Thursday, December 4, 2025

Waktu di bumi dan misi hidup kita

 There is something sacred about time. It is related to our purpose of life. Something that has been written in our soul even long before we were born here on earth.

***

Waktu menyingkap sesuatu yang gaib buat manusia. Adapun bagi Allah, Dia Maha Tahu awal dan akhir. Maka beriman kepada yang gaib, yang belum terlihat, yang belum terbayang dan belum terpikirkan sangat membantu manusia dalam menjalani ketidaktahuan masa depan. Itulah fungsi taqwa kepada Allah. Tanpa itu kita hanya menjadi budak sekian banyak perubahan zaman dan pergerakan arus kehidupan. 

Al Quran menjadi pemandu dalam menjalani waktu-waktu kehidupan. Tanpa tuntunannya kita hanya akan menduga-duga dan meraba dalam kegelapan sambil memegang sesuatu yang tak pasti. Betapa melelahkan dan tersiksanya hiduo seperti itu! Sementara Allah menghendaki kebahagiaan hakiki bagi semua hamba-Nya. Adalah kita yang suka mendikte Allah dengan mempersyaratkan keadaan dan situasi tertentu untuk bisa bahagia. Padahal kebahagiaan itu terkait dengan pemenuhan misi hidup kita di dunia. Our unique purpose of life. Sesuatu yang setiap insan diciptakan untuk itu. Sesuatu yang tertulis sejak di Alam Alastu (QS Al A’raaf:172) dan dikalungkan ke leher jiwa-jiwa kita. Sebuah perjanjian untuk menjadi khalifah di bumi. Perwakilan-Nya dalam alam terjauh ini. Setiap orang dicipta untuk misi hidup tertentu dan semua garis takdirnya mempersiapkan dia untuk melakukan misi itu. Tugas kita di titik ini adalah berhenti dan tafakur sambil memohon kepada Allah agar dituntun untuk membaca kitab kehidupan kita agar kita hidup menjadi seperti apa yang Dia inginkan.[]


Amsterdam, 4 Desember 2025

Di sela jeda istirahat saat shift malam di KFC, 7.49 malam



Wednesday, December 3, 2025

Kerjakan dengan cinta dan ikhlas

 When you do things with love and sincerity, you live your life with so much sense of purpose and devotion. And that what makes life worth living.

***

Saya perhatikan, mereka yang betah di satu pekerjaan selama lebih dari 10 tahun biasanya adalah mereka yang menyukai pekerjaan tersebut. Walaupun ada faktor kebutuhan ekonomi yang berkelindan tapi dalam derajat tertentu mesti ada kesukaan dengan hal yang mereka lakukan setidaknya selama 40 x 5 jam setiap minggunya itu. Kalau tidak, bisa dibayangkan melakukan hal yang tidak disukai hampir setiap hari dan bertahun-tahun? Bagaimana efeknya bagi jiwa dan kesehatan mental dan fisik dirinya. Belum lagi bicara kualitas pekerjaan tersebut dan dampak serta dinamikanya terhadap klien atau rekan kerja.

Kadang, kehidupan membuat kita tidak berkutik dan mengerjakan apa yang ada karena tidak ada pilihan lain. Tapi kita bisa belajar untuk setidaknya menyukai kegiatan dan pekerjaan itu. It’s about a mindset. Karena kecintaan itu bis- dibangun. Adapun keikhlasan, nah ini yang diberi. Kita harus minta kepada-Nya agar diberi hati yang ikhlas. Setidaknya langkah awalnya adalah menerima dulu apa yang ada dengan senyum dan kebersyukuran. Allah akan melihat bagaimana kita merespon terhadap segenap pemberian-Nya, dan kalau kita bersyukur dengan apa yang ada tentu Dia akan bukakan pintu rezeki lain, itu sudah janji-Nya. Jadi berjuanglah untuk menyukai apa yang kita lakukan, lihat segi positifnya, gali keutamaannya, eksplorasi titik-titik yang bisa membuat kita tersenyum dan senang mengerjakannya. Agar semua yang kita lakukan jadi bernilai ibadah dan amal shalih. Hanya dengan cara ini hidup kita jadi bermakna, apapun manifestasinya. 

Reigersbos, Amsterdam, Rabu, 3 Desember 2025

Menunggu Elia les piano, 18.34 senja hari yang gelap di musim gugur






Just keep walking

One day, it won’t hurt so much, i promise. But today it does. So, cry it out. It’s okay. Because your feelings are worth validating. And letting yourself feel is how you heal.

Just keep walking. One breath at a time. One step at a time. One day at a time. You never know what can come from taking it just one day at a time.

***

Sakit memang rasanya. Kehilangan orang yang kita cintai. Apakah melalui kematian, terpisah jarak, atau apapun dinamika kehidupan yang mungkin terjadi. Itulah kehidupan dunia. Semuanya fana. Tidak ada yang abadi. Begitulah desain kehidupan di alam ini. Kita hanya singgah sebentar untuk belajar dan menjadi, untuk kemudian berjalan pulang ke kampung akhirat.

Mendera rasa sedih adalah salah satu hal yang mesti dirasakan di sini. Agar tumbuh kuat sifat sabar dan kasih sayang. Jangan bungkam rasa sedih itu. Jangan juga pura-pura kuat dan cuek kepada kesedihan. Seakan ia tak pernah ada. Rangkul rasa sedih itu, coba duduk dan dialog dengannya. Karena ia di balik rasa sedih ada ribuan kisah cinta dan asa yang mesti dikenali. Sebab itu bagian dari kita juga.

Dalam Islam dikenal periode waktu berduka cita. Lama waltunya bervariasi. Tapi lihatlah bahkan rasa duka diberi tempat dalam agama yang mulia ini. Syaratnya tidak berlebihan dan tidak berkepanjangan. Karena roda kehidupan terus berjalan dan di setiap harinya ada karunia-Nya yang tak terkira yang tak akan kita raih kecuali kita bangkit dari keterpurukan duka cita dan mencoba mensyukuri apa yang ada. Hari demi hari. Langkah demi langkah. Nafas demi nafas.[]

Amsterdam, Ceintuurbaan, 3 Desember 2025 jam 10.21 pagi




Agar hidup benar-benar bahagia

Happiness will radiate from within when you’re living a life that’s fulfilling your soul.

***

Kunci kebahagiaan hidup ada di kepuasan si jiwa (nafs) bukan sekadar pemenuhan segenap kebutuhan fisik. Karena esensi dari manusia itu justru jiwanya. Qalb adalah entitas yang ada di jiwa. Ia bagaikan jantung bagi raga. Jika qalb baik maka baik seluruhnya. Dan hanya dengan dzikir kepada Allah qalb akan tenang. Bukan dengan yang lain, sebab qalb insan dicipta hanya untuk-Nya, agar Dia bisa bertajalli di sana.

“Tidak memuat-Ku langit-Ku dan bumi-Ku melainkan qalb hamba-hamba-Ku yang beriman” - Hadist Qudsiy.

Maka mulailah merasakan keberadaan jiwa, dimulai dengan mangasah hati nurani dengan limpahan cahaya shalat (terutama shalat di awal waktu) dan gosokan dzikir agar qalb mengkilap dan kita bisa membaca petunjuk-Nya. Sebab kita perlu ditunjuki agar tidak terantuk-antuk dalam pilihan dan langkah yang salah dalam hidup. Agar tidak terjebak dalam fatamorgana dunia yang tampaknya memberi kenyamanan tapi sebenarnya membuat jiwa merana. Karena jika itu yang terjadi sampai kapanpun kita hanya terlunta-lunta dalam padang pasir penderitaan, kebingungqn dan kesepian sambil kehilangan arah hidup. Sampai akhirnya maut menjelang kita pun gelagapan karena belum sempat mempersiapkan bekal akhirat.[]

Amsterdam, Ceintuurbaan 

3 Desember 2025 jqm 9.58 pagi




 Don’t let yourself down because you’re afraid of the unknown or you don’t want to leave your comfort zone. 

Move on. Don’t dwell too much on the past. It’s not productive. You can’t change anything that has happened. Move forward and trust your new path will bring anything that makes you happy.

***

Salah satu tanda hati yang taqwa adalah kita beriman pada yang ghaib (QS Al Baqarah:3). Artinya tawakal kepada Allah atas apa-apa yang belum terpikir solusinya, akan sesuatu yang belum kelihatan jalan keluarnya dan secara logika rasanya tidak mungkin. Hati yang taqwa melampaui semua ketakutan itu dengan sebuah keyakinan bulat bahwa Allah Ta’ala menggenggam hidupnya. Dan Dia adalah Sang Rabb, sebaik-baik pemelihara.

Syukuri saja hidup yang ada dari hari ke hari. Karena jika kita mensyukuri apa yang ada dan memberikan pensikapan yang terbaik dari hari ke hari, itu yang justru akan membuka pintu rezeki ke depan.

Tinggalkan pikiran-pikiran yang tak produktif yang berkata “gimana kalau…nanti gimana…” dan ribuan bisikan ketakutan yang tak produktif itu. Karena kenyataannya apa yang dipertakuti itu bukan menjadi realitas saat ini. Hiduplah di saat ini. Live your present moment. Itu kunci hidup tenang.

Amsterdam, Ceintuurbaan

Pagi mendung di musim dingin, 3 Desember 2025 jam 9.38 pagi.






Tuesday, December 2, 2025

Saat cinta bertepuk sebelah tangan

 Sakit memang rasanya.

Saat cinta bertepuk sebelah tangan.

Ketika semua limpahan kehangatan dan kasih sayang tidak berbalas.

Manakala kita berharap demikian jauh dan dengan rasa yang dalam tapi pihak lain sepertinya dingin-dingin saja menanggapinya.

Mau begini terus? Sampai kapan?

Bukankah kita berhak mendapatkan seseorang yang setidaknya memancarkan kehangatan rasa yang sama? Bukan sekadar bertepuk sebelah tangan. Akan lelah sendiri.

Memang tidak mudah untuk move on. Apalagi saat rasa itu masih menggelora di hati. Maka inilah saat untuk bersujud banyak-banyak. Agar emosi kita bisa Allah kendalikan dan segala pikiran yang mengharapkan serta memimpikan hal yang bukan hak kita tak perlu dihadirkan. Hanya Allah yang kuasa mencabut, karena adalah Dia yang menghadirkan semua itu.

Jangan berkecil hati. Setiap orang sudah ditakdirkan berpasang-pasangan. Dan kalau memang dia pasangan sejati kita pasti cinta kita tak akan bertepuk sebelah tangan. Tetaplah berpengharapan sambil menapaki hari demi hari dengan amal shalih dan kerja serta pikiran produktif. It’s the only way!


Amsterdam, 2 Desember 2025

Saat jeda kerja, 20.12 malam.


Cintai makhluk sekadarnya saja

 Mencintai ciptaan itu sekadarnya saja. Jangan all-out. 

Agar hati kita penuh untuk Allah saja. Adanya dinikmati dan tiadanya tak perlu diratapi lama-lama.

Yakinlah bahwa apa-apa yang hilang dari kita akan digenapi keberadannya. Karena itulah hukum keseimbangan alam, setiap yang diambil akan diganti dengan hal lain. Memang butuh kebijaksanaan untuk melihatnya. Jelas butuh kesabaran dalam menjalaninya. Tapi inilqh kehidupan. Sebuah proses yang menakjubkan untuk menjadi manusia yang seutuhnya (insan kamil).


Amsterdam, sepulang dari Futuhat team meeting di Zurich, 2 Desember 2025

7.51 pm