Wednesday, May 10, 2017

Semua Akan Tiba Pada Saatnya

Semua hal yang Allah janjikan kepada manusia akan datang seusai dengan waktu yang telah Allah tetapkan dalam takaran keadilan-Nya yang sangat presisi.

Jodoh akan datang, rejekinya akan dijelang, setiap hal yang sebetulnya telah dituliskan akan diterima oleh anak Adam sejak jiwa dan ruhnya ditiupkan ke dalam rahim sang ibu ketika dalam janin yang berusia 120 hari.

Maka sepatutnya tidak perlu bercemas hati dan takut akan lepasnya ketetapan rejeki yang ada, akan tetapi justru takutlah hati belum siap saat ketetapan itu datang yang kemudian menjadikan seseorang tidak sabar dan luput bersyukur.

Lalu apa yang harus dipersiapkan menjelang turunnya ketetapan Allah itu?
Taubat yang baik, istighfar yang banyak, perbanyak ibadah sunnah dan bergegaslah beramal sholeh, kemudian bersihkan hati menjelang setahap demi setahap karunia-Nya, setidaknya syukuri dulu sehembus nafas yang masih Dia berikan.

(Adaptasi dari Kajian Hikmah Al Quran yang disampaikan oleh Zamzam AJT- Mursyid Penerus Thariqah Kadisiyah, 6 Mei 2017)


Monday, May 8, 2017

Menahan Keinginan

Kita hidup di era infobesity (obesitas informasi) dimana seribu satu macam informasi dapat kita serap hanya dengan menggerakkan ujung jari kita. Sebagaimana halnya terlalu banyak mengkonsumsi makanan akan membuat obesitas (kegemukan) dan tidak sehat maka overload informasi yang kita telan bulat-bulat tanpa filter membuat pikiran kita tidak fokus dan cenderung reaktif.
Berkaitan dengan keinginan, banjir informasi akan membuat hawa nafsu makin menggurita dan keinginan menjadi menggebu-gebu, hal-hal yang kita baca, dengar dan tonton akan menjadi gerbang masuknya pengaruh dunia luar ke dalam diri kita dan memberi makanan kepada sang syahwat hingga ia bisa meraksasa sedemikian rupa sehingga seseorang sulit membedakan mana kebutuhan dan keinginan dalam hidup.
Belajar menunda dan menguji keinginan penting untuk menyaring suara hati. Rasulullah Saw bersabda "Waktu berkunjung tamu adalah tiga hari". Setiap saat tamu-tamu berupa keinginan menembus masuk ke dalam pikiran kita, maka jangan langsung direspon, amati saja dulu selama tiga hari. Kalau ia hanya tamu yang berupa keinginan sesaat pasti hati kita bisa mulai membaca bahwa itu hanya sesuatu yang berasal dari hawa nafsu.
JURUS 3 K
Kemudian ukur apakah sesuatu itu dalam jangkauan kita atau tidak dengan 3 K :
1. Keinginan
2. Kesempatan
3. Kemampuan
Misalnya kita ingin ganti mobil, bisa jadi keinginan ada, kesempatan ada tapi kemampuan masih terbatas, maka jangan paksakan dengan menggali lubang jika memang mobil yang ada masih bisa dipakai. Hidup bersahaja lebih baik daripada memaksakan diri bermewah-mewah tapi berhutang. “Jiwa seorang mukmin masih bergantung dengan hutangnya hingga dia melunasinya.” (HR. Tirmidzi no. 1078).
Contoh lain seorang ibu ingin bekerja, juga ada kemampuan untuk bekerja namun ia masih bertugas mengurus anak-anaknya yang balita, maka faktor kesempatan belum dimiliki pada saat itu.
Dengan jurus sederhana 3K ini kita bisa belajar mengukur kadar diri sebagai bagian dari mengenal qadha dan qadar-Nya.
"Tidak akan ada kebaikan bagimu hingga kau dapat mengenal dirimu sendiri, menahan bagian keinginannya dan menunaikan hak-haknya. Pada saat itu, ketenangan akan masuk ke dalam hatimu, ke dalam batinmu, lalu menuju Allah."
- Syaikh Abdul Qadir Jailani

Sunday, May 7, 2017

Malapetaka Bagi Yang Tidak Menggunakan Akal

وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تُؤْمِنَ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَيَجْعَلُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ

Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan(ar rijsa) kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.

(QS Yunus [10]:100)

'Ar rijsa; rijsun' artinya keburukan, sebuah perbuatan buruk dari amaliyah setan. Dalam Al Quran kata 'rijsun' juga berkaitan dengan zina dan judi. Di sisi lain kesulitan yang dihadapi seseorang bisa jadi bagian dari 'rijsun', yaitu saat seseorang tidak paham dengan takdir yang dihadapi dan cenderung mengeluh bahkan marah hingga mengutuk takdirnya. Saat seseorang dibuat limbung dang bingung dengan dinamika hidup di dunia, maka pada prinsipnya sang hamba sedang tertimpa 'ar rijsa'.

Kunci keluar dari malapetaka kehidupan ada dalam ayat di atas:
"Allah menimpakan kemurkaan(ar rijsa) kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya."

Artinya seorang manusia harus mengaktivasi akal dalamnya - bukan sekadar berkutat dengan akal pikiran otaknya semata, yang itupun kerap belum optimal digunakan.
Pada saat yang bersamaan ayat itu juga berkata bahwa obat dari segala kesulitan hidup kita ada di dalam kesulitan hidup itu sendiri, jika saja kita mau dan tekun memohon pertolongan kepada Allah Ta'ala agar ia berkenan menyingkapkan hikmah dan menyematkan sabar dan syukur dalam hati hamba-Nya yang fakir.

(Adaptasi dari Kajian Al Hikam yang disampaikan oleh Zamzam AJT, Mursyid Thariqah Kadisiyah, 26 Februari 2017)



Thursday, May 4, 2017

Rezeki Tak Terduga

Seseorang yang Allah kehendaki dekat dengan-Nya tidak akan lepas dari berbagai ujian kehidupan yang membuat hatinya menjerit kepada Sang Pencipta. Tiba-tiba dibuat masalah di pekerjaan, sekonyong-konyong diri atau keluarganya ditimpa penyakit atau kesulitan, semua rencana yang telah rapih disusun bertahun-tahun dalam sekejap berantakan. Apapun itu Allah Ta'ala punya seribu satu skenario untuk menyalakan iman dalam hati sang hamba yang dengannya akal batinnya berfungsi dan sang insan mulai bisa membaca goresan takdir kehidupan. Melalui kesulitan itulah sang hamba menjadi berinteraksi lebih dekat dengan Allah Ta'ala dan belajar mendapatkan jalan keluar dari hal yang tidak disangka-sangka yang sebenarnya sudah disiapkan oleh Sang Pemberi rezeki.

Wednesday, May 3, 2017

Tentang Meminta Maaf


Kontroversi apakah dalil meminta maaf sebelum ramadhan didasari dalil yang shahih atau tidak adalah lagu lama dari tahun ke tahun, setelah itu biasanya nanti ada perdebatan lagi pas lebaran ngga ada dalilnya bilang "mohon maaf lahir dan batin".

Ada berbagai sisi dalam memandang keberagamaan, dan sisi syariat hanya satu pilar dari tiga pilar yang diterangkan dalam hadits shahih mengenai tiga pilar beragama sbb :

“Suatu ketika, kami (para sahabat) duduk di dekat rasululah S.A.W. Tiba-tiba muncul kepada kami seorang lelaki mengenakan pakaian yang sangat putih dan rambutnya amat hitam. Tak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Ia segera duduk di hadapan nabi, lalu lututnya disandarkan kepada lutut nabi dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua paha nabi,
Kemudian ia berkata: “Hai, Muhammad! Beritahukan kepadaku tentang Islam.” Rasulullah S.A.W menjawab, ”Islam adalah, engkau bersaksi tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan shalat; menunaikan zakat; berpuasa di bulan Ramadhan, dan engkau menunaikan haji ke Baitullah, jika engkau telah mampu melakukannya,” lelaki itu berkata, ”Engkau benar,” maka kami heran, ia yang bertanya ia pula yang membenarkannya.”
Kemudian ia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang Iman”. Nabi menjawab, ”Iman adalah, engkau beriman kepada Allah; malaikatNya; kitab-kitabNya; para RasulNya; hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk,” ia berkata, “Engkau benar.”
Dia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang ihsan”. Nabi S.A.W menjawab,”Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya. Kalaupun engkau tidak melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu.”
Lelaki itu berkata lagi: “Beritahukan kepadaku kapan terjadi Kiamat?” Nabi menjawab, ”Yang ditanya tidaklah lebih tahu daripada yang bertanya.” Dia pun bertanya lagi : “Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya!” Nabi menjawab, ”Jika seorang budak wanita telah melahirkan tuannya; jika engkau melihat orang yang bertelanjang kaki, tanpa memakai baju (miskin papa) serta pengembala kambing telah saling berlomba dalam mendirikan bangunan megah yang menjulang tinggi.”
Kemudian lelaki tersebut segera pergi. Aku pun terdiam, sehingga nabi bertanya kepadaku: “Wahai, Umar! Tahukah engkau, siapa yang bertanya tadi?” Aku menjawab, ”Allah dan RasulNya lebih mengetahui,” Dia bersabda, ”Dia adalah Jibril yang mengajarkan kalian tentang agama kalian.”
— HR. Muslim no.8


Aspek fiqih yang mengupas apakah shahih atau tidak suatu hadits berkutat dalam pilar islam, sedangkan bicara agama ada aspek batiniah lain yang menyangkut iman dan ihsan yang kerap luput dipertimbangkan. Akhirnya banyak orang menjadi ribut memperbincangkan ibadah lahiriah semata dan sedihnya kerap kali berujung kepada perpecahan dan penghancuran dua pilar agama lainnya.

Tentang meminta maaf, pada dasarnya setiap hari kita wajib meminta maaf kepada Allah, kepada orang-orang terdekat kita apalagi kepada mereka yang pernah kita sakiti. Karena kita tidak pernah tahu apakah hari itu akan menjadi jatah terakhir kita hidup di dunia. Jika kemudian banyak orang membangun tradisi meminta maaf sebelum datangnya bulan suci Ramadhan yang merupakan bulan ampunan dan rahmat Allah yang khusus semoga dilakukan dari niatan menegakkan agama dan membangun syiar Allah. Adapun meminta maaf itu juga hendaknya bukan lips service semata akan tetapi dilakukan dari hati yang terdalam, bisa jadi kita pernah mendengki yang bersangkutan, bisa jadi kita pernah mencibirnya dalam hati, bisa jadi kita pernah menggunjingnya, maka bersegeralah meminta maaf tanpa menunggu bulan Ramadhan.

Beribadah itu terdiri dari dimensi horisontal yang berkaitan dengan muamalah dengan sesama ciptaan-Nya juga dimensi vertikal yang menyangkut memurnikan tauhid kepada-Nya. Sebagaimana Rasulullah Muhammad SAW yang tidak menapaki tahapan isra' - diperjalankan di bumi di malam hari sebelum beliau diangkat ke langit untuk bertemu Allah (mi'raj), maka taubat kita tidak akan sampai jika kita belum meminta maaf dan memperbaiki hubungan dengan sesama manusia, dengan mereka yang pernah kita sakiti, dengan saudara yang kita sudah tidak ajak bicara bertahun-tahun lamanya, dengan teman yang kita hindari terus karena menyimpan kekesalan dalam hati. Selama hati masih menyimpan dendam dan amarah kepada makhluk-Nya maka jiwa manusia tidak akan pernah bisa meraup makrifatullah. Karena hanya hati yang bersih yang bisa bertatapan dengan-Nya.

Jadi meminta maaflah kapanpun itu.
Wallahua'lam bishowwab

“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat.” - (QS. Hud : 3)

Tuesday, May 2, 2017

Temukan Obsesimu!

"Untuk menjadi seorang pembuat roti yang baik anda harus terobsesi pada roti"
- Nancy Silverton

Keinginan seorang Nancy Silverton untuk menjadi seorang Chef Pastry baru muncul ketika ia berusia 20 tahunan, dalam upayanya mendekati seorang pria yang ia sukai yang mencari staf tambahan untuk membantu dia di dapur dan memasak menu vegetarian. "Padahal saat itu saya tidak bisa masak dan saya bukan seorang vegetarian!" ujar Nancy sambil tertawa. Pengalaman memasuki dunia kuliner secara tak senagaja itu ternyata menguak potensi dalam dirinya, ia baru menyadari bahwa dirinya sangat menyukai dunia makanan. Memang Nancy memiliki bakat unik, seorang koleganya berkata, "Dia punya ingatan yang sangat kuat di lidahnya, dia bisa ingat suatu rasa dan menjabarkannya dengan detil walaupun pengalaman itu sudah bertahun-tahun lamanya.".

Nancy kemudian sangat terobsesi membuat roti. Pada saat itu, sekitar awal tahun 1980-an di Amerika roti tawar yang dijual kebanyakan dibuat dari mixed package. Budaya roti di Amerika tidak secanggih di Eropa. Sampai satu saat Nancy kebetulan mampir ke sebuah bakery kecil dan merasakan roti yang benar-benar roti, "it's possible to make a real bread!" katanya dengan antusias. Sejak itu hari demi hari ia lakukan eksperimen membuat roti, ketekunannya membuat roti dan menemukan resep yang pas dikatakan oleh anaknya membutuhkan waktu yang sama bagi seseorang yang mengambil studi S2.

Nancy adalah seorang perfeksionis, "Saat saya membuat roti saya akan tahu peragian yang pas seperti apa, saya akan coba dengan campuran air dengan derajat panas yang berbeda-beda, dan saya akan tahu kalau potongan saya kurang sempurna" - sesuatu yang kebanyakan orang tidak akan menyadari perbedaannya. Tapi hasil ketekunannya itu menjadikan roti Nancy Silverton menjadi buah bibir di Los Angeles, tempat ia membuka toko rotinya saat itu. Orang rela antri berjam-jam hanya untuk mendapatkan rotinya. Toko rotinya buka di pagi hari dan sudah tutup jam 1 siang setelah melayani ratusan pembeli.

Menyadari animo pembeli yang begitu tinggi, maka Nancy ditawari untuk memproduksi rotinya dalam jumlah massal dibuat dengan bantuan mesin-mesin canggih. Suatu keputusan yang ia sesali kemudian dengan berkata, "Saat saya melihat adonan-adonan roti itu dibuat melalui proses mekanis yang tanpa nyawa hati saya teriris-iris rasanya". Pabrik itu pun ia jual.

Nancy melanjutkan kesukaannya membuat roti dengan tangannya sendiri. Saat ini ia memiliki 3 restoran sukses di Amerika -diantaranya mendapat satu bintang Michelin - dan ia selalu terjun langsung membuat makanan dan melayani para pelanggan, sesuatu yang membuat ia bahagia. Maka ketika ia ditanya oleh temannya, "Nancy, you are already 62 years old and still working, when are you going to stop?"
Dia menjawab dengan tangkas, "Never!"

# temukan pekerjaan yang membuat kita bahagia, maka tak ada kata pensiun darinya.

Monday, May 1, 2017

Apa manfaat mengaji?

Apa manfaat kita mengikuti pengajian?
Sahabat bersusah payah menerjang kemacetan dan menyisihkan waktu serta tenaga sepatutnya meraup manfaat yang sangat banyak dari Al Qur'an.
Sungguh kita harus bisa memetakan diri kita ke Al Qur'an, bersyukurlah kalau suatu ketika garis hidup kita, tahapan-tahapan kehidupan yang kita lalui ada dalam hukum Al Qur'an, benar-benar itu adalah sesuatu yang luar biasa membahagiakan karena hal yang paling shahih dalam beragama adalah ketika semua langkah hidup kita sudah menjadi refleksi dari Al Qur'an sepenuhnya juga mengimani kenabian Rasulullah Muhammad Saw. Itulah saat syahadat kita telah ditegakkan.

Adapun saat ini kita masih belajar bersyahadat, belajar menegakkan shalat, belajar mengimani yang dengan upaya itu kiranya pada satu titik dalam kehidupan Dia berkenan memberikan karunia-Nya. Untuk itu kita harus betul-betul bekerja keras untuk membaca Al Qur'an, memahaminya dan menghayati dalam keseharian. Jangan sampai diri kita dan Al Qur'an seperti dua sungai yang berjauhan, jika itu terjadi sungguh kita dalam kerugian yang amat besar. Ciri utama seorang salik - pejalan menuju tangga menuju Allah Ta'ala adalah paham Al Qur'an. Jadi silakan tafakuri posisi Al Qur'an dalam diri kita masing-masing dan mulailah melakukan perbaikan selagi masih diberi kesempatan hidup dalam penggal kehidupan di alam dunia ini.

(Adaptasi dari Kajian Hikmah Al Qur'an yang disampaikan Mursyid Zamzam AJT -mursyid penerus Thariqah Kadisiyah- 30 Desember 2006)