Tidak mudah membangun kecintaan (mahabbah) kepada Allah. Bagaimana kita mencintai sesuatu yang abstrak, yang tidak serupa dengan laki-laki atau perempuan atau dengan sesuatu apapun. Sungguh imajinasi pikiran kita terbatas dalam menjangkaunya. Sehingga kita butuh anugerah untuk bisa mencintai-Nya.
Beruntunglah kita diberi tuntunan di dalam Al Qurán mengenai hal ini yang tanpa ada keterangan ini para pencari Tuhan akan dirundung keputusasaan. Al Quran memandu Ïkuti aku (Rasulullah saw), niscaya Allah akan mencintaimu."Namun kemudian untuk mencintai sang Nabi juga tidak mudah, beliau adalah seorang nabi yang sederhana, tidak mendemonstrasikan mukjizat sedahsyat Nabi Isa atau Nabi Musa, beliau beristri banyak - isu yang merupakan hantaman besar bagi kebanyakan wanita. Mungkin kita mengklaim cinta Rasul di bibir saja karena kita sudah didoktrin sekian lama. Tapi apakah kita pernah membaca sejarah hidupnya dengan seksama dan memahami pribadinya? Kebanyakan orang masih harus bertarung untuk yang satu itu. Sekali lagi kita betul-betul butuh pertolongan-Nya.
(Disajikan ulang dari Kajian Hikmah Al Quran yang disampaikan Zamzam AJT, 7 Januari 2006)
Showing posts with label cinta. Show all posts
Showing posts with label cinta. Show all posts
Tuesday, August 6, 2013
Monday, August 5, 2013
Pedihnya Keterpisahan
"...hingga berkata ar rasul dan orang-orang yang beriman besertanya :
'kapan datangnya pertolongan Allah'"
(QS Al Baqarah 214)
Kejenuhan atau kelelahan yang terasa menyesakkan dada yang disebabkan oleh panjangnya keterhijaban dengan Allah Taála adalah suatu keniscayaan. Ayat di atas menggambarkan bahwa para rasul dan orang-orang beriman - suatu tingkatan manusia yang sudah lebih khusus - hingga menjerit hatinya setelah melalui jihad yang panjang dan lamanya keterpisahan, disitu kesabaran mereka mulai meluntur dan mereka menghendaki suatu penghijarahan ke kehidupan yang lebih baik, yang lebih dekat dengan-Nya.
Adapun rasa sakit yang mereka alami semata-mata timbul dari kuatnya mahabbah (cinta) mereka kepada Allah Taála.
(Disajikan ulang dari Kajian Hikmah Al Quran yang disampaikan oleh Zamzam AJT, 7 Januari 2006)
'kapan datangnya pertolongan Allah'"
(QS Al Baqarah 214)
Kejenuhan atau kelelahan yang terasa menyesakkan dada yang disebabkan oleh panjangnya keterhijaban dengan Allah Taála adalah suatu keniscayaan. Ayat di atas menggambarkan bahwa para rasul dan orang-orang beriman - suatu tingkatan manusia yang sudah lebih khusus - hingga menjerit hatinya setelah melalui jihad yang panjang dan lamanya keterpisahan, disitu kesabaran mereka mulai meluntur dan mereka menghendaki suatu penghijarahan ke kehidupan yang lebih baik, yang lebih dekat dengan-Nya.
Adapun rasa sakit yang mereka alami semata-mata timbul dari kuatnya mahabbah (cinta) mereka kepada Allah Taála.
(Disajikan ulang dari Kajian Hikmah Al Quran yang disampaikan oleh Zamzam AJT, 7 Januari 2006)
Sunday, November 25, 2012
Para Kekasih Allah, Tidak Ada Kekhawatiran Pada Mereka
“Para kekasih Allah, tidak
ada kekhawatiran pada mereka dan tidak (pula)mereka berduka cita.”(QS Yunus [10]:62
Hati mereka bercahaya oleh keyakinan, sehingga keadaan mereka tidak
berubah walaupun ketika mendapat musibah. Setiap mereka mendapat kesulitan atau
kemudahan, rasa takut atau rasa aman, hina atau mulia, musibah atau kenikmatan,
mata hati mereka akan segera melihat bahwa hal yang menimpa mereka memang telah
tertulis dalam Lauh Mahfuzh
sebagaimana yang mereka alami saat itu, dan hal ini sudah menjadi ketetapan
dari Allah Swt. Dalam diri mereka tidak ada keinginan atau hawa nafsu yang
memberatkan mereka dalam menerima ketetapan Allah ini. Mereka menyambut
ketetapan-Nya dengan wajah yang riang gembira dan berseri-seri. Mereka adalah
orang-orang yang selalu rela dan bersabar
.
Kebalikan dari mereka adalah orang-orang yang menerima ketetapan
dari Allah dengan rasa tidak senang dan berat hati. Hal ini disebabkan karena
keinginan mereka masih kuat dan hidup dalam diri mereka, ditambah dengan
keyakinan yang lemah sehingga mereka tidak melihat adanya kehendak dan kasih
sayang Allah pada mereka dalam menetapkan perkara tersebut. Mereka tidak
merasakan adanya kenikmatan dalam menerima kehendak Allah ini. Kenikmatan
menerima kehendak (yang seharusnya mereka rasakan) telah bercampur dengan
pahitnya nafsu, sehingga kenikmatan tersebut lenyap terbawa pahitnya hawa
nafsu, sebagaimana halnya kamu menemukan pahitnya obat, lalu kamu mencampurnya
dengan madu atau gula dan sebagainya sehingga dapat mengalahkan rasa pahit
serta menghilangkannya.
Subscribe to:
Posts (Atom)