Seseorang datang kepada Rasulullah dalam kesakitan dan mengeluh kepada beliau,
"Ya Rasulullah, aku dianiaya dan dipukul."
Nabi menjawab dengan nada tegas, "Ketahuilah bahwa umat yang dahulu sungguh berat siksaannya, mereka disiksa dengan ditarik tubuhnya dari segala arah hingga putuslah ia, atau diikat dengan ikat baja hingga lepas daging dari tulangnya. Bersabarlah!"
Diperlukan modal keberanian bagi siapapun yang menempuh suluk. Berani untuk menanggung kesempitan, bencana dan keguncangan dalam hidup yang semuanya sebenarnya berfungsi untuk membersihkan diri kita di dunia ini. Pada akhirnya semua orang akan memasuki fase pembersihan-Nya, hanya ada yang diproses sejak dalam kehidupan dunia dan berani menghadapinya dengan sabar dan ada yang diproses di alam selanjutnya dengan konsekuensi kehilangan momen melakukan amal shaleh di dunia.
Orang yang berani bukan berarti orang yang berotot, atau orang yang ilmunya tinggi dan petantang-petenteng, akan tetapi mereka yang berani adalah mereka yang bersabar dan menjalani setiap fase kehidupan yang Allah takdirkan dengan hati yang sabar dan syukur. Ia berani untuk tidak mudah berkeluh kesah. Ia berani untuk tidak berhenti dalam perjalanan karena dirasa terlalu berat. Ia berani untuk menegakkan perintah-Nya saat yang lain melawannya. Dia juga berani untuk menerima kenyataan bahwa dirinya salah dan perlu perbaikan. Sungguh memulai perjalanan panjang ini membutuhkan kualitas orang yang pemberani. Sebagaimana seorang shiddiqiin berkata, ada 5 K , kunci untuk bertemu diri :
1. Keberanian
2. Ketabahan
3. Keuletan
4. Kemampuan
5. Kesabaran
(Disajikan ulang dari Kajian Hikmah Al Quran yang disampaikan Zamzam AJT, 21 Januari 2006)
Showing posts with label dunia. Show all posts
Showing posts with label dunia. Show all posts
Thursday, August 15, 2013
Monday, August 5, 2013
Inilah Medan Perang Kita
Dan apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga ?
Sementara kepadamu belum datang sesuatu semisal yang telah menimpa orang-orang yang sebelummu. Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan dan diguncangkan...
(QS Al Baqarah:214)
Ayat ini memang turun berkaitan dengan peperangan yang terjadi di zaman Rasulullah saw. Namun Al Quran juga berlaku kontekstual sesuai dengan zamannya. Kita memang tidak sedang hidup di tengan peperangan pada saat sekarang, namun sekian bentuk ujian kehidupan yang merupakan malapetaka, kesengsaraan dan mengguncangkan hati kita masing-masing tak luput kita hadapi.
Ada yang diuji dengan sakit fisik bertahun-tahun, ada yang diuji dengan kelakuan anaknya, ada yang diuji dengan hubungan dalam rumah tangga, ada yang guncang oleh kematian orang terdekatnya, ada yang dibuat pontang-panting mencari rezeki, ada yang menunggu jodoh yang tak kunjung tiba, ada yang dibuat tidak betah dengan pekerjaan dsb. Semua itu adalah medan perang yang kita hadapi sehari-hari. JIhad akbar kita terletak pada penyikapan yang terbaik dalam menyongsong setiap takdir yang Allah Taála tetapkan. []
(Disajikan ulang dari materi Kajian Hikmah Al Quran, yang disampaikan oleh Zamzam AJT, 7 Januari 2006)
Sementara kepadamu belum datang sesuatu semisal yang telah menimpa orang-orang yang sebelummu. Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan dan diguncangkan...
(QS Al Baqarah:214)
Ayat ini memang turun berkaitan dengan peperangan yang terjadi di zaman Rasulullah saw. Namun Al Quran juga berlaku kontekstual sesuai dengan zamannya. Kita memang tidak sedang hidup di tengan peperangan pada saat sekarang, namun sekian bentuk ujian kehidupan yang merupakan malapetaka, kesengsaraan dan mengguncangkan hati kita masing-masing tak luput kita hadapi.
Ada yang diuji dengan sakit fisik bertahun-tahun, ada yang diuji dengan kelakuan anaknya, ada yang diuji dengan hubungan dalam rumah tangga, ada yang guncang oleh kematian orang terdekatnya, ada yang dibuat pontang-panting mencari rezeki, ada yang menunggu jodoh yang tak kunjung tiba, ada yang dibuat tidak betah dengan pekerjaan dsb. Semua itu adalah medan perang yang kita hadapi sehari-hari. JIhad akbar kita terletak pada penyikapan yang terbaik dalam menyongsong setiap takdir yang Allah Taála tetapkan. []
(Disajikan ulang dari materi Kajian Hikmah Al Quran, yang disampaikan oleh Zamzam AJT, 7 Januari 2006)
Sunday, July 28, 2013
Kapan Datangnya Pertolongan Allah?
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, dan diguncang (dengan berbagai cobaan) sehingga rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata 'Kapankah datang pertolongan Allah?'Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.
(QS Al Baqarah [2]: 214)
(QS Al Baqarah [2]: 214)
Ayat ini memang berkaitan dengan
peperangan di zaman Rasulullah, terutama dengan perang Badar, tapi ayat ini juga berlaku untuk kita semua di setiap keadaan, jadi bukan hanya pada
zaman Rasulullah saw atau pada sebuah zaman dimana peperangan terjadi secara
fisik.
Dalam di ayat ini disebutkan yang bertempur adalah kaum mukminin dan kaum
kafirin, istilah 'ummat' bisa juga
melekat dalam masyarakat, bisa juga dalam sebuah insan, bisa juga dalam sebuah
keluarga.
Adapun tafsir Ibnu Arabi tentang ayat ini adalah :
Apakah
kalian mengira akan memasuki surga tajali al jamal padahal belum datang kepada
kalian keadaan orang yang telah terdahulu sebelum kalian, yakni mereka yang
disentuh oleh malapetaka ketertinggalan dan tajrid atau penanggalan, dan al
faqr - dan al istiqar.
Yaitu suatu kesulitan atau kesengsaraan dalam mujahadah
dan riyadhoh, dan pecahnya an nafs atau jiwa dengan ibadah, keterguncangan
karena kerinduan, dan mahabbah dari tempat berdiamnya nafs-nafs mereka, agar
Dia menzahirkan apa-apa yang ada di dalam istidaad mereka dengan suatu kekuatan
(al quwwah) hingga berkata ar rasul dan orang-orang yang beriman besertanya ‘kapan
datangnya pertolongan Allah’, artinya hingga mereka merasakan suatu
kejenuhan/kelelahan yang disebabkan oleh panjangnya keterhijaban dan banyaknya
jihad yang dilakukan karena keterpisahan (al hiraq), dan hilangnya kesabaran
mereka untuk musyahadah al jamal dan dzauq al wishal . Dan mereka meminta
pertolongan Allah dengan tajali atas kedalaman sifat-sifat nafs mereka.
Dan mereka
menghendaki dengan bala/musibah tersebut sebuah hijron (penghijrahan) dan
menjadikan mereka merasakan sebuah keterpisahan karena kuatnya mahabbah.
Ibnu Arabi berkata, bagaimana dengan jalan selain
mereka?
Artinya yang menuju Allah itu akan ditempa dengan bala bencana, nah
bagaimana dengan orang2-orangyang tidak mencari Allah? Maka Allah akan mengabulkan apa
yang mereka cari ketika telah habis kekuatan mereka. Kemudian makna bahwa
pertolongan Allah itu dekat artinya pengangkatan hijab-hijab dan tampilnya atau
mendhahirnya jejak-jejak al jamal.
(Dari catatan pengajian Hikmah Al Quran. Disampaikan oleh Zamzam AJT, 7 Januari 2006)
Wednesday, June 26, 2013
Bekal Menghadapi Kompleksitas Hidup
Kehidupan manusia tidak akan sama dari waktu ke waktu. Walaupun secara fenomena tampaknya menjalani rutinitas yang itu-itu saja, tetapi sebenarnya pengetahuan yang Allah tanamkan di setiap kejadian pada setiap detiknya tidaklah sama. Seorang manusia, apalagi seorang mukmin akan selalu dituntut meningkatkan pengetahuannya.
Rasulullah saw berpesan:
"Barangsiapa yang keadaan amalnya hari ini lebih jelek dari hari kemarin, maka ia terlaknat. Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia termasuk orang yang merugi. Dan barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia termasuk orang yang beruntung." (HR. Bukhari)
Maka Allah akan senantiasa meningkatkan kompleksitas kehidupan hamba-hamba yang mencari-Nya. Yang seringkali dipersepsikan dengan datangnya masalah dan ujian dalam pandangan kebanyakan manusia. Padahal Allah Ta'ala membacanya sebagai proses penyempurnaan iman dan pengangkatan derajat.
Untuk mengerti mekanisme penyempurnaan Allah Ta'ala melalui kehidupan yang kita jelang setiap harinya. Maka penting membekali diri dengan sebaik-baik pemahaman kepada Al Qur'aan, karena itu adalah murni kata-kata Allah Ta'ala. Barangsiapa yang mengaku dirinya pencari Allah, namun tidak akrab dengan Al Qur'aan maka sesungguhnya itu kebohongan semata! Masing-masing diri harus membuktikan benar bahwa Al Qur'aan memang berfungsi sebagai suatu syifaa (obat) dan mukjizat dalam kehidupan.
Sungguh waktu kita sangat terbatas di dunia ini, apabila kita masih menunda-nunda mempelajari Al Qur'aan, sungguh ini adalah suatu bentuk kesombongan yang nyata! Maka bangkitlah dari tidur kita, dan bergegaslah menempuh jalan-Nya. Jadikan Al Qur'aan menyatu dalam setiap nafas hidup kita. Karena mustahil kita bisa menempuh kehidupan dengan baik dan benar tanpa bimbingannya.
Wallahu'alambishawwab
(Disarikan dari beberapa pengajian Hikmah Al Qur'aan, Yayasan Islam Paramartha)
Monday, May 13, 2013
Membawa Benda Dunia Ke Akhirat
Perhatikan semua benda yang Allah berikan kepada kita, mulai dari pakaian yang menempel, pernak-pernik rumah tangga, kendaraan, gadget dan apapun yang ada dalam genggaman kita per hari ini.
Sesungguhnya di antara benda-benda itu ada yang benda yang membawa kebaikan bagi pemiliknya, ada yang membawa kemalangan di dunia atau ketika dihisab di akhirat kelak.
Seorang yang cerdas akan senantiasa menggunakan apapun yang Allah berikan dalam genggamannya sebesar-besarnya untuk beramal saleh, sehingga tidak ada satu benda pun yang mubazir, bahkan diri dan waktunya dia hitung betul agar mendatangkan manfaat dan kebaikan.
Maka mulailah menghisab diri sendiri sebelum dihisab di hari akhir yang sangat teliti perhitungannya, sadarilah bahwa apapun yang kita miliki walau itu sekedar vas bunga yang tergeletak di sudut rumah atau barang yang bahkan kita lupa memilikinya dan tertimbun di gudang, semuanya akan diminta pertanggungjawabanny, dari mana kita dapatkan, untuk apa kita gunakan.
Setiap barang yang kita gunakan dalam kebaikan akan bersaksi kelak di suatu hari dimana semua benda termasuk tubuh kita akan diberi kekuatan untuk berkata-kata. Jikalau itu terjadi, semoga mereka semua memberikan kesaksian yang baik kepada kita. Aamiin ya Rabb...
(Disajikan ulang dari pengajian Hikmah Al Quran, Zamzam AJT. 19 November 2005)
Amsterdam, 13 Mei 2013
1.58 pm
Sesungguhnya di antara benda-benda itu ada yang benda yang membawa kebaikan bagi pemiliknya, ada yang membawa kemalangan di dunia atau ketika dihisab di akhirat kelak.
Seorang yang cerdas akan senantiasa menggunakan apapun yang Allah berikan dalam genggamannya sebesar-besarnya untuk beramal saleh, sehingga tidak ada satu benda pun yang mubazir, bahkan diri dan waktunya dia hitung betul agar mendatangkan manfaat dan kebaikan.
Maka mulailah menghisab diri sendiri sebelum dihisab di hari akhir yang sangat teliti perhitungannya, sadarilah bahwa apapun yang kita miliki walau itu sekedar vas bunga yang tergeletak di sudut rumah atau barang yang bahkan kita lupa memilikinya dan tertimbun di gudang, semuanya akan diminta pertanggungjawabanny, dari mana kita dapatkan, untuk apa kita gunakan.
Setiap barang yang kita gunakan dalam kebaikan akan bersaksi kelak di suatu hari dimana semua benda termasuk tubuh kita akan diberi kekuatan untuk berkata-kata. Jikalau itu terjadi, semoga mereka semua memberikan kesaksian yang baik kepada kita. Aamiin ya Rabb...
(Disajikan ulang dari pengajian Hikmah Al Quran, Zamzam AJT. 19 November 2005)
Amsterdam, 13 Mei 2013
1.58 pm
Sunday, November 25, 2012
Para Kekasih Allah, Tidak Ada Kekhawatiran Pada Mereka
“Para kekasih Allah, tidak
ada kekhawatiran pada mereka dan tidak (pula)mereka berduka cita.”(QS Yunus [10]:62
Hati mereka bercahaya oleh keyakinan, sehingga keadaan mereka tidak
berubah walaupun ketika mendapat musibah. Setiap mereka mendapat kesulitan atau
kemudahan, rasa takut atau rasa aman, hina atau mulia, musibah atau kenikmatan,
mata hati mereka akan segera melihat bahwa hal yang menimpa mereka memang telah
tertulis dalam Lauh Mahfuzh
sebagaimana yang mereka alami saat itu, dan hal ini sudah menjadi ketetapan
dari Allah Swt. Dalam diri mereka tidak ada keinginan atau hawa nafsu yang
memberatkan mereka dalam menerima ketetapan Allah ini. Mereka menyambut
ketetapan-Nya dengan wajah yang riang gembira dan berseri-seri. Mereka adalah
orang-orang yang selalu rela dan bersabar
.
Kebalikan dari mereka adalah orang-orang yang menerima ketetapan
dari Allah dengan rasa tidak senang dan berat hati. Hal ini disebabkan karena
keinginan mereka masih kuat dan hidup dalam diri mereka, ditambah dengan
keyakinan yang lemah sehingga mereka tidak melihat adanya kehendak dan kasih
sayang Allah pada mereka dalam menetapkan perkara tersebut. Mereka tidak
merasakan adanya kenikmatan dalam menerima kehendak Allah ini. Kenikmatan
menerima kehendak (yang seharusnya mereka rasakan) telah bercampur dengan
pahitnya nafsu, sehingga kenikmatan tersebut lenyap terbawa pahitnya hawa
nafsu, sebagaimana halnya kamu menemukan pahitnya obat, lalu kamu mencampurnya
dengan madu atau gula dan sebagainya sehingga dapat mengalahkan rasa pahit
serta menghilangkannya.
Subscribe to:
Posts (Atom)