(Paris, January 2026)
What if, what it seems as a confusion is actually a clarity. A wake up call from the dream that you thought was real.
***
Kadang, ada saat dalam kehidupan dimana rencana kita dibuat gagal, hal-hal yang kita anggap sumber kesuksesan kita malah berbalik menjadi sumber masalah, sesuatu yang biasanya kita andalkan berbalik menjadi mengancam kita. Apapun itu, seperti dunia dijungkirbalikkan seratus delapan puluh derajat. Sedemikian rupa membuat kita merasa kehilangan arah dan tujuan hidup. Bahkan bisa sampai pada suatu titik merasa diri tak berharga lagi saking digempur oleh banyak ujian, kegagalan dan kesulitan yang demikian mencengkeram. Kita dibuat bingung dan tak berdaya...
Itulah fase kehidupan. Selalu dipergantikan siang dan malam. Roda terus berputar, tak selamanya kita di atas dan tak selamanya kita di bawah. Secara alami, tubuh kita senantiasa berganti. Sel-sel tubuh mati dan diganti rata-rata setiap hitungan empat puluh hari. Itu sehat. Itu yang alami. Maka ketika sesuatu hal "dimatikan", dihentikan, ditarik dan diambil kembali oleh Yang Maha Kuasa, sebenarnya tak perlu meronta-ronta, yakini bahwa Dia akan memberi sesuatu dengan yang lebih pas, yang lebih baik. Karena natur akal jiwa kita akan terus bertumbuh mestinya dalam hidup. Dan sebagaimana tanaman yang tumbuh, dia akan terus membutuhkan ruang yang lebih besar dan lebih besar lagi untuk mendukung pertumbuhannya. Maka apapun yang ditakdirkan berakhir di saat ini, bisa jadi sebuah arahan dari-Nya untuk memandu kita ke warna kehidupan yang lebih baik. Sesuatu yang lebih pas buat identitas jiwa kita. Sebuah hidup yang sejati yang kita banget. Bukan sekadar menjalani hidup atau menghabiskan waktu dan usia dengan hal-hal yang memang rasanya "comfortable", tapi sebenarnya tidak begitu mengisi jiwa kita. Karena manusia cenderung merasa nyaman menjalani rutinitas yang dia rasa aman. Padahal potensinya tidak berkembang optimal di sana. Allah Maha Tahu itu, kita yang kerap terbuai oleh waham hidup nyaman. Yang sebenarnya nyaman untuk hawa nafsu dan sangat menggelisahkan buat jiwa karena sejak awal sang jiwa hanya berhasrat mengenal Allah.
You just need to take the leap of faith.
Butuh keberanian untuk keluar dari comfort zone dan menapaki jalan yang baru. Tapi kalau Allah yang memerintahkan dan memberi petunjuk serta membukakan jalannya, bismillah saja, serahkan semua pengaturan kepada Allah dan jelang keajaiban demi keajaiban di sepanjang jalan.
Jadi, jangan berkecil hati saat hidup rasanya stuck dan gagal. Coba lihat dari sudut pandang lain. Bahwa ini cara Allah menunjukkan kepada kita bahwa ada jalan lain yang lebih pas (thayyib) bagi diri kita dimana di jalan itu rezeki langit dan bumi (anna dan salwa)nya melimpah. Bismillah, jalani saja dan senantiasa meminta pertolongan Allah dengan sabar dan shalat. []
Amsterdam, Monday, 9 Februari 2026 / 21 Sya'ban 1447 H
Cloudy day in cold early spring. 13.53

No comments:
Post a Comment