Saturday, April 5, 2025

Sadari bahwa anak kita adalah cermin kita sendiri

 Anak adalah bagaikan sebuah cermin yang menampilkan realitas orang tuanya. 

Kebaikan dan keburukan yang ditampilkan anak adalah cermin dari kebaikan dan keburukan dalam diri orang tuanya. Itu adalah pertolongan dari Allah agar kita bisa bercermin, saking tidak mudahnya meneropong ke dalam diri sendiri. Karena itu harus banyak merenung dalam menghadapi kelakuan anak. Alih-alih hanya memandang ke luar dan menyalahkan ini itu sambil kehilangan kesempatan untuk meraih hikmah dari pembelajaran yang tengah Allah berikan.

Kuncinya, hadapi dengan sabar dan shalat, seperti yang difirmankan Allah Ta'ala dalam Al Quran. Itu kunci menghadapi kehidupan agar kita tidak kehilangan orientasi dan salah langkah dalam berjalan. []

Amsterdam, 10.03 pagi hari yang cerah di musim semi

5 April 2025 / 7 Syawwal 1446 H

Wednesday, April 2, 2025

Karena setiap detil kehidupan sudah Dia aturkan

 "..dan tiada sehelai daun pun yang  gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula)"

 QS Al An'aam: 59

Apa signifikansi sehelai daun yang jatuh di tengah hutan belantara sana dengan kehidupan kita? Mengapa Allah Ta'ala menyatakan kalimat ini dalam kitab suci yang menjadi panduan kehidupan kita?

Jika satu helai daun saja adalah dalam pengetahuan-Nya, bayangkan hal-hal lain dalam kehidupan juga pasti dalam kendali dan ilmu-Nya. Dan satu pohon kira-kira memiliki rata-rata 200.000 helai daun. Di bumi ini, kira-kira ada sekitar 3 trilyun batang pohon. Silakan hitung pemantauan Allah Ta'ala atas setiap helai daun saja. Apalagi manusia. Makhluk yang diciptakan katanya yang paling mulia, tapi dimana letak kemuliaannya? Al Quran menjawab itu semua, apa makna menjadi seorang insan. 

Kembali ke permasalahan daun yang jatuh. Seluruh gerak kehidupan kita pun ada dalam pantauan dan kendali Allah. Kenapa kita lahir di orang tua yang itu, lalu mengalami sekian episode kehidupan. Di skala hari ini saja, kenapa si A mengirim pesan demikian, kenapa si B berkata demikian. Semua gerak semesta alam di sekitar kita adalah "daun-daun yang jatuh". Dia mengetahuinya. Artinya semua terjadi dengan izin-Nya. Dan kalau Allah Sang Maha Pengasih mengizinkan sesuatu terjadi, pasti ada kebaikan di dalamnya. Walaupun kebaikannya belum tentu dapat kita rasakan atau belum dapat dilihat per saat ini. Itu kenapa kita perlu iman, karena kalau segala sesuatu direspon dengan nalar semata akan sangat terbatas dan dibuat pusing kita karenanya. Sebab banyak hal dalam kehidupan ini yang tidak masuk akal. Iman bisa menjembataninya. 

Oleh karenanya ada istilah "take the leap of faith", ambil sebuah lompatan iman. Gerak melompat adalah gerak yang harus mengambil arah vertikal bagaimanapun juga, tidak hanya main di level horizontal. Karena kalau bergerak di level horizontal saja bukan lompat namanya tapi ngesot :P. Arah vertikal adalah arah Tuhan. Artinya kalau hidup tidak melibatkan Allah, pasti pusingnya, jelas menderitanya yang tak berkesudahan dan akan selalu direpotkan seumur hidup beranjak dari satu masalah ke masalah lain. 

Yang namanya orang hidup pasti tidak akan bisa pernah lepas dari masalah. Kenapa? Karena itu adalah anak tangga untuk mengenal-Nya sebenarnya. Tapi berapa sering kita menjadikan masalah sebagai sarana mendekat kepada Allah? Alih-alih minta tolong kepada Allah, kita sering langsung ambil keputusan dan gerak ini-itu dan lupa bahwa semua sudah Dia aturkan. Hanya Allah yang paling tahu solusi yang terbaik dari segenap permasalahan yang ada. 

Amsterdam, Selasa 9.46 pagi, 2 April 2025 / 4 Syawwal 1446 H



Tuesday, April 1, 2025

Karunia di balik ujian hidup

 Percayalah di balik ujian kehidupan tersimpan karunia-Nya yang besar.

Allah itu Dzat yang tidak mungkin menzalimi ciptaan-Nya sebesar dzarrah (atom) sekalipun. Itu tauhid dasar. Dia hanya menginginkan kebahagiaan yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya. Lalu lantas mengapa hidup terasa berat? Mengapa masalah rasanya tak kunjung usai? Mengapa aku merasa tersiksa oleh perasaan ini? Apa yang salah? Jelas kesalahan ada di sisi manusia yang dhaif, kita yang lemah, kita yang bodoh, kita yang zalim, kita yang belum paham bagaimana cara Allah mengatur semesta ciptaan, kita yang belum bisa menangkap karsa Allah di balik sekian takdir yang berkelindan. Kita yang memiliki definisi kebahagiaan sendiri dan kemudian memaksakan itu terjadi ketika tirai takdirnya sedemikian kokoh hingga tak mungkin dikoyak.

Kita yang masih setengah-setengah dalam beragama. Di satu saat bisa berkata lantang "Laa ilaaha ilallah" tapi di sisi lain, masih diombang-ambing oleh ilah-ilah selain Allah. 

Kita yang pemahamannya tentang Dia masih dangkal. Di satu sisi kita menyeru dengan tegas, "Allahu Akbar" tapi di sisi lain, masih banyak hal-hal yang dirasa lebih 'akbar' dibanding Allah. Sesuatu yang masih mengendalikan dan memengaruhi hampir semua keputusan hidup dan ditakuti hilangnya.

Kalau boleh jujur, kita masih menyimpan sekian bayang-bayang keraguan dalam hati kita. Benarkan Allah akan menjamin rezekiku dan anak-anak? Dari mana datangnya ga kebayang? Benarkah aku akan mendapatkan jodoh? Apakah aku bisa sembuh? Dan sekian banyak keraguan akan kuasa-Nya. Maka ketika musibah datang, kita pun ragu, apakah benar ada kebaikan di dalamnya?

Keraguan itu ada ketika kita belum mengenal betul siapa Allah Ta'ala. Karena kalau kata Rasulullah SAW -  insan yang paling mengenal Allah - kalau seseorang mengenal Allah pasti akan jatuh cinta kepada-Nya. Dan kalau orang sudah jatuh cinta, apapun yang datang dari Sang Kekasih pasti akan diambilnya dengan suka cita tak melihat bentuknya apa, selama itu pemberian-Nya maka hatinya akan melonjak girang. Ya, sekalipun Dia menggenggamkan batu bara, tetap yang kita lihat adalah tangan-Nya...tangan Allah...ini tangan-Mu yang menyampaikan wahai Gusti. Dengan keyakinan itulah dia berjalan meniti ujian demi ujian dalam kehidupan dan perlahan dengan pasti mulai merasakan manisnya karunia Allah.

Amsterdam, Selasa siang di musim semi yang cerah

1 April 2025 / 2 Syawwal 1446 H, pukul 14.23

Monday, March 31, 2025

Agar hanya memandang Dia

 Kedatangannya dari Allah, kepergiannya pun karena Allah.

Kesehatan dari Allah, sakit pun dari Allah.

Suka cita dari Allah, kesedihan pun Allah yang mendatangkan.

Kesuksesan dari Allah, kegagalan pun Allah yang mempergilirkan.

Jatuh cinta dari Allah, hilangnya perasaan pun Allah yang mencabutnya.

Kehidupan dari Allah, kematian pun sesuatu yang Dia tetapkan.

Kelapangan dari Allah, saat sempit pun Dia yang hadirkan.

Kehidupan akan selalu begitu, berganti antara siang-malam, luang-sempit, tangis-tawa, riang-duka, seperti denyut jantung yang berganti antara kontraksi dan dilatasi, seperti ritme nafas yang bergiliran antara inspirasi dan ekspirasi. Itulah tanda kehidupan. Ikuti saja aliran kehidupan dengan bersyukur, agar jiwa kita tetap hidup.


Ballorig, Amsterdam, 31 Maret 2025 / 1 Syawwal 1446 H

11.34

Sepuluh tahun kemudian

 Pagi ini, saya bawa anak-anak ke tempat bermain dimana dulu hampir setiap hari kami menghabiskan waktu di sana. 

Tempatnya masih sama seperti dulu. Setiap detil, setiap mainan, setiap sudut. Bahkan bau khas yang sama. 

Sepuluh tahun telah berlalu. Dunia sekitar masih sama, tapi anak-anak sudah tumbuh berkembang. Saya pun bukan orang yang sama dengan saya sepuluh tahun yang lalu. Satu dekade bukan waktu yang singkat untuk mencecap semua asam-manis kehidupan. Tapi masih terlalu singkat dibandingkan kehidupan kita di alam-alam berikutnya.

Berada di tempat ini kembali membuat saya merenung. Betapa cepatnya kehidupan berlalu. Apakah sudah cukup berbekal untuk akhirat? Apakah sudah meraih yang terbaik dengan apa-apa yang Allah sudah siapkan untuk kita masing-masing? Agar jangan sampai 10 tahun kembali berlalu tapi hati masih mudah diombang-ambing oleh permasalahan dunia, karena tidak pernah tawakal betul kepada Allah. Agar jangan sampai 10 tahun kembali berlalu tapi kita masih disibukkan dengan urusan dunia dengan kehilangan ma’rifat kepada Allah yang akhirnya kita kehilangan saat memaknai kehidupan dengan dalam. 

Ah, hidup terlalu luar biasa untuk dilewatkan begitu saja dengan hanya sibuk berpikir tentang uang, ambisi dan sekian kemewahan yang ditawarkan dunia. I want more than that…jiwaku menginginkan sesuatu yang pernah dia saksikan sebelumnya. Sebuah kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata yang fisik ini…Sampaikan kami ya Allah…


Ballorig, Amsterdam 31 Maret 2025 / 1 Syawwal 1446

10.12



Friday, March 28, 2025

Agar jernih hati menghadapi keburukan orang lain

 Memang salah satu hal yang paling sulit adalah mengenali keburukan diri sendiri. Seperti kata pepatah, 

"Kuman di seberang laut nampak, gajah di pelupuk mata tidak nampak"

Lebih mudah melihat keburukan orang dan menghakimi orang dengannya dibanding berani memandang keburukan diri sendiri dan mengakui keadaan diri di saat itu apa adanya.Sering, saat keburukan ditampakkan oleh Allah di cermin semesta kehidupan kita, respon kita malah melempar cermin itu. Lagi-lagi seperti kata pepatah, 

"Buruk rupa cermin dibelah"

Mungkin yang tampak adalah pasangan yang rewel atau nyebelin. Atau kelakuan anak yang bikin kita mengelus dada banyak-banyak. Atau tingkah polah rekan kerja yang bikin aksi atau fitnah sedemikian rupa yang membuat kita emosi. Tapi kalau pandangan kita terpaku pada "bayangan-bayangan dalam cermin" dengan tanpa melihat obyek yang sebenarnya, maka semua pertolongan dari Allah untuk membaca diri dan mengenal jiwa kita itu menjadi sia-sia bahkan menjadi bumerang yang menambah tumpukan penyakit hati.

Maka mesti sabar menghadapinya. Kesel sih iya, pengennya meluapkan kemarahan. Justru pelajaran awal bagi para salik - pejalan menuju Allah - menurut Ibnu Arabi dalam bukunya "Adab para Salikin" adalah agar kita menahan marah. Kalaupun marah, upayakan agar tidak kelihatan marah. Nah, gimana tuh, tidak mudah tentunya tanpa pertolongan Allah. Justru itu, memang desain dunia akan dibuat sedemikian rupa agar kita merasa fakir, butuh betul pertolongan Allah di setiap saat.

Jadi ingat, saat melihat keburukan di saudara kita. Respon hati harus istighfar dan minta Allah yang mencabut keburukan di hati kita, karena dunia sekitar kita adalah cermin tiga dimensi yang demikian canggih yang merefleksikan kondisi hati dari saat ke saat. Kalau isi hati cahaya maka akan terpancar sebagai kebaikan. Sebaliknya jika di bagian hati ada kegelapan maka akan terwujud menjadi keburukan. Istighfar dan mohon Allah mengampuni. Sebagaimana kata Imam Ali, "Cabutlah kejahatan yang ada di saudaramu dengan mencabutnya dari dadamu."

Amsterdam, musim semi yang panas-dingin 28 Maret 2025, jelang akhir Ramadhan dan ujian mendapat rekan kerja yang alhamdulillah nyebelin. Astaghfirullah, cermin hati...

Tuesday, March 11, 2025

Kenali suara hawa nafsu

 


“…dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena akan menyesatkanmu dari jalan Allah” 

(Q.S. Shad: 26)

Yang membuat kita susah bersyukur adalah hawa nafsu yang masih mendominasi. Dia senang sekali memaksakan agendanya hingga membuat kita pontang-panting menghadapi aliran takdir kehidupan yang telah Allah gariskan. Wajar, karena hawa nafsu adalah entitas di dalam manusia yang terbentuk di alam dunia, setelah jiwa dan raga kita dipersatukan di dalam rahim ibunda. Hawa nafsu tidak mengenal Allah karena dia tidak hadir di Alam Alastu (Alam Penyaksian) yang disebutkan oleh Allah Ta'ala dalam Al Quran, 

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari tulang punggung anak cucu Adam, keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksiannya terhadap jiwa mereka sendiri (seraya berfirman), "Bukankah Aku ini Rabbmu (alastu birabbikum)?" Mereka menjawab, "Betul, kami bersaksi (bala syahidna)." (Kami melakukannya) agar pada hari Kiamat kamu (tidak) mengatakan, "Sesungguhnya kam lengah terhadap hal ini." 

(QS Al A'raaf [7]:172)

Adalah jiwa kita yang diberi pengetahuan tentang bagaimana menempuh perjalanan di dunia dan alam-alam berikutnya. Oleh karenanya jika kita hanya mengandalkan kemampuan raga beserta akal pikiran yang ada hanya akan dibuat sulit dan terseret-seret dalam menjalani goresan pena takdir kehidupan. Karena akan ada hal-hal yang tak terjangkau oleh pertimbangan logika manusia. Yang akhirnya manusia cenderung menjadi mengeluhkan kehidupannya dan tidak menerima ketetapan Allah. Dia akan tersesat dalam rimba belantara kehidupan sambil berupaya keras mencari solusi kehidupan pada arah horizontal hingga kepayahan dan akhirnya patah. Apa yang dia cari hanya fatamorgana alam dunia yang fana. Maka, ingatlah bahwa diri kita yang sebenarnya adalah jiwa kita. Cari itu. Rasakan kehadirannya dengan terus menerus mengasah cermin hati. Ikuti syariat Muhammad SAW, karena itu adalah jalan kebangkitan jiwa. Agar kita tidak merana terus dalam kehidupan karena terus didikte oleh suara hawa nafsu dari dalam diri.[]

Amsterdam, 11 Maret 2025 / 11 Ramadhan 1446

Siang hari di musim semi yang berawan. Jelang waktu Dhuhur, 12.50