Sunday, January 25, 2026

Agar kuat menghadapi badai kehidupan

 You must build your own ground and strengthening it, so that when you life collapse you down go down with it. And that starts with acceptance and gratitude.

***

Ujian dalam kehidupan itu suatu keniscayaan. Tidak ada orang yang steril dari ujian, walaupun dari luar tampaknya damai-damai saja atau baik-baik saja tapi tak ada yang bisa meneropong kondisi hati orang.

Karena datangnya ujian itu suatu hal yang pasti, maka patutlah kiranya kita bersiap agar tak tumbang ketika hantaman badai kehidupan datang menerpa. Dan persiapan itu harus dilakukan setiap hari karena kita tidak tahu kapan datangnya musibah, sakit, kehilangan atau apapun yang terasa sebagai sebuah ujian hidup. Bahkan jika dia datang berupa kelimpahan pun sebenarnya adalah sebuah ujian yang menuntut kebersyukuran dan mawas diri.

Agar kuat menghadapi hantaman badai kehidupan, kita mesti belajar dari kekokohan sebatang pohon yang ditentukan dari kekuatan akarnya dalam menghadapi terpaan angin kencang. Akar yang semakin menghunjam ke bumi akan semakin mengokohkan si pohon. Kita pun begitu, akar adalah keimanan, dia harus dikokohkan dengan terpaan angin. Fungsi akar selain itu adalah untuk menyerap air dan unsur hara dari tanah. Air adalah lambang pengetahuan dan unsur hara adalah hal-hal kebaikan terkandung di bumi takdir kita. Kalau akar diri kita baik maka kita akan selalu bisa belajar hikmah dan pengetahuan di balik semua takdir yang Allah tetapkan dari waktu ke waktu. Tapi syarat agar pengetahuan itu didapat, hati harus bersih agar cahaya Allah bersinar disana. Cahaya itu yang menjadi medium komunikasi dengan Allah Ta’ala sehingga kita senantiasa tertuntun dalam menyikapi setiap aliran takdir yang ada. Tapi semua itu tidak akan terjadi kecuali kita menerima dan mensyukuri skenario hidup kita masing-masing. Baik- buruknya diterima apa adanya dengan sebuah keyakinan kalau Allah Yang Maha Ilmu yang merancang itu semua. 

Nanti, pada saat badai ujian itu datang. Akar yang selalu kuat membumi akan bisa menahan terpaannya. Hingga pohon pun tetap tegak dan dahan-dahannya merentang di langit hingga berbuah dan memberikan manfaatnya. Itulah cara menyebar rahmat Allah, menjadi rahmatan lil ‘alamiin. Insya Allah.

Amsterdam, 26 Januari 2026 pukul 00.18



Friday, January 16, 2026

Tak ada yang bisa memahami kita selain Allah

 Kesal karena disalahpahami oleh orang lain?

Ya jelas saja, wong pasangan bahkan diri sendiri bisa kesulitan memahami keseluruhan kompleksitas manusia yang ada.

Manusia itu kompleks dia punya berbagai alam di dalam dirinya, ada alam pikiran, alam keinginan, alam hawa nafsu, alam kenangan masa lalu, alam ambisi dll. Trilyunan lintasan pikiran, keinginan dan perasaan yang mengitari manusia. Gimana ngga pusing coba jadi manusia? Kalau Allah tidak bantu mudahkan dan stabilkan sepertinya sudah "korslet"(dari Bahasa Belanda kortsluiting) - alias jadi gila manusia. Dalam spektrum kegilaan yang luas, mulai dari gila psikotik, halusinasi, sampai pada masih dalam tataran waras tapi gila jabatan, gila pujian, gila kenyamanan hidup dsb. Demikian sulitnya bahkan mengatur sebuah alam pikiran agar dia damai. Makanya dalam shalat kepala disujudkan dalam-dalam. Simbol bahwa alam pikiran harus disujudkan di hadapan-Nya. Itu yang akan membuat diri kita lebih stabil dan tidak senantiasa terombang-ambing oleh gelombang alam pikiran yang senantisa menggelora. 

Jadi, memang kita itu makhluk yang kompleks. Jika ada sebuah luapan perasaan tertentu, sungguh tidak mudah untuk menggambarkan perasaan itu kepada seseorang. Kemungkinan tidak begitu dipahami atau bahkan disalahpahami demikian besar, karena kemampuan bahasa verbal untuk menggambarkan kompleksitas pikiran dan perasaan manusia sangat terbatas.

Pernah ada sebuah kejadian tertentu yang demikian membuat saya terpukul. Saya curhat dengan sahabat baik saya, lalu ditanggapi dengan dingin dan biasa menurut saya. Tidak memuaskan. Mau telp siapa lagi? Si A, ah ga bakalan paham. Si B, wah paling diceramahi. Si C? Wah apalagi, menjelaskannya saja sudah kepayahan. Di titik itu saya paham bahwa kiat betul-betul butuh membangun sebuah hubungan yang baik dengan Allah, karena hanya Dia yang bisa menerangkan semua perkara dalam hidup. Hanya Dia yang bisa memahami kompleksitas permasalahan yang ada. Hanya Dia yang bisa melihat berbagai lapisan dan dimensi dari sebuah perasaan yang saya coba untuk komunikasikan. 

Alih-aliih telp ini-itu. Saya angsung berwudhu dan shalat sunnah. Saya keluarkan semua uneg-uneg hati saya disana. Alhamdulillah plong rasanya. Solusi memang kadang tidak langsung terbaca saat itu juga. Tapi ada sebuah perasaan bahwa kita dipeluk Allah saja sudah terasa sangat menenangkan hati. Allah betul-betul satu-satunya  sumber kekuatan kita. Laa hawla wa laa quwwata illa billah.


Amsterdam, Jumat 16 Januari 2026 / 27 Rajab 1447 H pukul 13.05 siang yang cerah

Wednesday, January 14, 2026

Agar tidak diombang-ambing oleh ilusi kehidupan

 Dunia ini adalah medan ilusi, tak ada keberadaan yang sejati di dalamnya. 

Tasawuf adalah sebuah perjalanan jiwa. 

Perjalanan dari ego ke hati (qalb). Dari ilusi kepada kebenaran.

 - Muhyiddin Ibnu Arabi.


Kehidupan dunia adalah ilusi. Saking kuatnya ilusi yang ada sebagian besar manusia tidak sadar bahwa dirinya tenggelam di dalam ilusi. 

Ilusi adalah sesuatu yang tidak nyata. Seperti mimpi, apapun yang terjadi di alam mimpi bukanlah realita yang sesungguhnya. Oleh karenanya Rasulullah SAW bersabda, "Kebanyakan manusia tertidur, baru ketika mereka mati maka mereka terbangun". Bayangkan, hebatnya ilusi ini. Tidurnya saja bagaikan sebuah mimpi panjang yang demikian nyata. Kenapa ketika mati dia baru terbangun? Karena saat kematian jasad itulah manusia baru menyadari bahwa hakikat dia yang sebenarnya adalah jiwanya. Sang jiwa yang mestinya tumbuh akalnya dan banyak meminum hikmah dalam kehidupan. Akan tetapi sebagian besar manusia ketika meninggal tidak sempat meraup rezeki batin untuk jiwa sehingga saat terbangun di alam barzakh dan menjalani kehidupan berikutnya, jiwanya dalam keadaan merana. 

Orang-orang yang Allah kehendaki untuk taubat, akan dibangunkan dari tidur panjangnya di dunia ini melalui sebuah pengalaman "kematian"dalam kehidupan yang berupa kegagalan berumah tangga, sakit berat, kandas dalam berbisnis, dirundung perseteruan dengan keluarga atau pihak lain. Apapun itu yang bernuansa 'kiamat' dan seolah membumihanguskan semua kehidupan kita sebetulnya adalah sebuah rahmat agar kita terbangun dan hidup dalam jalan kehidupan yang baru. Di jalan yang lebih mengenal Allah. Di kehidupan yang lebih dalam dan sarat dengan hikmah alih-alih hanya mengejar hal-hal yang bersifat duniawi semata. 

Jadi, bermurah hatilah pada orang yang sedang didera ujian atau musibah dalam hidup. Siapa tahu mereka sedang Allah angkat derajatnya dan dibangunkan dari ilusi kehidupan nyaman yang pernah dijalaninya. Allah Maha Tahu apa yang terbaik untuk setiap kita. Atas apapun yang Allah ambil pasti dia beri ganti yang lebih baik. Pasti. Itu adalah sifat-Nya.

Maka tetaplah berjalan. Dan bersabarlah dalam menempuh pelepasan satu per satu tirai ilusi itu. Yakin bahwa di titik akhir, bahagia yang sejati akan kita jelang. Insya Allah. 

Amsterdam 14 Januari 2026 / 25 Rajab 1447 H

Pukul 14.07 siang di hari yang cerah untuk pertama kalinya setelah musim dingin yang beku.

Sunday, January 11, 2026

Say "alhamdulillah", even when life gets hard

 Hear me out my son.

The most powerful dhikr is "alhamdulillah"

When you say that it will change your world. Sometimes not because the circumstances or the condition change. But the acceptance of what is, is such a powerful thing. It opens up the door to any possibilities. Just because you are open up your heart for it. 

Most people usually say "alhamdulillah"when they experience good and happy things in life. But it takes a courage, honesty and wisdom to still say "alhamdulillah" even when the world seems tumbling down. Especially when you feel shattered inside. Because when you say "alhamdulillah" with all your heart, you accept the fact that this happened to you. The acceptance keep you rooted. And just like the tree that takes up all its nutrients and water from the ground. With that acceptance and gratitude, you will be able to drink in the knowledge and the hidden message that Allah put in every single inch of your life's destiny. Just trust the process...You will be fine. Insya Allah

Amsterdam, 11 January 2026

After praying together with Elia. 

Friday, January 9, 2026

Berjalan dalam ketidaktahuan

 It’s okay to keep move on even when we don’t know the answer yet. One day we will understand why by the time when we are ready to see the reality.

***

Merasa tidak tahu itu bukan kelemahan. Manusia memang makhluk yang bodoh kalau tidak Allah beri pengetahuan.

Justru salah satu ciri orang bertaqwa dalam Al Quran adalah

“Mereka yang beriman dengan yang gaib” - QS Al Baqarah:3

Yang gain itu artinya tak terbayangkan dari mana jalan keluarnya, tak terduga cara penyelesaiannya, tak dikira datangnya pertolongan itu. Maka yang mesti dibangun adalah keimanan. Sebuah cahaya yang menyala di hati bagi mereka yang membutuhkan panduan Allah. Cahaya yang menuntun mereka yang mencari-Nya. 

Dan kadang pemahaman itu datangnya nanti, lima atau sepuluh tahun lagi, bahkan lebih. Tapi bukan berarti kita dalam sebuah penantian yang sia-sia atau membuang waktu, karena setiap hari yang kita lalui dalam kebersyukuran itu membangun kesiapan kita untuk memahami lebih dalam kehidupan. Agar mulai terjawab satu-persatu semua pertanyaan dasar tentang siapa aku dan apa tujuan aku dilahirkan? Dengannya satu demi satu penggal kehidupan yang terjadi makin dipahami kenapa itu memang harus terjadi. Sampai kita bersaksi dengan sebuah kesadaran dalam dan berkata “Rabbana maa khalaqta haadza baathila”. Benarlah kiranya bahwa Allah menciptakan semua ini tidak dengan sia-sia…


Amsterdam, 9 Januari 2026

Jam 12.46, masih di ruang tunggu salon rambut, mengantar Rumi merapikan rambutnya yang mulai panjang.




Jalani selangkah demi selangkah

 Kadang, beban kehidupan terasa demikian berat hingga seakan kedua kaki kita terperosok dan terbenam dalam-dalam ke bumi kehampaan.

Kadang, rasa sakit itu terasa begitu kita membuka mata di saat terbangun dari tidur dan rasanya ingin tenggelam dalam dunia mimpi lagi, karena di dunia sana rasa sakit itu seakan tiada.

Kadang, hidup demikian kelam hingga kita tak bisa melihat kemana kita melangkah dan kita tenggelam dalam kebingungan.

Tapi yakinlah ini. Bahwa Allah tak pernah menzalimi hamba-Nya dan bahwa apapun yang menimpa kita masih dalam daya pikul kita, jika kita mengimani-Nya.

Jadi tetaplah berpengharapan. Jangan biarkan kekalutan dunia menghentikan rasa syukur kita akan setiap nafas yang kita hembuskan yang jumlahnya sekitar dua puluh ribuan setiap hari dan ratusan juta kali seumur hidup. Adapun semua kesulitan dan rasa sakit itu, minta agar Allah mengangkatnya, karena hanya Dia yang mengirimkan itu semua yang sanggup mencabutnya. Lalu jalani kehidupan selangkah demi selangkah sambil menunggu jalan keluar dan pertolongan dari-Nya. Hari ke hari. Dari satu waktu shalat ke waktu shalat lainnya. Keep walking. It’s the only thing that keeps you alive!

Amsterdam, 9 Januari 2026 

Sambil mengantar Rumi potong rambut jam 12.11 siang yang mendung dan hujan hingga mencairkan sisa-sisa salju yang ada.


Tuesday, January 6, 2026

Jangan sampai apapun merebut kebahagiaan kita

 Don’t let one bad moment hold so much power in you.

Look around and look inside, there are more wonders we have to be thankful for.

***

Ada pepatah, nila setitik rusak susu sebelanga. Memang otak manusia cenderung waspada terhadap hal-hal yang tak beres. Itu bagian dari survival instinct. Agar kita mawas diri. Tapi, berlarut-larut kesal atas hal-hal yang tidak kita sukai juga tidak sehat. Kita akan menderita jadinya jika hidup seperti itu. Sementara dalam kehidupan ada saja hal-hal yang tak berkenan terjadi. Perkataan atau perilaku seseorang yang menyakitkan. Rencana yang gagal. Mimpi yang kandas. Memang menyakitkan. Maka dibutuhkan kedewasaan untuk menjalani itu semua.

Bagian dari menjadi dewasa adalah “learn to sit with pain”. Belajar menerima ujian dengan tabah, sabar dan tak mengeluhkannya. Agar tak meronta-ronta atau meratap seperti anak kecil yang meraung-raung saat ia tak mendapatkan apa yang diinginkan. Karena hidup di dunia ya begitu adanya, kadang senang, kadang sedih. Ada kalanya dalam keluangan dan ada saatnya Allah menempatkan kita dalam kesempitan. Jalani dengan ridho, agar Dia pun ridho kepada kita. Kalau hati ridho, banyak hikmah yang terbuka sehingga satu persatu kita menjadi makin memaknai setiap penggal episode perjalanan takdir kita sejak lahir sampai sekarang. Dan menyaksikan bahwa semuanya luar biasa indah.

Jadi, tatkala sesuatu yang tidak kita sukai menimpa. Terima dengan senyuman di hati. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Karena bagaimanapun masih terlalu banyak anugerah-Nya yang tak terhitung banyaknya yang masih kita nikmati hingga detik ini. Look around. Look inside. There are so much wonders! Only if we realize it…


Di dalam metro menuju dari Ceintuurban ke Decahtlon, beli sepatu musim dingin untuk Rumi. Amsterdam yang masih diliputi salju, 6 Januari 2026 jam 12.43 siang. 






Sunday, January 4, 2026

Perubahan itu pasti: Jalani dan nikmati

“…Perumpamaan (dunia)adalah seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani, lalu mengering dan kamu lihat menguning, kemudian hancur…”

QS Al Hadid: 20

Dunia itu fana.

Artinya segala sesuatu bersifat sementara. Kehadirannya secara fisik tidaklah kekal. Dia bersifat sementara. Maka perubahan adalah sebuah keniscayaan. 

Ada saat berkumpul, ada saat berpisah. Ada saat bersuka cita dan ada saat berduka. Ada momen dalam keramaian dan ada masa dalam kesepian. Keadaan dan situasi akan terus berubah. Tapi kita mesti belajar untuk meraih makna di setiap saatnya. Hanya dengan itu maka semua perubahan itu menjadi berarti dan tidak nampak sia-sia.

Jalani saja apapun perubahan yang ada dengan sabar, syukur. Ikhlaskan dia. Persembahkan semuanya untuk Allah. Termasuk seluruh perasaan yang ada. Karena sungguh Dia selalu menantu kita untuk kembali mengingat-Nya.

Dunia akan hancur. Semuanya akan mencapai titik akhir. Tapi pelajaran yang kita raih akan menjadi milik kita selamanya. Karena hidup kita masih panjang. Dunia ini hanya alam sementara, tempat kita berbekal bagi perjalanan yang masih panjang. Sadari ini, agar kita tidak terlalu terpengaruh oleh pasang surut dunia. Hal itu akan selalu terjadi. Ada-tiadanya dijalani saja. Karena semuanya mendatang kebaikan yang sangat dan mengandung hikmah serta anugerah yang berlimpah. Raih itu semua dengan suka cita.

Amsterdam yang diliputi salju, 5 Januari 2026 jam 5.12 pagi

Friday, January 2, 2026

Karena hidup terlalu indah untuk diratapi

 It’s confirmed.

Cancer late stage. Stadium empat.

Dokter perkirakan tinggal beberapa bulan lagi hingga tubuhnya yang makin ringkih itu kemudian berhenti berfungsi total.

Tapi dia tidak mengeluhkan takdirnya. Dia tidak meratapi nasibnya. Malah dia bertanya, apa yang bisa saya lakukan untuk meraih yang terbaik yang Allah sudah siapkan di penggal waltu terakhir ini?

Wow, it’s amazing. Masya Allah. Bagaimana Allah meneguhkan keyakinannya di balik fenomena takdir kehidupan yang tampaknya sebuah tragedi. Ia masih bisa melihat rahmat-Nya selalu ada.

Ini pelajaran hidup yang nyata.

Kadang kita baru mulai mensyukuri sesuatu setelah ia tiada. Kadang kita baru mensyukuri nilai setiap nafas ketika hendak menghembuskan nafas terakhir. Kadang kita baru menyadari berharganya setiap detik kehidupan ketika itu tampak akan berakhir.

Maka berjuanglah mensyukuri kehidupan karena banyak mutiara hikmah dan ilmu di dalamnya yang akan kita sesalkan nanti ketika kita kurang bersabar dan tawakal kepada Allah saat menjalaninya.

Percayalah, Allah sudah mempersiapkan yang terbaik untuk kita semua. Akhir yang baik dan menggembirakan menanti mereka yang percaya pada pengaturan-Nya. Just believe and keep walking.😍

Amsterdam, 2 Januari 2026 jam 11.46 pagi

Di tengah butiran-butirqn salju yang menyelimuti musim dingin