Tuesday, August 30, 2022

 "Hal yang paling sulit dalam hidup adalah mengenal diri sendiri"

- Thales

Really? Difficult?
Ah rasanya tidak sulit mengenal diri sendiri.
I know what i want.
Aku tahu persis apa yang aku inginkan dan apa yang ingin aku capai. I know myself.

O ya?
Kalau memang kamu benar-benar tahu apa yang kamu inginkan kenapa tidak pernah puas dalam hidup?
Kenapa selalu merasa kesepian?
Kenapa merasa harus selalu mengejar kebahagiaan?
Kenapa sulit mensyukuri apa yang ada dan berdamai dengan takdir hidup?
Kenapa iri dengan rezeki orang?
Kenapa menginginkan pasangan orang lain?
Kenapa ga pede dengan kehidupanmu sendiri?
Kenapa minder dengan keadaan dirimu?
Kenapa harus memakai make-up yang demikian tebal?
Why do you think you are not enough?
Kenapa malu dengan kondisimu hari ini?
Kenapa hatimu tidak damai dan tenteram?
Kenapa selalu harus merasa mengejar sesuatu?
Kenapa sulit tidur di malam hari?
Kenapa masih takut dengan kematian?
Kenapa ...?
Kenapa ...?

 Jangan biarkan situasi dan keadaan kita mengungkung kita. Semua kondisi yang ada mewujud dengan izin-Nya. Adalah hawa nafsu kita yang berkata

"oh, aku terjebak dalam keadaan ini"
"oh, aku kesepian"
"duh, hidupku susah sekali"
"oh, i'm stuck in this!"
"oh, aku tidak bisa berbuat banyak"
"ah, aku hanya bisa begini"
"kok gagal terus ya"
"i never gonna make it"

Sahabat, semua pengkondisian yang Allah tetapkan saat ini adalah yang terbaik buat kita. Terima dulu dan syukuri, agar air hikmahnya mulai bisa diminum oleh jiwa kita yang haus akan kesegaran makna Ilahiyah.

Berikut berita gembira yang panutan kita, sang insan mulia junjungan Nabi Muhammad saw katakan tentang sebuah "keterkepungan".

Telah diriwayatkan dari Yuusuf bin ‘Athiyah dari Tsabit dari Anas, bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Apakah kamu tahu siapakah orang mukmin itu?” Mereka menjawab “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Kemudian Rasul bersabda,

“Orang mukmin adalah orang yang hanya meninggal dunia memenuhi pendengarannya dengan sesuatu yang Allah cintai. Andai saja seorang hamba bertakwa kepada Allah ketika berada dalam sebuah rumah bahkan dalam tujuh puluh rumah sekalipun, dan pada setiap rumah terdapat satu pintu besi, maka Allah akan mengenakan pakaian surban amalannya (membalas amalnya dengan pahala sangat besar).”

Jadi, kuncinya adalah TAQWA.

Amsterdam, 30 Agustus 2022
10.33 pagi
Selepas mengantar anak-anak di hari pertama kembali ke sekolah setelah liburan panjang musim panas

Sunday, August 28, 2022

 “Kamu bahagia?”

Tanya saya sungguh-sungguh. 


“Aku bahagia” jawabnya.

Tapi saya tak begitu yakin dengan jawaban itu. Sorot matanya berkata lain.

Dan benar, sekian bulan berselang dia membuka keadaan yang sebenarnya. Bahwa dia tidak bahagia. Bahwa dia serasa tak menjejak di kehidupannya. Padahal kurang apa, pasangan baik sekali, harta berlebih, kesempatan terbuka lebar. Tapi dia belum tahu apa yang harus dia lakukan dengan itu semua. Saya jadi belajar bahwa keberlimpahan itu justru bisa membuat seseorang tidak bahagia, bahkan jatuh dalam depresi. Too much of anything will kill you.


Di kasus lain, sahabat yang lain. Saya tak perlu bertanya apakah dia bahagia atau tidak. Saya bisa merasakan kebahagiaan yang terpancar dari matanya, senyumnya, gelak tawa spontannya. Padahal kehidupannya ya ampuun Gusti, penuh liku, pendakian, jalan terjal dan duri. Banyak difitnah, sempat luntang-lantung tidak punya tempat tinggal, kesempitan rezeki sudah jadi menu rutin. Tapi hatinya damai menjalaninya. Seperti ada daya gaib yang mendorongnya dan memberi dia energi melalui semua itu. Dan lisannya banyak menyebut Dia. Tak sekalipun dia sesali takdir yang ada. Sahabat ini buat saya adalah contoh hidup seseorang yang berserah diri pada ketetapan-Nya. Bukti nyata bahwa kebahagiaan bukan didefinisikan oleh ha-hal duniawi yang dimiliki. 


Dua pembelajaran nyata di hadapan mata bahwa bahagia itu tidak tergantung oleh situasi dan keadaan hidup juga bukan pada lapang atau sempitnya keadaan. Karena yang satu kondisinya lapang dan berkelimpahan tapi tetap tidak bahagia, sedangkan yang lain didera ujian dan dihimpit kesempitan tapi lisannya masih bisa memuji-Nya dan memancarkan kedamaian di matanya.


Sungguh sebuah pelajaran kehidupan.

Saturday, August 27, 2022

 Jangan terpaku dengan permasalahan dan tantangan yang besar tapi yakinlah bahwa akan ada sebuah pertolongan Allah yang akan melampaui itu semua.

Bersama-Nya semua jadi mungkin.
Zurich, 27 Agustus 2022

 GEMPA DALAM DIRI


Kalau masih mudah marah, rentan bingung, gampang gelisah dan khawatir ketika menghadapi sekian banyak permasalahan kehidupan, itu tanda dalam dirinya masih ada yang belum menjejak dengan kokoh.

Gambarannya seperti gunung yang memuntahkan isinya dan membuat gempa di sekitar. Tidak nyaman untuk hidup dalam keadaan seperti itu. Agar si stabil, maka gunung harus selesai meletus dan mendingin, baru kemudian dia berfungsi menjadi pasak dalam diri.

Apa yang membuat itu stabil? Ilmu.
Ilmu yang haq bisa membuat diri kokoh. Kita menjadi lebih paham dan mengerti kenapa Allah mengizinkan hal itu terjadi, kenapa seseorang dibuat demikian menyakiti kita, kenapa bisnis kita dibuat kolaps, kenapa rencana kita berantakan, kenapa...kenapa...semua hal yang berpotensi mengguncang kehidupan kita menjadi lebih dipahami cara bermainnya.

Ilmu kehidupan itu masalahnya tidak mudah diraih. Tidak semudah nonton pengajian online, mendengarkan khutbah atau membaca ratusan buku. Itu semua tentu jadi gerbang ilmu. Tapi ilmu itu harus mendarat di dalam diri. Dan kunci seseorang diajari ilmu adalah dengan taqwa. Hati yang taqwa tiangnya adalah tawakal. Mengandalkan diri dan kehidupan 100% pada Allah Ta'ala. Bukan mengandalkan diri pada rencana yang telah disusun rapi, mengandalkan tabungan, mengandalkan bantuan orang, mengandalkan ditolong handai taulan, mengandalkan dibantu si anu, mengandalkan proyek berhasil, mengandalkan sekolah keren itu untuk menjamin masa depan anak, mengandalkan sesi konseling untuk keberhasilan pernikahan, dan banyak hal yang bisa membuat hati menjadi tergelincir menjadi menyekutukan Allah. Tidak lagi 100% mengandalkan Dia, tapi 90:10, 80:20, lama-lama terkikis habis hingga kita menjadi musyrik betul dan akan terlunta-lunta dalam samudera masalah kehidupan yang tak bertepi, na'udzubillahimindzaalik.

Jadi, simpel saja. Sumber kegelisahan dan keresahan kita pasti dari hijab hati yang ada. Pasti dari pengandalan kepada sesuatu selain Dia. Pasti pada pengharapan kepada makhluk-Nya. Pasti dari bercita-cita kepada selain Dia. Dan manusia sangat rentan terperosok kepada hal-hal yang memalingkan dari-Nya. Itu kenapa shalat yang lima waktu mestinya menjadi pilar. Agar kita mereset ulang tujuan hidup dan niat kita melakukan banyak hal. Apalagi kalau ditambah shalat sunnah, dzikir dll. Semoga bumi diri makin ajeg, tenang, damai.

Zurich, 28 Agustus 2022 / 1 Safar 1444 H

Sunday, August 21, 2022

Benarkah Tuhan Sang Pemelihara kita?

Lisan dan akal pikiran bisa saja berkata lantang. "Tuhan Sang Pemelihara alam semesta!"

Tapi, ketika pekerjaan terancam hilang,
Jelang akhir bulan dan uang sudah menipis,
Dagang tidak laku sementara kebutuhan mesti dipenuhi,
Tak kunjung bertemu dengan jodohnya,
Harga-harga melambung tinggi,
Bayangan harus membayar biaya kuliah anak di depan mata,
Orang tua sakit dan membutuhkan biaya perawatan tinggi,
Masa depan dan pendidikan anak-anak,
Keadaan pelik di rumah tangga,
Teman atau saudara yang biasanya membantu tiba-tiba menghentikan bantuannya.
Lantas kita menjadi khawatir, cemas, takut, bahkan marah kepada seseorang atau situasi tertentu. Tuhan seakan tidak berdaya menghadapi itu semua.

Dinamika kehidupan bisa menyeret kita menjadi mempertuhankan sesuatu selain Sang Rabb. Kita menjadi demikian terbiasa menyandarkan diri dan penghidupan kita kepada sesuatu itu. Karena semua hal yang menyangkut keseharian kita senantiasa akan menguji kebenaran pernyataan kita di Alam Alastu (Alam Penyaksian) dulu.

"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), "Bukankah Aku ini Tuhanmu (alastu birabbikum)?" Mereka menjawab, "Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi (bala syahidna)." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, "Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini."
- QS Al A'raaf [7]: 172

Saturday, August 20, 2022

 Salah satu cara untuk meneropong derajat keikhlasan hati, adalah dengan memerhatikan saat orang lain memuji kita atas sekian pencapaian kita misalkan atau karena anak-anak kita yang sukses atau kecantikan dan ketampanan kita dll.

Lantas respon hati kita masih bereaksi seperti,
"Ya, itu karena kerja kerasku"
"Iya dong, masa gitu aja ngga bisa"
"Ya memang harusnya begitu"
"Gue gitu lho..."
"Itu kan karena aku yang mendidik mereka"
Semua punya nada yang sama, Tuhan dilupakan. Walaupun katakanlah disertai berkata"alhamdulillah" tapi condongnya hati kemana tak bisa luput dari pengamatan Allah Ta'ala, Yang Maha Tahu segenap isi hati manusia.
Keikhlasan adalah hal yang halus, bahkan malaikat tak bisa mendeteksinya. Ikhlas atau tidaknya seseorang benar-benar sebuah rahasia antara sang hamba dengan Sang Pencipta. Tapi setidaknya gunakan salah satu tips sederhana ini saat mengevaluasi kemana wajah hati kita dihadapkan. Kalau masih tenggelam dalam pujian dan tidak mengembalikan semua pujian itu kepada Dia yang membuat segalanya mungkin, sebenarnya kita masih belum jadi hamba-Nya yang terpercaya - yang mengembalikan semua hal yang Dia amanahkan.
Ikhlas itu membutuhkan hilangnya si ego, karena seseorang tidak akan bisa ikhlas dan eksis pada saat yang sama.