Wednesday, December 31, 2025

Tahun Baru, Bulan Baru, Menit Baru, Detik Baru

 Kita biasanya heboh merayakan tahun baru tapi sering lupa bahwa sebenarnya setiap saat kita selalu dalam hidup yang baru karena Allah senantiasa menciptakan yang baru dan tidak ada ciptaan yang berulang. 

Coba renungkan lagi. Kita senantiasa dalam ciptaan baru.Mind blowing isn't it? Tapi kita merasa hidup dalam sebuah aliran yang kontinu. Bahkan seperti menjalani kehidupan yang itu-itu saja. Dari Senin ke Senin. Dari gajian bulanan ke gajian bulanan lain. Kita tak sadar sudah terperangkap dalam ilusi dunia yang demikian kuat mencengkeram. Tak heran kalau kita terlalu menggenggam kuat kehidupan. Terlalu cinta dunia sehingga demikian sakit saat dibuat berpisah dengan sesuatu yang kita cintai. Hati kita demikian melekat dengan sesuatu itu hingga mengacuhkan Tuhan. Kehidupan kita menjadi terlau didikte oleh hawa nafsu dan syahwat yang selalu berjuang dan mencari segala cara untuk mempertahankan status quo. Kita telah terpenjara di alam dunia dan menjadi lupa bahwa hidup ini ada orientasinya. Lupa bahwa kita tadinya tidak ada dan diberi kehidupan dengan sebuah mandat suci untuk dikerjakan dalam penggal kehidupan dunia yang hanya sekali lewat ini. 

Saatnya berefleksi akan arah kehidupan yang kita jalan, apakah sudah sesuai dengan apa yang Dia kehendaki? Ya, kehendak Allah. Bukan kehendak hawa nafsu, ambisi, syahwat apalagi ekspektasi masyarakat. Jangan sampai kita menyesal nanti, merasa sudah mengerjakan banyak hal tapi di pandangan Allah itu tidak ada apa-apa atau bahkan sesuatu yang buruk. Naúdzubillahimindzaalik. 

Amsterdam, di tengah malam saat penghujung tahun 2025 

Tuesday, December 30, 2025

Kenapa susah banget untuk move on?

 Ini fakta kehidupan mendasar yang mesti kita renungkan dalam-dalam, yaitu bahwa setiap saat Allah menciptakan yang baru. Artinya tidak ada ciptaan yang sama walaupun indera kita yang kemampuannya sangat terbatas ini melihat hidup sebagai satu aliran yang kontinu. Padahal tidak. Kita dimusnahkan dan dicipta dari saat ke saat yang satuan waktunya sepersekian detik. Saking cepatnya proses tersebut sampai-sampai kita melihatnya sebagai sesuatu yang terus ada. Ajaib ya?

Begitulah kuasa Allah. Yang selalu sibuk setiap saatnya. Mengurusi kita semua. Semesta ciptaan yang Dia kasihi.

Jadi apa yang membuat kita terikat pada sebuah kenangan hingga menimbulkan perasaan tertentu? Karena kita diberi memori. Itu kenapa untuk beberapa kasus tertentu, saat kita dibuat lupa itu sebetulnya pertolongan Allah yang besar. Karena kalau semua serba ingat pasti meledak kepala kita karena overloaded.

Sekaranh, kenapa kita susah banget untuk move on?

Karena kita masih hidup di masa lalu. Dalam bayangan nostalgia kita dan tidak menghirup udara segar penciptaan yang baru di saat ini. Ya, saat ini,l. Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Siapapun yang menciptakan kalimat itu mestilah orang yang sangat bijak dan paham natur kehidupan. Bumi kita adalah semua takdir jasadiyah yang mengikat kita. Kita diikat dengan takdir yang Dia telah tuliskan di lauh mahfuzh jauh sebelum  semesta dicipta. Agar setiap manusia mencapai kebahagiaan yang ultima, bukan sekadar kebahagiaan yang semu dan terbatas. Maka kehidupan akan penuh dengan pengaturanNya. Kita harus belajar menerima dan melepaskan dari waktu ke waktu. Flow with the flow. God’s flow. Agar kita tidak merasa terseret-seret aliran takdir kehidupan. Berserah diri adalah kuncinya. Just trust the process. Trust Allah. Tawakal. You’ll be fine.


Amsterdam, 30 Desember 2025

11.51 pagi on mu way to Subway


Wednesday, December 24, 2025

Tunggu keajaiban-Nya

Saat kehidupan terasa menghimpit.

Saat satu per satu hal yang biasanya kita andalkan mulai runtuh.

Saat kesedihan demikian terasa mencengkeram erat hingga kita merasa sakit.

Saat kita berada di titik nadir kehidupan. 

Bersabarlah. Karena itu justru hari-hari Tuhan. 

Saat ketika Dia akan hadir dan menampakkan kuasa-Nya.

Tunggu. Jalani hidup dari satu nafas ke nafas lain.

Dari satu detak jantung ke detak jantung lain.

Step by step.

Dari satu waktu shalat ke waktu shalat lain.

Terus bergerak, walaupun kita mesti merangkak. 

Karena di depan sana. Di satu waktu, pertolongan-Nya akan datang. 

Pasti! Karena itu sudah janji-Nya. Dan Dia bukan Dzat yang mengingkari janji. 

Tunggulah keajaiban-Nya. Agar kita bisa menjadi saksi-Nya yang sejati. 


Amsterdam, 24 Desember 2025 pukul 10.41

Di musim dingin yang mencengkeram. The transition phase... 

Tuesday, December 23, 2025

Hidup memang tidak mudah

 Life is not easy. It requires us to be patient and learn to sit in discomfort. But that’s what makes us whole.

***

Hidup di dunia ini banyak ujiannya. 

Keniscayaan keadaan alam mulkiyah. Sebuah alam yang terjauh dari sumber cahaya, dimana kegelapan banyak mewujud.

Tapi, justru melalui alam kegelapan ini sebiji benih mulai pecah kecambah dan mulai bertumbuh.

Ada hal-hal yang baru bisa tumbuh ketika kita melalui ketidaknyamanan, kesempitan serta kesedihan dalam hidup. Sesuatu yang Sang Pencipta kondisikan untuk menjadikan kita manusia yang paripurna (insan kamil). 

Ada sebuah rasa lega membangun kesadaran ini. Bahwa semua air mata dan kesakitan yang kita alami memiliki makna. Bukan sebuah kesia-siaan. Pun bukan sebuah tragedi semata. Semua datang tiupan kasih sayang Sang Ar Rahman. Dengannya, kita bisa sedikit-sedikit mulai tersenyum. Walau masih menahan sakit. Walau masih menanggung duka. Alhamdulillah atas semua hal. Terima kasih ya Allah atas karunia hidup ini.

Amsterdam, 24 Desember 2025 pukul 1.37 pagi.





Monday, December 15, 2025

Allah ingin agar kita bahagia

 Because life is meant to be lived

***

Allah Ta’ala adalah Dzat Yang Maha Pemurah. Dia menciptakan manusia semata-mata untuk menganugerahkan karunia-Nya karena toh Dia tak butuh sujud dan sembah kita. Jikalau segenap makhluk sedunia tunduk memuja-Nya tak akan menambah seatom pun kemuliaan-Nya. Sebaliknya jika seantero ciptaan mencaci-Nya tak akan mengurangi sehelai rambut pun ketinggian-Nya. Dia adalah Dzat Yang terlepas dari makhluk dan tak bergantung pada apapun. 

Kita diberi kehidupan untuk mengenal-Nya. Sebuah perjalanan panjang bagi setetes air untuk mengenal sesamudera ilmu-Nya yang masih bisa dimanifestasikan. Maka kehidupan dunia baru etape ketiga dari sebuah perjalanan panjang itu. Ibnu ‘Arabi menyebut etape pertama kehidupan di alam (mawthin) Alastu, sebuah alam penyaksian tentang Rabb. 

“Alastu birabbikum? (Bukankah Aku Rabbmu)?”

Tanya Allah. Dan setiap jiwa manusia dari awal hingga jiwa yang akan turun nanti di dekat akhir zaman bersaksi,

“Balaa syahidna.(Benar, kami menyaksikan)”

Maka hidup sebenarnya adalah serangkaian penyaksian dari segenap pertolongan Allah dan bagaimana Allah memperkenalkan Diri-Nya melalui manifestasi asma, perbuatan (af’al) dan sifatnya.  Itu intinya. Agar kita tidak terlampau larut dan tenggelam dalam dinamika dunia yang selalu berubah. Agar kita tak terlalu berduka dengan apa yang luput dalam hidup. Dan pun tak lupa diri saat mendapat keluangan.

Hidup itu mestinya dinikmati. Sakit dan enaknya. Lapang dan sempitnya. Tawa dan tangisnya. Semua hal itu dipergantikan seperti bergantinya siang-malam. Itu yang membuat jiwa kita hidup. Mestinya.

Amsterdam, 15 Desember 2025, pukul 20.39 malam di KFC




Friday, December 12, 2025

Belajar dari kesalahan hidup

A wrong decision is sometimes a way to know that it is not that we want. It’s okay to learn by messing up. As long as we learned the lesson.

***

Kadang dalam hidup kita mengambil keputusan yang kita sesali seumur hidup. It’s okay. Jangan terlalu meratapinya. Toh itupun sesuatu yang Allah izinkan, pasti banyak hikmah di dalamnya.

Kadang kita harus berjalan berputar-putar dan sepertinya hidup kok tidak “lurus-lurus” saja. Tapi justru akan ada banyak hal yang lebih kita pelajari dibanding sekadar hidup lurus dan malah jadi bangga diri.

Akhirnya yang mesti kita cermati adalah apakah kita makin mengenal Allah atau malah makin melupakan Dia dalam hidup ini. Jadi biarkan kehidupan mengalir kemana pun yang Dia kehendaki. Yakin bahwa tak ada sesuatu yang di luar kuasa-Nya. Dan kalau itu Dia izinkan terjadi pasti banyak hikmah yang mesti kita raih.

Tetap optimis dan berpengharapan.


Amsterdam, Jum’at 12 Januari 2025 stasiun Bijlmer Arena, dalam perjalanan ke Subway pukul 11.33 pagi




Thursday, December 11, 2025

Allah selalu memberi yang terbaik

 Allah selalu memberi yang terbaik.

Selalu.

Itu sudah sifat-Nya.

Tak pernah dan tak mungkin Dia mencipta sesuatu dengan iseng atau asal-asalan.

Artinya semua takdir kehidupan pasti sarat dengan hikmah dan pembelajaran. Tak ada sebuah kebetulan. Semuanya telah dirancang dengan sangat teliti dalam pertimbangan ilmu-Nya.

Bahkan takdir yang nampaknya buram dan menyakitkan pun sebetulnya mengandung sebuah rahmat. Hanya pengetahuan kita yang setetes memang akan pontang-panting untuk membaca ilmu-Nya yang seluas samudera. Makanya kita diminta untuk berserah diri (aslama). Tunduk dalam kepatuhan. Sabar dalam menjalaninya. Tawakal dalam menjelangnya.

Lagipula, hal-hal yang akal kita yang terbatas ini kira buruk, belum tentu buruk dalam ilmu-Nya. Cukuplah firman Allah berikut menenangkan hati kita saat ditimpa gundah gulana menghadapi episode hidup yang membuat hati kita sedih.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimj, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui sedang kami tidak mengetahui.” QS Al Baqarah:216

Amsterdam, di pagi hari yang dingin dan gelap di musim gugur, 12 Desember 2025 pukul 7.45