Ya Allah, jadikan Engkau satu-satunya sasaran pandanganku.
Bukan yang lain….
Tidak yang lain…
Amsterdam, 11 Agustus 2024/ 7 Shafar 1446 H
PUJIAN DAN KENYATAAN
Dunia tempat kita tinggal, hidup dan beraktivitas hanyalah alam mimpi. Hanya orang-orang yang jiwanya tertidur yang menganggap hal tersebut sebagai sebuah kehidupan yang sesungguhnya. Sampai tiba-tiba mereka dikejutkan dengan datangnya kematian yang tibanya tak dapat dihentikan, seperti halnya fajar yang menyingsing.
Ketika kita terbangun dari mimpi itulah kita bisa tertawa atas hal-hal yang kita anggap sebagai sebuah kehilangan dan nestapa dalam hidup ternyata adalah sebuah karunia dari Yang Memberi kehidupan.
Siapapun yang menikah rasanya tidak akan berpikir untuk bercerai. Ia cenderung ingin menikah dengan calon pilihannya itu untuk selamanya. Tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat. Tapi dalam hidup, perceraian bisa jadi tak terelakkan. Banyak kondisi yang memaksa rumah tangga harus mengambil langkah ini. Maka dalam Islam opsi bercerai ada, karena dalam memilih pasangan pun kadang itu adalah sebuah perjalanan dari setiap individu yang sebenarnya kalau ditelisik lebih dalam adalah sebuah perjalanan mencari kesejatian diri untuk pada akhirnya menjadi semakin mengenal Sang Pencipta.
Saat perceraian tampaknya sudah di pelupuk mata maka semua emosi akan bercampur aduk menjadi satu: marah, sedih, kecewa, takut, khawatir, malu dll. Sadarilah bahwa ini adalah sebuah masa berduka yang rata-rata akan dirasakan demikian menghimpit di enam bulan pertama setelah perceraian ditetapkan secara pribadi. Di beberapa kasus, proses berduka ini bisa membutuhkan waktu dua tahun untuk mengendapkannya.
Memang bercerai adalah hal yang dibenci oleh Allah, sebagaimana hadits Rasulullah SAW bersabda,
"Perbuatan halal, tetapi paling dibenci oleh Allah adalah talak" (HR Abu Daud)
Namun demikian, dalam Al Qur'an kemungkinan itu diberi ruang sedemikian rupa, hanya saja harus dilakukan dengan panduan-Nya,
"...ceraikanlah mereka dengan cara yang ma'ruf" - QS Al Baqarah 231
Kema'rufan ini terkait dengan ma'rifat. Pada akhirnya semua dinamika hidup, termasuk kehidupan pernikahan kita adalah sebuah wahana untuk semakin mengenal diri. Mengenal karakteristik takdir yang Allah tetapkan kepada setiap diri yang sedemikian rupa ditakar dan ditakdirkan dalam ilmu-Nya. Tujuannya adalah agar kita makin mengenal siapa Dia, Sang Rabbul 'aalamiin.
Pesan dari tulisan ini adalah bahwa memang menyakitkan episode perceraian ini, apalagi kalau anak terlibat di dalamnya. Akan tetapi jangan kehilangan orientasi dari pagelaran besar yang tengah Allah Ta'ala bentangkan di hadapan kita. Agar kita tidak tenggelam dalam lautan kesedihan yang dalam dan perlahan-lahan bisa berjalan menyongsong hari demi hari dengan sebuah kebersyukuran. Fokuslah dengan segenap pemberian-Nya, bahkan sekedar merasakan bisa menghirup udara pagi dan merasakan hangatnya terpaan sinar matahari di pagi yang cerah. Atau masih bisa tidur dengan nyenyak. Atau masih bisa menikmati secangkir kopi dan makanan yang enak. Temukan kesenangan-kesenangan yang kecil dan tersenyumlah di hati yang dalam. Agar kita tidak dibuat terpuruk dengan ketetapan-Nya. Ingat ayat Allah Ta'ala tentang perang. Inilah medan perjuangan kita,
"Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui." - QS Al Baqarah : 216
Imani bahwa apapun yang Allah tetapkan bagi kita termasuk anak-anak kita adalah dalam timbangan kebaikan, keadilan dan ilmu-Nya. Adalah mustahil Dia menzalimi hamba-Nya. Kalaupun masih pedih menjalaninya dan terasa berat, bersabarlah. Pada saatnya kita akan tersenyum menyadari pemberian-Nya yang tersimpan di balik ujian-ujian kehidupan yang terasa menghimpit ini. Sabarlah, semua akan indah pada akhirnya jika dihadapi dengan sabar dan syukur. []
Musim panas di Amsterdam, 3 Agustus 2024/28 Muharram 1446 H
Menakar
Kemelekatan
Kadang, kita baru menyadari kondisi hati
kita yang sebenarnya, kemana bergantungnya si hati ini, ketika Allah Ta’ala
izinkan obyek-obyek yang biasa kita andalkan dan menyandarkan diri bahkan
demikian dicintai itu hilang.
Bisa jadi, seseorang yang kita cintai
tiada,
Atau rumah tangga yang kita bertumpu
padanya kandas,
Atau anak yang kita banggakan dibuat
bermasalah,
Atau kehilangan mata pencaharian yang menjadi
tempat bertumpu sekeluarga,
Atau kendaraan raga yang kita andalkan
sehari-hari dibuat terbaring tak berdaya.
Semakin kita kalut dan panik menghadapi
proses ujian dicabutnya semua amanah itu, maka itu menunjukkan derajat
kemelekatan hati kita.
Orang beriman itu dilatih untuk menggenggam
dunia dan mengelolanya tapi hati tetap hanya untuk Allah Ta’ala. Dan itu tidak
mudah. Mesti mengalami proses ‘kematian’ dari semua derajat kemelakatan lapis
demi lapis. Tapi jangan takut. Semakin dibersihkan hati kita dari
berhala-berhala yang membuat kita melekat kepada selain Allah, maka semakin
kita terbebas dari ketakutan dan kegelisahan. Karena semua selain Allah akan
binasa dan akan tiada.
Jadi, waspadailah ketika ujian kehilangan
sesuatu itu datang. Jangan kehilangan kesempatan untuk membaca kondisi hati,
alih-alih menyalahkan pion-pion yang Allah gerakkan untuk menghilangkan hal-hal
tersebut. Agar dengannya kita makin mengenal diri kita dan makin dalam pengabdian
kita kepada-Nya. Karena syarat untuk mengenal Dia adalah dengan mengenal dulu kondisi
diri kita. []
Amsterdam, di musim semi yang hangat.
Sehari setelah ulang tahun ibunda.
Merayakan dengan Elia dan Rumi di Bijlmer Arena
22 Juni 2024 / 16Dzulhijjah 1445 H
Menikah dan menjadi orang tua itu betul-betul pelajaran untuk mati dari diri sendiri buat saya. Mati dari ego dan keinginan yang seolah tak ada ujungnya.
Ya Rabb,
Kalaupun Engkau memberiku kemampuan untuk menerjemahkan satu juta buku
menuliskan satu juta buku
mengerjakan satu juta amal shalih
dalam penggal hidup di dunia ini
rasanya tak akan bisa membayar bahkan satu tarikan nafas kehidupan yang Engkau berikan.
Terima kasih duhai Rabb atas kesempatan hidup iniπ
Amsterdam, 15 Mei 2024
00.03 tengah malam
ketika inspirasi dibuat mengalir
dan badan dibuat tidak mengantuk