Tuesday, December 23, 2025

Hidup memang tidak mudah

 Life is not easy. It requires us to be patient and learn to sit in discomfort. But that’s what makes us whole.

***

Hidup di dunia ini banyak ujiannya. 

Keniscayaan keadaan alam mulkiyah. Sebuah alam yang terjauh dari sumber cahaya, dimana kegelapan banyak mewujud.

Tapi, justru melalui alam kegelapan ini sebiji benih mulai pecah kecambah dan mulai bertumbuh.

Ada hal-hal yang baru bisa tumbuh ketika kita melalui ketidaknyamanan, kesempitan serta kesedihan dalam hidup. Sesuatu yang Sang Pencipta kondisikan untuk menjadikan kita manusia yang paripurna (insan kamil). 

Ada sebuah rasa lega membangun kesadaran ini. Bahwa semua air mata dan kesakitan yang kita alami memiliki makna. Bukan sebuah kesia-siaan. Pun bukan sebuah tragedi semata. Semua datang tiupan kasih sayang Sang Ar Rahman. Dengannya, kita bisa sedikit-sedikit mulai tersenyum. Walau masih menahan sakit. Walau masih menanggung duka. Alhamdulillah atas semua hal. Terima kasih ya Allah atas karunia hidup ini.

Amsterdam, 24 Desember 2025 pukul 1.37 pagi.





Monday, December 15, 2025

Allah ingin agar kita bahagia

 Because life is meant to be lived

***

Allah Ta’ala adalah Dzat Yang Maha Pemurah. Dia menciptakan manusia semata-mata untuk menganugerahkan karunia-Nya karena toh Dia tak butuh sujud dan sembah kita. Jikalau segenap makhluk sedunia tunduk memuja-Nya tak akan menambah seatom pun kemuliaan-Nya. Sebaliknya jika seantero ciptaan mencaci-Nya tak akan mengurangi sehelai rambut pun ketinggian-Nya. Dia adalah Dzat Yang terlepas dari makhluk dan tak bergantung pada apapun. 

Kita diberi kehidupan untuk mengenal-Nya. Sebuah perjalanan panjang bagi setetes air untuk mengenal sesamudera ilmu-Nya yang masih bisa dimanifestasikan. Maka kehidupan dunia baru etape ketiga dari sebuah perjalanan panjang itu. Ibnu ‘Arabi menyebut etape pertama kehidupan di alam (mawthin) Alastu, sebuah alam penyaksian tentang Rabb. 

“Alastu birabbikum? (Bukankah Aku Rabbmu)?”

Tanya Allah. Dan setiap jiwa manusia dari awal hingga jiwa yang akan turun nanti di dekat akhir zaman bersaksi,

“Balaa syahidna.(Benar, kami menyaksikan)”

Maka hidup sebenarnya adalah serangkaian penyaksian dari segenap pertolongan Allah dan bagaimana Allah memperkenalkan Diri-Nya melalui manifestasi asma, perbuatan (af’al) dan sifatnya.  Itu intinya. Agar kita tidak terlampau larut dan tenggelam dalam dinamika dunia yang selalu berubah. Agar kita tak terlalu berduka dengan apa yang luput dalam hidup. Dan pun tak lupa diri saat mendapat keluangan.

Hidup itu mestinya dinikmati. Sakit dan enaknya. Lapang dan sempitnya. Tawa dan tangisnya. Semua hal itu dipergantikan seperti bergantinya siang-malam. Itu yang membuat jiwa kita hidup. Mestinya.

Amsterdam, 15 Desember 2025, pukul 20.39 malam di KFC




Friday, December 12, 2025

Belajar dari kesalahan hidup

A wrong decision is sometimes a way to know that it is not that we want. It’s okay to learn by messing up. As long as we learned the lesson.

***

Kadang dalam hidup kita mengambil keputusan yang kita sesali seumur hidup. It’s okay. Jangan terlalu meratapinya. Toh itupun sesuatu yang Allah izinkan, pasti banyak hikmah di dalamnya.

Kadang kita harus berjalan berputar-putar dan sepertinya hidup kok tidak “lurus-lurus” saja. Tapi justru akan ada banyak hal yang lebih kita pelajari dibanding sekadar hidup lurus dan malah jadi bangga diri.

Akhirnya yang mesti kita cermati adalah apakah kita makin mengenal Allah atau malah makin melupakan Dia dalam hidup ini. Jadi biarkan kehidupan mengalir kemana pun yang Dia kehendaki. Yakin bahwa tak ada sesuatu yang di luar kuasa-Nya. Dan kalau itu Dia izinkan terjadi pasti banyak hikmah yang mesti kita raih.

Tetap optimis dan berpengharapan.


Amsterdam, Jum’at 12 Januari 2025 stasiun Bijlmer Arena, dalam perjalanan ke Subway pukul 11.33 pagi




Thursday, December 11, 2025

Allah selalu memberi yang terbaik

 Allah selalu memberi yang terbaik.

Selalu.

Itu sudah sifat-Nya.

Tak pernah dan tak mungkin Dia mencipta sesuatu dengan iseng atau asal-asalan.

Artinya semua takdir kehidupan pasti sarat dengan hikmah dan pembelajaran. Tak ada sebuah kebetulan. Semuanya telah dirancang dengan sangat teliti dalam pertimbangan ilmu-Nya.

Bahkan takdir yang nampaknya buram dan menyakitkan pun sebetulnya mengandung sebuah rahmat. Hanya pengetahuan kita yang setetes memang akan pontang-panting untuk membaca ilmu-Nya yang seluas samudera. Makanya kita diminta untuk berserah diri (aslama). Tunduk dalam kepatuhan. Sabar dalam menjalaninya. Tawakal dalam menjelangnya.

Lagipula, hal-hal yang akal kita yang terbatas ini kira buruk, belum tentu buruk dalam ilmu-Nya. Cukuplah firman Allah berikut menenangkan hati kita saat ditimpa gundah gulana menghadapi episode hidup yang membuat hati kita sedih.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimj, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui sedang kami tidak mengetahui.” QS Al Baqarah:216

Amsterdam, di pagi hari yang dingin dan gelap di musim gugur, 12 Desember 2025 pukul 7.45




Sunday, December 7, 2025

I’m proud of you for not giving up

 I’m proud of you for not giving up, no matter how many times you’ve wanted to. I’m proud of you for choosing to keep going.

***

Aku bangga lho pada sama kamu.

Sungguh.

Beberapa kali aku tahu kamu bisa saja menyerah dan banyak orang akan mafhum karena memang demikian berat beban yang kau pikul. Tapi kau bangkit lagi dan lagi dan lagi. Seolah tak ada kata “menyerah” dalam kamus hidupmu.

Aku bangga pada keputusanmu untuk terus mencoba. Walaupun kau harus mengorbankan dirimu sendiri. Itu tanda mulai dewasanya jiwamu. Ketika kau memberikan apa yang kau cintai yaitu dirimu sendiri.

Aku tak tahu kekuatan apa yang bisa membuatmu terus berjalan menerjang semua rasa sakit dan kontraksi takdir. Apapun itu pastilah bukan entitas bumi, karena itu sesuatu hal yang di luar jangkauan nalar manusia. Karenanya balasan untukmu mestilah sesuatu yang di luar kenikmatan dunia. Kau sungguh pantas mendapatkannya. Semoga Allah menjadikanmu cahaya-Nya untuk senantiasa menerangi gelap dunia.

Untuk semua manusia kuat yang menolak untuk menyerah dalam hidup.


Amsterdam, 7 Desember 2025 pukul 21.02 saat jeda istirahat.



Saturday, December 6, 2025

Ambil waktu untuk rehat sejenak

 It’s okay to have moments where all you want to do is disconnect from the world. To step back from the noises and demands to rest, reflect and recharge your soul.

It’s refilling, not fleeing.

You are gathering strength, not surrendering.

You don’t owe others apologies for prioritizing your peace.

***

Kita cuma manusia biasa. 

Ada saatnya kita butuh istirahat.

Ada saatnya kita butuh menyepi.

Ada saatnya kita butuh berjarak dari rutinitqs keseharian yang tak terasa demikian membelenggu.

Dalam agama dikenal uzlah. Menyepi untuk menenangkan dan membuat clear hati. Karena manusia itu memang didesain untuk memiliki daya perenungan yang dalam. Sesuatu yang kerap terberangus oleh seribu satu kesibukan keseharian. Padahal keutamaan merenung ini jelas disebutkan oleh Nabi SAW bahwa “Tafakur sesaat lebih baik dari shalat 100 rakaat.”

Sesaat tafakur lho. Bayangkan.

Shalat 100 rakaat itu saya pernah coba saat melakukan shalat bara’ah di malam nisyfu Sya’ban. Seratus rakaat itu saya kerjakan setelah shalat Isya sampai jelang shubuh. Jadi bayangkan sesaat merenung itu akan melahirkan sesuatu yang jauh lebih baik dibanding ibadah shalat berjam-jam. Ada sebuah rahasia besar di balik berdiam bersama Allah. Karena yang dimaksud merenung disini tentu bukan mengeluhkan nasib akan tetapi berdzikir tentang Allah, merenungkan kehidupan, siapa aku, mau kemana, apa tugasku di dunia ini dll.

Jadi, luangkanlah waktu kosong itu. Dalam keseharian alhamdulillah Allah bantu dengan diwajibkannya ibadah shalat lima waktu. Itu pun bisa jadi saat perenungan jika shalatnya tegak dan khusyu. Inilah indahnya hidup mengikuti hukum aturan agama, karena Sang Pencipta tentu tahu kebutuhan kita yang sejati dan telah merancang jalan-jalan untuk memenuhinya.

Take your time to pause. Give a chance to yourself to redirect and prioritise to find clarity and purpose in this fast-pace world. []

Amsterdam, 6 Desember 2025. Saat jeda istirahat kerja jam 9.42 malam




Friday, December 5, 2025

Perasaan akan datang silih berganti. Lepaskan…

 Feelings constantly changing. One time you feel sad. The next moment you can smile. Feelings don’t last. That’s the bittersweet part about life. So that we learn to be grateful and be patient for whatever we have. Acknowledging these fluctuations as part of growth and learning to understand your internal responses, rather than being controlled by them, is key.

***

Jangan terlalu hanyut dalam perasaan. Sedih, gembira, marah, tenang, semua datang silih berganti dalam hidup. Karena hidup terus mengalir seperti air sungai, kita tidak pernah menginjak air yang sama setiap saatnya. Rangkul semua emosi itu dengan ikhlas, sakitnya berfungsi membersihkan hati dan bahagianya mestinya menjadikan kita lebih mensyukuri kehidupan ini.

It’s okay to be sad. It’s okay to cry. It’s part of life.

Asal jangan berkepanjangan hingga kehilangan kesempatan mengagumi pemberian Allah lain yang tak terhitung itu jumlahnya. Jalani terus kehidupan satu demi satu langkah. Satu demi satu nafas. Beranjak dari satu saat shalat ke saat shalat lainnya. Fokus berdzikir kepada-Nya agar perasaan itu tidak mencuri perhatian kita dari beribadah kepada-Nya. 

Dan ingat, kita dulunya adalah entitas tak bernama yang tak memiliki apapun. Jadi sesuatu yang kita tangisi dan dukakan kepergiannya itu mestinya tidak boleh begitu membelenggu hati kita hingga kita seolah tidak bisa hidup tanpanya. Itu sudah tanda kita diperbudak oleh sesuatu selain Allah. Istighfar. Barangkali kita memang sudah menuhankan sesuatu selain Allah itu selama ini dan biarlah rasa sakit ini kita persembahkan untuk menebus kelalaian selama ini. Agar kita pulang bersih hati. Husnul khotimah. Aamiin…

Amsterdam, jeda istirahat di KFC, Jumat 5 Desember 2025 jam 20.18 malam.