Thursday, April 21, 2022

 WALK EXTRA MILES

Apa salah satu perbedaan mereka yang menorehkan tinta emas dalam sejarah umat manusia dibanding mereka yang hidupnya sekadar menjadi pengikut, seadanya saja?
Mereka yang dikenal sebagai legenda di lingkungan dan zamannya masing-masing itu biasanya adalah orang yang senantiasa melakukan lebih dari orang kebanyakan di masanya.
Seorang Michael Jordan yang dikenal sebagai salah satu legenda dalam dunia olahraga basket ternyata dikenal oleh sesama timnya sebagai orang yang sangat berlatih keras. Kerap kali setelah 2,5 jam intensif berlatih dan satu per satu rekan timnya beranjak pulang, Michael tetap berada di lapangan dan terus berlatih. He walks extra mile.
Tendangan bebasnya David Beckham tidak semata tercipta melalui sesi latihan biasa, kabarnya dia berlatih menendang seperti itu ribuan kali secara rutin. He walks extra miles.
Kalau seorang Thomas Alva Edison menyerah di eksperimennya yang ke-100, barangkali masyarakat sedunia belum bisa menikmati penerangan di malam hari yang baik dengan penemuannya berupa bola lampu. Bahkan jauh dari itu, konon Edison harus mengalami lebih dari 1000 eksperimen yang gagal sebelum akhirnya bisa menciptakan bola lampu. He walks extra miles.
Dalam hal ibadah pun sama, guru ngaji saya berpesan bahwa jika kita ingin menjadi hamba yang istimewa di mata-Nya, ya jangan puas hanya dengan mengerjakan ibadah standar. Kejar dengan ibadah sunnah dan yang tak kalah pentingnya adalah dengan melakukan sebuah kebaktian (al birr). Yaitu dengan memberikan apa yang dicintai. Hal yang ketika kita melakukannya harus mengusap dada sendiri, karena memang tidak mudah memberikan apa yang dicintai untuk dibagi dengan orang lain.
Dan tentang memberi ini kerap kali malah bukan sesuatu yang bersifat material saja. Ketika kita meluangkan waktu yang berharga di antara sekian jadlwa kesibukan yang padat untuk seseorang yang membutuhkan teman bicara, kita tengah berbuat kebaktian. Walk the extra mile.
Seorang perempuan yang merelakan suaminya untuk menikahi perempuan lain - dengan petunjuk yang benar dari Allah - adalah sebuah kebaktian (al birr). She walks extra mile.
Seorang yang memilih untuk memaafkan, padahal ia dalam posisi yang dizalimi dan difitnah. Tapi ia tetap membuka hati dan tersenyum serta merangkul orang yang bersangkutan, itu adalah sebuah kebaktian. An extra mile to walk through.
Dia yang memilih bangkit dari tempat tidurnya yang nyaman untuk menghadap Allah dalam shalat dan sujud panjang sementara sebagian besar manusia tertidur lelap dan dia masih mengantuk. Itulah sebuah kebaktian. He walks extra mile.
Dan di bulan Ramadhan ini seluruh umat Islam sedang dilatih untuk "walk extra miles" melalui ibadah shaum - bukan hanya sekadar menahan diri dari tidak makan, minum dan kebutuhan syahwati lainnya. Tapi juga mengekang diri dari amarah, dendam, prasangka buruk, semua dicoba ditepis jauh-jauh. Day in, day out. Satu bulan lamanya. Agar selepas Ramadhan, kita menjadi lebih terbiasa mengerjakan kebaikan dan berakhlak lebih baik. Semoga.

Wednesday, April 20, 2022

 Ujian, musibah dan guncangan dalam hidup sebenarnya rahmàt dari Allah Ta'ala.


Sebuah pertolongan langit untuk menampakkan ihwal keadaan hati kita yang sesungguhnya.


Ketika dirasa hati masih rapuh menghadapinya, itu tanda di aspek tersebut tauhid kita masih lemah. Karena semakin kuat seseorang tauhidnya akan semakin kokoh hatinya seperti besi yang tahan meredam sekian tempaan.


19 Ramadhan 1443 H

Monday, April 18, 2022

 LANGSUNG KENA BATUNYA


Masih teringat salah satu hadits Rasulullah saw yang mengingatkan bahwa jika kita mencela seseorang yang berbuat kesalahan atau khilaf maka kita tak akan mati sebelumnya mengalami kesalahan yang serupa. 


Oleh karena itu jika melihat ada yang tergelincir berbuat kesalahan dan khilaf ataupun menderita kemalangan akibat perbuatannya sendiri maka jangan menghakimi. Lebih baik berdoa agar kita terhindar dari ketergelinciran yang serupa.


Tapi ya, namanya orang yang sedang belajar. Kadang saya lupa, tergelincir pada sebuah penghakiman kepada orang lain. Walaupun dalam perkara yang "sepele". 


Misalnya seperti yang baru terjadi beberapa hari yang lalu manager di restoran tempat saya bekerja paruh waktu di malam hari memampangkan foto di whatsapp group. Di foto itu nampak ada beberapa kemasan jus apel yang terbuka- bahkan sebagian sudah kosong-  di rak pendingin. Sang manager terlihat gusar dengan menuliskan, "who did this?!!!". Meminum barang dagangan tanpa seizing manager sanksinya bisa fatal. Saat melihat foto itu saya mengaku sempat tertawa kecil. Dalam hati lho ya. Mentertawakan kecerobohan orang yang melakukan itu. Padahal itu terjadi dalam hati. Tak ada seorang pun tahu. 


Tapi beberapa saat kemudian saya sadar bahwa saya secara tak sadar telah menghakimi orang lain. Terasa ada sebuah keangkuhan halus yang mengemuka. Maka saya mencoba beristighfar banyak-banyak.


Tak lama dari kejadian itu, kontan dalam waktu 24 jam benarlah hal yang serupa terjadi kepada saya. Menjadi melakukan sebuah kecerobohan yang fatal dalam pandangan saya.Yang kalau dipikir-pikir lagi, kok bisa ya begitu? Simpel kasusnya, saya kirim pesan undangan untuk menghadiri syukuran ulang tahun anak saya, tapi entah kenapa di undangan itu tanggalnya tertera sehari lebih cepat. Dan yang lebih aneh lagi saya baru sadar bahwa tanggal itu tidak sama ketika keluarga itu sudah berada di depan pintu mengetuk pintu rumah kami sementara pesta ulang tahunnya sebenarnya baru besok diadakan. Padahal saya selalu check and recheck and confirm everything.


Jadi bisa dibayangkan campur aduknya perasaan saya. Merasa bersalah, also feels reckless and stupid at the same time. Nano-nano rasanya! Kemudian saya ingat episode singkat saya mentertawakan kesalahan orang lain itu sambil mencibir di hati, kok dia bisa sebloon itu. Eh, taunya keesokan hari saya sempat dibuat jadi bloon...😷 Astaghfirullah Gusti🙏

Friday, April 15, 2022

 Pandemi serasa sudah lewat

Sebuah pengingat kematian yang dialami masyarakat sedunia


Padahal yang namanya kematian kapan saja bisa menjelang

Sedang tidur, mengendara, sedang bekerja, syukur-syukur malaikat maut datang saat sedang ibadah, jangan sampai ia datang saat kita sedang bermaksiat. Na'udzubillah.


Baru pertengahan Ramadhan, orang sudah ribut tentang persiapan lebaran

Rasanya kurang elok, seperti membincangkan kedatangan tamu lain yang akan datang di depan tamu yang sedang ada di depan mata.


Jelang lebaran, memang membuat banyak orang tenggelam dalam kesibukan

Ngurus parcel, pesenan makanan, rencana mudik dll.


Padahal justru anugerah Ramadhan terletak di 10 malam terakhir yang kebanyakan orang sudah kadung sibuk dengan shopping alih-alih beritikaf dan melakukan tafakur.


Lailatul qadar itu turun di akhir Ramadhan

Momen Nuzulul Quran pun demikian


Ada kunci-kunci ihwal penemuan diri yang hanya didapat oleh mereka yang benar-benar membutuhkan dan mencarinya


Agar hidup menjadi lebih bermakna

Agar kita bisa membaca musibah dan penderitaan yang menimpa sebagai sebuah wujud rahmatNya

Agar hati tak terlalaikan oleh perniagaan dunia 


Fokus yang tepat sejak sekarang

Agar tidak menyesal di akhir nanti

 Tidaklah kita ditimpa oleh sebuah kesulitan atau mendapatkan sebuah kegembiraan kecuali semua itu Allah izinkan.

Tidaklah pasangan kita dibuat berbuat demikian, kecuali Allah izinkan.
Tidaklah orang tua kita berperilaku seperti itu kecuali Allah izinkan.
Tidaklah anak kita bertingkah seperti itu kecuali Allah izinkan.
Tak ada satupun titik dalam kehidupan yang tak terjamah oleh ilmu dan izin-Nya.
Tak pula apa yang menimpa tetangga kita.
Tak pula apa yang terjadi di pekerjaan kita.
Apalagi yang terjadi dalam diri sendiri, yang kita anggap dalam kendali sendiri.
Semua yang mewujud tak lain adalah sebuah ketukan dari langit. Saat Dia ingin memperkenalkan setahap demi setahap ihwal siapa Diri-Nya.
Tapi, kebanyakan hanya terpaku pada fenomena yang terjadi.
Yang tersisa hanya kekesalan pada orang lain atau marah dengan keadaan.
Hatinya masih buta untuk melihat bahwa itu semua rahmat semata dari Allah Ta'ala.

Wednesday, April 13, 2022

 Pengalaman dulu saat bekerja di perusahaan keluarga, kalau keputusan itu datang dari si empunya perusahaan, seabsurd apapun kebijakanitu ya sudah terima saja dan jalankan sebaik-baiknya. Lha wong dia yang punya dan kita numpang cari makan. Bener nggak?


Mentalitas yang sama sebenarnya penting juga untuk dibangun. Kalau Allah mengizinkan sebuah ketetapan dan peristiwa terjadi. Ya sama,  terima saja dan jalankan. 

Berkeluh kesah dan misah-misuh tak akan menolong. Toh ketetapan-Nya yang tetap akan berjalan.

Mendingan kita terima dengan ridho dan ikhlas.

Lebih ringan menjalaninya...

 Dulu sempat didoktrin waktu belajar agama di bangku SMA.


"Pokoknya de, tujuan kita hidup adalah meraih ridho Allah"


Waktu saya tanya lebih lanjut apa sih maksudnya ridho Allah itu, jawabannya kemana-mana sampai tak berbekas di hati. Dari jawaban kewajiban mengerjakan seluruh syariat sampai jawaban yang bersifat utopia seperti mendirikan khilafah Islam, sambil membangunkan nostalgia masa kejayaan Islam zaman dulu. Duh, kayanya kok jauh dari apa yang saya hadapi dalam keseharian. Itu yang saya rasakan saat itu.


Sementara yang saya butuhkan adalah jawaban praktis atas dimana ridho Allah ketika saya harus rajin belajar saat itu, that kepada orang tua. Bagaimana meraih ridho Allah kemudian setelah berumah tangga, melepas karir dan tenggelam mengurus anak.


Maka saya bersyukur bisa menemukan guru ngaji yang memberikan jawaban jitu ihwal apa ridho Allah itu.


Begini formulanya, sangat sederhana:

Jika kita ridho kepada semua hal yang Allah timpakan kepada kita, itu adalah tanda Allah sedang meridhoi kita.


As simple as that.


Andai kira ridho dengan ketetapan-Nya, ridho dengan takdir-Nya, ridho dengan pembagian dari-Nya, maka berbahagialah. Itu tanda kita mendapatkan ridho-Nya.