Wednesday, March 13, 2019

“Akhirnya aku bertekad untuk memakai jilbab setelah melalui masa perenungan yang cukup lama. Saat aku kemukakan niat itu kepada kedua orang tuaku, ibu menentang dengan keras bahkan aku disuruh memilih antara tetap tinggal bersama mereka atau mempertahankan jilbab dan keyakinanku itu. Sedangkan ayah, seperti biasa lebih terbuka menerimanya, akan tetapi beliau tak berdaya menghadapi ibu yang memang keras kepala.

Keyakinanku sudah demikian kuat. Jika aku menurut apa kata ibuku saat itu aku merasa ada bagian dari diriku yang dikorbankan dan aku tahu aku akan menyesalinya seumur hidupku. Lalu dengan tetap bersikap santun aku coba menjelaskan sudut pandangku. Hingga pada titik dimana aku tahu aku harus mengambil langkah yang pahit dan berat. Mengemas pakaianku dan meninggalkan semua fasilitas yang orang tuaku berikan.

Pada saat itu aku masih kuliah di tingkat pertama. Semua biaya kuliah, kendaraan yang aku bawa setiap hari ke kampus, ongkos dan uang jajan sehari-hari adalah dari orang tua. Satu hal yang aku yakini adalah Allah-lah Sang Maha Pemberi Rezeki. Itulah saat dalam hidup dimana aku belajar melakukan ‘leap of fate’, terjun bebas dan berharap Dia menyelamatkanku. Aku keluar rumah dengan membawa sekantung besar pakaian dan semua kebutuhan kuliah. Tak tahu harus kemana. Air mata tak hentinya mengalir dari pipiku. Perasaan sedih, marah, takut semua menjadi satu. Sedih karena aku harus berpisah dari orang tua yang aku cintai, marah karena aku tidak mengerti mengapa mereka tidak bisa menerima aku apa adanya, dan takut akan nasib studi dan masa depanku.

Untuk beberapa minggu lamanya aku tinggal berpindah-pindah dari tempat kost teman yang satu ke teman yang lain. Hingga akhirnya aku menemukan tempat sewa kamar yang cocok dengan sisa uang di dalam tabunganku. Aktivitas kuliah kembali kutapaki. Alhamdulillah banyak mendapat banyak bantuan dari teman-teman yang mengetahui keadaanku. Hingga akhirnya aku tahu harus melakukan sesuatu untuk menopang kebutuhan hidupku sendiri. Tapi apa pekerjaan yang bisa kulakukan di sela waktu kuliah? Aku berdoa dan berdoa setiap hari. Memohon petunjuk-Nya. Hingga pada suatu malam aku tertidur di atas sajadah setelah berdoa dan bermimpi diriku berada di sebuah sekolah Nasrani ternama di kota tempat aku menuntut ilmu dan aku sedang mengajar disana. Mimpi itu sangat jelas hingga aku masih ingat setiap detilnya bahkan saat terbangun.

Gadis berjilbab mengajar di sekolah Nasrani? Aku bertanya-tanya sendiri akan makna mimpi itu. Walaupun akhirnya timbul ide untuk mengajar Bahasa Inggris, bidang yang sangat aku sukai dan bukan kebetulan kiranya aku memiliki nilai TOEFL yang tinggi. Walau logikaku berkata tidak mungkin, akan tetapi entah kenapa ada dorongan dari dalam hati untuk melaksanakan ide itu. Lalu aku membuat surat lamaran untuk bekerja sebagai guru Bahasa Inggris di sekolah itu.

Keesokan harinya aku berdiri di depan gerbang sekolah Nasrani ternama itu, tepat di depan papan besar sekolah yang berada di sebelah gerbang masuk. Di tangan kananku tergenggam sebuah map berisi riwayat hidup dan berbagai berkas yang menunjukkan kompetensiku dalam Bahasa Inggris. Hatiku berdegup kencang. Bayangan, ‘worst case scenario’ berkelebat bergantian. Bagaimana kalau aku ditertawakan? Bagaimana kalau aku dihardik? Bagaimana…bagaimana…Hingga tiba-tiba semua bayangan itu buyar oleh sebuah tepukan di pundak kananku.

“De, mau masuk ke dalam sekolah ini?”kata sebuah suara yang datang dari seorang perempuan paruh baya keturunan Tiongkok dengan ramah. Auranya begitu hangat hingga dalam sekejap entah kenapa aku bercerita singkat tentang keadaanku yang butuh biaya untuk melanjutkan kuliah dan mendapat mimpi mengajar di sekolah ini.

“Oh, Ade bisa mengajar Bahasa Inggris? Kebetulan dua anak saya yang sekolah disini butuh les Bahasa Inggris. Apakah Ade mau memberikan les untuk mereka?”

Respon pertamaku hanya tertegun untuk beberapa saat. Tak tahu harus berkata apa. Ini masih bagaikan mimpi buatku.
Singkat cerita, Allah memberiku jalan menyelesaikan kuliah melalui mengajar Bahasa Inggris. Ternyata ibu itu adalah pemilik sebuah pabrik makanan di kota itu. Kadang ia memberi lebih dari apa yang aku butuhkan. Alhamdulillah, kebutuhan kuliah dan sehari-hari Allah cukupkan melalui mengajar Bahasa Inggris di luar waktu kuliah.

Aku masih memikirkan kedua orang tuaku tentunya. Setiap hari. Bagaimanapun sebagai anak mereka semata wayang, hatiku terpaut demikian erat. Pernah suatu hari aku mencoba mengunjungi mereka, tetapi pembantuku mencegahku masuk dan menolak membukakan pagar rumah, katanya ibuku melarangku masuk rumah kecuali aku membuka jilbab. Masya Allah. Perasaan campur aduk itu muncul kembali. Lalu aku bertekad menyelesaikan kuliah dengan baik untuk menunjukkan kepada mereka bahwa aku bisa mandiri dan berprestasi. Dan alhamdulillah aku lulus lebih cepat dengan nilai terbaik hingga aku mendapat prestasi sebagai “mahasiswa terbaik” untuk angkatan kelulusan tahun tersebut.

Dengan bangga aku menelepon ayahku, untungnya beliau selalu membuka saluran komunikasi denganku, anak semata wayangnya. Namun ibu tetap bersikeras tidak mau menerimaku, bahkan menolak untuk menghadiri wisuda jika aku tidak melepas jilbab. Lagi-lagi aku terantuk di masalah yang sama. “

Sepuluh tahun kemudian.

“Itu kisah hidupku mbak, saat ketika aku diajari bahwa Allah yang Maha Memberi Rezeki, jalannya bisa lewat mana saja.”Tuturnya dengan suara yang penuh keyakinan. Sambil memperlihatkan foto wisuda bersama kedua orang tuanya dengan dirinya mengenakan pakaian daerah dan tutup kepala khas daerah – sebagai jalan tengah tetap menutupi aurat dan mengikuti tuntutan ibu yang tanpa kompromi itu-
Happy ending 😊

Tuesday, March 12, 2019

Pagi ini saat mengantar Rumi ke sekolah, sempat membacakan satu buku menarik di sekolahnya. Tentang seorang anak babi bernama Bertje Big (biggetje adalah julukan untuk anak babi) yang sedang mencari identitas. Dia tidak suka berendam di kubangan lumpur seperti anak-anak lainnya. “Ih, kotor!” Katanya sambil pergi dari keluarganya.

Saat bertemu sekawanan sapi di ladang sebelah ia meminta izin untuk jadi bagian keluarga sapi. “Oh tentu boleh, tapi kau harus makan rumput seperti kami lalu siap untuk diperas susunya,” kata induk sapi tersenyum.

Bertje Big mencoba menelan rumput yang tidak dia sukai itu. Rasanya aneh! Pikirnya. Tapi keinginannya yang membara untuk menjadi bagian dari keluarga sapi membuatnya menguatkan diri menelan bulat-bulat rumput basah itu. Sampai pada saat ketika hendak diperah susunya dia menyadari bahwa dirinya tidak punya puting susus seperti kawanan sapi lain. Akhirnya dia pergi meninggalkan identitasnya sebagai sapi.

Bertje Big kemudian menemui tuan kuda yang gagah di kandang sebelah. Aku mau jadi bagian dari keluarga kuda saja! Tekadnya dalam hati. Makanannya pun lebih enak dari sapi pikirnya sambil tersenyum.

“Tentu kau bisa saja menjadi bagian dari keluarga kami” kata Oom Kuda. “Tapi setiap hari kau harus berlari seperti aku berlari!” Dan ia melesat kencang meninggalkan jejak debu yang beterbangan diantara tubuh kecil Bertje Big yang kepayahan mengejarnya berlari.

Bertje Big pun tahu diri untuk tidak memaksakan diri menjadi bagian dari keluarga binatang yang dapat berlari kencang itu. Akhirnya ia menuju kandang terakhir di peternakan itu. Masih dengan nafas tersengal-sengal ia mencoba mendekati kawanan domba dan meminta izin untuk menjadi bagian dari keluarga mereka.

“Kau yakin ingin jadi bagian dari keluarga kami? Silakan saja jika kau bisa membiarkan seluruh bulu yang ada di sekujur badanmu untuk diberikan kepada manusia.” Kata sang domba sambil membawa Bertje Big ke dalam kandang tempat domba lain sedang dicukur bulunya oleh sang petani.

Bertje Big kaget sekali melihatnya. Ia juga sadar bahwa dirinya tidak punya bulu setebal kawanan domba untuk diberikan kepada tuannya.

Akhirnya Bertje Big pun kembali pulang dan berkumpul dengan kawanannya sendiri.

=====

Dalam sebuah pengajian mursyid saya memberikan perumpamaan sebuah gelas untuk menjelaskan sebuah fungsi hidup. Gelas dibuat oleh manusia dengan sebuah tujuan, sebagai wadah untuk minum. Gelas yang sama tentu bisa dibuat untuk menyiram tanaman, tempat pensil, atau bahkan untuk melempar. Tapi sang gelas hanya akan bahagia dan diperlakukan adil hanya kalau dia difungsikan sebagai gelas minum. Mirip yang dikisahkan oleh Rumi tentang sebuah pedang raja yang dipakai untuk memotong daging. Tentu memang sama-sama tajam, akan tetapi desain dan peruntukannya sudah berbeda.

Setiap orang dicipta untuk peruntukan yang berbeda-beda. Walaupun sama-sama berperan sebagai ibu, dokter, pebisnis, penulis, akuntan, pegawai negeri, seniman dsb tapi setiap orang punya ciri khas dan bidang spesifiknya masing-masing. Temukan itu, agar tidak pontang-panting mencari mata air kebahagiaan sejati seperti Bertje Big.


Monday, March 11, 2019

“Kadang petani suka menemukan tulang belulang atau emblem tentara saat mengolah tanah sekitar sini.” Tutur Teh Lien yang sudah hampir 20 tahun tinggal di daerah Perancis. Saat itu kami sedang mengunjungi pemakaman di Gauche Wood yang merupakan tempat dimana jenazah para tentara Inggris yang gugur di Perang Dunia Pertama dikuburkan. Pemakaman ini hanya satu dari sekian banyak pemakaman yang tersebar di daerah Villers-Guislain, Perancis Utara ini. Jika ada jenazah yang berupa tulang belulang ditemukan maka akan dilakukan tes DNA untuk menelusuri keluarga yang bersangkutan. Diperkirakan sekitar 600.000 prajurit Inggris gugur di medan perang dalam pertempuran Epehy yang terjadi pada 18 September 1918 sebagai gerakan melawan pasukan Jerman yang bergerak mendekati Perancis.

Pertempuran yang dimulai pada dini hari pukul 5.20 itu berlangsung sengit dengan dibantu oleh 6.800 pasukan dari divisi pertama dan keempat negara Australia. Walaupun hasil akhir pertempuran di Epehy ini bukan merupakan kesuksesan yang besar, akan tetapi sudah menandakan bahwa pasukan Jerman mulai melemah. Hal ini kemudian menjadi dasar dilakukan aksi militer selanjutnya dengan pertempuran di Kanal St. Quentin.

Satu abad kemudian.

Saya berhenti di sebelah pusara 43 prajurit Inggris yang dimakamkan di Gauche Wood dalam hening, hanya terdengar angin bertiup kencang. Andai mereka dapat bicara dan menceritakan apa yang terjadi pada saat itu. Bagaimana kerasnya dan kejamnya medan  perang. Bagaimana mereka kehilangan nyawa dalam sesaat tersabet oleh peluru kaliber besar yang didesain satu, untuk menghilangkan nyawa orang yang disasar. Bagaimana mereka tidak pernah bertemu kembali orang-orang yang mereka cintai, orang tua, istri, anak dan keluarga.

Di tengah kegilaan medan perang itu mereka bertahan. Tiarap menghindari terjangan peluru tajam. Lari tergopoh-gopoh menyelamatkan diri dari ledakan granat. Di saat genting seperti itu, dimana nyawa bisa hilang dalam hitungan detik adalah mudah untuk mundur ke belakang dan melarikan diri, seperti yang dilakukan oleh beberapa prajurit yang mangkir, jumlahnya ratusan. Yet, they stayed. Walaupun akhirnya harus kehilangan nyawanya.

Seratus tahun kemudian.

Dunia berubah. Tidak ada perang dunia. Setidaknya saat ini.
Namun kita kerap lupa, bahwa keadaan damai seperti ini bukan datang begitu saja. Sebuah perjuangan panjang harus ditempuh dan ditebus oleh nyawa para pendahulu kita. Lantas kita yang hidup di era damai, yang diberi banyak waktu, keluangan, demikian banyak sumber daya untuk menuntut ilmu malah sering terlalaikan  oleh hal-hal yang tidak penting. Menghabiskan waktu dalam sesuatu yang bukan urusannya. Mengerdilkan potensi dahsyat  yang ada dalam dirinya dengan hanya mengejar hal yang remeh-temeh.

Melihat jajaran pusara di pemakaman Gauche Wood.

Saya dibuat termenung. Oleh betapa nisbinya hiruk-pikuk kehidupan. Oleh betapa hidup kita terlalu singkat dalam rentang pagelaran manusia hingga akhir masa ini. Pertanyaannya adalah. Apa yang harus kita perbuat dalam penggal waktu yang sangat singkat ini? Berkutat di zona nyaman atau ‘berperang’ dengan kemalasan dan sekian rasa takut dalam diri dan menyerahkan diri sepenuhnya dalam tangan Tuhan yang gaib.

Jajaran pusara itu tenggelam dalam sepi.

Namun gaung semangat yang mereka kobarkan masih terasa. Semangat tentang keberanian. Berani melawan arus kehidupan. Berani dikatakan gagal oleh masyarakat. Berani dibilang miskin. Berani keluar dari zona nyaman. Berani kalah. Berani tidak dianggap. Berani dilecehkan. Berani difitnah. Berani menjalani karsa-Nya untuk membuka gulungan kitab kehidupan diri sendiri.
Seperti yang dikatakan oleh Jalaluddin Rumi, “Jangan merasa puas dengan kisah-kisah, bagaimana hidup berjalan bagi orang lain. Bentangkanlah kisah dirimu sendiri.”



Thursday, March 7, 2019

“Manusia harus dilahirkan dua kali untuk mencapai alam malakut”
- Nabi Isa as

Tentang hal ini Syaikh Abdul Qadir Jailani menambahkan, “Kelahiran yang kedua adalah kelahiran makna dari perbuatan, kelahiran jiwa dari daging.”

Empat puluh tahun pertama dalam kehidupan manusia adalah setara dengan “empat masa”pembentukan bumi seperti yang disebutkan dalam QS Fussilat [41]: 10

“Dan Dia ciptakan padanya gunung-gunung yang kukuh di atasnya. Dan kemudian Dia berkahi, dan Dia tentukan makanan-makanan (bagi penghuni)nya dalam empat masa, memadai untuk (memenuhi kebutuhan) mereka yang memerlukannya.”

Gunung adalah perlambang dari akal manusia. Dengan berbagai bentuk rezeki yang Allah limpahkan kepada manusia, maka manusia bisa berkembang akalnya sejak bayi, usia sekolah dasar, remaja, usia perguruan tinggi, bekerja hingga terjun ke masyarakat. “Makanan-makanan”pun sudah dikadar oleh Allah Ta’ala, ada yang kadarnya besar ada yang seadanya, itu semua disesuaikan kebutuhan jiwanya masing-masing. Allah Yang Maha Pencipta tentu yang paling tahu kalau karakter jiwa seperti A harus dikadar dalam kehidupan A’ dst.

Genap usia 40 tahun adalah masa kritis dalam kehidupan seorang manusia. Di kurun usia seperti itu manusia sudah terpapar oleh asam garam kehidupan yang dengannya sang jiwa mulai terketuk untuk mencari sesuatu yang lebih hakiki dalam kehidupan. Sebagian orang menyebut episode ini sebagai “mid-life crisis” dimana orang mulai mempertanyakan makna kebahagiaan. Saat pekerjaan yang dilakoni dirasa tidak menginspirasi, saat kebosanan datang menyergap, saat kebahagiaan tidak jua terpenuhi padahal secara material dia berkelimpahan, atau saat kehidupan dibuat berubah 180 derajat melalui sebuah perceraian, sakit berat, kehilangan orang yang dicintai dsb. Semua itu membuat manusia mulai merenung tentang hakikat kehidupan, tentang hakikat dirinya, siapa aku, mau kemana aku dan apa yang akan terjadi setelah ajal tiba?

Agama diturunkan melalui para utusan-Nya untuk membantu manusia mengatasi kelimbungan ini. Karena Allah Yang Maha Pengasih tidak menginginkan hambanya tersesat tak punya arah hidup, hanya menyambung hari memenuhi rezeki sekadar untuk memenuhi kebutuhan raga yang hanya punya jatah kehidupan yang tak lama. Karena setiap manusia dicipta untuk kebadian, dan jalan menuju keabadian satu-satunya adalah hanya dengan menemukan Sang Keabadian.
Tentang usia keempatpuluhtahunan ini Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang mencapai usia 40 tahun, tetapi kebaikannya tidak mengalahkan kejahatannya, maa bersiap sedialah dia untuk ke neraka.”(Diriwayatkan oleh Abu al-Fath al-Azadi dari Ibnu Abbas ra).

Memasuki usia 40 tahunan yang dibutuhkan adalah lebih memaknai kehidupan. Sebagaimana yang dikatakan Nabi Isa as, “…kelahiran yang kedua adalah kelahiran makna dari perbuatan.” Siapapun kita, apapun profesinya harus bisa memahami makna dibalik segala hal yang kita kerjakan sesimpel apapun kelihatannya, walaupun sudah membosankan, atau bahkan merasa tidak begitu mendapat tempat terpandang di hadapan kebanyakan manusia. Jalani dulu apapun yang Allah sampaikan ke kehidupan kita per hari ini. Kalau memang hati merasa kurang  pas dengan jenis pekerjaan, keadaan kantor atau usaha yang ada, berdoalah dan kemudian bersabarlah hingga menunggu ada pintu lain yang dibukakan oleh Allah. Pekerjaan yang kita lakukan dengan bermakna akan berdampak dahsyat bagi diri sendiri dan sekitarnya. Kita menjadi lebih termotivasi dan selalu memberi yang terbaik, bukan karena penilaian atasan atau ingin tampak baik dalam evaluasi tahunan, tapi untuk Allah semata yang Maha Melihat, karena kita butuh agar Allah Ta’ala memandang hati kita melalui apapun kegiatan keseharian kita.

Kalau Allah sudah menatap seseorang maka pancaran cahaya-Nya akan membekas di jiwa sang hamba dan akan merembes ke raga. Semangat akan mencuat, ia akan mengerjakan tanpa pamrih walaupun orang mencela dia sekalipun tak dipedulikan selama ia berada dalam koridor yang Allah ridhoi.  Kemudian inspirasi akan meluap, ia akan merasakan suka cita yang sangat ketika beraktivitas. Sesuatu yang Jalaluddin Rumi katakan, “When you do things from the soul, you feel a river moving in you, a joy!”

Temukanlah bidang yang membuat hati Anda bernyanyi ketika mengerjakannya. Lalu konsisten dengan hal itu. Hingga akhirnya sang jiwa terlahir kembali dan menjalani kehidupan yang baru. Kuncinya sabar dan syukur seperti yang Rasulullah saw sabdakan,

“Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya”.(HR Muslim No. 2999)





Tuesday, March 5, 2019

Yang sudah menjalani pasang surut kehidupan pasti sudah hafal. Laju kehidupan tidak selalu lancar, kadang kita ada dalam situasi yang sangat menjepit. Bisnis tiba-tiba kolaps, ditipu oleh teman, kehilangan aset dalam sebuah musibah, diterpa badai dalam rumah tangga, anak tiba-tiba diberi sakit berat, orang tua memerlukan perawatan yang intensif, semua hal yang kita anggap bisa diandalkan bisa hilang dilenyap bumi dalam sekejap.
Di setiap episode kehidupan dimana kita dibuat fakir, tidak berdaya dan membutuhkan pertolongan. Sudah ikhtiar sana-sini tapi tak menemukan juga titik terang dari masalah yang tengah menghimpitnya. Tidak terbayang harus membawar biaya rumah sakit dari mana, tidak tahu bagaimana cara keluar dari konflik rumah tangga yang dirasa menyesakkan dada, tidak terpikir bagaimana bisa menyelamatkan usaha yang sedang diujung jurang kebangkrutan. Di semua titik nadir itu Allah tengah hadir memperkenalkan diri-Nya. Sungguh sebuah momen istimewa bagi siapa yang ingin memanfaatkan terapi jiwa tersebut dengan bersimpuh serta sujud dalam-dalam di dalam shalat – yang merupakan ruang pertemuan khusus dan istimewa antara seorang hamba dan Sang Rabb.
Tentu Allah adalah Dzat yang jauh dari sifat menyiksa para hamba-Nya. Tapi apa daya jika kesenangan dan kelapangan dunia lebih cenderung melalaikan sang hamba maka obat yang terbaik adalah dengan mencegahnya dari apa-apa yang hawa nafsu dan syahwatnya sukai, agar kekuatan keduanya menjadi semakin lemah. Maka Allah Ta’ala berfirman,
“Pergilah pada hamba-Ku, lalu timpakanlah berbagai ujian padanya karena Aku ingin mendengar rintihannya.”
(HR Thabrani dari Abu Umamah)
Ujian kehidupan bertujuan untuk membersihkan sang hamba dari sekian hijab yang menghalangi antara dirinya dan Allah Ta’ala. Sesuatu yang jika lalai disingkapkan dalam penggal kehidupan yang singkat di dunia ini maka perjalanan sang hamba di alam berikutnya akan menjadi berat. Dan Allah tidak ingin ia menjadi tersiksa karenanya. Oleh karenanya Allah turunkan sekian banyak mekanisme pembersihan jiwa (tazkiyatun nafs). Kita tinggal bersabar saja menjalaninya, dengan keyakinan yang dalam bahwa Dia sebaik-baik penyembuh yang tidak mungkin mengizinkan bahkan segigit nyamuk pun di kulit kita, kecuali ada suatu hikmah dan kebaikan yang besar di dalamnya.
Sebagaimana raga yang sakit kadang harus dipuasakan dari makan dan minum dan hal-hal yang melezatkan baginya bahkan kadang harus menelan pil pahit untuk kesembuhannya. Demikian pun jiwa kadang harus dipotong dari bantuan segala sesuatu selain-Nya. Sesuatu yang biasanya diandalkan dan dijadikan sandaran kehidupan. Tampaknya menakutkan bagi jiwa-jiwa yang masih muda dan belum matang pencariannya kepada Allah.
Memang dibutuhkan sebuah keberanian untuk melangkah dalam jalan-Nya. Rumi berkata, “Heart be brave. If you cannot be brave, just go…”


Saturday, March 2, 2019

Saya tidak pernah menyangka rumah tangga saya hancur dalam hitungan bulan. Rasanya kami baik-baik saja. Bahagia dengan dua buah hati. Kemana-mana pergi bersama. Seperti layaknya kebanyakan keluarga lain.

Hingga suatu hari saya menemukan bon makanan atas nama seorang perempuan di suatu hotel di saku baju suami yang hendak dicuci.

Saya coba mengklarifikasi dengan tenang dan tanpa emosi - walau demikian berat, tapi entah kenapa Allah memberi saya ketenangan pada saat itu. Justru suami yang tampak kelimpungan. Akhirnya dia mengakui bahwa tak berapa lama telah menjalin hubungan dengan seorang perempuan lain.

Sakit hati saya. Sedih, marah, kecewa semua bercampur menjadi satu. Saya tidak bisa apa-apa selain menangis. Saya bahkan tidak bisa marah kepada suami apalagi melayangkan kata-kata kasar. Saya masih mencintainya, bagaimanapun juga.

Setelah menyadari hal tersebut tidak dapat begitu saja dihentikan. Saya menyarankan agar suami menikahi saja perempuan itu. Agar hubungannya menjadi halal. Saya tidak mau ayah dari anak-anak saya terjerumus kepada perzinaan.

Suami pun akhirnya menyetujui saran ini. Pada hari pernikahan mereka pun saya yang menyiapkan baju khusus untuk suami. Sungguh perasaan saya campur aduk pada saat itu. Tapi tekad untuk menyelamatkan imannya melalui syariat yang Allah sediakan lebih kuat membara di hati saya. Biar Allah yang menjadi saksi.

Setelah mereka menikah saya coba menghubungi istri mudanya, sekadar ingin mengucap selamat dan menyambung silaturahmi, tetapi dia menolak, entah kenapa. Kemudian beberapa bulan setelahnya suami jadi jarang pulang dan hampir bisa dihitung oleh jari dalam sebulan bertemu dengan anak-anak. Hingga puncaknya di bulan kedelapan, suami menceraikan saya.

Saya sudah tidak punya tenaga lagi untuk berjuang mempertahankan rumah tangga kami. Rasanya saya sudah memberikan segalanya. Enough is enough. Akhirnya kami bercerai dan dengan sisa tenaga yang ada saya meneruskan perjalanan hidup dengan dua malaikat kecilku sebagai penyemangat jiwa. Saya tidak tahu bagaimana harus menghidupi diri sendiri dan dua anak ini karena saya tidak punya pekerjaan atau usaha. Akhirnya saya putuskan kembali ke kota tempat saya dilahirkan. Setidaknya saya masih punya keluarga disana.

Itu titik balik perjalanan hidup saya. Enam belas tahun yang lalu. Alhamdulillah banyak rezeki tak terduga setelah saya berpisah dengan suami yang selama ini mencukupi kebutuhan kami. Dengan limpahan rezeki-Nya ada saja jalan sehingga dua anak saya bisa kuliah dan yang paling besar sudah kerja. Saya bisa naik haji dan bahkan memiliki rumah saat ini juga berkat kebaikan Dia yang menggerakkan hati orang-orang sekitar saya. Sungguh saya tidak pernah dan pantang untuk meminta-minta. Tapi bahkan pada satu hari ketika saya berkata kepada dua anak saya bahwa ibunya tidak punya uang untuk membeli bahan makanan hari itu, selalu ada tetangga yang mengirimkan makanan. Subhanallah wallahu Akbar!

Betul rupanya Gusti Allah mboten sare (Allah tidak tidur). Lewat episode hidup ini seolah Allah berkata kepada saya, “Aku yang memelihara kamu dan anak-anakmu, bukan suamimu...”

(Berdasarkan kisah nyata)

Friday, March 1, 2019

Aku Malu Pada-Mu

Wahai Engkau Sang Pencari Sejati
Yang menemani hati
Lalui hari-hari

Wahai Engkau Sang Pecinta Abadi
Penggugah sanubari
Arungi hidup ini

Aku malu pada-Mu

Pada perhatian-Mu yang tak pernah padam
Walau hati penuh sekam

Aku malu pada-Mu

Pada kasih sayang-Mu yang tak henti bersinar
Walau iman hati pudar

Aku malu pada-Mu...

——
Lantunan jiwa yang mengalir pasca mendengarkan rekaman kajian al hikam yang dismpaikan oleh mursyid Zamzam, Februari 2019

“Selama ini aku salah. Aku pikir aku yang mencari Dia, ternyata Dia lebih mencariku”
-Abu Yazid