaib. Raihlah janji Allah berupa diberikannya sebuah jalan keluar dari apapun kesempitan dan musibah yang melingkupi kita dengan taqwa.

“Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, maka akan selalu diberikan jalan keluar.” QS At Thalaq:2