Semalam suhu dingin sekali. Pokoknya males deh keluar. Stay inside, keep yourself warm. Tapi perempuan perkasa ini sudah tiga kali bulak-balik menjemput orderan. Dia bekerja mengantarkan makanan. Sekali ambil dua atau tiga order lalu meluncur naik sepeda menembus dingin lengkap dengan jaket tebal, sarung tangan anti air dan syal lembut yang menutupi sebagian wajahnya.
Pas datang ketiga kalinya, tampak pipinya kemerahan, nafasnya tersengal-sengal. Sambil sesekali menggosok-gosokkan kedua tangannya karena dingin dengan rambut berwarna coklatnya yang menyembul dari sela-sela topi musim dingin. Dia menunjukkan nomor order dari telepon genggamnya yang dibalut oleh plastik biasa untuk melindungi dari air. Saat saya pegang teleponnya dingiiin sekali. Seperti memegang es. Saya lihat bibirnya juga gemetaran dan pucat. Dia pasti kedinginan.
“Do you want something to drink or something to eat to warm you up while we are preparing your order?”
Dia tampak tertegun beberapa detik. Tapi kemudian mengangguk dan berkata,
“Just give me drink without sugar please”
Dengan aksen Eropa Timur yang kental.
“How about food?” Tanya saya lagi.
Dia menggeleng sambil tersenyum dan berkata sopan, “No, thank you.”
Lalu saya siapkan pesanannya sesegera mungkin. Dan saat memberikan kepada perempuan itu, dia menyerahkan sendok kayu baru yang dibalut plastik sambil berkata,
“This is for you. You are so kind, nobody ever offered me drink like you do”
Sendok kayu itu ternyata adalah salah satu barang dagangannya yang selalu dia bawa kemana-mana.
Malam itu masih dingin. Tapi sebuah percakapan dari hati ke hati somehow membuatnya jadi hangat…❤️

No comments:
Post a Comment