Sunday, August 11, 2024

 Ya Allah, jadikan Engkau satu-satunya sasaran pandanganku.

Bukan yang lain….

Tidak yang lain…


Amsterdam, 11 Agustus 2024/ 7 Shafar 1446 H

Tuesday, August 6, 2024

 PUJIAN DAN KENYATAAN

"Selama bekerja bersama, aku ngga pernah lihat Tessa marah." kata senior saya kepada kolega lain di tempat kami bekerja selama hampir lima tahun lamanya sampai saat ini, disertai pujian yang lainnya.
Ketika mendengar hal tersebut, saya hanya bisa menunduk malu. Malu karena diri ini lebih tahu betul tentang kemarahan-kemarahan yang bergejolak di dalam hati yang tidak bisa ditangkap oleh orang lain. Tapi Allah Ta'ala Maha Tahu.
Demikianlah. Kerap kali kita menuai pujian dari orang yang hanya melihat kita secara sekilas. Apalagi hanya dari postingan di sosial media. Akan tetapi adalah diri kita yang mestinya lebih tahu ihwal banyaknya kejahatan dalam diri berupa bangga diri, ujub, sombong, riya, dengki, dll.
Maka hati-hati jika mendapatkan pujian. Pertama, sadari bahwa pujian itu sebenarnya bukan untuk kita, karena semua kebaikan berasal dari Allah. Kedua, kita mesti sadar diri bahwa keadaan kita yang sebenarnya adalah jauh dari apa yang orang lain kira. Tidak heran jika ada seseorang yang memuji Ali bin Abi Thalib, beliau akan berkata, "Aku tidak sebagus yang kamu katakan." Bahkan, jika pujian itu banyak diterima dia akan berdoa, "Ya Allah, ampunilah aku atas perkataan mereka, dan jangan Engkau siksa aku gara-gara mereka. Berikanlah kepadaku kebaikan dai apa yang mereka sangkakan kepadaku." Demikianlah adab seorang hamba.[]

Monday, August 5, 2024

 Dunia tempat kita tinggal, hidup dan beraktivitas hanyalah alam mimpi. Hanya orang-orang yang jiwanya tertidur yang menganggap hal tersebut sebagai sebuah kehidupan yang sesungguhnya. Sampai tiba-tiba mereka dikejutkan dengan datangnya kematian yang tibanya tak dapat dihentikan, seperti halnya fajar yang menyingsing.


Ketika kita terbangun dari mimpi itulah kita bisa tertawa atas hal-hal yang kita anggap sebagai sebuah kehilangan dan nestapa dalam hidup ternyata adalah sebuah karunia dari Yang Memberi kehidupan.

Saturday, August 3, 2024

Ketika Perceraian Tak Terelakkan

 Siapapun yang menikah rasanya tidak akan berpikir untuk bercerai. Ia cenderung ingin menikah dengan calon pilihannya itu untuk selamanya. Tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat. Tapi dalam hidup, perceraian bisa jadi tak terelakkan. Banyak kondisi yang memaksa rumah tangga harus mengambil langkah ini. Maka dalam Islam opsi bercerai ada, karena dalam memilih pasangan pun kadang itu adalah sebuah perjalanan dari setiap individu yang sebenarnya kalau ditelisik lebih dalam adalah sebuah perjalanan mencari kesejatian diri untuk pada akhirnya menjadi semakin mengenal Sang Pencipta. 

Saat perceraian tampaknya sudah di pelupuk mata maka semua emosi akan bercampur aduk menjadi satu: marah, sedih, kecewa, takut, khawatir, malu dll. Sadarilah bahwa ini adalah sebuah masa berduka yang rata-rata akan dirasakan demikian menghimpit di enam bulan pertama setelah perceraian ditetapkan secara pribadi. Di beberapa kasus, proses berduka ini bisa membutuhkan waktu dua tahun untuk mengendapkannya.

Memang bercerai adalah hal yang dibenci oleh Allah, sebagaimana hadits Rasulullah SAW bersabda,

"Perbuatan halal, tetapi paling dibenci oleh Allah adalah talak" (HR Abu Daud)

Namun demikian, dalam Al Qur'an kemungkinan itu diberi ruang sedemikian rupa, hanya saja harus dilakukan dengan panduan-Nya,

"...ceraikanlah mereka dengan cara yang ma'ruf" - QS Al Baqarah 231

Kema'rufan ini terkait dengan ma'rifat. Pada akhirnya semua dinamika hidup, termasuk kehidupan pernikahan kita adalah sebuah wahana untuk semakin mengenal diri. Mengenal karakteristik takdir yang Allah tetapkan kepada setiap diri yang sedemikian rupa ditakar dan ditakdirkan dalam ilmu-Nya. Tujuannya adalah agar kita makin mengenal siapa Dia, Sang Rabbul 'aalamiin. 

Pesan dari tulisan ini adalah bahwa memang menyakitkan episode perceraian ini, apalagi kalau anak terlibat di dalamnya. Akan tetapi jangan kehilangan orientasi dari pagelaran besar yang tengah Allah Ta'ala bentangkan di hadapan kita. Agar kita tidak tenggelam dalam lautan kesedihan yang dalam dan perlahan-lahan bisa berjalan menyongsong hari demi hari dengan sebuah kebersyukuran. Fokuslah dengan segenap pemberian-Nya, bahkan sekedar merasakan bisa menghirup udara pagi dan merasakan hangatnya terpaan sinar matahari di pagi yang cerah. Atau masih bisa tidur dengan nyenyak. Atau masih bisa menikmati secangkir kopi dan makanan yang enak. Temukan kesenangan-kesenangan yang kecil dan tersenyumlah di hati yang dalam. Agar kita tidak dibuat terpuruk dengan ketetapan-Nya. Ingat ayat Allah Ta'ala tentang perang. Inilah medan perjuangan kita,

"Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui." - QS Al Baqarah : 216

Imani bahwa apapun yang Allah tetapkan bagi kita termasuk anak-anak kita adalah dalam timbangan kebaikan, keadilan dan ilmu-Nya. Adalah mustahil Dia menzalimi hamba-Nya. Kalaupun masih pedih menjalaninya dan terasa berat, bersabarlah. Pada saatnya kita akan tersenyum menyadari pemberian-Nya yang tersimpan di balik ujian-ujian kehidupan yang terasa menghimpit ini. Sabarlah, semua akan indah pada akhirnya jika dihadapi dengan sabar dan syukur. []

Musim panas di Amsterdam, 3 Agustus 2024/28 Muharram 1446 H



 



Saturday, June 22, 2024

 

Menakar Kemelekatan

Kadang, kita baru menyadari kondisi hati kita yang sebenarnya, kemana bergantungnya si hati ini, ketika Allah Ta’ala izinkan obyek-obyek yang biasa kita andalkan dan menyandarkan diri bahkan demikian dicintai itu hilang.

Bisa jadi, seseorang yang kita cintai tiada,

Atau rumah tangga yang kita bertumpu padanya kandas,

Atau anak yang kita banggakan dibuat bermasalah,

Atau kehilangan mata pencaharian yang menjadi tempat bertumpu sekeluarga,

Atau kendaraan raga yang kita andalkan sehari-hari dibuat terbaring tak berdaya.

Semakin kita kalut dan panik menghadapi proses ujian dicabutnya semua amanah itu, maka itu menunjukkan derajat kemelekatan hati kita.

Orang beriman itu dilatih untuk menggenggam dunia dan mengelolanya tapi hati tetap hanya untuk Allah Ta’ala. Dan itu tidak mudah. Mesti mengalami proses ‘kematian’ dari semua derajat kemelakatan lapis demi lapis. Tapi jangan takut. Semakin dibersihkan hati kita dari berhala-berhala yang membuat kita melekat kepada selain Allah, maka semakin kita terbebas dari ketakutan dan kegelisahan. Karena semua selain Allah akan binasa dan akan tiada.

Jadi, waspadailah ketika ujian kehilangan sesuatu itu datang. Jangan kehilangan kesempatan untuk membaca kondisi hati, alih-alih menyalahkan pion-pion yang Allah gerakkan untuk menghilangkan hal-hal tersebut. Agar dengannya kita makin mengenal diri kita dan makin dalam pengabdian kita kepada-Nya. Karena syarat untuk mengenal Dia adalah dengan mengenal dulu kondisi diri kita. []

 

Amsterdam, di musim semi yang hangat.

Sehari setelah ulang tahun ibunda. Merayakan dengan Elia dan Rumi di Bijlmer Arena

22 Juni 2024 / 16Dzulhijjah 1445 H

Tuesday, May 28, 2024

 Menikah dan menjadi orang tua itu betul-betul pelajaran untuk mati dari diri sendiri buat saya. Mati dari ego dan keinginan yang seolah tak ada ujungnya.

Saat masih single seolah mudah mengambil setiap keputusan tidak perlu mempertimbangkan pasangan atau anak. Tapi begitu menikah dan apalagi punya anak pertimbangannya banyak. Sejak menikah saya tidak lagi berani untuk melakukan bungee jumping atau sky diving misalnya. Kepikiran kalau ada apa-apa nanti anakku bagaimana ngurusnya? πŸ˜ƒ
Apalagi sebagai seoang perempuan. Beda fitrahnya dengan laki-laki. Perempuan itu yang mengandung, melahirkan dan menyusui. Kodratnya memang begitu. Langkahnya pun dibuat pendek. Sedikit-sedikit anak sakit atau sekadar rasa bersalah kalau meninggalkan anak lalu kita mengerem segenap keinginan kita yang ingin terbang ke sana- sini dan melakukan seribu satu macam hal.
Bagian dari menjadi ibu adalah harus siap menanggung lelah lahir batin termasuk mendera kesepian. Demi menemani jiwa dan raga anak - amanah Allah - yang sedang bertumbuh terutama di awal masa tumbuh kembangnya di masa persusuan, sampai-sampai periode itu tercantum dalam Al Quran,
"Kami wasiatkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandung sampai menyapihnya itu selama tiga puluh bulan"
(QS Al Ahqaaf [46]:15)
Saya ingat di masa-masa penyusuan kedua anak saya memang setiap saat saya mendapat tawaran pekerjaan dan ingin kembali bekerja selalu ada hambatannya, anak sakit, tidak ada yang mengasuh dsb. Setiap kondisi rumah tangga memang berbeda. Ada yang dimudahkan agar sang ibu berkecimpung dan bekerja di luar tapi ada juga yang seperti saya, Allah tidak bukakan jalannya. Ya sudah, jangan patah arang. Tetap semangat berkarya dengan apa yang bisa dikerjakan di tempat masing-masing dengan situasi dan keadaan yang ada. Agar kita tetap menjadi hamba-Nya yang bersyukur.
Dan ingat, kadang kehidupan seolah-olah membenteng kita dan seperti tidak ada pintu yang terbuka atau semua jalan keluar seakan tertutup. Barangkali di saat itu yang ingin Allah lakukan bukan agar kita menerjang penghalang yang ada untuk mencari kebahagiaan. Tapi sangat bisa jadi kebahagiaan yang kita cari itu adanya di bawah telapak kaki kita yang menanti untuk digali. Dan memang itu yang saya rasakan. Benar kiranya kunci kebahagiaan itu adalah dengan mensyukuri apa-apa yang Dia hadirkan tanpa harus memberi label kepada apapun yang ada. Terima dengan senyuman dan hati yang bersyukur karena selalu melihat bahwa hidup kita dalam keberlimpahan. Dan memang kalau boleh jujur dan melihat kehidupan apa adanya, kita selalu dalam keberlimpahan nikmat-Nya yang tak akan pernah sanggup kita untuk menghitungnya. []

Tuesday, May 14, 2024

 Ya Rabb, 

Kalaupun Engkau memberiku kemampuan untuk menerjemahkan satu juta buku

menuliskan satu juta buku

mengerjakan satu juta amal shalih

dalam penggal hidup di dunia ini

rasanya tak akan bisa membayar bahkan satu tarikan nafas kehidupan yang Engkau berikan.


Terima kasih duhai Rabb atas kesempatan hidup ini😍


Amsterdam, 15 Mei 2024

00.03 tengah malam

ketika inspirasi dibuat mengalir

dan badan dibuat tidak mengantuk