Friday, April 13, 2018

Setelah mendengar kabar tentang perjalanan Isra' Mi'raj Rasulullah saw, Abu Jahal -sang penentang ulung bergegas menemuinya.
"Hai Muhammad, angkatlah sebelah kakimu!"
Rasulullah saw dengan kebesaran hatinya lalu mengangkat sebelah kakinya.
"Sekarang, angkat juga sebelah kakimu yang lain."
"Aku tidak bisa," jawab Rasulullah.
"Nah, bagaimana bisa engkau yang bahkan tidak bisa mengangkat kedua kakimu di atas tanah mengaku pergi ke langit ketujuh semalam?"
"Oh, akan tetapi aku tidak berkata bahwa aku pergi," jawab Rasulullah, "aku telah diperjalankan."
#Renungan malam isra' mi'raj
With God, anything is possible
Jika kita menerima surat tugas yang mengatakan besok harus ke luar negeri, maka waktu 24 jam terasa singkat. Sibuk dengan mempersiapkan paspor, booking tiket, mencari hotel, menghitung bekal yang cukup selama perjalanan, setiap kebutuhan kita di tempat tujuan akan ditinjau secara seksama agar tidak terlunta-lunta nanti. Di saat malam hari tidur pun tidak nyenyak karena takut tertinggal pesawat yang berangkat di dini hari.
Jika semua upaya serius dikerahkan untuk sekadar bepergian antar negara di muka bumi, maka seserius apa seharusnya ikhtiar seseorang untuk menjelang kehidupan akhirat yang terbentang di hadapannya?
“Kamu tidak berdiam (di dunia), melainkan hanyalah sehari saja”. (Q.S Thaahaa: 104)

Monday, April 2, 2018

Mengalami keletihan itu perlu,
agar tahu rasanya manakala badan kembali disegarkan.

Mendera kesusahan itu perlu,
agar tahu rasanya nilai sebuah pertolongan.

Merasakan kesedihan itu perlu,
agar hati tidak beku oleh terlampau banyak kesenangan yang melalaikan.

Inilah harmoni dalam kehidupan.
Sehat-sakit, lapang-sempit,
kesulitan dan kemudahan,
semua akan dipergilirkan
bagaikan siang dan malam.
Semua ada dalam perhitungan-Nya yang presisi dan menyehatkan jiwa.
Agar ia tidak terlalaikan dalam dunia ilusi.

Maka jelanglah dengan gembira semua takdir kehidupan kita.
Jangan terpaku dengan bentuk dan fenomena lahiriyah,
tapi lihatlah siapa yang mengirimkan itu semua.

Sang Nabi bersabda, “Tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit, dan juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengan dosa-dosanya”. (HR. Muslim no. 2573).
Manusia hanya dapat mengenal nilai anugerah Yang Maha Kuasa jika ia telah mengalami rasa sakit dan deritanya sendiri, lahir maupun batin.

Inilah salah satu kunci kehidupan.
Agar manusia bersuka cita menjelang kondisi apapun yang ada.
Sehingga hatinya semakin mendekat kepada-Nya.

***
Allah berfirman dalam Al Qur’an, Ada hal yang ditetapkan bagimu yang tidak kamu sukai padahal baik bagimu, dan ada hal yang kamu sukai padahal tidak baik bagimu. Sufi besar Imam Ghazali ra, menjelaskan gagasan ini sebagai berikut, “Sakit adalah salah satu bentuk pengalaman yang membawa manusia sampai kepada pengetahuan tentang Tuhan; seperti dikatakan-Nya, Sakit adalah pelayan-Ku yang Aku berikan kepada sahabat pilihan-Ku.”



Saturday, March 31, 2018

Panik adalah salah satu penyebab seseorang tenggelam di air dalam. Bayangkan ketika kaki tidak bisa berpijak ke dasar air dan orang itu tak bisa berenang atau kelelahan maka respon tubuh akan meronta dalam panik, hal yang membuat kondisi otot menjadi spastik dan saluran nafas kerap tertutup oleh air yang menerjang masuk melalui mulut atau hidung.

Dalam hidup, tidak jarang pijakan kaki seseorang akan ditiadakan. Sesuatu yang merupakan ´comfort zone´ bagi orang tersebut. Hal yang dijadikan sandaran hidup dan pegangan dalam menjalani keseharian. Sandaran itu bisa berupa pasangan hidup, gaji tetap, karir yang menanjak, atau berupa kenyamanan yang bernuansa spiritual, biasa sholat tepat waktu, rajin sholat malam dan tidak pernah absen datang ke pengajian.

Jika datang saat ketika pijakan kehidupan kita dihilangkan oleh Dia Yang Memberikan itu semua. Maka bisa jadi itu adalah tanda bahwa Dia sedang melatih kita untuk berenang dalam kehidupan. Agar tidak terikat kepada semua pemberian-Nya dan kembali menyadari kefakiran diri. Berpanik diri menghadapi ujian-Nya yang datang hanya akan membuat diri tenggelam dalam fenomena yang ada. Tenang, kan ada Allah, our Best Lifeguard. Makanya Rasulullah saw jauh-jauh hari menyarankan, `Ajari anakmu berenang`. Agar sang ´anak´ jiwa kita di dalam diri tidak tenggelam dalam kehidupan dunia ~

Wednesday, March 28, 2018

Bersilaturahmi dengan orang yang kita segani dan kita sukai itu biasa.
Menyambung silaturahmi dengan orang yang memusuhi kita dan sudah bertahun-tahun menolak bertemu bahkan tak pernah datang kalau diundang, nah itu luar biasa.

Memanfaatkan momen lebaran dengan saling memaafkan keluarga, tetangga dan teman, itu biasa.
Melapangkan dada dan memaafkan orang yang telah menzalimi kita, itu luar biasa.

Memberi kepada orang yang kita sukai, itu biasa.
Memberi kepada orang yang pelit dan tidak pernah memberi kepada kita, itu luar biasa.

Jika mau amal timbangan kita berat di akhirat, maka berjuanglah melakukan hal-hal yang luar biasa, karena itulah budi pekerti yang baik.

"Amal yang paling berat ketika diletakkan di mizan (timbangan amal) adalah budi pekerti yang baik."(HR Abu Dawud)

"Hai Abu Hurairah, haruslah kamu berbudi pekerti yang baik."
Abu Hurairah bertanya, "Bagaimana budi pekerti yang baik itu?"
Rasulullah saw bersabda, "Kamu menyambung silaturahmi kepada orang yang memutus hubungan kepadamu, kamu memaafkan orang yang berbuat zalim kepadamu dan kamu memberi kepada orang yang tidak mau memberi kepadamu."
(HR Al Baihaqi)
Jika ingin menguji apakah mata kita buta warna atau tidak.
Tinggal membaca serangkaian pola dan angka yang tertuang di dalam buku yang dibuat oleh Shinobu Ishihara, seorang dokter spesialis bedah dan spesialis mata yang menciptakan alat bantu untuk mendeteksi buta warna.

Sedangkan jika ingin menguji apakah mata batin masih buta,
maka mursyid saya berkata coba baca Al Quran.
Perhatikan apakah kita bisa membaca pola dan pesan Allah yang lain yang ada di dalamnya. Sesuatu yang tidak hanya dapat dipersepsi oleh pandangan lahiriyah saja.


Monday, March 26, 2018

Kata 'Umur' dalam Al Quran

'Umur' adalah salah satu kata dalam Bahasa Indonesia yang merupakan serapan dari Bahasa Arab ('umur) عمر (‘Ain-Mim-Ra).
Di dalam Al Qur'an akar kata عمر (‘Ain-Mim-Ra) muncul 27 kali di dalam 22 ayat yang berbeda.
12 ayat diterjemahkan sebagai "umur".
4 ayat diterjemahkan sebagai "memakmurkan /dimakmurkan".
3 ayat diterjemahkan sebagai "umrah".
3 ayat diterjemahkan sebagai "Imran".
Mari kita telaah satu persatu.
1. Proses pemakmuran
Dalam empat ayat yang menyebut kata (‘Ain-Mim-Ra) lalu diterjemahkan sebagai makmur, dua ayat berkaitan dengan mesjid dan baitul makmur dan dua ayat lagi berkaitan dengan bumi (al ardh). Sebuah ajakan agar manusia memakmurkan bumi diri (jasad) juga jiwanya , dimana hati manusia semestinya menjadi baitullah.
2. Keluarga Imran
Tidak ada surat al-Qur’an yang menggunakan nama keluarga kecuali Surat Ali Imron (Keluarga Imron). Demikian tinggi kedudukan keluarga ini di mata Allah, karena ketaatan dan keikhlasan hati mereka, sehingga nama keluarga Imran diabadikan dalam Al Quran beriringan dengan nama para nabi,
“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing)” (Qs. Ali Imron: 33)
Berbicara tentang keluarga Imran tidak lepas dari figur Maryam binti Imran yang sejak di dalam kandungan telah dinazarkan untuk mengabdi kepada Allah Ta'ala,
(Ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”(QS Ali Imran:35)
Maryam inilah yang kemudian melahirkan bayi Isa as, yang sejak awal sudah diperkuat dengan Ruhul Qudus,
"...dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mukjizat) kepada Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus..."(QS Al Baqarah: 87)
3. Umrah dan Haji
Penyebutan umrah dalam dua ayat dalam Al Quran [2:196] & [2:158] berkaitan dengan haji. Sebuah ibadah yang berpuncak di prosesi thawaf mengelilingi ka'bah.
Dengan demikian rentang waktu umur manusia harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk memakmurkan aspek jasad dan jiwa dalam diri untuk meraih anugerah Allah Ta'ala berupa penguatan oleh aspek ruh dari Allah Ta'ala yang dengannya sang insan dapat berthawaf dengan sebenar-benarnya thawaf dalam kehidupan.
Wallahua'lam