Monday, March 10, 2025

Dunia memang dibuat tidak nyaman

 Merasa berat menjalani kehidupan?

Hari ke hari sepertinya seperti beban yang tanpa henti?

Rasanya mumet terus pikiran dan hati ruwet?

Desain kehidupan dunia memang dibuat agar manusia tidak merasa nyaman di dalamnya. Ini hal yang kita sering lupa. Bahwa kita hanya sekadar singgah di alam ini, mengumpulkan bekal dan berjalan ke alam lain dalam sebuah perjalanan panjang. Nabi Isa a.s. berkata, "Dunia adalah bagaikan jembatan. Dan tidak ada orang yang membangun rumah di atas jembatan." Rumah adalah lambang sebuah status quo atau kenyamanan. Bukan berarti Allah tidak ingin kita menikmati kehidupan. By all means, berbahagialah dan nikmati setiap saat yang ada. Akan tetapi agar kita tidak tenggelam dalam dunia dan lupa orientasi akhirat dan jangan panjang kita. 

Masalah itu karenanya adalah sebuah hal yang melekat dalam kehidupan dunia. Dan manusia sebenarnya perlu diselimuti oleh takdir yang berupa masalah dan kesempitan hidup. Karena kalau hidup lapang dan mudah kita akan cenderung lupa Allah dan tidak menghadap kepada-Nya. Sementara kematian selalu mengintai dan kita akan kehilangan ma'rifat. Na'udzubillahimindzaalik. 

Karena masalah itu bagian dari kehidupan maka kita tidak perlu kaget dengan hadirnya ujian karena hati sudah selalu pasang kuda-kuda. Berikutnya, langkah paling cerdas untuk menghadapi masalah - apapun itu - adalah bertanya dan meminta panduan kepada Dia yang mengirimkan semua itu, karena hanya Dia yang mengetahui respon yang paling tepat dalam menghadapinya dan apa, bagaimana serta kapan tibanya jalan keluar yang terbaik. Jika kita selalu berupaya untuk berserah diri kepada qadha (ketetapan)-Nya dan mengembalikan semua kepada-Nya, hidup jadi lebih ringan dijalani. Bukan berarti masalah tiba-tiba hilang dalam sekejap. Dia mungkin masih ada dan kita masih harus sabar menjalaninya bahkan bertahun-tahun lamanya. Tapi kesadaran dan pengetahuan yang Allah teteskan ke dalam dada kita akan membuat kita menjadi lebih memaknai setiap episode kehidupan, sepahit dan seberat apapun itu. Kesadaran itu yang membuat kita lebih ringan dan hati bisa tersenyum dalam menjalaninya. 

Jadi, kuncinya, libatkan selalu Allah. Karena Dia selalu menanti kesiapan kita dalam taubat, kembali menghadapkan diri kepadanya.

Amsterdam, musim semi yang hangat, 10 Maret 2025 / 10 Ramadhan 1446 H

Friday, March 7, 2025

Ketika tawakal kita terpeleset

 Kadang kita tidak sadar kalau beberapa kali dalam hidup tawakal kita terpeleset jadi tidak mengandalkan Allah. Atau sebagian mengandalkan Allah sebagian lagi mengandalkan lainnya.

Kita yang terpeleset tawakalnya dengan berpikir bahwa kalau bekerja di perusahaan yang keren itu akan menjamin masa depan dan rezeki.

Kita yang tergadaikan tawakalnya dengan menduga kalau anak sekolah di sekolah yang itu akan sukses hidupnya.

Kita yang rusak kemurnian tawakalnya dengan berburuk sangka kepada Allah bahwa jika kita kehilangan pekerjaan atau gagal bisnis maka keluarga akan kelaparan, seakan Allah tidak berkuasa mendatangkan rezeki dari tempat lain.

Demikianlah, kita telah sekian lama tercelup di dalam dunia sebab akibat, akhirnya menganggap remeh kuasa dan keajaiban-Nya. Terlalu tersihir akal pikirannya bahwa jika tidak A maka tidak akan B. Seakan tak ada jalan lain untuk terbukanya kesempatan dan perubahan selain dari apa yang benak kita bisa bayangkan. Padahal “Allahu Akbar” kita ucapkan, setidaknya 94 kali dalam sehari. Mengatakan “Allah Maha Besar” tapi ketika berhadapan dengan konflik kehidupan dan kesulitan ekonomi kadang masalah itu yang terasa “akbar” dibanding kebesaran Kuasa Allah. Ternyata, kalau boleh jujur, banyak takbit kita baru hanya ucapan di bibir saja. Adalah ujian keseharian yang menampakkan keadaan hati kita, apakah benar tawakalnya kepada Allah atau bukan.[]

Amsterdam , Jumat,  5 Maret 2025 / 5 Ramadhan pukul 16.02

Di dalam mobil di tempat parkir sambil menunggu Rumi yang semangat les biola.

Ngatur-ngatur Tuhan

 Kita yang merasa shalih dan beragama ini tidak sadar bahwa kita kerap mengatur-ngatur Tuhan. 

Saat kita berpikir, "Duh coba punya mobil ya, aku akan sering ke pengajian sambil bawa teman dan keluarga." Kita merasa keadaan yang ada sekarang tidak ideal untuk pergi ke pengajian. Padahal kalaupun Allah beri mobil belum tentu diberi keinginan ngaji dan keberkahannya malah jadi kurang karena hati malah ujub, merasa diri lebih mulia dari orang yang jalan atau naik angkutan umum. 

Saat kita berpikir, "Wah repot nih ngurus si kecil. Coba kalau punya pembantu, aku bisa ngaji dan belajar lebih banyak." Padahal kalaupun diberi selusin pembantu belum tentu dia tergerak untuk ngaji dan efektif waktunya untuk belajar. 

Saya pernah merasakan hal yang mirip. Merasa ingin menyelesaikan menerjemahkan sebuah buku sambil repot mengurus dua anak yang masih berusia balita saat itu. Suatu hari saya bertekad ngebut mengejar beberapa bab penerjemahan dengan menitipkan anak selama setengah hari kepada baby sitter dan saya keluar mencari tempat untuk bekerja. Apa yang terjadi? Jalannya penerjemahan tidak selancar biasanya. Entah kenapa otak saya kesulitan untuk mendapatkan kata-kata yang pas. Setelah itu kok gelombang ngantuk datang tidak henti-hentinya. Alhasil, waktu sekian jam yang niatnya ingin produktif menerjemahkan tidak tercapai. Saya lupa, Allah-lah yang memberi inspirasi dan kekuatan untuk menerjemah. Walaupun kita berupaya mengkondisikan kehidupan tapi kalau Allah tidak beri kemampuannya maka tetap saja tidak jalan! Sebuah pelajaran yang berharga buat saya.

Jadi, hidup itu simpel sahabat. Tidak perlu ngatur-ngatur Tuhan atau mendikte-Nya dengan membuat sebuah persyaratan-persyaratan, "Kalau begini saya akan begitu" Siapa yang menjamin? Kita memang suka sok tahu. Merasa skema yang ada di benak kita lebih baik dari pengaturan-Nya. Astaghfirullahaladziim.

Amsterdam, 7 Maret 2025 / 7 Ramadhan 1446 H

14.58

Bahagia itu sederhana

 Menjadi bahagia itu sederhana.

Ia tak perlu syarat ini dan itu.

Tak perlu kemewahan dunia atau pengkondisian tertentu.

Memang kita kadang membuat susah diri sendiri dengan membuat batasan tentang kebahagiaan. 

"Aku akan bahagia kalau sudah menikah". Jadinya selama masa penantian kurang bahagia jadinya. 

"Aku akan bahagia kalau bisa beli rumah". Jadinya selama menabung sampai masanya tiba bisa membeli rumah jadi merasa kurang bahagia.

"Hidupku akan sempurna jika punya anak". Akhirnya setiap kali gagal mendapat anak dia merasa semakin terpuruk.

Kenapa harus membuat syarat untuk bahagia alih-alih membiarkan rasa bahagia itu datang dengan sendirinya. Karena bahagia itu adalah ketika kita mensyukuri apa yang ada, di saat ini, di detik ini, di bumi yang kita pijak hari ini juga. Jika kita bisa tersenyum kepada ketetapan-Nya dan menerima dengan tulus. Itulah bahagia. Tak perlu syarat apapun. Bahkan di tengah kekalutan dan kisruhnya kehidupan pun kita masih bisa merasa bahagia. Bukan berarti harus tertawa dan nampak ceria terus. Karena kita bahkan bisa merasa 'bahagia' di tengah kesedihan yang melanda. Bahagia karena tahu bahwa Allah senantiasa memegang kita. Bahwa semua kejadian terjadi dengan izin-Nya. Dan kalau Dia mengizinkan sesuatu terjadi pastilah banyak hikmah dan kebaikan di dalamnya. Itu yang coba kita gali. Asal sabar saja. 

Jadi, mari kita berbahagia dengan kondisi apapun yang ada. Semua datang dari goresan takdir-Nya Yang Maha Adil dan Maha Penyayang. Hidup itu sederhana wahai sahabat. Jangan dibuat jadi rumit!

Amsterdam, di musim semi yang hangat.

Jumat, 7 Maret 2025 / 7 Ramadhan 1446 H. Pukul 14.50

Tuesday, March 4, 2025

 Embracing the dance of uncertainty in life.

For uncertainty plays a crucial note in the grand symphony of life. It humbles us and shape us into a being who surrender. And that’s the only way to experience the Divine power within.

Amsterdam, sunny morning 4 March 2025 / 4 Ramadhan 1446 H. 10.38

Monday, March 3, 2025

There is nothing like fasting

 There is nothing like fasting.

The Prophet SAW said, 

"Allah said, "Every good deed of sons of Adam is for himself except fasting; it is for Me and I shall reward (he fasting person) for it." Verily, the smell of the mouth of a fasting person is better to Allah than the smell of musk."

What a wonderful thing when Allah claimed something and said "it's for Me". It is indeed for Allah. Like everything else, it should for Allah only. And yet it is so humble of Allah to say "fasting is for Me". It's wonderful to feel this.

Fasting (shaum) is indeed different with any other rituals like shalat, hajj or zakat. Fasting is like "doing nothing". We emptied ourselves to be able to become His vessels. Ready to be poured upon to. Hopefully He uses us. And there is no greater honor than that. To be used by Him.

Amsterdam, 3 March 2025 / 3 Ramadhan 1446 H

14.31



Sehilal purnama kehidupan

 Perjalanan kehidupan ini adalah untuk mengenal-Nya. 

Itulah orientasi dalam kehidupan. Kesadaran ini membuat kita menjadi memandang segala sesuatunya berbeda dan menjadi bisa memaknai dengan dalam apa-apa yang telah Allah izinkan terjadi dalam aliran takdir kehidupan. Terutama membantu kita dalam menerima dan mengambil hikmah dari tragedi kehidupan atau sisi kelam yang bagaimanapun Allah telah tuliskan dan menjadi bagian dari kisah hidup kita. 

Hitam - putih kehidupan, suka - duka, siang - malam, keluangan - kesempitan, sakit - sehat, tertawa - menangis adalah bagian dari kehidupan di dunia. Sesuatu yang menumbuhkan sesuatu di dalam jiwa kita. Karena kualitas pemaaf hanya tumbuh ketika ada sesuatu kesalahan yang dimaafkan. Sebab sabar hanya tumbuh ketika kita harus menahan sesuatu atau mendera sesuatu yang tidak mengenakkan atau sesuatu yang melmpah.  Natur kehidupan adalah seperti tarikan nafas dan hembusan nafas. Juga seperti detak jantung yang berkontraksi dan berelaksasi. Itulah tanda-tanda kehidupan. Tanpa malam, siang hanya akan menghancurkan isi bumi karena akan terlalu panas. Tanpa kehadiran siang, bumi akan beku dan tak akan ada kehidupan yang tersisa di dalamnya. 

Allah Ta'ala mempergantikan siang dan malam, suka dan duka agar jiwa kita hidup dan bertumbuh. Semua sajian takdir kehidupan yang kerap membuat kita jatuh bangun dan pontang-panting dalam menghadapinya itu baru sehilal cahaya purnama pengenalan dari-Nya. Rasulullah SAW bersabda ketika beliau memandang  kepada bulan purnama, 

"Sesungguhnya kalian akan memandang Rabb sebagaimana kalian memandang bulan ini. Kalian tidak berdesakan ketika kalian memandang Allah." (HR Bukhari No.554)

Jadi, jangan sampai kehidupan menaklukkan kita dan membuat kita putus asa, kehilangan arah dan orientasi kehidupan dan tidak fokus menjalani hari-hari. Bukankah kita punya Allah yang selalu siap menolong kapanpun? Barangkali kita yang kurang serius dalam meminta pertolongan-Nya. Agar kita meraih yang terbaik dalam pagelaran pengenalan sehilal purnama kehidupan ini.[]

Amsterdam, musim semi yang dingin tapi cerah

Senin, 3 Maret 2025 (Ramadhan hari ketiga). 14.12 siang.