Wednesday, April 21, 2021

 21 April, 8 Tahun Lalu


Dalam kegaiban saya melangkah sambil mengucap bismillah. 

Hari ini, delapan tahun lalu saya resmi pindah ke Belanda. Membawa perbekalan satu bagasi penuh, membawa Elia yang masih berusia 10 bulan dan tas bayi perlengkapannya, but most of all saya berbekal harapan besar bahwa Allah selalu menyiapkan yang terbaik untuk hamba-hamba-Nya. 


Mungkin itu pula yang membuat keputusan saya untuk hijrah meninggalkan comfort zone di awal waktu terasa begitu ringan. Sekian banyak pertanyaan berbasis logika dan sebab akibat terbungkam dengan sendirinya berhadapan dengan pilar pengaturan takdir-Nya. Seperti orang yang mengalami operasi besar dan dalam keadaan dibius total, saya tidak merasakan apa-apa. Semua dilancarkan, saya seperti Dia tidurkan. Untuk sementara waktu...


Kemudian saya harus belajar menerima kenyataan bahwa warna dunia saya sudah berubah. Lingkungan sekitar berubah. Jauh dari keluarga besar dan sahabat-sahabat serta forum-forum pengajian yang bagai menjadi oase di pedang gurun kehidupan.

Tetangga saya berubah, sekarang saya harus belajar bahasa dan adat istiadat yang baru, dan tidak sebebas dulu meminta menitipkan anak maupin bergerak.

Karir saya berubah, dari kerja kantoran biasa berpacu dengan target dan deadlines, kemudian harus membiasakan diri bahwa jam kerja seorang ibu itu hampir 24 jam dalam seminggu. Bahkan yang disebut dengan liburan adalah kerja lembur sebenarnya😅 Iya kita pergi ke tempat wisata, tapi yang kita lakukan pada dasarnya sama dari hari ke hari. Dan ada perbedaan yang nyata, kalau dulu di kantor saya kerja keras visa dapat bonus di akhir bulan plus gaji yang memuaskan, jadi ibu rumah tangga rewardnya bukan hal yang bersifat nominal atau materi. Tapi di situ saya belajar bahwa sesuatu yang berharga di dunia ini justru hal-hal yang bersifat non materi. Ganjarannya ada pada senyuman si buah hati, pada setiap kata dia memanggil kita "mama" - it's still like sound to my ear till today. Apalagi hati meleleh kalau dia menatap mata kita dalam-dalam sambil bilang "I love you mama, you're the best mother in the world"❤ rasanya tak terlukiskan. Beberapa kali saya dapat penghargaan di tempat kerja tak pernah merasa leleh seperti ini.


So, lot's of things have changed. Saya yang 8 tahun lalu rasanya sangat berbeda dengan saya hari ini. Delapan tahun dalam tempaan Tuhan. Mudah? Sama sekali tidak. Harus dijalani pontang-panting, jungkir balik, kepala jadi kaki-kaki jadi kepala. Didera prahara dalam pernikahan, harus membiasakan diri dalam kehidupan blended family, you name it. Tapi kok ya selamat-selamat saja tuh. Alhamdulillah. Aneh sih, ajaib sepertinya. Kalau dilihat lagi ke belakang, rasanya tidak mungkin saya menjalaninya sendiri, pasti Dia yang membawa saya. Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan-Nya. 


Satu hal berharga yang saya pelajari dari proses 8 tahun dalam didikan-Nya adalah saya belajar untuk hidup di saat ini. Menghargai "my present moment as PRESENT from above". Saya belajar bahwa yang membuat saya menderita bukan karena takdir dan situasi yang saya hadapi tapi persepsi pikiran saya yang masih berpaling kesana kemari. Tidak fokus. Akibatnya banyak hal yang indah dan keajaiban terlewatkan. Sayang sekali, itu yang masih saya istighfari sampai sekarang dan seterusnya. Saya tidak tahu bagaimana saya menebus itu, menebus momen-momen yang hilang bersama-Nya karena saya tertundukkan oleh keluhan dan hawa nafsu, hingga Dia seolah tidak ada. Astaghfirullah...


But again, i still have hope. Rasanya itu pula yang selalu membuat saya kembali bergerak, walaupun dalam keadaan terpuruk seperti apapun. Alhamdulillah saya selalu punya harapan akan Dia, bahwa hidup terlalu berharga untuk disia-siakan. So i move on. Dengan setiap bekal dan energi yang tersisa. Saya sudah bertekad, walaupun merangkak saya akan terus maju mendekat kepada-Nya. And that's what keeps me going everyday. Dia lah sumber semangat dan energi yang berlimpah  dari dalam diri.


Seiring dengan hati saya yang semakin menerima hidup apa adanya, pintu-pintu kehidupan pun terbuka dengan sendirinya. Sekali lagi aneh bin ajaib. Tapi semua rezeki datang dan terpenuhi. Apa yang saya butuhkan dihadirkan sendiri nyaris tanpa saya harus keluar dari rumah. Dia sungguh Maha Kuasa. Tapi kuasa-Nya baru mulai terasa ketika kita berhenti mencoba menguasai hidup itu sendiri. Just sit back and enjoy the road dan serahkan kemudi hidupmu pada-Nya. Dijamin beres dan tak tersesat!


Pernah dalam sebuah penyesalan yang dalam, rasanya saya telah mengambil banyak keputusan yang salah. And i was so hard to myself, blaming myself for it. Kemudian saya banyak istighfar dan Allah mulai mengajarkan bagaimana cara melihat kehidupan, dan setiap kali hal itu membuat saya terpana. It's all perfect! Adalah saya yang tidak paham pengaturan-Nya. Because it's way beyond my imagination. Sekarang saya yakin, kalau saya harus mengulangi lagi kehidupan saya. I wouldn't change a thing. Karena semua hal yang mewujud terjadi karena Dia kehendaki. Dan kalau Dia berkehendak pasti tak ada di dalamnya kecuali kebaikan. Karena Dia adalah Dzat Yang Maha Baik❤


Alhamdulillah, terima kasih ya Allah

Sunday, April 18, 2021

 

Rasulullah saw bersadbda: Ada empat hal yang merupakan penderitaan, yaitu: pandangan yang picik; hati yang keras; keinginan yang menggebu-gebu; dan cita-cita yang berkepanjangan.

(Riwayat Abu Na’im)

 

Awasi keempat hal ini, karena biasanya derita yang kita alami karena kita kurang makrifat kepada-Nya, kurang paham kaidah kehidupan dan menyandarkan diri kepada selain-Nya.

 

1. Hindari pandangan yang picik

Melihat kehidupan dengan sudut pandang yang negatif. Melihat pembagian rezeki-Nya dalam kehidupan dengan tidak puas. Rekan kantor dapat promosi dan kita tidak lalu kita ngedumel, itu memandang dengan picik. Tetangga renovasi rumah dan beli mobil baru, lalu kita iri – itu pandangan yang picik. Teman mendapat kebahagiaan lalu kita cemburu, itu pandangan yang picik.

 

Kenapa orang bisa memandang kehidupan dengan picik? Karena kurang tauhidnya, bahwa Allah sudah mengkadar rezeki dengan sebaik-baiknya. Tidak ada istilah rezeki kita direbut orang, itu adalah ketidakpahaman kita dalam memandang kehidupan. Juga orang memandang picik kehidupan karena kurang yakin bahwa semua yang Allah izinkan terjadi tak lain hanya mendatangkan kebaikan semata. Dengan demikian yang bersangkutan harus banyak-banyak berdzikir dan menghayati kalimat tauhid “laa ilaa ha ilallah”

 

2. Waspadai hati yang keras

Hati yang sulit memaafkan, susah untuk “let go” dan “move on”. Hati yang tidak mau menutupi kekurangan orang lain dan malah mengumbarnya. Hati yang keras membuat seseorang sulit untuk bermunajat kepada-Nya. Karena ia bengis terhadap orang lain, maka itu membuat cahaya kelembutan-Nya menjadi redup. Ia pun tak bisa menangis dalam doa kepada-Nya dan tidak bisa menikmati saat shalat – berhadapan dengan Sang Rabbul ‘alamiin.

 

Kenapa hati menjadi keras? Karena kurang berdzikir kepada-Nya. Mengingat-Nya itu harus dalam setiap hembusan dan tarikan nafas. Ingat kepada-Nya membawa cahaya. Cahaya itu akan melembutkan hati dan menyibakkan sekian hijab yang menyelubunginya.

 

3. Matikan keinginan yang menggebu-gebu

Keinginan yang menggebu-gebu tanda itu ditunggangi oleh hawa nafsu. Jika kita merasakan ada gemuruh perasaan menggebu-gebu, ingin ini dan itu, ingin meraih ini dan itu. Coba ajak dia lari marathon. Jangan biarkan kita menjadi budak keinginan kita yang ingin dikabulkan apapun maunya secepatnya. Jika itu yang terjadi, biasanya akan berakhir dengan penyesalan dan akan berat pertanggung jawabannya di akhirat nanti. Salah satu cara untuk menapis apakah sesuatu itu hawa nafsu atau bukan, ukur dia dengan dua hal. Satu hal adalah yang terkait dengan kemampuan yang berasal dari diri sendiri dan ukur dengan kesempatan yang ada di sekitar kita, termasuk keadaan anak, pasangan, keuangan, pekerjaan dsb. Ciri hawa nafsu – karena ia akan berkongsi dengan syaithan- adalah dia cenderung tergesa-gesa. Maka jangan langsung mengeksekusi sebuah keinginan dalam tempo waktu yang singkat. Bawa ia berlari lama dan perhatikan perubahannya.

 

Karena keinginan menggebu biasanya datang dari kekuatan hawa nafsu dan syahwat, kadang Allah menurunkan pertolongan-Nya dengan sekian banyak peristiwa kehidupan yang berfungsi efektif melemahkan hawa nafsu dan syahwatnya. Bisa jadi sebuah perubahan di dalam karir dan rumah tangga yang meruntuhkan egonya. Bisa jadi diberi sakit yang melemahkan syahwatnya dll. Bisa jadi diberi ujian kehilangan sesuatu yang ia cintai dan ujian yang bernuansa kematian untuk melemahkan daya hawa nafsu dan syahwatnya terhadap dunia. Tapi ingat bahwa Allah tak pernah setitik pun menzalimi hamba-Nya. Jadi kesulitan yang kita alami itu bersumber dari keburukan diri sendiri yang tengah Allah sucikan dalam kehidupan, agar kita selamat di dunia dan akhirat. Maka yang biasakan berdzikir “alhamdulillah” dengan apapun yang ada, tak perlu terburu-buru untuk mengejarnya dan nikmati apa yang ada.

 

4. Amati cita-cita yang berkepanjangan

Ini berkaitan dengan butir ketiga di atas. Bisa jadi ada hawa nafsu yang menyelip dan bisa memiliki stamina berkepanjangan. Tapi jika sesuatu itu sebenarnya bukan yang haq untuk kita, hati nurani akan bicara dan semestanya akan memberikan tanda-tanda. Misal, ada yang merasa jatuh cinta dengan seseorang yang sebenarnya bukan hak bagi dirinya, itu kadang bisa membutakan. Atas nama cinta yang menggebu ia bisa membungkam hati nuraninya sendiri dan mengacuhkan peringatan yang datang dari kiri dan kanannya. Obat untuk menghadapi keadaan seperti ini harus shalat dengan baik diiringi dengan istighfar banyak-banyak dan jika sanggup shaum sunnah untuk melemahkan kekuatan hawa nafsu dan syahwatnya. Hanya jika daya hawa dan syahwat melemah maka suara Ilahiyah akan mulai terdengar kembali.

 

Rasulullah saw melarang umatnya berpanjang angan-angan. Bukan berarti tidak boleh merencanakan sesuatu di masa depan. Tapi angan-angan itu yang membuat dia tidak menikmati kehariiniannya. Panjang angan-angan itu sebuah skenario ilusi psikologis di masa depan, karena sebenarnya ia tidak puas dengan kehidupan yang ada saat ini. Jadi sesuatu yang tidak produktif dan tidak mendatangkan solusi praktis di hari ininya. Dia harus lebih memahami tasbih “subhanallah” agar bisa mengalir dengan suka cita dalam aliran takdir-Nya.

 

Wallahu’alam

(Catatan Kajian Suluk Online Grup, 18 April 2021/6 Ramadhan 1442 H)

Sunday, April 4, 2021

 Bagaimana mengetahui misi hidup kita, tujuan kita diciptakan dan hidup di dunia ini?

Misi hidup atau life's purpose itu a big words, bukan sesuatu yang datang dalam sehari dua hari lewat ilham, but its a life quest itself. 


Setiap manusia sebenarnya jika dia mencari kebenaran, mencari Allah dan jujur dengan dirinya sendiri akan mulai bisa mengendus menggunakan sekadar perangkat pikiran bahkan hawa nafsunya pun. Karena semua perangkat yang Allah hadirkan ke semesta dirinya, termasuk segenap takdir yang melingkupi adalah menunjuk kepada satu hal, bercerita tentang siapa dirinya. Hanya melalui jembatan 'nama dirinya' seseorang itu bisa mengenal Rabbnya. "Man 'arafa nafsahu faqad 'arafa Rabbahu'.


Seyogianya, sekitar usia 40 tahunan, bahkan usia 30 tahunan akhir seseorang biasanya akan mulai berpikir tentang siapa dirinya, apa pekerjaan atau usaha yang cocok baginya. Fitrahnya akan memanggil-manggil dia. Terutama bagi mereka yang Allah panggil dan mulai menapaki jalan taubat.


Bagaimana seseorang akan mengenali misi hidupnya? Allah akan mengajarkan dengan sangat presisi ke setiap orang. Pengajaran-Nya kepada satu orang dan yang lainnya berbeda-beda, disesuaikan dengan kapasitas dirinya yang terdiri dari entitas ruh, jiwa dan raga. Itu kenapa takdir orang akan berbeda-beda. Karena Sang Penanam benih akan menurunkan treatment yang spesifik agar si benih tumbuh optimal.


Secara praktis, shalat yang merupakan tiang agama adalah jalan yang efektif untuk membangun hubungan ketaqwaan kepada Allah Ta'ala. Bukankah dalam shalat tercantum doa memohon siapa diri kita dalam seuntai kalimat "ihdina shiraathal mustaqiim"? Pun shalat di awal waktu serta posisi sujud dalam shalat adalah hal yang Allah sukai. Jika kita ingin tahu siapa diri kita, maka satu-satunya tempat bertanya bukan kepada ustadz, malaikat, jin atau nabi-nabi, apalagi dukun. Tapi tanyalah Dia Yang Menciptakan kita semua, tanya kepada Allah "siapa hamba ya Allah, apa yang Engkau ingin aku lakukan dengan semua pemberian-Mu disini?" Itu adalah langkah awal yang penting, dengan mendekat kepada-Nya. Seiring dengan itu, perbaiki ibadah dan perbanyak tafakur atau kontemplasi diri. Baca akan segenap potensi yang ada yang Allah mudahkan. Sesuatu yang merupakan passion, yang kita bergairah untuk melakukannya. Dalam istilah Rumi, "there is a river in you" ada sebuah kesegaran yanh dibawa oleh aliran sungai di dalam diri. Itu adalah sungai pengetahuan. Karena salah satu tanda shahih seseorang bekerja di misi hidupnya, di orbit dirinya adalah melimpah pengetahuan Ilahiyah di dalam diri, sebuah pengajaran khusus dari Dia kepada si hamba. Air pengetahuan itu yang membuat dia menjadi semakin mencintai-Nya dan merasakan kedamaian dalam hidup, sebuah kedamaian yang tak terikat oleh hukum sebab akibat dunia dan tidak tergadai oleh sebuah kepemilikan apapun di alam raya.


Kemudian, karena misi hidup itu sesuatu yang harus dithawafi. Butuh waktu untuk berjalan sebagaimana thawaf mengelilingi ka'bah sebanyak 7 putaran. Itupun berfungsi sebagai batu ujian, jika itu memang misi hidupnya maka akan tahan diajak 'lari marathon'. Tidak akan bosenan, dan selalu mengalami kesegaran dan mendapat inspirasi ketika melakukannya. 


Itu ikhtiar yang dapat dilakukan dari sisi kita. Kalau kita benar ikhlas hanya mencari wajah-Nya, kalaupun yang kita thawafi itu kurang presisi maka akan  Dia arahkan dengan cara-Nya yang indah. Kita pun harus terus berjalan dengan keberserah dirian. Apapun urusan yang datang dari-Nya sambut dengan bersuka cita sambil berkata "labbaik allahumma labbaik" , aku datang ya Allah. Terus thawafi kehidupan hingga pada satu titik Allah akan berikan sebuah tanda yang terang. Sebuah sirajan muniira. Hati akan menyala terang dengan sebuah cahaya dari alam jabarut. Apa itu? Well i guess you just need to find out yourself at that point😊

Friday, April 2, 2021

 Hal yang paling menyakitkan di alam dunia ini adalah sebuah kematian. Ia bisa berupa kematian dalam wujud yang fisik seperti yang tengah kita saksikan di tengah wabah Corona yang mendunia seperti sekarang ini yang membuat kehidupan berubah 180 derajat, melalui sebuah manuver Tuhan yang tak terduga seperti ini. Nuansa kematian pun bisa berupa sesuatu yang erat dalam keseharian. Bisnis yang gulung tikar, upaya yang gagal, kondisi fisik yang didera sakit berat, kandasnya pernikahan, turun jabatan, hancurnya cita-cita dan impian, itu semua adalah sebuah keadaan yang bernuansa kematian. Matinya cita-cita, berubahnya kebiasaan, berakhirnya kekuasaan dan lain-lain adalah sebuah gerak semesta dimana sesuatu yang didatangkan kepada seseorang kemudian diambil. Yang ditarik darinya itu bisa berupa ruh, inspirasi, orang yang disayangi, penghasilan yang diandalkan dan lain-lain yang kalau kita telisik, apa-apa yang diambil itu semata-mata segala sesuatu selain Allah Ta'ala. Karena Dia tidak pernah meninggalkan kita sekejap mata.


Dunia bisa berubah, pasangan bisa berganti, teman bisa datang dan pergi, keadaan bisa naik turun, tapi yang selalu setia di sisi kita sebenarnya hanya Allah Ta'ala semata. Suatu hal yang kerap kali kita tidak sadari. Kadang, jika Allah ingin si hamba mendekat kepada-Nya, ingin agar si hamba lebih mengenal-Nya agar makin tumbuh rasa sayang kepada-Nya. Maka semua atribut yang terlanjur menjadi menguasainya akan dicabut satu persatu. Menunggu akhirnya dia tersadarkan atas apa yang seharusnya menjadi fokus dan sasaran pandangan wajahnya selama ini.

Di awal waktu, nuansa kematian itu terasa begitu menyakitkan. Hingga membuat seseorang terpuruk dan meraung-raung di dalam hatinya sedemikian rupa. Akan tetapi, setelah semua debu dunia mulai hilang dari horizon langit. Maka hangatnya sapuan cahaya matahari ke dalam jiwa akan mulai terasa. Di saat itu manusia mulai menyadari bahwa selama ini dia hidup dalam sebuah ilusi kehidupan yang dia bangun sendiri, dalam balutan cahaya lampu palsu yang sebenarnya tidak memberi kehidupan. Hanya ketika seseorang mulai merasakan kehangatan sebuah keakraban dengan-Nya, maka pasang surut dunia menjadi perlahan tapi pasti tidak akan berpengaruh kepada kondisi hatinya lagi. Ia akan bisa berdamai dengan situasi apapun yang melingkupinya, karena jiwanya mulai hidup dan menyadari apa yang sebenarnya tengah terjadi. Di titik itulah manusia mulai melangkah dalam zona kebahagiaan abadinya yang tak akan terkoyak oleh kematian jenis apapun. Insya Allah.



Friday, March 19, 2021

 Cara Allah mengabulkan doa kita itu bisa jadi sungguh tak terduga. Lonjakannya tak terbayangkan dan indah. Bukti dari ketinggian ilmu dari Sang Maha Ilmu.


Seperti kisah salat satu sahabat saya ini. Dia sedang dalam keadaan kekurangan uang. Ada pengeluaran yang tak terduga di bulan ini hingga itu mengambil alokasi uang sewa rumah bulanannya. Dia coba memotong jatah belanja seminimal mungkin. Tapi begitu dihitung lagi masih saja kurang. Sambil menunggu bis saat hendak pulang belanja, tiba-tiba ada seorang tua menghampirinya. Ia minta uang untuk makan. 


"Minta uang? Aku sendiri sedang dalam keadaan kurang uang." Pikirnya agak kesal. Sambil siap menampik orang tua itu. Tapi ia kemudian ingat ajaran dari kitab suci. Bahwa memberi itu lebih besar pahalanya justru ketika sedang kekurangan. Dia lawan rasa kesal yang sempat timbul dalam dirinya dan memenangkan rasa kasih sayangnya hingga kemudian dia merogoh dompetnya dan memberikan satu-satunya lembar uang yang dia peruntukkan untuk naik bus pulang. Dia sudah bertekad untuk jalan kaki saja, walaupun harus menempuh perjalanan agak jauh sambil menenteng tas belanja yang berat.


Selepas orang tua yang meminta uang itu menghilang dari pandangan. Ia pun mengambil nafas dalam-dalam, bersiap untuk menempuh perjalanan pulang yang dapat dibayangkan cukup melelahkan. Entah kenapa dia melakukan ini, berkorban untuk orang asing yang tak ia ketahui sama sekali. Tapi ada sebuah dorongan dalam hati kecilnya untuk melakukan itu sambil berharap Tuhannya melihat itu dan barangkali Dia membalas dengan meringankan urusannya. Siapa tahu...


Belum usai dia berkata di dalam pikirannya. Sebuah tepukan terasa di pundak kanannya. 

"Hei, ke mana aja?!" Seorang teman lama tiba-tiba menghampiri dengan menyertakan sebuah sapaan yang riang. Tampaknya dia sedang bergembira. 


"Kita ngobrol sambil makan yuk!?" Ajaknya lagi sambil langsung menarik tangannya dan tidak memberikan kesempatan bagi si sahabat untuk menjawab pertanyaannya.


Akhirnya mereka duduk berdua di dalam sebuah restauran yang terbilang cukup mewah. Biasanya yang datang untuk makan siang di sana hanya orang-orang dengan pakaian jas dan berdasi dari bank atau kantor sekitar.


"Lumayan, menghemat pengeluaran makan siangku." Pikir si sahabat yang sejenak melepas ketegangannya memikirkan uang yang kurang untuk membayar sewa rumahnya.


"Kau tahu sejak terakhir kita bertemu, aku mendapat kerja baru. Gajinya jauh lebih besar. Aku banyak uang sekarang!" Kata si teman lama sambil menyeruput minuman yang baru saja disajikan di depannya. Dan aku ingat kamu dulu sering bantu dan traktir aku. Maka waktu barusan aku lihat kamu di dekat halte bis, langsung aku hampiri. Dan, tunggu..." Dia lalu membuka dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang. Jumlah yang fantastis buat si sahabat, karena dengannya tidak hanya ia bisa membayar uang sewa rumah bulan ini, tapi juga menambah untuk sewa bulan depan.


"Apa ini?" Tanya si sahabat bingung.


"Untukmu, please. Terima ya sebagai tanda terima kasihku dan persahabatan kita." Ujarnya sambil menggenggamkan lipatan tebal uang itu tebal-tebal di tangan si sahabat yang entah kenapa mendadak jadi kaku.


Belum sempat si sahabat menjawab, teman lamanya berkata. "O, iya. Kebetulan aku bawa mobil. Aku antar kamu pulang ya, kasihan belanjaan kamu banyak."


Demikianlah salah satu pagelaran cara Sang Maha Kuasa menjawab doa hamba-Nya. Tentu tidak dengan menjatuhkan uang dari langit dan melawan hukum alam. Tapi Ia gerakkan semesta dan orang sekitarnya dengan indah sehingga terjalin hubungan saling kasih di dunia.❤


- Inspired by true story

Wednesday, March 17, 2021

 Menjalani kesulitan dan ujian dalam hidup itu perlu. Karena itu adalah cara jitu untuk bisa melihat penyakit-penyakit hati yang kerap kali tersembunyi dari pemantauan kita sendiri.

Bukan sebuah kebetulan jika suatu saat tiba-tiba kita ditipu orang, difitnah orang atau bahkan disakiti baik secara fisik maupun mental. Jika kita hanya tertawan pada hukum sebab-akibat, maka seumur hidup kita hanya sibuk melihat kambing hitam di luar diri dan menyalahkan si A, si B atau situasi yang ada sambil luput melihat bahwa sesuatu yang dihadirkan itu - sepahit apapun rasanya - adalah sebuah obat mujarab bagi penyakit yang ada di dalam hati. Yang jika kita meninggal hal itu luput diistighfari maka akan mewujud menjadi sebuah azab di alam berikutnya. Na'udzuubillahimindzaalik.

Maka, seperti siang dan malam. Allah akan senantiasa mempergilirkan nuansa kehidupan. Kadang tenang, kadang dalam konflik. Kadang lapang, kadang sempit. Kadang sehat, kadang sakit. Itulah natur kehidupan, semua akan datang silih berganti. Dunia bersifat fana. Karena hanya Sang Pencipta yang selalu ada.

Untuk menghadapi natur dunia yang seperti itu, kita harus memperluas ruang hati kita. Seiring dengan taubat yang benar kepada Allah Ta'ala. Semakin lapang ruang hati, maka riak apapun tidak akan menimbulkan gejolak yang bermakna. Sebaliknya, jika hati sempit setetes ujian pun sudah bisa membuat dirinya terkungkung oleh kekhawatiran, kecemasan, kemarahan dan rasa-rasa yang tidak nyaman lainnya.

Jadi, jika didatangi kembali oleh tamu-tamu kehidupan seperti itu. Jangan buru-buru reaktif membalas atau melampiaskan emosi. Lebih baik tenang dulu dan teropong dalam-dalam hatinya. Sejauh mana riak itu mengombang-ambing kita maka sesempit itu pula kondisi hati per saat itu. Dengannya, istighfar kita bisa lebih dalam. Astaghfirullah...

Sunday, March 14, 2021

 "Kalau mau lihat neraka, maka lihatlah hatimu.

Demikian pun kalau mau melihat surga, lihat pula hatimu." Begitu pesan guru saya. Beliau membantu saya melihat kehidupan dengan cara pandangan yang lebih benar. Bahwa jika isi pikiran dan hati kita baik maka kita akan mampu melihat keindahan hidup bahkan di tengah ujian dan kesempitan kehidupan sekalipun.


Saya memang merasakannya, kerap kali kalau pikiran dan hati saya merespon dengan kurang tepat ada semacam bisikan dari hati nurani yang mengatakan bahwa itu tidak baik. Dan kalau saya tetap bersikeras memenangkan hawa nafsu saya maka biasanya ada saja kesialan dalam hidup yang terjadi. Mulai dari kepala terbentur lemari, jari teriris pisau, tiba-tiba anak sakit, suami berulah, dapat kabar tidak mengenakkan dari tanah air, suasana kerja dibuat menyesakkan dll. Intinya hidup sekitar kita sebenarnya mencerminkan gejolak yang ada di hati dan pikiran kita sendiri. Tapi sebaliknya, ketika saya mencoba menerima keadaan apa adanya, with no judgment, dan sebanyak mungkin meraup cahaya ke dalam hati dengan berdzikir maka situasi berat yang sama sekalipun dapat dihadapi dengan hati yang tenang. Aneh bin ajaib. Raga memang bisa sakit atau lelah, tapi hati bahagia dan tenang. Hidup jadi terasa indah bahkan di tengah hujan  badai sekalipun. 


Saya menjadi belajar untuk menghargai hal-hal kecil yang sebenarnya tidak kecil sama sekali dalam kehidupan. To count our blessings. See the bright side. Saya bertekad kalaupun saya masih pontang-panting belum memahami cara Dia mengatur semesta kehidupan ini, setidaknya saya tidak mau memiliki setitikpun prasangka buruk di hati ini kepada-Nya. Dia yang mendatangkan semua hal dalam kehidupan ini dengan menggerakkan semua ciptaan-Nya. 


Saya pun bertekad bahwa saya ingin menjadi orang yang bebas. Tidak ingin membiarkan diri terbelenggu pada kenikmatan dan kebahagiaan yang bersyarat. Yang kalau kita belum punya ini atau belum mencapai itu hidup kita seakan less perfect. I want to see the perfectness in every second of my life. Karena Dia sungguh Maha Sempurna. Dan tak ada ciptaan-Nya yang cacat. Adalah cara pandang kita terhadap dunia yang membuat kita mengkotak-kotakkan keadaan. Seakan Tuhan hanya ada pada satu pengelompokkan tertentu saja. 


Dan ya, saya yakini surga dan neraka itu bukan hanya sesuatu yang akan kita hadapi nanti. Akan tetapi kita tengah membangun surga atau neraka kita pada setiap respon yang diberikan dalam kehidupan. Saya jadi ingat sebuah kisah tentang seseorang yang diberi pengalaman untuk melihat keadaan neraka. Setiba disana ia bingung, karena dalam benaknya neraka adalah tempat yang mengerikan dengan orang menjerit-jerit di tengah bara api yang derajat neraka paling ringan saja konon bisa membuat otak seseorang mendidih. Tapi saat itu ia hanya melihat sebuah tempat yang sangat luas tanpa sebuah nyala apipun ada di dalamnya. Dalam kebingungan itu ia bertanya kepada sang malaikat penjaga neraka. "Wahai malaikat, apakah ini betul tempat yang dinamakan neraka? Mengapa aku tidak melihat api di dalamnya?" Sang malaikat berkata, "Api apa yang kau maksud? Inilah neraka, adapun api yang ada adalah karena ia dibawa oleh orang yang memasukinya."

Na'udzubillahimindzaalik...