Monday, September 14, 2015

Bagaimana Menjadi Pengikut Rasulullah SAW

Manakala Rasulullah SAW memulai tugas kenabiannya di Mekkah, masyarakat di sana sudah mulai menyembah 360 macam berhala yang mereka tempatkan di Ka'bah. Bahkan setelah Rasulullah dan para sahabat mulai gencar berdakwah di Mekkah dan Madinah tidak sedikit orang yang menolak mengikuti Islam. Namun apakah kemudian orang-orang yang menolak mengikuti jalan Rasulullah diasingkan?
Tidak sama sekali. Bukanlah tugas Sang Nabi untuk memecah belah masyarakat. Islam menyeru pengikutnya untuk tidak berbuat aniaya kepada mereka yang tidak memilih jalan yang sama. Islam memang menganjurkan para penganutnya untuk menyebarkan ajaran kebaikan ini dengan cara-cara yang baik karena Islam adalah kasih sayang, toleransi, dan pancaran berbagai sifat-sifat baik Allah Ta'ala.
Seperti halnya Sang Nabi yang mentransformasi para pengikutnya melalui kemilau cinta dan sifat-sifat rahmaniyyah (kasih sayang), masing-masing diri kita juga hendaknya mulai mentransformasi sifat-sifat jahat, keras, malas, kaku, dengki, amarah, sombong, keluh kesah dalam diri kita sendiri yang bercokol sekian lama di dalam ka'bah hati masing-masing. Hanya dengan cara demikian kita betul-betul bisa menjadi pengikut Rasulullah SAW dan menolong agama-Nya.
(Terjemahan dan adaptasi dari The Spread of Islam. Dalam Buku Islam & World Peace. Muhammad Raheem Bawa Muhaiyaddeen)

Friday, August 21, 2015

Kuat Menghadapi Ujian

Allah SWT memberi cobaan kepada para hamba-Nya, tidaklah berarti Allah Ta’ala benci, akan tetapi Allah Ta’ala menunjukkan kasih sayang dengan memperhatikan hamba yang dicoba itu.
Demikian pula Allah Ta’ala memberi kesempatan kepada para hamba untuk berikhtiar dengan sepenuh hati, agar segala yang menimpanya mendapat jalan keluar dengan pertolongan dan izin Allah semata.
Allah SWT berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 216, “…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.”

Thursday, August 13, 2015

Berserah Diri Adalah Pemberian Allah

"Barangsiapa yang akan dibimbing Allah ke Shiraathal Mustaqiim maka dada (shadr)-nya akan dilapangkan untuk berserah diri."
(QS Al An'aam: 12)
Jadi bahkan kemampuan seseorang berserah diri itu karunia Allah,
artinya telah datang cahaya Allah yang melapangkan shadr.
Barangsiapa yang rela berada dalam pengaturan sang Rabb berarti telah dilapangkan dadanya, karena kalau seseorang tidak berserah diri kepada Allah Ta'ala maka sia-sia petunjuk turun.
Padahal setiap harinya kita memohon ditunjuki ke Shiraathal Mustaqiim (ihdinaashhiraathal mustaqiim - QS Al Faatihah).
Karena itu suluk melatih seseorang untuk fana, mematikan kehendak diri untuk menselaraskan diri dengan karsa-Nya.
(Disajikan ulang dari pengajian Hikmah Al Qur'aan yang disampaikan oleh Zamzam A.J.T)

Wednesday, August 12, 2015

Al Qur'aan Kitab Abadi

Qur'an mengandung hukum-hukum dan kata-kata Tuhan.
Musim mungkin berubah, dunia mungkin berubah, tapi Tuhan dan kata-kataNya
tidak akan berubah-ubah.

Bergantung pada keadaan dunia pada saat itu, kata-kata dalam qur'an akan
terus menyesuaikan dirinya untuk saat tersebut. Maka,setiap kali seseorang
membuka Qur'an, tidak peduli pada masa apapun ia sedang berada, dia akan
bisa mendapatkan jawaban yang dia perlukan. Akan dia temukan penjelasan
rahasia yang dia butuhkan. Tergantung pada tingkatan di mana dia berada
ketika seseorang membuka Qur'an, dia akan menemukan Qadha wal Qadar yang
paling sesuai bagi kondisinya, demikian pula semua takdir dan nasibnya.

- M.R. Bawa Muhaiyaddeen

Kemampuan Manusia Untuk Menyerap Cinta Tertinggi

Ibnu 'Arabi dalam salah satu bab tentang cinta (mahabbah) dalam kitab Futûhât al-Makkiyya menyebutkan beberapa ayat Al Qur'an yang berkata tentang cinta, di semua ayat tentang cinta obyek yang Allah bicarakan adalah manusia. Demikianlah, cinta membedakan manusia dengan makhluk ciptaan Allah lainnya.
Ketika lebih lanjut berbicara tentang cinta, ada dua hadits yang syaikh Ibnu 'Arabi sertakan:
"Aku adalah Khazanah Tersembunyi (Khanzun Mahfiy), dan Aku rindu untuk dikenal.
Lalu Aku ciptakan alam ciptaan sehingga Aku dikenal."
(Hadits Qudsiy)
“Sesungguhnya Allah ta’ala telah berfirman: ‘Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka sesungguhnya Aku menyatakan perang terhadapnya. Hamba-Ku senantiasa (bertaqorrub) mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu (perbuatan) yang Aku sukai seperti bila ia melakukan yang fardhu yang Aku perintahkan kepadanya. Hamba-Ku senantiasa (bertaqorrub) mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka jadilah Aku sebagai pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, sebagai penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, sebagai tangannya yang ia gunakan untuk memegang, sebagai kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti akan Aku berikan kepadanya." (HR. Bukhari).
(Kutipan dan terjemahan dari "The Divine Roots of Human Love. William Chittick. Journal of the Muhyiddin Ibn 'Arabi Society, Volume 17, 1995.)

Tiga Tahapan Keikhlasan


Ibnu 'Arabi menjelaskan terdapat tiga tahapan keikhlasan yang terkandung di dalam surat Al Fatihah.
Yang pertama, keikhlasan kebanyakan orang yang dinyatakan dalam ayat "Iyyakana' budu..." (hanya kepada Engkau kami beribadah). Diperlukan kualitas keikhlasan awal untuk menjadi golongan yang disebut dalam ayat tersebut, ikhlas dalam niat dan amal.
Yang kedua, golongan yang memiliki keikhlasan lebih, yaitu mereka yang disebut dalam ayat "...wa iyya kanasta'iin" (dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan). Keikhlasan yang mereka miliki terpancar dalam sikap, tindakan, kebiasaan, karakter hidup yang hanya bergantung kepada Allah Ta'ala.
Golongan ketiga disebut sebagai mereka yang khusus dari yang khusus (elite of the elite). Yaitu mereka yang dengan kesabarannya menjadi sangat harmoni dengan aliran qadha dan qadarnya, karena hati mereka menjadi terbuka dalam menerima tahap demi tahap pengajaran Ilahiyah. Yaitu mereka yang berdo'a "Ihdina shiraathalmustaqiim" (tunjukilah kami kepada shiraathal mustaqiim)
-Terjemahan bebas dari "The Qur'an - A Biography' by Bruce Lawrence (2006), pp. 110-113

Tuesday, August 11, 2015

Berkecimpung Di Dunia Tanpa Terbasahi

"Zuhud adalah engkau mencintai sesuatu yang dicintai oleh Khaaliq-mu dan engkau membenci sesuatu yang dibenci oleh Khaaliq-mu. Engkau meninggalkan yang halal dari dunia sebagaimana engkau meninggalkan yang haramnya, sebab yang halalnya pasti akan dihisab dan yang haramnya pasti akan mengundang azab.

Engkau menyayangi kaum muslimin, sebagaimana engkau menyayangi dirimu sendiri. Engkau memelihara diri dari perkataan-perkataan yang tiada membawa manfaat bagimu, sebagaimana engkau memelihara diri dari perkataan-perkataan yang haram. Engkau memelihara diri dari banyak makan, sebagaimana engkau memelihara diri dari memakan bangkai yang amat busuk.

Engkau memelihara diri dari aneka macam kesenangan dunia dan perhiasannya, sebagaimana engkau memelihara diri dari panasnya api. Dan engkau tidak panjang angan-angan di dunia, inilah arti zuhud yang sebenarnya".

(Hadts Nabi saw riwayat Ad-Dailami)

"Zuhud di dunia itu bukanlah engkau mengharamkan yang halal, dan bukan pula engkau menyia-nyiakan hartamu. Zuhud di dunia itu adalah engkau tidak menggantungkan diri pada sesuatu yang ada pada tanganmu, tetapi engkau lebih percaya pada sesuatu yang ada pada Tangan Allah. Juga engkau lebih banyak mengharapkan turunnya Rahmat Allah pada saat ditimpa oleh musibah, dan engkau lebih senang menerima musibah, sekalipun musibah itu menimpamu seumur hidupmu" (Hadits Nabi saw riwayat At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dari Abu Dzaar ra.)

Dalam hadits juga dikatakan "Barangsiapa yang tidak mencintai dunia pasti dicintai Allah."
Barangsiapa yang mengenal dunia pasti membencinya.
Barangsiapa yang mengenal Allah pasti mencintainya, pasti jatuh cinta kepada Allah.
Jadi, tidak ada obat yang lebih ampuh untuk zuhud kecuali ilmu tentang Allah, karena itu adalah obat untuk tidak mencintai dunia.
Kadang dalam situasi yang ekstrim seorang zahid bisa jadi meninggalkan dunia karena khawatir mencintainya.

Adapun zahid sejati adalah ia yang menyelam di lautan tapi tidak terbasahi. Seperti Nabi Sulaiman a.s. yang hartanya sangat banyak tapi ia tidak mencintai hartanya, sehingga datang dan hilangnya sama saja. Bukan juga zahid yang meninggalkan dunia karena membencinya, sehingga begitu saja menyepi dari manusia dan menelantarkan amanah yang Allah Ta'ala berikan, []