Showing posts with label Alam. Show all posts
Showing posts with label Alam. Show all posts

Sunday, November 25, 2012

Agar Tidak Berduka Cita Di Dunia

Orang-orang yang diberi pemahaman oleh Allah selalu berusaha mengendalikan dan mengintrospeksi dirinya. Mereka berujar, “Bagaimana caranya agar kami tidak berduka cita atas hilangnya kekayaan dan kenikmatan duniawiyah, dan bagaimana caranya agar kami tidak banyak mengangankan kesenangan duniawiyah ini?” Mereka mencari sebab darimana datangnya bahaya yang menimpa mereka (yang disebabkan keinginan duniawiyah). 

Mereka dapati bahwa ketika diri mereka menginginkan sesuatu, mereka mengatakan dan mengangankannya kemudian berusaha mencari dan mendapatkannya sekuat tenaga, mereka berikan harapan pada diri mereka akan keberhasilan mendapatkannya. Ternyata ketika mereka tidak berhasil meraihnya, mereka bersedih dan berduka atasnya. Akhirnya mereka dapat memahami bahwa sedih dan duka ini diakibatkan oleh angan-angan untuk mendapatkan keinginan tersebut, juga karena mereka memberikan suatu harapan pada diri mereka akan keberhasilan mendapatkannya. Akibatnya, diri mereka terlanjur merasa senang jika keinginan tersebut tercapai, dari sini semakin kuatlah nafsu untuk mendapatkannya. 

(Setelah memahami hakikat ini) akhirnya mereka berusaha mengendalikan diri dengan cara meninggalkan keinginan-keinginan dan memutus angan-angan sehingga padamlah api syahwat dan keinginan dalam diri mereka. Mereka berusaha melawan hawa nafsu dan ajakannya hingga akhirnya hawa nafsu pun tunduk. Jika datang suatu perkara atau terlintas suatu keinginan dalam hati, mereka tidak mengangankannya juga tidak memberikan suatu harapan, mereka menunggu kepastian takdir yang telah tertulis di Lauh Mahfuzh sebelum Allah menciptakan langit dan bumi, mereka menyerahkan semua urusan pada Allah, tunduk pada kebijaksanaan Allah Swt seperti tunduknya seorang hamba pada tuannya. 

Maka (dengan sebab ini) mereka dapat hidup di dunia ini dengan mendapat derajat yang tinggi di sisi-Nya, dengan kedudukan yang paling mulia, hati yang sangat tenang dan kehidupan yang bahagia dan tentram di bawah naungan agama Islam. Mereka mati (dari segala keinginan dan angan-angan duniawiyah) dengan membawa kesenangan dan kebahagiaan, sehingga mereka dapat berjumpa dengan Tuhan yang tidak murka. Mereka ridha terhadap Allah, dan Allah pun ridha terhadap mereka. Mereka diberi pertolongan, kemauan dan kekuatan batin, kebersihan hati dan kemenangan terhadap musuh di dunia ini, dan mendapat kedekatan serta kasih sayang Allah di akhirat nanti.
 
“Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, sesungguhnya golongan Allah itulah
golongan yang beruntung.” (QS Al Mujaadalah [58]:22)

(Imam At Tirmidzi)

Monday, September 3, 2012

Perjalanan Manusia Melintasi Alam-Alam

Ketahuilah bahwa setiap manusia telah dan akan melewati sekian banyak tempat menetap, alam atau negeri sepanjang perjalanan hidupnya. Pengetahuan mengenai hal ini penting agar kita tahu skema besar perjalanan hidup, dan tidak tertumpu hanya di kehidupan dunia saat ini saja.

 Keterangan ini diambil dari Kitab Risalah al Anwar (Risalah Cahaya-Cahaya) karangan Ibnu Arabi. Beliau menceritakan tentang 7 alam (mauthin) yang akan ditempuh oleh manusia:
1. Mauthin syahadah
2. Mauthin rahim
3. Mauthin dunia
4. Mauthin barzakh
5. Mauthin mahsyar 
6. Mauthin akhirat 
7. Mauthin al-katsiib (bukit pasir)

 Mauthin syahadah atau alam persaksian telah kita lalui, di sana seluruh jiwa dikumpulkan dan bersaksi di hadapan Allah yang terekam dalam Al Quran, 
 Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap anfus (jiwa-jiwa) mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhan-mu?”. Mereka menjawab, “Betul, (engkau) Tuhan kami, kami bersaksi” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.” (QS Al A’raaf [7]: 172)

Dari alam syahadah, sang jiwa di turunkan pada waktu dan tempat yang telah Allah tentukan ke alam dunia melalui rahim sang ibu. Kemudian tinggallah sang jiwa menyatu dengan raganya di dalam rahim selama kurang lebih 9 bulan lamanya. 

Sekarang kita berada di alam dunia dan sungguh kita hanya tinggal di sini sebentar saja dibandingkan dengan lama kita tinggal di alam-alam berikutnya. Para nabi dan leluhur kita yang telah wafat sudah berpindah alam ke alam barzakh, mereka masih hidup di sana selama ribuan tahun bahkan lebih. Dan semua mukmin yang hidup di alam barzakh bukan tidur, mereka shalat di sana, belajar, berkomunikasi dan berma’rifah. Namun ada juga yang mengalami pembersihan di alam barzakh atau sering disebut alam kubur.

Sungguh hidup di dunia ini sangat sebentar, mereka yang telah melaluinya bersaksi demikian dan terekam dalam Al Quran, Allah bertanya, “Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?” Mereka menjawab, “Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada (malaikat) yang menghitung.” Allah berfirman, “Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui.” (QS Al Mu’minuun [23]:112-114) 

Akan tetapi, walaupun singkat kehidupan kita di alam selanjutnya sangat ditentukan di sini. Maka negeri dunia disebut negeri bekal. Inilah saatnya kita bekerja keras mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya untuk melanjutkan perjalanan ke alam-alam selanjutnya. 

Kesadaran tentang skema perjalanan alam-alam ini dan betapa singkatnya sebenarnya kehidupan kita di dunia seyogyanya menjadikan kita tidak dibuat pusing oleh takdir yang Allah desain untuk kita di alam ini. Karena sesulit-sulit hidup kita di sini, secape apapun sungguh tidak ada apa-apanya dibandingkan kesulitan di alam sana. Demikian juga kenikmatan tertinggi di alam dunia sekalipun tidak akan bisa menandingi kenikmatan yang akan diraup di alam sana. 

Semoga Allah Ta’ala menuntun kita dalam menapaki kehidupan dunia dan mendapatkan bekal yang sebaik-baiknya dari sisi-Nya. Aamiin.

(Referensi : Materi Serambi Suluk, Zamzam AJT, Jakarta 2008)