Monday, February 26, 2018

"Mama sama papa tidak bisa tinggal bersama lagi..."
Itu kalimat yang jelas terdengar di tengah derasnya hujan yang turun, menambah sendu suasana. Kami tengah ada di dalam mobil yang melaju pulang sore itu selepas menjemput saya dari SMPN 2 Bandung menuju rumah kami di Bandung Selatan. Saya tidak ingat lagi apa yang almarhum papa saya sampaikan setelah itu, saya keburu memalingkan wajah ke arah kaca mobil jendela mobil yang ada di samping kiri, menyembunyikan air mata yang menetes satu persatu dari ujung mata. Setelah itu hening...tak ada yang bicara hingga kami tiba ke rumah.

Setibanya di rumah saya ingat berlari kencang ke kamar dan membenamkan muka ke bantal untuk menangis sepuasnya, melepaskan luapan emosi yang ada. Ada sedih, kecewa, marah semua jadi satu. Tapi setelah semua emosi reda, kemudian akal sehat saya mulai jalan kembali dan perlahan bisa memahami keputusan ini. I was there, witnessing everything. Usia saya 13 tahun saat itu, sudah cukup besar untuk memahami dan membaca ihwal ketidakharmonisan di antara kedua orang tua saya, maka sangat bisa dipahami jika dalam kondisi demikian, mengambil jalan berpisah boleh jadi adalah keputusan yang terbaik untuk mereka. Sedangkan kami, anak-anak akan menyesuaikan. Dan seiring dengan waktu memang saya dan adik bisa menyesuaikan dengan rutinitas menemui orang tua di dua rumah yang berbeda. And believe it or not, they did seemed happier when they are apart.

Saya menyimpulkan bahwa bukan perceraian yang membuat anak bingung, hancur dan tak berdaya. Akan tetapi ketika melihat kedua orang yang dia cintai saling menyakiti; dengan melempar kata-kata kasar, dengan bertindak kasar, dengan menyebarkan keburukan satu sama lain kepada temannya, semua itu lebih menyakitkan dibandingkan harus menelan kenyataan bahwa saya harus menempuh jarak tertentu untuk sekadar bertemu papa.

Jika memang ada pasangan yang sudah demikian sulit untuk dipersatukan dan memilih berpisah, maka lakukanlah baik-baik. Telan kekecewaan dan amarah kepada pasangan dan jangan sekali-kali menunjukkan kebencian kita di depan anak. Itu akan mengoyak hatinya. Karena bagi seorang anak, ayah dan ibu adalah dunianya, adalah kasih mereka berdua yang membawa ia dilahirkan ke dunia, and please keep it that way. Leave the children out of it. Tanpa diucapkan sebenarnya anak-anak suatu saat akan paham tentang apa yang terjadi. Setidaknya berikan kenang-kenangan akhlak yang indah bagi anak, jadilah contoh hidup bahwa kita bisa berbeda dan berpisah tapi tetap menjunjung tinggi adab dan etika pertemanan dengan baik.

And in my case, it was a big help...

Amsterdam, 27 Februari 2018.
8.52 am
Sering saya harus menahan diri untuk tidak mengerjakan proyek ini-itu, tidak mengambil pekerjaan di sana-sini, tidak terburu meraih kesempatan emas untuk sekadar berhenti sejenak dan bertanya kepadaNya, "Ya Allah, apa yang Engkau ingin aku kerjakan hari ini?"

Jika saya memilih satu aktivitas maka akibatnya aktivitas yang lain akan tertunda, sedangkan sisa nafas yang ada tidak banyak. Jelang usia 40 tahun saya tidak bisa sekadar nonton film just for fun, nongkrong sama teman sekadar ngobrol ngalor-ngidul yang tidak disertai perenungan dalam tentang kehidupan, atau baca buku hanya karena yang lain juga baca dan best seller, semua terasa mulai hambar jika Ia tidak ada disana. Setiap langkah dan keputusan juga harus dipertimbangkan masak-masak, karena jika salah langkah kita akan kehilangan aset yang berharga berupa waktu, sang nafas yang menjadi jalan agar kita mengenal mana yang fana dan mana yang abadi di sekolah dunia ini. Terasa diri semakin fakir dan tak berdaya. Untung ada Allah yang selalu dapat diandalkan <3
Hasbunallah wanikmal wakil nikmal maula wa nikman nasiir. - Cukuplah Allah sebagai penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung.

Amsterdam, 26 Februari 2018 jam 9.51 pagi.
Renungan jelang usia 40 tahun

Saturday, February 24, 2018

Bagi seorang anak berusia 5 tahun yang baru mengenal huruf, mengeja adalah sebuah kegiatan yang menyenangkan. Sebuah dunia baru terbuka baginya saat ia mulai memahami bahwa beberapa huruf yang bersanding dapat membentuk kata dan kata itu memiliki makna tertentu. Semakin rajin sang anak belajar, akalnya akan semakin kuat dan bisa membaca lebih banyak bahkan tidak hanya sesuatu yang tertulis. He can make more sense of things...

Demikian juga jiwa manusia, semakin jernih cermin jiwa maka akal jiwanya akan tumbuh. Manusia menjadi lebih mahir membaca takdir kehidupan yang tadinya tidak dia pahami, berangsur bisa membaca 'huruf' yang terbentuk di sana, lama kelamaan susunan huruf itu membentuk kata, dan dari kata ada kalimat yang tersusun rapih. Rangkaian hidup kita adalah sebuah 'surat cinta' dari Sang Pencipta yang dibuat secara pribadi, setiap orang memiliki suratnya masing-masing yang berbeda satu sama lain. Saat akal jiwa (lubb) tumbuh maka seseorang bisa berkata 'Rabbana maa khalaqta haadzaa bathilaa...' - ya Rabb, sungguh tidak ada sesuatupun yang Engkau ciptakan sia-sia.'.

Maka ketika seseorang menolak takdir dan ketetapan hidupnya sambil mengeluh bahkan mengutuk Tuhan, dia tengah menjemput kematian jiwanya disana. Raganya akan tetap hidup akan tetapi tanpa mengambil pelajaran dariNya, tanpa bisa membaca setiap kalimat yang tersimpan di setiap lembar kehidupan yang terbuka setiap harinya. Jika itu terjadi, ia akan menghabiskan usianya mengejar bayangan dunia dan menyia-nyiakan kesempatan hidupnya yang berharga untuk mengenal Tuhannya, Yang Menciptakan semesta alam dengan niat "ingin dikenal'. Dan itulah musibah terbesar dalam hidup manusia. Ketika dia tidak bisa 'membaca' (iqra).

(Amsterdam, 24 Februari 2018. 15.39. After Nani & James'farewell)


Friday, February 23, 2018

"...Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya..." (QS Al Baqarah [2]: 233)

Dalam ayat ini dikatakan bahwa kewajiban seorang bapak untuk memberikan rezeki dan kiswah (pakaian), adapun penyebutan bapak disamarkan dalam ayat ini, karena tidak disebut, "dan bagi para bapak rezekinya" akan tetapi dikatakan "dan bagi seorang anak yang dilahirkan baginya rezekinya."

Ada hikmah yang luar biasa disini, karena kalau kita melihat ayat lain dalam Al Quran biasanya kata rezeki itu jarang dilekatkan kepada sosok manusia, karena rezeki biasanya dikaitkan dengan Allah Ta'ala. Adapun seorang bapak biasanya disebutkan sebagai yang memberi nafkah. Artinya sebenarnya ketika seorang anak lahir yang muncul pertama adalah urusan Allah Ta'ala yang menjamin rezekinya, bukan bapaknya, walaupun rezeki itu biasanya lewat sang bapak.

Maka ketika anak lahir, kewajiban orang bapak untuk waspada mencari pintu rezeki yang dibukakan Allah. Secara simbolis Allah sudah langsung berikan 'kiswah'nya (pakaiannya), sesuatu yang melindungi sang anak, 'kiswah' itu bisa berupa perlindungan dan kasih sayang orang tuanya, pakaiannya, popoknya, mantelnya, dll. Jadi sebenarnya bersama dengan kelahiran seorang anak ke dunia ini - jika saja orang tuanya tidak mengeluh, tidak mengutuk Allah, tidak tertutup hatinya - maka Allah akan tampakkan pintu rezekinya. Jangan sampai sedang hamil atau baru punya anak malah ribut, itu harus dihindari karena akan menutup pintu rezeki. Jika suami istri itu sabar dengan apapun yang Allah berikan, Allah akan bukakan pintu rezeki yang memang sudah dijaminkan untuk mereka.

(Adaptasi dari kajian hikmah Al Quran yang disampaikan oleh Kang Zamzam AJ Tanuwijaya, 10 Juni 2006)



Untuk mendapatkan kebebasan finansial anda tidak perlu menunggu sampai memiliki tabungan x rupah sambil menimbun harta, mengumpulkan saham, emas dan deposito dan mengoleksi properti disana-sini. Jika mau menempuh jalur itu yang anda harus tukar adalah waktu hidup yang tak lama dan sangat berharga itu dengan kesibukan yang menggerus jiwa.

Anda bisa membebaskan diri saat ini juga, dengan syukur menerima apapun yang ada di tangan hari ini dan bersabar mengerjakan semua ikhtiar kehidupan.

Kebebasan yang sejati itu dari Allah, dia diberikan cuma-cuma dan hak bagi setiap manusia, ia tak bersyarat, tak perlu agunan, tak perlu cicilan bulanan. Yang anda harus lakukan hanyalah berserah diri (aslama) kepadaNya.

Wednesday, February 21, 2018

Yang pernah kerja di dapur sudah hafal, betapa sulitnya membersihkan panci penggorengan yang lengket dipenuhi noda makanan gosong. Walaupun disemprot air panas dengan tekanan tinggi noda lemak yang bercampur sisa makanan gosong tetap sulit dihilangkan dan hanya bisa larut jika direndam dalam air panas yang dicampur dengan zat-zat tertentu selama beberapa menit. Bagi sang panci menjalani semua proses pembersihan itu bisa jadi hal yang menyakitkan, tapi itu satu-satunya cara agar ia bersih hingga bisa digunakan kembali. Jika tidak ia hanya akan dibuang menjadi penghuni tempat sampah dengan benda-benda yang tak berharga lainnya.

Dalam kehidupan juga demikian. Kadang seseorang harus menjalani pembersihan diri sekian lama dengan bermacam fenomena; rezeki sulit, dibuat konflik dalam rumah tangga, hubungan dengan orang tua atau mertua kurang harmonis, harus bersabar dengan kondisi fisik tubuh yang tidak prima, tidak betah di pekerjaan, dll.

Rasulullah saw bersabda, “Seorang hamba dicegah dari rezeki akibat dosa yang diperbuatnya.” (HR. Ahmad). Maka renungkanlah dalam-dalam, bisa jadi kesulitan yang tengah dihadapi saat ini adalah sebuah proses qishash, pembersihan atas sesuatu yang pernah dilakukan. Mungkin pernah membangkang dan menyakiti harti orang tua, barangkali pernah menipu dan tidak jujur dalam pekerjaan, bisa jadi pernah berbohong untuk menyelesaikan suatu proyek sehingga kurang berkah hasilnya, bisa jadi penjual yang menzalimi pembelinya, dan lain sebagainya. Sebuah tindakan yang menzalimi dan menyakiti manusia lain itu berat konsekuensinya, karena harus berhadapan langsung dengan Yang Menciptakan manusia.

Kalaupun demikian, sungguh beruntunglah mereka yang mulai Allah bersihkan di alam dunia ini, karena menanggung penderitaan disini selama lima tahun tidak ada apa-apanya dibanding menanggung beratnya proses pembersihan di akhirat walau 1 jam saja. Maka berbaik sangkalah kepada Allah, karena dibalik kesulitan hidup yang harus didera ada kebaikan melimpah selama sang hamba menghadapkan hatinya mengharap kepadaNya.

"Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu agar kamu bersyukur."

(QS Al Ma'idah [5]:6)

Tuesday, February 20, 2018

Saat baru saja mendudukkan anak saya di bangku kecil di belakang sepeda, ia oleng karena beban belanjaan yang banyak dan permukaan jalan kurang rata. Refleks saya bekerja menangkap rangka sepeda agar tidak terjatuh dan langsung melihat raut wajah si bungsu yang ternyata tetap tenang sambil membetulkan posisi sarung tangannya.

Saat ditanya, "Maaf ya sayang, Rumi tadi takut jatuh?"

"No, because i know you will catch me.."jawabnya dengan tenang.

Entah kenapa saya merasa tertohok dengan kalimat polos yang keluar dari mulut seorang anak berusia 3 tahun ini. Dia demikian percaya kepada ibunya yang fakir ini. Maka kadar percaya macam apa yang sepatutnya saya berikan kepada Dia Yang memberikan kita kehidupan, memelihara kita, memberi rezeki dan Maha Baik itu?

Sejauh mana kita percaya bahwa Dia mampu menjaga orang tua dan orang yang kita kasihi yang berada di tempat yang jauh?

Sejauh mana kita percaya bahwa Dia yang menjaga dan menjamin pendidikan bagi anak-anak kita di masa depan?

Sejauh mana kita percaya bahwa bagi setiap kesulitan hidup Dia sudah menyediakan solusi dan jalan keluarnya?

Sejauh mana kita percaya bahwa balasanNya di akhirat adalah jauh lebih baik dibanding kesabaran sesaat yang harus kita tanggung di alam dunia?

Sejauh mana kita percaya bahwa kepemaafanNya jauh lebih luas dibanding dosa kita yang melangit itu?

Sejauh mana kita percaya bahwa Dia selalu memberikan yang terbaik kepada segenap ciptaanNya, di saat fenomena kehidupan yang ada terasa menyesakkan dada.

Kalau dipikir-pikir, kita lahir tidak membawa apa-apa ke dunia, modal nol besar, toh saat ini kita bisa tumbuh, memiliki ini itu serta meraup sekian banyak pengalaman dengan izinNya semata.

Saya teringat pesan guru saya, beliau bilang kalau bayi dilahirkan ke bumi sudah diatur rezekinya oleh Allah, ditumbuhkanlah kasih sayang di hati orang tua dan pengasuhnya juga diberinya susu ibu yang mengalir. Sebuah aliran yang tak putus bagaikan nutrisi yang senantiasa mengalir di badan sang janin di dalam kandungan melalui tali pusarnya. Nah berikutnya ini yang ajaib dan patut diuji keimanan kita kepadaNya, bahwa tali pusar itu senantiasa ada, hanya semakin badannya dewasa bentuknya menjadi abstrak, karena badan manusia yang berotot dituntut untuk menggerakkan ototnya dengan bekerja dan mengolah otaknya dengan berkarya. Maka dibuatlah mekanisme kasab, suatu kegiatan yang dilakukan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Pada hakikatnya setiap orang sudah disediakan rezekinya melalui 'tali pusarnya' masing-masing, tinggal melakukan ikhtiar yang baik dan benar untuk menjelangnya.

Alhamdulillah, terima kasih atas pembelajaranNya yang Engkau sampaikan melalui lisan kecil seorang anak ini. :)