Setiap tetes air hujan dibawa turun dari langit oleh satu malaikat hingga ia mendarat di sebuah tempat tertentu.
Bayangkan, setiap tetesnya!
Sebagai gambaran, jika turun hujan deras, misal 5 mm/ menit mengguyur area seluas 2,6 km persegi selama lima menit penuh, itu berarti menurunkan sekitar 1,5 trilyun tetes air dari langit ke bumi. Satu koma lima trilyun malaikat turun dari alam malakut mendatangi alam mulkiyah.
Tidak heran kalau Rasulullah SAW diriwayatkan sampai berdansa bahkan hingga melepas bagian atas pakaiannya ketika hujan turun. Rasanya bukan sekadar fakta bahwa hujan jarang turun di daerah gurun, tapi juga dengan kesadaran ada sesuatu yang segar yang turun dari langit.
Maka dalam Al Quran, ketika Allah Ta’ala berfirman tentang orang yang beristighfar dan bertaubat, itu diikuti dengan “midraran” hujan deras. Sebuah simbol sebuah penerimaan dan keterhubungan dengan alam atas.
Nah sekarang, kalau tiap tetes hujan saja diatur dengan detil jatuh di detik ke berapa dan di koordinat mana di muka bumi, maka pahami bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita bukan kebetulan tapi sudah dalam perhitungan dan ilmu-Nya. Hal-hal yang berupa kesempatan yang datang, tawaran pekerjaan, lamaran menikah, atau sesuatu yang berupa penolakan, kebangkrutan, perpisahan, janji yang tak terlaksana dan semuanya itu bukan sekadar karena ini dan itu atau karena si A dan si B. Mereka semua sekadar pion-pion yang digerakkan oleh Yang Maha Kuasa.
Oleh karenanya jangan terlalu berduka atau kesal dengan apa yang luput dari kita, juga jangan lupa diri dan lupa Allah atas segala kemudahan dan kelapangan yang ada. Semua sama, berasal dari satu sumber, Allah sang Rabbul ‘alamiin.
Agar hati kita tenang dengan apapu dinamika yang terjadi dalam kehidupan. Bahagia. Syukuri. Dan kembali mendekat kepada-Nya dengan bersuka cita. Aamiin.
Amsterdam, 4 Maret 2026 jam 16.33 bada ashar jelang masak di tengah hari cerah mulai hangat memasuki musim semi