Friday, January 16, 2026

Tak ada yang bisa memahami kita selain Allah

 Kesal karena disalahpahami oleh orang lain?

Ya jelas saja, wong pasangan bahkan diri sendiri bisa kesulitan memahami keseluruhan kompleksitas manusia yang ada.

Manusia itu kompleks dia punya berbagai alam di dalam dirinya, ada alam pikiran, alam keinginan, alam hawa nafsu, alam kenangan masa lalu, alam ambisi dll. Trilyunan lintasan pikiran, keinginan dan perasaan yang mengitari manusia. Gimana ngga pusing coba jadi manusia? Kalau Allah tidak bantu mudahkan dan stabilkan sepertinya sudah "korslet"(dari Bahasa Belanda kortsluiting) - alias jadi gila manusia. Dalam spektrum kegilaan yang luas, mulai dari gila psikotik, halusinasi, sampai pada masih dalam tataran waras tapi gila jabatan, gila pujian, gila kenyamanan hidup dsb. Demikian sulitnya bahkan mengatur sebuah alam pikiran agar dia damai. Makanya dalam shalat kepala disujudkan dalam-dalam. Simbol bahwa alam pikiran harus disujudkan di hadapan-Nya. Itu yang akan membuat diri kita lebih stabil dan tidak senantiasa terombang-ambing oleh gelombang alam pikiran yang senantisa menggelora. 

Jadi, memang kita itu makhluk yang kompleks. Jika ada sebuah luapan perasaan tertentu, sungguh tidak mudah untuk menggambarkan perasaan itu kepada seseorang. Kemungkinan tidak begitu dipahami atau bahkan disalahpahami demikian besar, karena kemampuan bahasa verbal untuk menggambarkan kompleksitas pikiran dan perasaan manusia sangat terbatas.

Pernah ada sebuah kejadian tertentu yang demikian membuat saya terpukul. Saya curhat dengan sahabat baik saya, lalu ditanggapi dengan dingin dan biasa menurut saya. Tidak memuaskan. Mau telp siapa lagi? Si A, ah ga bakalan paham. Si B, wah paling diceramahi. Si C? Wah apalagi, menjelaskannya saja sudah kepayahan. Di titik itu saya paham bahwa kiat betul-betul butuh membangun sebuah hubungan yang baik dengan Allah, karena hanya Dia yang bisa menerangkan semua perkara dalam hidup. Hanya Dia yang bisa memahami kompleksitas permasalahan yang ada. Hanya Dia yang bisa melihat berbagai lapisan dan dimensi dari sebuah perasaan yang saya coba untuk komunikasikan. 

Alih-aliih telp ini-itu. Saya angsung berwudhu dan shalat sunnah. Saya keluarkan semua uneg-uneg hati saya disana. Alhamdulillah plong rasanya. Solusi memang kadang tidak langsung terbaca saat itu juga. Tapi ada sebuah perasaan bahwa kita dipeluk Allah saja sudah terasa sangat menenangkan hati. Allah betul-betul satu-satunya  sumber kekuatan kita. Laa hawla wa laa quwwata illa billah.


Amsterdam, Jumat 16 Januari 2026 / 27 Rajab 1447 H pukul 13.05 siang yang cerah

No comments:

Post a Comment