Ada hukum dan aturan dalam kehidupan yang sangat kokoh
Tuesday, September 19, 2023
Tuesday, September 12, 2023
Mudahnya Hidup Bersama Tuhan
Friday, September 8, 2023
Benarkah aku mencari Tuhan?
Jangan-jangan sekadar mencari legitimasi dan kenyamanan hidup dibalut dengan hiasan agama.Benarkah aku mencari Tuhan?
Jangan-jangan sekadar meraup kepuasan dari sebuah pengembaraan intelektualitas yang tak bertepi.
Benarkah aku mencari Tuhan?
Jangan-jangan hanya tertawan dengan pemberiannya baik bersifat materi atau non materi. Hal yang nampaknya duniawi atau bahkan tampaknya bernuansa agama sekalipun tapi bersumber dari syahwat spiritual semata.
Benarkah aku mencari Tuhan?
Kalau memang iya, kenapa masih mempertanyakan kebijakan-Nya bahkan tidak menerima dan marah kepada-Nya hingga tak mau lagi menyebut namanya dan enggan lagi mensujudkan diri di hadapan-Nya.
Benarkah aku mencari Tuhan?
Kalau iya, kenapa shalatku masih terasa hambar dan bukan jadi cerminan sebuah pertemuan antara dua kekasih. Yang merindui dan dirindui.
Benarkah aku mencari Tuhan?
Jika iya, kenapa aku lebih betah berlama-lama scroll down sosial media dibanding membaca kalam-Nya.
Benarkah aku mencari Tuhan?
Jangan-jangan ucapanku baru sekadar lip service.
Aku yang mengatakan berkali-kali "Allahu Akbar" dalam shalat, tapi pada kenyataannya, permasalahan hidup dan himpitan kesulitan ekonomi yang lebih besar dampaknya kepada-Ku dibandingkan janji-Nya sebagai Sang Pemberi Rezeki.
Jangan-jangan ikrarku baru pernyataan di bibir ketika berkata lantang "Laa ilaaha ilallah" sementara sekian berhala dan tuhan-tuhan lain masih mendominasi dalam hatiku. tuhan kecil bernama ego, bangga diri, takut dipandang gagal, takut dipandang hina di masyarakat. Itu yang ternyata lebih menguasai dan mendikte diriku dibanding Tuhan Yang Maha Esa.
Aku meragukan pencarianku kepada Tuhan.
Rasanya selama ini masih berupa klaim di bibir.
Aku telah terjebak dalam sebuah waham keshalihan.
Memandang diri baik dan shalih padahal hati masih penuh dengan berhala dan kegelapan. Astaghfirullah.
Benarlah tanpa rahmat-Nya aku tidak akan pernah keluar dari kenistaan ini agar bisa menjadi cahaya-Nya.
Astaghfirullah...
Monday, September 4, 2023
Saya tidak diajarkan agama tertentu oleh kedua orang tua. Mereka orang-orang agnostik dan saya pun tak terelakkan tumbuh menjadi memiliki keyakinan seperti mereka. Orang tua saya cukup keras dalam mendidik anaknya. Kami selalu ditanamkan untuk memiliki tanggung jawab sejak kecil. Mengerjakan banyak pekerjaan rumah tangga, belajar dengan baik agar sukses dalam hidup dengan standar sukses kebanyakan orang, punya karir cemerlang, memiliki properti dan kekayaan yang melebihi rata-rata. Itu yang selalu ditekankan. Bahwa hidup adalah tanggung jawab diri sendiri. Gagal atau berhasilnya kita yang menentukan.
Selama berdekade lamanya saya menerapkan strategi yang mereka ajarkan. Saya unggul di pelajaran dan kuliah sampai meraih gelar doktor di salah satu perguruan ternama di dunia. Saya pikir semua pencapaian itu bisa membuat mereka bangga, tapi selalu ada tuntutah lainnya. Tentang status, pasangan, keturunan, dll. It’s an endless pressure.
Di tengah itu semua, sebuah tragedi kehidupan terjadi menimpa saya. Sesuatu yang membuat pondasi dan kepercayaan runtuh dan hancur berkeping-keping. Saya tak tahu lagi apa yang harus saya percayai. Saya merasa limbung, tak tahu harus kemana dan apa yang harus dilakukan. Saya lelah selalu merasa bertanggung jawab atas hidup saya dan memikul beban berupa berbagai konsekuenai dari pilihan-pilihan jalan hidup. Selalu ada yang tidak beres. Akhirnya saya menyerah. Saya tidak mau hidup jadi orang bebas. Saya tidak mau dipaparkan dengan ribuan kesempatan dan lelah memilihnya. Saya hanya ingin diarahkan. Apa yang harus saya lakukan dalam hidup?
Di tengah kegalauan itu saya mulai mencari-cari jawaban melalui agama. Saya telusuri berbagai agama dan kepercayaan. Saya bertanya kepada para ulamanya tentang satu pertanyaan esensial dalam hidup saya. Saya ingin mengerti kenapa hal itu terjadi? Sesuatu yang logika pikiran saya tak sanggup untuk menjangkaunya. Kegelisahan saya kemudian membawa saya berkenalan sebuah komunitas muslim di Inggris. Where everybody is welcome. Ada mentor yang siap menjawab semua pertanyaan saya dengan sabar. And i asked a lot. Barangkali ribuan pertanyaan sudah saya ajukan hingga akhirnya saya menyerah. I give up.
Saya memilih untuk surrender. Berserah diri. Biar Tuhan yang mengatur. Saya lelah mengatur hidup saya sendiri. Saya ingin hidup saya diaturkan. Saya penat harus menyaring dan menguji diantara sekian banyak kemungkinan yang ada. Saya ingin Tuhan menyaringnya untuk saya. Saya hanya butuh kepastian. Dan saya mulai merasa bahwa satu-satunya kepastian adalah mendekat dengan Dzat Yang selalu ada. Yang menciptakan alam ini dengan ilmunya. Tentu Dia Yang lebih tahu. Akhirnya setelah melalui berbagai proses pasang sururt, saya memutuskan untuk mengucapkan dua kalimah syahadah dan menjadi seorang muslim. Orang tua saya khawatir dengan keputusan saya tersebut. Dalam bayangannya menjadi seorang muslim membuat kebebasan hidup kita jadi terbatasi. Padahal sebaliknya. Apa yang saya rasakan sebagai kebebasan memilih jalan hidup sebelumnya adalah sebuah kebebasan semu karena akhirnya saya terjebak pada lingkaran setan yang tak berujung berupa sebuah upaya mencari kebahagiaan. A pursuit of happiness. Tanpa pernah memahami apa makna dari kebahagiaan itu sendiri. Justru dengan menjadi muslim dan menjalanian semua syariat-Nya saya merasakan kebebasan yang lebih dalam. Ada kedamaian yang mulai menetes dalam batin. Ada sebuah cahaya terang yang mulai berpendar dalam kegelapan hidup. Sebuah keterbukaan yang mencengangkan. Sesuatu yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Seperti bayi yang baru terlahir ke alam baru, saya masih merasa lemah tapi saya tahu there is no way back. Alam yang baru adalah lebih menggairahkan dan lebih menjanjikan dari alam kehidupan saya sebelumnya. Tidak juga berarti bahwa semuanya menyenangkan or a walk in a park. Ada juga rasa sedih, lelah, kadang marah. Tapi kali ini semuanya menjadi memiliki makna. Dan saya pikir, itu yang orang butuhkan dalam hidup. Agar dia bisa memaknai sungai takdir kehidupannya.
- Based on true story
Terinspirasi dari obrolan sore yang menginspirasi, Amsterdam 4 September 2023 / 19 Safar 1445 H
Wednesday, August 30, 2023
"Orang-orang yang beriman dan beramal saleh pasti akan Kami masukkan mereka dalam (golongan) ash shalihiin" QS Al Ankabuut [29]:9
Siapa itu golongan yang disebut ash shalihiin?
Mereka adalah orang-orang yang ada di shiraathal mustaqiim.
Siapa yang menaati Allah dan Rasul (Nabi Muhammad), mereka itulah orang-orang yang (akan dikumpulkan) bersama orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, ash shiddiqiin, asy syuhada, dan ash shalihiin. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS An Nisaa' [4]:69)
Kemudian di banyak ayat dalam Al Quran amal shalih itu disandingkan setelah iman. Jadi iman adalah landasan seseorang beramal shalih. Dengan kata lain beramal shalih tidak sesederhana berbuat kebaikan, tapi mengerjakan apa yang Allah tugaskan. Si hamba paham apa yang Allah tugaskan karena di dalam hatinya sudah menyala cahaya iman yang dengannya ia mulai memahami petunjuk Allah Ta'ala. Orang yang terbiasa mengerjakan amal shalih itulah yang diharapkan masuk ke golongan ash shalihiin. Ada di shiraathal mustaqiim. Doa yang kita panjatkan setiap shalat dalam untaian surat Al Fatihah, "ihdina shiraathal mustaqiim".
Amal shalih ini sebenarnya investasi utama kita. Tidak setiap orang punya uang berlebih, tidak semua orang punya orang tua yang kaya, tidak semua orang punya pekerjaan bergaji tinggi, tidak semua orang sukses besar bisnisnya. Tapi Allah itu adil, yang namanya kedamaian dan kebahagiaan itu tak ada sangkut pautnya dengan uang, properti yang berderet, kesuksesan dunia, popularitas dll. Bisa jadi tambah uang, tambah jabatan malah tambah pusing. Keluarga berantakan, shalat awut-awutan, boro-boro menikmati munajat dengan Allah. Di akhir hidupnya, dia hanya dibuat lelah dengan berlari-lari di fatamorgana hingga ajal menjemput dia tidak siap dengan bekal untuk menjelang alam berikutnya.
Amal shalih itu kunci kebahagiaan hidup kita dan itu dijamin oleh Allah Ta'ala dalam Al Quran, surat An Nahl ayat 97,
"Barangsiapa beramal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (hayatan thayyibah) dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."
Dan siapa yang lebih baik dalam menunaikan janji selain dari Allah Ta'ala. Maka buktikanlah, cari amal shalih kita dengan bismillah.[]
Saturday, August 26, 2023
“It’s only a matter of time before doctors become replaced by artificial intelligence (AI)” kata Yuval Noah Harari ketika diwawancara oleh BBC dalam rangka peluncuran bukunya “21 lessons for the 21st century”. Saya tidak setuju dengan dia. Sama halnya saya tidak setuju dengan pendapatnya di buku Sapiens bahwa kita manusia adalah Homo Sapiens.
Kalaupun AI bisa mengolah semua data mengenai kondisi tubuh manusia seperti tanda-tanda vital, bioritme dll, itu masih puncak dari gunung es dari keadaan yang sebenarnya, karena manusia adalah makhluk yang bukan sekadar raga yang terdiri dari sekumpulan organ dan sistem. Manusia punya jiwa dan ruh. Manusia punya pikiran dan emosi dan perasaan. Semuanya mempengaruhi state of well-being seorang manusia.
Mungkin kalau sekadar mengatasi gejala penyakit yang ada, AI masih bisa diandalkan. Sakit kepala? Ini obatnya. Sakit perut? Minum ini. Sakit pinggang? Ambil ini. Tapi memori saya masih kuat menjejak saat mendengar kuliah umum etika kedokteran untuk para mahasiswa kedokteran baru yang disampaikan oleh almarhum Prof. Rully Roesly dulu , beliau mengatakan bahwa kemampuan menjadi dokter terutama ditentukan oleh anamnesa yang baik. Lebih dari 70% akurasi diagnosis itu dari anamnesa yang baik. Anamnesa adalah sesimpel wawancara dokter kepada pasien. Dia membutuhkan kemampuan komunikasi, kemampuan mendengarkan dan empati yang baik. Lebih dari itu seorang dokter yang memiliki hati yang hidup akan bisa menangkap hal-hal yang jauh lebih dalam. Sesuatu yang tak akan mungkin dijangkau oleh AI karena mereka tak punya hati.
Saya jadi ingat pengalaman pernah kerja di sebuah klinik di daerah Cicalengka di sekitar tahun 2002-2003 dulu. Klinik itu selalu ramai oleh pasien yang jumlahnya ratusan di pagi dan sore sampai malam hari. Maklum dengan anya merogoh kocek 12ribu rupiah saja pasien sudah bisa konsultasi dengan dokter plus mendapat paket obat. Memang senang bisa banyak menolong orang, tapi saya sering tidak puas dalam melakukan anamnesa. Karena bagaimanapun proses anamnesa membutuhkan waktu, dan setiap kali saya mencoba menggali lebih jauh riwayat penyakitnya si petugas administrasi sedikit-sedikit memberi sinyal “jangan kelamaan dok, pasien masih banyak yang antri”. Nah, serba salah. Akhirnya diagnosa langsung ditegakkan berdasarkan data yang terbatas. Mungkin si pasien akan merasa sembuh dengan berbagai pereda sakit atau obat-obat simtomatik. Tapi hanya masalah waktu keluhannya berulang jika akar penyakit itu tidak kita temukan.
Kondisi itu juga yang memutuskan saya pindah ke klinik yang lebih sepi di Purwakarta. Di sana saya bisa leluasa menganamnesa pasien. Saya jadi tahu bahwa di balik sering kambuhnya eksim seorang nenek tua ada hubungannya dengan konflik dengan mantunya. Saya jadi memerhatikan bahwa di balik serangan maag yang berulang pada seorang ibu ternyata bersumber pada ricuh di rumah tangganya. Saya jadi paham bahwa di balik sakit panu yang berulang ternyata bapak ini punya kecenderungan diabetes dan beliau susah mengontrol makanan karena makan makanan yang enak adalah media pelampiasan dia dari ketegangan yang ada di rumah tangganya.
Manusia itu memang kompleks. Tidak seperti memperbaiki robot. Begitu banyak dinamika yang terjadi di dalam semesta diri manusia. Ada tiga alam yang membentuk seorang manusia. Raga dalam alam mulk, jiwa dari alam malakut, ruh dari alam jabarut. Dan itu saya yakin sampai kapanpun tak akan pernah bisa terjangkau oleh AI. It is not that intelligent afterall…
Wednesday, August 9, 2023
Renungkanlah ini.
Berpikir baik itu ibadah kepada Tuhan.
Berbuat baik itu ibadah kepada Tuhan.
Memancarkan sifat-sifat kebaikan-Nya seperti memaafkan, membukakan jalan, menafkahkan sesuatu, memberi kelapangan, membersihkan, merapikan, menyembuhkan, bersabar dll adalah sebuah ibadah kepada Tuhan.
Mengingat-Nya di pagi hari, memohon ampunan-Nya, meminta perlindungan-Nya, meminta petunjuk-Nya bahkan dalam perkara meminta garam, memilih menu masakan, memilih rumah, memilih jodoh, memilih proyek, memilih pekerjaan dll adalah ibadah kepada Tuhan.
Kita beribadah kepada Tuhan untuk mendapatkan curahan sifat-sifat baik-Nya. Maka tanda seseorang semakin dekat kepada Allah pasti akhlaknya semakin mulia karena sifat-sifat Allah makin terpantul dari qalbnya dan mewarnai tindakannya sehari-hari.
Kita beribadah kepada Allah agar penglihatan kita disinari oleh daya penglihatan-Nya. Agar kita jadi lebih bisa melihat kebenaran, lebih bisa meraup ilmu dan pelajaran di balik setiap takdir yang Dia tetapkan sehari-hari. Maka tanda ibadah seseorang benar pastilah dia makin mensyukuri kehidupannya. Dan orang-orang yang bersyukur adalah mereka yang ada di shiraathal mustaqiim. Sesuatu yang kita minta setiap shalat.
Kita beribadah adalah untuk meraih hikmah. Kebijaksanaan yang didasarkan atas ilmu yang benar tentang Tuhan, Sang Pencipta. Karena pada akhirnya yang kita tuju dari semua ibadah kita adalah sebuah kedekatan dengan Sang Pencipta. Sang cinta pertama jiwa kita yang sudah terukir kuat sejak perjanjian di saat Tuhan bertanya “alastu birabbikum” - bukankah Aku Rabb-mu? Masih bersaksikaj kita bahwa adalah Dia yang selalu ada, adalah Dia yang selama ini memeberi rezeki, adalah Dia yang mengurus orang tua dan anak-anak kita, adalah Dia yang mengaturkan jasad, adalah Dia yang mengaturkan segenap takdir kehiduoan kita hingga tak ada satu keping pun yang sia-sia.
Simpan jawabannya saat nanti berpindah ke alam barzakh untuk menjawab pertanyaan para malaikat yang menyambut kita dengan “Man Rabbuka?”
- terinspirasi dengan tausiyah dari Muhammad Raheem Bawa Muhaiyyaddeen