WALK EXTRA MILES
Thursday, April 21, 2022
Wednesday, April 20, 2022
Ujian, musibah dan guncangan dalam hidup sebenarnya rahmàt dari Allah Ta'ala.
Sebuah pertolongan langit untuk menampakkan ihwal keadaan hati kita yang sesungguhnya.
Ketika dirasa hati masih rapuh menghadapinya, itu tanda di aspek tersebut tauhid kita masih lemah. Karena semakin kuat seseorang tauhidnya akan semakin kokoh hatinya seperti besi yang tahan meredam sekian tempaan.
19 Ramadhan 1443 H
Monday, April 18, 2022
LANGSUNG KENA BATUNYA
Masih teringat salah satu hadits Rasulullah saw yang mengingatkan bahwa jika kita mencela seseorang yang berbuat kesalahan atau khilaf maka kita tak akan mati sebelumnya mengalami kesalahan yang serupa.
Oleh karena itu jika melihat ada yang tergelincir berbuat kesalahan dan khilaf ataupun menderita kemalangan akibat perbuatannya sendiri maka jangan menghakimi. Lebih baik berdoa agar kita terhindar dari ketergelinciran yang serupa.
Tapi ya, namanya orang yang sedang belajar. Kadang saya lupa, tergelincir pada sebuah penghakiman kepada orang lain. Walaupun dalam perkara yang "sepele".
Misalnya seperti yang baru terjadi beberapa hari yang lalu manager di restoran tempat saya bekerja paruh waktu di malam hari memampangkan foto di whatsapp group. Di foto itu nampak ada beberapa kemasan jus apel yang terbuka- bahkan sebagian sudah kosong- di rak pendingin. Sang manager terlihat gusar dengan menuliskan, "who did this?!!!". Meminum barang dagangan tanpa seizing manager sanksinya bisa fatal. Saat melihat foto itu saya mengaku sempat tertawa kecil. Dalam hati lho ya. Mentertawakan kecerobohan orang yang melakukan itu. Padahal itu terjadi dalam hati. Tak ada seorang pun tahu.
Tapi beberapa saat kemudian saya sadar bahwa saya secara tak sadar telah menghakimi orang lain. Terasa ada sebuah keangkuhan halus yang mengemuka. Maka saya mencoba beristighfar banyak-banyak.
Tak lama dari kejadian itu, kontan dalam waktu 24 jam benarlah hal yang serupa terjadi kepada saya. Menjadi melakukan sebuah kecerobohan yang fatal dalam pandangan saya.Yang kalau dipikir-pikir lagi, kok bisa ya begitu? Simpel kasusnya, saya kirim pesan undangan untuk menghadiri syukuran ulang tahun anak saya, tapi entah kenapa di undangan itu tanggalnya tertera sehari lebih cepat. Dan yang lebih aneh lagi saya baru sadar bahwa tanggal itu tidak sama ketika keluarga itu sudah berada di depan pintu mengetuk pintu rumah kami sementara pesta ulang tahunnya sebenarnya baru besok diadakan. Padahal saya selalu check and recheck and confirm everything.
Jadi bisa dibayangkan campur aduknya perasaan saya. Merasa bersalah, also feels reckless and stupid at the same time. Nano-nano rasanya! Kemudian saya ingat episode singkat saya mentertawakan kesalahan orang lain itu sambil mencibir di hati, kok dia bisa sebloon itu. Eh, taunya keesokan hari saya sempat dibuat jadi bloon...😷 Astaghfirullah Gusti🙏
Friday, April 15, 2022
Pandemi serasa sudah lewat
Sebuah pengingat kematian yang dialami masyarakat sedunia
Padahal yang namanya kematian kapan saja bisa menjelang
Sedang tidur, mengendara, sedang bekerja, syukur-syukur malaikat maut datang saat sedang ibadah, jangan sampai ia datang saat kita sedang bermaksiat. Na'udzubillah.
Baru pertengahan Ramadhan, orang sudah ribut tentang persiapan lebaran
Rasanya kurang elok, seperti membincangkan kedatangan tamu lain yang akan datang di depan tamu yang sedang ada di depan mata.
Jelang lebaran, memang membuat banyak orang tenggelam dalam kesibukan
Ngurus parcel, pesenan makanan, rencana mudik dll.
Padahal justru anugerah Ramadhan terletak di 10 malam terakhir yang kebanyakan orang sudah kadung sibuk dengan shopping alih-alih beritikaf dan melakukan tafakur.
Lailatul qadar itu turun di akhir Ramadhan
Momen Nuzulul Quran pun demikian
Ada kunci-kunci ihwal penemuan diri yang hanya didapat oleh mereka yang benar-benar membutuhkan dan mencarinya
Agar hidup menjadi lebih bermakna
Agar kita bisa membaca musibah dan penderitaan yang menimpa sebagai sebuah wujud rahmatNya
Agar hati tak terlalaikan oleh perniagaan dunia
Fokus yang tepat sejak sekarang
Agar tidak menyesal di akhir nanti
Tidaklah kita ditimpa oleh sebuah kesulitan atau mendapatkan sebuah kegembiraan kecuali semua itu Allah izinkan.
Wednesday, April 13, 2022
Pengalaman dulu saat bekerja di perusahaan keluarga, kalau keputusan itu datang dari si empunya perusahaan, seabsurd apapun kebijakanitu ya sudah terima saja dan jalankan sebaik-baiknya. Lha wong dia yang punya dan kita numpang cari makan. Bener nggak?
Mentalitas yang sama sebenarnya penting juga untuk dibangun. Kalau Allah mengizinkan sebuah ketetapan dan peristiwa terjadi. Ya sama, terima saja dan jalankan.
Berkeluh kesah dan misah-misuh tak akan menolong. Toh ketetapan-Nya yang tetap akan berjalan.
Mendingan kita terima dengan ridho dan ikhlas.
Lebih ringan menjalaninya...
Dulu sempat didoktrin waktu belajar agama di bangku SMA.
"Pokoknya de, tujuan kita hidup adalah meraih ridho Allah"
Waktu saya tanya lebih lanjut apa sih maksudnya ridho Allah itu, jawabannya kemana-mana sampai tak berbekas di hati. Dari jawaban kewajiban mengerjakan seluruh syariat sampai jawaban yang bersifat utopia seperti mendirikan khilafah Islam, sambil membangunkan nostalgia masa kejayaan Islam zaman dulu. Duh, kayanya kok jauh dari apa yang saya hadapi dalam keseharian. Itu yang saya rasakan saat itu.
Sementara yang saya butuhkan adalah jawaban praktis atas dimana ridho Allah ketika saya harus rajin belajar saat itu, that kepada orang tua. Bagaimana meraih ridho Allah kemudian setelah berumah tangga, melepas karir dan tenggelam mengurus anak.
Maka saya bersyukur bisa menemukan guru ngaji yang memberikan jawaban jitu ihwal apa ridho Allah itu.
Begini formulanya, sangat sederhana:
Jika kita ridho kepada semua hal yang Allah timpakan kepada kita, itu adalah tanda Allah sedang meridhoi kita.
As simple as that.
Andai kira ridho dengan ketetapan-Nya, ridho dengan takdir-Nya, ridho dengan pembagian dari-Nya, maka berbahagialah. Itu tanda kita mendapatkan ridho-Nya.