Monday, February 11, 2019

Tak ada pemberian Allah yang paling berharga rasanya selain hati yang bisa bermunajat kepada-Nya.
Hati yang berbisik kepada-Nya di tengah keramaian,
Hati yang menyeru-Nya di tepi jurang keputusasaan,
Hati yang menjerit lirih kepada-Nya di tengah dera himpitan dan ujian kehidupan.
Hati yang mengingat-Nya dalam balutan kenikmatan,
Hati yang berterima kasih kepada-Nya dalam ekstasi kehidupan,
Hati yang berpaling kepada-Nya di tengah gegap gempita keberhasilan.
Karena Dia satu-satunya alasan kita ada dan menjadi.

Sunday, February 10, 2019


Sifat Allah yang paling menonjol adalah Maha Kasih Sayang (Ar Rahmaan Ar Rahiim). Dia selalu menginginkan dan hanya memberikan kebaikan bagi segenap ciptaan-Nya tanpa seujung rambutpun menzaliminya.

Jika seseorang mengimani hal ini, maka hal itu akan membantunya terutama dalam mengarungi ujian dan musibah dalam kehidupan. Maka hati yang gelisah, amarah yang tak kunjung reda, dendam yang tak juga padam, kekhawatiran yang terus berhembus dan hal yang mengakibatkan hati tidak tenang sesungguhnya datang dari kelemahan diri sendiri. Yaitu ketika iman kita belum utuh kepada-Nya. Masih setengah-setengah berpegang kepada Allah dan ada sisi lain yang ditautkan kepada obyek-obyek selain-Nya.

Pekerjaan yang kita pegang hari ini, usaha yang kita tekuni saat ini, rumah tangga yang kita arungi, semua kondisi per hari ini semuanya datang dari-Nya. Tidak akan mungkin semua terjadi tanpa kehendak Allah Ta’ala. Dan jikalau Dia sudah berkehendak pasti banyak kebaikan bagi diri manusia.
Kalaupun seperti dibukakan jalan keluarnya, biasakan selalu menghadapkan hati kepada-Nya. Jangan terburu-buru dalam menentukan keputusan. Harus selalu waspada dengan fenomena 'Maskumambang'- emas yang mengambang, tampak berkilau seperti emas tapi hanya buih yang memantulkan cahaya. Sesuatu yang disebutkan dalam Al Quran sebagai "Allah mengujimu dengan binatang buruan yang mudah ditangkap"(QS Al MaaĆ­dah : 94). Bisa berupa tawaran pekerjaan yang tampaknya menggiurkan, proyek yang sepertinya akan mendulang untung besar, atau tertawan hati kepada orang lain. Hati-hati, semua itu bisa jadi sebagai ujian semata bagi keteguhan iman kita.
Maka biasakan untuk senantiasa menyerahkan diri sebelum mengambil keputusan-keputusan kehidupan kepada-Nya. Agar bersama-Nya kita mengambil keputusan. Supaya tetap terjaga perasaan Sang Pencipta.
Sementara itu, terjang semua rasa tidak betah, lelah, bosan, rasa ingin menyerah, dan ketidakenakan hati lainnya. Jangan mudah mengibarkan bendera putih tanda berhenti saat keadaan terasa sulit. Kalaupun memang harus pindah ke situasi yang lain pasti Allah akan berikan jalan yang terang yang memberikan kenyamanan di hati pada saatnya yang paling baik yang sifatnya tidak terburu-buru atau melabrak-labrak pagar-pagar kehidupan. Kita belajar menelan pil pahit kehidupan yang menyehatkan. Itu tanda seseorang yang mulai matang jiwanya. Allah berfirman,

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 216).




Thursday, February 7, 2019

Kenangan Terindah Bersama Almarhum Ayah

Kalau ditanya apa ingatan yang paling berkesan tentang almarhum ayah saya. Maka jawabannya adalah pada suatu sore yang mendung disertai hujan gerimis di kota Bandung. Tanggalnya saya tahu persis, 27 April 1994. Karena itu hari ulang tahun saya.
Sore itu saya dan teman-teman baru selesai belajar di sebuah bimbel di bilangan Jl. Purnawarman. Saat berlari kecil hendak mengambil sepeda motorku, ayah berdiri di dekat pintu gerbang sambil melambaikan tangan tinggi-tinggi dengan senyumnya yang khas, ceria dan penuh kehangatan.
Wow what a pleasant suprise! Ujar saya dalam hati. Saat itu ayah sudah berpisah rumah dengan mama. Jadi sama sekali tidak menyangka akan bertemu beliau disini. He obviously remembered my birthday❤️
“Selamat ulang tahun Tes!” katanya sambil memelukku. Aku pun balas memeluknya erat-erat.
“Ayo kita ke pameran buku!”kata ayah bersemangat. Dia tahu betul putrinya doyan melahap buku.
Kebetulan saat itu memang tengah berlangsung pameran buku di Braga. Kami pun kesana. Dan aku menemukan buku yang sampai saat ini tak kunjung selesai aku membacanya. Judulnya, “Minhajul ‘Abidiin” karya Imam al Ghazali. Saat itu sedang diskon, dibandrol delapan ribu rupiah saja. Sampai sekarang pun bandrol itu masih menempel erat di sampul belakang buku itu.
Saya tahu kondisi keuangan ayah sedang pas-pasan saat itu, cukup tahu diri untuk hanya memilih satu buku di bawah harga sepuluh ribu rupiah. Demikian pun saat ditanya mau makan atau tidak, aku memilih jajan pasar saja, murah. Yang penting kami meluangkan waktu bersama sambil bertukar cerita.
Selesai makan, kami berpisah di pinggir jalan Buah Batu karena ayah hendak naik angkutan umum ke arah yang berbeda. Aku cium tangannya dan berkata terima kasih untuk kejutan dan hadiahnya. Aku tunggu beliau sampai naik angkutan umum yang membawanya lambat laun menjauh hingga hilang dari pandangan.
Tak terasa air mata menetes di pipi.
Ini adalah hadiah ulang tahun yang paling berkesan buatku.
Dalam kesempitan dan keterbatasannya ayahku masih meluangkan waktu dan memberi putrinya sebuah kejutan yang indah di hari ulang tahunnya.
Pengorbanan itu yang aku rasakan sebagai cinta yang menghangatkan hati.
Darinya aku belajar bahwa mengukir kenangan indah bersama anak tak perlu dengan hal yang mewah. Justru bahkan kesederhanaan, ketulusan dan meluangkan waktu - apalagi di saat yang paling tepat- itu yang menoreh kenangan yang dalam di lubuk hati.
Terima kasih ayah, untuk pelajaran hidup yang sangat berharga. Engkau telah mengajarkanku tanpa berkata-kata. Simply by being you❤️

Jam 10 malam Elia kejang demam.
Jam 12 malam kejang berikutnya.
Jam 1.30 menemani dia diperiksa di UGD
Alhamdulillah dokter bilang aman. Pulang saja.
Jam 2.30 Elia muntah
Jam 3.30 muntah kedua
Jam 4.00 dia mulai tertidur, alhamdulillah
Si emak tetap terjaga
Karena jam ngantuk sudah lewat.
Begitulah hidup, sangat rentan dan penuh dengan kejutan.
Jadi teringat sebuah kisah...
Ada sebuah adegan di pertunjukan drama yang ditulis oleh Arthur Miller berjudul “Incident at Vichy” dimana seorang pria Yahudi kalangan menengah keatas dan berpendidikan tinggi tengah diperiksa oleh perwira Nazi yang saat itu tengah memasuki negara Perancis.
Dalam upayanya untuk selamat sang pria itu mengeluarkan semua dokumen yang menunjukkan bahwa ia “orang penting”. Maka ditunjukkannya semua ijazah dari perguruan tinggi dan berbagai dokumen yang menunjukkan bahwa dirinya adalah warga yang terpandang.
Sang perwira Nazi dengan wajah tak peduli lalu bertanya, “Hanya ini yang kamu punya?” Pria itu mengangguk sambil wajahnya digelayuti oleh ekspresi kebingungan bercampur takut.
“Bagus, sekarang kamu tidak punya apa-apa” tukas si perwira sambil membuang semua dokumen itu ke tempat sampah.
Insiden “pembuangan semua kepemilikan” ini mirip seperti yang dialami oleh seorang Imam Al Ghazali, ketika suatu saat beliau pulang dari menuntut ilmu dengan membawa banyak kitab di atas tunggangannya. Di tengah jalan ia dihadang oleh kawanan perampok yang mengira ia membawa banyak harta benda.
Ketika para perampok itu hendak membawa semua perbekalannya, Imam Al Ghazali menyeru kepada pimpinan perampok agar menyerahkan kepadanya beberapa kitab yang berisi catatan ilmu yang telah ia tuliskan dari gurunya. Mendengar hal itu pimpinan perampok itu malah tertawa dan berkata, “Bagaimana bisa engkau mengaku berilmu, sedangkan kami telah merampas ilmumu itu sehingga engkau tidak lagi memiliki ilmu?”
Lalu untuk kita?
Apa “tumpukan dokumen, ijazah atau kumpulan kitab” yang kita andalkan itu?
Apakah berwujud karir yang dikejar siang malam?
Apakah bisnis yang ditekuni berpuluh tahun?
Apakah jenjang studi yang tinggi benar itu?
Apapun hal yang kita pikir mengidentifikasi diri ini dalam masyarakat. Baik sebagai presiden, gubernur, anggota DPR, CEO, direktur, manager, pengusaha sukses, penulis best seller, penyanyi kawakan, seniman ternama dll.
Atau mengidentifikasi dalam peran keluarga. Baik sebagai anak, orang tua, istri, suami, adik, kakak dll.
Sekarang bayangkan.
Ada suatu saat dimana semua atribut itu akan dilepas. Baik segera di dunia ini melalui musibah, perang, bencana alam dan hal-hal lain yang tak terduga.
Atau saat kiamat datang dan semua hancur tak bersisa.
Lantas siapa kita tanpa semua atribut itu?
Adakah kita?
Adakah?
Ada?
?
Sang pria Yahudi itu bisa terus menjalani kehidupan tanpa embel-embel gelar akademiknya.
Sang Imam Al Ghazali akhirnya menyadari bahwa ilmu yang benar-benar dimiliki adalah yang sudah menjadi bagian dari dirinya.
Kadang diperlukan sentuhan tragedi dalam kehidupan untuk menyadari apa yang paling penting bagi diri sendiri.
Pekerjaan yang hilang bisa didapat kembali.
Harta yang hilang bisa diusahakan kembali.
Kesempatan yang hilang bisa diupayakan lagi.
Cinta yang hilang pun bisa dicari lagi.
Sesuatu yang kita pandang sebagai sebuah bisnis yang gagal, pernikahan yang kandas, salah melangkah dalam kehidupan dan sekian banyak “pilihan yang salah” itu bagaimanapun mewujud menjadi takdir dengan kehendak-Nya. Dan Dia hanya memberi yang terbaik. Itu mutlak sifat Sang Maha Baik.
Maka saat gelombang kehidupan datang menghempas dan meluluhlantakkan semua atribut yang kita cintai itu, tenanglah. Itu semua hanya atribut. Yang namanya atribut itu memang rentan hanyut oleh air pasang. Seperti membangun istana pasir tepi pantai.
Jika kita paham hukum kehidupan, mengerti apa yang hakiki dan menyadari apa hal yang mendasar yang harus kita cari, maka kita akan mulai paham satu persatu semua pertanyaan yang dimulai dengan kata tanya “kenapa?”.
“Kenapa saya lahir sebagai seorang perempuan/laki-laki?”
“Kenapa saya dilahirkan di keluarga ini?”
“Kenapa hidup saya begini?”
“Kenapa dia berbuat demikian?”
Dst.
Pahami kehidupan. Baca kode-kode njelimet dan halusnya melalui bantuan Al Quran dan kitab-kitab suci yang Allah turunkan.
Jika kita paham kenapa semua ini dicipta, kita menjadi lebih bisa berdamai dengan takdir apapun yang menimpa.
Nietzsche, seorang filsuf kebangsaan Jerman pernah berkata,”He who has a ‘Why’ to live for can bear almost any ‘How’”.

Apoptosis

Ada sebuah mekanisme menakjubkan di tubuh kita yang disebut dengan “Apoptosis”, dari Bahasa Yunani: į¼€Ļ€ĻŒĻ€Ļ„Ļ‰ĻƒĪ¹Ļ‚, yang berarti “berjatuhan”. Biasanya menggambarkan daun-daun yang berguguran di memasuki musim dingin.
Apoptosis adalah mekanisme alamiah dimana tubuh memprogram sendiri kematian sel-selnya agar diganti dengan sel-sel yang baru. Dalam tubuh seorang dewasa setiap harinya terjadi pergantian 50 sampai 70 milyar sel! Masya Allah. Pantesan dzikir kita pasti tekor terus, karena kalau disandingkan dengan bilangan sel yang Allah aturkan saja setiap harinya sudah tak sanggup kita berucap syukur bahkan sampai bilangan satu juta kali sekalipun.
Apoptosis ini proses yang penting yang membuat jari-jari tangan dan kaki kita terpisah rapi dan tidak saling lengket satu sama lain ketika bertumbuh sebagai janin di dalam rahim ibu.
Proses apoptosis ini diatur sedemikian rupa agar lajunya tidak terlalu kencang, sehingga membuat sel-sel menjadi atrophy dan mengganggu fungsi tubuh. Pun tidak boleh terlalu lambat, yang bisa berakibat munculnya pertumbuhan sel yang terlalu cepat tak terkendali seperti dalam kasus kanker.
Secara umum semua sel dalam tubuh kita mengalami pergantian rata-rata dalam waktu 40 hari. Oleh karena itu dikenal shaum 40 hari dalam berbagai agama. Sebuah upaya purifikasi jiwa yang disertai pensucian raganya melalui shaum agar selepas waktu 40 hari itu manusia seolah menjadi makhluk baru dengan komposisi yang baru dan terjaga selama kurun waktu 40 hari pembentukannya dengan menjaga makanan, pikiran dan perasaan dalam sebuah ibadah shaum.
Tubuh sudah memberikan sinyal bahwa setiap harinya terjadi perubahan yang massal tanpa kita sadari milyaran sel saling berganti. Artinya setiap hari raga kita akan disematkan milyaran sel baru. Itulah karakter alam, dia mengalir terus. Menjadi baru. Tidak menyimpan dendam. Tidak berpegangan terus dengan masa lalu. It simply work with the flow.
Mekanisme “apoptosis” mengajarkan agar kita selalu menjadi manusia baru setiap harinya.
Kemarin mungkin gagal, hari ini coba lagi mumpung ada kesempatan.
Kemarin mungkin marahan, hari ini lepaskan bara amarah itu, damai saja.
Kemarin mungkin sakit hati, hari ini bangun dengan semangat sel baru, maafkan.
Jadi yang membuat dendam, ngedumel berkepanjangan, sakit hati, khawatir dsb adalah pikiran yang kita bentuk sendiri. Karena tubuh saja tahu setiap harinya ia berganti mengikuti irama semesta yang harmoni.
Apoptosis kerap dimaknai sebagai “programmed cell death”. Kita menjadi paham bagaimanapun kematian adalah bagian penting dari kehidupan. Jika sel-sel tidak beregenerasi, dia akan menua dan membusuk. Demikian pula, hati kita yang tidak mau mematikan dirinya akan penuh dengan sampah-sampah dan limbah masa lalu. We need to learn to let go. Yang lalu biar berlalu. Kita ambil pelajaran, lalu terus berjalan.
Hidup adalah tentang menatap masa kini dan yang ada di depan. Oleh karenanya desain sepasang mata kita diletakkan menghadap ke depan. Tidak pernah ke samping atau malah ke belakang.
Percayakan pengaturan kadar “apoptosis” dalam hidup kita kepada-Nya. Ikhlaskan yang hilang dan pergi dari kita, memang sudah bukan rezekinya lagi. Sebagaimana kata Jalaluddin Rumi, “Jangan berduka. Apapun yang hilang darimu akan kembali dalam bentuk yang lain.”

Al Ghaniy adalah salah satu asma Allah, yang berarti Yang Maha Kaya. Esensi dari kekayaan adalah terletak kepada ketidaktergantungan kepada yang lain. Allah Ta’ala tentu Yang Maha Hidup dan Maha Berdiri sendiri. Seluruh pujian makhluk-Nya tidak akan menambah kemuliaan Dia sedikit pun, demikian pun segala hujatan dan kekafiran para makhluk tidak mengurangi keagungan Allah Ta’ala sebiji atom pun.

Manusia yang telah dipancarkan sifat kekayaan-Nya adalah ia yang terbebas dari jerat-jerat keinginan, ambisi dan dorongan duniawi yang memabukkannya. Artinya hatinya tidak membutuhkan kepada dunia atau segenap makhluk, akan tetapi hanya mencari Allah Ta’ala semata. Bukan berarti ia seorang yang miskin dan tak punya apa-apa, sebaliknya ia boleh jadi dititipkan oleh Allah harta kekayaan yang banyak tapi semua itu tidak menjejak di hatinya. Maka ia menjadi bersifat dermawan, ringan tangan, mudah berbagi dan tidak menumpuk kekayaan untuk diri, keluarga dan golongannya saja. 

Jadi banyaknya kepemilikan belum tentu menjadikan seseorang kaya. Kita kerap menyaksikan ketika seseorang semakin dibukakan pintu-pintu dunianya maka hanya cenderung terjebak di dalamnya dengan sebuah dahaga dunia yang tak terpuaskan. Selalu ingin lebih. Selalu ingin yang baru. Selalu ingin melebarkan sayapnya. Selalu ingin tambah. Seperti yang Rasulullah saw sabdakan,

“Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekai tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati) dan Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 6439 dan Muslim no. 1048)

Bisa jadi seorang yang sangat sederhana hidupnya dan pas-pasan tapi hatinya jauh lebih kaya dibanding si kaya tapi hatinya tidak bersyukur malah selalu merasa tidak cukup dengan apapun yang Allah rezekikan kepadanya. Seperti sebuah kisah yang diceritakan oleh Syekh Muzaffer Ozak berikut:

Dikisahkan bahwa ada seorang darwis yang terus-terusan berzikir kepada Allah. Ketika ia khusuk berdoa, seorang kaya melintas dan terkesan melihat kesalehan dan kekhusyukan sang darwis. Orang kaya itu berhenti, kemudian menghampiri sang darwis dan memberinya sekantung emas.
Sang darwis bertanya, “Berapa banyak emas yang kau miliki?”
Orang kaya itu menjawab,”Banyak!”
“Apakah engkau menginginkan lebih banyak lagi?”
“Tentu saja. Aku bekerja keras setiap hari untuk mendapatkan emas lebih banyak lagi.”
Sang darwis melempar kantung berisi emas itu kepadanya dan berkata, “Kau lebih membutuhkan emas ini daripada aku. Seorang kaya tidak boleh menerima dari seorang pengemis.”



Thursday, January 31, 2019

Mungkin perjalanan ini bukan semata untuk menjadi sesuatu.
Mungkin (perjalanan) ini adalah untuk melepaskan hal-hal yang bukan dirimu yang sejati,
Agar dengannya engkau bisa menjadi dirimu yang sebenarnya.

Kadang kita mengambil keputusan yang salah.
Kadang menikah dengan orang yang tidak tepat.
Kadang menjalani pekerjaan yang tidak menginspirasi.

Tidak ada yang salah dengan itu.
Semua adalah bagian dari menjadi.
Tak jarang dalam prosesnya kita harus menanggalkan sesuatu yang lama-lama kita rasa tidak pas.

Keluar dari zona nyaman memang menakutkan.
Tapi itu satu-satunya cara kita berkembang.
Kalau sang ulat tak pernah mau keluar dari kepompongnya yang nyaman, ia tak akan pernah tahu rasanya terbang dengan sepasang sayap yang Allah beri.

Terbanglah!
===

Run from what's comfortable. Forget safety. Live where you fear to live. Destroy your reputation. Be notorious. I have tried prudent planning long enough. From now on I'll be mad.

-Rumi