You must build your own ground and strengthening it, so that when you life collapse you down go down with it. And that starts with acceptance and gratitude.
***
Ujian dalam kehidupan itu suatu keniscayaan. Tidak ada orang yang steril dari ujian, walaupun dari luar tampaknya damai-damai saja atau baik-baik saja tapi tak ada yang bisa meneropong kondisi hati orang.
Karena datangnya ujian itu suatu hal yang pasti, maka patutlah kiranya kita bersiap agar tak tumbang ketika hantaman badai kehidupan datang menerpa. Dan persiapan itu harus dilakukan setiap hari karena kita tidak tahu kapan datangnya musibah, sakit, kehilangan atau apapun yang terasa sebagai sebuah ujian hidup. Bahkan jika dia datang berupa kelimpahan pun sebenarnya adalah sebuah ujian yang menuntut kebersyukuran dan mawas diri.
Agar kuat menghadapi hantaman badai kehidupan, kita mesti belajar dari kekokohan sebatang pohon yang ditentukan dari kekuatan akarnya dalam menghadapi terpaan angin kencang. Akar yang semakin menghunjam ke bumi akan semakin mengokohkan si pohon. Kita pun begitu, akar adalah keimanan, dia harus dikokohkan dengan terpaan angin. Fungsi akar selain itu adalah untuk menyerap air dan unsur hara dari tanah. Air adalah lambang pengetahuan dan unsur hara adalah hal-hal kebaikan terkandung di bumi takdir kita. Kalau akar diri kita baik maka kita akan selalu bisa belajar hikmah dan pengetahuan di balik semua takdir yang Allah tetapkan dari waktu ke waktu. Tapi syarat agar pengetahuan itu didapat, hati harus bersih agar cahaya Allah bersinar disana. Cahaya itu yang menjadi medium komunikasi dengan Allah Ta’ala sehingga kita senantiasa tertuntun dalam menyikapi setiap aliran takdir yang ada. Tapi semua itu tidak akan terjadi kecuali kita menerima dan mensyukuri skenario hidup kita masing-masing. Baik- buruknya diterima apa adanya dengan sebuah keyakinan kalau Allah Yang Maha Ilmu yang merancang itu semua.
Nanti, pada saat badai ujian itu datang. Akar yang selalu kuat membumi akan bisa menahan terpaannya. Hingga pohon pun tetap tegak dan dahan-dahannya merentang di langit hingga berbuah dan memberikan manfaatnya. Itulah cara menyebar rahmat Allah, menjadi rahmatan lil ‘alamiin. Insya Allah.
Amsterdam, 26 Januari 2026 pukul 00.18
No comments:
Post a Comment