Tuesday, July 8, 2025

JEJAK LUKA MASA KECIL

 Anak muda ini bagus sebenarnya kalau kerja hanya saja dia kerap berkonflik baik dengan pelanggan atau dengan sesama rekan kerja. Saya perhatikan pencetusnya hal-hal yang 'sepele'. Rekannya bertanya sesuatu dan dia akan cenderung menjawab dengan ketus atau bahkan "nyolot". Nah, kalau pas ketemu karakter api lagi udah deh saling teriak satu sama lain. Sedemikian rupa saya harus melerai mereka dan membawa mereka ke dalam kantor. 

Malam ini terjadi lagi. Dia terlibat adu mulut tidak hanya dengan pelanggan tapi juga dengan rekan kerjanya. Sedemikian memanas situasinya hingga ia mengeluarkan kata-kata kasar yang saya tidak bisa terima. Saya panggil anak muda ini secara pribadi ke kantor untuk bicara empat mata. Saya ungkapkan bahwa kelakuannya berkata-kata kasar seperti itu tidak bisa diterima dan jika ia tidak bisa menahan dirinya lebih baik pulang saat itu juga. 

Dia terdiam. Lalu mencoba menjelaskan apa yang terjadi dengan seribu satu jurus. Dan dia mulai bicara tergagap-gagap. Saya perhatikan dia mulai begitu kalau stress. Dan dia pun mulai meracau bicara ngga karuan hingga saya harus stop. Sambil memegang dadanya.

"Listen, i know you meant well. I know you are a good person. And i'm sure you didn't mean what you say. I know you. You can do much better than this. What's happened?"

Dia terdiam beberapa saat. Lalu mulai memalingkan wajahnya. Tampak bulir-bulir air mata mengalir di pipinya.

"My mom always so hard on me. She beats me if i misbehave. She will say nasty things to me. I feel like no matter what i do, i can never be good enough for her..." Dia pun tenggelam dalam tangisannya.

Saya terdiam. Memberinya ruang untuk mengeluarkan semua unek-uneknya.

Malam itu saya menyaksikan bagaimana luka yang ditorehkan oleh orang tua bisa berdampak sedemikian rupa dalam performa kerja seseorang. Anak muda ini seorang pekerja keras. Akan tetapi jika ia ada dalam situasi dimana orang lain bicara agak keras atau seperti memberikan tekanan kepadanya, maka seluruh sel memori dalam dirinya seperti teraktivasi dan cenderung memberikan defense mechanism dengan tindakan dan kata-kata yang agresif. Sesuatu yang dia pelajari dari orang tuanya. Dia tidak pernah belajar cara lain untuk mengatasi situasi yang tidak menyenangkan seperti itu. It's the only coping mechanism that he knows. 

"Do you want to learn other was to deal with such situation?" tanya saya kepadanya.

Tangisnya mulai reda dan dia mulai tampak lebih tenang hingga ada dalam posisi untuk bisa mendengarkan. 

Dia mulai belajar untuk tenang menghadapi situasi yang dirasa menekannya. Tentu dibutuhkan waktu untuk mengganti pola yang sudah terbiasa dilakukan berpuluh tahun lamanya. Tapi setidaknya dia mulai berubah. 

Pelajaran buat kita orang tua. Jangan sampai emosi kita menoreh luka di hati anak-anak kita. Kalaupun sudah terjadi, istighfar banyak-banyak dan minta supaya Allah mengganti sayyiah yang sudah terlanjut kita tularkan kepada anak-anak itu supaya diganti dengan hasanah. Dia Maha Kuasa. 

Pelajaran lain buat saya, saat berhadapan dengan seseorang yang tingkah lakunya demikian menyebalkan. Lagi-lagi, luangkanlah waktu untuk bicara dari hati ke hati. Timing is of essence. Karena kalau orang itu belum siap tidak akan bisa terbuka. Meanwhile, be like an ocean. It remains pure even when it receive such polluted streams.[]

Amsterdam, 8 Juli 2025 

11.04

Di sela-sela penerjemahan Kitab Nabi Daniel di perpustakaan Reigerbos

Monday, July 7, 2025

Mulang Tarima

 "Mulang tarima" adalah istilah dalam Bahasa Sunda yang artinya membalas jasa. Biasanya kita kaitkan dengan seorang anak yang ingin membalas pengorbanan dan kasih sayang orang tua dalam membesarkannya, yaitu dengan apapun yang bisa diberikan dan membahagiakannya. Walaupun sebenarnya seorang anak tidak akan pernah bisa membalas kasih sayang orang tua dalam bentuk materi, kalaupun ia memiliki tujuh bumi dan segala isinya. Kasih sayang orang tua itu tidak bisa dipadankan dengan sesuatu yang bersifat material dunia. Namun agama memberi panduan, bahwa ada cara untuk membalas kasih sayang mereka yaitu dengan membebaskan mereka dari perbudakan hawa nafsunya. Agar jiwanya merdeka. Itulah syarat untuk berjalan di shiraathal mustaqiim. Merdeka dari hawa nafsunya. Agar orang  tua kita menjadi hamba-hamba yang dilimpahi dengan nikmat-Nya. 

Seorang anak yang baik akan cenderung membahagiakan orang tuanya. Tak terlepas dari kolega saya, katakanlah namanya Ano, seorang perempuan paruh baya dari Ghana. Dia baru saja kehilangan ibunya beberapa minggu lalu. Beberapa setelah kabar kewafatan ibunya saya lihat dia sudah kembali bekerja, walau saya dapati beberapa kali matanya sembab. Saya panggil dia untuk bicara empat mata. 

"How are you Ano?"

"I'm sad Tessa..."

"I can see that. Of course you need time to grief."

(Saya lalu peluk dia dan membiarkan dirinya menangis sesenggukan di bahu saya)

"But Ano, why don't you take several day off so that you can give yourself time to grief?"

"Tessa, you know my contract, i won't get money if i don't make hour. I need to bury my mother."

Hah? Saya kaget. Beliau perlu uang untuk mengubur ibunya yang telah meninggal beberapa hari yang lalu. Rupanya di Ghana biaya pemakaman dan semua ritualnya tidak murah, rata-rata butuh 5000-an USD bahkan bisa lebih untuk melaksanakan prosesi pemakaman dan sebagian besar dana itu biasanya ditanggung oleh anak-anaknya. Sebagai anak tertua, Ano merasa bertanggung jawab untuk bisa segera memakamkan ibunya. Makanya dia kerja keras hingga mengumpulkan cukup uang demi bisa memakamkan ibunya dengan layak.

Wow, saya geleng-geleng kepala. Untung ya di dalam Islam kita tidak dibebani biaya yang mahal untuk menguburkan jenazah. Bahkan dibantu oleh para saudara kita. Sebab secara hukum, jenazah orang yang meninggal harus sesegera mungkin dikebumikan. 

Kisah Ano adalah salah satu dari kisah perjuangan seorang anak untuk membahagiakan orang tuanya, bahkan sampai ke titik akhir dari perjalanan jasadnya. Namun sebenarnya, perjalanan di barzakh adalah perjalanan yang panjang, kadang kita sebagai anak lupa bahwa orang tua kita yang telah tiada justru membutuhkan 'nafkah' dari kita melebihi saat mereka masih hidup di dunia. Kita sering lupa berdoa bagi mereka. Sering lupa mengirim hadiah bagi perjalanan mereka di alam barzakh. Dalam sebuah hadits dikisahkan bahwa setiap hari Jum'at para penghuni alam kubur dibebaskan untuk bisa mengunjungi sanak saudara yang masih hidup. Sebagian kita mungkin tidak merasakan atau tidak menyadari kehadiran mereka. Akan tetapi usahakan di hari itu kita lakukan doa khusus, mengaji khusus atau kalau perlu berinfaq khusus atas nama mereka, agar saat mereka pulang kembali ke tempat kediamannnya masing-masing di alam barzakh tidak dalam keadaaan tangan hampa. Itulah bentuk mulang tarima yang indah dan menakjubkan bagi segala limpahan kasih sayang dan perlindungannya kepada kita semasa kecil. 

Al Fatihah untuk kedua orang tua kita.


Amsterdam, 7 Juli 2025

15.13 sore. Saat anak-anak sudah mulai kembali dari sekolah dan rumah mulai ramai dengan suara canda tawa mereka. 

THE ILLUSION OF POWERLESSNESS

 Saya senang memerhatikan kisah hidup seseorang. 

Kadang saya bisa asyik ngobrol lama dengan "random stranger" yang tiba-tiba terbuka dan menceritakan kisah hidupnya yang luar biasa. Saya mengagumi kisah hidup setiap orang karena setiap detilnya adalah tulisan tangan Yang Maha Kuasa. Dan Allah tidak pernah berbuat sesuatu yang sia-sia, selalu ada pelajaran yang melimpah dalam setiap takdir kehidupan yang Dia izinkan ada. 

Kalau saya perhatikan, banyak titik balik seseorang untuk kemudian menapaki jalan kembali dan bertaubat kepada Allah setelah yang bersangkutan dihadapkan dengan sebuah situasi hidup yang dia tidak dibuat berdaya disana. It's when you become powerless. 

Itu adalah saat kita kehilangan orang yang kita cintai baik melalui kematian atau perpisahan. Saat ketika orang dekat kita harus menjalani sakit berat sekian lama. Saat ketika usaha atau bisnis yang kita andalkan sebagai sumber penghidupan kita harus gulung tikar oleh berbagai sebab. Apapun itu, Allah tidak pernah kehilangan cara untuk membuat hamba-Nya fakir. 

Sesuatu yang oleh orang banyak dipandang sebagai sebuah tragedi atau kegagalan dalam kehidupan, ternyata di sisi lain adalah sebuah rahmat-Nya yang luar biasa, yang tanpa mengalami itu seseorang hanya berkutat di dunia fana yang akan dia tinggalkan suatu saat dan lalai untuk berbekal mempersiapkan akhiratnya. 

Inilah pentingnya mempelajari Al Quran sebagai panduan kehidupan. Karena semua kaidah dalam menghadapi pernak-pernik kehidupan ada di dalamnya. Agar kita tidak terlampau sedih dengan apa yang luput dari kita dan terlampau bahagia hingga lupa daratan akan apa yang kita dapatkan di saat ini. 

Jadi, sahabat. Manakala kita berada dalam kondisi tidak berdaya. Whenever you feel powerless, know that it is actually a moment when you'll find your true strength. Just be patient and have faith to Allah.[]

Amsterdam, 7 Juli 2025

Senin, one of my favourite day of the week. 13.27. Di musim panas yang mendung dan berangin kencang. 

Monday, June 9, 2025

 Perbudakan Zaman Ini


Ternyata isu perbudakan masih merupakan hal yang relevan di saat ini.

Memang fenomenanya bukan berwujud orang yang dirantai dengan belenggu besi dan dipaksa mengerjakan hal yang diinginkan oleh yang memperbudak. Belenggu perbudakan zaman sekarang lebih canggih, ia tak nampak tapi mengikat dengan sangat kuat. Kasat mata, sehingga yang diperbudak pun tidak sadar bahwa dirinya tengah diperbudak.

Belenggu-belenggu itu bisa berupa keinginan-keinginan yang melampaui kapasitas dirinya. Sedemikian rupa sehingga ia memaksakan diri menjadi seperti apa yang dia inginkan, walaupun harus menjalani kehidupan dengan berjinjit atau memakai topeng agar dianggap hebat oleh manusia.

Belenggu itu bisa berupa harapan-harapan yang tak pada tempatnya dari keluarga atau orang sekitarnya yang dia pandang begitu penting pendapatnya. Sedemikian rupa hingga mempengaruhi keputusannya dalam mencari jodoh, memilih jurusan kuliah, atau menetapkan pekerjaan tertentu.

Belenggu itu bisa berupa kejadian-kejadian di masa lalu yang suram yang belum tuntas diproses dengan tuntunan Allah. Sedemikian rupa hingga mewarnai karakter dirinya.

Manusia ternyata banyak yang tidak merdeka. Diperbudak oleh sekian rantai persoalan. Lupa bahwa mereka punya Tuhan. Lalai merenungi bahwa setiap hal yang menimpa dirinya betul-betul hanya dari Allah Ta'ala. Dzat yang tidak pernah menzalimi ciptaan-Nya bahkan sebutir atom pun.

Siang malam manusia hanya bertarung dan disibukkan dengan fenomena lahiriyah dan menghabiskan energi, kapasitas dan sisa usianya untuk membangun istana pasir di tepi pantai. Hanya menunggu waktu ia hilang dihempas oleh ombak kematian.

Manusia menjadi terbelenggu di dunia. Lupa atas kapasitas dirinya yang berpotensi sebagai insan kamil, manusia sempurna yang memiliki raga, jiwa dan ruh. Yang dengannya ia mestinya bisa menjadi orang yang merdeka. Terbang tinggi ke alam keabadian melalui apapun anak tangga di bumi dimana dia ditempatkan.

"Engkau punya sepasang sayap (jiwa) untuk terbang, mengapa memilih untuk merangkak?" - Jalaluddin Rumi

Amsterdam, Senin 9 Juni 2025, libur hari kedua paskah di musim semi yang cerah

Wednesday, June 4, 2025

Perenungan di hari pengenalan

 Hari ‘arafah adalah hari pengenalan. Mestinya kita makin mengenal Allah, Sang Rabb melalui diri kita sendiri. Melalui takdir kita masing-masing. Pada apa-apa yang telah Dia kadarkan. Makanya dzikirnya penuh dengan pengesaan kepada-Nya. Tiada Ilah selain-Nya. Mestinya yang mengatur kehidupan, yang mengatur mood, yang mengatur segala keputusan hidup adalah Dia karena “milik-Nya segala kerajaan dan segenap pujian”.


Di hari ‘arafah ini, ambil waktu untuk merenung dalam-dalam. Untuk berdua saja dengan Allah. Berdua saja, entitas diri kita dan Dia. Tidak bahkan dengan hawa nafsu kita. Tanggalkan kedua terompah seperti saat Musa akan bersua dengan Allah dan disuruh menanggalkan kedua terompahnya.


“Maka tanggalkanlah kedua belah terompahmu, sesungguhnya engkau sedang berada di lembah yang suci; Thuwa." QS Thahaa:12


Terompah adalah semacam kendaraan yang dipakai di dunia ini. Tanggalkan jiwa dan ragamu.

Tanggalkan semua mimpi, ambisi, rencana, keinginan, cita-cita, khayalan, hasrat, emosi dll.


Di hari ‘arafah adalah saatnya wuquf. 

Berhenti dari semua kegiatan.

Agar kita bisa merenung.

Dan mendengarkan Dia yang berbicara melalui hati kita.


“…Dia akan memberi petunjuk kepada qalbnya…”

QS Ath Thagabuun:11


Kenali dirimu. 

Kenali takdir kehidupan yang melingkupimu.

Kenali kebisaan dan potensimu.

Kenali pula batasan-batasan dan kelemahanmu.


Berjalanlah mengarungu kehidupan dengannya. 

Dengan semua bekal yang Allah berikan. Sadari bahwa setiap hal yang menimpa kita dan kita miliki sekarang sudah didesain ribuan tahun bahkan sebelum “kedua terompah” kita ada.


Apa artinya? Semua ada tujuan tertingginya.

Sungguh tidak ada yang bathil. Tidak ada yang sia-sia.

Bahkan dalam takdir yang nampaknya kacau dan tragis sekalipun. Adalah goresan tangan-Nya yang menuliskan di lauh mahfuzh.


Kenali semua itu. Baru kita bisa mulai melihat keindahannya.

Baru kita bisa menerima keping demi keping takdir kita.

Baru dengannya kita mulai bisa bersyukur.

One piece of fate at a time.

Sampai akhirnya kita bisa bersaksi,


“Rabbana maa khalaqta haadza baathila”

Wahai Rabb tidaklah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia…

QS Ali Imran 191


Selamat melalukan perenungan di hari ‘arafah.


Amsterdam, 5 Juni 2025 / 9 Dzulhijjah 1446 H

3.11 am jelang waktu shubuh

🥰

Tuesday, June 3, 2025

Selamat Jalan Bang Bas...

 Beberapa jam yang lalu saya mendengar ihwal kepergiannya.

Saya tahu dia sudah mendera sakit sekian lama, tapi serangan kali ini benar-benar telak merenggut nyawanya. Maktub, sebuah ketetapan Ilahiyah, sesuatu yang dituliskan di saat janin berusia 120 hari di rahim sang ibunda. Sahabat saya ini harus pergi melanjutkan perjalanannya ke alam barzakh.
Saya tidak berkesempatan berinteraksi banyak dengan beliau. Tapi saya selalu terkesan dengan senyumnya yang hangat dan keramahannya yang tulus.
Malam ini (waktu Indonesia) saya mengikuti pembacaan surat yaa siin bersama untuk beliau. Konon, hari pertama berada di alam barzakh adalah hari yang sulit, karena kita kaget tiba-tiba berpindah alam. Maka kami sebagai sesama saudara mencoba membantu mengiringi keberangkatannya dengan doa.
Di malam ini juga saya mendengar berbagai kesaksian dari para sahabatnya. Yang menceritakan betapa baiknya beliau dan betapa gagah beraninya ia menjalani kehidupan. Bukan dengan bermodalkan senjata atau fasilitas kehidupan, akan tetapi dengan tawakal penuh kepada Allah Ta'ala. Bermodalkan keberanian itu beliau menempuh jenjang pendidikan S3, memindahkan seluruh keluarga ke Bandung, sama sekali dengan modal nol. Beliau hanya percaya bahwa kalau memang Allah menyuruh sesuatu pasti dunianya akan dibukakan. Dan memang pintu-pintu dunia dibukakan berkali-kali untuknya dan keluarga. Kita yang menyaksikan di sekitarnya dibuat geleng-geleng kepala. Kagum dengan kekuatan keyakinan dan takjub dengan pertolongan Allah yang demikian cepat. Dan itu berkali-kali terjadi.
What a beautiful testimony.
You see when we leave this earth, we can only take nothing rather what we have given: a full heart enriched by love, service and courage.
Thank you for your living example of having a courage in life Bang Bastian Jabir Pattara. This is not a goodbye. But i wish you well in barzakh. Semoga Allah Ta'ala melapangkan alam barzakhnya dan mengampuni segala khilafnya. And i would like to know more about your story there. Let's keep in touch.

Amsterdam, 3 Juni 2025 / 7Dzulhijjah 1446 H

Monday, June 2, 2025

Before you judge me

Before you judge me

Try hard to love meLook within your heart then askHave you seen my childhood?

Lagu di atas jadi themesong episode hidup saya yang satu ini. 
Ceritanya, saya punya kolega baru, ibu dua anak, orang Eropa Timur. Biasanya saya dimudahkan gaul sama orang, tapi kok sama yang satu ini susah ya. Kepentok terus. Ada saja hal dan kelakuan dia yang bikin saya tidak berkenan. Dan saya bukan tipe orang yang bisa menyembunyikan kekesalan, mesti raut muka saya terlihat judes buat dia. 

Lha ndilalah beberapa minggu ini saya kebagian jadwal kerja terus sama ibu ini. Lama kelamaan, saya makin melihat hal-hal positif tentangnya, dan itu membantu melapangkan interaksii keseharian kita. Sampai suatu hari seluruh tembok pertahanan saya yang cenderung ogah berkawan dengannya runtuh seketika dalam percakapan lima menit di dalam mobil dalam perjalanan mengantar dia ke rumahnya untuk mengambil barang tertentu yang diperlukan di kantor. Awalnya sekadar berbasa-basi supaya tidak sepi di jalan. Saya bertanya, "Apa kabar orang tuamu?" Lalu jawabannya membuat saya tertegun. Dia bilang,

"Saya tidak pernah mengenal orang tua saya."

Untuk beberapa saat dia terdiam. Saya pun hanya menelan ludah saja dan bersiap dengan jawaban berikutnya.

"Beberapa hari setelah saya dilahirkan saya dan semua saudara saya disimpan di panti asuhan karena kedua orang tua kami adalah pemabuk berat. Pemerintah mengambil hak asuhan dan merehabilitasi kedua orang tua. Tapi sampai sekarang sangat jarang saya berbicara dengan keduanya."

Dia kemudian bercerita banyak dalam sisa waktu perjalanan yang hanya 3,5 menit itu. It's amazing how much you can learn about someone in just 3,5 minutes.

Setelah itu saya hanya terdiam. Saya berpisah dengannya dan masih merenung sepanjang perjalanan pulang, dengan mata mulai berkaca-kaca. I cannot imagine being in her position. Saya jadi bisa memahami semua perilakunya yang membuat saya tidak berkenan itu. She simply doesnt know. Dia tidak punya orang tua yang mengajarkan sopan santun atau yang memberinya perhatian. She lives a hard life and she becomes tough and hard sometimes. It's her defense mechanism. She needs to survive it all. 

Sejak percakapan itu saya jadi sayang sama dia. Memang tipis batas antara sayang dan benci itu. Kami pun bisa bekerja sama dengan lebih baik. Suasana kerja berubah. Ah, pelajarannya jadi memang mesti digali dulu semua itu. Jangan langsung ambil kesimpulan dengan informasi yang terbatas. Itu tadi kata Mas Michael Jackson, before you judge me, try hard to love me.. Setiap orang pasti dibentuk oleh masa kecilnya masing-masing. Dan kisah hidup setiap orang tidaklah sama. Sadari bahwa perilaku seseorang hanya puncak dari gunung es dari sebuah persoalan dan pengalaman hidup yang padat yang sebenarnya penuh dengan pengajaran dari-Nya. 

Lain kali kalau menghadapi orang yang nyebelin, jangan berburuk hati dulu. Carilah waktu untuk duduk bersamanya. Perhaps all you need is 3,5 minutes to see beyond what you can see. []

Amsterdam, 2 Juni 2025
Senin pagi, 9.38. Cuaca mendung dan angin dingin di bulan semi.