Friday, March 7, 2025

Bahagia itu sederhana

 Menjadi bahagia itu sederhana.

Ia tak perlu syarat ini dan itu.

Tak perlu kemewahan dunia atau pengkondisian tertentu.

Memang kita kadang membuat susah diri sendiri dengan membuat batasan tentang kebahagiaan. 

"Aku akan bahagia kalau sudah menikah". Jadinya selama masa penantian kurang bahagia jadinya. 

"Aku akan bahagia kalau bisa beli rumah". Jadinya selama menabung sampai masanya tiba bisa membeli rumah jadi merasa kurang bahagia.

"Hidupku akan sempurna jika punya anak". Akhirnya setiap kali gagal mendapat anak dia merasa semakin terpuruk.

Kenapa harus membuat syarat untuk bahagia alih-alih membiarkan rasa bahagia itu datang dengan sendirinya. Karena bahagia itu adalah ketika kita mensyukuri apa yang ada, di saat ini, di detik ini, di bumi yang kita pijak hari ini juga. Jika kita bisa tersenyum kepada ketetapan-Nya dan menerima dengan tulus. Itulah bahagia. Tak perlu syarat apapun. Bahkan di tengah kekalutan dan kisruhnya kehidupan pun kita masih bisa merasa bahagia. Bukan berarti harus tertawa dan nampak ceria terus. Karena kita bahkan bisa merasa 'bahagia' di tengah kesedihan yang melanda. Bahagia karena tahu bahwa Allah senantiasa memegang kita. Bahwa semua kejadian terjadi dengan izin-Nya. Dan kalau Dia mengizinkan sesuatu terjadi pastilah banyak hikmah dan kebaikan di dalamnya. Itu yang coba kita gali. Asal sabar saja. 

Jadi, mari kita berbahagia dengan kondisi apapun yang ada. Semua datang dari goresan takdir-Nya Yang Maha Adil dan Maha Penyayang. Hidup itu sederhana wahai sahabat. Jangan dibuat jadi rumit!

Amsterdam, di musim semi yang hangat.

Jumat, 7 Maret 2025 / 7 Ramadhan 1446 H. Pukul 14.50

Tuesday, March 4, 2025

 Embracing the dance of uncertainty in life.

For uncertainty plays a crucial note in the grand symphony of life. It humbles us and shape us into a being who surrender. And that’s the only way to experience the Divine power within.

Amsterdam, sunny morning 4 March 2025 / 4 Ramadhan 1446 H. 10.38

Monday, March 3, 2025

There is nothing like fasting

 There is nothing like fasting.

The Prophet SAW said, 

"Allah said, "Every good deed of sons of Adam is for himself except fasting; it is for Me and I shall reward (he fasting person) for it." Verily, the smell of the mouth of a fasting person is better to Allah than the smell of musk."

What a wonderful thing when Allah claimed something and said "it's for Me". It is indeed for Allah. Like everything else, it should for Allah only. And yet it is so humble of Allah to say "fasting is for Me". It's wonderful to feel this.

Fasting (shaum) is indeed different with any other rituals like shalat, hajj or zakat. Fasting is like "doing nothing". We emptied ourselves to be able to become His vessels. Ready to be poured upon to. Hopefully He uses us. And there is no greater honor than that. To be used by Him.

Amsterdam, 3 March 2025 / 3 Ramadhan 1446 H

14.31



Sehilal purnama kehidupan

 Perjalanan kehidupan ini adalah untuk mengenal-Nya. 

Itulah orientasi dalam kehidupan. Kesadaran ini membuat kita menjadi memandang segala sesuatunya berbeda dan menjadi bisa memaknai dengan dalam apa-apa yang telah Allah izinkan terjadi dalam aliran takdir kehidupan. Terutama membantu kita dalam menerima dan mengambil hikmah dari tragedi kehidupan atau sisi kelam yang bagaimanapun Allah telah tuliskan dan menjadi bagian dari kisah hidup kita. 

Hitam - putih kehidupan, suka - duka, siang - malam, keluangan - kesempitan, sakit - sehat, tertawa - menangis adalah bagian dari kehidupan di dunia. Sesuatu yang menumbuhkan sesuatu di dalam jiwa kita. Karena kualitas pemaaf hanya tumbuh ketika ada sesuatu kesalahan yang dimaafkan. Sebab sabar hanya tumbuh ketika kita harus menahan sesuatu atau mendera sesuatu yang tidak mengenakkan atau sesuatu yang melmpah.  Natur kehidupan adalah seperti tarikan nafas dan hembusan nafas. Juga seperti detak jantung yang berkontraksi dan berelaksasi. Itulah tanda-tanda kehidupan. Tanpa malam, siang hanya akan menghancurkan isi bumi karena akan terlalu panas. Tanpa kehadiran siang, bumi akan beku dan tak akan ada kehidupan yang tersisa di dalamnya. 

Allah Ta'ala mempergantikan siang dan malam, suka dan duka agar jiwa kita hidup dan bertumbuh. Semua sajian takdir kehidupan yang kerap membuat kita jatuh bangun dan pontang-panting dalam menghadapinya itu baru sehilal cahaya purnama pengenalan dari-Nya. Rasulullah SAW bersabda ketika beliau memandang  kepada bulan purnama, 

"Sesungguhnya kalian akan memandang Rabb sebagaimana kalian memandang bulan ini. Kalian tidak berdesakan ketika kalian memandang Allah." (HR Bukhari No.554)

Jadi, jangan sampai kehidupan menaklukkan kita dan membuat kita putus asa, kehilangan arah dan orientasi kehidupan dan tidak fokus menjalani hari-hari. Bukankah kita punya Allah yang selalu siap menolong kapanpun? Barangkali kita yang kurang serius dalam meminta pertolongan-Nya. Agar kita meraih yang terbaik dalam pagelaran pengenalan sehilal purnama kehidupan ini.[]

Amsterdam, musim semi yang dingin tapi cerah

Senin, 3 Maret 2025 (Ramadhan hari ketiga). 14.12 siang.

Sunday, February 23, 2025

Berdamai dengan ketidakpastian

 Dulu, saya akan gelisah jika menghadapi ketidakpastian. Seolah-olah tabu untuk berkata “aku tidak tahu” menghadapi berbagai kemungkinan takdir kehidupan. Akan tetapi semakin bertambah usia (atau sebenarny semakin berkurang, dari sudut pandang lain😁), saya makin paham bahwa sebenarnya kita memang dalam kondisi tidak tahu apa-apa. Segala hal yang kita anggap sebagai pengetahuan atau kebenaran sangat relatif dan dipertanyakan betul keabsahannya. Dalam Al Quran, hal ini dikunci dengan ayat yang terkait dengan peperangan, dimana kita pasti akan berada dalam medan perang di dalam diri yaitu perang melawan hawa nafsu,

Diwajibkan atasmu berperang, padahal itu kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.- QS Al Baqarah [2]:216

Jadi, apa yang tidak kita sukai belum tentu tidak baik buat kita. Padahal banyak keputusan dalam hidup kita ambil berdasarkan suka atau tidak suka (like or dislike). 

Jadi bagaimana? Lebih baik memilih yang tidak kita sukai? Ya tidak sesimpel itu. Hidup memang kompleks. Sekompleks manusia. Diciptakan kompleks karena memang berfungsi untuk menumbuhkan akal jiwa kita. Agar kita makin mengenal (ma’rifat) kepada Sang Pencipta.

Maka sadarilah bahwa ketika kehidupan terasa tidak pasti, itu justru hari raya bagi para pencari Allah, para pencari kebenaran. Karena dikondisikan dalam situasi yang tak menentu, akhirnya kuta berpegang dari saat ke saat kepada Sang Pencipta. Merenda hari demi hari dengan manjaga shalat, membaca Al Quran, berdzikir dan beramal shalih. Kemudian saksikan bagaimana Dia menggerakkan kehidupan dengan demikian menakjubkan.

Saya mulai paham dan mensyukuri saat dihadapkan kepada ketidakpastian hidup. Bahkan sampai pada sebuah kepastian bahwa tak ada yang “pasti” dalam hidup. Semua gaib, tak terjangkau, dan tak terbaca pada hakikatnya. Dan semoga kita bisa menjadi hamba-Nya yang taqwa, yaitu mereka

“Yang beriman kepada yang gaib (iman bil gaib)”

QS Al Baqarah:3


Amsterdam Bijlmer Arena, awal musim semi yang sejuk, di bawah sinar matahari siang, 14.29

Minggu, 23 Februari 2025 / 24 Sya’ban 1446 H


Monday, February 17, 2025

Membawa berkah dimanapun berada

 Salah satu karakteristik orang beriman adalah, dimanapun dia berada pasti akan memberkati lingkungannya. Ia akan cenderung berbuat kebaikan lebih cepat dibandingkan yang lain. Kalau lihat meja kantor berantakan, langsung rapikan tanpa menunggu OB (office boy). Melihat sandal berantakan di mushalla, langsung rapikan. Ada sampah di lantai, langsung ambil dan buang ke tempat sampah. Bergerak cepat tanpa mengharap pujian, naik gaji atau naik pangkat. Karena orang beriman mensyukuri dunia kantor atau rumah dan semesta yang Allah hadirkan. Maka dibuat senyaman mungkin.

Itulah mentalitas orang beriman. Cepat berbuat kebaikan dan jangan menunggu atau ingin dilayani saja. Justru kita harus melayani orang lain. Dimanapun kita ditakdirkan berada, jadilah cahaya di tempat itu. Tebarkan berkah dimanapun juga.


La Place, Efteling. Di awal musim semi yg masih dingin

Kaastheuvel, 17 Februari 2025. 13.50 siang

Sunday, February 16, 2025

The Only String Attached

 Dunia yang kita tinggali ini memang kuat ilusi sebab-akibatnya. Sedemikian rupa sehingga kita lupa jika sesuatu terjadi dan menimpa kita, itu bukan sekadar diakibatkan oleh si ini atau si itu yang hanya merupakan pion-pion yang Allah Ta'ala gerakkan di semesta kehidupan kita untuk sebuah tujuan tertentu, karena tak ada satu gerakan dan satu takdir pun yang sia-sia (bathil). 

Memang gara-gara si pencuri itu benda kesayangan kita hilang, memang melalui orang ketiga itu yang mencetuskan ricuh di dalam rumah tangga, memang karena perkataan dia maka fitnah kemudian berkembang. Tapi, kalau kita kembali kepada prinsip tauhid, tidak ada angin yang berhembus, tidak ada daun yang jatuh, tidak ada atom yang bergerak, tidak ada pesan whatsapp yang terkirim, tak ada perkataan yang terlontar dari lisan seseorang dll, tanpa Dia, Sang Maha Kuasa izinkan. Kalau Allah Ta'ala sudah turun izinnya pasti sesuatu itu mengandung kebaikan dan hikmah, karena itu sifat Allah Ta'ala yang mutlak. Dia Ar Rahman Ar Rahim. Dia selalu memberi yang terbaik dan Dia menyayangi segenap ciptaan-Nya. 

Kita adalah ciptaan Allah Satu-satunya tali yang tak kasat mata yang menggerakkan kita dan juga makhluk lain adalah tali yang terbentang dari Sang Pencipta kepada segenap ciptaan-Nya. Pahami konsep ini, maka kita akan bisa melihat jauh di balik dunia bayang-bayang dan tidak terlalu dibuat sulit karenanya. Dengan kesadaran bahwa setiap ciptaan bergantung sepenuhnya kepada Allah maka cara cerdik untuk mengubah orang lain atau kehidupan adalah menghubungkan diri dengan-Nya melalui dzikir dan biarkan Dia mengubah sesuatu itu. Sungguh Dia Maha Mendengar dan Maha Kuasa. 

Kaatsheuvel, 16 Februari 2025, 19.05

Liburan musim semi, sehari sebelum ke Efteling bersama anak-anak.