"Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.
Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu
(yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya."
(QS Al Baqarah [2]: 45-46)
Disini terlihat bahwa sabar merupakan kunci mendapatkan pertolongan Allah. Bahkan untuk shalat pun diperlukan kesabaran. Maka dikatakan bahwa hal ini tidak mudah, kecuali buat mereka yang khusyu. Siapakah orang-orang yang khusyu dalam kehidupan itu? Yaitu orang-orang yang mengharapkan bertemu Allah, ini adalah aqidah dasar. Artinya orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir.
Kalau kita masih menganggap akhirat itu sesuatu yang masih nun jauh di sana berarti kita belum mengintegralkan diri antara kehidupan hari ini dan hari nanti. Padahal kalau kita hanya berkutat di hari ini saja tanpa menghadirkan akhirat pasti akan tersandung dalam kebingungan, kekecewaan, dan keputus-asaan. Tapi sebaliknya bila kita mulai menjalani kehidupan akhirat di saat ini, bahwa surga dan neraka itu bisa mulai dirasakan per hari ini. Karena saat kita tidak menerima kehidupan, ngedumel dan tidak harmoni dengan kehendak-Nya sesungguhnya kita sedang menjatuhkan diri dalam neraka kehidupan. Akan tetapi dengan hati yang senantiasa terpaut mengharapkan pertemuan dengan-Nya sekalipun getir kehidupan yang dijalani, dia akan berkata "ah tidak apa-apa disini sementara menderita, nanti disana Allah ganjar dengan yang lebih baik; ah tidak apa-apa tidak dapat di dunia, nanti Allah simpankan untuk kehidupan yang akan datang…"
Showing posts with label Akhirat. Show all posts
Showing posts with label Akhirat. Show all posts
Wednesday, November 27, 2013
Thursday, November 1, 2012
Bangun Dalam Keadaan Buta
Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku
Maka baginya penghidupan yang sempit
Dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta
Padahal sungguh sebelumnya ia adalah orang yang melihat
(QS Thahaa [20: 124-125)
Akan ada suatu masa dimana setelah akhir kehidupan alam raya, kiamat tiba dan setelah itu semua manusia akan dibangkitkan di alam mahsyar. Jiwa-jiwa yang dibangkitkan itu akan dipasangkan dengan raga yang baru, raga yang merupakan cerminan dari kondisi terakhir hati manusia saat ia meninggal. Jadi raga manusia saat itu bisa lebih baik atau lebih buruk daripada raga yang ia miliki sewaktu di dunia.
Apabila ketika ajal menjemput hatinya masih buta, maka si raga baru akan buta, seperti yang digambarkan di ayat Al Quran di atas. Bahkan Rasulullah saw bersabda bahwa di akhirat nanti ada orang yang dibangkitkan raganya manusia tapi kepalanya unta, atau raganya seperti harimau (karena meninggal masih menyimpan amarah, yang merupakan sifat hewaniyah), ada yang bangkit mempunyai lidah yang sangat luas karena lisannya selama di dunia sering menghina orang. Tidak sedikit riwayat mengenai kehidupan alam setelah kiamat diceritakan. Artinya raga yang dibentuk kembali dalam kehidupan berikutnya akan tergantung kepada kondisi hati seseorang saat ia meninggal. Kalau hati busuk, penuh kebencian, amarah dan dendam maka bentuk raga akan tak beraturan, sebaliknya kalau hatinya baik maka bentuk raganya baik pula.
Dalam kisah Nabi Isa Al Masih, berkata beliau saat berkunjung ke pemakaman “Ini (kuburan) orang yang sudah meninggal, mari kita lihat apa yang dia bawa saat ia meninggal”. Karena Nabi Isa adalah Ruhullah, maka bisa membangkitkan orang yang telah mati. Kemudian sang nabi berkata “Bangkitlah hai hamba Allah!” Begitu bangkit orang itu langsung berkata “mana keledaiku, mana keledaiku?” Menunjukkan bahwa saat ia hidup yang mendominasi pikirannya adalah keledainya. Suatu gambaran bahwa apa yang terbawa mati di alam pikiran juga akan terekam dan mewujud di sana.
Maka kalau kita meninggal jangan sampai urusan dunia terbawa, bisa dibayangkan di alam mahsyar nanti cari ‘keledai’nya masing-masing, tentu melelahkan dan menyiksa. Bukan berarti kita tidak boleh menikmati atribut dunia, silahkan saja asal jangan sampai ‘nangkring’di hati kita sehingga kadar cinta-Nya melebihi kecintaan kepada Allah, kecintaan kepada beribadah kepada-Nya.
Semoga kita termasuk hamba-Nya yang dibangunkan di alam nanti dalam keadaan baik. Aamiin.
(Referensi : Materi Serambi Suluk, Zamzam AJT, Jakarta 2008)
Akan ada suatu masa dimana setelah akhir kehidupan alam raya, kiamat tiba dan setelah itu semua manusia akan dibangkitkan di alam mahsyar. Jiwa-jiwa yang dibangkitkan itu akan dipasangkan dengan raga yang baru, raga yang merupakan cerminan dari kondisi terakhir hati manusia saat ia meninggal. Jadi raga manusia saat itu bisa lebih baik atau lebih buruk daripada raga yang ia miliki sewaktu di dunia.
Apabila ketika ajal menjemput hatinya masih buta, maka si raga baru akan buta, seperti yang digambarkan di ayat Al Quran di atas. Bahkan Rasulullah saw bersabda bahwa di akhirat nanti ada orang yang dibangkitkan raganya manusia tapi kepalanya unta, atau raganya seperti harimau (karena meninggal masih menyimpan amarah, yang merupakan sifat hewaniyah), ada yang bangkit mempunyai lidah yang sangat luas karena lisannya selama di dunia sering menghina orang. Tidak sedikit riwayat mengenai kehidupan alam setelah kiamat diceritakan. Artinya raga yang dibentuk kembali dalam kehidupan berikutnya akan tergantung kepada kondisi hati seseorang saat ia meninggal. Kalau hati busuk, penuh kebencian, amarah dan dendam maka bentuk raga akan tak beraturan, sebaliknya kalau hatinya baik maka bentuk raganya baik pula.
Dalam kisah Nabi Isa Al Masih, berkata beliau saat berkunjung ke pemakaman “Ini (kuburan) orang yang sudah meninggal, mari kita lihat apa yang dia bawa saat ia meninggal”. Karena Nabi Isa adalah Ruhullah, maka bisa membangkitkan orang yang telah mati. Kemudian sang nabi berkata “Bangkitlah hai hamba Allah!” Begitu bangkit orang itu langsung berkata “mana keledaiku, mana keledaiku?” Menunjukkan bahwa saat ia hidup yang mendominasi pikirannya adalah keledainya. Suatu gambaran bahwa apa yang terbawa mati di alam pikiran juga akan terekam dan mewujud di sana.
Maka kalau kita meninggal jangan sampai urusan dunia terbawa, bisa dibayangkan di alam mahsyar nanti cari ‘keledai’nya masing-masing, tentu melelahkan dan menyiksa. Bukan berarti kita tidak boleh menikmati atribut dunia, silahkan saja asal jangan sampai ‘nangkring’di hati kita sehingga kadar cinta-Nya melebihi kecintaan kepada Allah, kecintaan kepada beribadah kepada-Nya.
Semoga kita termasuk hamba-Nya yang dibangunkan di alam nanti dalam keadaan baik. Aamiin.
(Referensi : Materi Serambi Suluk, Zamzam AJT, Jakarta 2008)
Subscribe to:
Posts (Atom)